Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi - Sekitar jam 13.00 WIB rombongan Tim Resolusi Jihad NU 2016 tiba di Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang. Disambut drumband, mereka diterima pimpinan pesantren setempat. KH Cholil Dahlan mewakili pimpinan PPDU mengemukakan bahwa para pendiri pesantren sangat peduli dengan perjuangan NU.

"Di pesantren ini, kami memperjuangkan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah secara lahir dan batin," katanya, Sabtu (15/10) siang.

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Ketua MUI Jombang ini juga menceritakan bahwa kiprah pendiri PPDU telah dimulai sejak tahun 1885. "Kala itu pesantren didirikan oleh KH Tamim Irsyad," terangnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari putra-putrinya yakni Ny Hj Farihah Cholil, KH Romli Tamim, dan KH Umar Tamim perjuangan PPDU dilanjutkan.

Bahkan akses perjuangan kepada NU kian nyata saat KH Romli dan KH Dahlan memperjuangkan masuknya dua badan otonom (banom). "Dua banom itu adalah Jamiyatul Qurra wal Huffadz serta thariqah mutabarah," terang Kiai Cholil, sapaan akrabnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Demikian pula saat terjadi perang kemerdekaan. "Karena kala itu KH Cholil menjadikan kediamannya sebagai markas Hizbullah," ungkapnya.

Karenanya, kehadiran Tim Resolusi Jihad ini menjadi penyemangat bagi seluruh komponen di PPDU untuk terus berkhidmat.

Ketua rombongan Tim Resolusi Jihad NU H Ishfah Abidal Azis yang juga sangat terharu dengan sambutan ini.

Selanjutnya rombongan dan pimpinan PPDU melakukan tahlil di pesantren setempat. Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke Pesantren Tebuireng. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Lembaga Dakwah, Sosial, Ekonomi Fastabiqul Khoirot (Faskho) Surakarta menggelar berbagai acara buka bersama dan santunan kepada puluhan anak yatim dan juga kado lebaran bagi kaum Dhuafa. Program yang bergulir sejak Ramadhan tahun lalu ini telah memberikan suka cita bagi anak anak yatim di Kota Solo terutama di daerah Gilingan.

Direktur Faskho Surakarta Budi Iriono mengatakan, berbagai program tersebut sudah berjalan hingga saat ini, bahkan belum lama ini Faskho kerjasama dengan Omah Genthong Resto mengadakan santunan dan mancing bareng dengan anak-anak yatim dhuafa. "Alhamdulillah kerjasama tersebut sudah terjalan sejak lama, sudah menjadi rutinitas setiap bulan," kata Budi.

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan

Selain itu, kegiatan untuk menyemarakan datangnya bulan Ramadhan kemarin, pihaknya menyelenggarakan studi wisata rohani di tiga mesjid yakni Masjid Agung Kudus, Masjid Agung Demak dan Masjid Raya Jawa Tengah Semarang. Dengan tujuan mengenalkan para anak-anak tetang sejarah masjid yang telah berdiri ratusan tahun silam.

Tak hanya anak anak yatim ? yang bersuka cita, orang tua dan ibu ibu yang ikut wisata pun mengalami hal yang sama. Karena impian mereka untuk bisa datang ke masjid itu sudah terwujud."Tidak mudah untuk bisa datang ke tempat bersejarah, mereka harus mengumpulkan uang recehan 1000 selama beberapa bulan agar bisa terkumpul lalu berangkat," jelasnya.

Selama Ramadhan ini pihaknya setiap hari mengadakan pengajian dan buka bersama dengan anak anak yatim serta warga Gilingan. Warga terlihat cukup antusias dengan diadakannya acara ini setiap hari terlebih bisa berada di tengah-tengah anak-anak yatim. "Setiap anak merupakan aset masa depan bangsa. Semakin baik kualitas setiap anak, maka akan semakin baik, maju dan bermartabat. Anak Yatim sudah semestinya menjadi kepedulian semua umat, agar mereka kelak dapat hidup sukses membangun bangsa, Negara dan Keluarganya," pungkas Ketua RT ini kepada SMA Negeri 1 Slawi.? (Mashri/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Haram Membawa HP Masuk Masjid

Derasnya kemajuan teknologi-informasi hendaknya dibaengi dengan sikap yang bijaksana. Tidak saja dalam hal pergaulan tetapi juga dalam masalah peribadatan. Karena bila diperhatikan kemajuan teknologi ini satu sisi membawa maslahah dan satu sisi juga mengundang mafsadah. Terkadang maslahahnya terasa begitu besar, tetapi seringkali mafsadahnya juga lebih besar. Peran keduanya sangat bersifat subjektif, tergantung manusia yang menggunakannya.

Memang kemajuan teknolgi-informasi sebagai syarat globalisasi tidak dapat dihindari. Masyarakat muslim sebagai bagian dari masyarakat duniapun ikut menikmati imbasnya. Dalam tamsil yang paling sepele adalah bagaimana kita sering terkaget dan merasa risi ketika nada panggil berbunyi di tengah-tengah jama’ah shalat. Padahal di tembok-tembok masjid itu telah ditempel tulin ‘HP harap dimatikan’ atau berbagai penanda yang menunjukkan larangan membawa atau mengaktifkan HP di masjid.

Nah bagaimanakah fiqih menyikapi realita ini? dalam konteks fiqih masalah semacam ini biasa disebut dengan tayswisy, yaitu berbagai macam tindakan yang mengganggu atau menimbulkan keraguan orang yang berada disekitranya. Biasanya hukum atas tindakan tayswisy ini diklarifikasi lagi.

Apabila memang mengganggu ibadah orang disekitarnya maka hukumnya makruh. Namun jika ternyata tidak mengganggu orang sekitarnya hukumnya diperbolehkan. Dengan catatan bentuk tasywisy itu adalah bacaan al-qur’an, tasbih atau dzikir, sebagaimana diterangkan Ba’lawi al-Hadrami dalam Bughyatul Mustarsyidin

Haram Membawa HP Masuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Haram Membawa HP Masuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Haram Membawa HP Masuk Masjid

جماعة Ù? قرأوÙ? القرأÙ? فى المسجد جهرا ÙˆÙ? Ù? تفع بقرائتهم Ø£Ù? اس ÙˆÙ? تشوش أخروÙ? فإÙ? كاÙ? ت المصلحة أكثر Ù…Ù? المفسدة فالقرأة أفضل وإÙ? كاÙ? ت بالعكس كرهت اهـ فتاوى الÙ? ووÙ?

Jikalau orang berkumpul membaca al-qur’an di dalam masjid dengan lantang, dan bacaan itu membuat sebagian orang disekitar merasa nyaman namun juga menyebabkan sebagian yang lain terganggu, apabila unsur maslahah dalam bacaan alqur’an itu lebih banyak (karena mendengarkan qur’an ada pahalanya) dari pada madharat, maka bacaan (al-qur’an yang lantang) itu lebih utama. Akan tetapi jika bacaan itu banyak mudharatnya (mengganggu orang lain), maka hukumnya makruh. ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Lain lagi pendapat al-Turmusi yang tegas mengharamkan tasywisy bila memang terbukti mengganngu orang lain. Walaupun tasywisy itu adalah shalat.

ÙˆÙ? حرم على كل أحد الجهر فى الصلاة وخارجها Ø¥Ù? شوش على غÙ? ره Ù…Ù? Ù? حو مصل أو قارئ أو Ù? ائم

Haram bagi seorang bersuara lantang baik dalam shalat ataupun lainnya apabila mengganggu orang lainnya yang sedang shalat dan membaca qur’an bahkan (mengganggu) orang tidur sekalipun.

Lantas bagaimanakah jika tasywisy itu berasal dari bunyi dering HP, atau suara orang berkomunikasi melalui HP di dalam dalam masjid? Jika melihat dua nash di atas jelas hukumnya haram, baik mengganggu ataupun tidak. Karena bentuk tasywisynya tidak mengandung ibadah yang mendekatkan diri pada Allah swt. Apalagi jika menimbang etika dalam masjid yang merupakan ruang untuk berdzikir Allah swt tidak untuk yang lain.

SMA Negeri 1 Slawi

?

(Redaktur: Ulil Hadrawy)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Internasional, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29

Lumajang, SMA Negeri 1 Slawi. Ancaman terkoyaknya ? kerukunan dan tergerusnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang belakangan kian santer terdengar, menjadi salah satu alasan para penyuluh agama se-Jawa Timur untuk menghelat Jambore regional di Puncak B-29, Kabupaten ? Lumajang tanggal 24 sampai 26 Juli 2017 mendatang.

Menurut Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Jawa Timur, Syaifuddin Maarif, Jambore yang bertemakan "Penyuluh Lebih Dekat Melayani Umat" tersebut bertujuan agar penyuluh mampu memberikan pelayanan lebih baik bagi masyarakat. Kedepan, katanya, penyuluh diimbau tidak hanya "berceramah" soal agama tapi juga perlu melebarkan tema hingga soal kerukunan antarumat beragama, soal NKRI dan sebagainya. ? "Kita ingin melebur dan menyatu dengan masyarakat. Umat Islam harus betul-betul menjadi rahmat di negeri ini," turur Syaifuddin usai survei lokasi, Selasa (11/7).

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29 (Sumber Gambar : Nu Online)
NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29 (Sumber Gambar : Nu Online)

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29

Menurut rencana, kegiatan tersebut akan dihadiri Menteri Agama RI, Wakil Gubernur Jawa Timur, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kepala Kemenag dan Kasi Bimas Islam se-Jawa Timur dan ? sejumlah Ketua Pokjaluh dari berbagai provinsi serta 550 penyuluh agama Islam se-Jawa Timur. "Ada beberapa Ketua Pokjaluh yang akan ikut hadir dengan biaya sendiri, diantaranya adalah Pokjaluh Gorontalo, Pokjaluh Palembang, Pokjaluh Maluku, Pokjaluh DKI dan Pokjaluh Jawa Barat," tambah Syaifuddin

Di Jambore itu, para penyuluh juga akan menggelar bakti sosial dengan memberikan bantuan untuk para mualaf dan menanam 5000 pohon sebagai bentuk kepedulian penyuluh terhadap kelestarian lingkungan. "Ini misi kita bersama, dekat dengan masyarakat dan peduli terharap lingkungan," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Jambore, Sriwanti menyatakan, para peserta akan menginap di home sty milik masyarakat setempat. Ratusan penyuluh dan para pejabat akan bermalam bersama untuk melakukan tadabbur alam. "Ini agar para penyuluh dekat dan menyatu dengan masyarakat," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaNu, Anti Hoax, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

Tasikmalaya, SMA Negeri 1 Slawi. Jajaran Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya membantah terlibat aksi dengan sejumlah ormas Islam yang digelar didepan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10) lalu.

Pasalnya, dalam Kabar Priangan edisi Sabtu (29/10/2016), disebutkan salah satu elemen yang ikut aksi ada IPNU dan GP Ansor.

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

"Saya tegaskan IPNU tidak pernah dan tidak akan ikut aksi soal Ahok atau apapun namanya yang dilakukan oleh mereka. IPNU senantiasa fatsun pada intruksi PBNU," kata Ketua IPNU Kota Tasikmalaya, Saeful Malik, Sabtu (29/10/2016).

Menurut Apung (Panggilan Akrab Saeful Malik), seharusnya wartawan yang meliput melakukan "cross cek" ke IPNU karena sudah jelas garis organisasi IPNU dibawah NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"NU sudah melarang. Masa kami ikut. Itu namanya fitnah," ujarnya.

Apung pun meminta agar Kabar Priangan memuat bantahan ini karena sudah jelas keterlibatan IPNU tidak benar.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf pun sama. Membantah terlibat aksi yang bertemakan "Bela Islam" karena sudah nyata GP Ansor satu komando dibawah NU.

"Aneh teu ngarti. Naha Ansor dibabawa (Aneh tak mengerti, kenapa Ansor dibawa-bawa)," ucapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pimred Kabar Priangan, Duddy RS segera menindaklanjuti klarifikasi tersebut. Dan akan memintai keterangan wartawan terkait pencatutan nama IPNU dan Ansor saat aksi Bela Islam oleh sejumlah Ormas di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10).

"Apakah dilapangan ada yang mengaku demikian atau ada kesalahan pengutipan dari wartawan. Kami minta maaf atas kelalaian ini," ujar Duddy. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Oleh Ahmad Zaki Muntafi



Produktivitas ulama nusantara sejatinya amat luar biasa. Apresiasi dari hal itu berupa penggunaan kitab-kitab karya ulama nusantara di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Artinya, karya tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia saja, tetapi telah meluas ke pelosok negeri Muslim. Bukan itu saja, bahkan sosoknya juga amat dihormati dan disegani hingga sekarang. Misal saja, Syaikh Nawawi al-Bantani dengan seabrek kitab karyanya.

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Kajian tentang literatur (kitab) karya ulama nusantara memang tiada hentinya di masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan akademisi. Namun, terdapat persoalan yang muncul kemudian, yakni ternyata masih banyak kitab karya ulama nusantara yang belum terjamah untuk dikaji dan dipelajari, termasuk yang masih berbentuk naskah-manuskrip. Artinya, ? karya ulama tersebut masih berbentuk tulisan tangan asli dan belum dicetak dengan alat modern. Tentu hal itu yang harus ditindak lanjuti secara berkelanjutan, mengingat pentingnya ajaran Islam ulama nusantara melalui karya-karyanya.

Ada sebuah buku yang menarik tentang kajian literatur karya ulama nusantara. Buku yang berjudul “Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara.” Buku yang ditulis secara apik oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban (2017), serta baru di launching beberapa hari yang lalu. Lahirnya buku ini berawal dari aktivitas Sya’ban melakukan dokumentasi berbagai naskah-manuskrip (kitab) karya ulama nusantara yang ada di Timur Tengah, yakni Mesir dan Arab Saudi.

Sya’ban menyatakan bahwa dalam penelusurannya mencari kitab karya ulama nusantara di Timur Tengah tidaklah susah. Bahkan, menurutnya mudah menemukannya di perpustakaan yang ada. Selama melakukan pencarian dan pelacakan kitab karya ulama nusantara, Sya’ban menemukan amat banyak literatur kitab yang ditulis oleh ulama nusantara. Bisa dikatakan jumlahnya ratusan kitab, bahkan hingga ribuan.

Dalam buku tersebut Sya’ban hanya menggunakan 104 naskah-manuskrip (kitab) yang di¬¬jelaskannya. Sekitar 60-an kitab didapatkan selama pencarian dan pelacakan di Mesir, serta sisanya didapatkan di Arab Saudi, yakni di kota Mekah dan Madinah. Sya’ban memaparkan bahwa khazanah literatur karya ulama nusantara terangkai dengan apik dalam kitab-kitab yang ditelaahnya, mulai dari yang masih berbentuk naskah-manuskrip, serta kitab yang sudah dicetak pula. Bahkan, tidak hanya ditulis dengan bahasa Arab, tetapi ditulis pula dengan bahasa Jawa, Sunda, serta Melayu yang diaksarakan dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, secara historisasi cukup menggambarkan pola penting keislaman yang ada di nusantara dalam kurun waktu beradab-abad silam.?

SMA Negeri 1 Slawi

Misal saja, dalam kitab yang berbahasa Sunda ditemukan perkembangan ajaran tarekat yang ada di Sunda. Bahkan, sebelumya Oman Fathurahman (2016) sebagai ahli filologi telah menuliskannya tentang perkembangan tarekat yang ada di Sunda, di mana temuannya menunjukkan bahwa Jawa Barat (Sunda) memiliki peran penting dalam perkembangan tasawuf dan tarekat, khususnya yang ada di Jawa. Fathurahman menyebutkan bahwa Karang, Pamijahan yang saat ini menjadi daerah Tasikmalaya telah menjadi rujukan lokasi yang penting, serta terdapat sosok penting Syaikh Abdul Muhyi sebagai tokoh penting dalam perkembangan tarekat sufi Shattariyah dibeberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Hal itu dijelaskan Fathurahman dalam bukunya “Shattariyah Silsilah in Aceh, Java, and The Lao Area of Mindanao”.

Selanjutnya, esensi pembahasan yang ada didalam kitab karya ulama nusantara juga beragam, mulai dari fiqih, tafsir, tasawuf, hingga tarekat sebagaimana telah sederhana dipaparkan di atas. Hanya saja, cukup sedikit kitab karya ulama nusantara yang dikaji di Indonesia untuk saat ini. Jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah karya ulama nusantara. Karya-karya yang dihasilkan ulama nusantara tidak hanya dari ulama Tanah Jawa, tetapi ulama luar Jawa pula, seperti di ? Aceh, Palembang, Padang, serta daerah lainnya pula.?

Sebenarnya, kajian literatur karya ulama nusantara amat penting dalam era kekinian, bahkan hingga masa yang akan datang. Hal itu karena posisi ulama amat penting. Selain itu, agar eksistensi ulama nusantara bukan dianggap sebagai fiktif belaka, apalagi mitos. Sebagaimana saat ini, terdapat beberapa kelompok yang tidak mengakui adanya Wali Songo sebagai ulama nusantara. Tentunya upaya tersebut sebagai langkah preventifnya. Selain itu, terdapat ribuan karya ulama nusantara yang menanti perlu untuk dikaji dan ditelaah.

Terlepas dari itu, ajaran dan gagasan ulama nusantara juga perlu dikembangan dan diimplementasikan di era yang begitu erat dengan polemik sosial-keagamaan saat ini. Seperti diketahui, ulama nusantara pun dikenal cukup moderat dalam memahami ajaran Islam. Namun, untuk mengetahui segala ajarannya hanya dapat dilakukan dengan mengkaji karya-karya ulama nusantara sebagai warisan keilmuan di Tanah Nusantara ini.?

SMA Negeri 1 Slawi





Penulis adalah Ketua Umum KBPA UIN Jakarta & Mudabbir Mabna Syaikh Nawawi Ma’had Al-Jami’ah UIN Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, RMI NU, Jadwal Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar

Bogor, SMA Negeri 1 Slawi. Sebagai model pesantren yang istimewa, pesantren muadalah didorong memiliki kurikulum standar. Pasalnya, pesantren yang unik ini kurikulumnya banyak dirujuk pesantren lain baik yang salaf maupun modern.

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Litbang Pendidikan Norformal-Informal Puslitbang Penda Balitbang Diklat Kementerian Agama, Muhammad Murtadlo, usai membuka secara resmi seminar tentang pesantren muadalah di Wisma PP Puncak, Bogor, Senin (23/11) malam.

Keistimewaan pesantren muadalah ini justru terlebih dahulu mendapat pengakuan dari luar negeri sebelum dari dalam negeri. Misalnya, ijazah pesantren tersebut bisa digunakan untuk melanjutkan belajar di kampus-kampus Timur Tengah. "Nah, di sini kan baru sekitar tahun 1990-an saja ada istilah muadalah," ujar Murtadlo.

SMA Negeri 1 Slawi

Bagi Murtadlo, pilar pendidikan pesantren terdapat di pesantren muadalah. Oleh karena itu, seminar yang digelar hendak diarahkan untuk pendampingan untuk membuat standarisasi kurikulum. "Saya pikir kita perlu belajar bersama dan mencermati fakta pesantren muadalah ini. Sebab, ia menjadi rujukan pesantren salaf maupun modern," ungkapnya.

Terkait kurikulum, Murtadlo menegaskan, Puslitbang Kemenag mendorong sesama pesantren muadalah agar bisa bersinergi dengan internal mereka sendiri juga dengan pemerintah melalui Kemenag.

SMA Negeri 1 Slawi

"Nanti mau kita dorong ke sidang komisi atau penjaringan aspirasi. Pertama apa yang harus dilakukan kementerian dan apa pula yang musti dilakukan pesantren sesama muadalah. Itu jadi satu komisi," tegasnya.

Kedua, lanjut Murtadlo, karena ini penelitian needs assesment, makanya yang perlu diketahui adalah kebutuhan apa saja yang dibutuhkan pesantren muadalah. "Karena ini makhluk ini, kami hanya bisa mengumpani tapi tidak bisa mengatur sepenuhnya. Kami memberi ruang, merawat serta mengkonservasi saja," tandasnya.

Seminar ini mengundang sejumlah narasumber, antara lain Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) KH Abdul Ghoffar Rozien dan Subi Sudarto, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan dan Berkelanjutan, Direktorat Pembinaan Pendidikan Kesetaraan dan Kesetaraan (Ditbindikta), Kemendikbud.

Para narasumber akan memberi komentar, catatan, dan masukan atas riset terhadap 11 pesantren terpilih. Sebelas pesantren tersebut adalah PP Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, PP Darussalam Garut, PI Matholiul Falah Kajen Pati, PP Tremas Pacitan, PP Al-Basyariyah Bandung, PP Tamirul Islam Surakarta, PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, PP Lirboyo Kediri, PP Al-Amin Prenduan Sumenep, PP Al-Hikmah Brebes, dan PP MHS Cirebon. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)



Foto: Ketua RMI NU KH A Ghoffar Rozien saat berbicara pada seminar hasil riset pesantren muadalah oleh Puslitbang Penda di Wisma PP, Puncak, Bogor, Selasa (24/11)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Takut Konstituen Kabur, Partai-Partai Islam Dukung “Diam-Diam”

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution menyatakan kecewa atas sikap partai-partai Islam saat BNPT diundang dalam sebuah rapat anggota dewan di Gedung DPR pada Rabu (8/4) lalu. Mereka tidak bersuara perihal pemblokiran situs-situs Islam yang memuat hasutan dan provokasi.

Takut Konstituen Kabur, Partai-Partai Islam Dukung “Diam-Diam” (Sumber Gambar : Nu Online)
Takut Konstituen Kabur, Partai-Partai Islam Dukung “Diam-Diam” (Sumber Gambar : Nu Online)

Takut Konstituen Kabur, Partai-Partai Islam Dukung “Diam-Diam”

“Setelah rapat ditutup, mereka dalam obrolan santai baru menyatakan dukungan untuk BNPT. Saya bilang, ‘Kenapa tidak disampaikan saat rapat berlangsung pak?’” kata Komjen Saud menceritakan kelakuan anggota fraksi sejumlah partai-partai Islam di Gedung PBNU, Jumat (10/4) siang.

Perihal pemblokiran situs ini, partai-partai berasas nasionalis dan kebangsaan lainnya juga bersikap dingin. Mereka tidak menunjukkan sikap tertentu.

SMA Negeri 1 Slawi

Saud menaruh curiga mereka yang dari partai Islam itu khawatir kehilangan konstituen. Saud lalu menyebut sejumlah partai yang mengibarkan bendera Islam untuk menarik suara dari kalangan umat Islam. Sementara anggota dewan dari partai nasionalis dan kebangsaan lainnya mencari aman.

“Saya ingat hanya dua anggota dewan dari fraksi PKB komisi III menyatakan dukungan terbuka. ‘Maju terus pak, PKB di belakang BNPT’, kata mereka,” ujar Saud saat diskusi bertajuk ‘Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal’ bersama PBNU, SMA Negeri 1 Slawi, dan Radio NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Lomba, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 11 Desember 2017

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (11/2). Forum gabungan tersebut membahas sejumlah capaian sejak masa kepengurusan berjalan dan sejumlah rencana dan tantangan ke depan.

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program

Rapat yang dihadiri pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU lengkap itu dipimpin langsung Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Turut mendampingi Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Ahyar dan Katib ‘Aam Yahya Staquf.

Satu persatu ketua PBNU masing-masing bidang memaparkan beragam program dan hasil kerja selama ini, antara lain bidang kesehatan, perguruan tinggi, ekonomi, hukum, dakwah, dan lain-lain. KH Said Aqil Siroj dalam kesempatan itu menampung setiap laporan dan mendorong seluruh pengurus meningkatkan kinerja selama kepemimpinannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini yang mengawali presentasi mengatakan, kesekjenan PBNU akan terus berupaya mengembangkan komunikasi dan pengayaan data berbasis teknologi informasi. Dengan demikian, basis data dari cabang dan wilayah NU di berbagai daerah dapat teridentifikasi secara cepat dan terintegrasi secara terpusat.

“Hampir semua PCNU dan PWNU kita masih menggunakan sistem manual. Ke depan kita dorong masing-masing dari mereka mulai memanfaatkan kecanggihan sistem teknologi informasi,” papar Helmy yang juga merencanakan pengadaan Kartanu (Kartu Anggota NU) multifungsi, tak hanya sebagai tanda pengenal tapi juga sebagai alat pembayaran elektronik.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua PBNU M Nuh yang membidangi perguruan tinggi NU melaporan, dari hasi surveinya ke kampus NU di sejumlah daerah ia menyimpulkan tentang perlunya NU mengejar ketertinggalan. Universitas-universitas NU yang telah berdiri, katanya, mesti digarap secara serius agar dapat mengatasi berbagai kendala, antara lain rekrutmen dosen, manajemen administrasi, dan sejenisnya.

“Karena itu saya mengusulkan, sementara ini kita tunda pendirian lagi perguruan tinggi NU. Bukan menghalangi untuk ekspansi lebih luas, tapi sekadar memastikan bahwa perguruan tinggi NU yang sudah ada punya jaminan sudah terkelola maksimal,” tutur mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini.

Hingga berita ini dimuat, proses rapat masih berlangsung dengan agenda laporan dari sejumlah ketua PBNU di berbagai bidang. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, PonPes, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar

Pringsewu, SMA Negeri 1 Slawi - Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, H Taufiqurrohim mengimbau kepada seluruh warga NU khususnya di kabupaten setempat untuk waspada dan peka terhadap pergerakan kelompok-kelompok yang berniatan merongrong dan meruntuhkan keutuhan NKRI.

"Mari pertahankan NKRI dari rongrongan kelompok yang sekarang sudah sangat pintar memainkan peranan dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat melalui berbagai media," ajaknya, Rabu (23/11) saat mendiskusikan pergerakan tersebut khususnya di Kabupaten Pringsewu.

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar

Menurutnya, beberapa gejala pergerakan dari kelompok yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi yang mereka inginkan di berbagai tempat sudah mulai terlihat. Hal ini berdasarkan pemberitaan dan laporan dari warga. "Kita warga Pringsewu perlu lebih waspada apalagi sekarang ini masih hangat permasalahan terkait unjuk rasa lanjutan kasus yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia berpendapat, bisa saja pergerakan dan unjuk rasa tersebut ditunggangi oleh kepentingan kelompok tersebut. "Dengan membakar semangat keagamaan umat Islam, kelompok ini bisa membenturkan umat Islam dengan Pemerintah sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menyusupkan paham mereka," ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh karenanya Ia mengimbau kepada masyarakat Pringsewu untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang beredar yang dapat memperkeruh suasana. "Saya imbau kepada seluruh pengurus NU semua tingkatan di Kabupaten Pringsewu untuk peka dan menjaga kondusivitas lingkungan serta selalu memberikan pencerahan sehingga warga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan yang mengarah kepada makar," imbaunya.

Sesuai dengan Maklumat yang dikeluarkan PBNU, ia menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa dengan menyerahkan semua permasalahan kepada pihak berwajib. "NU dan ormas besar lainnya yang terbukti istiqamah mengawal NKRI, tidak ikut dalam unjuk rasa yang digelar. Jangan sampai kasus ini dimanfaatkan kelompok tertentu untuk memecah belah bangsa," tandasnya.

Ia mengingatkan bahwa kondisi damai yang selama ini dirasakan oleh berbagai suku dan agama Indonesia harus dijaga. "Kita bukan bangsa arab. Kita memiliki budaya sendiri. Jangan sampai Perpecahan seperti di Negara Timur Tengah dibawa ke Indonesia. NKRI Harga Mati," tegasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa

Oleh Hj. Ida Masruroh Hakim* Tanggal 29 Maret 2015 usia Muslimat NU genap berusia 69 tahun. Bagi sebuah organisasi, ? tumbuh dan berkembang ? melampaui lebih ? dari setengah abad, adalah fakta yang sulit dibantah bahwa organisasi ini semakin meneguhkan eksistensi kematangan dan kemapanannya.?

Tidaklah mudah bagi sebuah organisasi dapat bertahan melampaui jauh dari usia keemasan (50 tahun) bahkan terus berkembang semakin kuat dan mengakar sampai ke pelosok desa di seluruh Nusantara.?

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa

Maka tidak mengherankan jika dalam perkembangannya Muslimat NU yang notabene sebagai Badan Otonom NU tumbuh menjadi Organisasi Sosial Kemasyarakatan Keagamaan berbasis perempuan terbesar di negeri ini bahkan di dunia karena anggotanya sampai tahun 2015 ini mencapai 22 juta orang tersebar di 33 Wilayah (Provinsi), 554 Cabang (Kab/Kota), 5.222 Anak Cabang (Kecamatan), 36.000 Ranting (Desa/Kelurahan).

Muslimat NU lahir 69 tahun yang lalu tepatnya 29 maret 1946 di Purwokerto dalam Kongres NU XVI (sekarang muktamar) dengan nama Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM). Kelahirannya dilatarbelakangi keprihatian kuat atas keterbelakangan, kebodohan dan rendahnya derajat kesehatan ang dialami oleh kaum perempuan sebagai akibat kuatnya budaya patriarkhi saat itu.?

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagai salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama dengan mandat garapan pada segmen perempuan dewasa, sejak awal kelahirannya Muslimat NU konsern pada bidang dakwah islamiyah, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Mengangkat perempuan dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan menjadi cita-cita awal Muslimat NU.?

SMA Negeri 1 Slawi

Catatan singkat berikut ini dapat membantu menengok bagaimana Muslimat NU melakukan ikhtiar dan upaya mengentaskan perempuan dari lembah keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan:

Tahun 1952 Melaksanakan Pelatihan kepemimpinan Perempuan untuk membekali perempuan dapat berkiprah menjadi guru, memimpin organisasi dan meningkatkan kualitas diri.

Tahun 1950 Mencanangkan Program Pemberantasan Buta Aksara untuk mengentaskan perempuan dari kebodohan dan ketertinggalan.

Tahun 1954 merekomendasikan kepada pemerintah melakukan pelarangan perkawinan di bawah umur/pernikahan usia dini.

Tahun 1968 menyepakati dan menyetujui Program keluarga Berencana yang dilakukan BKKBN, untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.

Tahun 1970 Mendorong duindangkannya UU no 1 tahu 1954 tentang Perkawinan.

Program–program ini sepertinya biasa dan hampir semua organisasi perempuan juga melaksanakannya, karena program tersebut menjadi isu nasional dan bahkan isu dunia, akan tetapi jikalau ditilik dari masa pencanangan program yang dilakukan Muslimat NU, maka akan terlihat bahwa Muslimat NU selalu mencanangkan program dan merelisasikannya puluhan tahun sebelum isu tersebut booming. Hal ini menegaskan bahwa Muslimat NU selalu menjaga orisinalitas gagasan agar tidak terjebak pada euforia belaka.

Adalah program Keluaga Berencana (KB) oleh BKKBN, program ini pada awal dicanangkan oleh Pemerintah mendapat penolakan dari kalangan ulama karena dianggap menolak takdir dan membatasi kelahiran. Namun Muslimat NU menyetujui program KB sebagai upaya Pemerintah untuk mengatur dan merencanakan kelahiran sejak tahun 1980. Berkat peran Ormas Keagamaan termasuk Muslimat NU, KB akhirnya dapat diterima masyarakat dan ? menjadi program pemerintah yang populis.

Pada awal bedirinya Muslimat NU ? hanya dipandang sebagai kumpulan pengajian Ibu-ibu untuk ? Tahlilan dan Berzanjenan, pandangan tersebut berlanjut sampai masa orde baru yang memandang Muslimat NU dengan sebelah mata. Seiring dengan datangnya masa reformasi dibawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemberdayaan Perempuan RI era Gus Dur Muslimt NU mengalami kemajuan pesat.?

Berkat kepiawaian Khofifah meyakinkan pihak eksternal bahwa Muslimat NU memiliki social capital yang riil sampai pada tingkat akar rumput maka banyak Kementrian dan lembaga menjalink Kemitraan dengan Muslimat NU. Program- program ini hasilnya dirasakan betul sampai pada struktur paling bawah yaitu Ranting/Desa. ? ?

Keberhasilan Khofifah dalam memimpin Muslimat NU dengan berbagai dinamikanya membentuk Khofifah menjadi sosok perempuan yang progresif, tangguh dengan skill kepemimpinan yang teruji. Tidak heran jika predikat sebagai Srikandi Demokrasi Indonesia disandangkan kepadanya. Dan karena alasan inilah Presiden Joko Widodo mendaulatnya menjadi Menteri Sosial RI pada masa Pemerintahannya.?

Pengangkatan Khofifah yang masih menjabat sebagai Ketua Umum Muslimat NU ini tentu saja menjadi kesyukuran tersendiri bagi Muslimat NU karena pasti akan membawa efek domino bagi ? Muslimat NU dengan bergaining position yang semakin meningkat merajai jagad keormasan ? berbasis perempuan keagamaan di Indonesia.

Namun di sisi lain sesungguhnya ada tantangan serius yang pada momentum peringatan Harlah Muslimat NU ke 69 ini patut menjadi bahan Refleksi bersama. Meningkatkan kualitas sumber daya pengurus serta penguatan kelembagaan Muslimat NU di semua tingkatan merupakan langkah prioritas yang harus segera dilaksanakan, agar Muslimat NU di semua tingkatan, layak menjadi semacam implementator agen dari program–program pembangunan melalui berbagai layanan keumatan yang dimilki oleh Muslimat NU. Ini sekaligus juga meneguhkan komitmen Muslimat NU untuk selalu menjadi bagian dari ikhtiar penyelesai masalah bangsa...

“Selamat harlah Muslimat NU ke-69. Dirgahayu Muslimat NU“

Hj. Ida Masruroh Hakim, Pengurus PW Muslimat NU Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Kyai, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mengatakan, mudik adalah budaya yang bisa dijustifikasi agama karena hal itu bermuatan silaturahim yang dianjurkan agama Islam.

“Niatnya kan silaturahmi. Jelas itu ajaran agama,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi Selasa (5/7).

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama

Pemudik, kata Kiai Masdar, umumnya adalah perantau dari desa atau daerah untuk megadu nasib atau mencari penghidupan dan pengembangan diri yang lebih baik.

SMA Negeri 1 Slawi

Mereka, sambungnya, adalah orang daerah atau desa yang ingin mendapatkan masa depan yang lebih sesuai dengan pendidikan dan perkembangan jamannya.

“Semuanya itu tidak mungkin bisa diraih kalau tetap tinggal di desa atau kampungnya yang terbatas kemungkinan-kemungkinannya, baik secara ekonomi maupun sosial,” katanya. ?

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Masdar menambahkan, pemudik adalah muhajir-muhajir dari desa untuk membangun masa depan yang lebih baik yang hanya bisa disediakan oleh kota.

Masa-masa setahun mencari penghidupan di kota, maka Lebaran adalah momen kultural untuk menengok masa lalu dan asal-usul secara massal yang tepat dalam bingkai keutamaan keagamaan yang disebut "silaturrahmi".

“Hal itu sesuai dengan hadits Nabi: ‘Barangsiapa yang ingin dilapangkan jalan rezekinya dan diperkuat akar keberadaannya maka ia hrs mmperkokoh tali silaturrahmi baik dengan saudara atau handai tolannya’. Selamat Lebaran!” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 30 November 2017

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017

Solo, SMA Negeri 1 Slawi - Kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 kini telah memasuki babak Seri Nasional. Sebanyak 32 tim, siap bertanding untuk memperebutkan juara sepakbola antar-pesantren se-Indonesia ini. 32 tim tersebut terbagi ke dalam 8 grup.

Seperti yang telah dirilis panitia LSN 2017, juara bertahan Nurul Iman Bantul menempati grup C bersama Al-Ikhlas Muna, Al-Khairat Bintauna, dan As-Salam Bangkalan. Sedangkan juara kedua musim lalu, Walisongo Sragen berada di grup A bersama Hamzan Wadi, Nurul Fauzi Tasikmalaya dan Darul Huda Ponorogo.

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017

Manajer Tim Walisongo Sragen Mustawa mengatakan untuk pertandingan perdana, timnya akan bertanding melawan Darul Huda asal Ponorogo, Senin (23/10) mendatang.

“Untuk persiapan menghadapi pertandingan perdana, seperti biasa kami hanya melakukan pertandingan persahabatan dan latihan rutin. Selebihnya doa,” papar Mustawa saat dihubungi SMA Negeri 1 Slawi, Sabtu (21/10).

SMA Negeri 1 Slawi

Berikut hasil lengkap pembagian 8 grup (32 Besar) Seri Nasional LSN 2017 :

SMA Negeri 1 Slawi

Grup A

Hamzan Wadi (Nusa Tenggara 3), Nurul Fauzi Tasikmalaya, Walisongo Sragen, Darul Huda Ponorogo

Grup B

Al-Huda Cianjur, Nurul Ilmai Sijunjung, Darul Arafah Deli Serdang, Al-Husaeni Kab. Bandung

Grup C

Al-Ikhlas Kab. Muna, Al-Khairat Bintauna, Nurul Iman Bantul, As-Salam Bangkalan

Grup D

Al-Mahdaniyah Tabalog, DDI Kaballangan, Ruhul Islam Anak Bangsa, Babussalam FC Rohul

Grup E

Al-Ijtihad Danger, Asshiddiqiyah DKI Jakarta, Al-Mujtahid Pontianak, Denanyar Jombang

Grup F

Ar-Raisiyah Tangsel, Birul Walidanin, Al-Huda Lampung Selatan, Nurul Iman Muaro Jambi

Grup G

Al-Anshor Maluku Tengah, AIAI Babel, Manbaul Hikmah United, Nurul Jadid Paiton

Grup H

Darul Hikmah Cirebon, Al-Kahfi Kebumen, Nurul Khaerat Lil Muhibbin, Minhajussalam Subulussalam. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 24 November 2017

Habib Luthfi: Foto KH Hasyim Asyari Wajib Dipasang

Pekalongan, SMA Negeri 1 Slawi

Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mewajibkan warga Nahdliyyin, khususnya para pengurus NU untuk memasang foto tokoh pendiri NU dan pahlawan nasional, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asyari, di rumah masing-masing.



Habib Luthfi: Foto KH Hasyim Asyari Wajib Dipasang (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Foto KH Hasyim Asyari Wajib Dipasang (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Foto KH Hasyim Asyari Wajib Dipasang

Pasalnya, pemimpin tertinggi organisaasi tarekat-tarekat NU itu khawatir, saat ini para generasi muda NU banyak tidak tahu wajah tokoh penting di balik kebesaran Nahdlatul Ulama.

Habib luthfi perihatin akan nasib NU ke depan. Tokoh NU Kota Pekalongan yang juga Ketua Umum MUI Jawa Tengah itu beberapa waktu lalu meminta para Pengurus NU Kota Pekalongan agar di masing-masing rumah warga Nahdliyyin terpasang foto Hadratus Syech KH Hasyim Asyari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan pahlawan nasional.

SMA Negeri 1 Slawi

Bak gayung bersambut, gagasan Habib Luthfi disambut PCNU dengan pencanangan gerakan pemasangan foto KH Hasyim Asyari bersamaan dengan acara istighotsah kubro yang berlangsung Jumat (1/2) malam ditandai dengan penyerahan foto KH Hasyim Asyari berukuran 40 x 50 cm dalam bingkai kaca kepada perwakilan MWC NU, Lembaga NU, Badan Otonm NU dan Ranting NU.

SMA Negeri 1 Slawi

Diharapkan seluruh rumah pengurus NU di semua tingkatan dalam bulan Pebruari ini sudah dipasangi foto KH Hasyim Asyari yang difasilitasi PCNU Kota Pekalongan dengan mencetak foto dalam bentuk poster.

Wakil ketua PCNU Kota Pekalongan Abdul Basyir mengatakan, secara bertahap PCNU akan menerbitkan buku sejarah sepak terjang tokoh-tokoh NU khususnya yang ada di Kota Pekalongan dengan harapan agar generasi penurus yang tergabung dalam wadah IPNU dan IPPNU tidak kehilangan panutan dan jejak yang amat penting bagi perkembangan NU di Kota Pekalongan.

Sementara itu tidak kurang dari sepuluh ribu warga NU Pekalongan dan sekitarnya Jumat (1/2) malam lalu menghadiri acara istighotsah kubro yang digelar PCNU Kota Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-82 Nahdlatul Ulama.

Acara yang digelar di Masjid Agung Al Jami Kota Pekalongan mendapat perhatian penuh dari warga masyarakat. Pasalnya dalam acara itu dua tokoh ulama besar yakni Habib Luthfi dan Habib Abdullah Baqir bin Abdullah Alatas ikut hadir dan larut dalam gema istighotsah, sehingga jamaah yang dengan hadir dengan busana putih putih tampak larut dalam doa agar bangsa Indonesia lepas dari berbagai musibah.

Bahkan untuk memudahkan jamaah dapat melihat susana depan panggung, pihak panitia harus menyediakan monitor besar, sehingga jamaah tidak perlu lagi berdesakan untuk menempati ruangan utama masjid Agung Al Jami.

Meski demikian, serambi dan halaman masjid yang cukup luas itu akhirnya tak mampu juga menampung ribuan jamaah yang terus berdatangan hingga acara berlangsung hampir separohnya.

Humas Panitia Zainal Muhibbin SPd kepada SMA Negeri 1 Slawi mengatakan, istighotsah kubro ini merupakan puncak acara harlah yang di gelar PCNU Kota Pekalongan sejak tanggal 10 Januari 2008 yang lalu.

Beberapa kegiatan ujar Muhibbin telah dilakukan dan mendapat sambutan masyarakat yang cukup meriah, antara lain bersih-bersih masjid dan musholla NU, pengobatan gratis massal, donor darah, malam tasyakuran, ziarah makam ulama pejuang NU dan puncaknya digelar istighotsah ini.

"Saya tidak menduga kalau acara yang digelar NU mendapat sambutan yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat di setiap acara yang digelar untuk memperingati Harlah NU," katanya.

"Tentu ini menjadi garapan NU ke depan bagaimana antusias masyarakat ini sebagai bukti bahwa mereka masih sangat mencintai NU," ujar Muhibbin lagi.

"Meski disadari bahwa kegiatan kolosal seperti pengobatan gratis, donor darah dan istighotsah kubro ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, akan tetapi kalau hal ini untuk masa depan dan kebesaran Nahdlatul Ulama, berapapun biaya yang harus dikeluarkan itu bukan masalah," tandasnya.

Walhasil, acara peringatan harlah menandai kegiatan awal pengurus NU periode 2007-2012 telah mendapat respon masyarakat dengan baik, tinggal ke depan bagaimana pengurus baru dapat merealisasikan program-programnya yang dapat menyentuh kebutuhan warga nahdliyyin khususnya dalam penanganan pendidikan, ekonomi dan kesehatan yang saat ini masih menjadi kebutuhan prioritas warga NU di Kota Pekalongan. (Abdul Muiz)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Ahlussunnah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 12 November 2017

NU Subang Akan Dirikan STAINU

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Warga NU Subang yang menantikan kehadiran Perguruan Tinggi NU boleh berbahagia. Pasalnya, saat ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang tengah mengupayakan pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU).

Ketua Tim pendirian STAINU Subang, Amir Syarifudin mengatakan, bahwa STAINU Subang kemungkinan dapat terwujud pada tahun ajaran 2013/2014, sebab saat ini ada moratorium (penghentian sementara) pendirian Perguruan Tinggi.

NU Subang Akan Dirikan STAINU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Subang Akan Dirikan STAINU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Subang Akan Dirikan STAINU

“Kita bisa saja membuka tahun ini, tapi kalau memaksakan nanti akan terbentur sama peraturan moratorium itu, Insya Allah kalau moratoriumnya cepat dicabut, tahun depan STAINU Subang bisa berdiri,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi di kediamannya, komplek Pesantren Ulumul Qur`an, Kunir, Cipunagara, Subang, Kamis (6/6).

SMA Negeri 1 Slawi

Sekretaris PC LP Ma`arif NU Subang tersebut menambahkan, bahwa sambil menunggu dicabutnya moratorium pendirian perguruan tinggi, timnya terus berupaya dan mempersiapkan aneka kebutuhan administratif.

SMA Negeri 1 Slawi

Supaya, sambung Kepala MTs Daarul Hikam Binong ini, ada saatnya nanti pendirian STAINU Subang dapat segera diproses.

Adapun Progam Studi (prodi) yang akan dibuka di STAINU Subang adalah Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah. Tadinya kita mau PAI (Pendidikan Agama Islam), sudah overload, “Sambil menunggu kita terus berupaya,” pungkasnya



Redaktur       : Abdullah Alawi

Kontributor   : Aiz Luthfi

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 26 Oktober 2017

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengajak peserta pelatihan da’i dan da’iyah NU untuk mengidentifikasi masalah sosial untuk kemudian mencarikan solusinya. Khofifah mengingatkan, kekeliruan identifikasi persoalan umat akan berdampak pada efektivitas dakwah itu sendiri.

“Tugas Da’i itu mengamankan umat. Hanya saja konsep keamanan para da’i dengan aparat kepolisian tentu beda. Ancaman keamanan para da’i dan aparat keamanan tentu beda,” terang Khofifah dalam penutupan pelatihan kader da’i dan da’iyah NU di Gedung PBNU, Selasa (22/7).

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat

Ancaman keamanan yang jelas-jelas di depan mata itu eskalasi angka kelahiran bayi di luar nikah yang semakin tinggi. Bayangkan, remaja usia belasan sudah terbiasa bahkan tidak sekali melahirkan kandungan di luar nikah? Ini salah satu contohnya, tegas Khofifah.

SMA Negeri 1 Slawi

Kita sebagai penyampai nilai-nilai agama, Khofifah menambahkan, mesti membuat sendiri standar keamanan dan ancamannya. Dari situ, titik gerakan dakwah kita menjadi jelas dan terukur.

Para da’i dan da’iyah juga perlu banyak belajar dan melihat tantangan lingkungan ke depan. “Katakan saja potensi pertambangan di daerah masing-masing. Para da’i sangat bertanggung jawab mengamankan aset umat dalam hal ini,” kata Khofifah.

SMA Negeri 1 Slawi

Di akhir sambutan penutupannya, Khofifah menerangkan tugas berjenjang pengurus NU mulai dari tingkat ranting hingga PBNU. Dengan begitu, solusi keumatan tertangani secara tuntas dan menyentuh tepat di jantung persoalan umat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hadits, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 21 Oktober 2017

Istimewa, Penghormatan Nyai Sinta Nuriyah di Pernikahan Putri Presiden

Surakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution yang diselenggarakan di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Rabu (8/11) dihadiri sejumlah tokoh, tak terkecuali Nyai Sinta Nuriyah, istri dari mantan presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid.

Istimewa, Penghormatan Nyai Sinta Nuriyah di Pernikahan Putri Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Istimewa, Penghormatan Nyai Sinta Nuriyah di Pernikahan Putri Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Istimewa, Penghormatan Nyai Sinta Nuriyah di Pernikahan Putri Presiden

Nyai Sinta hadir didampingi putri sulungnya Alissa Qotrunnada dan cucunya Sabrina A Arinka. Dalam prosesi tersebut ia turut menjadi tamu undangan yang berfoto pertama kali dengan kedua mempelai.

Dalam sesi dokumentasi itu, Nyai Sinta yang menaiki pelaminan Kahiyang-Bobby dengan menggunakan kursi roda, memilih berdiri ketika melakukan sesi berfoto bersama. Momen Nyai Sinta memaksakan untuk berdiri ini tentu menjadi perhatian bagi banyak orang. 

Salah satu tokoh Gusdurian Solo, Hussein Syifa mengungkapkan terakhir kali ia melihat Nyai Sinta berdiri yakni saat menghadiri pernikahan putri Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Surakarta KH Rozaq Shofawi.

“Sebelumnya juga pernah lihat, pas beliau menghadiri pernikahan putri Kiai Rozaq,” kata Hussein.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu, menurut Wakil Syuriah PWNU Jateng KH M Dian Nafi’ momen berdirinya Nyai Sinta, merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada pasangan mempelai.

“Itu istimewa. Sikap menghargai syariat pernikahan. Juga dukungan moral Ibu Nyai Shinta Nuriyah bagi Mbak Kahyang Ayu dan Mas Bobby untuk menapak kehidupan baru  menyongsong karunia, untuk menjadi keluarga yang sakinah wa mawaddah wa rahmah,” tutur Gus Dian. (Ajie Najmuddin/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Meme Islam, Sejarah, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 19 Oktober 2017

Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran

Tadarus Al-Quran adalah suatu kegiatan yang lazim dilakukan oleh seluruh Muslim, khususnya di bulan Ramadhan. Bagi beberapa orang, Ramadhan adalah bulan tadarus. Mereka berlomba-lomba untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu mengkhatamkan Al-Quran.

Beberapa ulama seperti Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, Abu Bakar bin Ayyasy, dan beberapa ulama yang lain telah membuat rumusan jitu untuk segenap umat Islam agar bisa mengkhatamkan Al-Quran sesuai dengan waktu yang ia miliki.

Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran

Dengan rumusan-rumusan ini diharapkan semua orang bisa tetap membaca Al-Quran setiap hari khususnya bagi orang-orang yang sangat sibuk. Berikut rumusan-rumusan para ulama yang bisa dipilih sesuai dengan waktu yang dimiliki.

SMA Negeri 1 Slawi

Mengkhatamkan Al-Quran dalam Waktu 7 Hari (Metode Famy Bi Syawqin)

Muslim yang memiliki waktu cukup longgar untuk tadarus Al-Quran di bulan Ramadhan bisa memilih metode ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan menggunakan metode ini, setiap orang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu tujuh hari (sepekan).

Caranya dengan menggunakan metode Famy Bi Syawqin.

Fa, untuk hari pertama membaca Surat Al-Fatihah hingga akhir Surat An-Nisa.

Mim, untuk hari kedua membaca Surat Al-Maidah hingga akhir Surat Att-Taubah.

Ya, untuk hari ketiga membaca Surat Yunus hingga akhir Surat An-Nahl.

Ba, untuk hari keempat membaca Surat Al-Isra/Bani Israil hingga akhir Surat Al-Furqan.

Sya, untuk hari kelima membaca Surat Asy-Syuara hingga akhir Surat Yasin.

Wawu, untuk hari keenam membaca Surat Ash-Shafat hingga akhir Surat Al-Hujurat.

Qaf, untuk hari ketujuh membaca Surat Qaf hingga akhir Surat An-Nas.

Jika hal ini dilakukan, maka pembaca akan mampu mengkhatamkan Al-Quran selama empat kali dalam sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode 30 Juz

Dengan metode ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu satu hari, yakni dengan membaca 30 juz Al-Quran dalam waktu satu hari, mulai pagi hingga malam atau 30 hari dengan membaca satu juz setiap hari dalam waktu sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Hizb

Dengan metode hizb ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran selama dua bulan. Karena setiap juz terdapat dua hizb, sehingga jika dihitung maka setiap hari, seseorang bisa membaca satu hizb. Hizb ini biasanya bisa kita temukan dalam Mushaf Madinah atau mushaf-mushaf terbaru Indonesia yang ditulis ala Mushaf Bahriyah dan telah distandardisasi oleh Lajnah Pentashih Mushaf. Hizb biasanya ditandai dengan tulisan hizb berbahasa arab (?) di bagian samping mushaf.

Menghatamkan Al-Quran dengan Metode Tsumun

Para ulama juga membagi setiap hizb menjadi empat bagian. Setiap juz memiliki depalan bagian (tsumun). Pembagian ini diharapkan agar seseorang bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu delapan bulan. Tandanya biasanya menggunakan angka ½,  ¼, dan ¾ di atas tulisan hizb yang artinya ar-Rub’ (seperempat), an-Nisf (seperdua), dan as-Salasah (tiga perempat).

Selain itu, dengan pembagian tsumun ini juga setiap orang bisa menghatamkan Al-Quran selama sebulan melalui rakaat shalat. Caranya, setiap raka‘at pertama dan kedua membaca Al-Quran sebanyak dua tsumun. Jika setiap hari terdapat lima kali waktu shalat, maka secara otomatis orang tersebut telah membaca 10 tsumun setiap harinya atau setara dengan 1 ¼ juz sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan bisa mengkhatamkan Al-Quran.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Ruku’

Metode ini adalah metode paling mudah dan diperuntukkan untuk orang-orang yang sangat sibuk. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membaca Al-Quran. Ruku’ biasanya ditandai dengan huruf ‘ain (?) di bagian samping mushaf. Dengan metode ini sesibuk apapun seseorang tetap bisa membaca Al-Quran.

Jumlah ruku’ dalam Al-Quran sebanyak 554 ruku’. Surat yang panjang biasanya berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’. Sehingga jika dijumlahkan, maka orang tersebut bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu sekitar 18 bulan setengah. Itupun jika orang tersebut mau istiqamah membaca Al-Quran setiap hari.

Metode-metode di atas adalah usaha para ulama agar semua orang bisa istiqamah membaca Al-Quran di tengah berbagai kesibukan. Siapapun bisa memilih metode mana yang mampu digunakan. Asalkan penggunaan metode tersebut bisa dilaksanakan secara istiqamah.

Dengan metode-metode tersebut tidak ada seorangpun yang masih tidak membaca Al-Quran dengan alasan kesibukan. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Budaya, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 02 Oktober 2017

Apa Beda Pemilu Sekarang dengan Zaman Orba?

Dengan santai sambil beristirahat setelah menyiangi rumput di sawahnya, Pak Jufri dan anak laki-lakinya Yanto berbincang soal penghitungan cepat atau quick count yang makin ramai di zaman reformasi ini. Kebetulan Yanto sedang liburan kuliah semester lima, jadi bisa membantu Ayahnya di sawah.

To, kira-kira pemilu kali ini siapa ya pemenangnya?” tanya Pak Jufri kepada anaknya.

“Zaman reformasi seperti sekarang sih gampang Pak, tinggal lihat saja quick count,” jawab Yanto dengan pede-nya.

Oh...gitu toh,” kata Pak Jufri dengan mengangguk-angguk.

Apa Beda Pemilu Sekarang dengan Zaman Orba? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Beda Pemilu Sekarang dengan Zaman Orba? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Beda Pemilu Sekarang dengan Zaman Orba?

“Lah iya Pak, tinggal nunggu saja kira-kira lima jam setelah pencoblosan selesai, kita bisa lihat penghitungan cepat di teve siapa yang menang,” tutur Yanto semangat.

Wuelah dalah...kalau gitu lebih cepetan zaman Bapak dong waktu orba,” ungkap Pak Jufri.

SMA Negeri 1 Slawi

“Ah...masa sih Pak? Waktu itu kan belum ada Lembaga penghitungan cepat,” sanggah Yanto.

“Loh...Jangan salah To, dulu kita tidak perlu menunggu sampai lima jam untuk tahu siapa yang menang. Sebelum orang-orang pada nyoblos pun, kita sudah tahu siapa yang bakal menang,” jawab Pak Jufri diplomatis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 25 September 2017

Obat Waswas ala Al-Haitami

Penyakit waswas adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini akan menjadikan seseorang tidak khusyuk dalam beribadah. Bahkan akan membuat malas melakukannya. Ibadahnya pun tidak akan optimal. Sebab, waktunya habis untuk mengulang-ulang ibadah yang tidak perlu diulang.

Dengan demikian, sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk mewaspadai penyakit kronis ini. Sebab penyakit ini merupakan tentara setan dan harus segera ditumpas. Kalau tidak, penyakit ini akan semakin menancap dalam hati dan sulit hilang. Pada akahirnya, akan membuat empunya seperti orang tidak waras.?

Obat Waswas ala Al-Haitami (Sumber Gambar : Nu Online)
Obat Waswas ala Al-Haitami (Sumber Gambar : Nu Online)

Obat Waswas ala Al-Haitami

Bagaimana tidak? Dia membasuh wajah berulang kali, padahal basuhan yang pertama sudah sah, dia melakukan takbiratul ihram beberapa kali, padahal takbiratul ihramnya sudah baik, dan dia membaca Fatihah tidak selesai-selesai, padahal bacaannya lumayan sempurna.

Lalu, bagaimanakah cara mengobati penyakit waswas? Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam kitabnya, Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, tips-tips menghilangkan penyakit waswas. Setidaknya, ada enam cara untuk menaklukkan penyakit setan itu.

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Pertama, tidak menghiraukan. Obat terampuh untuk menumpas waswas adalah tidak menghiraukan ketika keraguan datang. Contoh, ketika melakukan Takbiratul Ihram, hatinya ragu sah atau tidak, maka keraguan itu tidak usah dihiraukan. Lanjutkan saja shalatnya. Yakinlah bahwa Takbiratul Ihram-nya sah. Jika hal itu dilakukan, waswas sedikit demi sedikit akan hilang. Namun, apa bila dituruti, maka waswas itu akan semakin bertambah dan bertambah sehingga akan membuat empunya seperti orang gila.

Kedua, sadar bahwa waswas itu dari setan. Sebagaimana sudah maklum, setan adalah musuh bebuyutan kita. Mereka berusaha keras untuk menjerumuskan kita ke jalan yang dimurkai Allah. Oleh Karen itu, mereka mengganggu kita saat kita beriabadah. Menyelipkan keraguan dalam hati kita; sah tidak niat kita, sah tidak bacaan tahiyat kita dan setersunya. Dengan demikian, jika waswas datang, sadarlah bahwa setan sedang mengganggu kekhusyukan kita.

Ketiga, tancapkan dalam hati bahwa agama Islam itu mudah. Orang yang waswas biasanya menganggap ibadah yang telah dilakukan tidak sah. Misal, dia menganggap niatnya tidak sah, bacaan Fatihahnya tidak sah dan seterusnya. Sehingga dia mengulang-ulang apa yang telah dia lakukan. Hal itu hanya menyusahkan dirinya. Sebab, Islam itu mudah. Rasulullah saw tidak pernah memberikan pemahaman yang sulit tentang agama Islam kepada umatnya.

Keempat, belajar dengan tekun. Baiasanya orang waswas disebabkan karena belaum mengerti betul tentang ibadah yang dia lakukan. Sebab, orang alim dan mengerti seluk beluk agama, dia tidak akan waswas. Oleh karena itu, bagi orang yang waswas, belajarlah agama secara berkelanjutan. Setidaknya ibadah yang di-waswasi. Misalnya ketika shalat, dia waswas, maka belajarlah tentang ilmunya shalat.?

Kelima, bacalah Lâ Ilâha Illa-llâh. Orang yang terkena penyakit waswas disunahkan memperbanyak kalimat tauhid ini. Sebab, ketika mendengar kalimat tauhid ini, setan akan lari.?

Keenam, membaca ta’awwudz. Utsman bin abil Aash pernah bercerita kepada baginda Nabi saw bahwa setan telah mengganggu shalatnya. Maka Nabi memerintahnya untuk membaca ta’awwudz dan meludah ke kiri tiga kali. Resep itu pun dilakukan. Seketika, penyakit waswas itupun hilang.

Demikianlah obat waswas menurut Ibnu Hajar al-Haitami. Semoga kita semua dapat mengamalkannya sehingga penyakit waswas hengkang dari hati kita. Sehingga kita dapat beribadah dengan khusyuk.***

Saifuddin Syadiri, Mahasiswa Program Studi PAI Universitas Sunan Giri Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Santri, Lomba, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock