Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Oleh ? Imam Fadlli

“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Itulah sepenggal pidato KH Tholhah Mansur dalam Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Dari kalimat pendek tersebut, sangatlah jelas bahwa Pendiri IPNU mempunyai cita-cita sejak awal bahwa kelahiran IPNU pada tanggal 24 Februari 1954 atau bertepatan dengan tangal 20 Jumadil Akhir 1373 H adalah untuk membentuk dan mencetak pelajar dan santri Nahdlatul Ulama yang berilmu yang tidak berlagak elitis dan eksklusif. Berilmu dalam konteks pidato di atas, mempunyai makna yang kompleks, definisi berilmu disini penulis artikan sebagai kapasitas seorang kader yang harus mempunyai ilmu pengetahuan sekaligus kecerdasan.?

Apa maksud dari pengetahuan dan kecerdasan yang penulis maksud adalah, seorang kader IPNU, adalah agen yang harus mempunyai modalitas wawasan (baca: pengetahuan) yang implementatif, ready to use. Sehingga, kecerdasan disini merupakan upaya untuk mempraktekkan segala wawasan yang dimilikianya. Karena, melalui dua modalitas inilah kader-kader IPNU akan menjadi aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.

Cita-cita ini, tentu dilandasi dengan asas ideologis yang bersumber dari teks al-Quran, sebagaimana yang teruraikan melalui pesan surah al-Mujadalah: 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) beberapa derajat. Landasan normatif ayat suci inilah yang menjadi pedoman pengembangan pengetahuan sekaligus kecerdasan agar selalu “kehausan” dalam meraup air-air ilmu pengetahun bagi para kader IPNU.

Namun, orientasi keilmuan ini tentu saja bukan dalam rangka mencapai ketinggian derajat semata, karena Kiai Tolchah dalam pidatonya tersebut melakukan taqyid al-makna,? yang menegaskan keilmuan tersebut harus dilandasi sikap yang dekat dengan masyarakat. artinya, kader IPNU harus mempunyai karakter, yaitu sikap yang siap sedia kapanpun masyarakat memanggil. Sehingga, sangat absurd jika ada seorang kader IPNU yang tidak dekat dengan masyarakat, merasa terasing dari denyut kehidupan warganya. Dari fenomena ini, maka harus ada yang dibenahi dari internal individual atau pola kaderisasi yang kurang tepat. Karena, sikap elitis inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Kiai Tolchah selaku founding fathers IPNU.

SMA Negeri 1 Slawi

Cita dan asa Kiai Tolchah diatas, selanjutnya disimbolisasikan melalui logo IPNU yang sangat sarat makna. Gambar bulu angsa misalnya, dalam logo tersebut dimaknai sebagai spirit keilmuan yang harus tetap dilakukan oleh para kader, kemudian karakter yang istiqomah, berkomitmen dan selalu tuntas dalam setiap kinerja disimbolkan dengan logo IPNU yang berbentuk bulat.?

SMA Negeri 1 Slawi

Kemudian, bintang yang merupakan benda luar angkasa meniscayakan sebuah ketinggian harapan yang harus selalau tergenggam agar kader-kader tidak hanya hidup tanpa adanya cita-cita yang tinggi. Dari sekelumit kode-kode inilah, sebenarnya karakter keilmuan IPNU termanifestasikan dengan baik. Hal ituharus dipahami dan disadari oleh semua elemen pengurus, anggota, dan seluruh kader.

Sebuah kredo yang terkenal di IPNU: belajar, berjuang dan bertaqwa juga menjadi semacam world view yang mendarah daging, untuk terus melakukan kerja-kerja intelektual, sosial dan spiritual secara sekaligus. Selaras dengan makna nahdlah dalam nomenklatur Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan agama dan peradaban secara bersama-sama (nahdlah ad-diniyah wal madaniyah ma’an). Melihat kesinambungan gagasan konseptual serta falsafahnya, maka sangat masuk akal jika pembangunan dan keberlangsungan NahdlatulUlama sebagai garda pembentukan peradaban masyarakat Indonesia, berada dipundak kader-kader IPNU.

Untuk itulah, pembangunan kader-kader IPNU sama halnya dengan membangun NU di masa depan, dan memperhatikan NU sama dengan turut andil dalam membangun generasi bangsa Indonesia yang berkualitas di era yang akan datang. Selamat Harlah IPNU ke-63. Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2015-2018.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Berita, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 25 Februari 2018

Peringati Hari Pahlawan, Ansor Sumberasih Ziarah Wali

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi - Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tahun 2017, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo melakukan ziarah wali, Sabtu dan Ahad (11-12/11).

Ziarah ke malam wali ini diikuti oleh 57 orang yang melibatkan para pengurus GP Ansor dan Banser Kecamatan Sumberasih, serta perwakilan tiap-tiap ranting GP Ansor se-Kecamatan Sumberasih.

Peringati Hari Pahlawan, Ansor Sumberasih Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Pahlawan, Ansor Sumberasih Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Pahlawan, Ansor Sumberasih Ziarah Wali

Dalam ziarah GP Ansor Sumberasih ini, ada empat tempat ziarah wali yang dilakukan mulai dari KH Abdul Hamid Pasuruan, dilanjutkan ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang. Ziarah kemudian dilanjutkan ke pulau garam Madura, tepatnya ke makam KH Kholil Bangkalan. Terakhir di Sunan Ampel Surabaya. Jika memungkinkan, para pengurus juga akan silaturahim ke kantor PWNU Jawa Timur atau GP Ansor Jawa Timur.

Ketua GP Ansor Sumberasih H Abdul Mujib mengatakan, kegiatan ziarah makam wali ini bertujuan untuk mengenang kembali peran para kiai yang tidak tercatat dalam sejarah kemerdekaan RI. Sekaligus mengenang kejadian 10 November 1945, di mana kaum sarungan inilah yang menjadi para Komandan salah satu pasukan berani mati yang terjadi di Surabaya.

SMA Negeri 1 Slawi

“Harapan kami dengan adanya agenda ini bisa memompa semangat sahabat-sahabat Ansor dan Banser Kecamatan Sumberasih dalam berkhidmah di Ansor. Meski akhir-akhir ini ada isu yang kurang enak terkait berita hoaks Banser. Namun bagi kami, NKRI harga mati,” harapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Rombongan Abdul Jalal mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu media positif untuk memberikan gambaran sekaligus mengingatkan kembali perjuangan para ulama NU dalam ambil bagian merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah.

“Kami menginginkan agar para kader GP Ansor ini tidak melupakan perjuangan para ulama NU yang ikhlas berjuang melawan penjajah. Semoga para kader muda ini mampu meneladani apa yang sudah diberikan para ulama NU buat bangsa dan negara Indonesia,” ungkapnya.

Dengan adanya ziarah wali ini Jalal mengharapkan agar nantinya bisa menambah semangat perjuangan dalam berorganisasi sehingga bisa keberadaan GP Ansor benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. “Karena berjuang itu tidak hanya melawan penjajah saja, tetapi juga diwujudkan dengan berjuang melawan kebodohan dan kemungkaran,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 20 Februari 2018

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur

Sidoarjo, SMA Negeri 1 Slawi. Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun, memimpin prosesi sumpah untuk 2.300 warga korban lumpur Lapindo Brantas Inc. yang tidak memiliki bukti kepemilikan lahan dan bangunan rumah mereka yang terendam lumpur di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Rabu.

Pengambilan sumpah di pendopo kabupaten itu dilakukan oleh petugas Kanwil Depag Jatim disaksikan Bupati Sidoarjo Drs. Win Hendrarso, Ketua Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sunarso, serta perwakilan PT. Minarak Lapindo Jaya (PT MLJ) Bambang P. Widodo.

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur

Ribuan warga tersebut disumpah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah ribuan warga disumpah, menurut rencana, warga lain yang juga tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan luasan lahan dan bangunan rumah mereka dalam bentuk IMB, juga akan mendapatkan giliran untuk disumpah.

Rencananya, Tim Pelaksana Verifikasi akan menyumpah warga korban lumpur sebanyak 500 orang setiap hari. "Mengingat jumlah warga yang disumpah sangat banyak, tim verifikasi akan menyesuaikan jadwal penyumpahan yang telah disiapkan," kata Ketua Pelaksanan Tim Verifikasi Yusuf Purnama, SH.

Cak Nun yang hadir didampingi istrinya, Novia Kolopaking beserta rombongan kelompok musik Kyai Kanjeng dari Yogyakarta memimpin prosesi sumpah tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebelum sumpah dimulai, Cak Nun mengajak warga yang beragama Islam untuk bersama-sama membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW, surat Yasin dan doa Nabi Yunus.

"Warga saat ini seperti Nabi Yunus yang sedang masuk dalam perut ikan Paus, tapi warga korban lumpur saat ini masuk ke dalam perut lumpur," kata Cak Nun.

Ia menambahkan, prosesi sumpah yang dilakukan oleh warga korban lumpur ini dilakukan untuk menggugah hati nurani warga dengan menyatakan luasan lahan dan bangunan milik mereka dengan jujur dan benar.

Sebab ia menilai, perdebatan antara warga korban lumpur dengan pihak Minarak Lapindo Jaya selaku pihak pembayar atas ganti rugi dalam proses penentuan luasan lahan dan bangunan warga tidak menemui titik temu.

"Ini semua untuk kelancaran, dengan pertimbangan untuk mencari solusi ketika silang pendapat tentang perbedaan penetapan luasan bangunan yang tidak kunjung usai. Sebab, aturan normatif dan administrasi dinilai tidak bisa menjangkau. Untuk itu, sumpah adalah upaya terakhir untuk mencari kebenaran," lanjut Cak Nun.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menerangkan, jika sumpah itu sudah dilakukan oleh semua warga, kejujuran menjadi dalih terakhir. Jaminannya, menurut Cak Nun, hanya terletak pada Allah SWT.

"Seperti ayat-ayat suci yang kami kumandangkan tadi, bahwa itu semua berlaku untuk semua warga yang menjadi korban lumpur," terangnya.

Selain warga korban lumpur melakukan sumpah di pendopo kabupaten, PT. Minarak Lapindo Jaya yang diwakili Bambang P. Widodo juga menyatakan kesanggupannya membayar ganti rugi sesuai apa yang diajukan warga korban lumpur.

"Apa yang disampaikan Minarak itu juga merupakan sumpah, dan kewajibannya adalah dari batin dan substansinya," tambah Cak Nun.

Ia menambahkan, dalam proses mendampingi perjuangan warga korban lumpur, dirinya akan tetap mendampingi warga korban lumpur untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Sebab, mundur atau tidak dalam mendampingi warga korban lumpiur, itu semua diserahkan kepada Allah SWT.

"Saya ini tidak tahu posisinya ada di mana, tapi yang jelas saya berada di semua pihak, karena saya tidak berpihak pada siapa-siapa. Tapi, saya bersama teman-teman akan terus berjuang sampai terwujud 100 persen pembayarannya," terangnya.

Pengambilan sumpah ini merupakan terobosan di luar mekanisme hukum untuk menjembatani kebuntuan perundingan antara PT. MLJ dengan warga korban lumpur.

Selama ini PT. MLJ bersikeras berpedoman pada Perpres 14 / 2007 tentang BPLS, dimana acuan luasan bangunan yang diganti rugi adalah IMB. Jika tidak memiliki IMB maka acuan alternatifnya adalah survey dari ITS.

Namun, bila tidak tercover oleh survey ITS, maka luasan bangunannya mengacu pada kenyataan warga yang disahkan oleh Camat dan Kepala Desa masing-masing.

Dalam pelaksanaan di lapangan, tampaknya banyak terjadi kerumitan, misalnya untuk warga Perum TAS 1 yang rumahnya sudah direnovasi, tetap minta luasan renovasinya diganti rugi.

Padahal luasan renovasi itu tidak ada dalam IMB. Ada juga rumah yang tidak memiliki IMB dan luasan bangunan hanya berdasarkan pernyataan warga saja.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, akhirnya dilontarkanlah ide pengambilan sumpah sebagai penguat pernyataan warga, dimana warga yang akan mempertanggungjawabkan kebenaran sumpah tersebut kepada Tuhan YME. (ant/eko)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Sholawat, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 19 Februari 2018

Fatayat Terdepan Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi. Melihat berbagai kasus kekerasan terhadap anak di berbagai strata, Fatayat NU melakukan gerakan perlindungan anak Indonesia dari tindak kekerasan (gelatik). Terbukti grafik tindak kekerasan terhadap anak pada setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan. Kondisi demikian menjadi keprihatinan Fatayat NU sebagai organisasi wanita muda di Nahdlatul Ulama.

Fatayat Terdepan Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Terdepan Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Terdepan Lindungi Anak dari Tindak Kekerasan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Dra Anggia Ermarini menjelaskan, pada kurun waktu 2011-2014 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 11.623 pengaduan kasus kekerasan pada anak dengan klaster yang berbeda.

"Angka yang paling tinggi berupa kekerasan dari keluarga dan pengasuhnya sebanyak 2.219 dan kekerasan seksual mencapai 2.124 kasus," terang Anggi saat sambutan seminar dan pelatihan penanganan kekerasan terhadap anak di gedung Guru, Jalan Taman Siswa Brebes, (11/12/16).?

SMA Negeri 1 Slawi

Lewat program Gelatik, seluruh anggota Fatayat NU bisa bergerak ketika mendengar atau melihat tindakan kekerasan terhadap anak yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Diyakini, partisipasi Fatayat dan seluruh elemen untuk menanggulangi masalah kekerasan bisa menjadi solusi mengurangi kasus ini. Kesadaran untuk menjaga anak sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga harus bersinergi.

"Selama ini, masalah-masalah anak terjadi karena orang tua kurang peduli, anak yang tak mampu memahami situasi hingga kurangnya komunikasi antar keluarga," ujar Anggi.

Dia mengatakan, 90 persen tindak kekerasan dilakukan orang tuanya sendiri. Untuk itu perlu ditanamkan sikap dan sifat bahwa perlindungan, tidak hanya untuk anak biologisnya sendiri, tetapi semua anak di sekitar komunitas. “Ayo, semua menjadi penjaga dan pelindung anak,” ajaknya.

Anggi menyarankan agar selalu mendeteksi dini terhadap tindak kekerasan pada anak. Memang berat bagi seorang ibu terhadap tugas ini. Apalagi ketika anak mulai belajar dan mampu membedakan manis asam pahit. Tentu, kita harus mendidik maksimal dengan akhlak mulia. “Seorang ibu, paling berbakat membentuk anak yang berakhlak mulia,” ucapnya.

?

SMA Negeri 1 Slawi

Hal senada disampaikan Ketua PW Fatayat NU Jateng Tazkiyatul Muthmainnah. Ia mengatakan angka kekerasan terhadap anak sangat tinggi di Jawa Tengah. Fatayat wajib hukumnya untuk bergerak sama-sama peduli terhadap anak. Dia memaparkan ada empat daerah yang tindak kekerasannya tinggi sebagai zona merah yakni di Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

“Fatayat Jateng, bertekad jadi garda terdepan, dalam gerakan kampanye anti kekerasan terhadap anak,” tekadnya.

Melindungi dan menjaga anak, kata Tazkiyatul, bukan berarti memanjakan anak. Memastikan, kalau anak-anak dan lingkungan anak dalam keadaan aman.?

Seminar dan pelatihan penanganan kekerasan terhadap anak dibuka Staf Ahli Bupati bidang pemerintahan Mayang Sri Herbimo. Dalam kata sambutannya, selaku pemkab berterima kasih atas peran Fatayat terhadap perlindungan kepada anak-anak. Sebab Anak menjadi asset bangsa yang nilainya tak tertandingi. “Seorang anak tidak bisa putus dalam tali keluarga, kendati suami atau istri bisa terputus karena perceraian,” ujarnya. ?

Ketua PC Fatayat NU Brebes Mukminah menjelaskan, Kabupaten Brebes menjadi daerah percontohan untuk penangan anak dari tindak kekerasan terhadap anak. Selain Brebes program gelatik ini juga dilaksanakan di Lampung Timur.?

Seminar dan pelatihan diikuti 104 peserta yang berasal dari pengurus dan anggota Fatayat se kabupaten Brebes, pemerhati anak, forum anak dan unsure lainnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pertandingan, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 18 Februari 2018

NU, Nasionalisme dan Politik

Oleh Abdurrahman Wahid. Kenyataan politik di bawah kolonialisme Belanda menyadarkan aktivis gerakan Islam dan gerakan nasionalis sebelum masa kemerdekaan. Dari kesadaran itulah lahir berbagai gerakan Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Walaupun ‘berbaju’ gerakan kultural, tapi lingkup pembahasan di kalangan mereka bersifat politis. Tidak heranlah jika para tokoh mereka juga berwajah nasionalis.

Dalam lingkungan gerakan-gerakan Islam di luar Indonesia muncul orang-orang seperti Jamaluddin al-Afghani, yang menyuarakan pentingnya arti kemerdekaan bagi kaum muslimin sendiri. Demikian juga halnya dengan berbagai gerakan Islam di negeri kita waktu itu. Apa lagi ketika H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya mengambil menantu Soekarno di tahun dua puluhan. Soekarno yang waktu itu sudah “terbakar” melihat nasib bangsa-bangsa terjajah, mulai mencari bentuk perjuangan politik untuk kemerdekaan bangsanya.

NU, Nasionalisme dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Nasionalisme dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Nasionalisme dan Politik

Memang, dalam waktu sepuluh-dua puluh tahun baru tampak hasilnya, tetapi bagaimanapun juga kiprah para pemuda itu menunjukkan arah yang jelas: menolak penjajahan dan menuntut kemerdekaan Kongres Pemuda 1928 nyata-nyata menunjukkan hal itu. Ini sekaligus merupakan pantulan hasrat kemerdekaan dari berbagai orang muda yang berasal dari berbagai daerah. Mereka mecita-citakanapa yang dikemudian dikenal sebagai Republik Indonesia. Mereka kemudian memimpin pembentukan apa yang kemudian hari dikenal dengan nama Bangsa Indonesia.

SMA Negeri 1 Slawi

Dua raksasa di lingkungan gerakan-gerakan Islam yaitu Muhammadiyah dan NU memimpin kesadaran berbangsa melalui jaringan pendidikan yang mereka buat. Walaupun Muhamadiyah merintis pendidikan yang ‘lebih banyak’ mengacu kepada hal-hal duniawi, seperti penguasaan pengetahuan umum, dan NU mengacu kepada pengetahuan agama, namun keduanya sangat dipengaruhi oleh apa yang berkembang di lingkungan gerakan nasionalis. Nasionalisme dalam arti menolak penjajahan, berarti juga pencarian jati diri sejarah masa lampau negeri sendiri.

SMA Negeri 1 Slawi

Para pemuda mendapati bahwa sejarah masa lampau kawasan ini juga menyajikan hal-hal lain di luar ideologi nasionalisme, seperti pluralitas budaya dan rasa toleransi yang tinggi antara berbagai budaya daerah. Pada waktu bersamaan, di negeri lain muncul juga orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan Sun Yat Sen.

Sejak semula lahir juga di kalangan gerakan-gerakan Islam, mereka yang tidak memperdulikan nasionalisme. Mereka hanya mengutamakan perhatian kepada masalah-masalah keislaman belaka. Mereka melihat kepada hal-hal yang penting menyangkut kehidupan kaum muslimin belaka. Cukup lama terjadi ‘pemisahan’ antara kedua pihak. Dan kedua-duanya mengambil sikap tidak memperdulikan keadaan satu sama lain. Pembelaan Bung Karno di muka Pengadilan Negeri Bandung di tahun 1931, berjudul “Indonesia menggugat” seperti hanya di baca kalangan nasionalis saja, dan tidak oleh kalangan Islam.

Dalam keadaan seperti itu, rakyat kehilangan contoh-contoh mereka yang memberikan apresiasi terhadap perjuangan yang dilakukan. Jadilah “perjuangan Islam” seolah-olah terpisah dari gerakan nasionalisme.

Hanya hubungan kekeluargaan antara H.O.S Tjokroaminoto dan KH. M. Hasjim As’yari dari Tebu Ireng, Jombang saja, yang membuat persamaan itu hampir terlihat. KH. M. Hasjim As’yari memang menyadari bahwa secara kultural, gerakan Islam dan nasionalis berbeda satu dari yang lain, tetapi dari sudut ideologi berupa kebutuhan akan kemerdekaan, kita adalah satu bangsa. Di saat-saat menentukan seperti itu, apa yang dipikirkannya itu lalu disebarkan kepada sanak keluarga terdekat, dan kemudian kepada organisasi yang dipimpinnya: NU.

Tentu saja hal ini tidak berlangsung secara mulus. Bagaimanapun juga, sikap seperti itu masih menjadi pandangan minoritas. Tampak nyata ketika pandangan integratif yang menyatukan agama dan cita-cita kemerdekaan itu dibawa ke dalam lingkungan NU. Namun, di kalangan generasi muda NU, pemikiran seperti itu sudah mulai dapat diterima dengan baik.

Dalam tahun-tahun menjelang Perang Dunia II KH. Mahfudz Sidiq umpamanya, mengemukakan prinsip perjuangan "khaira ummah” (umat yang baik), yang diambilkan dari ayat Al-Qur’an: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan antara sesama manusia, karena kalian memerintahkan yang baik dan menolak yang tidak baik (kuntum khaira ummah ukhrijat lin n?s ta’m?r?na bil-ma`r?f wa tanhauna `anil-munkar). Pendapat ini dikemukakan, ketika ia dalam usia muda menjadi Ketua NU di tahun menjelang Perang Dunia II. Istilah itu ia gunakan untuk menunjukkan pentingnya memperkuat posisi ekonomi-finansial warga NU sendiri sebagai anggota gerakan Islam. Atau dapat dikatakan prinsip tersebut guna mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang akhir-akhir ini menjadi lebih penting lagi. Jelas dari gambaran itu, bahwa kalangan muda lebih memahami konteks kebangsaan. Cukup menarik bukan.

Sumber belum terlacak, Jakarta, 18 Maret 2007

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pondok Pesantren, Anti Hoax, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 14 Februari 2018

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kendal, SMA Negeri 1 Slawi

Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan workshop sistem manajemen pesantren (Simapes). Pelatihan Peningkatan mutu ini bertempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong. Hadir tim Simapes sebagai trainer pada acara ini.?

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholihin mengenang ketika masih di pesantren selalu ingat dengan 3 T+S+M yaitu tahu, tempe, terong ditambah sambel dan mendoan. Namun, substansi itu bukan yang ingin dijelaskan, tetapi pesantren menjadi lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh merawat tradisi dan budaya masyarakat.?

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

"Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Sholihin, Kamis (28/1/2016).?

Bisa dilihat, alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.?

Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. "Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat)," tambah Sholihin. Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.?

SMA Negeri 1 Slawi

Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren pelatihan ini menjadi penting. Simapes akan mempermudah untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren. Tim Simapes ini terbentuk dari unsur Kanwil Kemenag Jateng, RMINU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Quote, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 12 Februari 2018

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Semula saya mengira, wayang wolak-walik adalah karena cerita yang ditampilkan menggambarkan suasana ‘wolak-waliking’ zaman. Sempat pula saya menduga mungkin yang dimaksud wayang wolak-walik adalah selama pertunjukan, wayang-wayang akan sering dibuat berloncat-loncatan, sehingga bagian kepala wayang akan diletakkan di bawah, dan sesekali kakinya berada di atas.

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang

Namun, dua perkiraan itu keliru. Dinamakan wayang wolak-walik ternyata adalah karena satu kelir—layar sebagai media tempat wayang dipertunjukkan—dipakai oleh dua dalang.

Soal pencahayaan, pada kedua bagian layar itu tetap terkena cahaya lampu menyesuaikan bagian layar yang mana yang sedang dijadikan area berkisah.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain keunikan tadi, karena dimainkan dua dalang secara bergantian, mereka pun membawakan cerita yang seakan-akan berbeda, namun sebenarnya berhubungan.

SMA Negeri 1 Slawi

Pun soal cerita dan para tokoh. Bila pada pertunjukan wayang purwa membawakan kisah Ramayana dan Mahabarata, wayang wolak-walik tidak ada tokoh baku yang ditampilkan. Tokoh bisa lebih kekinian, menyesuaikan kondisi atau tren saat ini.

Pada peringatan harlah NU di Gedung PBNU, akhir Januari lalu, misalnya, Dalang Azis dan Dalang Jumali, membawakan cerita seorang anak kecil yang di kampungnya terkena banjir. Anak kecil itu lalu meminta pertolongan kepada kiai.

Tetapi yang ada saat itu bukanlah kiai. Anak itu tidak mau menerima pertolongan orang lain. Sampai sang anak mengalami kesusahan dan tenggelam terbawa arus banjir. Padahal orang lain yang menolong itu, datang atas permintaan sang kiai.

Cerita tersebut membawa makna bahwa cara Tuhan untuk menolong sangat banyak. Kita dituntut berhati-hati untuk dapat menemukan kekuatan ilahi. Cerita juga menyimpan pelajaran bahwa keyakinan harus kita jaga, jangan mudah tergoyahkan. Apa yang menjadi tujuan harus kita pegang.

Lik Jum dan Ki Azis menampilkan cerita itu dengan gaya yang cair. Sesekali mereka memasukkan ungkapan ‘Om tolelot om’, ‘update status Facebook’, dan ‘buka pesan WathsApp’.

Kedua dalang memang membebaskan cerita, tidak ada aturan baku seperti misalnya dalam wayang purwa. Namun begitu, ada hal-hal yang pantas untuk direnungkan dari ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan.

Karenanya, dalam menyiapkan cerita kedua dalang menyesuaikan dengan momentum atau karakteristik tempat dan pihak yang mementaskan. Termasuk pada malam itu, kedua dalang membawakan semangat Islam Nusantara.

Musik pada pertunjukan wayang wolak-walik, juga berbeda dengan wayang purwa. Gola, pemain musik yang malam itu mengiringi kedua dalang, menerapkan konsep musik harus sama dengan isi cerita.

Ilustrasi musik, menurut Gola, berangkat dari logika bukan untuk ‘membagus-baguskan’, namun agar selaras dengan cerita. Bebunyian yang terbatas, membawa kondisi dan suasana jiwa yang diperankan wayang. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Quote, Pemurnian Aqidah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat

Makassar, SMA Negeri 1 Slawi. Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Anregurutta Haji (AGH) Sanusi Baco mengharapkan berharap semua pengurus tetap menjaga keikhlasan dalam mengurus umat dan tetap konsisten pada khittah NU 1926.

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat

Kemarin (19/9), AGH Sanusi Baco memberikan pengarahan dalam Rapat Pleno Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama di Aula Gedung Universitas Islam Makassar.

Rapat ini dihadiri semua unsur pengurus syuriyah, tanfidziyah, lembaga, Lajnah dan badan otonom guna membicarakan persiapan Musyawarah Kerja NU Sulsel, mengevaluasi dan membicarakan program kerja yang akan dibicarakan pada Musyawarah Kerja Wilayah.

Ia mengharapkan setelah dua kegiatan besar terlaksana yakni pelantikan dan halal bihalal, semua pengurus tetap menjaga keikhlasan dalam menjalankan roda organisasi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Pada musyawarah kerja nanti diharapkan semua pengurus hadir untuk memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan Nahdlatul Ulama khususnya di Sulawesi Selatan,” kata AGH Sanusi Baco.

SMA Negeri 1 Slawi

Beberapa isu akan dibicarakan pada Musker nanti, antara lain penanganan dan penataan asset NU, pengembangan pendidikan NU di Sulawesi Selatan, mendiskusikan isu-isu keagamaan dan mengadakan kerja sama dengan pemerintah daerah. (Andi Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang

Bandung, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua PC PMII Kota Bandung, Ahmad Riyadi mengatakan, hasil KAA memang bisa dilihat, tetapi harapan yang ideal dari KAA kali ini adalah negara Asia Afrika harus memiliki kekuatan ekonomi politik untuk menentang dominasi imperialisme Amerika.?

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang

“Harus adanya kekuatan ekonomi Asia Afrika yang saling menopang dan mengembangkan negara-negara berkembang, jangan sampai peserta negara KAA sendiri yang melakukan penghisapan dan eksploitasi terhadap negara berkembang lainnya. Maka, Indonesia sebagai tuan rumah harus lantang bicara soal koorporasi di Indonesia,” tegasnya saat dimintai konfirmasi oleh SMA Negeri 1 Slawi, Kamis (23/4) di Bandung.?

Selain itu, mahasiswa Pascasarjana Universitas Langlangbuana Bandung ini menilai, KAA harus memiliki suara lebih lantang untuk bicara persoal konflik di Timur Tengah yang sudah melanggar hukum kemanusiaan.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia menginginkan, negara-negara peserta KAA harus saling menjaga dan menghargai kedaulatan negara, sehingga dalam konteks kerjasama ekonomi luar negeri harus berangkat dari hukum kemanusiaan bukan logika hukum dagang semata.

Selain itu, Riyadi menyampaikan, bahwa Konferensi Asia Afrika (KAA) jangan hanya ditinjau dari indahnya seremonial belaka dan maksimalnya persiapan, tetapi yang paling penting adalah muatan materi dan gerakan kemanusiaan yang nyata bagi kepentingan nasional dan global.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kalau dinilai dari keindahan, maka saya katakan, Kota Bandung juga bisa disulap menjadi (bergaya) Eropa dalam sekejap,” jelasnya?

Riyadi meminta kepada Wali kota Bandung supaya jangan pernah berparadigma bahwa dengan bagusnya tata kota Bandung untuk menarik investor asing menanam modal di kota Bandung. Tetapi bagaimana menciptakan pasar ekonomi untuk mempromosikan kreatifitas masyarakat kota Bandung ke dunia Internasional.?

Pihaknya juga memandang peringatan ke-60 tahun KAA pada ini berlangsung terbuka, dan dalam seremonialnya terpublikasikan dengan baik.?

“Tapi pertemuan tertutup di Jakarta belum diberitakan untuk melahirkan (keputusan) apa. Mungkinkah ada kesepakatan yang sama seperti Dasa Sila Bandung dan semangat kebersamaan dan kemanusiaannya sama?” tandas Riyadi. (Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Gelar Karya Bakti, TNI Libatkan Banser

Banyumas, SMA Negeri 1 Slawi. Mengawali program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD), Koramil 24/Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah menggelar karya bakti sepanjang tahun dengan melibatkan 25 anggota Barisan Ansor Sebaguna (Banser) Satkoryon Kedungbanteng, Banyumas dan 150 warga.

Gelar Karya Bakti, TNI Libatkan Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Karya Bakti, TNI Libatkan Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Karya Bakti, TNI Libatkan Banser

Karya bakti ini dilaksanakan Ahad (8/2) di beberapa desa di Kecamatan Kedaungbanteng, yakni Dusun Karangpelem, Desa Baseh, Dusun Puja, Desa Dawuhan Wetan dan Kulon, serta Dusun Glempang.

Program karya bakti TNI dan Banser ini, difokuskan pada pelebaran jalan dusun. Di Dusun Karangpelem misalnya, mereka memperlebar akses dari jalan setapak menjadi jalan desa selebar 4 meter. Kerja bakti ini juga diisi dengan bersih-bersih lingkungan yang seluruhnya dilakukan secara swadaya.

SMA Negeri 1 Slawi

"Tujuannya memberikan kenyamanan masyarakat dalam menggunakan akses jalan guna mendukung kemudahan sarana transportasi dan aktivitas perekonomian warga," kata Kapten Infanteri P Putut Widodo, Danramil Kedungbanteng.

Dia mengungkapkan, karya bakti ini sebagai langkah peduli dari TNI kepada masyarakat. "Dengan karya bakti, TNI ingin lebih dekat dengan masyarakat, bekerjasama, dan peduli mewujudkan masyarakat sejahtera," jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Komandan Banser Satkoryon Kedungbanteng, Nur Majid mengatakan, keterlibatan Banser dalam karya bakti ini diharapkan mampu menjadi sumbangsih dalam membangun stabilitas sosial masyarakat. Bantuan secara fisik, hanya sebagai sambung rasa yang semestinya dilakukan.?

"Meski tidak seluruh desa, upaya mendekatkan aparat dan masyarakat harus selalu dilakukan agar masyarakat semakin tenteram" terangnya. (Agus Riyanto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Jadwal Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi yang kami hormati. Sebelumnya mohon maaf apabila pertanyaan kami tidak berkenan di hati. Kami hendak menanyakan hal yang terkait dengan aqiqah. Kebiasaan yang berlaku aqiqah itu dengan kambing sebagaimana yang kami ketahui selama ini.

Yang ingin kami tanyakan bolehkah aqiqah dengan sapi? Yang kedua, jika boleh apakah satu sapi bisa untuk aqiqah tujuh anak? Bolehkah menyembelih sapi dengan niat aqiqah sebagian orang dan niat qurban sebagian lainnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Fajri/Pemalang)

Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Jawaban

SMA Negeri 1 Slawi

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. aqiqah memang masalah yang tak akan lekang oleh waktu. Ia selalu berkait-kelindan dengan kelahiran anak. Sepanjang masih ada kelahiran seorang anak manusia, selama itu pula aqiqah akan tetap melekat dan tak terpisahkan.

Ajaran tentang aqiqah sudah sangat terang-benderang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan, bahwa seorang bayi itu tergadakan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama.

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya, dan diberi nama,” (HR Tirmidzi).

Pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits tersebut adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Sudah jamak diketahui bahwa aqiqah jika bayi yang lahir adalah laki-laki adalah disunahkan dengan menyembelih dua ekor kambing. Sedang apabila perempuan disunahkan dengan menyembelih seekor kambing. Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam masalah ini.

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada persoalan serius. Namun persoalan kemudian muncul jika pihak yang mempunyai anak ingin mengganti aqiqah berupa kambing dengan hewan lain, sapi misalnya. Di sini kemudian muncul pertanyaan, bagaimana hukumnya aqiqah dengan sapi? Lantas, apakah sapi bisa dibuat aqiqah untuk tujuh orang bayi?

Untuk menjawab hal ini ada baiknya kita tengok keterangan dalam kitab Kifayatul Akhyar. Dalam kitab ini dikatakan bahwa menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah) aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing (al-ghanam). Namun pendapat lain menyatakan, yang paling utama adalah aqiqah dengan kambing sesuai bunyi hadits yang ada (li zhahiris sunah).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing. Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, yang saya maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan, karena sesuai dengan bunyi sunah,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darl Fikr, halaman 535).

Jika kita cermati penjelasan dalam kitab Kifayatul Akhyar itu, dengan jelas mengandaikan kebolehan beraqiqah dengan unta atau sapi. Bahkan dengan sangat gamblang dikatakan di situ, bahwa pendapat yang lebih sahih adalah yang menyatakan bahwa beraqiqah dengan unta atau sapi lebih utama dibanding dengan kambing.

Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua mengenai soal sapi yang dijadikan aqiqah untuk tujuh anak, apakah boleh? Dalam konteks ini diperbolehkan, bahkan jika ada beberapa pihak dengan niat yang berbeda sekalipun.

Misalnya ada tujuh orang yang patungan membeli sapi, dari ketujuh orang tersebut yang tiga berniat untuk aqiqah, sedang yang lainnya berniat untuk berkurban, atau hanya sekedar mengambil dagingnya untuk dimakan ramai-ramai atau mayoran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang menyembelih sapi atau unta yang gemuk untuk tujuh anak atau adanya keterlibatan (isytirak) sekelompok? orang dalam hal sapi atau unta tersebut maka boleh, baik semua maupun sebagian dari mereka berniat untuk aqiqah sementara sebagian yang lain berniat untuk mengambil dagingnya untuk pesta (makan besar/mayoran),” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VIII, halaman 409).

Bagi orang tua yang anaknya belum diaqiqahi dan sudah memiliki rezeki yang lapang, sebaiknya segera diaqiqahi.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Anti Hoax, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 11 Januari 2018

Awal Sya’ban Serentak, Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit untuk penentu awal bulan Sya’ban 1435 H yang diselenggarakan pada Kamis (29/5) petang kemarin bertepatan dengan 29 Rajab 1435 H telah dinyatakan berhasil, sesuai dengan prediksi (hisab) dalam almanak NU.

Lajnah Falakiyah PBNU mengikhbarkan, hilal awal Sya’ban telah berhasil di lihat di beberapa titik rukyat antara lain di Balai Rukyat Bukit Condrodipo Gresik oleh Ust H M Inwanuddin, KH A Asyhar Sofwan, dan Ust Khusnul Khoatim.? Di Basmol Basmol Jakarta Barat, hilal disaksikan oleh Ust Abdul Hadi, Ust H Zawawi, dan H Syaroni.

Awal Sya’ban Serentak, Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Sya’ban Serentak, Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Sya’ban Serentak, Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda

Di lokasi rukyat Season City Jakarta, hilal disaksikan oleh Ust Rusli Arsyad MM, KH Ahmad Rohimin,? KH Khudrin Hasbulah, dan KH Ahmad Hariri. Sementara di Pelabuhan Ratu hilal disaksikan oleh KH Yahya dan tim Lajnah Falakiyah PBNU .

SMA Negeri 1 Slawi

“Dengan demikian awal Syaban 1435 H jatuh pada Jum’at 30 Mei 2014, dimulai malam Jum’at ini atas dasar rukyah yang diselenggarakan LFNU petang ini di beberapa lokasi rukyat tersebut,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri melalui SMS yang diterima SMA Negeri 1 Slawi beberapa saat setelah pelaksanaan rukyat.

SMA Negeri 1 Slawi

Hasil rukyat ini sesuai dengan data dalam almanak yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU untuk markaz Jakarta. Ijtima’ telah terjadi pada pukul 01.38 WIB pada hari pelaksanaan rukyat. Sementara ketinggian hilal sudah mencapai lebih dari 7 derajat dan berada di atas ufuk cukup lama selama 31 menit 52 detik sehingga memudahkan proses rukyat.

Data hisab ini berbeda untuk penentuan awal Ramadhan 1435 H nanti. Ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada pukul 15.07 atau umur hilal hanya sekitar tiga jam dari waktu tenggelam matahari, 29 Sya’ban. Sementara Ketinggian hilal hanya 0 derajat 25 menit di atas ufuk.

Dalam posisi seperti itu hilal dinyatakan belum imkanur rukyat atau tidak mungkin dilihat. Namun pihak yang menggunakan kriteria wujudul hilal seperti Muhammadiyah, yakni asal sudah terjadi ijtima’ sebelum tenggelam matahari, dan hilal sudah di atas ufuk bisa saja menetapkan awal bulan lebih dulu karena tanpa menyaratkan harus melalui proses rukyatul hilal. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, Pendidikan, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Karawang, SMA Negeri 1 Slawi. Puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu evakuasi korban banjir di sejumlah titik, salah satunya di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Lokasi tersebut merupakan salah satu kecamatan terparah dari 16 kecamatan di Karawang yang terkena banjir.

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Karawang, Ade Permana SH mengatakan, banjir di Karawang saat ini, merupakan banjir terparah dalam dua tahun terakhir akibat luapan Sungai Citarum. "Wilayah yang terkena banjir mencapai 16 kecamatan, dengan puluhan ribu rumah terendam dan empat orang yang meninggal dunia," katanya, Selasa (22/1).

SMA Negeri 1 Slawi

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya menerjunkan anggota Banser untuk membantu evakuasi korban banjir. Kegiatan yang dilakukan, mulai dari evakuasi korban, hingga memperbaiki tanggul yang jebol. "Anggota kita bergerak dengan cepat, bahkan salah satu anggota Banser yang menemukan dan membawa jenazah salah satu korban banjir untuk dievakuasi," ucapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain bantuan tenaga, lanjut Ade, GP Ansor juga memberikan bantuan logistik untuk korban banjir yang disebar ke beberapa titik. Bantuan tersebut didapat dari hasil penggalangan anggota Ansor dan juga masyarakat. "Kita juga mengirim bantuan logistik untuk korban banjir," tuturnya.

Karena banjir di Karawang terjadi tiap tahun, Ade meminta kepada Pemkab Karawang, untuk bisa mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun mendatang. "Carikan solusi yang tepat, agar banjir tidak terulang lagi. Kasihan masyarakat kalau setiap tahun harus merasakan banjir. Tentunya, secara materi dan psikologis pasti terganggu," pungkasnya. 

Keterangan foto: Banser dan anggota Pramuka membantu mengangkut karung berisi pasir untuk menahan air di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Syahid

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Tokoh, Quote, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 11 Desember 2017

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pekalongan, SMA Negeri 1 Slawi. Kota Pekalongan yang kental dengan para ulama dan habib bisa digolongkan sebagai kota yang memiliki tradisi ke-NU-an yang begitu kuat. Setiap bulan Ramadhan tiba, banyak masyarakat Pekalongan yang ngalap (mencari) berkah lewat kegiatan tarawih keliling masjid-masjid yang ada di Pekalongan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Irzam Hasani (21), mahasiswa Undip Semarang. Ia rela menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna menikmati nuansa Ramadhan di Pekalongan. Bersama dengan dua rekannya, Shofiyullah dan Khadziq, mereka ingin meramaikan bulan Ramadhan kali ini dengan melakukan tarawih keliling ke masjid maupun majelis habaib yang ada di Kota Batik ini.

Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pada malam ke-4 di bulan Ramadhan ini, Jumat (12/7), mereka memulai kegiatan tarawih kelilingnya di gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan. Di gedung Kanzus Shalawat yang biasa digunakan untuk majelis maulid Nabi ini, digelar salat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan.

SMA Negeri 1 Slawi

Bersama sekitar 30 jamaah yang rata-rata berasal dari Pekalongan dan sekitar mereka terlihat khusyuk melaksanakan salat tarawih. Sebagai imam, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf, menantu dari Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, juga mengajak jamaah untuk berdzikir selepas salat tarawih.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketika ditanya tentang alasannya melakukan tarawih keliling ini, Irzam mengatakan dirinya bersama dua rekannya ingin ngalap berkah kepada habaib yang ada di Pekalongan. “Mumpung pulang kampung, saya sempatkan untuk tarawih keliling ke tempatnya habaib,” ujarnya.

Senada dengan Irzam, Khadziq yang sedang menempuh pendidikan di STAIN Pekalongan ini juga menyampaikan niatnya melakukan kegiatan ini. “Kita pengen ngalap berkah dengan salat bersama habib, alhamdulillah bisa kesampaian,” tutur mahasiswa yang juga aktif di PMII STAIN ini.

Untuk malam berikutnya mereka berencana melanjutkan tarawih kelilingnya ini ke masjid Raudhah, Pekalongan, masjid milik Habib Baqir Alatas yang juga sering dijadikan sebagai tempat untuk tarawih keliling oleh masyarakat Pekalongan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Hasyim Muzadi: Indonesia Semakin Ruwet

Tegal, SMA Negeri 1 Slawi . Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menilai Indonesia tengah berkembang kepada keadaan yang tidak baik. Bukan semakin aman dan sejahtera melainkan sebaliknya. Kerusakan moral pemimpin adalah di antara penyebabnya.

Hasyim Muzadi: Indonesia Semakin Ruwet (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Indonesia Semakin Ruwet (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Indonesia Semakin Ruwet

“Indonesia itu semakin ruwet bukan karena kurangnya orang yang pinter tetapi kurangnya orang yang bener,” katanya saat mengisi acara Safari Tabligh Akbar Majelis Silaturahim Ulama Rakyat (Masyura) di lapangan Ekoproyo Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (3/9) .         

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Hasyim mengingatkan, di tengah krisis kepercayaan yang luar biasa, masyarakat mesti lebih selektif dalam memilih pemimpin. Sebab, mereka juga turut menentukan kondisi bangsa ini.

SMA Negeri 1 Slawi

“Sifat pemimpin itu sudah jelas dicontohkan oleh Rasulullah: shidiq (kejujuran), amanah (kepercayaan), tabligh (menyampaikan kebenaran) dan fathanah (kecerdasan). Tapi sekarang shidiq dan amanah itu sudah pergi dari Indonesia,” katanya disambut tawa ribuan pengunjung.

Kenikmatan sementara yang dikaruniakan Allah (isti’raj), sambung Kiai Hasyim, jangan sampai melengahkan bangsa ini sehingga mengarah kepada keterpurukan di belakang hari.

“Kita semuanya berdoa mengahrapkan rahmat dari Allah SWT turun, (untuk) membenahi Indonesia. Bedanya rahmat dengan isti’roj itu apa? Kalau rahmat itu sengsara membawa nikmat tetapi isti’roj itu nikmat membawa sengsara,” pugnkasnya. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Paspor Negara Arab dan Muslim Paling Buruk Sedunia

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Paspor dari tujuh negara Arab atau Muslim termasuk diantara 10 negara yang memiliki kesulitan paling tinggi dalam memasuki negara lain, menurut publikasi dari Henley & Partners Visa Restrictions Index.?

Afghanistan, Irak, Somalia, Pakistan, Palestine, Eritria, Nepal, Sudan, Sri Lanka and Lebanon, merupakan negara dengan ranking terburuk. Ini berarti warga negara-negara tersebut paling tidak menikmati kebebasan perjalanan internasional, kata indeks tersebut. Paspor dari Suriah dan Libya berada di ranking ke-12 dan ke-14.?

Beberapa negara Arab menikmati kebebasan perjalanan di kawasan Arab, tetapi dalam skala global, kebebasan mereka sangat terbatas.

Paspor Negara Arab dan Muslim Paling Buruk Sedunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Paspor Negara Arab dan Muslim Paling Buruk Sedunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Paspor Negara Arab dan Muslim Paling Buruk Sedunia

Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain berada di ranking 56, 57 dan 59 dalam indeks tersebut.?

SMA Negeri 1 Slawi

Saudi Arabia, Oman, Tunisia berada di ranking 64, 65, dan 65. Sementara ? Morokko, Algeria, and Mesir berada di rangkin 75, 79, dan 79.

Reaksi di twitter

Berita tentang hambatan bagi paspor asal Arab ini menimbulkan komplain diantara warga Arab di twitter

SMA Negeri 1 Slawi

“Hari ini, saya mendengan paspor Palestina berada di posisi kelima terburuk di seluruh dunia. Saya terkejut? Kami memiliki paspor tersebut, kata pengguna twitter @AmerZahr dalam tweetnya.

Abdi Aynte @Aynte, dari Somalia, mengetweet: “Akhirnya sebuah daftar bahwa #Somalia tidak berada di puncak, tetapi berada di tempat ketiga terburuk di dunia.”

Henley & Partners mengatakan dalam statemennya dalam website “hampir semua negera sekarang mensyaratkan visa bagi wilayah non negara tertentu untuk masuk dalam teritori mereka.”

“Persyaratan visa juga mengekspresikan hubungan antara negera, dan umumnya merefleksikan hubungan dan status sebuah negara dalam komunitas internasional.”?

Finlandia, Swedia, dan Inggris berada di puncak kebebasan perjalanan internasional pada tahun 2013 ini dengan skor 173. Denmark, German, Luxembourg dan Amerika Serikat menduduki rangkin kedua dengan skor kebebasan pada 172 negara. (alarabiya/mukafi niam)Foto: lebanesemap.net

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai

Kudus, SMA Negeri 1 Slawi - Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Salafiyah Desa Gondoharum Jekulo Kabupaten Kudus mengadakan lomba mewarnai di aula madrasah setempat, Sabtu (4/6). Kegiatan hasil kerja sama dengan Faber Castell ini diikuti 100 anak Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Desa Gondoharum.

Kepala MINU Salafiyah Naning Idha Rodliyah menjelaskan, lomba mewarnai ini dimaksudkan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila dan promosi Penerimaan Pendaftaran Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2016/2017. Tujuannya adalah meningkatkan rasa cinta tanah air serta menumbuhkan semangat berprestasi bagi anak-anak TK/PAUD.

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai

"Rasa cinta tanah air sangat penting ditumbuhkan sejak dini di lingkungan anak-anak. Sehingga, ketika dewasa mereka akan tetap meyakini Negara Kesatuan Republik Indosia (NKRI) sebagai tanah airnya," ujarnya.

Lomba mewarnai ini memberikan ruang bagi anak menunjukkan kreatifitasnya. Anak-anak mewarnai beragam gambar pemandangan alam, burung garuda sebagai lambang Negara, dan gambar sekolahan yang di dalamnya terdapat bendera merah putih.

SMA Negeri 1 Slawi

"Mereka ternyata mampu mewarnai sesuai dengan daya kreasinya. Hasilnya sangat indah, mereka juga tidak salah mewarnai bendera merah putih," imbuh Naning.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari salah seorang wali murid peserta. Menurut H Achied Arifuddin, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat meningkatkan kemampuan dan kreasi serta mengenalkan NKRI kepada anak.

SMA Negeri 1 Slawi

"Lewat lomba mewarnai ini, anak bisa kenal lingkungannya, lambang atau simbol negara sehingga rasa cinta tanah airnya semakin meningkat," katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 16 November 2017

Memuji atau Menyembah Rasulullah SAW?

Makna puji dan sembah secara bahasa bukan hanya tidak berjauhan, tetapi juga bertetangga samping menyamping. Keduanya akur di dalam kamus. Tetapi ini juga yang bikin kalap sekelompok kecil umat Islam seperti kesurupan kalau ada saudaranya memuji Rasulullah SAW.

Bagi orang Islam berjumlah kecil ini, memuji dan menjunjung Rasulullah SAW dengan bacaan sholawat atau upacara tertentu sederajat dengan penyembahan lazimnya kepada Allah. Mereka menyebut muslim penyanjung dan pemuji Rasulullah mengidap syirik bahkan kafir.

Memuji atau Menyembah Rasulullah SAW? (Sumber Gambar : Nu Online)
Memuji atau Menyembah Rasulullah SAW? (Sumber Gambar : Nu Online)

Memuji atau Menyembah Rasulullah SAW?

Menanggapi orang kalap itu, Sayid Ahmad Zaini Dahlan seorang mufti yang sangat disegani di Mekah abad 19 itu tidak terpancing geram. Ia cukup duduk di kursinya lalu menulis risalah panjang untuk mematahkan pendapat mereka.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam risalah berjudul Ad-Durorus Saniyyah fir Roddi alal Wahhabiyyah, ulama yang wafat 1886 M ini menyatakan, khayalan mereka itu tidak benar. Masak orang bertawasul dan berziarah ke makam Rasulullah SAW bisa menjadi syirik dan kafir? Padahal Allah sendiri di dalam Al-Quran menyanjung utusan-Nya dengan penghormatan tertinggi dari segala jenis penghormatan yang pernah diberikan-Nya.

Karenanya, kata Syekh Ahmad Zaini Dahlan, kita wajib menakzimkan orang yang ditakzimkan Allah. Dan Dia memerintahkan untuk itu. Semua bentuk ketakziman kepada Rasulullah SAW sama sekali tidak dilarang sejauh menjaga ketentuan syariah dan rambu-rambu keesaan.

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? * ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Kalau menyifatkan Rasulullah SAW dengan salah satu sifat ketuhanan, tentu saja kita dilarang. M Said al-Bushairi dalam Qashidah Burdah-nya mengatakan,

‘Tinggalkan dakwaan Nashara untuk nabi mereka * Dan tetapkan sesukamu segala pujian bagi Rasulullah dan bijaklah dalam memujinya’

Sanjungan kepada Rasulullah SAW dengan selain sifat ketuhanan, bukan bentuk syirik dan kafir. Justru itu semua terbilang bakti dan bentuk taqarub terbesar kepada Allah. Demikian juga berlaku kepada mereka yang dimuliakan Allah, seperti para nabi, rasul, malaikat, mereka yang teguh iman, syuhada, dan orang saleh. Dalam surah Al-Haj Allah berfirman, ‘Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar-Nya, maka syiar itu adalah ketakwaan hati.’ Masih di surah yang itu juga, ‘Siapa saja menakzimkan yang dimuliakan Allah, maka tindakannya itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya’.”

Bentuk penakziman kepada Rasulullah SAW antara lain menyatakan kebahagiaan di malam kelahiran beliau, membaca kitab maulid, berdiri ketika disebut saat-saat kelahirannya, memberi makanan yang biasa disebut berkat, dan segala bentuk kebaikan yang biasa dilakukan umat Islam di bulan maulid. Semua itu, kata Sayid Ahmad Zaini, diulas ulama secara khusus pada karya mereka. Ulama memberikan perhatian istimewa pada isu ini.

Setuju 100%! kata Syekh Islam Ibrahim al-Bajuri. Dalam menguraikan syair Burdah al-Bushairi di atas, al-Bajuri mengatakan setiap umat Islam harus menyatakan pujian yang layak kepada Rasulullah SAW sesuai dengan pangkat dan derajatnya yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah. Tentu dengan catatan berikut agar tidak offside.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian sanjung aku kelewat batas seperti umat Nashara menyanjung al-Masih. Tetapi sebutlah aku sebagai hamba dan utusan Allah.”

Semua bentuk pemuliaan dan sanjungan tinggi kepada Rasulullah SAW tidak mengandung kebatilan sejauh tidak menempatkannya sebagai Tuhan. Dan warga NU sudah maklum Rasulullah SAW kendati dikaruniakan Allah derajat sangat istimewa, tetap juga posisinya sebagai makhluk. Demikian keterangan al-Bajuri pada Hasyiyatul Bajuri ala Matnil Burdah. Wallahu A’lam (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, AlaSantri, Internasional SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 19 Oktober 2017

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjalin kerja sama dengan PT Wijaya Karya (Wika) Persero di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (6/1). Tahun 2017 ini adalah tahun untuk memperbaiki segala bidang dan menggenjot pemerataan pembangunan. Segala kesenjangan serta rasio gini harus dipangkas, agar disparitas antara yang kaya dengan yang miskin tidak semakin menganga.

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng PT Wika, PBNU Dorong Pemerataan Pembangunan

Sebab, tahun 2016 tercatat Indeks Rasio Gini Indonesia berada di angka 0,40. Angka tersebut memosisikan Indonesia pada peringkat keempat terbawah. ketidakmerataan ekonomi Indonesia mencapai angka 49,3 persen. Artinya, setengah aset dikuasai oleh segelintir orang saja, dan menunjukkan ekonomi belum merata.

Di sisi lain, kualitas kesehatan masyarakat belum juga dikatakan baik kualitas kesehatan masyarakat miskin semakin memburuk. Hal ini membutuhkan perhatian serius dari pelbagai kalangan.

Mendapati hal itu, PBNU dengan PT Wijaya Karya menjalin komitmen dan kerja sama dalam 2 hal, sebagai berikut:

SMA Negeri 1 Slawi

Pertama, meningkatkan fasilitas dan layanan kesehatan dan masyarakat khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pelbagai upaya akan dilakukan dalam meningkatkan fasilitas kesehatan sebagai bentuk pelayan kepada masyarakat.

Kedua, meningkatkan kapasitas Sumber Daya Alam (SDA) di sektor kontruksi. Hal tersebut agar kualitas SDM yang bergelut di bidang konstruksi dan pembangunan infrastruktur meningkat dan bisa bersaing dengan tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa selama ini NU belum pernah dilibatkan soal pembangunan fisik. Oleh karena itu kerja sama ini sangat tepat.

“Pembangunan kita syukuri, tapi pemerataan juga jangan sampai diabaikan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Wijaya Karya Bintang Perbowo berharap agar kedepan kerja sama yang dijalin lebih bisa ditingkatkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Hadir pada penandatanganan kerja sama tersebut ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Sekretaris Jendera Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum H Bing Suhendara, Ketua LK PBNU Hisyam Said Budairi dan segenap pimpinan PT Wijaya Karya. (Husni Sahal/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Hikmah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 07 Oktober 2017

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar

Oleh Rijal Mumazziq Z

Ketika Masjid di Tolikara, Papua, dibakar, pada Idul Fitri 2015, sebagian umat Islam marah. Sebagian kecil meneriakkan jihad. Suaranya lantang, intimidatif. Saya menyangka, saudara-saudara kita ini berangkat beneran ke Tolikara. Tapi, ya seperti biasanya, hanya "akan berjihad" sebagaimana "akan" dan "akan" yang sudah sejak dulu disuarakan saat demo.

Lalu Banser yang saat itu dihujat karena enggak bersuara, dan disindir karena aktivitasnya "menjaga gereja" diam-diam berangkat dengan 23 personel menjelang Idul Adha, 2015 silam. Sebelum berangkat, mereka mengikuti pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Simtudduror di rumah Nusron Wahid, Ketum GP Ansor saat itu.

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar

Setelah acara usai, rombongan ini berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar bin Abdillah Luar Batang. Tanpa disengaja, di lokasi ini mereka bertemu Habib Lutfi bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah An-Nahdliyyah. Mereka pun minta restu kepada ulama nasionalis ini.

Utusan PBNU ini tiba di Bandara Sentani, lalu berangkat ke lokasi dengan didampingi Banser setempat. Lalu tim menuju Bandara Wamena yang dilanjutkan perjalanan darat ke Tolikara.

SMA Negeri 1 Slawi

Di lokasi, sebagaimana laporan AULA November 2015, mereka disambut Muspida setempat dan imam Masjid Tolikara, Kiai Ali Mashar. Persiapan shalat Idul Adha segera dilakukan di masjid Koramil. Para pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang ditengarai beberapa minggu sebelumnya terlibat pembakaran masjid, mereka malah mendekat dan ikut membantu Banser menjaga keberlangsungan Idul Adha.

Singkat kata, dengan pendekatan yang baik, metode penyelesaian masalah tanpa menimbulkan masalah, kasus Tolikara tidak membesar menjadi kerusuhan suku dan agama. Jika ini terjadi, dampaknya mengerikan: pialang senjata yang menawarkan solusi praktis, calo pemekaran wilayah, permainan isu Papua Merdeka melalui OPM, dan internasionalisasi Papua. Kalau Papua lepas, bukan tidak mungkin jika provinsi lain dikipas-kipasi untuk melepaskan diri dari NKRI.

Kini, soal Rohingya, PBNU memberangkatkan delegasi ke Bangladesh. Keberangkatan Tim Delegasi Nahdlatul Ulama untuk Rohingya dilaksanakan atas bantuan seluruh komponen NU melalui NU Peduli Rohingya. Mereka berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Sabtu kemarin. Di negara itu mereka bergabung dengan AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia Untuk Myanmar). 

SMA Negeri 1 Slawi

Delegasi NU yang dikirim ke Bangladesh dibagi menjadi tiga tim. Pertama, tim advance yang bertugas mengecek keadaan yang ada di lapangan. Kedua, tim medis yang bertugas untuk memberikan pengobatan kepada pengungsi. Dan terakhir, tim relief yang bertindak mempersiapkan dan menyalurkan bantuan

(Baca juga: Tim Delegasi NU untuk Rohingya Tiba di Bangladesh)

Permasalahan Rohingya memang pelik. Terkait dengan pemicunya: agama, sentimen etnis, hingga konspirasi penguasaan Sumberdaya Alam, peristiwa terusirnya etnis Rohingya memang menjadi keprihatinan kita. Dan, ketika ikut andil membantu mereka, sebagai umat Islam maupun bangsa Indonesia, tentu harus dilakukan dengan cara yang tepat.

Kalaupun mau berjihad, oke, silakan berangkat. Tapi kemampuan personel, kemampuan survival, penguasan medan, taktik, pola komunikasi, serta hirarki kemiliteran serta komando lapangan, juga harus dikuasai dengan baik. Jika tidak, itu namanya setor nyawa dengan konyol dan menyediakan diri sebagai sasaran tembak gratisan bagi serdadu Myanmar. Kalau hanya koar-koar jihad, semua juga bisa. Tapi menyelesaikan masalah dengan baik, tidak semua bisa.

Di sinilah perlu pikiran jangka panjang, strategi yang baik serta pemanfaatan jaringan yang dimiliki. Kalau anda benci Jokowi, itu urusan anda. Tapi langkah menteri luar negeri kabinet Jokowi, Retno Marsudi, yang mewakili RI pantas diacungi jempol. Dia dengan lincah melakukan lobi tingkat tinggi: bertemu Aung San Suukyi dan menyodorkan tawaran formula 4+1 untuk menyelesaikan masalah Rohingya, lalu menjumpai Syaikh Hasina, PM Bangladesh, sekaligus juga mengomunikasikan jalur laut-darat-udara bagi akses bantuan Indonesia via Bangladesh. Tak hanya itu, mantan Sekjend PBB, Kofi Annan, juga mempercayakan komunikasi internasionalnya melalui Retno Marsudi. Termasuk pula Antonio Guterez, sekjend PBB saat ini.

Langkah Pemerintah RI sampai hari ini pantas diacungi jempol. Sebab, selain bantuan diplomasi, RI juga mengirimkan bantuan bagi pengungsi melalui darat dan udara. Setidaknya, ikhtiar pemerintah harus diacungi jempol, bukan malah dinyinyiri sebagai "pencitraan".

Untuk saat ini, mencari seorang jagoan itu mudah, tapi mencari juru damai, bukan perkara enteng, sebab berjihad dengan mengobarkan peperangan (qital) itu sangat mudah, tapi berjihad mewujudkan perdamaian itu sangat sulit. 

Wallahu Alam Bisshawab

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Hikmah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock