Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Arab Pegon

Biasanya disebut pula Arab Pego atau Arab Jawi, yaitu tulisan dengan huruf Arab atau huruf hijaiyah tapi menggunakan bahasa Jawa. Di daerah lain disebut dengan Arab Melayu karena menggunakan Bahasa Melayu atau Indonesia; atau bahasa lokal lain yang ditulis dengan huruf Arab. 

Jika dilihat dari kejauhan, tulisan Arab Pegon seperti tulisan Arab pada biasa, namun kalau dicermati sebenarnya susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab. Orang Arab asli tidak akan bisa membaca tulisan ini.

Arab Pegon (Sumber Gambar : Nu Online)
Arab Pegon (Sumber Gambar : Nu Online)

Arab Pegon

Huruf konsonan dalam tulisan Arab Pegon ini diwakili oleh huruf-huruf hijaiyah yang mirip bunyinya, seperti “m” dengan mim (Ù…). Sementara huruf vokalnya diwakili dengan huruf-huruf yang dalam tulisan Arab berfungsi untuk memanjangkan bacaan huruf, yakni alif (ا), wawu (Ùˆ) dan ya (ÙŠ). Alif untuk mengganti huruf “a”, wawu untuk huruf “u” dan “o”, serta ya’ untuk konsonan “I”. Untuk vokal e ditulis tanpa ada huruf bantu atau terkadang dipakai tanda khusus berupa garis bergelombang (~).  

Misalnya kata makan dituliskan dengan huruf mim, alif, kaf, alif dan nun menjadi ماكان dan kata belajar dengan hurub ba, lam, alif, jim, alif, dan ro’ بلاجار .

SMA Negeri 1 Slawi

Selain huruf yang sudah ada padanannya, untuk huruf yang tidak ada dalam abjad hijaiyyah seperti bunyi sengau “ng” atau dan huruf “c”, dipakai huruf tertentu dengan menambahkan titik tiga: Ng dengan ghoin (غ)titik tiga dan c dengan jim (ج) titik tiga.

Kalangan pesantren atau warga NU masih banyak menggunakan tulisan Arab Pego sebagai alat komunikasi tertulis. Arab pego ini diajarkan jauh lebih dulu dari pada sekolah formal Hindia Belanda, sehingga banyak orang tua yang tidak bisa membaca huruf latin atau buta huruf, namun bisa membaca tulisa Arab Pego.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam tradisi bahtsul masail di kalangan tarekat misalnya, pertanyaan dan jawaban tetap ditulis dengan huruf Arab Pego. Beberapa kitab karya ulama Nusantara yang berbahasa melayu atau jawa juga ditulis dengan huruf Arab Pegon. 

Tulisan Arab Pego, terutama dalam bahasa Jawa, biasa digunakan untuk ngabsahi atau memberikan makna kata-perkata dalam kitab kuning. Biasanya makna ini ditulis di sela-sela baris.

Pada masa lalu, Arab Melayu atau Jawi ini digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa pendidikan. Beberapa karya sastra seperti Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis dengan aksara Arab Melayu atau Jawi ini.

Demikian juga dengan karya-karya keagamaan seperti karya-karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari  di Banjarmasin atau karya-karya Kiai Shaleh Darat di Semarang, Jawa Tengah. Surat-surat raja Nusantara, stempel kerajaan,  dan mata uang pun ditulis dalam aksara Arab Melayu/Jawi ini.

Sejak tahun 1920an, Pemerintah kolonial secara pelan mulai menggantikan penggunaan aksara Arab Melayu atau Pego ini dan menggantikannya dengan aksara latin. Dalam beberapa decade, aksara Arab Melayu perlahan menghilang dari komunikasi tertulis secara resmi, baik di pemerintahan, pendidikan maupun media. 

Kini Arab Pego ini hanya dipakai di kalangan terbatas pesantren, baik di Jawa maupun di belahan Nusantara lainnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 24 Februari 2018

Jelang Kongres XV, Ansor Jatim Belum Tentukan Pilihan

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Menjelang Kongres XV Gerakan Pemuda Ansor, Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur hingga kini belum menentukan siapa calon yang bakal diusung untuk menggantikan Nusron Wahid dalam kongres yang bakal digelar di Pesantren Sunan Pandanaran, Jalan Kaliurang Km 12,5 Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta, 25-27 November 2015 mendatang.

"Untuk Ansor Jawa Timur memang belum menentukan pilihan siapa yang bakal dicalonkan pada Kongres XV mendatang. Tapi yang jelas Jawa Timur memiliki banyak kader yang siap untuk memimpin Ansor,” ujar Rudy Nur Wahid, Ketua PW GP Ansor Jatim.

Jelang Kongres XV, Ansor Jatim Belum Tentukan Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres XV, Ansor Jatim Belum Tentukan Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres XV, Ansor Jatim Belum Tentukan Pilihan

Rudy mengatakan pihaknya masih akan melakukan rapat dengan beberapa pengurus cabang untuk menentukan pilihan bersama pengurus wilayah. Karena, imbuhnya, beberapa kandidat sudah banyak yang turun melakukan komunikasi dengan pengurus cabang. "Kita masih akan merapatkan bersama pengurus lainnya," terang alumni IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Rudy, salah satu kader yang sangat memenuhi kriteria dan persyaratan dalam PD/ PRT adalah Sholahul Am Notowono (mantan Ketua PC GP Ansor Jombang) yang juga salah satu wakil ketua di PW GP Ansor Jatim. "Kalau dari kriteria dan persyaratan, di (Gus Aam) sangat memenuhi, usia belum 40 tahun, mantan ketua cabang dan telah lulus PKN," bebernya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dikonfirmasi terkait kemunculan dirinya dalam bursa calon Ketua Umum PP GP Ansor menggantikan Nusron Wahid,? Sholahul Am (Gus Aam) tidak banyak komentar.? Dia hanya mengatakan sebagai kader? GP Ansor harus selalu siap mengemban amanah. "Lihat perkembangan saja lah, kalau diberi amanah semua kader Ansor tidak boleh menolak," jawab Katib Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.

Dalam proses kaderisasi organisasi, Gus Aam adalah Ketua PC GP Ansor Jombang.? Kini dia merupakan salah satu Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur dan merupakan salah satu kader yang telah lulus kaderisasi tingkat nasional (PKN).

Dari informasi yang dihimpun, sejumlah nama kandidat beredar di kalangan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor di Jawa Timur. Nama-nama itu di antaranya, KH Abdussalam Sohib (ketua pengasuh Pengasuh Ponpes Mabaul Maarif, Denanyar, Jombang), Syaikhul Islam (anggota DPR RI Fraksi PKB), dan Dhofir Al Farisi (kerabat Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Probolinggo dan Pesantren Ciganjur), Yakut Kholil Khoumas (anggota DPR RI Fraksi PKB), Idi Muzayyat (mantan Ketua Umum PP IPNU), dan Sholahul Am Notobuwono (wakil ketua PW GP Ansor Jatim dan juga Katib Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tamakberas Jombang).? (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, AlaNu SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 21 Februari 2018

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

Di antara ibadah yang disunahkan Rasulullah ialah shalat witir. Saking tegasnya kesunahan ini, sebagian ulama mewajibkan shalat witir seperti yang dikenal dalam madzhab Hanafi. Ketegasan anjuran ini diperkuat dengan kesaksian para sahabat. Beberapa orang sahabat seperti Abu Hurairah dan Abu Dzar diwasiatkan oleh Nabi SAW agar tidak meninggalkan shalat witir.

Menurut Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari’, pesan Rasulullah SAW ini memiliki hikmah. Di antara hikmahnya, agar para sahabat terbiasa witir, menunjukkan kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya pada malam hari. Witir sangat dianjurkan karena shalat termasuk kategori ibadah badaniyah yang paling mulia dan utama.

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Artinya, “Anjuran witir sebelum tidur mengisyaratkan agar sahabat membiasakannya, sekaligus tanda kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya malam hari. Sementara malam merupakan waktu paling baik untuk santai, tidur, dan istirahat.”

Sebenarnya, shalat witir lebih baik dikerjakan di akhir malam atau menjelang waktu shubuh. Namun bila khawatir tidak bangun pada waktu itu, Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaannya sebelum tidur. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Jabir, Rasulullah SAW berkata:

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah terlebih dahulu. Sementara orang yang yakin bangun di akhir malam, kerjakanlah witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama,” (HR Muslim).

Menurut hadits ini, shalat di akhir malam disaksikan oleh para malaikat. Tentu makhluk agung itu tidak hanya sekedar melihat. Mereka sekaligus membawa rahmat untuk makhluk bumi.

Dalam hadits lain dikatakan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya pada akhir malam, sehingga siapapun yang berdo’a kepada-Nya akan dikabulkan, (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 20 Februari 2018

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur

Sidoarjo, SMA Negeri 1 Slawi. Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun, memimpin prosesi sumpah untuk 2.300 warga korban lumpur Lapindo Brantas Inc. yang tidak memiliki bukti kepemilikan lahan dan bangunan rumah mereka yang terendam lumpur di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Rabu.

Pengambilan sumpah di pendopo kabupaten itu dilakukan oleh petugas Kanwil Depag Jatim disaksikan Bupati Sidoarjo Drs. Win Hendrarso, Ketua Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sunarso, serta perwakilan PT. Minarak Lapindo Jaya (PT MLJ) Bambang P. Widodo.

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun Sumpah Ribuan Korban Lumpur

Ribuan warga tersebut disumpah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah ribuan warga disumpah, menurut rencana, warga lain yang juga tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan luasan lahan dan bangunan rumah mereka dalam bentuk IMB, juga akan mendapatkan giliran untuk disumpah.

Rencananya, Tim Pelaksana Verifikasi akan menyumpah warga korban lumpur sebanyak 500 orang setiap hari. "Mengingat jumlah warga yang disumpah sangat banyak, tim verifikasi akan menyesuaikan jadwal penyumpahan yang telah disiapkan," kata Ketua Pelaksanan Tim Verifikasi Yusuf Purnama, SH.

Cak Nun yang hadir didampingi istrinya, Novia Kolopaking beserta rombongan kelompok musik Kyai Kanjeng dari Yogyakarta memimpin prosesi sumpah tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebelum sumpah dimulai, Cak Nun mengajak warga yang beragama Islam untuk bersama-sama membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW, surat Yasin dan doa Nabi Yunus.

"Warga saat ini seperti Nabi Yunus yang sedang masuk dalam perut ikan Paus, tapi warga korban lumpur saat ini masuk ke dalam perut lumpur," kata Cak Nun.

Ia menambahkan, prosesi sumpah yang dilakukan oleh warga korban lumpur ini dilakukan untuk menggugah hati nurani warga dengan menyatakan luasan lahan dan bangunan milik mereka dengan jujur dan benar.

Sebab ia menilai, perdebatan antara warga korban lumpur dengan pihak Minarak Lapindo Jaya selaku pihak pembayar atas ganti rugi dalam proses penentuan luasan lahan dan bangunan warga tidak menemui titik temu.

"Ini semua untuk kelancaran, dengan pertimbangan untuk mencari solusi ketika silang pendapat tentang perbedaan penetapan luasan bangunan yang tidak kunjung usai. Sebab, aturan normatif dan administrasi dinilai tidak bisa menjangkau. Untuk itu, sumpah adalah upaya terakhir untuk mencari kebenaran," lanjut Cak Nun.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menerangkan, jika sumpah itu sudah dilakukan oleh semua warga, kejujuran menjadi dalih terakhir. Jaminannya, menurut Cak Nun, hanya terletak pada Allah SWT.

"Seperti ayat-ayat suci yang kami kumandangkan tadi, bahwa itu semua berlaku untuk semua warga yang menjadi korban lumpur," terangnya.

Selain warga korban lumpur melakukan sumpah di pendopo kabupaten, PT. Minarak Lapindo Jaya yang diwakili Bambang P. Widodo juga menyatakan kesanggupannya membayar ganti rugi sesuai apa yang diajukan warga korban lumpur.

"Apa yang disampaikan Minarak itu juga merupakan sumpah, dan kewajibannya adalah dari batin dan substansinya," tambah Cak Nun.

Ia menambahkan, dalam proses mendampingi perjuangan warga korban lumpur, dirinya akan tetap mendampingi warga korban lumpur untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Sebab, mundur atau tidak dalam mendampingi warga korban lumpiur, itu semua diserahkan kepada Allah SWT.

"Saya ini tidak tahu posisinya ada di mana, tapi yang jelas saya berada di semua pihak, karena saya tidak berpihak pada siapa-siapa. Tapi, saya bersama teman-teman akan terus berjuang sampai terwujud 100 persen pembayarannya," terangnya.

Pengambilan sumpah ini merupakan terobosan di luar mekanisme hukum untuk menjembatani kebuntuan perundingan antara PT. MLJ dengan warga korban lumpur.

Selama ini PT. MLJ bersikeras berpedoman pada Perpres 14 / 2007 tentang BPLS, dimana acuan luasan bangunan yang diganti rugi adalah IMB. Jika tidak memiliki IMB maka acuan alternatifnya adalah survey dari ITS.

Namun, bila tidak tercover oleh survey ITS, maka luasan bangunannya mengacu pada kenyataan warga yang disahkan oleh Camat dan Kepala Desa masing-masing.

Dalam pelaksanaan di lapangan, tampaknya banyak terjadi kerumitan, misalnya untuk warga Perum TAS 1 yang rumahnya sudah direnovasi, tetap minta luasan renovasinya diganti rugi.

Padahal luasan renovasi itu tidak ada dalam IMB. Ada juga rumah yang tidak memiliki IMB dan luasan bangunan hanya berdasarkan pernyataan warga saja.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, akhirnya dilontarkanlah ide pengambilan sumpah sebagai penguat pernyataan warga, dimana warga yang akan mempertanggungjawabkan kebenaran sumpah tersebut kepada Tuhan YME. (ant/eko)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Sholawat, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Dalam kitab Tarikh al-Tasyri al-Islami karya Syekh Muhammad Khudhari Bek diceritakan dialog antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Auzai:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?! ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Sufyan bin Uyainah menceritakan bahwa pada suatu kesempatan Imam Al-Auza’i dan imam Abu Hanifah bertemu di Mekkah. Terjadilah dialog di antara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Auzai bertanya: "Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?”

SMA Negeri 1 Slawi

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada Hadits yang shahih dari Rasulullah SAW atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah SAW bahwa beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” bantah Auza’i.

Abu Hanifah pun merespon, "Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

Auza’i mencoba membantah argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada anda Hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan Hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

[Kalau sebelumnya kedua imam besar ini sama-sama membacakan sanad Hadits, sampai di sini Auzai mulai mengajukan penilaian terhadap kualitas rawi]

Abu Hanifah menjawab: "Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam.

Ini artinya masing-masing imam telah menjelaskan argumentasinya, dan mereka kemudian diam dan saling menghormati perbedaan pendapat di antara mereka yang disebabkan perbedaan dalam menerima dan menilai kekuatan sanad suatu Hadits.

Imam Syafii juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al-Umm dan lebih-lebih lagi dalam kitab al-Risalah.

Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang. Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yang beliau gunakan. Maka tampillah Imam Syafii membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yang membuat para ulama menggelari Imam Syafii sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

Imam Syafii dalam juz dua kitab al-Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ] ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ?:

?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Seseorang berkata kepadaku, "definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?"

Imam Syafii menjawab: "Itu adalah Khabar (Hadits) Ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau."

"Kehujjahan Khabar Ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram."

"Dia harus punya hafalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hafalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan? dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung? sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah]."

Dari dua kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil Al-Quran dan Hadits sehingga anak zaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada Al-Quran dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan Al-Quran dan Hadits. ?

Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yang sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yang terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi uduk, sampai nasi kabuli. Eh, pas baru mau makan, ada yang teriak: "jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!"



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Sunnah, Pondok Pesantren SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Merah Putih akan Hiasi Mina

Makkah, SMA Negeri 1 Slawi. Sebanyak 350 petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) diterjunkan untuk membantu kelancaran proses ibadah mabit (bermalam) dan melontar jumroh di Mina. Mereka juga bertugas mengibarkan bendera merah putih agar Calhaj Indonesia tidak tersesat.

"Sebagian ditugasi membawa bendera dan mengibarkan-ngibarkannya untuk membantu jamaah yang kebingungan dan tersesat pulang ke tendanya setelah melempar jumroh,"kata Kasatgas Mina Subakin Abdul Muthalib di markas pemondokan petugas haji Mina di Rusyaifah, Makkah, Jumat (12/11).

Merah Putih akan Hiasi Mina (Sumber Gambar : Nu Online)
Merah Putih akan Hiasi Mina (Sumber Gambar : Nu Online)

Merah Putih akan Hiasi Mina

Para petugas tersebut membawa bendera, sehingga Merah-Putih bakal menghiasi kawasan Mina. Mengapa? Sebab, yang paling dikhawatirkan di Mina itu adalah jamaah tersesat setelah melontar jumroh. Jamaah umumnya bingung dan tidak tahu jalan kembali ke maktab. Ada 30 bendera yang akan dikibarkan untuk membantu jamaah.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Subakin, saat ini persiapan di Mina sudah mencapai 95 persen. Petugas sudah melakukan observasi dan mempersiapkan maktab Indonesia yang jumlahnya 71 di Mina.

SMA Negeri 1 Slawi

"Dokter dan tim kesehatan juga sudah menyiapkan logistik obat-obatan di Mina,"tutur Subakin. Mengenai makanan, Subakin menegaskan lebih dari cukup, sehingga jamaah tidak perlu berebutan. Untuk itu dia mengimbau jamaah untuk tidak memaksakan diri melontar jumroh pada waktu yang utama (afdhol) bila tidak memungkinkan.

Selain itu, demi keamanan jamaah juga diimbau tidak emosional saat melempar jumroh. "Jangan sampai emosi membayangkan setan benar-benar di situ (jamarat),"tutur Subakin. (amf/menag)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Lomba, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Generasi Millenial Rawan Alami Pendangkalan Nilai Kebangsaan

Manado, SMA Negeri 1 Slawi. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlawi mengkhawatirkan terjadinya pendangkalan nilai-nilai kebangsaan pada generasi millenial mengingat sebagian besar mereka hanya melihat sesuatu hanya dari permukaan. Mereka enggah membaca informasi secara mendalam, padahal masalah kebangsaan merupakan masalah yang rumit.

“Cara bacanya tidak mendalam, sementara kalau kita disuruh memahami negara bangsa, tidak bisa dengan cara sederhana,” katanya dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sabtu (11/11).

Generasi Millenial Rawan Alami Pendangkalan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Millenial Rawan Alami Pendangkalan Nilai Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Millenial Rawan Alami Pendangkalan Nilai Kebangsaan

Pada sebagian kelompok umat Islam, negara bangsa dan demokrasi masih dipahami sebagai paham kafir. Selama ini, NU telah berusaha melakukan rumusan bagaimana agama dan negera bisa bersatu. Dan kaum millenial tidak mudah memahami ini. “Ini problem NU bagaimana memberikan pemahaman yang mudah, tetapi sebenarnya cukup rumit,” kata Masduki yang juga anggota DPR RI periode 2004-2009 ini. 

Persoalan lain terkait dengan perkembangan teknologi baru adalah munculnya berita hoaks sebagai sebuah industri, bukan sekedar pekerjaan orang per orang secara individual. Dalam sistem demokrasi liberal di mana setiap orang memiliki suara. Tim sukses berusaha memenangkan calonnya dengan segala cara, dengan menjelek-jelekkan lawannya dan mempahlawankan calonnya sebagai strategi menghancurkan lawan. 

“Karena itu, NU mengajak berpolitik yang dilandasi politik kenegaraan. Kalau tidak, akan menghancurkan negara,” ujarnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

Masduki menjelaskan, tantangan yang dialami dalam memberikan pemahaman nilai-nilai kebangsaan pada generasi milenial ini harus diatasi dengan cara yang kekinian pula. Dan persoalan ini merupakan persoalan serius yang harus diselesaikan bersama, bukan hanya oleh NU.

Selanjutnya di forum yang sama, Rektor Universitas De La Salle Manado Johanis Ohoitimur mengapresiasi keberadaan NU sebagai penjaga kebinekaan Indonesia. Ia berpendapat, sejarah Indonesia akan berubah tanpa peranan NU sebagai penjaga kebinekaan. Prinsip NU yang berbasis kebudayaan dalam membangun kehidupan Islam juga menjadi dasar kuat dalam menjaga kebinekaan budaya di Indonesia. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Sebagai non-Muslim, saya beryukur NU menjadi khalifah yang menjaga kebinekaan alam,” katanya 

Ia berharap komitmen tersebut dapat ditingkatkan terus menerus. “Bahkan saya berpikir, seandainya komitmen ini menjadi longgar, maka sejarah Indonesia akan berubah. Dengan kata lain, kehidupan kebinekaaan Indonesia berada dalam kawalan NU dan kami berharap kawalan tersebut semakin penting.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock