Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

Ponorogo, SMA Negeri 1 Slawi. Menjelang berlangsunya Liga Santri Nusantara Tahun 2016 yang akan digelar usai bulan Ramadhan, Panitia Pelaksana LSN Region Jawa Timur 1 melakukan rapat bersama Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Jum’at (17/6).

Pada rapat yang dihadiri Koordinator LSN Jawa Timur 1 Habib Mustofa, pengurus KONI dan PSSI Ponorogo itu berhasil menyepakati pelaksanaan kompetisi sepakbola antar pesantren itu akan dirangkaikan dengan Piala Bupati Ponorogo Tahun 2016. ?

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

“Sesuai dengan arahan Bupati Ponorogo, kick off LSN Region Jatim 1 dan Piala Bupati Ponorogo akan digelar pada 27 Juli mendatang di Ponorogo,” jelas Kepala Dinas BUDPARPORA, Sapto Djatmiko di Kantornya Jl Pramuka No 19A Ponorogo.

Menurut Sapto, Bupati Ponorogo Ipong Muclissoni sangat mengapresiasi atas ditunjuknya Kota Reog Ponorogo sebagai tuan rumah gelaran Liga Santri Nusantara Region Jawa Timur 1 yang akan diikuti sebanyak 32 Peserta itu.

SMA Negeri 1 Slawi

“Bupati berharap besar kepada Panitia Liga Santri Nusantara untuk mengundang Menpora H Imam Nahrawi agar dapat hadir di Ponorogo dalam acara pembukaan liga santri nusantara dan piala Bupati Ponorogo yang rencananya akan diikuti oleh ribuan santri,” katanya.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ponorogo menyambut baik perhelatan sepakbola antar pesantren ini. Mereka akan berperan aktif dalam mensukseskan LSN tahun 2016.

“Kami akan mempersiapkan peralatan pertandingan sekaligus akan membentuk kepanitiaan lokal yang akan bersinergi dengan RMI NU, Banom NU dan Pihak pemerintah daerah serta kalangan professional,” jelas Dite perwakilan PSSI Ponorogo.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 akan diikuti 32 Peserta, yang meliputi Ponorogo sebanyak 5 pesantren, Trenggalek (5), Pacitan (5), Magetan (5), Ngawi (5), Kabupaten Madiun (5), dan Kota Madiun 2 pesantren itu.

Sementara Itu pada selasa malam (14/6) lalu, Panitia Pelaksana juga melakukan rapat membahas teknis pelaksanaan LSN dan hal-hal terkait bersama pengurus Asosiasi Wasit dan Perangkat Pertandingan Professional Indonesia (AWAPPI).?

SMA Negeri 1 Slawi

Rapat membahas tentang hal-hal teknis seperti, Kode disiplin liga santri nusantara, peraturan khusus bidang komersial, dan regulasi LSN. Selain itu, masing-masing divisi telah memaparkan tugas dan tanggungjawabnya. Tugas utama dari panitia lokal antara lain terus melakukan sosialisasi kepada kalangan pesantren dibawah naungan Asosiasi Pesantren NU (RMI). (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Hikmah, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, SMA Negeri 1 Slawi 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

SMA Negeri 1 Slawi

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian Sunnah, Hikmah, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Warga NU dan umat Islam di Tanah Air kembali kehilangan ulama panutannya. Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 KH Ali Mustafa Ya’qub wafat pada Kamis (28/4) pagi ini.

Mantan imam besar Masjid Istiqlal ini diberitakan mengembuskan napas terakir di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, pukul 06.00 WIB. KH Ali Musthofa Ya’qub merupakan pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan., Banten

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat

Idris Mas’ud , pengurus Lakpesdam PBNU yang juga santri KH Ali Mustafa Ya’qub mengatakan, saat ini jenazah almarhum tengah dimandikan di lingkungan Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan. Rencananya, almarhum akan dishalatkan hari ini, selepas dhuhur, dan dikebumikan sekitar pukul 14.00 WIB.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mengatakan, Kiai Mustafa yang tampak tak sadarkan diri dibawa ke Rumah Sakit Hermina sekitar pukul 04.00 WIB. Menurut Idris, bahkan saat akan menuju rumah sakit Kiai Musthofa diperkirakan sudah meninggal dunia. “Beliau sudah lama sakit, hanya saja beliau jarang mengeluh, dan seperti tidak dirasa,” kata Idris yang sedang ada di lokasi pemandian jenazah.

KH Ali Mustafa Ya’qub yang aktif di Majelis Ulama Indonesia dikenal dengan kepakarannya di bidang ilmu-ilmu keislaman, terutama hadits. Ia banyak melahirkan karya tulis, baik berbahasa Arab maupun Indonesia. (Mahbib)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Sekjen OKI Tekankan, Negosiasi Damai Harus Berlanjut

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Iyad Amen Madani usai penutupan KTT Luar Biasa Ke-5 OKI menekankan bahwa upaya negosiasi damai antara Palestina dan Israel harus tetap dilanjutkan.

"Sangat penting untuk meneruskan negosiasi damai (Palestina-Israel) dalam waktu dan agenda yang telah ditentukan," kata Sekjen OKI Iyad Amen Madani di Jakarta, Senin.

Sekjen OKI Tekankan, Negosiasi Damai Harus Berlanjut (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen OKI Tekankan, Negosiasi Damai Harus Berlanjut (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen OKI Tekankan, Negosiasi Damai Harus Berlanjut

Menurut Madani, proses negosiasi damai itu akan sangat penting bagi upaya kemerdekaan Palestina dan pembentukan negara Palestina atas dasar "Two States Solution" (Solusi Dua Negara).

Selanjutnya, Sekjen OKI juga menekankan pentingnya upaya untuk memperkuat persatuan di antara rakyat Palestina untuk membentuk persatuan nasional.

"Kita perlu memperdalam persatuan di antara Palestina dan membentuk perstuan nasional agar kepentingan Palestina tidak akan dilemahkan," ujar dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada kesempatan itu, Sekjen Madani juga berpendapat bahwa hasil dari KTT Luar Biasa ke-5 OKI tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif (Kota Suci Yerusalem) akan menjadi panduan bagi dunia untuk mendukung upaya penyelesaian masalah Palestina dan Yerusalem.

SMA Negeri 1 Slawi

"Resolusi dan Deklarasi dari KTT (Luar Biasa) OKI ini mempunyai orientasi aksi. Kami senang Indonesia menjadi tuan rumah karena menjadi simbol yang menunjukkan seluruh masyarakat Islam mempunyai perhatian bagi isu Palestina, yang bukan hanya isu kawasan tetapi juga isu global," kata dia.

Indonesia menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa ke-5 OKI untuk isu Palestina dan Al Quds Al Sharif pada 7 Maret 2016. Pertemuan itu dihadiri oleh 605 delegasi dari 57 negara dan dua Organisasi Internasional. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Kiai SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Oleh Ahmad Zaki Muntafi



Produktivitas ulama nusantara sejatinya amat luar biasa. Apresiasi dari hal itu berupa penggunaan kitab-kitab karya ulama nusantara di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Artinya, karya tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia saja, tetapi telah meluas ke pelosok negeri Muslim. Bukan itu saja, bahkan sosoknya juga amat dihormati dan disegani hingga sekarang. Misal saja, Syaikh Nawawi al-Bantani dengan seabrek kitab karyanya.

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Kajian tentang literatur (kitab) karya ulama nusantara memang tiada hentinya di masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan akademisi. Namun, terdapat persoalan yang muncul kemudian, yakni ternyata masih banyak kitab karya ulama nusantara yang belum terjamah untuk dikaji dan dipelajari, termasuk yang masih berbentuk naskah-manuskrip. Artinya, ? karya ulama tersebut masih berbentuk tulisan tangan asli dan belum dicetak dengan alat modern. Tentu hal itu yang harus ditindak lanjuti secara berkelanjutan, mengingat pentingnya ajaran Islam ulama nusantara melalui karya-karyanya.

Ada sebuah buku yang menarik tentang kajian literatur karya ulama nusantara. Buku yang berjudul “Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara.” Buku yang ditulis secara apik oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban (2017), serta baru di launching beberapa hari yang lalu. Lahirnya buku ini berawal dari aktivitas Sya’ban melakukan dokumentasi berbagai naskah-manuskrip (kitab) karya ulama nusantara yang ada di Timur Tengah, yakni Mesir dan Arab Saudi.

Sya’ban menyatakan bahwa dalam penelusurannya mencari kitab karya ulama nusantara di Timur Tengah tidaklah susah. Bahkan, menurutnya mudah menemukannya di perpustakaan yang ada. Selama melakukan pencarian dan pelacakan kitab karya ulama nusantara, Sya’ban menemukan amat banyak literatur kitab yang ditulis oleh ulama nusantara. Bisa dikatakan jumlahnya ratusan kitab, bahkan hingga ribuan.

Dalam buku tersebut Sya’ban hanya menggunakan 104 naskah-manuskrip (kitab) yang di¬¬jelaskannya. Sekitar 60-an kitab didapatkan selama pencarian dan pelacakan di Mesir, serta sisanya didapatkan di Arab Saudi, yakni di kota Mekah dan Madinah. Sya’ban memaparkan bahwa khazanah literatur karya ulama nusantara terangkai dengan apik dalam kitab-kitab yang ditelaahnya, mulai dari yang masih berbentuk naskah-manuskrip, serta kitab yang sudah dicetak pula. Bahkan, tidak hanya ditulis dengan bahasa Arab, tetapi ditulis pula dengan bahasa Jawa, Sunda, serta Melayu yang diaksarakan dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, secara historisasi cukup menggambarkan pola penting keislaman yang ada di nusantara dalam kurun waktu beradab-abad silam.?

SMA Negeri 1 Slawi

Misal saja, dalam kitab yang berbahasa Sunda ditemukan perkembangan ajaran tarekat yang ada di Sunda. Bahkan, sebelumya Oman Fathurahman (2016) sebagai ahli filologi telah menuliskannya tentang perkembangan tarekat yang ada di Sunda, di mana temuannya menunjukkan bahwa Jawa Barat (Sunda) memiliki peran penting dalam perkembangan tasawuf dan tarekat, khususnya yang ada di Jawa. Fathurahman menyebutkan bahwa Karang, Pamijahan yang saat ini menjadi daerah Tasikmalaya telah menjadi rujukan lokasi yang penting, serta terdapat sosok penting Syaikh Abdul Muhyi sebagai tokoh penting dalam perkembangan tarekat sufi Shattariyah dibeberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Hal itu dijelaskan Fathurahman dalam bukunya “Shattariyah Silsilah in Aceh, Java, and The Lao Area of Mindanao”.

Selanjutnya, esensi pembahasan yang ada didalam kitab karya ulama nusantara juga beragam, mulai dari fiqih, tafsir, tasawuf, hingga tarekat sebagaimana telah sederhana dipaparkan di atas. Hanya saja, cukup sedikit kitab karya ulama nusantara yang dikaji di Indonesia untuk saat ini. Jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah karya ulama nusantara. Karya-karya yang dihasilkan ulama nusantara tidak hanya dari ulama Tanah Jawa, tetapi ulama luar Jawa pula, seperti di ? Aceh, Palembang, Padang, serta daerah lainnya pula.?

Sebenarnya, kajian literatur karya ulama nusantara amat penting dalam era kekinian, bahkan hingga masa yang akan datang. Hal itu karena posisi ulama amat penting. Selain itu, agar eksistensi ulama nusantara bukan dianggap sebagai fiktif belaka, apalagi mitos. Sebagaimana saat ini, terdapat beberapa kelompok yang tidak mengakui adanya Wali Songo sebagai ulama nusantara. Tentunya upaya tersebut sebagai langkah preventifnya. Selain itu, terdapat ribuan karya ulama nusantara yang menanti perlu untuk dikaji dan ditelaah.

Terlepas dari itu, ajaran dan gagasan ulama nusantara juga perlu dikembangan dan diimplementasikan di era yang begitu erat dengan polemik sosial-keagamaan saat ini. Seperti diketahui, ulama nusantara pun dikenal cukup moderat dalam memahami ajaran Islam. Namun, untuk mengetahui segala ajarannya hanya dapat dilakukan dengan mengkaji karya-karya ulama nusantara sebagai warisan keilmuan di Tanah Nusantara ini.?

SMA Negeri 1 Slawi





Penulis adalah Ketua Umum KBPA UIN Jakarta & Mudabbir Mabna Syaikh Nawawi Ma’had Al-Jami’ah UIN Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, RMI NU, Jadwal Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 20 Desember 2017

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Bandarlampung, SMA Negeri 1 Slawi. Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Lampung yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung Aom Karomani mengatakan, angka persentasi mahasiswa yang ikut dalam gerakan radikal di perguruan tinggi di Indonesia masih cukup tinggi.

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Menurutnya hal tersebut disebabkan salah asuh yang sudah sejak lama terjadi.

"Saya kira itu bukan persoalan siapa pemimpin perguruan tingginya tapi terjadi salah asuh sedemikian lama dan baru sekarang kita sadari fenomena itu," katanya, Selasa (7/11).

Aom mengungkapkan hal tersebut menanggapi adanya permasalahan masih banyaknya kader dan simpatisan HTI di kampus-kampus yang sampai saat ini belum sadar dan dengan diam-diam terus menyebarkan ideologi khilafah.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menilai harus ada upaya konkrit dan sistematis sekaligus solusi dari fenomena ini dalam rangka mengembalikan para mahasiswa tersebut ke jalan yang benar, baik dari sisi kelembagaan masing-masing perguruan tinggi maupun stake holder terkait.

Mahasiswa serta pelajar, tambah Aom, merupakan sasaran empuk kelompok-kelompok intoleran dan radikal dalam rangka  menyusupkan ideologi radikal. Hal itu karena di usia-usia inilah para mahasiswa dan pelajar tengah mencari bentuk jati diri dan masih labil kejiwaannya.

"Yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terutama pada masa peralihan dari SLTA ke perguruan tinggi," ujarnya.

Ia juga menyorot pembelajaran pendidikan agama di sekolah menengah dan perguruan tinggi belum mampu menjawab permasalahan bangsa. Perombakan kurikulum pendidikan agama, terutama dalam

SMA Negeri 1 Slawi

kehidupan beragama yang beriringan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya perlu dilakukan lagi.

Kurikulum Pendidikan Agama harus mampu menanamkan nilai-nilai agama secara kontekstual kepada para mahasiswa dan pelajar. 

"Harusnya belajar ilmu agama tidak dilakukan secara tekstualis. Harus melihat konteks dan realitas yang muncul ditengah-tengah masyarakat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Habib, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Malang, SMA Negeri 1 Slawi - Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofiuddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

SMA Negeri 1 Slawi

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daaiyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi lanatan lil alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Daerah, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 27 November 2017

Pesantren Windan Bantu Mahasiswa Baru Belajar Mengaji

Sukoharjo, SMA Negeri 1 Slawi - Jangan pernah malu untuk terus belajar agama. Begitu mungkin ungkapan yang pas untuk menggambarkan semangat sebagian mahasiswa IAIN Surakarta yang kembali mendalami ajaran agama dari dasar.

Layaknya anak-anak TPA, dengan sabar, mereka mengikuti huruf demi huruf, kata demi kata, yang dibaca oleh seorang mentor. “Baa ta bii, ta baita,” teriak mereka secara kompak, ketika mempelajari salah satu materi metode Tarsana.

Pesantren Windan Bantu Mahasiswa Baru Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Windan Bantu Mahasiswa Baru Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Windan Bantu Mahasiswa Baru Belajar Mengaji

Rupanya, mahasiswa baru dari berbagai jurusan ini tengah mengikuti sebuah program yang ditujukan untuk memantapkan kompetensi mereka di bidang agama, terutama membaca Al-Quran dan cara ibadah.

Untuk melancarkan program ini, pihak kampus bekerja sama dengan sejumlah pesantren di sekitar kampus. Salah satu pesantren yang dijadikan tempat belajar, yakni Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji Sukoharjo, Jawa Tengah.

SMA Negeri 1 Slawi

Radina Qisma, salah satu guru pengajar di Windan, menuturkan program ini dilakukan selama dua bulan. Pertemuan dibagi menjadi 3 kali pertemuan setiap minggunya. “Untuk kelas besar dilakukan setiap hari Jumat dan Ahad. Sedangkan untuk satu pertemuam lainnya dikhususkan untuk tatap muka dengan para mentor yang telah dibagikan untuk setiap kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang peserta yang didampingi satu santri senior, yang telah melaksanakan khataman juz amma maupun binadhar,” jelasnya, kepada SMA Negeri 1 Slawi, Ahad (13/11).

SMA Negeri 1 Slawi

Salah satu peserta program yang kami temui, Dina Puspitaningrum, mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Alhamdulillah, menambah ilmu, jadi lebih tahu tentang bacaan tajwid, jadi bisa menadakan bacaan ayat Al-Quran, dapat membacanya dengan lebih baik dan benar,” kata mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Dakwah itu.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Windan, KH M Dian Nafi’ menambahkan, program ini menunjukkan adanya perhatian dari kalangan perguruan tinggi yang semakin terpanggil untuk memantapkan standar kompetensi lulusannya, terutama dalam hal Al-Qur’an dan ibadah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian Sunnah, Makam, Hikmah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 25 November 2017

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan proses radikalisasi anak pelaku terorisme terjadi di dalam rumah tahanan. Hal itu merupakan akibat terjadinya interaksi dan doktrinasi dari narapidana terorisme dewasa. Padahal, Undang-Undang mengatur anak pelaku terorisme dikualifikasi sebagai korban yang harus mendapat perlindungan khusus. Dan, penanganannya harus mengedepankan pendekatan pemulihan (restoratif justice).

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan

"Ini PR besar bagi kita semua dalam penanganan kasus terorisme di Indonesia. Di satu sisi kita harus keras memberi hukuman terhadap pelaku demi melahirkan efek jera, namun di sisi lain kita harus memutus mata rantai terorisme anak dengan pendekatan rehabilitatif dan restoratif," kata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh, melalui siaran pers, setelah melakukan kunjungan ke Lapas Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (28/9).

Menurutnya, khusus terhadap anak yang terpapar ajaran terorisme, harus ada pendekatan khusus, yaitu pendekatan pemulihan (restoratif), bukan pendekatan penghukuman dan pemenjaraan (punitif) sebagaimana orang dewasa yang dijerat kasus terorisme.

SMA Negeri 1 Slawi

"Ini harus menjadi konsen kita bersama. Untuk menangani masalah ini, KPAI dan BNPT saling menjalin komunikasi guna merumuskan mekanisme dan model pencegahan dan penanggulangan anak-anak yang terpapar terorisme dengan pendekatan re-edukasi," jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kasus IAH (terdakwa terorisme anak di Medan) yang sekarang sedang proses peradilan, harus dijadikan momentum untuk penerapan pendekatan keadilan restoratif sebagaimana diatur UU Sistem Peradilan Pidana Anak.

Untuk itu, tambahnya, Jaksa dan Hakim harus berpedoman dan mengedepankan prinsip-prinsip restoratif justice seperti tertuang dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dalam pertimbangan dan putusannya.

"Apalagi, anak sudah mengaku salah, menyesali perbuatannya, meminta maaf, dan meminta untuk dibina. Ini adalah momentum besar untuk menyelamatkan anak dari doktrinasi yang lebih mendalam. Jaksa dan hakim punya kewajiban untuk pemulihan," kata Niam.

Dari hasil assesment yang dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas), penjelasan yang diberikan oleh Kalapas, dan pendalaman yang dilakukan KPAI terhadap anak, menunjukkan bahwa anak masih polos, doktrin terorisme belum terlalu masuk dan peluang untuk pemulihan sangat besar.

KPAI berharap, vonis yang dijatuhkan hakim kepada IAH dalam kerangka pemulihan, misalnya penempatan di lembaga pembinaan khusus untuk reedukasi, bukan vonis yang membunuh masa depan anak, apalagi yang menyuburkan benih radikalisme yang sempat tersemai. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, AlaSantri, Internasional SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 05 November 2017

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Resolusi Jihad NU melawan penjajah yang dikeluarkan para kiai sudah 68 tahun berlalu. Dalam konteks kekinian, jihad umat Islam, khususnya warga NU, tidak perlu menggunakan senjata atau turun ke medan perang, tapi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu mengemuka pada Lokakarya Nderes Seni Budaya Jombangan yang digelar Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia NU Jombang di kantor PCNU, Jombang, Jawa Timur pada Selasa (22/10) malam.

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Sholahuddin Wahid yang didaulat jadi pembicara, mengungkap masalah jihad yang harus dilakukan NU pada situasi saat ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Berangkat dari cerita perjuangan para kiai pendiri NU, kiai yang akrab disapa Gus Sholah itu menyatakan, bahwa untuk menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam berbangsa dan bernegara, Indonesia tidak harus menjadi negara Islam. Pertimbangannya, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlatar belakang kemajemukan.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia menuturkan, pada kurun waktu tahun 1956 - 1957, para tokoh NU saat itu terus mendorong agar Indonesia menjadi negara Islam. Namun, para ulama NU dengan mempertimbangkan kemajemukan yang ada pada bangsa Indonesia, akhirnya mengambil keyakinan bahwa untuk memasukkan nilai-nilai ajaran agama, bukan menjadi negara Islam.

"Para tokoh NU waktu itu, utamanya Rais Aam Bisri Syansuri mengambil kesimpulan bahwa tanpa negara Islam bisa memasukkan ajaran Islam. Ini artinya, pertimbangan keutuhan negara yang lebih diutamakan," ungkap Gus Sholah.

Berangkat dari situasi tersebut, PBNU kala itu menugaskan Ahmad Siddq untuk menyusun dokumen tentang agama dan pancasila. "Hasilnya, Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama.”

Pada konteks kekinian, jihad apa yang harus dilakukan oleh NU? Para ulama NU dulu menetapkan jihad NU adalah mencari titik temu antara agama dan Pancasila. “Saya pikir itu jihad yang harus terus dilakukan," ujar Rektor UNHASY Tebuireng Jombang ini.

Keyakinan NU untuk mengakui asas Pancasila sebagai dasar Negara memang memiliki kerugian dan keuntungannya. Namun, lanjut cucu Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari ini, keutuhan NKRI yang tetap terjaga hingga kini merupakan keuntungan yang patut disyukuri bersama.

"Ada kerugiannya, di antaranya partai-partai Islam tidak laku karena asasnya tidak jauh beda dengan partai nasionalis yang ada di Indonesia. Tapi keuntungannya, Indonesia tetap Indonesia yang tetap satu sampai sekarang. Tidak kayak Mesir yang sekarang negaranya kacau balau karena dominasi kepentingan kelompok agama," kata adik Gus Dur ini.

Ketua PC Lesbumi NU Jombang, Suudi Yatmo mengatakan, memaknai resolusi jihad, pihaknya mengambil pilihan untuk merawat dan melestarikan seni dan budaya tradisional. Hal itu berangkat dari kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia sejak awal berdirinya. "Kita merangkul seluruh elemen seni dan budaya, harapannya apa, supaya bangsa Indonesia bisa tetap satu di tengah keberagaman," ujarnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Pahlawan SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 31 Oktober 2017

Madinah dan Indonesia

Dari Nu Online: nu.or.id

Madinah dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Madinah dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Madinah dan Indonesia

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Meme Islam, News SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 19 Oktober 2017

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjalin kerja sama dengan PT Wijaya Karya (Wika) Persero di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (6/1). Tahun 2017 ini adalah tahun untuk memperbaiki segala bidang dan menggenjot pemerataan pembangunan. Segala kesenjangan serta rasio gini harus dipangkas, agar disparitas antara yang kaya dengan yang miskin tidak semakin menganga.

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan

Sebab, tahun 2016 tercatat Indeks Rasio Gini Indonesia berada di angka 0,40. Angka tersebut memosisikan Indonesia pada peringkat keempat terbawah. ketidakmerataan ekonomi Indonesia mencapai angka 49,3 persen. Artinya, setengah aset dikuasai oleh segelintir orang saja, dan menunjukkan ekonomi belum merata.

Di sisi lain, kualitas kesehatan masyarakat belum juga dikatakan baik kualitas kesehatan masyarakat miskin semakin memburuk. Hal ini membutuhkan perhatian serius dari pelbagai kalangan.

Mendapati hal itu, PBNU dengan PT Wijaya Karya menjalin komitmen dan kerja sama dalam 2 hal, sebagai berikut:

SMA Negeri 1 Slawi

Pertama, meningkatkan fasilitas dan layanan kesehatan dan masyarakat khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pelbagai upaya akan dilakukan dalam meningkatkan fasilitas kesehatan sebagai bentuk pelayan kepada masyarakat.

Kedua, meningkatkan kapasitas Sumber Daya Alam (SDA) di sektor kontruksi. Hal tersebut agar kualitas SDM yang bergelut di bidang konstruksi dan pembangunan infrastruktur meningkat dan bisa bersaing dengan tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa selama ini NU belum pernah dilibatkan soal pembangunan fisik. Oleh karena itu kerja sama ini sangat tepat.

“Pembangunan kita syukuri, tapi pemerataan juga jangan sampai diabaikan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Wijaya Karya Bintang Perbowo berharap agar kedepan kerja sama yang dijalin lebih bisa ditingkatkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Hadir pada penandatanganan kerja sama tersebut ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Sekretaris Jendera Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum H Bing Suhendara, Ketua LK PBNU Hisyam Said Budairi dan segenap pimpinan PT Wijaya Karya. (Husni Sahal/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Hikmah SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 12 Oktober 2017

PCNU Brebes Salurkan Bantuan Banjir Losari

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi. Bencana banjir yang melanda kecamatan Losari kabupaten Brebes akibat jebolnya tanggul kali Cisanggarung, Rabu (19/2) lalu menarik keprihatinan sejumlah pihak termasuk jajaran PCNU Brebes. Bentuk kepedulian itu diwujudkan dengan memberikan bantuan bagi korban banjir.

“Janganlah melihat isi bantuan, tetapi rasakanlah nuansa kepedulian dan solidaritas antarnahdliyin dan warga Losari pada umumnya,” kata Ketua PCNU Brebes H Athoillah Syatori saat mengirimkan bantuan korban banjir peduli Losari di desa Kedungneng, Losari, Jumat (21/2) sore.

PCNU Brebes Salurkan Bantuan Banjir Losari (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Brebes Salurkan Bantuan Banjir Losari (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Brebes Salurkan Bantuan Banjir Losari

Bagi warga NU yang berekonomi menengah ke atas, bantuan berupa mie instan barangkali tidak berarti. Tetapi bagi Nahdliyin yang keadaan ekonominya masih menengah ke bawah akan sangat berarti, sambung H Athoillah.

SMA Negeri 1 Slawi

Bantuan diserahkan langsung Ketua PCNU Brebes H Athoillah kepada Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Losari H Mufidz yang didampingi Rais Syuriyah MWCNU Losari KH Mansyur. Penyerahan bantuan ini disaksikan sejumlah pengurus cabang dan wakil cabang.

Bantuan ini berisi sebanyak 88 dus mie instan sebagai lambang peringatan Hari Lahirnya ke-88 NU 2014. “Diharapkan, bantuan ini bisa bermanfaat dan menambah berkah bagi Nahdliyin dan warga Losari pada umunya,” pungkasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua MWCNU Losari H Mufidz mengucapkan terima kasih atas kepedulian pengurus cabang kepada warganya yang tengah dilanda musibah. Dia berjanji akan meneruskan bantuan tersebut kepada para warga yang membutuhkan. “Bantuan NU, diyakini akan membawa berkah,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, kecamatan Losari Brebes dilanda banjir akibat meluapnya sungai Cisanggarung dan jebolnya tanggul kali sepanjang 20 meter pada Rabu (19/2). Banjir melanda 11 desa dari 23 desa yang ada di kecamatan Losari. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 07 Oktober 2017

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar

Oleh Rijal Mumazziq Z

Ketika Masjid di Tolikara, Papua, dibakar, pada Idul Fitri 2015, sebagian umat Islam marah. Sebagian kecil meneriakkan jihad. Suaranya lantang, intimidatif. Saya menyangka, saudara-saudara kita ini berangkat beneran ke Tolikara. Tapi, ya seperti biasanya, hanya "akan berjihad" sebagaimana "akan" dan "akan" yang sudah sejak dulu disuarakan saat demo.

Lalu Banser yang saat itu dihujat karena enggak bersuara, dan disindir karena aktivitasnya "menjaga gereja" diam-diam berangkat dengan 23 personel menjelang Idul Adha, 2015 silam. Sebelum berangkat, mereka mengikuti pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Simtudduror di rumah Nusron Wahid, Ketum GP Ansor saat itu.

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar

Setelah acara usai, rombongan ini berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar bin Abdillah Luar Batang. Tanpa disengaja, di lokasi ini mereka bertemu Habib Lutfi bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah An-Nahdliyyah. Mereka pun minta restu kepada ulama nasionalis ini.

Utusan PBNU ini tiba di Bandara Sentani, lalu berangkat ke lokasi dengan didampingi Banser setempat. Lalu tim menuju Bandara Wamena yang dilanjutkan perjalanan darat ke Tolikara.

SMA Negeri 1 Slawi

Di lokasi, sebagaimana laporan AULA November 2015, mereka disambut Muspida setempat dan imam Masjid Tolikara, Kiai Ali Mashar. Persiapan shalat Idul Adha segera dilakukan di masjid Koramil. Para pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang ditengarai beberapa minggu sebelumnya terlibat pembakaran masjid, mereka malah mendekat dan ikut membantu Banser menjaga keberlangsungan Idul Adha.

Singkat kata, dengan pendekatan yang baik, metode penyelesaian masalah tanpa menimbulkan masalah, kasus Tolikara tidak membesar menjadi kerusuhan suku dan agama. Jika ini terjadi, dampaknya mengerikan: pialang senjata yang menawarkan solusi praktis, calo pemekaran wilayah, permainan isu Papua Merdeka melalui OPM, dan internasionalisasi Papua. Kalau Papua lepas, bukan tidak mungkin jika provinsi lain dikipas-kipasi untuk melepaskan diri dari NKRI.

Kini, soal Rohingya, PBNU memberangkatkan delegasi ke Bangladesh. Keberangkatan Tim Delegasi Nahdlatul Ulama untuk Rohingya dilaksanakan atas bantuan seluruh komponen NU melalui NU Peduli Rohingya. Mereka berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Sabtu kemarin. Di negara itu mereka bergabung dengan AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia Untuk Myanmar). 

SMA Negeri 1 Slawi

Delegasi NU yang dikirim ke Bangladesh dibagi menjadi tiga tim. Pertama, tim advance yang bertugas mengecek keadaan yang ada di lapangan. Kedua, tim medis yang bertugas untuk memberikan pengobatan kepada pengungsi. Dan terakhir, tim relief yang bertindak mempersiapkan dan menyalurkan bantuan

(Baca juga: Tim Delegasi NU untuk Rohingya Tiba di Bangladesh)

Permasalahan Rohingya memang pelik. Terkait dengan pemicunya: agama, sentimen etnis, hingga konspirasi penguasaan Sumberdaya Alam, peristiwa terusirnya etnis Rohingya memang menjadi keprihatinan kita. Dan, ketika ikut andil membantu mereka, sebagai umat Islam maupun bangsa Indonesia, tentu harus dilakukan dengan cara yang tepat.

Kalaupun mau berjihad, oke, silakan berangkat. Tapi kemampuan personel, kemampuan survival, penguasan medan, taktik, pola komunikasi, serta hirarki kemiliteran serta komando lapangan, juga harus dikuasai dengan baik. Jika tidak, itu namanya setor nyawa dengan konyol dan menyediakan diri sebagai sasaran tembak gratisan bagi serdadu Myanmar. Kalau hanya koar-koar jihad, semua juga bisa. Tapi menyelesaikan masalah dengan baik, tidak semua bisa.

Di sinilah perlu pikiran jangka panjang, strategi yang baik serta pemanfaatan jaringan yang dimiliki. Kalau anda benci Jokowi, itu urusan anda. Tapi langkah menteri luar negeri kabinet Jokowi, Retno Marsudi, yang mewakili RI pantas diacungi jempol. Dia dengan lincah melakukan lobi tingkat tinggi: bertemu Aung San Suukyi dan menyodorkan tawaran formula 4+1 untuk menyelesaikan masalah Rohingya, lalu menjumpai Syaikh Hasina, PM Bangladesh, sekaligus juga mengomunikasikan jalur laut-darat-udara bagi akses bantuan Indonesia via Bangladesh. Tak hanya itu, mantan Sekjend PBB, Kofi Annan, juga mempercayakan komunikasi internasionalnya melalui Retno Marsudi. Termasuk pula Antonio Guterez, sekjend PBB saat ini.

Langkah Pemerintah RI sampai hari ini pantas diacungi jempol. Sebab, selain bantuan diplomasi, RI juga mengirimkan bantuan bagi pengungsi melalui darat dan udara. Setidaknya, ikhtiar pemerintah harus diacungi jempol, bukan malah dinyinyiri sebagai "pencitraan".

Untuk saat ini, mencari seorang jagoan itu mudah, tapi mencari juru damai, bukan perkara enteng, sebab berjihad dengan mengobarkan peperangan (qital) itu sangat mudah, tapi berjihad mewujudkan perdamaian itu sangat sulit. 

Wallahu Alam Bisshawab

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Hikmah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 28 September 2017

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

Bagaimana Mama Sempur merespon gerakan Wahhabisme dari Nejd? Sebagai ajengan yang hidup di Jawa Barat, beliau menulis buku dalam bahasa Sunda sebagai panduan untuk menghadapi gerakan politik yang menggunakan baju agama tersebut. Mama Sempur ataua Ajengan Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, demikian nama lengkapnya, menulis buku “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah”.





Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Sampul dan halaman pertama kitab Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah. Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis:

?2? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi





(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/ Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M.

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya.

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Daerah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 21 September 2017

Tutup Pentas PAI 2017, Ini Pesan Wagub Aceh kepada Generasi Muda

Banda Aceh, SMA Negeri 1 Slawi. Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas  PAI) tingkat Nasional VIII tahun 2017 di Aceh usai. Event dua tahunan yang diselenggarakan Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama ini ditutup Wakil Gubernur Provinsi Aceh, Nova Iriansyah.

"Harus dipahami para peserta, Pentas PAI bukan hanya untuk menorehkan prestasi tetapi juga menekankan agar pendidikan berkarakter Islam menjadi semangat generasi muda, para calon pemimpin bangsa dimasa depan," kata Nova dalam sambutan penutupannya, di Taman Sulthana Safiatudin Aceh, Jumat (13/10).

Tutup Pentas PAI 2017, Ini Pesan Wagub Aceh kepada Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Pentas PAI 2017, Ini Pesan Wagub Aceh kepada Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Pentas PAI 2017, Ini Pesan Wagub Aceh kepada Generasi Muda

“Nuansa Islam rahmatan lil alamin sangat terasa malm ini. Apapun hasil yang diperoleh, kegiatan ini harus diperkuat lagi agar wawasan tentang keislaman dapat terus ditingkatkan,” sambungnya diikuti tepuk tangan peserta. 

Direktur Pendidikan Agama Islam, Imam Safei melaporkan, sejak dibuka  Menteri Agama RI  pada Senin (09/10) lalu, ajang yang diikuti 1.200 peserta  dari seluruh provinsi di Indonesia ini berjalan lancar. Pentas PAI merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang selama ini dilaksanakan di Asrama Haji Bekasi Jawa Barat. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Kegiatan di Aceh ini adalah kali pertama dilakukan di daerah lain, dan kami sangat berterima kasih kepada  pemerintah daerah untuk dukungan yang sangat besar terhadap kegiatan ini,” ujar Imam.

Imam berharap, Pentas PAI menjadi wahana kompetisi dan  aktualisasi yang dapat menumbuhkembangkan minat dan kemampuan peserta didik mulai tingkat SD hingga SMA/SMK di bidang keagamaan. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Selanjutnya dapat meningkatkan keimanan dan katakwaan,” lanjutnya. 

“Kami ucapkan selamat kepada para pemenang lomba yang meliputi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), lomba Pidato PAI, Musabaqah Hifzhul Quran (MHQ), lomba Cerdas Cermat PAI, lomba Kaligrafi Islam, Nasyid, Debat, dan lomba Kreasi Busana. Semoga semakin banyak prestasi membanggakan yang dapat anak-anak raih di masa depan,” tandasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 27 Juni 2017

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin

Banda Aceh, SMA Negeri 1 Slawi 

Sebelum keberangkatan untuk menjelajah Islam di Aceh, tim Ekspedisi Islam Nusantara melakukan doa bersama dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu dini hari (30/4). 

Kemudian secara khusus, ia mewakili rombongan berjumlah 25 orang tersebut, meminta doa kepada warga NU agar ekspedisi ini lancar dan selamat di perjalanan. Serta membuahkan hasil yang bermanfaat tidak hanya untuk warga NU tapi untuk Islam Indonesia. 

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin

Menurut dia, selama perjalanan di pulau Jawa, tim Ekspedisi Islam Nusantara selalu meminta doa kepada kiai, santri-santri, pengurus NU untuk kesuksesan ekspedisi ini karena doa merupakan senjata orang mukmin.

Saat ini Senin (2/5), Ekspedisi Islam Nusantara telah melakukan penjelajahan selama 32 hari. Dua hari di antaranya berada di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tim ini dilepas dan didoakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon Jawa Barat pada (31/3).

“Ini baru separuh perjalanan,” kata Imam Pituduh, “sehingga penjelajahan ini masih sangat panjang. Jadi, mohon doanya kepada segenap nahdliyin akan kesuksesan ekspedisi ini,” tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ekspedisi Islam Nusantara setelah selesai di pulau Jawa, akan menjelajah 5 provinsi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. (Abdullah Alawi)  

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, Hikmah, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 28 Mei 2017

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

Jakarata, SMA Negeri 1 Slawi. Lebih dari seribu calon pemudik memadati Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta ? Pusat, Senin (6/8). Mereka berbondong mengambil tiket pulang dengan arah tujuan bervariasi di sepanjang Pulau Jawa.

Pengambilan tiket ini merupakan tindak lanjut peserta mudik setelah pengisian formulir pendaftaran yang dibuka sejak Jumat (27/7). Dengan membawa bukti nomer tiket yang telah diterima, mereka akan mendapatkan kursi bus yang akan diberangkatkan pada 12 Agustus 2012 nanti.

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

“Mengingat banyaknya peserta, panitia punya kebijakan, penukaran tiket dilakukansecara bertahap. Kita utamakan dari trayek paling jauh terlebih dahulu,” ujar Mujahidin, Kordinator Mudik Bareng NU 1433 H.

SMA Negeri 1 Slawi

Program yang digelar PBNU melalu Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) ini menyediakan 26 bus mudik. Dengan jumlah tersebut, kira-kira 1.400 pemudik akan mendapat kesempatan mudik bareng NU secara gratis.

SMA Negeri 1 Slawi

PP LTMNU telah menyiapkan 99 masjid sebagai posko mudik yang membentang dari Merak hingga Banyuwangi. Ini berarti para pemudik berkesempatan mendapatkan sarana istirahat lebih nyaman. Apalagi, selain melepas lelah, mereka yang mayoritas warga Nahdliyin ini dapat melaksanakan sembahyang dengan lebih tenang dan khusuk.

“Motto kami adalah mudik nyaman, aman, sampai tujuan,” tandas Mujahidin.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, IMNU, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 02 April 2017

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Para penyedia jasa bekam tanduk sapi memenuhi setiap sudut di arena Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Kota Jombang. Bekam tradisional yang digeluti oleh orang-orang asal Madura ini memanen usahanya, sebab cukup banyak pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka.

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Mansyur, pria asli Madura berusia 35 tahun telah puluhan tahun menyediakan jasa bekam tanduk sapi dari arena ke arena. Keahlian membekam dengan memanfaatkan tanduk sapi ini ia warisi secara turun-temurun dari keluarganya.

“Saya sudah 15 tahun menggeluti dan menyediakan jasa bekam tradisional ini. Awalnya kaku, tapi setelah belajar jadi terbiasa,” ujar Mansyur saat ditemui SMA Negeri 1 Slawi di sela kesibukannya membekam, Ahad (2/8) malam di Alun-alun Jombang.

SMA Negeri 1 Slawi

Ditanya soal perbedaan manfaat dibanding bekam biasa, Mansyur menjelaskan, bahwa bekam tanduk sapi ini merupakan terapi bekam tradisional yang reaksi khasiatnya dapat langsung dinikmati oleh pengguna.

Penuturan Mansyur diamini oleh pengguna jasa bekam bernama Sugiyanto. Pria berumur 33 tahun asal Riau ini menerangkan, bahwa setelah badannya dibekam oleh bekam tanduk sapi, manfaatnya bisa langsung dirasakan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Badan saya serasa langsung enteng, enak sekali,” ucapnya.

Bekam jenis ini, selain memanfaatkan tanduk sapi, juga menggunakan minyak tradisional yang dibuat dari akar-akaran. Sedangkan agar tanduk yang digunakan dapat menempel di kulit, mereka menggunakan api dengan memanfaatkan kapas yang dililitkan ke sebuah kawat kecil. Setelah api menyala, api dimasukkan ke lubang tanduk selama dua detik saja, kemudian dengan cepat langsung ditempelkan di kulit.?

Sedangkan untuk dapat memperoleh khasiat dari bekam dari tanduk sapi ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 50.000 saja. Selama perhelatan Muktamar NU, Mansyur setiap hari bisa melayani hingga 10 orang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 07 Maret 2017

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini

Bojonegoro,SMA Negeri 1 Slawi. Demi mengenalkan sosok pejuang/pahlawan nasional, serta menyambut hari emansipasi wanita Indonesia Madrasah Ibtidaiyah NU (MINU) Unggulan Walisongo Sumuragung Sumberrejo Bojonegoro menggelar lomba mewarnai gambar RA Kartini dan Fashion Show busana Nusantara Sabtu (20/04/2013).

Selain itu semua anak didik dan dewan guru diharuskan mengenakan busana Nusantara Indonesia (baju adat Nusantara).

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Walisongo Peringati Hari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini

Acara yang dimuali pada pukul 07.00 WIB diawali dengan upacara bendera. Upacara kali ini sengaja dilaksanakan lebih siang dari biasanya yaitu pukul 06.45 WIB. Mengingat banyaknya “kendala” yang dialami anak didik yaitu banyaknya anak didik yang antri merias diri di sanggar/tata rias yang sama dengan busana adat Nusantara. 

SMA Negeri 1 Slawi

Bagi yang laki-laki dan busana kebaya ala kartini bagi anak didik perempuan. Selain itu terkendala juga dengan jarak tempuh anak didik menuju MINU, maklum banyak anak didik MINU yang berasal dari luar kecamatan.

Oleh sebab itulah pagi ini banyak anak didik yang datang dengan tergopoh-gopoh karena kuatir ketinggalan pelaksanaan upacara peringatan hari RA Kartini kali ini. 

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan mengenakan kebaya Nusantara dan kebaya ala Kartini anak didik MINU melaksanakan upacara dengan antusias walaupun panas mulai menyengat merangkul seluruh tubuh mereka. Selain itu nampak pula papan nama yang dibawa anak didik yang bertulisan aneka macam pulau Indonesia. 

Menurut Ketua pelaksana hal ini demi mengenalkan nama-nama pulau kebanggaan negara Indonesia kepada anak didik MINU sejak dini.

”Kami berharap dengan mengenakan baju/busana tradisional ini anak didik kami lebih paham dan akrab dengan pulau-pulau negara ini. Karena inilah identititas bangsa yang perlu dilestarikan,” ujar Ahmad Taufik yang kali ini mengenakan busana beskap sebagai busana nusantaranya.

Acara dilanjutkan dengan peragaan busana bagi perwakilan anak didik per kelas. Acara ini sendiri digelas lebih unik dari peragaan-peragaan umumnya. Peragaan busana dilaksanakan di halaman MINU, tidak berada di gedung ataupun di dalam ruangan. 

Setiap siswa yang mewakili maju ke “arena” fashion show dengan geya centil dan menggemaskan. Satu persatu mereka menampilkan bakat “artis”nya dihadapan juri yang kali ini didatangkan dari mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro.

Acara peragaan busana sendiri mendadak heboh tatkala seluruh peserta dan ratusan wali siswa yang sedari tadi antusias menyaksikan lenggak-lenggok anak didik MINU dikejutkan dengan penampilan seluruh dewan guru mengisi arena dengan gaya yang aduhai dan lebih “rancak” dari penampilan fashion show anak didik mereka. 

“Ini merupakan wujud cinta kami kepada anak didik dan almamamter kami,” kata Winarni, yang juga menjadi wali kelas Sunan Giri.

Tepat pukul 09.00 setelah pelaksanaan peragaan busana. Acara dilanjutkan dengan lomba mewarnai gambar RA Kartini. Lomba ini ditempatkan di serambi Masjid Madrasah Ibtidaiyah milik NU ini. 

Banyak anak didik yang awalnya bingung dengan gambar yang telah dibagikan oleh dewan guru tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dan paparan secara gamblang akhirnya mereka antusias dan secara serentak anak didik MINU mulai mengkombinasikan warna yang sesuai untuk dilukiskan pada gambar RA Kartini yang telah dibagikan. 

Banyak anak didik yang bekerja sendiri dengan alat yang dibawa dari rumah. Mulai crayon atau warna dan meja lipat. Menurut panitia lomba mewarna kali ini bertujuan mengenalkan sosok RA Kartini kepada anak didik MINU agar mereka lebih peduli akan nama besar para pejuang bangsa Indonesia ini, khususnya pejuang wanita asal kota Jepara ini. 

Mendung mengiringi penutupan rangkain acara kali ini. Namun tidak mengurangi antusias dewan guru dan walisiswa serta ratusan anak didik minu. Pada penutupan yang tepat dilaksanakan pada pukul 11.00 WIB diumumkan semua kategori pemenang. 

Penyerahan hadiah disampaikan langsung oleh kepala madrasah Mariyanto”Ini merupakan wujud nyata kami dalam menanamkan budaya menghormati leluhur dan mencintai negara Republik Indonesia ini,” tutup kepala madrasah yang juga pengurus harian Palang Merah Iindonesia (PMI) ranting kecamatan sumberrejo tersebut.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Hikmah, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock