Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Pepatah klasik mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Dalam konteks Indonesia dahulu dan sekarang atau dalam istilah era milenial, “zaman old” dan “zaman now”, memahami secara luas tentang keindonesiaan memberikan energi positif terkait tumbuhnya rasa cinta dan sayang.

Ketika warga bangsa tidak memahami betapa kayanya Indonesia dari segala sisi, maka ia akan terjebal dengan primordialisme sempit. Dalam arti sikap tertutup (eksklusif) yang akan berdampak pada sikap apriori terhadap keberagaman bangsa Indonesia tersebut.

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Abdul Ghopur dan Rizky Afriono, dua anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang kini aktif sebagai Dirketur dan Sekretaris di Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) ingin menghadirkan kembali jiwa nasionalisme dan cinta di dada para pemuda dengan menulis buku Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui.

Buku ini bukan hanya mengemukakan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi berupaya mengungkap sembilan fakta tentang Indonesia yang perlu dipahami masyarakat secara luas. Tidak lain dan tidak bukan, fakta tentang khazanah bangsa Indonesia yang digubah dalam buku ini ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa kaya yang perlu dijaga.

Dengan mengungkapkan sembilan fakta tentang Indonesia guna menumbuhkan rasa mempunyai dan rasa cinta tanah air dalam diri warga bangsa, Ghopur dan Rizky sekaligus berusaha berusaha “menggugat” kembali makna dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang kian hari kian menipis, meluntur, dan perlahan sirna. Sirna yang entah karena tergerus oleh eforia dan hempasan globalisasi atau memang sirna karena bangsa ini menghendakinya? 

Buku ini juga hendak menggugah kesadaran kita bersama dan mengajaknya ke dalam serangkaian pengembaraan batin dan pemikiran pada “kekayaan” yang dimiliki Indonesia meliputi; sumber daya alam (SDA), keragaman etnis, suku, ras, bahasa dan budaya, adat istiadat, agama dan nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

Anugerah kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan beraneka ragam jenisnya, selayaknya wajib disyukuri, dijaga dan tentunya dipelihara secara terus-menerus dari “tangan-tangan jahil” dan tidak bertanggung jawab, yang hanya mau mengeruk-kuras tanpa mempertimbangkan kelestarian dan keselarasan lingkungan. Sebab, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya harmoni dan keselarasan terhadap alam dan lingkungannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menyitir perkataan Bung Karno, “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Ini prinsip kerja keras yang ada pada diri masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Selayaknya, prinsip agung para pendiri bangsa ini diwariskan kepada generasi muda agar tertanam jiwa kerja keras untuk menjaga dan merawat Indonesia yang kaya ini.

Adapun sembilan poin yang diungkap dalam buku ringan setebal 110 ini ialah, pertama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kedua, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Ketiga, Indonesia adalah negara dengan jumlah suku bangsa terbesar di dunia.

Keempat, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak saat ini. Kelima, Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Keenam, Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam terlengkap.

Ketujuh, Indonesia dengan negara keragaman Fauna terbanyak di dunia. Kedelapan, Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati laut terbanyak di dunia. Kesembilan, Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah perang dunia kedua.

Kesembilan fakta menakjubkan tentang Indonesia tersebut bukan hanya diterangkan secara retoris oleh Ghopur dan Rizky, tetapi juga diungkapkan dengan bukti dan data-data konkret. Bahkan, mereka berdua mengemas deskripsi dari sembilan fakta tersebut secara historis. Sehingga membawa pembaca juga memahami sejarah Indonesia dan perkembangannya saat ini. 

Menariknya, buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) pada Oktober 2017 ini menyisipkan lagu-lagu nasional di setiap akhir sembilan artikel fakta tersebut. Dua penulis buku lagi-lagi berupaya menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia lewat lagu-lagu tersebut. Sederhana, tetapi memberi pesan dan kesan mendalam di tengah krisis identitas seperti sekarang ini. 

Data buku

Judul: Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Penulis: Abdul Ghopur dan Rizky Afriono

Penerbit: Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB)

Cetakan: I, Oktober 2017

Tebal: xiv + 110 halaman

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) di Kota Solo mungkin tidak sebegitu populer dibandingkan dengan daerah yang menjadi basis pesantren. Di Kota Bengawan, usai menyelesaikan jenjang TPA/TPQ, anak pada umumnya kurang mendapat pendidikan Agama Islam secara intensif.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pendiri Madin Miftahul Ulum, untuk menyelenggarakan pendidikan Agama di daerah pinggiran Bengawan Solo. “Di sini anak dewasa cenderung gengsi untuk mengikuti pendidikan agama, maka dari itu nama TPA, yang identik dengan anak-anak, diubah menjadi madrasah diniyah,” terang Durrotun Nasihin, Kepala Madin Miftahul Ulum, Jumat (28/6) Siang.

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Pada tahun 2004, Nasihin bersama para temannya yang ditugaskan dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, membantu berdirinya Miftahul Ulum yang diasuh Ustaz Munaji Jazuli itu. “Sebelumnya sudah ada Masyitah dan TPA yang didirikan NU tahun sekitar 1994, namun belum ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari awal mula dua kelas, madrasah ini terus berkembang. Sampai saat ini siswa Madin yang terletak di Semanggi Pasar Kliwon Solo ini jumlah santrinya mencapai 140-an, dengan jenjang 8 kelas mulai dari tingkat TPA (2 tahun) kemudian Madin (6 tahun). “Kita sudah meluluskan dua kali angkatan,” Kata pemuda asal Madura tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi dan prestasi juga telah dihasilkan. Tambahan pelajaran seperti les Bahasa Inggris dan komputer diadakan. Bahkan, program tersebut pernah menarik minat siswa SMA MTA Solo, yang letaknya memang sangat berdekatan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Siswa mereka banyak yang ikut program kami, sekitar 50 peserta. Namun ketika didengar, kami menanamkan ideologi Ahlussunah, pimpinan MTA terus melarang,” ungkap Nasihin.

Sedangkan prestasi yang pernah diraih diantaranya lomba tingkat kota seperti kaligrafi, pidato, Al-Quran, dan baca kitab.

Kini, pada momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, Madin Miftahul Ulum semakin mantap untuk menatap masa depan. Cita-cita luhur para pendirinya untuk memperjuangkan Islam semakin kuat. Dari awalnya hanya dua kelas, Miftahul Ulum sekarang telah membuka dua cabang yakni di Mojosongo (Solo) dan Sukoharjo.

“Para alumninya juga bersemangat untuk terus mencari ilmu agama. “Sudah banyak yang meneruskan ke pesantren, itu aset (kaum Aswaja) ke depan,” pungkasnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Masyarakat Nusantara dikenal dengan kesantunan, kesopanan, dan kelembutannya. Mereka identik dengan masyarakat yang pandai bersosial dan bukan tipikal masyarakat individual. Kekompakan masyarakat Nusantara ini juga tercermin dalam tradisi agama yang mereka jalankan.

Terbukti hampir sebagian besar tradisi keagamaan mereka dilakukan secara kolektif (berjama’ah) dan memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Misalnya tradisi salaman setelah shalat.

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Kebiasaan ini lumrah ditemukan di masyarakat. Usai shalat berjama’ah mereka saling sapa satu sama lainnya dengan jabat tangan. Ada juga yang berdzikir dan berdo’a terlebih dahulu, kemudian baru salaman. Hal ini menunjukkan betapa akurnya masyarakat Nusantara dan tradisi ini sekaligus dapat memupuk persaudaraan dan memperkuat keakraban.

Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sudah lupa dengan tradisi Nusantara dan terlalu lama di negeri orang, tradisi salaman setelah shalat dianggap bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Tapi menurut An-Nawawi, jabat tangan setelah shalat termasuk bid’ah yang diperbolehkan (bid’ah al-mubahah), bahkan disunahkan bila bertujuan untuk silaturahmi. Dalam kumpulan fatwanya, Fatawa Al-Imam An-Nawawi, ia mengatakan,

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?)

? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jabat tangan disunahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan salaman setelah dua shalat (subuh dan ashar) tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi.”

Jadi, tradisi salaman yang sudah berlangsung lama di masyarakat Nusantara bukanlah bid’ah tercela, namun dapat digolongkan bid’ah hasanah. Bahkan menurut An-Nawawi, tradisi ini dapat dikatakan sebagai kesunahan terutama jika orang yang dijabat tangannya belum pernah bertemu sebelumnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Aswaja, Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 30 Januari 2018

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Perpustakaan Masjid Agung Solo menyimpan sejumlah kitab. Kitab-kitab itu ada yang dibuat pada tahun 1800-an sampai tahun 1960-an. Beberapa kitab, ditulis tangan langsung para ulama dan kiai pendiri masjid tersebut.

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basyid mengatakan, ada sejumlah kitab yang pada umumnya bertuliskan Arab tanpa harokat (arab gundul), antara lain berupa kitab Ihya Ulumuddin, kumpulan hadis-hadis nabi, dan Al-Quran kuno.

Di masjid itu, terdapat Mushaf Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin. FamÄ« Bisyauqin yang berarti “mulutku dalam kerinduan” ini merupakan koleksi perpustakaan wakaf Sri Susuhunan Paku Buwono X pada tahun 1857. Mushaf ini berasal dari Sayyid Ibrahim Abdullah al-Jufri. Adapun tahun pembuatan dan penulisnya tidak diketahui secara pasti.

SMA Negeri 1 Slawi

Mushaf Al-Qur’an kuno FamÄ« Bisyauqin ini terdiri dari tujuh jilid. Penentuan masing-masing jilid mengikuti tujuh manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) dalam membaca Al-Qur’an. Dalam tradisi membaca Al-Qur’an, metode tujuh manzil sangat populer, yaitu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Dimulai pada hari Jum’at dan khatam pada hari Kamis.

Dari tujuh jilid, saat ini yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Surakarta hanya lima jilid, sementara dua jilid yang lain tidak ditemukan, yaitu jilid 3 dan 7. Iluminasi yang terdapat dalam mushaf ini hanya terdapat pada halaman Surah al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah. Motifnya adalah bunga, dengan dominasi warna merah, biru, hijau, dan emas, dengan bingkai garis hitam.

SMA Negeri 1 Slawi

Al-Qur’an ini dijilid dengan kulit. Ukurannya, panjang 31,8 cm. dan lebar 19,6 cm. Area tulisan, panjang 19,6 cm. dan lebar 11,7 cm. Ketebalan setiap jilid rata-rata 2,5 cm. Satu halaman mushaf berisi 13 baris tulisan, kecuali pada awal setiap jilid yang hanya berisi sembilan baris, dan pada halaman akhir dengan menyesuaikan pada sisa ayat yang tersisa. Al-Qur’an ini ditulis dengan menggunakan tinta Cina.

Sistem penulisan pada mushaf ini menggunakan rasm imla’i, yaitu sistem penulisan huruf Arab dengan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab, kecuali pada lafal-lafal tertentu yang masih tetap merujuk pada sistem rasm usmani. Penomoran ayat ditandai dengan tanda bulat berwarna merah dengan titik di tengah tanpa disertai nomor urut ayat.

Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin ini memuat tiga macam qiraat, yaitu qiraat riwayat Imam Qalun dari Imam Nafi’, qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan qiraat riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Asim. Tulisan ayat utama dalam Al-Qur’an ini berdasarkan riwayat Qalun dari Imam Nafi’. Sementara untuk kedua qiraat lainnya, ditulis dipinggir halaman dengan tinta merah untuk qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan tinta hijau untuk qiraat Imam Hafs dari Imam ‘Asim.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, Pemurnian Aqidah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 29 Januari 2018

Kiai Ma’shum bin Ali dan Karya-karyanya

Kebanggaan sebagai orang Jombang semakin berlipat. Salah satu kitab kuning yang dikenal dengan nama “Tashrifan” yang banyak diajarkan di madrasah serta pondok pesantren, dan amat masyhur di Nusantara, bahkan di manca negara, juga merupakan karya besar ulama asal Jombang.

Kitab ini bernama “Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah” di bidang ilmu sharaf merupakan karya KH M Ma’shum bin Ali asal Pesantren Seblak Diwek Jombang. Susunan bait-baitnya sangat sistematis, sehingga mudah difahami dan dihafal bagi para pelajar dan santri. Hampir di seluruh lembaga pendidikan madrasah yang ada di Indonesia bahkan beberapa negara Islam, kitab ini menjadi salah satu bidang studi yang tetap dikaji. Saking masyhurnya, kitab ini mempunyai julukan “Tasrifan Jombang”.

Keagungan kitab ini tak hanya terletak pada ilmu sharaf. Bila diteliti, ternyata sistematikanya memuat makna filosofi yang sangat tinggi. Kitab ini bukan saja mempunyai sistematika penulisan yang unik, akan tetapi memiliki filososfi pengajaran perilaku kehidupan. Salah satu contoh bisa dilihat, pada fi’il tsulasi mujarrad misalnya, dalam enam kalimat yang disebut ternyata mengandung filososfi kehidupan.

Kiai Ma’shum bin Ali dan Karya-karyanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’shum bin Ali dan Karya-karyanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’shum bin Ali dan Karya-karyanya

Sistematika penulisan yang unik, dan memiliki filososfi bahwa “Pada awalnya sang santri yang menuntut ilmu ditolong oleh orang tuanya (? – nashara), sesampainya di pondok pesantren ia dipukul dan dididik (? -dlaraba). Kemudian setelah tersakiti dari dipukul, maka hatinya akan terbuka (? – fataha). Seterusnya barulah ia akan menjadi orang yang mengetahui/pintar (? – ‘alima) dan seterusnya menuntut ia agar berbuat baik (? -hasuna). Maka ia berharap masuk surga di sisi Allah swt (? – hasiba).

Dan terdapat juga dari sistematis susunan keenam kalimat di atas dirangkumi menjadi sebuah nazham yaitu: 

? ? ? ? ? * ? ? ? ? ?

Kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah terdiri dari 60 halaman. Untuk mendapatkannya tidak akan kesulitan karena di hampir semua toko kitab apalagi di lingkungan pesantren banyak dijual. Hal ini ditambah sejumlah penerbit telah menggandakannnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pribadi Haus Ilmu

Pengarang kitab ilmu sharaf – al-Amtsilah at-Tashrifiyyah adalah KH Maksum Ali Seblak Jombang yang merupakan menantu dari pendiri NU, hadratus syeikh KH Hasyim Asyari yang juga pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Nama lengkap KH Ma’shum adalah Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar al-Maskumambani. Beliau lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan sang kakek.

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah belajar kepada sang ayah, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng. Ia termasuk salah satu santri generasi awal hadratus syeikh. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif hadratus syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir.

Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. Kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Mbah Hasyim tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah.

Seblak sendiri adalah sebuah dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan hadratus syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan.

Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat.

Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqomah mengajar di Madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu hadratus syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi mufattis (pengawas) di madrasah tersebut.

Kiai Produktif dan Tak Tergantikan

Meskipun tidak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding dirinya sendiri. Setidaknya ada empat kitab karya beliau;

Pertama adalah al-Amtsilah at-Tashrifiyyah. Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”.

Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri.

Kedua yakni Fathul Qadir. Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Kitab ini diterbitkan Salim Nabhan Surabaya pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup. Jumlah halamannya lumayan tipis tapi lengkap. Kitab ini juga tidak sulit ditemukan di pasaran.

Ad-Durus al-Falakiyah adalah karya beliau yang lain. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak rumit, tetapi bagi yang mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi matahari, dan sebagainya. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz. Setiap juz terdiri satu jilid dengan jumlah 109 halaman.

Kitab keempat adalah Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan bumi. Sedangkan matahari, planet dan bintang yang jumlahnya demikian banyak, berjalan mengelilingi bumi.

Sebagai kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi sosok yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara masyarakat yang tidak mengetahui kalau sebetulnya beliau ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar bila dibandingkan dengannya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di atas perahu, yakni selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasil dari perjalannya itu sehingga mampu merampungkan kitab kitab Badi’ah al-Mitsal.

Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong, sesaat menjelang wafat seluruh fotonya dibakar. Padahal koleksi itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tidak lain karena beliau takut identitasnya diketahui banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong.

Kehidupan keseharian Kiai Ma’shum mencerminkan sosok pribadi yang harmonis, baik bersama masyarakat, keluarga, maupun santri. Khusus kepada sang mertua sekaligus maha gurunya yakni hadratus syeikh, beliau sering menghadiahkan kitab. Sepulangnya dari Mekkah tahun 1332 H, beliau tidak lupa membawakan kitab al-Jawahir al-Lawami’ sebagai hadiah. Bahkan kitab as-Syifa’ yang pernah diberikannya, menjadi kitab referensi utama hadratus syeikh ketika mengarang kitab.

Almarhumah Nyai Khoiriyah Hasyim menceritakan bahwa suatu ketika Kiai Ma’shum pernah berdebat dengan hadratus syeikh tentang dua persoalan. Pertama, soal foto dan penentuan awal Ramadhan. Menurut Kiai Ma’shum, foto tidak haram. Sedangkan hadratus syeikh berpandangan sebaliknya.

Persoalan kedua adalah permulaan bulan puasa. Kiai Ma’shum telah menentukannya dengan hisab(perhitungan astronomis), sedangkan hadratus syeikh memilih dengan teori ru’yat (observasi bulan sabit). Akibat perselisihan ini, keluarga Kiai Ma’sum di Seblak lebih dahulu berpuasa daripada keluarga Kiai Hasyim dan para santri di Tebuireng.

Walaupun kedua ulama ini sering berbeda pendapat, namun hubungan tetap terjalin akrab. Ini merupakan bukti bahwa perbedaan pendapat di antara ulama merupakan hal yang wajar.

Tanggal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’shum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah hadratus syeikh. Hingga kini, belum ada seorang ulama pun yang mampu menggantikannya. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin. (Saifullah Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan beberapa hari lalu dalam keterangan tertulis menyatakan kekecewaannya karena menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencabut status tiga makam tokoh di Kalimantan Selatan sebagai cagar budaya.

Ketiga makam tersebut adalah Datu Abulung di Martapura (Kabupaten Banjar), Datu Sanggul di Tapin, dan Datu Tumpang Talu di Kandangan. PWNU memandang, mereka yang di makam itu adalah tokoh-tokoh terhormat, penyebar Islam, bahkan pejuang republik.

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Kemendikbud melalui Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, Ari Santoso membantah kebenaran berita tersebut karena berdasarkan data dan ketentuan tentang penetapan dan penghapusan cagar budaya sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, ketiga makam tersebut, yakni Makam Datu Hamid Ambulung di Kabupaten Banjar; Makam Tumpang Talu, di Kandangan; dan Makam Datu Sanggul, di Kabupaten Tapin, tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam UU Nomor 11 Tahun 2010, tambahnya, proses penetapan dilakukan melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya pada masing-masing kabupaten/kota, dan apabila sesuai dengan kriteria cagar budaya maka akan direkomendasikan untuk ditetapkan oleh bupati/walikota setempat sebagai cagar budaya.

“Ketiga lokasi makam tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” kata Ari melalui surat hak jawab, Jumat (11/8) sore, mengklarifikasi pemberitaan SMA Negeri 1 Slawi yang tayang 6 Agustus lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mengatakan, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur telah mengeluarkan surat nomor 0207/E24/CB/2017, tanggal 22 Februari 2017, ditujukan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

Surat tersebut berisi tentang pernyataan bahwa ketiga makam tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Oleh karena itu, ketiga makam Tokoh Penyebar Islam di Kalimantan Selatan tersebut tidak lagi diusulkan sebagai cagar budaya yang dipelihara oleh BPCB Kalimantan Timur per bulan April 2017.

“Namun demikian Kemendikbud tetap memikirkan pemeliharaan ketiga makam tersebut dengan dikeluarkannya surat Kepala BPCB Kalimantan Selatan yang menyampaikan bahwa biaya pemeliharaan untuk juru pelihara makam diharapkan dapat dilaksanakan oleh dinas terkait,” tutup Ari. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Pemuda Tak Boleh Lelah Mengawal Bangsa

“Orde Reformasi" --begitu sejarah menulis-- yang lahir tahun 1998 lalu,memiliki urutan panjang dalam memulai persemaian kesadaran tentang perlu dan pentingya perubahan dus melawan rezim otoriter. Kerja dan pengorbananya dilakukan oleh ratusan kaum muda-mahasiswa yang berada di kota-kota  seantero nusantara, tanpa kenal pamrih dan tidak mengindahkan resiko berhadapan dengan kuatnya rezim saat itu.

Tidak hanya pengorbanna waktu (berlama-lama di kampus) tetapi juga pikiran, air mata serta nyawa. Tidak sedikit teman-teman yang hilang dan gila demi mengawal yang disebut “bayi perubahan”  ini. Mereka mampu memberi perbedaan yang sangat signifikan dalam mewujudkan semangat Proklamasi ke arah yang didambakannya. Yakni cita-cita Indonesia adil dan makmur tanpa penindasan.

Oktober ini, gelora kepemudaan masih terlihat, namun terasa sepi dari suprime kesadran untuk berbenah yang sesungguh-sungguhnya. Mayoritas kita digerus oleh zaman yang serba transaksi, serta praktis dan mengkhawatirkan menuju hedonis. Pertanyaan nya adalah benarkah Orde Reformasi terekam lebih baik dibanding dengan Orde sebelum nya? Inilah sebetul nya esensi utama yang harus dijadikan percik permenungan kita bersama, khusus nya kaum muda yang tumbuh di era Reformasi.

Pemuda Tak Boleh Lelah Mengawal Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Tak Boleh Lelah Mengawal Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Tak Boleh Lelah Mengawal Bangsa

Hal ini patut dicatat, karena sekalipun Reformasi telah berusia sekitar 15 tahun, ternyata "penyakit" Orde Baru masih belum dapat disembuhkan keseluruhanya. Praktek korupsi, kolusi dan nepotisme masih marak berlangsung. Gaya hidup bangsa yang "sofistikasi", tampak masih mewarnai perilaku sebagian besar warga bangsa. Begitu pula dengan budaya hedonisme yang terlihat semakin menjadi-jadi dalam kehidupan nyata di lapangan. Padahal, kita telah sepakat bahwa Orde Reformasi mestilah jauh harus lebih baik dari Orde sebelum nya.

Beban berat  kita saat ini adalah menjinakkan paham-paham seperti hedonisme, materialisme, kapitalisme, radikalisme atau bahkan teologisme(?),  Tidak semata sebagai diskursus tetapi sebagai kritik oto kritik dalam menjangkar gendang peradaban ke depan. Paham-paham tersebut hari ini tidak saja menjadi wacana namun telah menjadi laku dari masing-masing individu baik yang paham maupun yang mengkritisi bahkan anti terhadapnya. Namun samar tersirat dan tampak pelan-pelan digandrugi bahkan di jalaninya sendiri.

Kita nyaris tidak berjarak dengan pikiran dan rasionale yang dulu kita kedepankan kan sebagai bagian dari mencerna keadaan. Jika dulu musuh kita adalah sesuatu yang nyata, terlihat jelas secara kasat mata, sekarang musuh kita bentuknya abstrak, tidak jelas tetapi ia ada. Sosio drama ‘waton kritis atau waton bedho’ tumbuh secara alamiah dalam tubuh masyarakat generasi muda. Tanpa memahi untuk apa dan kemana arah sikap kritis diwujudkan.Musuh yang harus dilawan itulah yang agaknya membuat para pemuda sekarang terpecah-pecah tanpa orientasi yang jelas dan manunggal.

Di satu sisi teman-teman muda ingin idealis, namun di sisi lain ternyata menjadi apatis bahkan banyak yang pragmatis, alih-alih merasa sudah lelah dan ingin segera menangkuk buah perjuangan. Sisi lain, kalau bukan sisi gelap? Banyak anak muda karna tak sanggup mendialektikakan kedaan, mereka maujud -mengubah diri mereka menjadi model pemuda baru yang dikenal dengan istilah “alay”. Pemuda yang merasa dirinya bukan pemuda jika tidak bergaya ala boyband/girlband. Pemuda yang merasa dirinya bukan pemuda jika tidak memiliki iPad. Atau pemuda yang merasa dirinya bukan pemuda jika tidak adu kekuatan dengan tawuran dan narkoba. Dan ini nyaris terjangkit di mayoritas genarasi yang masih berada di bangku SMU/SMA.

SMA Negeri 1 Slawi

 

SMA Negeri 1 Slawi

Saat ini sepertinya, pemuda memerlukan figur-figur yang dapat menjadi teladan, bisa dari sesamanya atau dari generasi pendahulunya. Tidak semua pemuda sadar dan mampu untuk memulai perubahan dari diri sendiri. Ada pemuda yang butuh contoh dan dorongan. Disorientasi pemuda harus segera diarahkan agar masa depan bangsa ini dapat lebih terarah pula, sebab merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, berdasar statistik kependudukan, pemuda kita menempati prosentase terbesar dalam populasi kita. Bisa dibayangkan, betapa buruk nasib bangsa ini ke depan,  jika kesadaran pikir, kesadaran social dan kesadaran beragama mereka  tidak benar.

Dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah.

Pemuda adalah calon pemimpin bangsa, pemimpin peradaban!  pemimpin bangsa tak boleh mengeluh, tak elok berputus asa dan menyerah, walaupun lelah, letih melanda, badan tetap harus ditegakkan. Menatap  lurus ke depan, dengan semangat baja, jangan hiraukan tipu daya kemalasan. Pikiran harus jernih, hatipun kudu suci. Dengan petunjuk Tuhan yang Maha Pengasih, kuyakin pemuda sampai di sana-tetap mampu mengawal bangsa!

 

* Penulis adalah mantan aktifis 98, kini aktif di pengurus harian DPP PD sebagai Sekretaris Pusat Pengembangan Strategy dan Kebijakan Partai dan Wakil Bendahara Umum PP Pagar Nusa.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock