Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

Sujud adalah salah satu momentum di mana Allah SWT dan hamba-Nya begitu dekat. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampun atas segenap kekurangannya di hadapan Allah.

Istighfar ini dibaca Rasulullah SAW di salah satu sujudnya.

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Allâhummaghfirlî dzanbî kullah, diqqahû wa jullah, wa awwalahû wa âkhirah, wa ‘alâniyatahû wa sirrah.

Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku dari segala dosa baik kecil maupun besar, awal maupun akhir, dan dosa yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.”

SMA Negeri 1 Slawi

Pilihan kalimat dalam istighfar di atas tampak begitu kuat dan menyeluruh. Rasulullah SAW mengajarkan istighfar ini untuk umatnya yang penuh dosa. Riwayat permohonan ampunan dosa ini disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Ahlussunnah, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Bantul, SMA Negeri 1 Slawi. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pagelaran wayang mirip dengan Al-Qur’an. Selama ini bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang adalah bahasa Jawa Kawi, yang meskipun banyak orang dapat menikmati alur ceritanya, tapi tidak semua orang (Jawa) dapat mengerti dan memahami maknanya.

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

“Ini mirip dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu kan berbahasa Arab, tapi tidak semua orang Arab dapat memahaminya. Tapi meskipun tidak paham, itu dapat menimbulkan sensasi spiritual yang luar biasa ketika merapalkannya,” ujarnya saat mengisi Seminar Nasional bertajuk Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Senin (17/11) siang, di Aula Pesantren Kaliopak Bantul, Yogyakarta.

Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin itu menambahkan, sebenarnya pagelaran wayang bukanlah sekadar tontonan, hiburan, atau rekreasi semata, melainkan juga merupakan ritus keagamaan, selain sebagai media pendidikan. “Sehingga ada suasana yang mirip dengan ketika berdzikir,” tegas Kiai Yahya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menduga, pagelaran wayang sudah ada sejak sebelum zaman Wali Songo. Kemudian ketika ada Wali Songo, pagelaran wayang menjadi bagian dari Islam yang dikembangkan dalam peradaban Jawa.

SMA Negeri 1 Slawi

“Ini tidak ada kaitannya dengan otentik atau bid’ah, karena islam hadir untuk seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq),” tandasnya.

Dalam hal ini, Kiai Yahya menitikberatkan pada kata-kata utammima yang berarti menyempurnakan. Menurutnya, ada alasan di balik penggunaan kata-kata utammima dan bukan ubaddila yang berarti menggantikan. “Rasulullah saat itu diutus hanya untuk menyempurnakan, tidak menggantikan. Secara implisit ini merupakan pengesahan bahwa makarimal akhlaq sebelum Islam itu sudah ada, dan Nabi tidak menggantikannya, tapi menyempurnakannya agar menjadi lebih berkualitas,” jelasnya panjang lebar.

Maka sama halnya dengan pagelaran wayang, yang tidak serta merta langsung diganti begitu saja oleh Wali Songo, melainkan disempurnakan dengan membingkainya sebagai salah satu ritus keagamaan dalam Islam. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Berita, Khutbah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Menanggapi adanya penilaian tentang menurunnya kitab kuning yang diajarkan di pesantren, Rais Syuriyah PBNU KH Masykuri Abdillah menilai kondisi itu harus dipilah-pilah. Yang pertama adalah dari sisi jumlah siswa dan sistem.?

“Saya mendapatkan infomasi bahwa sejumlah pesantren besar ada juga yang tidak menerapkan secara ketat kemampuan anak Aliyah misalnya, untuk membaca kitab kuning. Ini alasannya karena yang diterima masuk ada yang dari SMP, ada dari Tsanawiyah Negeri yang tidak punya latar belakang kitab kuning. Ini sangat disayangkan. Alasannya kalau tidak menerima siswa dari sekolah negeri atau siswa di luar pesantren, akan kurang siswanya. Itu yang menyedihkan,” kata Masykuri kepada SMA Negeri 1 Slawi, Rabu (13/4).?

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Menurunnya Pembacaan Kitab Kuning, Pesantren Perlu Terapkan 2 Sistem

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai, sebenarnya akan lebih baik apabila pesantren menerapkan dua kurikulum, yaitu kurikulum yang tetap mempertahankan karakteristik pesantren, dan kurikulum umum untuk mengakomodir siswa yang tidak berasal dari pesantren.

"Penerapan dua kurikulum itu juga sudah sejak dulu dilakukan di beberapa pesantren. Misalnya Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak yang sejak tahun 1970-an sudah membuka Tsanawiyah pesantren, di samping kurikulum umum. Bila ini diterapkan di banyak pesantren, akan menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan pengajaran dan kemampuan membaca kitab kuning," jelas pria kelahiran Kendal Jawa Tengah 58 tahun lalu ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Pemilahan kedua adalah dari sisi kitab yang dibaca. Masykuri menganggap sebenarnya dari dulu juga tidak banyak, terutama yang diajarkan di pesantren kepada santri. Jika ada kitab lebih banyak itu yang dibaca oleh kiainya agar mempunyai wawasan yang luas dalam mengajar santri. Masykuri percaya saat ini jumlah pembaca kitab kuning dan jumlah kitab kuning yang dipelajari masih banyak.

Terkait rencana Menag yang akan mengafirmasi pesantren untuk lebih aktif lagi mengajarkan kitab kuning, Masykuri berpendapat hal itu sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan, termasuk menyediakan buku-bukunya.

Menurut pria yang juga mantan salah satu Ketua PBNU ini, yang juga penting dikenalkan adalah adanya kitab putih. Dalam kitab putih yang dalam penulisannya sudah ada titik koma, ditulis oleh para penulis pada zaman sekarang. Kitab putih sangat baik diajarkan karena di dalamnya ada argumentasi yang lebih meyakinkan, ada kutipan dari Al-Quran dan hadits, sesuatu yang kadang tidak ada dalam kitab kuning yang langsung menguraikan pendapat ulama.?

“Sehingga kitab kuning dan kitab putih, perlu dibaca semuanya,” tandas Masykuri.? (Kendi Setiawan/Fathoni)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 23 Januari 2018

Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Komitmen kemanusiaan untuk minoritas di Rohingya terus dilakukan melalui beberapa langkah serius oleh Nahdlatul Ulama. Salah satu langkah yang dilakukan NU dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri bersama 11 ormas lainnya Membentuk Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Rohingya.

Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya

Bersama pemerintah, aliansi ini menggalang bantuan kemanusiaan yang meliputi bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan.

Ormas-ormas tersebut berdiskusi dan merumuskan langkah kongkrit dengan Kemenlu untuk membantu menyelesaikan tragedi kemanusiaan yang menimpa minoritas di Rohingya.

Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini mengatakan, apa yang menimpa kaum minoritas di Rohingya harus mendapatkan perhatian serius dan juga langkah kongkret dari berbagai pihak.

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya memandang harus ada upaya serius untuk meresolusi konflik dan tragedi kemanusiaan yang ada di Rohingya. Hari ini kita berkumpul di Kemenlu ini dalam rangka merumuskan langkah, strategi, serta kebijakan apa yang harus diambil dalam meredam dan menyelesaikan Tragedi kemanusiaan di Rohingya itu,” ujar Helmy, Kamis (31/8) usai berdiskusi dengan Menlu Retno LP. Marsudi.

Helmy menambahkan bahwa apa yang menimpa minoritas di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan yang nyata. "Ini bencana kemanusiaan. Maka tidak bisa kita hanya memakai sudut pandang sempit serta mensimplifikasinya hanya soal urusan agama dan keyakinan," terangnya.

Oleh karena yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan, lanjut Helmy, maka semua harus ikut bertanggung jawab atas nama kemanusiaan.

Selain NU, di antara ormas yang hadir ialah Muhammadiyah, Darul Da’wah wal-Irsyad (DDII), Al-Irsyad, Mathlaul Anwar, Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), Ikadi, dan ormas lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Tahlilan Jadi Perekat Bangsa

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Alhamdulillah, umat Islam di Indonesia ada 12,9 persen dari total umat Islam seluruh dunia sehingga Indonesia menjadi negara Muslim terbesar di dunia. Organisasi umat Islam terbesar di dunia juga adanya di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama.

Demikian ceramah yang disampaikan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud pada acara Pengajian Bulanan MWCNU Binong dan Tambakdahan yang diikuti ribuan jamaah di halaman Masjid Jami Al-Muttaqien Kp. Jungklang Desa Mulyasari Kec. Binong Kab. Subang. (Rabu, 24/02).

Tahlilan Jadi Perekat Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Jadi Perekat Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Jadi Perekat Bangsa

“Kenapa di Timur Tengah, negara yang banyak umat Islamnya mudah sekali perang? Karena di sana ulamanya, tidak punya organisasi semacam NU. Mereka berjuang sendiri,” kata Marsudi.

“Sebelum saling membunuh, mereka saling mengkafirkan dulu. Nah model faham Takfiri ini sekarang sudah masuk ke indonesia. Negara kita yang berketuhanan yang maha esa pun dianggap negara thoghut,” tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kenapa Islam di Indonesia aman. Karena ada Nahdlatul Ulama. NU mempunyai fasilitas-fasilitas brilian, yang bisa mengumpulkan banyak orang. Sebelum lahir, masih dalam kandungan 4 bulan ada acara mapat, setelah lahir ada acara marhaban, setelah meninggalpun ada acara yaitu tahlilan,” kata Ketua PBNU ini.

“Satu-satunya organisasi yang mengurus umatnya dari sebelum lahir hingga meninggal adalah NU. Model seperti ini tidak ada di Timur Tengah. Kalau ada kiai yang berselisih, rukun kembali karena bertemu salaman pada acara tahlilan. Oleh karena itu jangan sepelekan wahai pemerintah, bahwa tahlilan adalah perekat bangsa,” tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengajian bulanan ini dihadiri juga oleh Rais Syuriyah PCNU Subang KH. Agus Salim, Ketua Tanfidziyah PCNU Subang KH Musyfik Amrullah, Camat Binong H Suhaendi, Ketua PC Muslimat NU Subang Iis Salamah. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

PBNU Berharap Santri Ukir Prestasi di Dunia Olahraga

Blora, SMA Negeri 1 Slawi. Liga Santri Nusantara (LSN) Jawa Tengah Region 1 Grup B telah ditutup pada Ahad (17/9) pukul 16.00 WIB. Acara penutupan yang juga berpusat di Stadion Kridosono Blora ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini. Turut hadir juga Wakil Bupati Blora Ahmad Arif Rahman.

Dalam penutupan LSN di Blora kali ini, Helmy mengutarakan kekagumannya pada laga final di Blora tahun ini. “Bersyukur bahwa dalam final LSN region 1 Jawa Tengah kali ini, saya seperti menonton MU versus City. Sungguh pertandingan yang menurut saya, berskala internasional,” pujinya.

PBNU Berharap Santri Ukir Prestasi di Dunia Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berharap Santri Ukir Prestasi di Dunia Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berharap Santri Ukir Prestasi di Dunia Olahraga

Atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, ia menyatakan senang, bergembira, sekaligus bangga bahwa ternyata santri merupakan atlet-atlet kebanggaan Indonesia, yang diharapkan nanti dapat mengukir prestasi dalam dunia olahraga di kancah nasional. Ia juga mengungkapkan bahwa olahraga merupakan suatu hal yang sangat penting.?

“Bahkan dalam perpres yang baru, pendidikan karakter, olahraga merupakan bagian dari olah pikir dan olah hati,” terangnya.

Mantan Menteri Pembangunnan Daerah Tertiggal Dan Transmigrasi ini, menutup pidatonya dengan menyitir pepatah asing yang berkaitan dengan olahraga, “Men sana in corpore sano. Bahwa di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Maka untuk berpikir yang sehat diperlukan pula badan yang sehat terlebih dahulu. Untuk itu, mari kita terus galakkan olahraga terutama di kalangan santri.”?

SMA Negeri 1 Slawi

Laga Final LSN Jateng Region 1 Grup B kali ini dimainkan oleh tim tuan ruamah, An Nur FC Blora melawan tim asal pesantren asuhan Gus Mus, Robin FC Rembang. Namun, Robin FC harus tunduk pada tim tuan rumah dengan menenggak pahitnya kekalahan 1-0.?

Dengan hasil tersebut, An Nur nantinya masih akan ditandingkan dengan pemenang LSN Region 1 Jateng Grup A Manhik FC Kendal di Stadion Gelora Kartini, Jepara, pada 30 September mendatang untuk memperebutkan posisi wakil ketiga dari Jawa Tengah guna melaju mewakili ke Liga Santri Nusantara tingat nasional. (Ulin Nuha Karim/Mahbib)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita, Nusantara, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba

Bandung, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4) kemarin, Pimpinan Cabang IPPNU kota Bandung menyatakan Deklarasi Pelajar Anti Narkoba di MTs Sirnamiskin, Kopo, kota Bandung, Barat. Deklarasi ini diikuti oleh seratusan pelajar dari tingkat MTs, MA dan SMK beserta para staf guru yang berada dalam satu Yayasan Sirnamiskin itu.

“Yang melatarbelakangi deklarasi pelajar adalah sebagaimana diketahui narkoba kini marak di kalangan pelajar, banyak pelajar yang sudah mengkonsumsi narkoba, sehingga IPPNU bertekad untuk mendeklarasikan bahwa pelajar (NU) di kota bandung bebas dan tidak akan mengenal narkoba,” kata Ketua IPPNU kota Bandung Dhilla Nuraeni Az-Zuhri kepada SMA Negeri 1 Slawi.

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba

Dhilla nama sapaannya memandang penting bagi pelajar, khususnya IPPNU untuk menyikapi permasalahan narkoba, karena narkoba bukanlah budaya dari bangsa Indonesia di samping itu juga dapat menyengsarakan rakyat Indonesia.

SMA Negeri 1 Slawi

“Narkoba juga kejahatan yang luar biasa di mana kita sebagai pelajar harus menjauhi narkoba,” ujarnya.

Deklarasi Anti Narkoba, lanjut Dhilla, berupaya untuk berkomitmen bahwa pelajar di kota Bandung selamanya tidak akan mengenal narkoba serta menyatakan perang terhadap narkoba. “Tidak akan melakukan kegiatan penyalahgunaan narkoba dan akan menciptakan generasi Indonesia yang aktif, kreatif, inovatif dan berprestasi tanpa narkoba,” tambah dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan pengawalan yang rapi dan tertib dari Banser kota Bandung, sosialisasi tentang bahaya narkoba dan deklarasi yang dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Bandung itu berjalan dengan lancar. Sementara yang memimpin pembacaan teks Deklarasi Anti Narkoba adalah salah satu staf BNN dari bagian Tim Pencegahan, lalu teks deklarasi yang dibacakan diikuti serentak oleh peserta deklarasi. 

Menurut Dhilla, tindak lanjut dari deklarasi tersebut pihak IPPNU dan  BNN Kota Bandung akan melibatkan sekolah-sekolah dengan secara rutin tiap bulan memberikan penyuluhan serta aksi untuk tidak mengkonsumsi narkoba.

Dhilla berharap dengan diadakannya deklarasi tersebut dapat menjadikan pelajar Indonesia khususnya kota Bandung semakin sadar bahwa narkoba itu sangat brbahaya. “Pelajar Indonesia harus terbebas dari narkoba, karena narkoba akan merusak generasi penerus bangsa dan agama,” harap alumni Universitas Islam Nusantara itu.

Selain sosialisasi tentang bahaya narkoba dan deklarasi pelajar anti narkoba, dalam acara yang berlangsung sehari itu PC IPPNU juga menggelar Semarak Hari Kartini dengan mengadakan kompetisi pemilihan Mojang Jajaka yang ikuti oleh para siswa-siswi di kota Bandung. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Ahlussunnah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Manfaatkan Rebana untuk Syiar Islam

Pasaman Barat, SMA Negeri 1 Slawi

Qasidah dan rebana merupakan salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan syiar Islam. Untuk itu, kesenian ini harus terus dikembangkan di tengah kehidupan umat beragama Islam.

Hal itu disampaikan Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Propinsi Sumatera Barat Husni Kamil Manik pada pembukaan Festival Rabana dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-85 NU, Sabtu (5/2), di halaman masjid Agung Simpangampek Kabupaten Pasaman Barat.

Manfaatkan Rebana untuk Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Rebana untuk Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Rebana untuk Syiar Islam

Menurut Husni, NU dalam pengembangan syiar Islam selalu memanfaatkan seni budaya lokal untuk memudahkan masyarakat dalam memahami ajaran Islam. "Metode ini merupakan warisan para wali dan aulia," kata Husni menambahkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Husni juga mengingatkan agar dalam proses syiar tersebut, prinsip yang harus dipelihara adalah Adat Basandi Syarak. Yang berarti seni budaya itu harus diisi dengan nilai-nilai keislaman.

SMA Negeri 1 Slawi

Festival Rabana ini diikuti oleh 56 group Qasidah yang berasal dari kelompok Majelis Taklim Yasinan, pesantren, madrasah, sekolah, dan perusahaan perkebunan yang ada di Pasaman Barat. Masyarakat setempat sangat antusias mengikuti Festival Rabana yang pesertanya sangat beragam. Ada group Qasidah putra dan putri, anak-anak dan orang tua lanjut usia.

Festival Rabana ini memperebutkan hadiah piala bergilir dan tabungan BMT Aswaja NU Sumbar sebesar Rp 10 juta yang disumbangkan pengusaha muda Pasaman Barat Febby Sutan Mudo.

Ketua PCNU Pasaman Barat Buya Samidas menyebutkan, penyerahan hadiah direncanakan diberikan oleh Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Prof. DR.KH Said Aqil Siraj, MA pada peringatan Harlah NU tingkat Propinsi Sumatera Barat, Senin 7 Februari 2011 di gedung Pertemuan Pemda Pasaman Barat. (arm)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, Nusantara, Kajian Sunnah SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh menjelaskan bahwa ajaran Islam pertama kali masuk ke Indonesia ialah paham Aswaja. Karenanya paham ini berikut amaliyahnya harus  dipelihara dan dilestarikan.

Demikian disampaikan Kiai Sa’dulloh pada pelantikan MWCNU Rancakalong di Pesantren Darul Anwar Rancakalong, Sumedang, Sabtu (9/1).

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain

Kiai Sa’dulloh berpesan agar pengurus NU harus bahu membahu untuk memperkuat dan membersarkan NU. Tradisi-tradisi ubudiah NU harus terus terjaga, malahan ke depannya pengurus NU harus memikirkan bagaimana meningkatan perekonomian warga NU.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, akhir-akhir ini banyak orang yang tidak suka dengan ubudiah NU. Malahan ada juga yang terang terangan ingin menhancurkan NU. Salah satu cara yang sering mereka lakukan yaitu dengan cara mengadu domba antarwarga NU.

SMA Negeri 1 Slawi

Mereka membuat fitnah-fitnah yang tidak benar. Mereka bukan Islam yang berpaham Aswaja, tapi justru membenci Aswaja. Karena itu kita selaku warga NU harus bisa melawan fitnah-fitnah tersebut.

“Jangan sampai ada warga NU di Sumedang yang terbawa pada bujuk rayuan mereka yang bukan Islam paham Aswaja. Pengurus NU harus bisa membentengi warga nahdliyyin dengan keaswajaan yang sebenarnya,” kata Kiai Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pertandingan, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini

Pekanbaru, SMA Negeri 1 Slawi. Ada fakta unik dalam Majelis Maulid Akbar bersama Buya Yahya dari Cirebon di Masjid Raya, Senapelan Pekanbaru Kamis (15/1) malam. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Riau sengaja turut aktif mengamankan acara tersebut.

Dari beberapa Banser yang hadir ternyata ada dua sosok yang masih satu keluarga, yakni Ibadullah Tengku (42) dan anaknya, Bayu Hasan (20). Mereka adalah satu-satunya ayah dan anak yang jadi Banser dan menunaikan tugas pengamanan bersama dalam satu kegiatan malam itu. Pemandangan ini amat jarang ditemukan di tempat lain.

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini

Pengamanan terhadap pengajian Maulid Akbar Buya Yahya itu bagi ayah dan anak tersebut adalah tugas perdana mereka. Ibadullah dan Bayu sebelumnya mengikuti pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) bersama di Ponpes NU Madinatul Ulum al Ishlah, Kampar 12 sampai 14 Desember bulan lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Apa tanggapan keduanya di tugas perdananya? Ibadullah mengaku senang dan bangga bisa mengawal kegiatan Buya Yahya dan Majelis Al Bahjaj di Pekanbaru. "Sekaligus kita minta didoakan Buya Yahya biar istiqomah menjadi Banser yang selalu siap ditugaskan menjaga ulama dan panji-panji NU," kata Ibadullah.

SMA Negeri 1 Slawi

Senada dengan sang Ayah, Bayu Hasan juga mengaku senang bisa menjadi bagian dari Banser Riau. Apalagi mereka masuk generasi pertama yang kembali menghidupkan Banser Riau setelah lebih dari 10 tahun seperti "mati suri". "Alhamdulillah rasanya senang sekali, bisa bersama-sama dengan ayah tugas jadi Banser," ujar Bayu.

Ia juga memuji Ayahnya yang mau menyisihkan rezekinya buat belikan seragam Banser buat Bayu dan dua orang temannya. "Ayah nabung dan akhirnya bisa beli seragam Banser buat kami," katanya.

Dalam majelis Maulid Akbar oleh Buya Yahya yang digelar di Masjid peninggalan Sultan Abdul Jalil (pendiri kota Pekanbaru dari kesultanan Siak) dihadiri ratusan jamaah. Buya Yahya menyambut gembira keterlibatan Banser Riau dan berharap bisa terus ikut majelis pengajian yang rutin sebulan sekali digelar itu. (Purwaji/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Aksi Intoleran Tidak Wakili Aspirasi Umat Beragama

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur mengatakan, aksi-aksi intoleran yang berlatar belakang agama tidak bisa dilekatkan pada semangat keagamaan itu sendiri. Pasalnya, aksi-aksi intoleran ini lebih didasari pada pandangan sempit keagamaan dan kebangsaan para pelakunya.

Demikian disampaikan Ghopur saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan LKSB di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Aksi Intoleran Tidak Wakili Aspirasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Intoleran Tidak Wakili Aspirasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Intoleran Tidak Wakili Aspirasi Umat Beragama

“Kita sudah 71 tahun merdeka, tetapi kita masih saja belum dewasa dalam bermasyarakat. Kita diancam oleh praktik-praktik intoleran,” kata Ghopur yang juga Wakil Ketua PP Lesbumi.

SMA Negeri 1 Slawi

Aksi-aksi intoleransi ini sebenarnya tidak mewakili aspirasi banyak orang. Itu hanya aspirasi sekelompok orang. “Namun demikian kesempatan ini digunakan oleh sejumlah elit politik untuk kepentingan politik pribadi atau kelompoknya,” kata Ghopur.

Sementara umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buda yang jumlahnya lebih besar dari kelompok mereka ini tetap tinggal diam. Mereka tidak melakukan aksi yang aneh-aneh. Hal ini terjadi karena mereka lebih bersikap dewasa dalam berbangsa dan bermasyarakat, pungkas Ghopur.

SMA Negeri 1 Slawi

Diskusi ini sebelumnya diberi sambutan oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr M Maksum Machfoedz. Forum ini diikuti oleh puluhan aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan dari pelbagai latar belakang agama. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 11 Desember 2017

IPPNU Banyuwangi Tingkatkan Kapasitas Kepengurusan Baru

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Kepengurusan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmah 2015-2018 menjalani satu persatu amanah organisasi. Setelah terbentuk susunan baru kepengurusan, IPPNU Banyuwangi langsung mengadakan “up grading” kepengurusan kemarin. Acara yang dihelat selama dua hari tersebut difokuskan di aula kantor PCNU Banyuwangi.

Ketua IPPNU Banyuwangi Halimah menekankan penting acara ini untuk membentuk kesiapan dan kekompakan pengurus dalam masa khidmahnya selama dua tahun di IPPNU Banyuwangi.

IPPNU Banyuwangi Tingkatkan Kapasitas Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Banyuwangi Tingkatkan Kapasitas Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Banyuwangi Tingkatkan Kapasitas Kepengurusan Baru

“Up grading ini merupakan usaha dari kita untuk menyamakan visi, meningkatkan keterampilan, menjalin keharmonisan, dan kekompakan antarsesama pengurus,” pesannya.

Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 20 pengurus IPPNU Banyuwangi. Pada hari kedua, acara ini diadakan di ruang terbuka hijau Sayu Wiwit.

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Hadir sebagai pemateri antara lain Emi Hidayati (aktivis perempuan/ alumni IPPNU), Ketua IPNU masa khidmah 2011-2013 Lukman Hadi Abdillah, akademisi IAI Ibrahimy Ainurrofiq, dan beberapa narasumber lainnya. Forum ini didampingi oleh pengurus IPPNU Jawa Timur.

Sementara itu, Haikal Kafili yang mewakili PCNU Banyuwangi mengucapkan terima kasih atas dedikasi para pengurus IPPNU yang terus menggiatkan proses kaderisasi di kalangan anak muda.

Haikal mengingatkan betapa pentingnya peranan organisasi kepemudaan di bawah naungan NU di saat problematika remaja yang begitu silang sengkarut.

“IPPNU ini oase bagi pergaulan remaja saat ini,” ungkapnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul, Nusantara, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 21 Juli 2017

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Setelah Ma’had Aly sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren pada jenjang Pendidikan Diniyah Formal (PDF) diresmikan bulan Mei 2016 lalu, kini Kementerian Agama (Kemenag) juga meresmikan sekolah berbasis pesantren yang meliputi Pendidikan Diniyah Formal tingkat Ula (setingkat MI/SD), Wustho (setingkat MTs/SMP), dan Ulya (setingkat MA/SMA/SMK).?

Peresmian bertajuk Dari Pesantren untuk Bangsa? ini dilaksanakan, Senin (1/8) di Pondok Pesantren Minhaajurrasyidiin Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada tahun pertama, Kemenag meresmikan 12 PDF tingkat Wustho dan Ulya dari seluruh Indonesia. Penetapan legalitas ini juga disertai penyerahan Surat Keputusan (SK) izin operasional kepada 12 PDF tersebut.

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Hadir dalam acara peresmian ini di antaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI Mohsen, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi, Pengasuh Pesantren Darurrohman KH Syukron Makmun, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Abdurrahman, Ketua Yayasan Minhaajurrasyidiin Nur Faizi Suwandi, Ketua MUI DKI Jakarta KH Syarifuddin Abdul Ghani, Pengasuh Pesantren Minhaajurrasyidin KH Asy’ari Akbar, dan Asosiasi Pondok Pesantren se-DKI Jakarta.

Kasubdit Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi menerangkan, legalitas Pendidikan Diniyah Formal pada tingkat Ula, Wustho, maupun Ulya yang berbasis di pesantren menetapkan satuan pendidikan di pesantren ini setara dengan lembaga pendidikan formal lain seperti madrasah dan sekolah umum.

SMA Negeri 1 Slawi

“PDF pada berbagai tingkatan ini merupakan jenis layanan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal. Karena pendidikan keagamaan Islam, maka tujuannya untuk mencetak para kader ulama yang ahli di bidang ilmu agama Islam,” ujar Zayadi.

Karena tujuannya untuk mencetak ahli-ahli di bidang ilmu agama Islam, lanjut Zayadi, maka kurikulum yang diterapkan di Pendidikan Diniyah Formal kebalikan madrasah. “Jika di madrasah porsi ilmu umum 75 persen dan ilmu agama 25 persen, maka PDF sebaliknya, 75 persen ilmu agama Islam dan 25 persen ilmu umum,” imbuhnya.

Dikatakan Zayadi, karena PDF ini dilksanakan di pesantren, maka pembelajarannya harus berbasis kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Hal ini yang menjadi pembeda (distingsi) dengan layanan pendidikan keagamaan lain. Dia mengakui bahwa layanan pendidikan ini memang baru, tapi pihaknya akan terus berkomitmen mengembangkan PDF ini dari tingkat Ula, Wustho, Ulya hingga Ma’had Aly sebagai lembaga pencetak kader ulama.

Senada dengan Zayadi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen menjelaskan, PDF merupakan pendidikan berbasis ponpes yang dirancang Kemenag untuk mewujudkan ulama masa depan yang menguasai ilmu agama dengan baik namun tetap menjunjung tinggi toleransi di masyarakat.

SMA Negeri 1 Slawi

"Peluncuran ini merupakan bagian dari tantangan Kemenag memainkan peran strategis untuk membentuk masyarakat yang semakin religius namun toleran melalui pendidikan formal berbasis pesantren," ujar Mohsen yang hadir mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menag berhalangan hadir karena ada agenda rapat dengan Presiden RI Joko Widodo.

Lebih lanjut, Mohsen berharap bahwa melalui PDF ini, lulusan sekolah berbasis pesantren ini juga mampu bersaing dengan lulusan sekolah formal lain dengan menggunakan ijazah formal yang diperoleh usai kelulusan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Tokoh, Halaqoh, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 16 Juni 2017

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Caracas, SMA Negeri 1 Slawi. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Senin (18/9) mengungkapkan rasa hormatnya atas pernyataan maaf Paus Benediktus XVI soal Islam dan penyebaran ajaran Nabi Muhammad sebagai "kejahatan dan tidak manusiawi" yang menuai protes dari umat Islam di seluruh dunia.

"Kami menghargai Paus dan seluruh pihak yang cinta pada perdamaian dan keadilan," ungkap Ahmadinejad. "Saya memahami bahwa dia (Paus Benediktus XVI) telah meralat pernyataannya yang dia buat."

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Seperti diberitakan, Paus dalam kuliah umum di Aula Magna, Universitas Regensburg, Jerman, Selasa lalu, mengutip pernyataan Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus mengenai makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang. Sehubungan dengan itu, Paus "dengan setulusnya menyesali" bahwa pernyataannya tersebut telah melukai umat Islam, di mana kalimat itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus.

Dalam kunjungannya selama dua hari ke Venezuela, Ahmadinejad juga mengatakan adanya kontradiksi antara nilai-nilai (ajaran) Kristen negara-negara Barat dengan perang yang selama ini mereka lancarkan.

"Seluruh pertempuran abad ke-20 (terjadi) disebabkan oleh (ulah) sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat (AS)," kata Ahmadinejad seperti dilansir sumber AP dan AFP.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia juga mengingatkan bahwa "Isa sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah figur yang cinta perdamaian dan keadilan bagi kemanusiaan." (dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Olahraga, Pondok Pesantren SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 22 Mei 2017

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi
Dalam rangka kongres PMII ke XV yang akan datang, mantan ketua PMII tahun 1977-1980 H. Ahmad Bagdja mengharapkan agar kongres kali ini tak lagi membicarakan tentang model-model gerakan dan topik kajian tentang faham yang sifatnya global seperti liberalisme, sosialisme, islamisme dan lainnya.

“Saya kira ini tetap penting, namun demikian kiranya perhatian dialihkan pada sosialisasi dan transformasi nilai nilai yang dikandung PMII kepada masyarakat yang menjadi sasaran pemberdayaannya. Kerja PMII harus kongkrit disitu” tandasnya (19/05).

Dalam hal ini ada dua hal yang harus dilakukan, yang pertama ia harus menguatkan struktural organisasi yang harus kuat. Ini merupakan salah satu cara untuk bersaing dalam komunitas mahasiswa lainnya. Kedua adalah penghayatan terhadap kultur harus lebih luas dan proses tranformasinya harus lebih digalakkan. Jadi harus tumbuh orang PMII yang secara kultural gandrung pada perbaikan, lebih teraktualisasikan dalam masyarakat.

PMII juga harus membangun sebuah kesadaran tinggi bahwa proses ber PMII itu akan sangat panjang, tak mengenal berhenti dalam mengenal nilai dan mendewasakan masyarakat, tidak Cuma ketika menjadi pengurus.

“Ber-PMII harus secara kultural yang mana ia memiliki tanggung jawab moral. Ini yang diminta dari kita, dari generasi yang lebih tua. Kalau cuma ketika pengurus, ya mungkin selesai berperiode, secara struktural. Tapi secara kultural ia harus melakukan kerja-kerja yang lintas periode. Ini yang harus menjadi pegangan,” tambahnya.

Bagdja yang saat ini menjabat sebagai koordinator nasional Foksika (Forum Komunikasi dan Silaturrahmi) mengungkapkan bahwa PMII saat ini secara kuantitatif anggotanya makin banyak, kelembagaannya makin berkembang, di cabang, komisariat, di berbagai perguruan tinggi dibandingkan zaman tahun 1970-an.

Para anggotanya saat ini juga lebih beragam. Jika zaman dahulu sebagian besar datang dari pesantren, Aliyah atau IAIN yang memiliki latar belakang keagamaan yang memadai saat ini telah mulai berkembang. Saat ini mereka datang dari basis pendidikan yang umum, masuk perguruan tinggi umum juga yang sedikit sekali tersentuh dengan pemikiran mendasar keagamaan, khususnya nilai yang patut dikembangkan PMII.

“Yang harus tetap diingat adalah melalui kongresnya dia harus tetap berpijak nilai-nilai asal muasal kejadiannya, yaitu meskipun secara organisatoris tak terikat dengan NU, tetapi ia juga mengemban misi NU seperti dirumuskan dalam Nilai Dasar Pergerakan,” imbuhnya.

Namun demikian, Bagdja menilai tampaknya sosialisasi faham ahlusunnah wal jamaah hanya dalam formal training, padahal yang harus dilakukan PMII adalah proses tranformasi nilai sehingga ketika menyerap ilmu yang lain dasarnya harus dari situ.

Bagdja menjelaskan bahwa PMII memiliki tiga keterikatan yang meliputi keterikatan sebagai sebagai umat Islam, keterikatan sebagai pemuda bagian dari generasi muda Indonesia dan keterikatan ketiga adalah sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.

“Yang saya tekankan adalah tanggung jawab dia sebagai generasi muslim yang memiliki kewajiban untuk mengembangkan nilai-nilai keislaman. Ini berarti disamping sebagai organisasi yang dibangun dari PB sampai komisariat juga sebagai komunitas kultural yang semestinya harus berupaya agar kultur, tradisi, nilai yang menjadi nafas ruh harus teraktualiasasikan dalam kehidupan sehari-hari,’ tegasnya.

Kalau dilihat dari konteks ini, PMII memiliki lahan yang cukup untuk dia berinteraksi mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat yang lebih luas karena keasamaan kultur dengan masyarakat NU.

Terdapat persamaan kultural antara PMII dan NU, kedua tokoh PMII pada umumnya tak jauh dengan NU baik secara kultur atau struktur, banyak yang menjadi pengurus NU. “Buat kiprah kemasyarakat saya kira tak sulit dan orang NU akan menerima ketika disebut dari PMII,”

Pada periode kepemimpinannya Ketua PBNU tersebut menjelaskan bahwa dalam aktifitas sehari-hari, hubungan dengan NU, dengan kyai, alim ulama sangat erat. PMII selalu diikutkan dalam berbagai acara NU seperti bahsul masail, munas, dan lainnya. PMII dulu juga memiliki departemen dakwah yang melakukan kerja interaksi dalam masyarakat, tentu dakwah yang dilakukan juga berbeda.(mkf)

 

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Nusantara, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat

Selasa, 02 Mei 2017

PCNU Lasem Dukung Verifikasi Data Penerima Bantuan KPS

Rembang, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lasem mendukung upaya pemerintah dalam penanganan penerima dana kompensasi kenaikan BBM. Pendataan ulang merupakan sebuah alternatif untuk menekan kemungkinan terjadinya sengketa di tengah masyarakat.

PCNU Lasem Dukung Verifikasi Data Penerima Bantuan KPS (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Lasem Dukung Verifikasi Data Penerima Bantuan KPS (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Lasem Dukung Verifikasi Data Penerima Bantuan KPS

Ketua PCNU Lasem Sholahuddin Fattawi menilai langkah itu cukup efektif menutup ketidakpuasan warga yang tidak menerima Kartu Perlindungan Sosial (KPS).

"Pendataan ulang memang saya nilai sedikit menangani permasalahan para penerima dana kompensasi. Karena banyak masyarakat tetap ada yang iri para warga yang menerima uang dampak kenaikan BBM,” kata Sholahuddin yang biasa disapa Gus Din.

SMA Negeri 1 Slawi

Pihak PCNU Lasem sendiri, kata Gus Din, juga sudah melakukan pendataan ulang sebagai upaya membantu pemerintah dalam mengatasi kusutnya permasalahan dana kompensasi kenaikan BBM.

SMA Negeri 1 Slawi

Pelaksana tugas Bupati Rembang H Abdul Hafidz kepada media menjelaskan, pendataan ulang warga kurang mampu akan dijadikan acuan oleh pemkab dalam penyaluran bantuan kompensasi pengganti subsidi BBM atau program pengentasan kemiskinan lainnya.

Pasalnya, data yang digunakan saat ini adalah hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 yang tidak lagi relevan dengan kondisi riil masyarakat saat ini.

Menurut Hafidz, salah satu tahapan yang perlu dicermati warga ialah adanya uji publik atas data awal keluarga kurang mampu.

Untuk itu perlu diperhatikan agar nama-nama yang tercantum benar-benar keluarga kategori kurang mampu dan layak menerima bantuan. Hafidz menyebut pendataan ulang akan mulai dilakukan pada 2015 mendatang.

Dukungan pro aktif dan kejujuran aparat desa serta pihak terkait, kata Hafidz, dapat menyelsaikan kusutnya permasalahan BLSM. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Warta, Nusantara, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 27 April 2017

Sebarkan Aswaja, Rais Aam Berharap LDNU Punya Dai-dai Andal

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin berharap Lembaga Dakwah NU (LDNU) dapat menjadi lembaga yang efektif dan mempunyai dampak yang besar dalam menyebarluaskan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menekankan sikap moderat.

Sebarkan Aswaja, Rais Aam Berharap LDNU Punya Dai-dai Andal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebarkan Aswaja, Rais Aam Berharap LDNU Punya Dai-dai Andal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebarkan Aswaja, Rais Aam Berharap LDNU Punya Dai-dai Andal

Menurutnya LDNU perlu menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat secara sistematis. “Di sinilah kita perlu kader dai yang andal di berbagai provinsi,” tuturnya saat menerima sejumlah pengurus pusat LDNU untuk memaparkan hasil rapat kerja, Senin (12/10), di Ruang Syuriah, Gedung PBNU Lantai 4, Jakarta.

Di depan rombongan yang dipimpin oleh Ketua LDNU KH Manarul Hidayat itu, Rais Aam juga mengimbau agar LDNU tetap meneruskan dan mengembangkan istighotsah, di samping upaya-upaya formal yang telah direncanakan.

SMA Negeri 1 Slawi

KH Manarul Hidayat? menyampaikan hasil rapat kerja yang digelar minggu lalu itu didampingi ketua dari tiap-tiap divisi yang telah dibentuk. Untuk melancarkan program lima divisi yang telah dibentuk, LDNU membentuk dua satuan tugas, yaitu tim 4 untuk merapikan administrasi kelembagaan serta tim 9 untuk menggerakkan seluruh program LDNU agar dapat berjalan sesuai perencanaan. “Kami sangat bersyukur LDNU di bawah naungan Rais Aam,” tutur Kiai Manarul.

SMA Negeri 1 Slawi

Di akhir pertemuan, KH Ma’ruf Amin berpesan agar semua pengurus dapat mengemban amanah dengan baik. LDNU harus mampu menjaga dan melindungi umat dari berbagai pemahaman dan pemikiran yang sesat serta memberdayakan umat agar tidak menjadi dhuafa. “Peran LDNU sangat penting sebagai corong dari NU," tutupnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Pertandingan, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 15 Oktober 2015

Takut Si Mayit Kabur

Suatu hari di dalam kelas fiqih. Pak guru sedang menerangkan bab shalat jenazah.

“Jadi, tata cara shalat jenazah itu sedikit beda dengan shalat pada umumnya!” kata guru menerangkan.

“Kenapa bisa begitu, pak?” tanya Joko.

Takut Si Mayit Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)
Takut Si Mayit Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)

Takut Si Mayit Kabur

“Karena di dalam shalat jenazah tidak ada rukuk, sujud dan lainnya.

“Kenapa bisa begitu, pak?” kembali Joko menimpali.

“Ya, coba ada yang tahu jawabannya?” guru sedikit bingung, mengalihkan pertanyaan ke santri.

Murid-murid pun terdiam. Bingung... tiba-tiba Mahmud nyeletuk.

SMA Negeri 1 Slawi

“Soalnya kalau pakai rukuk, takut mayitnya kabur, pak! Pas bangun, sudah hilang!”

Gerrr.. seluruh kelas pun menjadi riuh... Pak guru, mencoba menenangkan kelas, antara ingin meluruskan jawaban dan tersenyum sendiri. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 20 Mei 2013

Dimakamkan di Kajen, Kiai Nafi’ Dapat “Kapling” Istimewa

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Setelah muncul keputusan dibawa pulang dari Turki ke Indonesia pada Selasa, 21 Februari 2017, jenazah KH A Nafi’ Abdillah bakal mendapat “kapling” peristirahatan terakhir istimewa. Yakni di dekat pusara Almaghfurlahuma KH Abdullah Salam dan Nyai Hj Aisyah.

Informasi tentang lokasi makam sebelumnya disampaikan Mujibur Rachman Ma’mun, keponakan almarhum. “Insya Allah, jenazah beliau akan sampai di Kajen pada Selasa malam Rabu, jam 21.00 atau 22.00. Dan langsung dimakamkan di tempat beliau duduk ini, wonten ngandape Mbah Kakung,” tulis Gus Mujib pada foto Kiai Nafi’ yang ia unggah di Facebook, Ahad (19/2) malam.

Dimakamkan di Kajen, Kiai Nafi’ Dapat “Kapling” Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimakamkan di Kajen, Kiai Nafi’ Dapat “Kapling” Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimakamkan di Kajen, Kiai Nafi’ Dapat “Kapling” Istimewa

Dikonfirmasi terpisah, Ahmad Nadhif Abdul Mudjib, salah satu putra menantu almaghfurlah Kiai Nafi’, membenarkan hal tersebut. Gus Nadhif mengkonfirmasi hal tersebut di sela perhelatan tahlil malam pertama di kediaman almarhum.

SMA Negeri 1 Slawi

“Njih (betul). Posisi Abah agak ke arah selatan bersandingan dengan Mbah Nyai Aisyah, istri Mbah Dullah,” ujar Gus Nadhif saat dihubungi SMA Negeri 1 Slawi, Ahad (19/2), melalui telepon pintar.

Almarhum Kiai Nafi’, lanjut dia, meninggalkan satu orang istri, Hj Mahmudah, beserta delapan anak, dua putri dan enam putra. Berturut-turut: Junnatun Muhassonah, Ni’ma Diana, Muhammad Abbad, Nur Dihyah, Muhammad Alauddin Luthfi, Wasi’ Hilmy, Muhammad Athoillah, dan Halim Shidqi.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Gus Nadhif, Kiai Nafi’ hingga akhir hayatnya masih aktif mengasuh Pesantren Mathali’ul Huda Polgarut Selatan (PUSAT) untuk santri putra dan Ponpes Al-Husna untuk putri. Selain itu, almarhum juga aktif mengajar di Madrasah Mathali’ul Falah Kajen dan mengaji di Ahad pagi untuk ribuan jamaah dari berbagai daerah.

Malam pertama sepeninggal almarhum, di kediamannya di kompleks Pesantren Al-Husna digelar pembacaan tahlil yang diikuti ratusan santri dan ribuan jamaah dari sekitar Kajen. “Malam ini, kami tahlil pertama di ndalem beliau yang sederhana,” ujarnya.

Sebelumnya, Kiai Nafi’ dinyatakan meninggal dunia akibat sakit jantung setelah kelelahan usai melaksanakan umroh dilanjutkan lawatan ke Uzbekistan dan Turki. Rombongan mendarat di bandara internasional Istanbul, Jumat (17/2) sore waktu setempat.

Turut serta dalam rombongan tersebut sejumlah keluarga inti almarhum, antara lain Hj Mahmudah (istri), Gus Rozaq (putra menantu), Hj Ishmah (adik), dan sang adik ipar, KH Ulinnuha Arwani Kudus. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Jadwal Kajian, Nusantara SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 26 Desember 2012

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Sijunjung, SMA Negeri 1 Slawi

Nahdlatul Ulama tidak pernah menolak tradisi Nusantara, selama hal itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits. Selagi itu budaya positif, NU tak segan mengakomodasi tradisi tersebut dalam kehidupan beragama.

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Sijunjung Buya Bustamam Habib pada acara halal bihalal PCNU Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (3/8/2016) di Mesjid Raya Baiturrahman Sungai Lansek, Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.

Buya Bustamam mencontohkan, tradisi halal bihalal yang dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia tidak diterangkan secara eksplisit di dalam Al-Quran dan Hadist Nabi. Namun, halal bihalal ini sangat dianjurkan karena menjadi sarana meningkatkan silaturahim.

SMA Negeri 1 Slawi

Di bagian lain Buya Bustaman menyebutkan, semangat ber-NU terbersit dari nilai-nilai perjuangan NU di masa silam untuk bangsa Indonesia. Selain ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang tertanam di dalam diri setiap individu masyarakat NU juga nilai bahwa NKRI adalah sebuah kajian final untuk sebuah negara yang wajib ditaati oleh setiap warganya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari awal perjuangan sampai kepada kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, NU berkomitmen untuk menjaga dan merawat bangsa Indonesia secara utuh. Maka, kecintaan masyarakat NU harus dibuktikan dengan kembalinya ke pesantren dan masjid.

“Seperti yang kita lakukan pada saat ini. Bukti pertama bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung sedang mendirikan pesantren Nurul Ilmi,” kata Buya Busatamam Habib yang juga akan mengasuh dan memimpin langsung pesantren tersebut.

Bukti kedua bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung dalam setiap acara dilakukan di masjid mulai dari pelantikan MWC NU sampai dengan perayaan-perayaan hari besar.

Halal bihalal dihadiri lebih kurang 300 jamaah dengan penceramah Buya Hendri Malin Sulaiman yang juga ulama NU Kabupaten Sijunjung.

Turut memberikan sambutan Staf ahli Bupati Kabupaten Sijunjung Syahril dan hadir juga Kasi Pontren Kemenag Sijunjung Yoni Hendra, Dandim, MWCNU, camat dan wali wagari setempat. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock