Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Hipsi Bertekad Cetak Satu Juta Santri Pengusaha

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) bertekad ingin mencetak satu juta santri pengusaha dalam sepuluh tahun ke depan.

Ketua Hipsi Pusat Moch H Ghozali menyampaikan hal itu dalam seminar dan deklarasi HIPSI, di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Selasa (13/11).

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah pengusaha, yakni Ir Aunur Rofiq (pengusaha tambang dan sawit Jakarta), Fauzan T Hananto (pendiri Plannet Design Surabaya), Arum Sabil (pengusaha tebu dan peternakan Jember), dan Edy Setiadi (Direktur Eksekutif Departemen, Perbankan Syariah Indonesia).

Hipsi Bertekad Cetak Satu Juta Santri Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi Bertekad Cetak Satu Juta Santri Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi Bertekad Cetak Satu Juta Santri Pengusaha

Selain itu, dalam seminar "enterpreneur santri" HIPSI Jatim itu, artis terkenal Anang Hermansyah juga hadir menjadi pembicara. Bahkan, dia juga didaulat menjadi Pembina HIPSI Pusat.

SMA Negeri 1 Slawi

Ghozali menegaskan, HIPSI sengaja memilih Anang Hermansyah bertujuan untuk mempercepat pencapaian visi HIPSI yakni mencetak satu juta santri pengusaha tersebut. "Buktinya, saat kami membina santri di Kalimantan pun, mas Anang ikut," ujar Ghozali. 

Pemilihan Anang sebagai pembina dan duta HIPSI, lanjut dia, bukan tanpa alasan. Anang dinilai tulus dan mau berbuat untuk HIPSI. 

SMA Negeri 1 Slawi

"Mas Anang punya satu visi dengan kami, karena dia juga santri, dia juga NU dan dia mau berbagi dengan HIPSI," tandasnya.

Sementara itu, Anang Hermansyah mengaku, dirinya tertarik masuk HIPSI, karena dirinya berasal dari keluarga santri dan organisasi itu sudah lama menjadi mimpinya selama ini.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Hadi JM

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 12 Februari 2018

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai ajang konsolidasi dengan kepengurusan NU di bawahnya. Pengurus Harian NU DKI Jakarta menemui pengurus Majelis Wakil Cabang NU se-Jakarta Selatan di Kantor Sekretariat PCNU Jakarta Selatan di Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (11/6) malam.

Kunjungan silaturahmi dan konsolidasi ini diawali dengan khataman Al-Quran dan sembahyang tarawih berjamaah. Forum ini diisi dengan tanya jawab terkait ke-NU-an dan permasalahan ibu kota Jakarta antara pengurus MWCNU dan PWNU DKI Jakarta.

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

“Semoga pertemuan silaturahmi ini menguatkan nahdliyin di Ibu Kota Jakarta,” kata Ketua Panitia Safari Ramadhan Ustadz H Munahar Mukhtar mengawali sambutannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengapresiasi gerakan tangkas pengurus harian NU DKI Jakarta. Menurutnya, tidak lama setelah konferensi wilayah NU pengurus baru harian NU DKI Jakarta segera melangsungkan pelantikan untuk kemudian terus menyapa cabang dan majelis wakil cabang NU di Jakarta.

“Insya Allah Jakarta adem kalau pengurus NU dan nahdliyin bergerak menjalankan amanah organisasi dan menghidupkan tradisi Aswaja NU. Semoga gerakan NU Jakarta ini menjadi etalase kepengurusan NU se-Indonesia,” kata Kiai Abdurrazak.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebelum menyapa pengurus MWCNU se-Jakarta Selatan, H Saefullah mendata kehadiran pengurus satu per satu MWCNU. Menurutnya, Jakarta ini penuh dengan masalah.

Pengurus NU di Jakarta, menurutnya, harus kerja keras untuk membenahi Jakarta dan nahdliyin. Kiprah NU dalam pergerakan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan. Kini kita mesti meningkatkan pengabdian kita untuk khususnya Jakarta menjadi lebih baik.

“Kalau Pemda DKI Jakarta punya APBD, NU ini seperti kata Ketua PBNU KH Imam Aziz tidak memiliki APBN dan APBD. Tetapi berkah perjuangan para ulama kita, NU harus terus bergerak dari mana rezekinya,” kata H Saefullah disambut gelak tawa hadirin.

Menurutnya, NU sudah terbukti menerima Pancasila dan UUD 1945. Hal ini terbukti dari komitmen NU terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideal dan konstitusional di Indonesia. NU dalam acara formalnya selalu membawakan lagu Indonesia Raya.

Sebelum ditutup dengan doa khatmil Quran oleh KH Muhyiddin Ishaq, Ketua PWNU DKI Jakarta Dr H Saefullah menyerahkan secara simbolis wakaf Al-Quran pribadinya kepada Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi. Sebelum bubar, para hadirin membaca doa kaffaratul majlis yang dipimpin Rais Syuriyah NU Jakarta Selatan KH Lukman Hakim. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, PonPes, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 10 Februari 2018

Hari Maritim Nasional, Banser Maritim Siap Kawal Kedaulatan NKRI

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Saat ini, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) memiliki pasukan satuan khusus (satsus) di bidang maritim. Satsus ini dinamakan Banser Maritim yang kini satuannya telah terbentuk di sejumlah daerah.

Hari Maritim Nasional, Banser Maritim Siap Kawal Kedaulatan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Maritim Nasional, Banser Maritim Siap Kawal Kedaulatan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Maritim Nasional, Banser Maritim Siap Kawal Kedaulatan NKRI

Satuan berbaju biru laut ini melengkapi satuan-satuan lain di Banser, seperti Densus 99 Asmaul Husna, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Banser Relawan Kebakaran (Balakar), Banser Relawan Lalulintas (Balantas), Banser Kesehatan (Banser Husada), dan Banser Protokoler.

Pada momen Hari Maritim Nasional yang jatuh pada 21 Agustus tiap tahunnya, Baritim bertekad dan siap sampai kapan pun untuk menjaga wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Komitmen ini menurut Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser Alfa Isnaeni sebagai langkah untuk mewujudkan fungsi Baritim yang meliputi pengamanan, pemeliharaan, pelestarian, dan konservasi wilayah maritim NKRI.

“Baritim adalah Satsus Banser yang mengemban dan mengamankan program-program sosial kemasyarakatan GP Ansor yang memiliki ketahanan fisik dan mental yang tangguh, disiplin, berdedikasi tinggi,” ujar Alfa Isnaeni lewat page resmi GP Ansor, Senin (21/8).

SMA Negeri 1 Slawi

Pria berkumis ini menegaskan, Baritim juga memiliki kemampuan dan kecakapan di bidang kelautan dan kemaritiman yang berdomisili di daerah kepulauan dalam wilayah yuridiksi maritim NKRI.

SMA Negeri 1 Slawi

“Selamat Hari Maritim Nasional,” tutupnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Grup Qasidah “Band Kepret” dari Pesantren Al-Karimiyyah turut berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Pembukaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecatamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, di gedung Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Huda, Ahad (10/3) kemarin.

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Salah satu keunikan dari Grup Qasidah yang digawangi oleh Nashori, Cecep, Ino, Epul, Wisnu, Gofur, Irfan, Radi, Yadi dan Sopyan tersebut ketika tampil di hadapan sedikitnya 78 orang peserta dan 30 orang panitia adalah berhasil membawakan beberapa lagu shalawat dengan beberapa arransemen dan para penabuh yang mengiringinya pun dapat menyesuaikan dengan arransemen yang dibawakan oleh Nashori, sang vokalis.

Selain itu, keunikan lainnya adalah dalam Grup Qasidah ini pun terdapat beberapa alat musik yang tidak biasanya hadir dalam Grup Qasidah “Band Kepret”, karena selain alat musik konvensional dari “band kepret”, juga dilengkapi dengan tam-tam, kotek, symbal dan drum tenor.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Nashori, kolaborasi alat musik tersebut merupakan hasil karyanya sendiri, naluri dan imajinasi musiknya berhasil membuat inovasi suara dalam “band kepret” apalagi kemampuan musiknya selalu dilatih dalam seminggu paling tidak 2 kali.

“Jadwal latihan kita seminggu dua kali, hari jum`at sore dan minggu sore,” ujarnya

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut mahasiswa STAI Riyadlul Jannah ini, dibandingkan dengan marawis dan hadroh, qasidah dihitung lebih mudah dalam melakukan inovasi.

“Menurut saya, untuk membuat kreasi dan inovasi musik lebih gampang qasidah daripada marawis dan hadrah,” ungkapnya

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Pengurus MWCNU Patokbeusi, PC IPNU Subang, Sekretaris Kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat tersebut grup qasidah Al-karimiyyah cukup menghibur hadirin dan hadirin pun terlihat khusu dalam mendengarkan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan oleh mereka.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Warta, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi 

Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa akan menyelenggarakan Ijazah Kubro di Lapangan Puser Bumi, Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Ahad (28/1). Ijazah akan dilakukan kiai-kiai sepuh untuk sekitar 25.000 pendekar dan Nahdliyin. 

Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, mengungkapkan pentingnya agenda Ijazah Kubro bagi para pendekar Pagar Nusa dan Nahdlyyin. 

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh

"Penyelenggaraan Ijazah Kubro ini merupakan amanat dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan kiai-kiai sepuh," katanya. 

Menurut dia, si tengah pelbagai tantangan bangsa kini, perlu ada penyelenggarakan Ijazah Kubro untuk mendapatkan semangat dan sentuhan dari kiai sepuh. Intinya, Nahdliyin perlu siap secara mental dan spiritual menghadapi dinamika bangsa ini pada masa kini dan mendatang.

Menjelang agenda ini, Nabil Haroen didampingi Ketua Panitia, Zainul Munasichin dan pengurus Pimpinan Pusat Pagar Nusa, sowan ke beberapa kiai sepuh, di antaranya, KH Maimoen Zubair, KH Mustofa Bisri, KH Habib Luthfi bin Yahya, KH Maruf Amin, KH. Said Aqil Siroj, KH Ayip Abbas, dan beberapa kiai sepuh lainnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara salah seorang Pengurus Pimpinan Pusat, Athoillah juga akan bersilaturahim ke beberapa kiai di Jawa Timur, di antaranya KH Nawawi Abdul Jalil dan beberapa kiai sepuh lainnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ijazah Kubro ini terbuka bagi pendekar Pagar Nusa, Banser dan warga Nahdliyin. Bagi para peserta yang ingin hadir dan menjadi peserta, dapat menghubungi Pengurus Pagar Nusa di Wilayah dan Cabang masing-masing, atau mendaftar secara online di bit.ly/ijazahankubropn, serta menghubungi call center Pagar Nusa (0813 1947 1986 / 0878 8723 1986).

Kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian agenda Pengukuhan Pimpinan Pusat masa khidmah 2017-2022 di Cirebon, Jawa Barat, pada Ahad (28/1). Setelah itu, dilanjutkan dengan Rakernas di Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, pada 28-30 Januari 2018 yang dihadiri para pengurus Pimpinan Wilayah Pagar Nusa. (Sirojuddin/Abdullah Alawi)  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 22 Januari 2018

Tolak Full Day School, NU Siap Demo dan Judicial Review

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Kaum Nahdliyin bersiap menggelar aksi protes atas rencana kebijakan Sekolah Sepanjang Hari (Full Day School). Jika aturan sekolah selama 8 jam 5 ? yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tersebut tidak benar-benar dicabut. Mereka mengaku siap memobilisasi massa ke Jakarta.

Tolak Full Day School, NU Siap Demo dan  Judicial Review (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Full Day School, NU Siap Demo dan Judicial Review (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Full Day School, NU Siap Demo dan Judicial Review

Hal tersebut mengemuka dalam halaqah kebangsaan yang diinisiasi Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI di Hotel Acacia Jl. Kramat Raya Jakarta, Senin (7/8). Acara bertajuk “Peran Strategis Madrasah Diniyah Dalam membangun Karakter Bangsa” ini dihadiri kurang lebih 300 peserta terdiri dari utusan Madrasah Diniyah dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perwakilan ormas Islam dan sejumlah aktivis LSM.

Ketua Umum Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) KH Lukmam Hakim mengatakan, setidaknya ada dua langkah yang akan ditempuh Kaum Nahdliyin sebagai upaya penolakan Permendikbud 23/2017 Sekolah Sepanjang Hari. Selain menggelar aksi simpatik, mereka berencana melakukan uji materi (judicial review) di Mahkamah Konstitusi.?

“Menurut kami, para kiai serta banyak pihak telah menyampaikan, PBNU juga demikian, semua menolak keras. Maka saya yakin proses selanjutnya yang akan dilaksanakan ada dua. Pertama, aksi atau demonstrasi. Kedua, judicial review di MK. Kita akan menggugat Permendikbud ini,”ujar Lukman disambut tepuk tangan hadirin.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam pidatonya, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar menyatakan, kebijakan delapan jam belajar dalam lima hari sekolah yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak realistis. “Kebijakan ini tidak lebih baik dibanding kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda di masa lalu,” cetusnya.

Menurut Cak Imin, sapaan akrabnya, dulu pemerintah kolonial Belanda menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat lokal sebelum mengeluarkan kebijakan. Mereka beradaptasi dengan budaya masyarakat Indonesia terlebih dahulu agar kebijakannya terimplementasi dengan baik. “Snouck Hurgronje ditugasi menganalisis, jangan sampai kebijakan Belanda itu tidak produktif bagi tujuan mereka,” tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Halaqoh dengan pembicara kunci Ketua Umum PKB A Muhaimin Iskandar ini menghadirkan lima narasumber, yakni Ketua PBNU Bidang Hukum KH Robikin Emhas, Ketua Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) KH Arifin Junaidi, Ketua FKDT KH Lukman Hakim, Bupati Pasuruan KH Irsyad Yusuf, dan Komisioner KPAI Hj Margaret Aliyatul Maemunah.

Diskusi panel yang dimoderatori Anggota Komisi VIII DPR RI KH Maman Imanul Haq ini berlangsung seru. Para guru Madrasah Diniyah dengan semangat menyampaikan pandangan mereka serta memberikan usulan terkait Sekolah Sepanjang Hari (Full Day School).

Semua narasumber bersepakat menganggap kebijakan Sekolah Sepanjang Hari dapat mengganggu eksistensi madrasah diniyah. Untuk memeriahkan acara, PKB pun menyertakan tagar #tolakfulldayschool untuk dijadikan trending topic. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Warta, Kajian Sunnah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Pacitan, SMA Negeri 1 Slawi. Ratusan jamaah dalam kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor  Arjosari, Pacitan, Jawa Timur membaca shalawat di Masjid Al-Mubarok Dusun Kulak, Desa Tremas, Arjosari, Sabtu Malam (19/3).

Jamaah yang terdiri dari Masyarakat, pengurus GP Ansor dan Anggota Banser ini dengan penuh khidmat melakukan pembacaan Ratib al Haddad karya Al-Habib Abdullah bin alwi bin muhammad Al-Haddad. Kegiatan ini digelar pertama kalinya oleh PAC GP Ansor Arjosari seusai terbentuk kepengurusan Rijalul Ansor pada awal bulan maret ini.

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Ketua GP Ansor Arjosari, H Hamka Hakim dalam sambutanya menyampaikan beberapa keutamaan bagi pengamal atau pembaca Ratib Al Haddad, di antaranya akan terhindar dari mara bahaya, memanjangkan umur dan mempermudah memperoleh rizqi. Ratib al Haddad, katanya, diamalkan sebagai salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

SMA Negeri 1 Slawi

“Mari melalui kegiatan ini, kita niat ingsung (berniat), bismillah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga sebagai caranya kita nguri-uri (menjaga) ideologi Ahlussunnah wal-Jamaah. Karena tanpa kita yang peduli, terus siapa lagi yang akan peduli,” jelas lulusan univeritas Al Azhar Mesir itu.

Lebih lanjut, Hamka Hakim menyampaikan keperihatinanya atas kondisi masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yang mulai meninggalkan masjid dan mushala sebagai pusat kegiatan keagamaan. Menurutnya, telah terjadi pergeseran nilai dan budaya yang diakibatkan oleh kemajuan zaman.

SMA Negeri 1 Slawi

“Zaman dahulu para remaja tidur di masjid atau mushala adalah suatu kenikmatan. bagaimana kita dididik dan dibina tumbuh dalam lingkungan masjid dan mushalla.” kata dosen Staifa Kikil Pacitan itu.

Namun kondisi yang terjadi sekarang sangat memperihatinkan. Seusai waktu magrib, para remaja dan anak-anak mulai menjauh dari kegiatan keagamaan di masjid atu mushala. Mereka banyak yang tidak mau belajar mengaji, justru memilih dan mendatangi tempat-tempat seperti tempat tongkrongan dan tempat permainan lainya.

“Ini kehawatiran kita kalau imbas dari kemajuan zaman ini justru menggerus terhadap moral dan nilai yang baik dalam generasi muda kita,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, GP Ansor Arjosari hadir dengan sayapnya Rijalul Ansor untuk memberikan kontribusi dan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya kembali ke masjid sebagai tempat kegiatan keagamaan. Rijalul Ansor menggelorakan ajakan kembali ke masjid sebagai sarana membentengi generasi muda dari pengaruh zaman.

Sementara itu Pembina GP Ansor Arjosari, Ust Zafri Wicaksana meminta kegiatan Rutinan Rijalul Ansor semacam ini harus tetap berjalan, bagimanapun kondisinya. GP Ansor tidak boleh kalah semangat dengan Fatayat dan Muslimat NU yang telah lama berjalan dengan pengajian dan seaman Al-Qur’anya.

“Bukan maksud Ansor bersaing dengan Fatayat atau muslimat. Namun bagaimana caranya kita bersama-sama berjuang dan menguatkan ideologi Ahussunnah wal-Jamaah di tengah-tengah masyarakat pedesaan,” tandasnya.

Kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor ini akan digelar rutin sekali dalam satu bulan. Yakni tiap malam Sabtu Pon atau Ahad Wage. Rutinan akan digelar dari desa ke desa di seluruh kecamatan Arjosari dengan menggandeng takmir masjid dan pengurus karang taruna. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Humor Islam, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Oleh Inggar Saputra

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Meski Islam hadir pertama kali di Arab Saudi, tapi berkat perjuangan para pedagang dan ulama, agama ini mampu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Islam di Indonesia mampu menciptakan akulturasi dengan menyerap spirit perjuangan masyarakat lokal. Penyatuan Islam dan kearifan lokal ini yang sering disebut Islam Nusantara.

Konteks Indonesia, salah satu penyebar Islam yang penting adalah ulama khususnya Wali Sanga di Tanah Jawa. Mereka (Wali Sanga) merupakan sembilan ulama yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan, moderatisme, penuh nilai toleransi dan kedamaian. Wali Sanga adalah pejuang Islam, pendidik dan ulama yang membawa nilai Islam yang mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Dengan prinsip mempertahankan budaya atau tradisi yang lama dan baik, serta memasukkan nilai Islam yang awalnya dianggap asing, masyarakat membuka tangannya sehingga dakwah Wali Sanga berjalan sukses dan masyarakat ramai-ramai memeluk Islam.

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Salah satu Wali Sanga yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.





Memahami Islam Nusantara

SMA Negeri 1 Slawi

Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998) Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad Saw. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara.?

Meski begitu Islam tidak lahir dari ruang kosong, melainkan selalu mampu berdialog dengan kearifan lokal termasuk budaya dan peradaban manusia Indonesia. Perpaduan budaya ini berjalan saling menegasikan, mempengaruhi dan menyempurnakan sehingga terbentuk pemahaman Islam Nusantara. Hasil interaksi Islam dan budaya lokal pada akhirnya akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu Islam mewarnai mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, kemungkinan kedua adalah Islam yang justru diwarnai budaya lokal (Simuh: 2003)

Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, pernikahan ulama atau pedagang dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.

Islam di Nusantara jelas bukan sebuah agama yang baru, sebab perkembangan Islam sudah dibawa pedagang dan ulama sejak masa kerajaan Hindu-Buddha masih dominan mempengaruhi pemikiran masyarakat di Indonesia. Islam Nusantara bersifat akomodatif dan inklusif dalam mengintegrasikan nilai universal Islam dan peradaban lokal Indonesia yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Ini penting ? dalam melahirkan kembali karakter positif manusia Indonesia seperti toleran, moderat, damai, ramah tamah, gotong royong dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Islam menyerap spirit kearifan lokal yang baik dan meminggirkan secara halus kepercayaan atau keyakinan yang bertentangan dengan syariat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Sejatinya setiap muslim yang secara sadar mendeklarasikan syahadat akan terhindar dari sifat adigang adigung adiguna. SIfat negative harus dihilangkan dan digantikan semangat menghargai perbedaan keyakinan, tidak diskriminatif, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika serta menjauhikan sifat ekslusif dan superior di antara manusia lainnya ? (Ishom Yusqi, 2015). Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara nash syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015).

Untuk lebih memperjelas makna Islam Nusantara maka dapat digambarkan dalam dua kata, Islam dan Nusantara. Islam adalah ajaran samawi (langit). Nusantara adalah tradisi ardhi (bumi). Maka secara sederhana Islam Nusantara dapat diartikan sebagai ajaran langit yang membumi. Islam Nusantara bukan soal menilai buruk dan salah pada yang lain. Tapi lebih tentang di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. ? Menjadi Nusantara adalah hal yang paling manusiawi bagi manusia Nusantara. Dilahirkan sebagai anak Nusantara, berakar kebudayaan negeri sendiri, berkebangsaan bangsa sendiri, dan menjadi diri sendiri. Bukan menjadi orang lain dengan justru kehilangan jati diri. Sebab, kehilangan terbesar adalah kehilangan diri sendiri (Candra Malik: 2015).

Dalam kacamata yang bersifat akademis Islam Nusantara mengacu kepada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (Nusantara) yang mencakup Muslim Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea). Dengan cakupan seperti itu, Islam Nusantara sama sebangun dengan Islam Asia Tenggara (Southeast Asian Islam). Secara akademik, istilah terakhir ini sering digunakan secara bergantian dengan Islam Melayu-Indonesia (Malay-Indonesian Islam). Islam Nusantara bersifat inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum Muslimin maupun dengan umat-umat lain. (Azra: 2015)

Gagasan Islam Nusantara memang muncul selama dua tahun terakhir dan mulai populer di kalangan masyarakat setelah menjadi tema Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33 di Makassar. Ketika pertama kali didengungkan sebagai pemikiran progresif dan berjiwa ke-Indonesiaan pro kontra langsung berdatangangan sehingga memunculkan polemik panas dan berkepanjangan sesama umat Islam. Tidak sedikit kalangan memberikan label negatif kepada ide Islam Nusantara tanpa mau mendialogkan secara terbuka dan kritis-konstruktif dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut. Padahal Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban duniaberangkat dari empat pilar agung khas nahdiyin yaitu moderat, seimbang, toleran dan selalu berpihak kepada kebenaran. Gagasan Islam Nusantara juga terhitung progresif dan ilmiah sehingga harus terus disebarkan dan diupayakan dialog secara mendalam sehingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Penulis berpandangan gagasan ini berangkat dari dua aspek keilmuan yang cukup penting yaitu aspek sejarah dan aspek kebudayaan. Sejarah panjang Islam di Indonesia menempatkan ulama sebagai titik sentral dalam teladan membagikan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Konteks ini, ulama dianggap sebagai tempat bertanya dan referensi utama masyarakat dalam persoalan kehidupan sehari-hari dan spritualitas-keagamaan. Dengan kedudukan strategis itu, peran ulama dinanti dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ulama adalah tokoh penting dalam menanamkan aqidah, tempat bertanya masalah dunia dan akhirat serta rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya peran itu, para ulama adalah pelaku sejarah dalam usaha menyebarkan Islam di Indonesia. Ulama adalah manusia yang dimuliakan masyarakat karena pengetahuan beragama yang kuat dan mendalam sehingga seringkali kekuasaan ulama sangat besar meliputi kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Konteks ini, ulama dalam artian kiai dan wali khususnya Wali Sanga di Jawa memiliki kemampuan untuk menstruktur tindakan orang lain dalam bidang ke-Islaman sesuai dengan keyakinan agamanya. Kemampuan itu meliputi pengetahuan ke-islaman, mengamalkan ajaran Islam dengan tertib dan konsisten menjalankan ajaran Islam sehingga merasakan dekat dengan Allah (Busthami: 2007)

Aspek budaya, sulit sekali melupakan bagaimana ulama berusaha menempatkan dakwah Islam dalam konteks kearifan lokal sehingga penerimaan masyarakat dapat berjalan baik. Para ulama memahami dan mengakui Islam berasal dari Arab sehingga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Tetapi untuk dapat diterima masyarakat Indonesia, Islam harus mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kebudayaan setempat (budaya suku atau kelompok masyarakat di Indonesia). Apalagi diketahui pengaruh animisme dan penyebaran agama Hindu dan Buddha masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga kreatifitas dalam berdakwah diperlukan agar tidak tercipta pergolakan dan penolakan keras masyarakat setempat terhadap keagungan ajaran Islam.

Sejarah mempertontonkan bagaimana kreatifitas ulama berkembang dalam hal kebudayaan melalui sarana lokal seperti lagu, budayam wayang dan lainnya. Para ulama menganut prinsip mempertahankan tradisi atau kebudayaan yang lama dan baik, dan secara perlahan mengenalkan budaya baru yang lebih baik dan sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Islam dikenalkan dengan tanpa adanya paksaan. Kebudayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat tetap kedudukan yang tepat bersanding dengan ajaran Islam yang agung dan inspiratif.?

Wali Sanga dan Islamisasi Jawa

Proses Islamisasi di tanah Jawa tidak terlepas dari jasa para ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Munculnya Wali Sanga mengakhiri dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka (Wali Sanga) adalah simbol penyebaran Islam di tanah Jawa dan berperan penting dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa (Solikin, Syaiful dan Wakidi: 2013) Wali Sanga berjumlah sembilan yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Para ulama ini memiliki hubungan dekat baik hubungan darah maupun hubungan guru dengan muridnya. Maulana Malik Ibrahim merupakan wali sanga tertua, memiliki anak Sunan Ampel dan keponakan Sunan Giri. Sunan Ampel dan istrinya melahirkan Sunan Drajad dan Sunan Bonang. ? Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga (murid dari Sunan Bonang). Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Sunan Kudus menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.?

Para ulama hebat ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan dan umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak awal abad 15 hingga pertengahan abad 16,. Mereka bermukim di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah simbol intelektual agamis yang berperan strategis dalam membentuk peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang menyatukan Islam dan kearifan lokal, dakwah Wali Sanga mampu memikat hati masyarakat sehingga banyak kalangan baik raja dan rakyat jelata masuk Islam dengan kesadaran sepenuh hati dan tidak dipengaruhi paksaan pihak manapun.?

Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi yang mirip panitia ad hoc (kabinet) dalam urusan mengislamkan masyarakat Jawa. Setiap wali bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau Nayaka (menteri) yang sering berkumpul bersama dalam sebuah rapat dalam membahas tugas dakwah Islam yang sedang diperjuangkannya. Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi berperan penting dalam pembangunan Masjid Demak yang dilaksanakan secara gotong royong (Widji Saksono: 1996)

Dalam kegiatan dakwahnya Wali Sanga menggunakan pendekatan bijaksana dan disesuaikan dengan pemahaman (pengetahuan masyarakat setempat terhadap Islam itu sendiri. Sunan Kalijaga misalnya membuat gamelan Sekaten yang kemudian dilanjutkan acara Sekaten (Syahadatain) di Masjid Agung. Dalam kesempatan lain, Sunan Kudus membuat lembu dengan hiasan unik dan menarik sehingga mengundang minat masyarakat luas untuk lebih mengenal Islam secara mendalam. Para Wali Sanga juga menggunakan kreasi lain seperti beduk atau kentongan sebagai tanda dimulainya waktu sholat lima waktu. Mengingat adzan yang diteriakkan melalui menara masjid terkadang kurang efektif dan komunikatif (Mastuki: 2014)

Model Dakwah Sunan Kalijaga?

Sunan Kalijaga (nama kecil, Raden Said) merupakan salah satu Wali Sanga yang terkenal dan dilahirkan tahun 1455 Masehi. Sunan Kalijaga memiliki darah keturunan ningrat mengingat ayahnya Arya Wilatika adalah Adipati Tuban keturunan dari Ranggalawe. Ada beragam versi mengenai nama Sunan Kalijaga, dimana masyarakat Cirebon berpendapat nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon mengingat dirinya pernah bertempat tinggal di Cirebon. Sebagian kalangan mengaitkan dengan tugas menjaga Kali yang diberikan gurunya (Sunan Bonang) sebagai ujian kesetiaan dan keseriusannya dalam belajar agama Islam. Tapi ada pula yang menilai nama itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan (Darmawan: 2011)

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga menyerap semangat kultural masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Untuk mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Kalijaga memilih jalur kebudayaan dan kesenian sebagai media dan sarana dakwah sehingga cepat menyerap dan diterima secara hangat oleh masyarakat pada zamannya. Sunan Kalijaga menjadi teladan terbaik dalam penyesuaian Islam dengan budaya lokal, berdasarkan prinsip mempertahankan yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dengan lebih baik (Anif Arifani: 2010) sehingga ajaran Islam masuk ke dalam struktur berpikir masyarakat secara halus dan secara perlahan menghilangkan tradisi masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam. Dakwah Sunan Kalijaga banyak sekali mendapatkan pengikut dari kalangan masyarakat menengah ke bawah (rakyat jelata).?

Sunan Kalijaga berpendapat jika diserang prinsip yang selama ini dipegang secara teguh (keyakinan Hindu-Buddha) masyarakat akan menjauh. Sehingga diperlukan dakwah secara bertahap sebab jika Islam sudah berhasil dipahami masyarakat, maka kebiasaan lama yang bertentangan dengan syariat akan hilang. Maka dapat disebut ajaran Sunan Kalijaga cenderung sinkretis dalam mengajak orang lain mengenal Islam. Beliau menciptakan berbagai media dakwah yang kreatif dan efektif. Ini menyebabkan dakwah di kalangan rakyat semakin meluas dan tak sedikit pula para petinggi kerajaan yang tertarik dengan dakwahnya. Beberapa diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak (Afifudin Muhajir: 2015). Secara umum banyak sekali sarana dakwah kreatif dari Sunan Kalijaga, tapi beberapa diantaranya yang fenomenal ada tiga yaitu masjid Demak, wayang dan lagu.

Pecahan Kayu Masjid Agung Demak

Diceritakan bagaimana para wali bergotong royong dalam membangun Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga mendapatkan tugas membuat satu dari empat tiang masjid. Dalam menjalankan tugas itu, beliau menggantikan balok kayu besar dengan pecahan kayu yang biasa disebut tatal. ? Sunan Kalijaga menyusun dan melekatkan bagian potongan kayu dengan lem dammar, kemenyan dan blendok. Tidak disangka sampai sekarang, tiang darurat itu masih bertahan kokoh (Sudarsono: 2010)?

Adanya soko tatal diartikan sebagai lambang spritualitas, persatuan dan kerukunan mengingat dalam membangun Masjid Agung Demak sempat terjadi perpecahan dalam masyarakat Islam. Dalam kondisi itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk menyusun tatal yang ada menjadi tiang yang kuat dan kokoh. ? Pemahaman filosofis tatal adalah jika umat Islam bersatu maka akan menjadi kuat dan jangan pernah sekalipun sesuatu yang sifatnya sisa seperti tatal. Dalam pengertian ini, Sunan Kalijaga mengajarkan makna Islam Nusantara dalam aspek bergotong royong, persatuan dan saling tolong menolong sebagai kunci sukses dunia dan akhirat. Aspek ini sesuai dengan jiwa kebangsaan yang menjadi variabel turunan dalam memaknai konsep Islam Nusantara.

Sampai sekarang Masjid Agung Demak banyak dikunjungi muslim seluruh Indoensia dan menjadi pusat agama terpenting di tanah Jawa. Islamisasi di Jawa termasuk daerah pedalaman banyak berawal dari syiar masjid bersejarah ini. Masjid Agung Demak bukan saja berkembang sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran besar Islam. (Siami Fitri: 2007)

Wayang dan Azimat Kalimasada

Wayang adalah sebuah kosakata asli bahasa Jawa yang berarti “bayang” atau “bayang-bayang” berasal dari akar kata ‘yang’ dan mendapat awalan ‘wa’ menjadi kata wayang (Darori Amin: 2000). Masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha sudah terbiasa melakukan pertunjukkan wayang untuk memanggil roh nenek moyang. Pada masa Hindu-Buddha, wayang semakin berkembang dengan munculnya wayang kulit dan cerita dewa-dewa dalam mitologi kedua agama tersebut. Ketika Islam masuk ke Indonesia, wayang mulai mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islami.

Sunan Kalijaga menyaksikan bagaimana masyarakat sangat menyukai wayang sehingga melihat ada peluang berdakwah dengan kesenian wayang. Pemikiran itu mendorongnya untuk mempopulerkan wayang yang sesuai syariat Islam. Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada (Imron Amar: 1992)?

Ada dua alasan mendasar mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima masyarakat secara luas. Secara normatif, Sunan Kalijaga sudah menjalankan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang masuk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyatakat sekitarnya. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkorelasi dengan nilai Islam. Tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Dalam mengajak penonton wayang, Sunan Kalijaga mengganti biaya masuk yang umumnya membayar uang dengan membaca kalimat syahadat. Secara kreatif para tokoh wayang yang identik dengan kepahlawanan Hindu diganti nama rukun Islam yang lima. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. (Purwadi: 2003). Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa sebagai proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat duniawi lainnya. Nakula dan Sadewa dipandang sebagai symbol zakat dan haji (Ahmad Chadjim: 2003)?

Lagu Ilir-Ilir

Lagu Ilir-Ilir merupakan salah satu tembang yang diciptakan SUnan Kalijaga dan cukup populer hingga sekarang. Pada masa dahulu, lagu ini sering dinyanyikan anak desa terutama pada malam purnama. Tanpa disadari, terdapat makna filosofis mendekat kepada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dalam tembang ini. Muncul sikap optimistik agar seorang muslim memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hari kiamat nanti. Para ahli tafsir menilainya sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas sehingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. (Hariwijaya: 2006).?

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar

Cah angon –cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodot iro

Dodotiro-dodotira, kumitir bedah ing pinggir

Dondomano jrumantana, kango sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane , mumpung padhang

rembulane

Suraka surak horeeeee.

Adapun makna yang terkandung dalam lagu lir-ilir tersebut, dalam catatan Hasyim Umar, adalah sebagai berikut:

Lir-ilir, lir ilir tandure wisa sumilir (Makin subur dan tersiramlah agama Islam yang disiarkan wali dan muballigh). Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten Anyar (Hijau adalah warna lambang dari agama Islam yang dikira pengantin baru sehingga menarik perhatian masyarakat). Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Cah angon/penggembala adalah penguasa yang diharapkan mampu menggembalakan rakyat agar masuk Islam, sementara buah belimbing mempunyai segi atau kulit yang mencuat berjumlah lima yaitu lambang rukun Islam) Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodotiro (Walaupun licin, sukar, tetapi usahakanlah agar dapat (agama Islam) agar mampu mensucikan dodot. Dodot adalah sejenis pakaian yang dipakai orang-orang atasan (trahing ngaluhur/? jaman dulu) Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir (Pakaian dan agamamu sudah robek karena dicampuri kepercayaan animisme dan upacara suci yang bertentangan dengan ajaran Islam) Dandomono jrumantana, kanggo sebo mengko sore (Agama yang rusak itu harus diperbaiki dengan agama Islam untuk menghadap Tuhan nanti sore) Mumpung jembar kalangane, mumung padhang rembulane (Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan bertobat kepada Tuhan) Suraka surak horeeee (Bergembiralah kalian moga-moga mendapat anugerah dari Tuhan).?

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mengakak setiap muslim termasuk pemimpin kerajaan saat itu untuk memeluk Islam meskipun dalam menumbuhkan dan menyuburkannya terdapat banyak sekali kesulitan dan tantangan. Tapi jika tidak putus asa, maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Mengapa Sunan kalijaga memberikan dakwah kepada pemimpin atau raja? Sebab mereka adalah teladan yang ditiru dan dicontoh masyarakat. Perkataan dan tindakan pemimpin akan menjaci acuan bagi rakyatnya sehingga jika pemimpinnya masuk Islam, maka rakyat akan mudah mengikutinya.?

Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai,? International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, PonPes, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Pesantren sudah eksis ratusan tahun di Nusantara. Selama itu, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangsih yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Pada masa penjajahan, pesantren turut menentang penjajahan kolonial. Setelah merdeka, pesantren turut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa hingga hari ini masih begitu terasa.?

Bukan hanya berkecimpung di dunia pendidikan, pesantren juga aktif dalam sektor-sektor yang lain seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, sosial, budaya, dan lainnya. bahkan, Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah sub-kultur.

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Di sepanjang sejarahnya, pesantren menghadapi problematika yang beragam sesuai dengan eranya, baik tantangan dari luar ataupun tantangan dari dalam itu sendiri. Namun, semua permasalahan itu bisa diatasi sehingga pesantren bisa tumbuh subur dan berkembang hingga sampai detik ini. Dewasa ini, tantangan yang dihadapi pesantren juga tidak kalah hebatnya dengan tantangan yang telah dihadapi pada masa lalu.

Untuk mengurai segala hal ikhwal dunia pesantren –mulai dari peran pesantren dalam konteks keindonesiaan, peluang dan tantangan pesantren, dan masa depan pesantren, Jurnalis SMA Negeri 1 Slawi A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Ketua Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) KH Abdul Ghofar Rozin. Berikut perikan wawancaranya:

Peran pesantren dalam konteks keindonesiaan itu seperti apa, Gus?

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau kita ngomong Nusantara, kalau kita ngomong Indonesia maka tidak bisa lepas dari yang namanya pesantren. Kalau bicara pesantren, kita tidak hanya memotret pesantren secara kelembagaan yang kita lihat sekarang ini.?

Pesantren itu sebuah peradaban besar. Misalnya pada zaman Raden Fatah menjadi sultan itu juga merupakan dari peradaban pesantren. Kalau meminjam bahasanya Mas Imam, pesantren itu great civilization. Tetapi kalau kita motretnya ke sana itu terlalu kejauhan, meskipun cita-cita pesantren adalah menjadi great civilization seperti dulu.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau meloncat pada masa pra kemerdekaan, pesantren mendorong terjadinya kemerdekaan Indonesia. Meski pesantren ada lebih dulu sebelum Indonesia, tetapi pesantren juga yang menjaga kemerdekaan NKRI. Apapun taruhannya.?

Sepanjang sejarahnya, pasti pesantren memiliki tantangan-tantangan yang dihadapi. Apa saja tantangannya itu?

Tantangannya banyak. Ada tantangan ideologis, ada tantangan kelembagaan, dan ada tantangan budaya. Pada tantangan budaya, apakah pesantren mampu merumuskan kembali manifesto kebudayaan pesantren yang kompatibel terhadap isu-isu kekinian.?

Kiai menjadi figur dalam pesantren. Ada fenomena jika kiainya wafat maka pesantrennya akan mengalami penurunan. Bagaimana Gus Rozin melihat ini?

Memang kiai itu menjadi figur sentral di pesantren. Kalau kita lihat dua atau tiga puluh tahun yang lalu pendapat seperti itu relevan, tetapi sekarang sudah tidak relevan lagi. Karena selama dua puluh tahun terakhir, banyak pesantren yang berjalan by system.?

Artinya figur itu menjadi berpengaruh dan tidak satu-satunya faktor. Contoh pesantren yang ditinggal sesepuhnya yaitu Pesantren Denanyar, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Cipasung, namun pesantren-pesantren tersebut tambah pesat.?

Saya kira tesis itu harus ditinjau ulang. Itu dulu seorang kiai menjadi figur sentral, menjadi pelaksana, melakukan fungsi kehumasan. Namun sekarang jarang sekali kiai yang melakukan itu semua.

?

Artinya?

Secara alamiah pesantren menemukan bentuk barunya dan itu sudah berjalan. Memang ada persoalan yang pengasuhnya tokoh nasional atau tokoh yang terkenal lintas provinsi. Memang kalau kiai tersebut wafat, ada sesuatu yang ‘bolong.’ Saat beliau wafat, putra-putra atau saudara-saudaranya tidak mengambil peran kenasionalannya itu.

Tetapi itu tidak serta merta pesantrennya menurun. Karena sekali lagi dua puluh tahun terakhir ini, kiai-kiai tokoh besar itu memang menjalankan fungsi keluarnya. Fungsi internalnya dipegang oleh the second line, level kedua, level ketiga, para gus, para mantu. Bahkan ada pesantren yang mengajak profesional untuk bergabung di dalamnya.?

Kalau soal itu, saya optimis pesantren tidak akan turun. Kalau pesantren sebagai sebuah organisme, pasti dia akan menemukan sendiri caranya untuk survive.?

Balik lagi ke tantangan pesantren. Salah satunya tadi tantangan akidah seperti Pesantren-pesantren Wahabi. Bagaimana itu?

Saya meilhat tidak ada pesantren wahabi. Kalau ada pesantren yang wahabi itu berarti bukan pesantren. Pesantren itu khas nusantara, pesantren itu khas Indonesia. Pesantren yang asli itu secara genealogis, baik hubungan darah maupun hubungan keilmuan, pasti nyambungnya ke Wali Songo. Yang secara genealogis tidak nyambung ke Wali Songo berarti bukan pesantren, itu lembaga pendidikan biasa. ?

Kalau ‘pesantren’ yang mengajarkan kekerasan seperti cara menggunakan senjata tajam dan perakitan bom?

Itu bukan pesantren. Ngaku-ngaku pesantren tetapi bukan pesantren.?

?

Lalu, urgensi dari tantangan ideologis itu seperti apa?

Tantangan itu menjadi cukup serius sekarang karena ghozwul fikr itu sudah bergeser dari Timur Tengah kemudia di Indonesia. Intensititasnya meningkat. Problemnya adalah pesantren belum cukup sadar bahwa mereka harus menggukana media sosial dengan bijak dan untuk keperluan ini. Ini salah satu kelemahan pesantren yang harus diperbaiki.

Maksudnya?

Pesantren melihat teknologi bukan sebagai patner. Pesantren melihat teknologi tidak sebagai wasilah yang bisa digunakan. Pesantren melihat teknologi kebanyakan itu masih sebagai ancaman. Ini yang membuat akses terhadap teknologi itu dibatasi. Kalau ada santri yang mengakses gadget itu masih secara diam-diam.?

Di satu sisi santri masih belum begitu membutuhkan. Mereka harus fokus belajar dan tidak membutuhkan gadget itu karena kebutuhan yang dibutuhkan santri sudah dipenuhi oleh pesantren.?

Tetapi itu membawa madarat juga karena sesungguhnya gadget itu adalah sebuah alat dalam konteks ghozwul fikr dan dalam konteks remaja sekarang tidak bisa dilepaskan dari gadget. Teknologi itu seperti pisau, tergantung mau pakai apa pisaunya itu. Kalau kita buat masak, pisau itu akan bermanfaat.?





Bagaimana memecahkan masalah itu?

Pesantren melihat gadget itu adalah sebuah ancaman karena bisa untuk ‘memukul orang’. Toh, kita bisa ajarkan kepada mereka untuk menggunakan gadget secara bijak, secara bertahap, dan melalui mekanisme yang benar. Ini yang membuat kita tertinggal dalam ‘perang’ di media sosial karena di pesantren tidak disiapkan untuk itu. Bukan hanya memanaj penggunaan gadget, tetapi juga harus dimulai dari sudut pandang melihat bahwa teknologi itu adalah wasilah untuk mencapai tujuan. Karena kita melihat sejarah bahwa tidak ada satupun peradaban yang menang melawan teknologi.?





Saat ini, seberapa jauh pesantren mengakomodasi teknologi?

Beberapa sudah memiliki kesadaran dan mengaplikasikan teknologi sebagai alat sebagai sarana untuk berdakwah atau untuk pembelajaran. Tapi sebagian besar masih belum.?

Tantangan ideologis lainnya adalah radikalisasi atas nama agama. Bagaimana Gus Rozin melihat pesantren dalam melakukan upaya-upaya kontra-radikalisasi?

Selama ini pesantren bersikap defensif terhadap radikalisasi. Pesantren bereaksi ketika dirinya merasa terancam, bereaksi ketika santrinya ada yang ikut paham yang aneh-aneh itu. Pesantren belum ofensif. Pesantren belum secara aktif membuat sistem yang membuat pesantrennya imun dari pengaruh radikalisasi. ?

Sebenarnya dakwah-dakwah radikal menggunakan medsos. Sedangkan kita masih melihat medsos sebagai ancaman. Cara berfikir anak-anak muda ini kan berbeda, mereka digital born, sementara saya dan orang-orang yang berumur di atas empat puluh tahun digital migrant. Nah, karena pemegang kebijakan di pesantren adalah orang yang digital migrant yang berumur di atas empat puluh tahun masih belum mengalami bahwa yang mereka asuh adalah digital born.?





Ke depan, pesantren ini akan seperti apa?

Ke depan pesantren akan berperan strategis dalam merekatkan bangsa ini. Pertama, karena aspek sejarahnya. Pesantren yang mendorong adanya NKRI. Bahkan, Panglima TNI mengakui bahwa kalau tidak ada pesantren, maka belum tentu ada resolusi jihad. Kalau tidak ada resolusi jihad, belum tentu ada Indonesia.?

Kedua, pesantren sedang dalam sebuah proses untuk menjadi mainstream pendidikan di Indonesia. kalau itu tercapai, bukan tidak mungkin pesantren itu menjadi perekat bangsa. Dan fungsinya akan sangat strategis dan negara tidak akan pernah bisa meninggalkan pesantren. Inikatornya adalah hampir semua partai politik memiliki organisasi-organisasi yang didisain untuk mendekati pesantren. Ini menjadi indikator bahwa pesantren itu menjadi sangat penting.?

Partai politik memiliki kendaraan ke pesantren. Apakah ini peluang atau malah akan menjadi tantangan yang mengahncurkan pesantren?

Tergantung cara kita menyikapi. Kalau kita masuk secara sadar, maka kita akan mendapatkan manfaatnya. Kalau kita masuk secara tidak langsung, maka kita akan diperalat. ?





Terakhir, terkait dengan RUU Madrasah dan Pesantren. Bagaimana kita menyikapinya?

RUU Madrasah dan Pesantren belum masuk ke Badan Legislatif. Itu harus didorong. Walaupun memang ada beberapa bagian yang harus tetap dikritisi misalnya fokus dari RUU ini adalah lebih kepada soal pemerataan anggaran. Padahal kesuksesan sebuah lembaga pesantren dan madrasah, faktor anggaran itu bukan satu-satunya. Ada faktor-faktor lain yang harus disentuh yang belum mendapatkan perhatian. Tetapi tidak apa-apa, yang ada saja didorong dan nanti bisa diperbaiki sambil jalan. Semoga saja bisa segera masuk Baleg dan disahkan.?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA

Jakarta, NU ? Online

Terkait dengan penerapan dan tantangan MEA, pemerhati pendidikan dan penulis sejumlah buku pendidikan Doni Koesoema A mengatakan pondok pesantren lebih siap. ?

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA

Demikian dikatakan Doni dalam wawancara dengan SMA Negeri 1 Slawi seusai menjadi pembicara dalam diskusi publik “Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi MEA” di Griya Gus Dur, Selasa (3/5).

Doni beralasan, “Karena di ponpes individu-individu dibekali oleh kekuatan spiritual yang bagus. Lalu ? kontak budaya dan kontak dengan masyarakat yang kuat, itu sebenarnya bisa menjadi modal.”?

(Baca:? Untuk Hadapi MEA, Pemerintah Harus Perbaharui Sistem Pendidikan)?

SMA Negeri 1 Slawi

Dari sisi ekonomi pondok pesantren perlu mengupayakan bagaimana memberdayakan ekonomi masyarakat. Menurut Doni hal ini akan mengubah bangsa Indonesia akan lebih cepat maju.

“Saya melihat di masjid-masjid ada banyak arus uang. Tetapi kas, di beberapa majid di Tangerang (tempat tinggal Doni-Red), dipakai untuk membangun gapura. Padahal di sekitarnya banyak orang miskin. Nah, saya membayangkan seandainya di setiap masjid mereka punya perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi orang-orang miskin masyarakat bangsa ini akan cepat maju, naik kelas,” papar Doni.?

Doni menambahkan proses pendidikan di pesantren akan sangat membantu karena sejak awal, santri sudah dekat dengan masyarakat, mengenal siapa masyarakat di sekitar pesantren, tahu siapa yang miskin siapa yang bisa dibantu.

Pendidikan di pondok pesantren dalam pandangan Doni terlihat lebih ke pendidikan yang dinamis. Para santri selain tumbuh dengan kekuatan nilai-nilai tradisional, dan kitabnya yang diajarkan dengan model menghapal, kemudian terbatinkan dan diterapkan dalam praktik. Itu bisa menjadi modal yang bisa dipindahkan dalam menghadapi tantangan MEA.?

“Misalkan menghadapi tantangan di luar kan kita harus tahu, apa yang ada di dalam masyarakat, apa yang dibutuhkan. Kita akan mencari cara yang lebih baik untuk mengantisipasinya,” ungkap Doni.

SMA Negeri 1 Slawi

Hal lain yang membuat pesantren lebih siap menghadapi MEA adalah kemampuan berbahasa asing.

“Di ponpes bahasanya bagus. Itu kan menurut saya luar biasa,” pungkas Doni yang pernah meneliti pola pendidikan di beberapa pesantren termasuk Tebuireng, Jombang. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Hadits, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan

Jember, SMA Negeri 1 Slawi. Seorang pendeta Kotlik di Jember, Jawa Timur, Romo Deni menyambut posisitf acara Refleksi 1 Tahun Asparagus Jember yang digelar di Pondok Pesantren AlFauzan Ajung, Jumat (13/10) malam.

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan

Menurut Romo Deni, dengan diundang dan hadir pada kegiatan tersebut, dirinya bisa menjalin komunikasi dan tukar informasi, sehingga tahu keberadaan Islam dan pesantren yang sebenarnya.

"Kita semua saudara. Kebetulan kami Katolik, dan Saudara Islam. Perbedaan itu tidak boleh memecah belah,” katanya.

Ia menegaskan perbedaan merupakan keindahan. Dengan bertemu, bisa saling menghargai, dan berusaha mengenal pesantren.

“Agar kami tidak takut sama kiai, dan kiai tidak takut sama kami,” jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief, kembali mengingatkan pentingnya kesederhanaan yang diperolah dari pesantren. Dengan kesederhanaan dan kemandirian, pesantren tetap bertahan dalam  situasi dan kondisi bagaimanapun.

“Dengan kemandirian, kesederhanan serta keikhlasan para Kiai NU, pesantren jadi  basis kekuatan besar perjuangan merebut kemerdekaan, jadi kesetiaan para kiai dan pesantren terhadap negara tidak bisa diragukan lagi," tegas alumni Pesantren Annuqoyah di Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Pengasuh Pesantren Silo ini berharap nilai-nilai yang dimiliki oleh para kiai terdahulu tetap dipertahankan oleh para Lora-lora dan Gus-gus.

SMA Negeri 1 Slawi

"Moto Asparagus, Menjaga tradisi menjalin silaturahmi. Itu sangat tepat," tegasnya.

 

Kembangkan Potensi 

Menurut Wabup, potensi yang dimiliki pesantren di Jember sangat besar. 

“Ada 570 lebih pesantren di Jember, dengan ratusan ribu santri. Potensi inilah yang harus banyak menjadi renungan oleh para Lora-lora dan Gus-gus,” katanya. 

Salah satu contoh, sambung Wabup, berapa kwintal jumlah kebutuhan beras per hari, berapa banyak buku-buku yang dibutuhkan, dan kebutuhan lainnya.

“Kalau Asparagus bisa  merajut  potensi ekonomi itu, sungguh akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Masalah managemen itu bisa dilakukan, ada Universitas Jember di sini,"  lanjutnya.

Hal yang penting adalah bagaimana tetap merajut potensi yang ada, lantaran para santri biasanya sangat kreatif.

“Dalam keadaan terjepit akan muncul kreatifitas,” kata Wabup.

Menurutnya masalah bantuan hanyalah suplemen.

“Jika bergantung ke atas, akan rapuh. Tapi kalau kita mandiri akan bisa bertahan,” tandasnya. (Khoerus/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 23 Desember 2017

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi?



Namanya Cornelius Ariyanto Wibisono. Mungkin ada yang bertanya kenapa nama tersebut menghiasi susunan penyelenggara Liga Santri Nusantara 2017. Tak tanggung-tanggung, nama itu menempati posisi Direktur Pengembangan Bisnis liga yang digelar Kemenpora bekerja sama dengan asosiasi pesantren Nahdlatul Ulama (RMINU).?

Cornelius Ariyanto Wibisono adalah seorang mualaf. Sosok yang akrab disapa Ary itu dua tahun sudah beralih dari keyakinan lamanya ke iman Islam. Ia tergoda memeluk Islam setelah bersinggungan dengan orang-orang NU!?

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU

Ary meraih gelar MBA dalam bidang Human Resources Management dari Phoenix University Arizona Amerika Serikat. Setelah kuliah dua tahun, Ary tinggal selama delapan tahun di negeri Paman Sam. Ia bekerja di markas besar sebuah perusahaan rakasasa minyak, yakni Chevron. Selanjutnya ia bekerja dua tahun di sebuah perusahaan multinasional lainnya di Thailand.

Ketika kembali ke tanah air, ia diserahi jabatan di top management di kantor Chevron Indonesia. Saat itu perusahaan multinasional tersebut sedang melakukan perampingan pekerja di beberapa lini jabatan kerja. Salah satunya menimpa unit kerja perusahaan minyak tersebut di Riau.

Alih-alih membela pihak perusahaan, Ary malah melakukan pembelaan terhadap buruh-buruh yang terkena program perberhentian kerja dari perusahaan. Inilah awal persentuhannya yang intensif dengan komunitas Muslim. Sekitar 300-an karyawan yang ia bela ternyata tergabung dalam sebuah serikat buruh, yakni Sarikat Buruh Muslimin Indonesia atau dikenal dengan mana Sarbumusi.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagaimana diketahui, Sarbumusi merupakan sayap buruhnya Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Sarbumusi memang memiliki basis anggota yang signifikan di perusahaan minyak internasional tersebut.

"Setelah intensif membela kawan-kawan buruh tersebut, saya mengalami peristiwa-peristiwa spiritual yang kemudian mengantarkan saya untuk memeluk agama Islam. Ini menjadi perjalanan tidak mudah bagi diri saya pribadi karena terlalu banyak yang harus saya tinggalkan ketika memeluk agama yang haq ini," jelas Ary ketika ditemui di PBNU saat persiapan peluncuran LSN 2017.

Lebih lanjut Ary menuturkan kesannya terhadap kaum Nahdliyin, "Saya merasa beruntung sekali ketika saya mendapatkan hidayah, saya oleh Allah langsung diperkenalkan dengan lingkungan Nahdlatul Ulama. Kenapa saya merasa nyaman ber-NU ketika ber-Islam? Karena NU memegang prinsip moderat, adil, harmoni, dan respect. Mereka memilih esensi ketimbang terjebak pada bungkus formal," tutur Ary.

Ada kesan yang sangat luar biasa ketika ia kemudian dipanggil untuk bergabung dengan Liga Santri dan kemudian didapuk menjadi Direktur Pengembangan Bisnis LSN.?

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya seperti bermimpi. Dulu saya kira PBNU itu serem dan sesuatu yang untouchable untuk orang biasa. Nyatanya sebaliknya, mereka sangat terbuka terhadap orang biasa seperti saya. Bahkan beberapa waktu lalu ketika saya sowan ke Rais Syuriyah NU Jawa Barat pun beliau menyebut saya bukan sebagai seorang mualaf lagi, tapi tingkatan sudah termasuk mukalaf. Tentu ini semakin memotivasi saya untuk ber-Islam dan ber-NU," pungkas sosok yang kini menduduki Top Management di Holcim ini menutup percakapan. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 20 Desember 2017

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Bandarlampung, SMA Negeri 1 Slawi. Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Lampung yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung Aom Karomani mengatakan, angka persentasi mahasiswa yang ikut dalam gerakan radikal di perguruan tinggi di Indonesia masih cukup tinggi.

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Menurutnya hal tersebut disebabkan salah asuh yang sudah sejak lama terjadi.

"Saya kira itu bukan persoalan siapa pemimpin perguruan tingginya tapi terjadi salah asuh sedemikian lama dan baru sekarang kita sadari fenomena itu," katanya, Selasa (7/11).

Aom mengungkapkan hal tersebut menanggapi adanya permasalahan masih banyaknya kader dan simpatisan HTI di kampus-kampus yang sampai saat ini belum sadar dan dengan diam-diam terus menyebarkan ideologi khilafah.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menilai harus ada upaya konkrit dan sistematis sekaligus solusi dari fenomena ini dalam rangka mengembalikan para mahasiswa tersebut ke jalan yang benar, baik dari sisi kelembagaan masing-masing perguruan tinggi maupun stake holder terkait.

Mahasiswa serta pelajar, tambah Aom, merupakan sasaran empuk kelompok-kelompok intoleran dan radikal dalam rangka  menyusupkan ideologi radikal. Hal itu karena di usia-usia inilah para mahasiswa dan pelajar tengah mencari bentuk jati diri dan masih labil kejiwaannya.

"Yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terutama pada masa peralihan dari SLTA ke perguruan tinggi," ujarnya.

Ia juga menyorot pembelajaran pendidikan agama di sekolah menengah dan perguruan tinggi belum mampu menjawab permasalahan bangsa. Perombakan kurikulum pendidikan agama, terutama dalam

SMA Negeri 1 Slawi

kehidupan beragama yang beriringan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya perlu dilakukan lagi.

Kurikulum Pendidikan Agama harus mampu menanamkan nilai-nilai agama secara kontekstual kepada para mahasiswa dan pelajar. 

"Harusnya belajar ilmu agama tidak dilakukan secara tekstualis. Harus melihat konteks dan realitas yang muncul ditengah-tengah masyarakat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Habib, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 11 Desember 2017

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (11/2). Forum gabungan tersebut membahas sejumlah capaian sejak masa kepengurusan berjalan dan sejumlah rencana dan tantangan ke depan.

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Syuriyah-Tanfidziyah PBNU Bahas Perkembangan Program

Rapat yang dihadiri pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU lengkap itu dipimpin langsung Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Turut mendampingi Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Ahyar dan Katib ‘Aam Yahya Staquf.

Satu persatu ketua PBNU masing-masing bidang memaparkan beragam program dan hasil kerja selama ini, antara lain bidang kesehatan, perguruan tinggi, ekonomi, hukum, dakwah, dan lain-lain. KH Said Aqil Siroj dalam kesempatan itu menampung setiap laporan dan mendorong seluruh pengurus meningkatkan kinerja selama kepemimpinannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini yang mengawali presentasi mengatakan, kesekjenan PBNU akan terus berupaya mengembangkan komunikasi dan pengayaan data berbasis teknologi informasi. Dengan demikian, basis data dari cabang dan wilayah NU di berbagai daerah dapat teridentifikasi secara cepat dan terintegrasi secara terpusat.

“Hampir semua PCNU dan PWNU kita masih menggunakan sistem manual. Ke depan kita dorong masing-masing dari mereka mulai memanfaatkan kecanggihan sistem teknologi informasi,” papar Helmy yang juga merencanakan pengadaan Kartanu (Kartu Anggota NU) multifungsi, tak hanya sebagai tanda pengenal tapi juga sebagai alat pembayaran elektronik.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua PBNU M Nuh yang membidangi perguruan tinggi NU melaporan, dari hasi surveinya ke kampus NU di sejumlah daerah ia menyimpulkan tentang perlunya NU mengejar ketertinggalan. Universitas-universitas NU yang telah berdiri, katanya, mesti digarap secara serius agar dapat mengatasi berbagai kendala, antara lain rekrutmen dosen, manajemen administrasi, dan sejenisnya.

“Karena itu saya mengusulkan, sementara ini kita tunda pendirian lagi perguruan tinggi NU. Bukan menghalangi untuk ekspansi lebih luas, tapi sekadar memastikan bahwa perguruan tinggi NU yang sudah ada punya jaminan sudah terkelola maksimal,” tutur mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini.

Hingga berita ini dimuat, proses rapat masih berlangsung dengan agenda laporan dari sejumlah ketua PBNU di berbagai bidang. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, PonPes, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program

Pringsewu, SMA Negeri 1 Slawi. Bertempat di Lapangan Kompleks Gedung NU Pringsewu, Jumat (9/10) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka LP Ma’arif NU Pringsewu resmi dikukuhkan. Disaksikan seluruh peserta upacara perkemahan ke-1 Maarif NU Pringsewu, Ketua Kwarcab Pringsewu H Heri Iswahyudi memimpin sendiri peresmiannya.

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program

Hadir pada kesempatan ini Ketua Sako Ma’arif Pusat H Muhsin Ibnu Juhan. Menurut Muhsin, Sako Pramuka Maarif Pringsewu adalah salah satu Sako yang dikukuhkan dari keseluruhan 6 Provinsi dan 17 kabupaten di Indonesia yang sudah ada sebelumnya.

Muhsin berharap Sako Pringsewu akan menjadi pembangkit bagi kabupaten-kabupaten lain di Lampung untuk membentuk Sako di wilayahnya masing-masing. "Suatu saat kami ingin datang ke Pringsewu dengan Sako-Sako lain di Indonesia untuk bersama-sama melaksanakan perkemahan Nasional Sako seluruh Indonesia di Pringsewu," harapnya diamini oleh seluruh yang hadir.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu Ketua Sako Pramuka Ma’arif NU yang sudah dikukuhkan Mas Mustangin mengatakan bahwa dirinya dan seluruh pengurus siap untuk berkiprah dan memajukan Sako Pramuka Maarif Pringsewu. Ia menjelaskan bahwa Sako Pramuka Maarif NU adalah Gerakan Pramuka yang memiliki ciri khas NU dan tidak terpisah dari Gerakan Pramuka Nasional.

SMA Negeri 1 Slawi

Hadir pada pelantikan ini Ketua LP Maarif Lampung H Fauzi, Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, Ketua LP Maarif Pringsewu Ahmad Rifai, dan beberapa Ketua LP Maarif kabupaten lainnya di Lampung. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Khutbah, Nahdlatul Ulama, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 12 November 2017

Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji

Selepas Zuhur, Masjid di kompleks III Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di Dusun Candi, Sardonoharjo Ngaglik Sleman, terlihat sangat ramai. Ratusan santri menghafal ayat-ayat suci al-Quran dengan sangat serius.

Di pesantren ini, menghafal ayat al-Quran sudah menjadi kebutuhan bagi setiap santri. Setiap santri diwajibkan menghafal 1 halaman Quran setiap harinya. Hafalan tersebut disetor kepada pengasuh setelah Salat Subuh. Kemudian setelah Salat Maghrib, hafalan akan diuji lagi di depan pengasuh. Dengan begitu, para santri secara mendiri akan memperkuat hafalannya sepanjang hari terutama setelah salat wajib.

Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji

Untuk menghilangkan kejenuhan, khusus hari Jumat, tidak ada setoran hafalan. Jika tekun dan disiplin menghafal, dalam waktu 4 tahun, santri akan mampu menghafal 30 Juz al-Quran.? Pesantren ini dikenal masyarakat sebagai tempat pendidikan para penghafal (Hafidz) Quran. Ratusan hafidz/hafidzoh telah ditelurkan ponpes ini. Para santri (laki-laki/perempuan) dari berbagai daerah di Indonesia, berdatangan untuk menuntut ilmu keagamaan sekaligus menghafal Quran. Jumlah santri mencapai 3.200 orang.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada awalnya, spesialisasi Pesantren Sunan Pandanaran khusus menghafal al-Quran. Namun saat ini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan formal. Ponpes ini memiliki TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI). Kompleks pendidikannya pun berkembang pesat. Saat ini Ponpes Sunan Pandanaran memiliki 5 kompleks, yakni kompleks 1 untuk penghafal Quran (30 Juz) putra, kompleks 2 untuk penghafal Quran putri, kompleks 3 untuk lembaga pendidikan MTs, MA dan asrama santri, serta kompleks 4 dan 5 untuk STAI dan asrama mahasiswa. Selain mempelajari ilmu umum, para santri juga mempelajari ilmu agama seperti fikih, akhlak, tauhid, hadis, gramatikal Arab (nahwu, sorof), tafsir, tasawuf dan lain-lain.

Banyak keuntungan yang didapat ketika sesorang menghafal al-Quran. Seorang Hafid akan lebih cepat dalam memahami ayat-ayat al-Quran termasuk tafsir dan maknanya. Selain itu, dengan menghafal al-Quran sejak usia muda, maka kejiwaan seseorang tersebut akan stabil dan tidak mudah bergejolak.

Generasi Masa Depan

SMA Negeri 1 Slawi

Suatu saat, Kiai Mufid muda sowan kepada KH Hamid Pasuruan. Saat itu, ada tamu laki-laki yang juga baru sowan bersama putranya yang masih kecil. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Hamid berbicara kepada anak kecil tersebut: “mbesok yen awakmu gedhe, mondoko neng nggone pak kiai iki (sambil menunjuk pada Kiai Mufid), pondoke bapak kiai iki nggone wong ngapalke Qur’an. Rezekine gembrojog seko kiwo, seko tengen, seko ngarep, seko mburi” (Besok kalau kamu sudah besar, kamu mesti mondok di tempat pak kiai ini (KH.Mufid). Pondoknya bapak kiai ini tempatnya orang menghafal al-Qur’an. Rizkinya terpancar dari arah kiri, kanan, depan, belakang”).

Kiai Hamid Pasuruan dikenal sebagai kiai penuh keistimewaan. Publik mengakuinya dengan berbagai bukti nyata yang dirasakan. Saat sowan itu, Kiai Mufid belum memiliki pesantren, karena masih berada di Krapyak. Tetapi Kiai Hamid sudah menyatakan bahwa al-Quran merupakan ruh utama dalam kehidupan, sehingga hidup dipenuhi dengan banyak berkah, mulai dari kiri, kanan, depan dan belakang. Ini terbukti, mereka yang selalu menjaga ruh al-Quran, jalan hidupnya mengalir penuh berkah. Pesantren-pesantren yang teguh menjaga ruh al-Quran juga dipenuhi keberkahan, baik kepada para santri, masyarakat dan bangsa.

Generasi bangsa ini mesti kembali kepada ruh al-Quran. Tantangan lokal, nasional dan global memang tidak mudah, tetapi ruh al-Quran selalu membuka jalan baru kreativitas dan inovasi dalam membangun peradaban umat manusia. Prof. Suyanto, Rektor Kampus AMIKOM Yogyakarta dengan tegas menyatakan bahwa al-Quran mengajarkan umat manusia untuk selalu bergerak secara global, dan al-Quran adalah panduan utama untuk mengisi dunia ini dengan kebajikan.

“Generasi yang lahir dengan spirit al-Quran adalah generasi yang tangguh, kuat, dan penuh inovasi. Inilah generasi yang harus mengisi dunia ini, jangan sampai kita terlena dan membiarkan dunia dikelola dengan tanpa panduan yang jelas,” tegas Prof. Suyanto. (Anwar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 24 Oktober 2017

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Sidoarjo, SMA Negeri 1 Slawi. Maraknya gerakan radikalisme yang masuk di Indonesia, membuat beberapa kalangan muda terutama aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk turut andil dalam membentengi generasi penerus bangsa dari ancaman gerakan garis keras.

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Ketua Rayon PMII Univeritas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Fakultas Ekonomi Manajemen, Bakri Irwan kepada SMA Negeri 1 Slawi menyatakan siap membentengi kadernya dari serangan-serangan yang bersifat kekerasan tersebut.

"Langkah pertama yang akan kami lakukan dalam membentengi kader PMII yakni dengan memberikan paham-paham Islam Nusantara, melakukan kajian-kajian ataupun membedah radikalisme itu sendiri," ungkap Bakri, Ahad (28/6).

SMA Negeri 1 Slawi

Pria yang baru mendapatkan amanah menjadi Ketua Rayon PMII Unsuri itu juga akan melakukan terobosan-terobosan baru untuk mencetak para kadernya, sehingga menjadi kader yang benar-benar militan.

"Kami ingin menciptakan iklim pergerakan yang berbasis intelektualitas, spiritualitas, sosial, serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan yang berlandaskan Ahlu Sunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhajul fikr," tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, dengan mencetak kader yang berintelektual tinggi, berakhlakul karimah serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan, merupakan tanggung jawab yang harus dia jalankan pada estafet kepemimpinan selama kurang lebih setahun (satu periode 2015-2016) kedepan.

"Kami akan terus membangun sistem pengkaderan yang berkesinambungan, membangun sistem organisasi yang profesional, melakukan evalauasi demi menjaga kesolidan antara kader dengan pengurus, berinteraksi sesama kader yang lain sehingga tidak mengakibatkan putus hubungan," paparnya.

Pemilihan Ketua Rayon PMII Unsuri Fakultas Ekonomi Manejemen yang digelar di kampus Unsuri gedung C, Jumat (26/6) lalu dihadiri beberapa pengurus PMII lainnya terdiri dari Rayon Nusantara, Rayon Al-Azhar, Komisariat Unsuri dan komisariat PMII perjuangan Unitomo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Habib, PonPes, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 03 Oktober 2017

Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat

Kudus, SMA Negeri 1 Slawi. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak umat Islam yang memiliki kekayaan lebih untuk menunaikan kewajibannya. Menurutnya, setiap orang yang mempunyai  harta benda simpanan maupun dagangan yang sudah mencapai satu nisab (senilai 77 gram emas) wajib mengeluarkan zakat.  

Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat

Ajakan ini muncul dalam forum pengajian Tafsir Al Qur’an di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah, Jumat (4/4) pagi.

Bagi yang tidak berzakat, terangnya, al-Qur’an menjelaskan barang yang tidak dizakati pada hari kiamat akan menjadi ular yang membelenggu leher pemilik harta tersebut. “Makanya kalau sudah satu nisab, kita wajib berzakat. Bila belum ada kita harus perbanyak sedekah sehingga harta benda kita memberi kemanfaatan,” ajak mbah Sya’roni.

SMA Negeri 1 Slawi

Menerangkan surat At Taghobun ayat 14-16, ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini juga menjelaskan bahwa harta benda dan anak-cucu adalah ujian bagi setiap manusia. Oleh karenanya, didiklah anak menjadi shalih dan shalihah.

Perbanyaklah Shalawat

SMA Negeri 1 Slawi

Mbah Sya’roni juga mengajak hadirin untuk memperbanyak bacaan shalawat, dzikir, dan tasbih di tengah kesibukan kerja. Dengan harapan, meraih kehidupan yang bahagia dan berlimpah pahala dari Allah.

“Kendati pekerjaan itu berbeda beda, dari  yang jadi pegawai, buruh hingga  petani, jangan sampai melupakan dzikir, shalawat, dan tasbih. Karena Allah menjanjikan pahala dan sebuah taman yang indah di akhirat nanti,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada waktu keluar rumah untuk mengawali pekerjaan seyogianya kita berniat dan pasrah kepada Allah SWT. Yakni, sebagaimana diajarkan Nabi, membaca  bismillahi tawakkaltu alallah (dengan nama Allah aku memasrahkan diri kepada-Nya).

“Niat dan amalkan bacaan yang baik, semua langkah kita akan menjadi pahala,”tandasnya lagi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 30 Agustus 2017

IPNU-IPPNU Malang Gelar Diklat Bina Kader

Malang, SMA Negeri 1 Slawi. IPNU-IPPNU adalah organisasi kader, karena itu dalam kinerjanya diutamakan berbasis pengkaderan dan diantara salah satu bentuk pengkaderan adalah kegiatan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota). IPNU-IPPNU Kota Malang menyelenggarakan Makesta yang dilaksanakan di MI Hidayatul Mubtadiin pada tanggal 12-13 Mei 2012.?

IPNU-IPPNU Malang Gelar Diklat Bina Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Malang Gelar Diklat Bina Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Malang Gelar Diklat Bina Kader

Dalam kegiatan ini, kader-kader muda NU digembleng dengan berbagai kegiatan yang tujuannya memperdalam dan memperkokoh kembali faham Aswaja dan membangun modal generasi muda. Dengan mengambil tema “Dengan Makesta, Cetak Karakter Generasi Muda”?

“PC IPNU-IPPNU Kota Malang berusaha untuk dapat ikut serta dalam pembangunan karakter generasi muda bangsa. Karena melihat kondisi saat ini yang semakin karut marut dan rendahnya moral generasi muda,” ucap Farih, sekretaris PC IPNU Kota Malang.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada acara pembukaan PCNU Kota Malang berpesan “Moral adalah hal yang utama dalam membentuk karakter generasi muda, ketika para generasi muda memiliki moral dan budi pekerti yang luhur, maka bangsa ini menjadi lebih baik” atur ustadz Ihsan saat pembukaan.?

Pada kegiatan ini peserta dibekali dengan berbagai materi diantara, Aswaja, ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, kepemimpinan, manajemen diri dan organisasi, selain itu diberi pula materi non formal diantaranya adalah membangun karakter yang harapannnya para peserta dapat menjadi contoh bagi teman-temannya dan masyarakat sekitarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan melibatkan 127 pesarta perwakilan dari 31 sekolah yang bernaungan di lembaga pendidikan Ma’arif NU, kegiatan ini berjalan dengan semarak dan sukses. “Kegiatan ini saat menyenangkan dan memberikan pengalaman baru yang sangat luar biasa dan tidak akan terlupakan, terutama saat kegiatan ekspedisi malam, pokoknya istimewa,” kesan Iil Nur utusan SMP Hasyim Asy’ari.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 19 Agustus 2017

Aksi Damai PMII Al-Ghozali Tolak UU Pilkada

Semarang, SMA Negeri 1 Slawi. Kader PMII Al-Ghozali menggalang kekuatan mahasiswa dari pelbagai kampus dalam aksi demonstrasi di bundaran simpang 7 UNNES, Semarang, Senin (29/8). Dalam tuntutannya, mereka menolak UU Pilkada yang dinilai mencederai prinsip dasar demokrasi.

Aksi Damai PMII Al-Ghozali Tolak UU Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Damai PMII Al-Ghozali Tolak UU Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Damai PMII Al-Ghozali Tolak UU Pilkada

Dengan membawa atribut demonstrasi dengan pelbagai macam tuntutan dan kecaman. Mereka bergerak mengitari bundaran simpang 7 UNNES.

Koordinator aksi M Sutomo menuturkan, "Aksi demo yang dilakukan merupakan bentuk nyata mahasiswa untuk ikut andil dalam menolak UU Pilkada."

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, PMII sebagai organisasi pergerakan mesti terus menjaga kepekaan terhadap isu yang ada di Indonesia.

Aksi penolakan UU Pilkada ini akan berlanjut dengan penyelenggaraan istighotsah dalam rangka memperingati 7 hari kematian demokrasi di Indonesia pada Kamis, (2/10). (Sarwo Edi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, PonPes, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock