Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF

Magelang, SMA Negeri 1 Slawi - Bekerja sama dengan lembaga UNICEF, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah mengembangkan sekolah Inklusif yang siap menampung dan mendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Hal itu disampaikan oleh Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Agus Sofwan Hadi dalam acara Festival Olahraga Seni dan Olahraga Inklusif yang diselenggarakan di arena Perwimanas II, Rabu (20/9).

Kembangkan Sekolah Inklusif,  LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF

“Alhamdulillah, Ma’arif NU Jawa Tengah sudah memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya,” tegas Agus dalam sambutannya.

SMA Negeri 1 Slawi

LP Ma’arif Jateng, lanjut Agus telah mengembangkan sekolah inklusif di tiga kabupaten yakni di Semarang, Banyumas dan Kebumen. “Ini adalah program yang kita jalankan dengan bekerja sama dengan UNICEF,” tambah Agus.

 

Acara festival ini, kata Agus merupakan acara yang luar biasa yang menampilkan kreativitas anak-anak yang dididik di LP Ma’arif NU. “Festival ini diikuti oleh tiga ratus siswa yang berasal dari sekolah-sekolah inklusif di bawah naungan LP Ma’arif,” tambah Agus.

 

Sementara itu, Ketua LP Ma’arif PBNU HZ Arifin Junaidi mengapresiasi LP Ma’arif Jateng yang telah merintis sekolah inklusif. “Kita tidak memungkiri bahwa masih ada stigma yang tidak baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus di masyarakat. Semoga yang dilakukan oleh LP Ma’arif Jateng yang bekerja sama dengan UNICEF bisa menular ke daerah-daerah lain,” tegas Arifin.

SMA Negeri 1 Slawi

Arifin juga meminta kepada UNICEF agar tidak hanya di wilayah Jateng saja tapi di seluruh Indonesia.  “LP Ma’arif ini menaungi ribuan madrasah di seluruh Indonesia. Jadi tidak salah alamat kalau UNICEF bekerja sama dengan LP Ma’arif,” tandas Arifin.

Pada festival tersebut, banyak sekali bakat dan kreativitas yang ditampilkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Festival ini dihadiri oleh beberapa sekolah di bawah naungan LP Ma’arif di antaranya adalah SLB Ma’arif Muntilan, SLB Sendang, MI Ma’arif NU Keji, MI Ma’arif Ambal Kebumen, MTs Ma’arif NU Sumpiuh, MI Salafiyah dan MTS Al-Hidayah Purwokerto. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 29 Januari 2018

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

Sujud adalah salah satu momentum di mana Allah SWT dan hamba-Nya begitu dekat. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampun atas segenap kekurangannya di hadapan Allah.

Istighfar ini dibaca Rasulullah SAW di salah satu sujudnya.

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Allâhummaghfirlî dzanbî kullah, diqqahû wa jullah, wa awwalahû wa âkhirah, wa ‘alâniyatahû wa sirrah.

Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku dari segala dosa baik kecil maupun besar, awal maupun akhir, dan dosa yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.”

SMA Negeri 1 Slawi

Pilihan kalimat dalam istighfar di atas tampak begitu kuat dan menyeluruh. Rasulullah SAW mengajarkan istighfar ini untuk umatnya yang penuh dosa. Riwayat permohonan ampunan dosa ini disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Ahlussunnah, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi



Sekolah berbasis pesantren di Jombang Jawa Timur kesulitan menerapkan program Full Day School dengan lima hari sekolah. Pasalnya, model pendidikan lembaga pesantren memiliki durasi pertemuan lebih padat daripada sekolah umum lainnya. Sehingga akan kedodoran jika akan diringkas dalam lima hari pertemuan saja.

"Tentu banyak yang harus dipertimbangkan. Di sekolah kami, baik jam pelajaran maupun jumlah mata pelajaran sangat jauh berbeda dengan sekolah umum lain. Kalau dipaksakan sistem lima hari sekolah, bisa-bisa anak-anak Maghrib baru bisa pulang," ungkap Sutrisno, Kepala Sekolah MAN Tambakberas, Jombang,?

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

Di sekolah yang emmiliki ribuan siswa putra dan putrid ini, dikatakannya ada 24 mata pelajaran dengan durasi pertemuan hingga 52 jam dalam seminggu. Hal ini berbeda dengan sekolah lainnya yang umumnya memiliki rata - rata 18 mata pelajaran dengan durasi pertemuan 48 jam.

"Sebab di sekolah berbasis pesantren, semua Mapel sekolah umum ada dan ditambah pelajaran keagamaan. Tentu siswa akan sangat kelelahan jika diringkas menjadi lima hari masuk sekolah," beber Sutrisno.

SMA Negeri 1 Slawi

Masih menurut Kasek Sutrikno, kondisi anak didiknya juga berbeda-beda. Di antaranya ada yang setelah pulang sekolah, mereka harus membantu orang tuanya beraktifitas. Demikian juga dari sisi pengawasan anak, jika benar-benar di berlakukan, dua hari masa libur yakni, ? Sabtu dan Ahad menjadi masalah tersendiri bagi orang tua, utamanya bagi orang tua yang bekerja hingga akhir pekan.

"Banyak juga wali murid yang bekerja. Tentu akan menjadi masalah pada sisi pengawasan anak jika libur. Dari sisi guru pun begitu, semakin panjang durasi mengajar, juga akan menimbulkan masalah, karena sebagian guru juga mempunyai anak kecil," tandasnya.

Sutrisno berharap ada semacam tinjauan kembali terhadap program Full Day School dan berkeinginan agar program ini tidak dipaksakan, namun lebih baik jika bersifat opsional.

Senada dengan Sutrisno, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang, Ahmad Faqih menilai program Full Day School ini juga akan sulit dilakukan bagi daerah - daerah yang kurang sarana dan prasarana serta yang memiliki geografis sulit.

SMA Negeri 1 Slawi

"Bagi daerah yang secara geografis sulit dan infrastruktur seperti jalan dan penerangan minim akan menjadi masalah tersendiri bagi wali murid jika sekolah diberlakukan hingga malam," papar Ahmad Faqih.

Selain itu menurut Faqih, penerapan lima hari masuk sekolah juga terlebih dahulu perlu difikirkan pengalokasian anggaran bantuan operasional dalam jumlah yang memadai bagi lembaga pendidikan agama seperti Madrasah Diniyah atau Taman Pendidikan Al Qur an dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Hal ini sebagai wujud nyata dukungan terbentuknya kolaborasi dan kerjasama dalam perbaikan penguatan kualitas karakter peserta didik," pungkasnya.(Muslim Abdurahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Gresik, SMA Negeri 1 Slawi. Menyambut bonus demografi Indonesia yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 2020-2030, IPNU-IPPNU diharapkan mengambil kesempatan penting dalam mempersiapkan generasi emas menuju bonus demografi Indonesia yang akan berdampak pada pertumbuhan sosial-ekonomi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Hal tersebut disampaikan KH Nur Khozin saat memberikan ceramah di hadapan ratusan pelajar NU se-kecamatan Panceng dalam acara Pelantikan dan Peringatan Isro Miroj Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Panceng, Sabtu kemarin (15/6) di Yayasan Tarbiyatul Wathon Campurejo, Gresik.

"Namun, bonus demografi tersebut akan menjadi bencana jika pembangunan sumber daya manusia tidak dipersiapkan dengan baik," tuturnya

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menjelaskan, pada tahun 2020-2030, penduduk Indonesia umur produktif (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70%. Sisanya, 30% merupakan penduduk tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam menyambut bonus demografi tersebut, IPNU-IPPNU sebagai organisasi kader NU diharapkan mampu membangun sumber daya manusia anggotanya sebagai kader-kader berkualitas yang nantinya diharapkan mampu berperan penting dalam pembangunan Indonesia.

"IPNU-IPPNU diharapkan berhasil mencetak kader-kader berkualitas. Mampu mensinergikan kemampuan intelektual dan spiritual," tambahnya

Hal tersebut juga diamini KH Aziz Rohim, Rais Syuriyah MWCNU Panceng. Dalam sambutannya, ia menegaskan peran penting IPNU-IPPNU sebagai kader pokok yang akan meneruskan perjuangan ulama-ulama NU. 

"Di tangan pemudalah, urusan umat akan bergantung. Nasib NU ke depan akan bergantung pada IPNU-IPPNU sebagai pemilik masa depan NU," tuturnya

Ketua PAC IPNU kec Panceng terlantik, Fathur Rozi, menyampaikan banyak terima kasihnya kepada segenap pihak yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Ia pun menyampaikan prioritas kepengurusannya ke depan.

"IPNU-IPPNU sebagai prioritas utama masa depan NU harus mampu menggaet kader-kader muda NU terbaik. Menghidupkan ranting-ranting IPNU-IPPNU yang vakum merupakan prioritas ke depan kami," tuturnya

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Faiz

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Fadhilah dan Nur Fajariyah (20), dua mahasiswi Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS) yang berasal dari Pekalongan ini berangkat dari rumah kost menuju ke Jalan Jenderal Sudirman untuk mengikuti acara shalawatan bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada Sabtu (22/6) malam. Dengan pakaian serba putih mereka berangkat menggunakan sepeda motor menuju lokasi acara yang berpusat di depan kantor Balaikota Solo.

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia

Sesampainya di lokasi mereka bergabung bersama kurang lebih 50.000 jamaah yang hadir dari berbagai daerah se-Solo raya. Suasana khusyuk pun mereka rasakan ketika mendengarkan merdunya lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Syech. Acara yang dibuka pada pukul 20.00 waktu setempat ini digelar dalam rangka peringatan hari jadi ke-67 Kota Surakarta dan juga dimaksudkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengatakan dalam sambutannya, bahwa dirinya berharap agar Solo yang telah mendeklarasikan diri sebagai kota shalawat yang pertama di Indonesia rutin mengadakan shalawatan di setiap masjid kampung dan setiap RT.

SMA Negeri 1 Slawi

Habib Syech yang terlihat akrab duduk berdampingan dengan Pak Wali Kota juga menyampaikan kepada seluruh jamaah bahwa perlunya menciptakan kehidupan yang damai dan saling menghargai di masyarakat.

“Mari kita saling menghormati satu sama lain. Kita jaga bersama keamanan Kota Solo. Dengan bershalawat, kita jadikan Solo aman dan sejahtera,” tutur Habib Syech kepada para jamaah.

SMA Negeri 1 Slawi

Fadhilah yang baru pertama kali mengikuti acara ini pun langsung ikut riuh bersama puluhan ribu jamaah melantunkan shalawatan. 

“Senang bisa ikut acara seperti ini. Di kampus jarang ada kegiatan shalawatan,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Kimia ini.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor:Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Pergeseran Tata Nilai NU

PENGANTAR REDAKSI: 1 Oktober 1995, H. Mahbub Djunaidi wafat. Ia dijuluki pendekar pena karena kemampuannya menulis beragam bentuk, mulai dari esai, puisi, drama, cerpen, dan novel. Ia juga penerjemah. Meski semua jenis tulisan dikuasai, ia lebih suka dibilang sastrawan.

Mahbub juga aktivis. Ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan salah seorang Ketua PBNU. Juga pernah menjadi politikus.   

Pergeseran Tata Nilai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergeseran Tata Nilai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergeseran Tata Nilai NU

Sebagai haul kedelapan belas H. Mahbub Djunaidi, redaksi akan memuat tulisannya. Juga akan memuat tulisan orang lain tentang dia. Berikut salah satu tulisan dia, Pergeseran Tata Nilai NU. 

Buku Pramudya Ananta Toer yang ditulisnya di Pulau Buru memang dilarang. Tapi ada kalimat di situ yang menarik perhatian saya. Bunyi kalimat Itu: bersikap adillah sejak dalam pikiran. Siapa bisa bantah kebenaran anjuran itu ? Jelas saya, tidak.

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh sebab itu saya berusaha bersikap adil menilai kasus DR. KH. Idham Chalid. Sikap adil bukan saja mulai dalam pikiran, tapi juga ketika menuangkannya dalam tulisan ini. Sikap adil apa yang saya maksud? Begini. Dari sejak awal tahun 60-an saya mengidap sikap ganda terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Di satu pihak saya menyukainya, dan pada saat yang berbarengan saya menolaknya. Pergantian sikap yang satu ke sikap yang lain begitu seringnya sehingga sulit dihitung jari.  Dan karena seringnya itu pula, maka segala sesuatu berjalan seperti tidak ada apa-apa. Bila laki-bini tiap menit bertengkar, para tetangga menganggapnya angin lalu. Tak seorang pun menyimak, kecuali meludah.

Apanya yang saya suka? Pertama karena dia kurus. Saya suka orang yang kurus. Kedua humornya tinggi. Saya suka humor, saya benci cemberut. Bukankah cuma binatang yang tidak suka tertawa? Ada memang saya dengar binatang kuda bisa tertawa, tapi saya kira itu bohong besar.

SMA Negeri 1 Slawi

Dan apanya yang saya tolak? Sifat pelupanya yang tinggi. Ini memang manusiawi. Tapi jika kelewatan, masalahnya bisa jadi lain. Akibat sifat ini, sering dia bilang A pada saya dan bilang B pada lain orang. Padahal perkaranya itu-itu juga. Ini membuat saya tersandung-sandung. Padahal saya kurang suka tersandung-sandung itu. Kemudian saya juga kurang sepakat dengan kebiasaannya mengambang pada saat keputusan yang diperlukan. Bukankah tugas seorang pemimpin sebetulnya gampang saja: mengambil keputusan? Bilamana seorang pemimpin tidak suka mengambil keputusan tegas yang jadi pegangan (tak peduli keputusan itu benar atau meleset), maka segala sesuatu akan jalan mengambang. Seperti layang-layang putus talinya, dan akan jadi rebutan anak-anak.

Atas dasar itu saya sering melancarkan kritik terbuka, kadang kala keras. Akibatnya sering membawa akibat fatal buat diri saya, tapi saya tidak peduli. Misalnya kasus yang menimpa harian “Duta Masyarakat”. Sebagai pemimpin redaksi koran partai NU, saya tidak begitu saja tunduk kepada jalan pikirannya. Berulang kali saya ditegur, tapi saya nekad. Saya percaya sayalah yang benar karena jurnalistik memang bidang saya. Apa akibatnya? Akibatnya tentunya pada suatu saat turun suatu keputusan yang isinya cukup jelas: Harian “Duta Masyarakat” dipecat selaku organ resmi partai NU! Kendati akhirnya rujuk lagi, tapi yang jelas harian resmi partai NU itu pernah jadi anak gelandangan.

Apakah sikap penolakan terbuka saya ini diterima baik oleh alam seputar? Tentu saja tidak. Sikap saya seperti itu dianggap “bukan kultur NU”. Dianggap menyimpang dari tata nilai NU. Orang NU yang baik adalah orang NU yang menyimpan kritik di dalam saku belakangnya. Mengkritik pemimpin adalah bertentangan dengan keharusan hormat kepada orang tua. Bertentangan dengan akhlak “tawadhu”. Maka harga saya segera merosot menjadi harga seekor serigala yang mesti dijauhi. Mesti diceburkan kecomberan!

Orang yang paling rajin menasihati saya supaya merubah akhlak saya itu adalah KH. Saifuddin Zuhri. Merasa menjadi orang yang paling paham “kultur dan tata nilai NU”, dengan sendirinya saya senantiasa dapat dampratan, paling sedikit cegahan. Jangan begini dan jangan begitu. Bukan cara NU begitu. Mengkritik model begitu sudah berada di luar garis peradaban NU. Dan seterusnya.

Maka akibatnya sudah bisa dibayangkan: saya bingung bukan alang kepalang. Apakah saya mesti berdiam diri seperti sebatang lilin? Apa mesti saya telan saja apapun yang datang ke mulut tanpa periksa sedikitpun? Apa mesti saya iyakan apa yang mestinya saya tidakkan? Apa saya mesti meningkahi irama gendang yang ditabuh seorang pemimpin? Apa mesti saya tersenyum-senyum dan manggut-manggut meskipun saya tidak yakin kebenarannya? Apa kritik itu termasuk barang yang haram? Bagaimana mestinya yang bersikap “tawadhu” sedangkan saya berpendapat yang berbeda? Bagaimana mestinya saya mengatakan “Nol!” itu? Apa cuma boleh dalam mimpi?

Begitulah saya mendapat ceramah tentang “kultur dan tata nilai NU” sehingga saya bisa lulus cum laude bilamana diadakan satu ujian. Simpanlah kritik kamu itu, atau lemparkan ke tengah samudra hingga lenyap selama-lamanya. Unjukkan sikap “tawadhu” kepada pemimpin, tak peduli apapun yang dilakukan pemimpin itu. Itulah cara yang terbaik dan itulah cara yang paling selamat. Bikinlah kalbu pemimpin itu senantiasa girang gembira, itulah jalan terbaik yang tersedia bagimu. Sekarang saya menjadi bingung. Amat bingung! Orang yang justru jadi penasihat saya, orang yang senantiasa mencegah saya melakukan kritik terbuka, justru sekarang menjadi pengkritik yang paling keras terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Dan orang itu tak lain dan tak bukan dari KH. Saifuddin Zuhri sendiri! Bahkan bobot kritiknya jauh lebih keras dari yang biasa saya lakukan.

Rupanya dunia sudah terbalik sungsang, pikirku. Rupanya malam sudah menjadi siang dan siang menjadi malam. Sang wasit agung sudah turun sendiri ke lapangan dan menggiring bola hingga ke tiang gawang. Apalagi jadinya kalau bukan membikin saya terlongo-longo? Apa sesungguhnya sudah terjadi? Apa sekedar fatamorgana atau nyata senyata-nyatanya? Pening kepala saya.

Yang membikin saya lebih terlongo-longo adalah peristiwa belakangan ini. Bukan cuma KH. Saifuddin Zuhri yang turun langsung lancarkan dia punya misil kritik terhadap diri DR. KH. Idham Chalid, melainkan juga para ulama besar NU, saya ulang: para ulama besar NU! Bilamana NU itu dimisalkan sebagai perseroan terbatas, maka para ulama itu merupakan para pemegang saham istimewa yang kedudukannya tinggi di atas awan. Nah, apa komentar saya terhadap kejadian ini.

Kritik terbuka tampaknya sudah mulai membudaya. Kultur dan tata nilai yang selama ini dianggap amat mapan, dianggap tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, sekarang sudah berubah bentuk. Sekarang sudah bergeser. Sudah bergerak mencari bentuk barunya. Apakah ini berkat perubahan tata nilai masyarakat itu sendiri? Apakah ini menjadi kemauannya sang evolusi sosial itu sendiri?

Apalagi kritik para alim ulama NU terhadap kepemimpinan DR. KH. Idham Chalid bukanlah kritik sembarang kritik, melainkan kritik yang berbobot berton-ton. Kritik itu sudah menggunakan “fiqh” sebagai barometer. Artinya, DR. KH. Idham Chalid oleh para alim ulama besar NU termasuk Rois Aam NU, dianggap sudah berbuat di luar pagar kaidah “fiqh”. Apa artinya jika seorang Ketua Umum Tanfidziyah NU sudah dianggap para alim ulama tidak lagi berpijak pada kaidah “fiqh”? Tak mampu saya bayangkan.

Sikap ini sudah dikemukakan secara blak-blakan oleh para alim ulama termasuk Rois Aam di depan Menteri Agama Alamsyah malam Jum‘at tanggal 4 Juni 1982 di Jakarta. Malam itu Menteri Agama mengundang para alim ulama yang terdiri dari KH. As‘ad Syamsul Arifin dari Situbondo, KH. Machrus Ali dari Kediri, KH. Ali Maksum dari Krapyak. Sesudah makan malam, mereka berbincang selama 1 jam 20 menit. Satu perbincangan yang lama dan intensif.

Tidak mudah menyimpulkan segala macam apa yang sedang terjadi di dalam tubuh NU ini. Tapi secara gampang-gampangan saja, bisalah saya katakan bahwa sedang terjadi pergeseran kultur dan tata nilai NU secara amat mendasar. Apa sebab secara mendasar? Karena baru kali ini terjadi seorang Ketua Umum Tanfidziyah berbeda pendapat dengan para alim ulama NU. Baru kali ini para alim ulama NU menganggap Ketua Umum Tanfidziyah (DR. KH. Idham Chalid) sudah tidak sejalan dengan kaidah “fiqh”.

Apa ujung cerita ini? Mana saya tahu! Yang jelas, ini bukanlah sekedar masalah rutin. Ini masalah amat mendasar yang menyangkut nilai-nilai dasar NU sendiri. Eksistensi rohaniah NU berada dalam taruhan. Bila organisasi yang namanya “Nahdlatul Ulama”, para ulamanya sudah bilang A dan Ketua Umum Tanfidziyah bilang B, hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana menyelesaikan kemelut esensiil ini. Betul lho, saya tidak tahu.

Merdeka, 12 Juni 1982.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah

Malang, SMA Negeri 1 Slawi. Selama bulan Ramadhan 1434 H ini, Pondok Pesantren An-Nahdliyah Kepuharjo Karangploso Malang, Jawa Timur menggelar pasaran (ngaji kilat). Dari 5 kitab yang dikaji, 2 diantaranya penguatan Aswaja An-Nahdliyah.?

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah

Dua kitab penguatan Aswaja adalah Al-Masa’il fi al-Radd ‘ala Aqwaali al-Wahabiyyah (Permasalahan-permasalahan dalam menolak pendapat-pendapat kaum Wahabi) dan Ahlussunnah wa Khashaisuhum wa Ahlul Bid’ah (Ciri Khas Ahlissunnah Wal Jamaah dan ciri-ciri Ahlil Bid’ah).?

Selain itu dikaji pula kitab Al Masaa’il Fi Al-Ihdzaar ‘ala Hizbi Al-Tahrir (pokok-pokok masalah mengapa harus berhati-hati, menjaga jarak, dengan Hizbu Tahrir); Asraaru Al-Shalah (Rahasia-rahasia Shalat); dan Innama Ya’muru Masaajida Allahi (hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah).

SMA Negeri 1 Slawi

Kelima kitab tersebut disusun KH Ahmad Yasin bin Asmuni dari Ponpes Hidayatut Thullab, Desa Petuk Semen Kediri Jawa Timur. Kitab-kitab tersebut akan dibacakan beberapa ustadz di Pondok Pesantren yang diasuh KH Moh Mansur, Rais PCNU Kabupaten Malang.

Kegiatan rutin Pesantren An-Nahdliyah tersebut, selain diikuti para santri yang dari dalam pesantren, juga menerima santri dari luar.?

SMA Negeri 1 Slawi

Pengajian akan dilaksanakan mulai hari Rabu, 17 Juli 2013 sampai 31 Juli 2013. Pengajian kilatan dilaksanakan dalam dua sesi setiap harinya, yakni ba’da jamaah Shalat dhuhur dan ba’da jamaah Shalat Ashar.

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor: Ahmad Nur Kholis?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Sesat Pikir Full Day School

Oleh: Darmaningtyas







Sesat Pikir Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesat Pikir Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesat Pikir Full Day School

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pasal 2 Permendikbud tersebut mengatur hari sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh jam) selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu atau yang akhir-akhir ini disebut full day school.

Seperti ditegaskan dalam pasal 8, peraturan ini mulai dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018. Ini artinya, pada tahun ajaran baru, Juli 2017 nanti, sekolah-sekolah secara nasional sudah melaksanakan lima hari sekolah ini.

Namun, dalam Permendikbud tersebut tidak ditemukan tujuan menjadikan hari sekolah itu seragam dari enam menjadi lima hari secara nasional. Pasal 3 hanya mengatur penggunaan hari sekolah oleh guru untuk melaksanakan beban kerja guru, dan pasal 4 mengatur penggunaan hari sekolah oleh tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya. Tapi tugas tersebut dapat berlaku enam hari sekolah.

SMA Negeri 1 Slawi

Demikian pula pengaturan dalam pasal 5 dan 6 ? mengenai penggunaan hari sekolah oleh murid untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, selama ini sudah demikian adanya, tidak perlu nunggu delapan jam di sekolah. Artinya, tanpa ada perubahan dari enam menjadi lima hari sekolah pun kegiatan murid di sekolah mencakup kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Kita tidak temukan pasal yang menjelaskan pentingnya perubahan hari sekolah dari enam menjadi lima hari dan dalam sehari anak-anak harus di sekolah delapan jam secara nasional. Ini sesat pikir pertama, membuat kebijakan tanpa tujuan yang jelas.

Gagasan sekolah sehari penuh (full day school/FDS) pernah dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada masa awal menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Dalam banyak kesempatan di forum-forum resmi, Menteri Muhadjir sering menjelaskan bahwa pelaksanaan FDS akan dimulai dengan piloting system. Implementasi detailnya masih dikaji.

SMA Negeri 1 Slawi

Melalui running text di stasiun televisi nasional (awal September 2016), misalnya, kita pernah membaca “Mendikbud Muhadjir Efendy: Full day school meningkatkan SDM”. ? Ini mencerminkan niat Menteri Muhadjir untuk mewujudkannya.

Menteri Muhadjir menjelaskan bahwa yang dia kerjakakan itu adalah melaksanakan visi dan misi Presiden Joko Widodo tentang pendidikan, bahwa untuk pendidikan dasar (SD/MI-SMP/MTs) 80% berisi pendidikan budi pekerti atau karakter, sementara untuk ilmu pengetahuan cukup 20%. FDS merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan visi-misi Presiden Jokowi.

Dengan FDS rancang bangun pendidikan karakter dapat dilaksanakan. Dengan FDS, anak-anak secara perlahan akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka belum pulang dari kerja. Menurut Muhadjir, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja.

Selain itu, anak-anak dapat pulang bersama orangtua sehigga ketika di rumah mereka tetap dalam pengawasan orangtua. Ini sesat pikir kedua yang menganggap bahwa semua orangtua murid kerja kantoran sampai sore hari, kebijakan yang bias Jakarta.

Konsep full day school dan lima hari sekolah bukan konsep baru. Sejak reformasi 1998, banyak sekolah telah menerapkannya. Langkah sejumlah sekolah itu termasuk dalam kategori manajemen berbasis sekolah (MBS). Mengingat sekolah yang lebih tahu kondisi sekolahnya, maka sekolah diberi kebebasan untuk mengambil kebijakan teknis untuk sekolahnya sendiri.

Agar kebijakan sekolah tersebut memiliki landasan hukum yang kuat, ada UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 51 ayat (1): “Pengelolaan satuan pendidikan anak usiadini, pendidikan dasar, dan pendidikanmenengah dilaksanakan berdasarkanstandar pelayanan minimal dengan prinsipmanajemen berbasis sekolah/madrasah”.

Urusan apakah sekolah akan enam hari atau lima hari itu urusan teknis sekolah, bukan urusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu, meski selama hampir dua dekade di masyarakat kita itu ada sekolah yang enam hari dan ada sekolah yang lima hari, hal itu tidak menimbulkan pro dan kontra karena dasarnya adalah manajemen berbasis sekolah (MBS), sehingga tidak terjadi penyeragaman.

Sekolah-sekolah yang merasa cocok untuk menerapkan konsep FDS dipersilakan, tapi yang akan tetap melaksanakan enam hari sekolah juga dipersilakan. Demikian pula daerah, ada daerah yang melaksanakan lima hari sekolah, seperti DKI Jakarta, tapi mayoritas daerah tetap memilih melaksanakan enam hari kerja.

Bahkan Provinsi Jawa Tengah yang sejak Gubernur Ganjar Pranowo melakukan uji coba melaksanakan lima hari sekolah, beberapa kabupaten/kota sudah mengajukan permohonan untuk kembali ke enam hari sekolah, karena penerapan kebijakan lima hari sekolah dinilai tidak efektif, tidak sesuai dengan kultur mayoritas warga yang agraris, sehingga justru orang tua bingung memberikan kegiatan/mengarahkan anak-anaknya pada hari Sabtu yang tidak sekolah itu.

Jadi, jelas substansi yang menolak FDS dan kebijakan lima hari sekolah secara nasional itu bukan terletak pada konsep lima harinya, melainkan sifat kebijakannya yang sentralistik tanpa melihat karakter geografis, infrastruktur dan sarana transportasi, ekonomis, sosial, dan budaya.

Indonesia ini amat luas dan beragam. Bukan hanya Jakarta dan kota-kota lain di Jawa yang memiliki infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai, tapi ada pulau-pulau kecil yang infrastruktur dan sarana transportasinya minim, guru di sekolah cuma 1-3 orang saja. Pada daerah-daerah dan sekolah-sekolah seperti itu FDS sangat tidak cocok diterapkan.

Alih-alih meningkatkan SDM, FDS justru membuat orangtua memilih tidak menyekolahkan anaknya. Permendikbud ? Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur Lima Hari Sekolah adalah langkah mundur di era reformasi, dari manajemen berbasis sekolah (MBS) menjadi sentralistik. Bahaya rezim Orde Baru yang sentralistik terulang.

Saya pernah berusaha menyampaikan masukan untuk tidak memperlakukan FDS secara nasional. Pada November 2016 saya pergi ke Pulau Samosir dan menjumpai sejumlah murid SMP-SMA berjalan kaki jauh, melintasi pegunungan yang sunyi. Lalu pada Maret 2017 saya ke Kupang dan melihat anak-anak SMP menunggu angkutan umum sampai jam 17.30 (di Kupang sudah gelap).

Dua potret ini saya kirim ke Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud dengan keterangan: “Mereka akan sampai di rumah jam berapa jika nanti full day school diterapkan secara nasional?”.

Sampai saat ini sebagian murid murid SMPN 2 Kupang ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang. Seorang guru (Ibu Essey) dari Soe (NTT) juga menyampaikan pesan agar Menteri Pendidikan kalau buat kebijakan tidak sentralistis, seperti kebijakan full day school dan lima hari sekolah. ? Sayang, masukan-masukan dari lapangan itu diabaikan saja karena kebijakan dibuat dengan cara pandang Jakarta dan Jawa sentris.

Mengingat Indonesia ini amat luas dan beragam serta janji Presiden Jokowi dalam kampanye dulu untuk menjamin keragaman dan budaya lokal dalam kebijakan pendidikan, maka kembalikan persoalan teknis: enam atau lima hari sekolah itu ke otonomi sekolah sesuai dengan manajemen berbasis sekolah, bukan ditarik oleh Menteri Pendidikan.

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah sebaiknya dicabut karena bertentangan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 Pasal 51 ayat (1) tentang Otonomi Sekolah/Madrasah. Bagaimana mungkin Menteri Pendidikan membuat Peraturan Menteri yang bertentangan dengan UU Sisdiknas yang mereka buat sendiri dan harus dijalankan?

Ini sesat pikir ketiga full day school dan lima hari sekolah. Saya berharap pemerintahan Jokowi tidak mundur dan sentralistik dalam penyelenggaraan pendidikan, seperti masa Orde Baru.





Penulis adalah pakar pendidikan nasional, tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Geotimes?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Meme Islam, Anti Hoax, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi. Terkait tragedi Mina, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta keluarga jamaah haji untuk tidak memercayai informasi selain rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag) dan sumber berita korban Mina. Pasalanya, Hasan menambahkan, validitas informasi yang beredar diragukan.

Demikian disampaikan Hasan kepada sejumlah wartawan usai pulang dari melaksanakan ibadah haji, Selasa (29/9). “Saya saja yang ada di sana tidak tahu kronologis pasti kejadian itu. Karena itu, meskipun ada teman yang telepon, sms atau BBM tanya kondisi di sana tidak saya jawab. Karena saya tidak tahu persis, kalau tidak tahu persis kemudian bercerita maka khawatir keliru,” ujarnya.

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Informasi terkait kejadian Mina itu baru dia dapatkan dari sumber berita korban Mina, Saiful Bahri. Di mana anggotanya banyak yang menjadi korban.

SMA Negeri 1 Slawi

“Di Bandara Jeddah saya bertemu dengan pimpinan Komisi VIII yang bertindak sebagai pengawas haji. Mereka menyampaikan akan segera menggelar RDP (Rapat Dengan Pendapat) begitu jamaah haji pulang ke Indonesia,” katanya.

Tidak hanya itu, dalam RDP itu Hasan juga diminta untuk mengajak serta Saiful. Sebab, Komisi VIII ingin mengetahui kondisi yang ada di sana versi Saiful yang juga sebagai korban. Apalagi dirinya mengaku sudah berbicara dengan Saiful usai melaksanakan rukun haji dan mengetahui kondisi sebenarnya saat tragedi itu terjadi.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Hasan, saat itu seluruh jamaah di kloter 48 berangkat ke Mina melalui jalur yang semestinya. Tetapi sampai di pertigaan, askar meminta untuk berbelok. Pengalihan itulah yang membuat tragedi itu terjadi. Saiful mengaku sudah melayangkan protes pada askar, namun tidak dihiraukan.

Saat itulah tragedi terjadi. Mulanya, ada 3 kursi roda yang seharusnya memuat orang ternyata memuat barang. Kursi roda itu macet dan ada mobil berhenti. Sehingga, banyak jamaah yang terhalang untuk lewat.

Di tengah padatnya manusia dan cuaca yang cukup terik, banyak jamaah yang panik dan ingin segera sampai. “Saat itu gelombang manusia menurut Saiful seperti ombak. Semuanya histeris, apalagi banyak yang kehausan gara-gara cuaca yang terik. Semuanya berteriak dan minta tolong, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan,” jelasnya.

Di kanan dan kiri jalur tersebut terdapat maktab jamaah dari negara lain. Sebagian jamaah yang selamat karena memanjat pagar. Anehnya, tidak satupun orang yang membuka pintu pagar di kanan dan kiri.

“Seandainya pagar dibuka, munngkin bisa mengurai kepadatan jamaah. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan, apa alasan askar mengalihkan jalur jamaah,” terangnya.

Oleh karena itu, Hasan berharap pemimpin-pemimpin negara yang mengirimkan jamaah untuk mendesak Arab Saudi menjelaskan alasan askar tersebut. Sehingga ke depan manajemen tata kelola haji bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian, jamaah bisa beribadah dengan khusyuk. “Solusinya perlu keterlibatan dari Negara-negara Islam dalam rangka perbaikan pelayanan ibadah haji di Arab Saudi,” tegasnya.

Hasan juga meminta agar masyarakat tidak saling menyalahkan supaya bisa menyejukkan. “Sekali lagi, jangan percaya sms dari siapapun yang tidak tahu persoalannya. Saya berani bicara karena tahu dari sumber berita yang juga menjadi korban,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ubudiyah, Amalan, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mengatakan, mudik adalah budaya yang bisa dijustifikasi agama karena hal itu bermuatan silaturahim yang dianjurkan agama Islam.

“Niatnya kan silaturahmi. Jelas itu ajaran agama,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi Selasa (5/7).

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama

Pemudik, kata Kiai Masdar, umumnya adalah perantau dari desa atau daerah untuk megadu nasib atau mencari penghidupan dan pengembangan diri yang lebih baik.

SMA Negeri 1 Slawi

Mereka, sambungnya, adalah orang daerah atau desa yang ingin mendapatkan masa depan yang lebih sesuai dengan pendidikan dan perkembangan jamannya.

“Semuanya itu tidak mungkin bisa diraih kalau tetap tinggal di desa atau kampungnya yang terbatas kemungkinan-kemungkinannya, baik secara ekonomi maupun sosial,” katanya. ?

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Masdar menambahkan, pemudik adalah muhajir-muhajir dari desa untuk membangun masa depan yang lebih baik yang hanya bisa disediakan oleh kota.

Masa-masa setahun mencari penghidupan di kota, maka Lebaran adalah momen kultural untuk menengok masa lalu dan asal-usul secara massal yang tepat dalam bingkai keutamaan keagamaan yang disebut "silaturrahmi".

“Hal itu sesuai dengan hadits Nabi: ‘Barangsiapa yang ingin dilapangkan jalan rezekinya dan diperkuat akar keberadaannya maka ia hrs mmperkokoh tali silaturrahmi baik dengan saudara atau handai tolannya’. Selamat Lebaran!” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 23 November 2017

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Lampung Tengah, SMA Negeri 1 Slawi. Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Bandar Surabaya, Kebupaten Lampung Tengah, Lampung, memiliki gedung baru sebagai kantor dan sarana penunjang operasional kerja organisasi.

Gedung yang terletak di Desa Surabaya Ilir, Kecamatan Bandar Surabaya, ini telah diresmikan dengan disaksikan kurang lebih 600-an warga NU se-Kecamatan Bandar Surabaya, pada akhir pekan lalu.

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Ketua PCNU Lampung Tengah Kiai A Jailani MS menyambut gembira adanya gedung baru MWCNU Bandar Surabaya. Menurutnya, ini memberi tanda bahwa panji-panji NU dan ruh NU hidup di seluruh pelosok-pelosok desa se-Lampung Tengah, mengingat kabupaten ini adalah yang paling luas di Provinsi Lampung, yaitu sebanyak 28 kecamatan dan Bandar Surabaya adalah kecamatan paling ujung timur Lampung Tengah.

SMA Negeri 1 Slawi

“Harapan saya gedung kebanggaan warga nahdlyyin di kecamatan Bandar Surabaya ini adalah sebagai ruh dan gedung ini dapat dimaksimalkan sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin oleh keluarga besar NU, baik Muslimat, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU dan lain-lain,” ujarnya saat peresmian, Ahad (11/10).

SMA Negeri 1 Slawi

Di sela-sela peresmian gedung MWCNU Bandar Surabaya juga dilaksanakan pelantikan jajaran pengurus PAC GP Ansor Bandar Surabaya masa khidmat 2015-2018 yang diketuai sahabat Nur Kholis dengan sekretaris, Apriadi.

Joko Utomo, selaku aktivis muda NU Lampung Tengah yang juga mantan Sekretaris PC IPNU Lampung Tengah mengaku bangga sekaligus berharap gedung MWC NU ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif untuk mensyiarkan dakwah NU, sekaligus sebagai pusat penyebaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin bagi lingkungan masyarakat se kecamatan Bandar Surabaya khususnya dan kabupaten Lampung Tengah pada umumnya.

Hadir dalam peresmian gedung MWC NU Bandar Surabaya antara lain; KH. Daroini Ali, S.H.I (Pengasuh Pesantren Sabilun Najah Seputih Raman), jajaran pengurus PCNU Lampung Tengah, jajaran pengurus MWCNU Bandar Surabaya, kiai-kiai pengasuh pesantren, kiai-kiai langgar/musholla, perangkat kecamatan, Polsek, perangkat kampung, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Banser, dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Pondok Pesantren SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 22 November 2017

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi?

Pondok Pesantren Al-Mubtadi-ien Bahrul Ulum Tambakberas Jombang diasuh KH Muhammad Asrori Alfa dan Hj Maslachatul Ammah. Pesantren ini lebih menekankan pada pendidikan keagamaan, pembinaan serta pembentukan karakter yang berakhlakul karimah.?

"Di sini santri diajarkan menjadi manusia yang berkarakter islami," jelas Neng Mashlatul Ammah baru-baru ini.

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter

Dikatakan Neng Lacha, sapaan akrabnya, pendidikan keagamaan, pembinaan serta pembentukan karakter tersebut, dibentuk para pengurus serta pengasuh pondok melalui pengawasan hingga 24 jam, di samping itu didukung dengan ajaran-ajaran akidah Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) serta ajaran keagamaan yang lain.?

"Kita komitmen berpegang teguh pada Aswaja ala Thoriqotul Nahdlatul Ulama," tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sedangkan untuk para santrinya, pondok yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang ini, saat ini dihuni berkisar ratusan santri. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.

Kondisi itu, menurut Neng Lacha menjadi kebanggaan tersendiri, namun sisi lain merupakan tantangan khususnya bagi pengurus dan pengasuh sebab semakin banyaknya santri yang menjadikan Al-Mubtadi-ein sebagai rumah keduanya.

"Santrinya sudah ratusan mas, walaupun baru tetapi di sini juga banyak santri dari luar jawa," paparnya.

Kepada para orang tua yang hendak memondokkan anak-anaknya, Neng Lacha berpesan untuk tidak ragu terhadap sistem yang selama ini diterapkan, terlebih sistem pengawasan terhadap santri yang sangat intens. "Wali santri jangan ragu menitipkan anak di sini, semua dijaga 24 jam," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Konsolidasi NU, dari Pesantren sampai Kuburan

Medan, SMA Negeri 1 Slawi 

Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari tahun 1926 oleh para kiai Ahlussunah wal-Jamaah. Organisasi tersebut tidak dibangun dengan uang, kekuasaan, tapi dengan riyadoh atau tirakat para pendirinya yaitu dengan mendaktkan diri kepada Allah. 

Konsolidasi NU, dari Pesantren sampai Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsolidasi NU, dari Pesantren sampai Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsolidasi NU, dari Pesantren sampai Kuburan

“Makanya jangan meninggalkan hal-hal yang spiritual,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh saat beramah-tamah dengan PWNU Sumatera Utara di sekretariat PWNU, Medan Rabu malam (4/5).  

Karena itulah cara ber-NU tersebut tidak hanya berkomunikasi dengan orang hidup, tapi dengan yang telah meninggal, yaitu kepada kiai-kiai NU yang telah mendahului, para wali, sahabat, dan Nabi Muhammad. 

“Ketika Rasulullah mi’raj, beliau bertemu dengan nabi-nabi yang telah meninggal. Haditsnya sahih menuruh Imam Bukhori dan Muslim. Kalau ngomong sama orang yang hidup itu sering ada yang bohongnya, tapi kalau sama orang yang telah meninggal tidak mungkin berbohong,” ungkapnya diakhiri kutipan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menambahkan, melalui ramah-tamah antara tim Ekspedisi Islam Nusantara dan PWNU Sumut menecerminkan silaturahim, silatul amal, silatul ilmi, dan silatu ruh. “Sehingga kebersamaan kita di NU ini jasadan wa ruhan...,” lanjutnya.

Pada praktiknya, Ekspedisi Islam Nusantara, di setiap tempat yang sampai sampai sekarang ini telah menjelajahi 20 kabupaten dan kota, selalu berziarah ke makam-makam ulama, silaturahim ke pesantren, meminta doa kepada kiai, bersilaturahim ke PCNU dan PWNU. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Hadits, Sholawat, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda

Lampung Selatan,SMA Negeri 1 Slawi. Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (3/1) siang, PCNU Lampung Selatan menggelar Kirab Maulid dengan mengelilingi kota Kalianda. Kegiatan tersebut  diikuti ribuan peserta dengan 150 berkendaraan motor, 50 kendaraan roda 4.

PCNU Lampung Selatan H.Nur Mahfud mengatakan, kegiatan tersebut berpegang kepada “Almukhafadhotu alal qodimi solih wal akhdu biljadidil aslah (menjaga tardisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang baik pula).

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda

PCNU Lampung Selatan, kata dia, melalui kegiatan tersebut ingin mengingatkan kembali kepada nahdliyini dan kahlayak umum tentang sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Selain kirab, PCNU juga mengadakan dengan pengajian, sholawatan,

SMA Negeri 1 Slawi

Ia berpesan kepada warga NU agar selalu menjaga persatuan dan kestuan ketika melaksanakan kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam. “Bersama NU kita jadikan Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita sehari-hari,” imbaunya.

Menurut dia, kegiatan ini juga adalah salah satu program PCNU Lampung Selatan dalam rangka memperkenalkan, memberikan pemahaman tentang NU sebagai organisasi Islam beraqidah Ahlussunah wal Jamaah. (M.Munir/Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 19 November 2017

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan

Sumenep, SMA Negeri 1 Slawi. Kantor Pusat Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mal wat Tamwil (KJKS BMT) Nuansa Umat (NU) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diresmikan pada Sabtu (14/12).

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan

Hadir pada kesempatan tersebut tersebut Rais Syuriah PCNU Sumenep KH. Ahmad Basyir AS., Ketua PCNU A. Pandji Taufiq, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Hasan Mutawakkil Alallah, Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali, Ketua LPNU PBNU Musholihin, pengurus PCNU, MWC, banom dan lembaga/lajnah.

Sementara dari jajaran pemerintah tampak hadir Wakil Gubenur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Bupati Sumenep A. Busyro Karim, Ketua DPRD KH. Imam Hasyim dan perwakilan dari jajaran polisi dan TNI.

SMA Negeri 1 Slawi

Gedung berlantai dua dengan dominasi warna hijau diresmikan Rais Syuriah PCNU Sumenep KH. Ahmad Basyir AS dengan ditandai pengguntingan pita, disaksikan seluruh undangan yang berjumlah sekitar 750.

SMA Negeri 1 Slawi

Usai dilakukan peresmian, sejumlah undangan sempat mengunjungi kantor tersebut. Pada Sabtu malam dilanjutkan dengan pesta rakyat.? (M. Kamil Akhyari/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Kiai, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 17 November 2017

Jelang Pilpres, Warga Diimbau Selektif Pilih Media Informasi

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pada musim pemilihan umum (Pemilu) tahun ini, masyarakat perlu mencermati setiap sumber informasi yang diterima. Karena berpihak terhadap capres-cawapres tertentu, sejumlah media massa belakangan kerap menyebar fitnah yang menyudutkan salah satu pasangan.

Jelang Pilpres, Warga Diimbau Selektif Pilih Media Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Warga Diimbau Selektif Pilih Media Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Warga Diimbau Selektif Pilih Media Informasi

“Warga mesti selektif dalam menerima informasi, entah dari media cetak, elektronik, atau lainnya. Carilah informasi dari sumber-sumber terpercaya,” imbau Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Jakarta, Selasa (24/6).

Kiai Ishomuddin berharap masing-masing pasangan capres-cawapres, tim sukses, dan para pendukung untuk menghentikan setiap aksi kampanye hitam yang bisa merusak keharmonisan antarsesama dan citra calon pemimpin yang diserang.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, kompetisi dalam meraih simpati dan dukungan seharusnya dilakukan dengan menjunjung tinggi kejujuran dan menunjukkan kelebihan, bukan dengan merendahkan pihak saingan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kampanye hitam dan fitnah dapat meghilangkan kepercayaan. Hilangnya kepercayaan kepada pemimpin itu membahayakan negara,” ujarnya.

Pernyataan resmi PBNU terkait Pilpres 2014 yang diterbitkan akhir April lalu juga mengimbau kepada warga NU khususnya dan segenap anak bangsa pada umumnya untuk menjaga ikatan tali persaudaraan (ukhuwwah), kendati terjadi perbedaan pilihan dan dukungan di antara mereka.

“Kita wajib bersama-sama menciptakan iklim dan suasana damai, jauh dari hiruk pikuk provokasi dan agitasi yang mengancam keutuhan bangsa dan negara,” bunyi pernyataan yang ditandatangani Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj ini. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Pahlawan SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 29 Oktober 2017

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?

Batam, SMA Negeri 1 Slawi

Salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang III KH Abdul Ghofur Maimoen menyesalkan hujatan murtad terhadap Banser dalam menjaga gereja, padahal fikih Islam, penghormatan terhadap warga nonmuslim sudah selesai.

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?

"Siapa yang berani mengatakan Sayyidina Umar murtad?" ujar pria karib dipanggil Gus Ghofur itu, di Batam Kepulauan Riau, Ahad (27/11).

Doktor Ushuluddin ? Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir itu menegaskan, Sayyidina Umar ketika memimpin kekhalifahan tidak membakar gereja karena dalam fiqih Islam, umat Islam juga menjaga warga negara yang nonmuslim.

"Sayyidina Umar bin Khotob tidak merusak tempat ibadah nonmuslim. Siapa yang berani mengatakan beliau murtad. Kalau ada Banser menjaga gereja itu mengikuti fikih Islam dan juga Sayyidina Umar," kata dia pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Gus Ghofur menambahkan, di media sosial (medsos) banyak yang mencibir ? Ansor dan Banser. Bahkan ada yang menghujat ketika Banser Riyanto yang menjaga gereja mati karena bom, bukan bersimpati.

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya salah satu pimpinan Banser. Kalau ada apa-apa dengan Banser, saya ikut bertanggung jawab. Apa yang dilakukan Banser dalam kerangka menjaga NKRI. Kalau kita bangga dengan Indonesia, itu tidak menjadi soal karena nabi-nabi juga melakukan itu. Anak turun Nabi Ibrahim melahirkan bangsa-bangsa besar, dan mereka bangga dengan bangsanya," ujarnya didamping Ketua Bidang Kaderisasi PP GP Ansor Ruchman Basori.

Islam, demikian Gus Ghofur lagi, disampaikan melalui Nabi Muhammad karena nabi memang hebat dan tahu rumusan masalah.

"Banser tidak akan lagi menjaga gereja jika ada jaminan kelompok radikal tidak lagi meneror gereja. Tapi sebaliknya, kalau teror terhadap gereja masih ada, maka Banser akan tetap menjaga gereja karena dalam fikih Islam itu sudah clear," pungkasnya pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Hadits, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 05 Oktober 2017

PMII Malang Mengabdi dengan Mengajar

Malang, SMA Negeri 1 Slawi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang mengajar ngaji untuk anak-anak warga di sekitar sekretariat di Jl. Pandjaitan. Awalnya, anak-anak hanya suka bermain dengan para pengurus, lama-kelamaan, mereka ingin diajari ngaji.

PMII Malang Mengabdi dengan Mengajar (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Malang Mengabdi dengan Mengajar (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Malang Mengabdi dengan Mengajar

Agus Yasin, salah seorang aktivis PMII Malang mengatakan, mulanya tiga anak yang minta diajar ngaji, sekarang tiga belas. Tak pelak, semua pengurus PMII memiliki kegiatan baru, yakni rutin mengajar secara bergilir tiap sore, “Anak-anak itu tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tapi juga belajar ilmu-ilmu agama dengan gratis,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi di sekretariat PMII, Rabu, (15/5).

Menurut Yasin, memberi pelajaran bacaan-bacaan Al-Qur’an pada anak-anak merupakan gerakan kongkrit, praktis, dan bentuk implementasi diskusi-diskusi yang berjalan selama ini, “Jadi, tidak hanya mandek pada wacana belaka,” tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain menanamkan nilai-nilai Aswaja sejak dini, kegiatan ini juga menjadi media komunikasi dan silaturahim dengan warga sekitar, “Kami menjadi sangat erat dengan warga yang tinggal di sekitar, karena anak-anaknnya mengaji disini,” ujarnya lagi.

SMA Negeri 1 Slawi

Yasin bersyukur, dengan kegiatan baru tersebut, para aktivis pergerakan menjadi sering ke kantor. Meski sekedar mengawal pengajaran, kegiatan baru ini menjadikan kerekaatan antar-pengurus.

Sementara itu, Ketua Umum PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar memberikan dukungan penuh atas kegiatan ini. Karena itu termasuk TPQ ia menamakannya “TPQ ar-Rofiq”, “Semoga bermanfaat. Inilah kader PMII, dengan ilmu dan bakti yang diberikan,” ucapnya.

Redaktur       : Abdullah Alawi

Kontributor   : DIana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Amalan, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 22 Mei 2017

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi
Dalam rangka kongres PMII ke XV yang akan datang, mantan ketua PMII tahun 1977-1980 H. Ahmad Bagdja mengharapkan agar kongres kali ini tak lagi membicarakan tentang model-model gerakan dan topik kajian tentang faham yang sifatnya global seperti liberalisme, sosialisme, islamisme dan lainnya.

“Saya kira ini tetap penting, namun demikian kiranya perhatian dialihkan pada sosialisasi dan transformasi nilai nilai yang dikandung PMII kepada masyarakat yang menjadi sasaran pemberdayaannya. Kerja PMII harus kongkrit disitu” tandasnya (19/05).

Dalam hal ini ada dua hal yang harus dilakukan, yang pertama ia harus menguatkan struktural organisasi yang harus kuat. Ini merupakan salah satu cara untuk bersaing dalam komunitas mahasiswa lainnya. Kedua adalah penghayatan terhadap kultur harus lebih luas dan proses tranformasinya harus lebih digalakkan. Jadi harus tumbuh orang PMII yang secara kultural gandrung pada perbaikan, lebih teraktualisasikan dalam masyarakat.

PMII juga harus membangun sebuah kesadaran tinggi bahwa proses ber PMII itu akan sangat panjang, tak mengenal berhenti dalam mengenal nilai dan mendewasakan masyarakat, tidak Cuma ketika menjadi pengurus.

“Ber-PMII harus secara kultural yang mana ia memiliki tanggung jawab moral. Ini yang diminta dari kita, dari generasi yang lebih tua. Kalau cuma ketika pengurus, ya mungkin selesai berperiode, secara struktural. Tapi secara kultural ia harus melakukan kerja-kerja yang lintas periode. Ini yang harus menjadi pegangan,” tambahnya.

Bagdja yang saat ini menjabat sebagai koordinator nasional Foksika (Forum Komunikasi dan Silaturrahmi) mengungkapkan bahwa PMII saat ini secara kuantitatif anggotanya makin banyak, kelembagaannya makin berkembang, di cabang, komisariat, di berbagai perguruan tinggi dibandingkan zaman tahun 1970-an.

Para anggotanya saat ini juga lebih beragam. Jika zaman dahulu sebagian besar datang dari pesantren, Aliyah atau IAIN yang memiliki latar belakang keagamaan yang memadai saat ini telah mulai berkembang. Saat ini mereka datang dari basis pendidikan yang umum, masuk perguruan tinggi umum juga yang sedikit sekali tersentuh dengan pemikiran mendasar keagamaan, khususnya nilai yang patut dikembangkan PMII.

“Yang harus tetap diingat adalah melalui kongresnya dia harus tetap berpijak nilai-nilai asal muasal kejadiannya, yaitu meskipun secara organisatoris tak terikat dengan NU, tetapi ia juga mengemban misi NU seperti dirumuskan dalam Nilai Dasar Pergerakan,” imbuhnya.

Namun demikian, Bagdja menilai tampaknya sosialisasi faham ahlusunnah wal jamaah hanya dalam formal training, padahal yang harus dilakukan PMII adalah proses tranformasi nilai sehingga ketika menyerap ilmu yang lain dasarnya harus dari situ.

Bagdja menjelaskan bahwa PMII memiliki tiga keterikatan yang meliputi keterikatan sebagai sebagai umat Islam, keterikatan sebagai pemuda bagian dari generasi muda Indonesia dan keterikatan ketiga adalah sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.

“Yang saya tekankan adalah tanggung jawab dia sebagai generasi muslim yang memiliki kewajiban untuk mengembangkan nilai-nilai keislaman. Ini berarti disamping sebagai organisasi yang dibangun dari PB sampai komisariat juga sebagai komunitas kultural yang semestinya harus berupaya agar kultur, tradisi, nilai yang menjadi nafas ruh harus teraktualiasasikan dalam kehidupan sehari-hari,’ tegasnya.

Kalau dilihat dari konteks ini, PMII memiliki lahan yang cukup untuk dia berinteraksi mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat yang lebih luas karena keasamaan kultur dengan masyarakat NU.

Terdapat persamaan kultural antara PMII dan NU, kedua tokoh PMII pada umumnya tak jauh dengan NU baik secara kultur atau struktur, banyak yang menjadi pengurus NU. “Buat kiprah kemasyarakat saya kira tak sulit dan orang NU akan menerima ketika disebut dari PMII,”

Pada periode kepemimpinannya Ketua PBNU tersebut menjelaskan bahwa dalam aktifitas sehari-hari, hubungan dengan NU, dengan kyai, alim ulama sangat erat. PMII selalu diikutkan dalam berbagai acara NU seperti bahsul masail, munas, dan lainnya. PMII dulu juga memiliki departemen dakwah yang melakukan kerja interaksi dalam masyarakat, tentu dakwah yang dilakukan juga berbeda.(mkf)

 

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Nusantara, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagdja: Kerja PMII Harus Kongkrit dalam Masyarakat

Kamis, 13 April 2017

PBNU: Pola Pemberantasan Korupsi Harus Diubah

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Umum Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan, pola pemberantasan korupsi di Indonesia harus segera diubah. Pasalnya, pola yang diterapkan saat ini masih jauh dari keadilan, karena masih terasa belum independen dan masih menjadi bagian dari kekuasaan.



PBNU: Pola Pemberantasan Korupsi Harus Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pola Pemberantasan Korupsi Harus Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pola Pemberantasan Korupsi Harus Diubah

"Tidak bisa dengan pola KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) seperti sekarang. Pola sekarang hanya mampu menangkap orang-orang yang apes (sial), dan jauh dari kemungkinan bisa memberantas korupsi yang sesungguhnya di Indonesia," ungkap Hasyim kepada wartawan di Jakarta, Ahad (29/7) kemarin.

Ia mengatakan hal itu menanggapi vonis 7 tahun penjara oleh pengadilan untuk mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rohmin Dahuri, beberapa waktu lalu. Bagi mantan Ketua PWNU Jatim itu, keberhasilan KPK menangkap Rokhmin belum bisa disebut sebagai prestasi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

SMA Negeri 1 Slawi

"Polanya harus diganti pola independen (bukan alat kekuasaan), komprehensif atau menyeluruh, tidak tebang pilih dan top down, dari atas ke bawah serta tidak seperti pola mikroskop," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Hasyim menandaskan, jika pola yang diterapkan saat ini tidak segera diubah, ia khawatir hal itu justru akan menjadi beban yang krusial bagi negara. "Misalnya, sakit hati, dendam antar-rezim, termasuk rezim sekarang kalau nanti diganti," tuturnya.

Karena itulah, lanjut Hasyim, NU sama sekali tak tertarik merekomendasikan kadernya untuk mengisi jabatan di KPK. Sebab, siapapun yang menjadi ketua KPK, katanya, jika sistem dan pola yang tidak independen, maka pemberantasan koruspi di Indonesia akan semakin jauh dari harapan.

Tertangkapnya sejumlah tersangka korupsi akhir-akhir ini, katanya, sebenarnya hanya sebatas euforia peradilan. Seiring dengan itu, lanjut Hasyim, pembangunan di daerah kini mengalami kemacetan karena ketidakmauan orang menjadi pimpinan proyek di daerah. Hal itu terjadi karena mereka takut ditangkap oleh KPK.

"Pembangunan daerah macet karena sulitnya pimpro di daerah sehingga daerah lebih suka memasukkan dana ke SBI yang berakibat keringnya sektor riil masyarakat. Sebagai salah satu cermin kasus adalah penghukuman berat 7 tahun penjara untuk Rokhmin Dahuri," pungkasya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Fragmen, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock