Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2018

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Boyolali, SMA Negeri 1 Slawi. Menjelang bulan puasa Ramadhan, ratusan warga Dukuh Tompak, Tarubatang, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhur, Selasa (9/6).

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Sadranan di Desa Tompak termasuk yang paling awal dilakukan masyarakat di lereng Merapi-Merbabu tahun ini.

Sejak pagi, ratusan warga dari dukuh Desa Tompak serta warga dari daerah lain yang memiliki leluhur dimakamkan di pemakaman tersebut, berbondong-bondong ke pemakaman yang terletak di sisi timur lereng Gunung Merapi tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Bersama keluarga dan sanak saudaranya, warga berdatangan ke areal pemakaman dengan membawa tenong, yang berisi tumpeng nasi rasul dan aneka jajan seperti ketan, apem dan pisang.

SMA Negeri 1 Slawi

Bagi warga setempat, tradisi nyadran ini selain menjadi agenda untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, juga sebagai ajang silaturrahim. “Kegiatan ini juga memiliki pesan moral, yakni ajaran untuk saling berbagi antara satu dengan lainnya,” kata Syahirul Alim, salah satu tokoh pemuda setempat.

Usai melakukan doa bersama yang diisi dengan pembacaan yasin, zikir dan tahlil di areal pemakaman, warga kemudian saling berbagi makanan yang mereka siapkan dari rumah.

“Meski praktiknya sudah agak berbeda, dengan zaman saya kecil dulu, tapi pesan utamanya tetap dipegang teguh masyarakat, yakni untuk berbagi apa yang kita punyai serta bersyukur atas nikmat dari Allah,” tutur Syahirul yang juga aktif di JQHNU Boyolali itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Sholawat, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA

Jakarta, NU ? Online

Terkait dengan penerapan dan tantangan MEA, pemerhati pendidikan dan penulis sejumlah buku pendidikan Doni Koesoema A mengatakan pondok pesantren lebih siap. ?

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA

Demikian dikatakan Doni dalam wawancara dengan SMA Negeri 1 Slawi seusai menjadi pembicara dalam diskusi publik “Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi MEA” di Griya Gus Dur, Selasa (3/5).

Doni beralasan, “Karena di ponpes individu-individu dibekali oleh kekuatan spiritual yang bagus. Lalu ? kontak budaya dan kontak dengan masyarakat yang kuat, itu sebenarnya bisa menjadi modal.”?

(Baca:? Untuk Hadapi MEA, Pemerintah Harus Perbaharui Sistem Pendidikan)?

SMA Negeri 1 Slawi

Dari sisi ekonomi pondok pesantren perlu mengupayakan bagaimana memberdayakan ekonomi masyarakat. Menurut Doni hal ini akan mengubah bangsa Indonesia akan lebih cepat maju.

“Saya melihat di masjid-masjid ada banyak arus uang. Tetapi kas, di beberapa majid di Tangerang (tempat tinggal Doni-Red), dipakai untuk membangun gapura. Padahal di sekitarnya banyak orang miskin. Nah, saya membayangkan seandainya di setiap masjid mereka punya perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi orang-orang miskin masyarakat bangsa ini akan cepat maju, naik kelas,” papar Doni.?

Doni menambahkan proses pendidikan di pesantren akan sangat membantu karena sejak awal, santri sudah dekat dengan masyarakat, mengenal siapa masyarakat di sekitar pesantren, tahu siapa yang miskin siapa yang bisa dibantu.

Pendidikan di pondok pesantren dalam pandangan Doni terlihat lebih ke pendidikan yang dinamis. Para santri selain tumbuh dengan kekuatan nilai-nilai tradisional, dan kitabnya yang diajarkan dengan model menghapal, kemudian terbatinkan dan diterapkan dalam praktik. Itu bisa menjadi modal yang bisa dipindahkan dalam menghadapi tantangan MEA.?

“Misalkan menghadapi tantangan di luar kan kita harus tahu, apa yang ada di dalam masyarakat, apa yang dibutuhkan. Kita akan mencari cara yang lebih baik untuk mengantisipasinya,” ungkap Doni.

SMA Negeri 1 Slawi

Hal lain yang membuat pesantren lebih siap menghadapi MEA adalah kemampuan berbahasa asing.

“Di ponpes bahasanya bagus. Itu kan menurut saya luar biasa,” pungkas Doni yang pernah meneliti pola pendidikan di beberapa pesantren termasuk Tebuireng, Jombang. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Hadits, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

LAZISNU Pekalongan Gelar Buka Bersama Anak Yatim

Pekalongan, SMA Negeri 1 Slawi. Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan menggelar buka puasa bersama anak anak yatim di Rumah Makan Selaras Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Kamis (1/8) kemarin.

Acara buka puasa sekaligus pemberian santunan kepada 50 anak yatim dihadiri jajaran Pengurus NU Kota Pekalongan dan puluhan tamu undangan berlangsung cukup khidmat.

LAZISNU Pekalongan Gelar Buka Bersama Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pekalongan Gelar Buka Bersama Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pekalongan Gelar Buka Bersama Anak Yatim

Ketua LAZISNU Kota Pekalongan Lukman Hakim Kamil kepada SMA Negeri 1 Slawi mengatakan, kegiatan buka puasa bersama dan pemberian santunan kepada anak yatim merupakan kegiatan perdana Lazisnu sejak dibentuk enam bulan yang lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Dikatakan, Sebagai lembaga baru yang dibentuk NU Kota Pekalongan, LAZISNU melakukan tugas utama di bidang penghimpunan zakat, infaq dan shadaqah sekaligus menyalurkan kepada mereka yang berhak (mustahiq) dalam bentuk program NU Care berupa program tanggap darurat untuk kemanusiaan dan NU Smart berupa layanan beasiswa bagi para siswa, santri dan mahasiswa yang tidak mampu.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan santunan anak yatim yang digelar LAZISNU Kota Pekalongan merupakan bagian dari kegiatan Lazisnu Pusat yang menyantuni tidak kurang dari 5000 anak yatim di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut dikatakan Lukman, di samping anak anak yatim yang diundang mendapatkan uang tunai, LAZISNU Kota Pekalongan juga memberikan bingkisan berupa paket sembako, sedangkan usai lebaran nanti pihaknya juga akan menyalurkan zakat dan infaq kepada anak anak sekolah yang tidak mampu dalam bentuk beasiswa.

Wajah wajah ceria dari anak anak yatim begitu nampak, bahkan sebelum buka puasa berlangsung, ustadz Hasan Suaidi yang memberikan tausiyah mengetes salah satu anak untuk mengucapkan do’a kepada otang tua, maka salah satu anak yang baru berusia 4 tahun dengan lancarnya melantunkan do’a yang diinginkan ustadz.

Usai buka puasa bersama, panitia bersama jajaran Pengurus NU Kota Pekalongan menyerahkan santunan dan bingkisan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Ahmad Rofiq yang hadir dalam acara santunan anak yatim mengatakan, kegiatan santunan yang digelar LAZISNU merupakan wujud nyata program NU peduli ummat. Meski belum banyak masyarakat yang mempercayakan zakatnya kepada Lazisnu, dirinya cukup optimis ke depan masyarakat yang menititipkan melalui Lazisnu akan terus bertambah.

PCNU beserta seluruh jajarannya akan secara terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang lembaga penghimpun dana umat LAZISNU, sehingga dana yang terhimpun dapat disalurkan lebih terarah, terprogram dan tepat sasaran. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi News, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Rembang, SMA Negeri 1 Slawi. Masyarakat di Kabupaten Rembang akhirnya tidak memprotes setelah mendapat penjelasan tentang penundaan keberangkatan haji tahun ini. KH Mustofa Bisri membantu memberikan penjelasan kepada para calon jama’ah.

“Haji adalah panggilan Allah SWT, apabila kita tertunda dan berangkat pada tahun berikutnya, sama halnya kita berhaji dua kali,” kata Gus Mus saat memberikan bimbingan manasik haji. 

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Jama’ah pun akhirnya merasa senang ketika mendengar pernyataan Wakil Rais Aam PBNU tersebut. 

SMA Negeri 1 Slawi

Kemenag memerlukan proses yang lama dalam memberikan pengertian terhadap masyarakat yang sudah berharap berangkat tahun ini. Kasi Haji dan Umroh, Drs. H. Atto’illah Muslim Kementrian Agama Kab. Rembang, mengalami pengurangan sebesar 14,5 %, Selasa (20/8). 

Salah satu calon jema’ah, Satibi menjelaskan, “Saya menerima segala keputusan dari Kementerian Agama Rembang, apabila harus mendapatkan jatah berangkat pada tahun yang akan datang. Saya juga senang, lanjut Satib jika pemerintah memberikan prioritas kepada para jama’ah dengan memberikan fasilitas apabila pelunasan pada tahun berikutnya naik. jama’ah tak perlu bayar jika turun jama’ah dapat kembalian.”

SMA Negeri 1 Slawi

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Asmu’i

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sunnah, Kajian Sunnah, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Sesat Pikir Full Day School

Oleh: Darmaningtyas







Sesat Pikir Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesat Pikir Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesat Pikir Full Day School

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pasal 2 Permendikbud tersebut mengatur hari sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh jam) selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu atau yang akhir-akhir ini disebut full day school.

Seperti ditegaskan dalam pasal 8, peraturan ini mulai dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018. Ini artinya, pada tahun ajaran baru, Juli 2017 nanti, sekolah-sekolah secara nasional sudah melaksanakan lima hari sekolah ini.

Namun, dalam Permendikbud tersebut tidak ditemukan tujuan menjadikan hari sekolah itu seragam dari enam menjadi lima hari secara nasional. Pasal 3 hanya mengatur penggunaan hari sekolah oleh guru untuk melaksanakan beban kerja guru, dan pasal 4 mengatur penggunaan hari sekolah oleh tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya. Tapi tugas tersebut dapat berlaku enam hari sekolah.

SMA Negeri 1 Slawi

Demikian pula pengaturan dalam pasal 5 dan 6 ? mengenai penggunaan hari sekolah oleh murid untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, selama ini sudah demikian adanya, tidak perlu nunggu delapan jam di sekolah. Artinya, tanpa ada perubahan dari enam menjadi lima hari sekolah pun kegiatan murid di sekolah mencakup kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Kita tidak temukan pasal yang menjelaskan pentingnya perubahan hari sekolah dari enam menjadi lima hari dan dalam sehari anak-anak harus di sekolah delapan jam secara nasional. Ini sesat pikir pertama, membuat kebijakan tanpa tujuan yang jelas.

Gagasan sekolah sehari penuh (full day school/FDS) pernah dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada masa awal menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Dalam banyak kesempatan di forum-forum resmi, Menteri Muhadjir sering menjelaskan bahwa pelaksanaan FDS akan dimulai dengan piloting system. Implementasi detailnya masih dikaji.

SMA Negeri 1 Slawi

Melalui running text di stasiun televisi nasional (awal September 2016), misalnya, kita pernah membaca “Mendikbud Muhadjir Efendy: Full day school meningkatkan SDM”. ? Ini mencerminkan niat Menteri Muhadjir untuk mewujudkannya.

Menteri Muhadjir menjelaskan bahwa yang dia kerjakakan itu adalah melaksanakan visi dan misi Presiden Joko Widodo tentang pendidikan, bahwa untuk pendidikan dasar (SD/MI-SMP/MTs) 80% berisi pendidikan budi pekerti atau karakter, sementara untuk ilmu pengetahuan cukup 20%. FDS merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan visi-misi Presiden Jokowi.

Dengan FDS rancang bangun pendidikan karakter dapat dilaksanakan. Dengan FDS, anak-anak secara perlahan akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka belum pulang dari kerja. Menurut Muhadjir, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja.

Selain itu, anak-anak dapat pulang bersama orangtua sehigga ketika di rumah mereka tetap dalam pengawasan orangtua. Ini sesat pikir kedua yang menganggap bahwa semua orangtua murid kerja kantoran sampai sore hari, kebijakan yang bias Jakarta.

Konsep full day school dan lima hari sekolah bukan konsep baru. Sejak reformasi 1998, banyak sekolah telah menerapkannya. Langkah sejumlah sekolah itu termasuk dalam kategori manajemen berbasis sekolah (MBS). Mengingat sekolah yang lebih tahu kondisi sekolahnya, maka sekolah diberi kebebasan untuk mengambil kebijakan teknis untuk sekolahnya sendiri.

Agar kebijakan sekolah tersebut memiliki landasan hukum yang kuat, ada UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 51 ayat (1): “Pengelolaan satuan pendidikan anak usiadini, pendidikan dasar, dan pendidikanmenengah dilaksanakan berdasarkanstandar pelayanan minimal dengan prinsipmanajemen berbasis sekolah/madrasah”.

Urusan apakah sekolah akan enam hari atau lima hari itu urusan teknis sekolah, bukan urusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu, meski selama hampir dua dekade di masyarakat kita itu ada sekolah yang enam hari dan ada sekolah yang lima hari, hal itu tidak menimbulkan pro dan kontra karena dasarnya adalah manajemen berbasis sekolah (MBS), sehingga tidak terjadi penyeragaman.

Sekolah-sekolah yang merasa cocok untuk menerapkan konsep FDS dipersilakan, tapi yang akan tetap melaksanakan enam hari sekolah juga dipersilakan. Demikian pula daerah, ada daerah yang melaksanakan lima hari sekolah, seperti DKI Jakarta, tapi mayoritas daerah tetap memilih melaksanakan enam hari kerja.

Bahkan Provinsi Jawa Tengah yang sejak Gubernur Ganjar Pranowo melakukan uji coba melaksanakan lima hari sekolah, beberapa kabupaten/kota sudah mengajukan permohonan untuk kembali ke enam hari sekolah, karena penerapan kebijakan lima hari sekolah dinilai tidak efektif, tidak sesuai dengan kultur mayoritas warga yang agraris, sehingga justru orang tua bingung memberikan kegiatan/mengarahkan anak-anaknya pada hari Sabtu yang tidak sekolah itu.

Jadi, jelas substansi yang menolak FDS dan kebijakan lima hari sekolah secara nasional itu bukan terletak pada konsep lima harinya, melainkan sifat kebijakannya yang sentralistik tanpa melihat karakter geografis, infrastruktur dan sarana transportasi, ekonomis, sosial, dan budaya.

Indonesia ini amat luas dan beragam. Bukan hanya Jakarta dan kota-kota lain di Jawa yang memiliki infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai, tapi ada pulau-pulau kecil yang infrastruktur dan sarana transportasinya minim, guru di sekolah cuma 1-3 orang saja. Pada daerah-daerah dan sekolah-sekolah seperti itu FDS sangat tidak cocok diterapkan.

Alih-alih meningkatkan SDM, FDS justru membuat orangtua memilih tidak menyekolahkan anaknya. Permendikbud ? Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur Lima Hari Sekolah adalah langkah mundur di era reformasi, dari manajemen berbasis sekolah (MBS) menjadi sentralistik. Bahaya rezim Orde Baru yang sentralistik terulang.

Saya pernah berusaha menyampaikan masukan untuk tidak memperlakukan FDS secara nasional. Pada November 2016 saya pergi ke Pulau Samosir dan menjumpai sejumlah murid SMP-SMA berjalan kaki jauh, melintasi pegunungan yang sunyi. Lalu pada Maret 2017 saya ke Kupang dan melihat anak-anak SMP menunggu angkutan umum sampai jam 17.30 (di Kupang sudah gelap).

Dua potret ini saya kirim ke Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud dengan keterangan: “Mereka akan sampai di rumah jam berapa jika nanti full day school diterapkan secara nasional?”.

Sampai saat ini sebagian murid murid SMPN 2 Kupang ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang. Seorang guru (Ibu Essey) dari Soe (NTT) juga menyampaikan pesan agar Menteri Pendidikan kalau buat kebijakan tidak sentralistis, seperti kebijakan full day school dan lima hari sekolah. ? Sayang, masukan-masukan dari lapangan itu diabaikan saja karena kebijakan dibuat dengan cara pandang Jakarta dan Jawa sentris.

Mengingat Indonesia ini amat luas dan beragam serta janji Presiden Jokowi dalam kampanye dulu untuk menjamin keragaman dan budaya lokal dalam kebijakan pendidikan, maka kembalikan persoalan teknis: enam atau lima hari sekolah itu ke otonomi sekolah sesuai dengan manajemen berbasis sekolah, bukan ditarik oleh Menteri Pendidikan.

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah sebaiknya dicabut karena bertentangan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 Pasal 51 ayat (1) tentang Otonomi Sekolah/Madrasah. Bagaimana mungkin Menteri Pendidikan membuat Peraturan Menteri yang bertentangan dengan UU Sisdiknas yang mereka buat sendiri dan harus dijalankan?

Ini sesat pikir ketiga full day school dan lima hari sekolah. Saya berharap pemerintahan Jokowi tidak mundur dan sentralistik dalam penyelenggaraan pendidikan, seperti masa Orde Baru.





Penulis adalah pakar pendidikan nasional, tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Geotimes?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Meme Islam, Anti Hoax, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Madrasah NU Sumberrejo Ajak Wali Murid Liburan Bareng

Bojonegoro, SMA Negeri 1 Slawi. Paguyuban wali kelas (parenting class) Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo mengajak orang tua murid liburan bersama putra-putri mereka ke Dander Park,  Bojonegoro, Jawa Timur, pada  Sabtu (19/10).

Madrasah NU Sumberrejo Ajak Wali Murid Liburan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah NU Sumberrejo Ajak Wali Murid Liburan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah NU Sumberrejo Ajak Wali Murid Liburan Bareng

Penanggung jawab kegiatan tersebut, Fatimatuz Zahro mengatakan, Kegiatan Tengah Semester (KTS) semester ganjil madrasah milik Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Sumberrejo ini merupakan upaya mempersatukan seluruh walisiswa dan seluruh dewan guru dalam satu wadah kegiatan.

Fatimah mengatakan, kegiatan yang terbungkus dengan nama OPC (outbond parenting class) kali ini memasuki tahun kedua setelah tahun sebelumnya madrasah yang bernanung dibawah LP Ma’arif Bojonegoro ini mengadakannya di Wanawisata Waduk Gondang Lamongan.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan tersebut, tambah Fatimah, bernuansa kerjasama, menjunjung sportivitas, kejujuran, kepemimpinan, kecermatan dan ketelitian memanag seharusnya harus dimulai sedini mungkin. Karena bekal inilah yang memang harus diberikan kepada anak-anak kita selain ilmu pengetahuan dan keterampilan.

“Kami ingin anak-anak tidak melupakan koleksi wisata daerahnya sendiri, makanya mereka kami ajak OPC cukup di dalam kota Bojonegoro,” katanya, “ragam OPC meliputi fresh outbound, acuration outbound, puzzle, bom nuklir,” tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Peserta yang terdiri dari ibu-ibu parenting class dari kelas sunan Drajad dan Bonang demikian semangat ketika memasuki outbound penutup, yaitu pipa bocor. Maklum kegiatan yang umumnya membutuhkan banyak air ini harus dilakukan di dalam sungai dengan kerjasama super ekstra dari outbound-outbound sebelumnya.

“Waduh, seru sekali, walaupun basah kuyup kami tetap kompak dan tidak pantang menyerah beradu dengan kelompok lain,” kata Anita salah satu parenting class yang kelompoknya memenangkan gamez/outbond pipa bocor.

Untuk menyelenggarakan OPC ke-2 ini, MINU unggulan Walisongo yang terletak di desa Sumuragung kecamatan Sumberrejo ini H-1 sudah melakukan ujicoba seluruh materi outbound dan survey lokasi. Hal ini untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan muncul pada saat kegiatan berlangsung. (Ahsanul Amilin/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Meme Islam, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari

Jember, SMA Negeri 1 Slawi - Beberapa hari terakhir ini, ramai pertanyaan sekaligus perbincangan soal foto Hadratussyekh KHM Hasyim Asyari menyusul pengunggahan foto hitam putih sang kiai di media sosial oleh seseorang. Selain foto, tulisan tangan di balik foto yang menerangkan bahwa sosok itu adalah foto Mbah Hasyim juga diunggah.

Foto hitam putih saat Mbah Hasyim masih berusia paruh baya itu adalah betul asli. Validitas keaslian foto itu diklarifikasi oleh Muhammad Al-Faiz, kakak kandung Muhammad Al-Mubassyir, orang yang pertama kali mengunggah foto tersebut di instgaram dan akun facebooknya.

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari

Klarifikasi ini disampaikan oleh Muhammad Al-Faiz melalui akun facebooknya secara lengkap. Foto itu didapat di hari kedua lebaran ketika sang adik (Muhammad Al-Mubassyir) membongkar-bongkar arsip peninggalan kakeknya, KH Amir Ilyas di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Foto-foto itu lalu discan, dan diunggah.

"Demikian asal-usulnya, semoga manfaat dan menambah kecintaan kita (kepada Mbah Hasyim)," tulisnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Seperti diketahui, KH Amir Ilyas dan adiknya (KH Ashiem Ilyas) semasa remaja merupakan? santri langsung dari Mbah Hasyim. Bahkan KH Ashiem Ilyas dipercaya mencipta lambang Pondok Pesanren Tebuireng Kabupaten Jombang. Keduanya menjadi sesepuh sekaligus? pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah generasi kedua. Saat ini pondok pesantren yang terletak di kaki perbukitan Desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, diasuh oleh generasi ketiga.

SMA Negeri 1 Slawi

Terkait validitas foto Mbah Hasyim ini, Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-eks Karesidenan Besuki Muhammad Muslim menyatakan, dirinya tidak menyangsikan bahwa foto itu adalah foto Mbah Hasyim.

"Sebagai alumni Annuqayah, saya yakin foto-foto itu asli. Annuqayah dan Tebuireng mempunyai kedekatan emosional sejak lama," kata Muslim kepada SMA Negeri 1 Slawi. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Meme Islam, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock