Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Oleh ? Imam Fadlli

“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari KH Tholhah Mansur: Catatan Harlah Ke-63 IPNU

Itulah sepenggal pidato KH Tholhah Mansur dalam Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Dari kalimat pendek tersebut, sangatlah jelas bahwa Pendiri IPNU mempunyai cita-cita sejak awal bahwa kelahiran IPNU pada tanggal 24 Februari 1954 atau bertepatan dengan tangal 20 Jumadil Akhir 1373 H adalah untuk membentuk dan mencetak pelajar dan santri Nahdlatul Ulama yang berilmu yang tidak berlagak elitis dan eksklusif. Berilmu dalam konteks pidato di atas, mempunyai makna yang kompleks, definisi berilmu disini penulis artikan sebagai kapasitas seorang kader yang harus mempunyai ilmu pengetahuan sekaligus kecerdasan.?

Apa maksud dari pengetahuan dan kecerdasan yang penulis maksud adalah, seorang kader IPNU, adalah agen yang harus mempunyai modalitas wawasan (baca: pengetahuan) yang implementatif, ready to use. Sehingga, kecerdasan disini merupakan upaya untuk mempraktekkan segala wawasan yang dimilikianya. Karena, melalui dua modalitas inilah kader-kader IPNU akan menjadi aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.

Cita-cita ini, tentu dilandasi dengan asas ideologis yang bersumber dari teks al-Quran, sebagaimana yang teruraikan melalui pesan surah al-Mujadalah: 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) beberapa derajat. Landasan normatif ayat suci inilah yang menjadi pedoman pengembangan pengetahuan sekaligus kecerdasan agar selalu “kehausan” dalam meraup air-air ilmu pengetahun bagi para kader IPNU.

Namun, orientasi keilmuan ini tentu saja bukan dalam rangka mencapai ketinggian derajat semata, karena Kiai Tolchah dalam pidatonya tersebut melakukan taqyid al-makna,? yang menegaskan keilmuan tersebut harus dilandasi sikap yang dekat dengan masyarakat. artinya, kader IPNU harus mempunyai karakter, yaitu sikap yang siap sedia kapanpun masyarakat memanggil. Sehingga, sangat absurd jika ada seorang kader IPNU yang tidak dekat dengan masyarakat, merasa terasing dari denyut kehidupan warganya. Dari fenomena ini, maka harus ada yang dibenahi dari internal individual atau pola kaderisasi yang kurang tepat. Karena, sikap elitis inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Kiai Tolchah selaku founding fathers IPNU.

SMA Negeri 1 Slawi

Cita dan asa Kiai Tolchah diatas, selanjutnya disimbolisasikan melalui logo IPNU yang sangat sarat makna. Gambar bulu angsa misalnya, dalam logo tersebut dimaknai sebagai spirit keilmuan yang harus tetap dilakukan oleh para kader, kemudian karakter yang istiqomah, berkomitmen dan selalu tuntas dalam setiap kinerja disimbolkan dengan logo IPNU yang berbentuk bulat.?

SMA Negeri 1 Slawi

Kemudian, bintang yang merupakan benda luar angkasa meniscayakan sebuah ketinggian harapan yang harus selalau tergenggam agar kader-kader tidak hanya hidup tanpa adanya cita-cita yang tinggi. Dari sekelumit kode-kode inilah, sebenarnya karakter keilmuan IPNU termanifestasikan dengan baik. Hal ituharus dipahami dan disadari oleh semua elemen pengurus, anggota, dan seluruh kader.

Sebuah kredo yang terkenal di IPNU: belajar, berjuang dan bertaqwa juga menjadi semacam world view yang mendarah daging, untuk terus melakukan kerja-kerja intelektual, sosial dan spiritual secara sekaligus. Selaras dengan makna nahdlah dalam nomenklatur Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan agama dan peradaban secara bersama-sama (nahdlah ad-diniyah wal madaniyah ma’an). Melihat kesinambungan gagasan konseptual serta falsafahnya, maka sangat masuk akal jika pembangunan dan keberlangsungan NahdlatulUlama sebagai garda pembentukan peradaban masyarakat Indonesia, berada dipundak kader-kader IPNU.

Untuk itulah, pembangunan kader-kader IPNU sama halnya dengan membangun NU di masa depan, dan memperhatikan NU sama dengan turut andil dalam membangun generasi bangsa Indonesia yang berkualitas di era yang akan datang. Selamat Harlah IPNU ke-63. Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2015-2018.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Quote, Berita, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 26 Februari 2018

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi - Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di Jawa Timur kembali berkonsolidasi dalam rangka peneguhan eksistensi sekaligus memaparkan komitmennya dalam menciptakan kualitas perguruan tinggi di kancah regional dan global.

Forum dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Timur, Selasa (20/9), di aula Salsabila Gedung PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Akbar Timur 9 Surabaya.

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Hadir dalam diskusi ini para pimpinan dan dosen PTNU Jawa Timur, PWLPTNU Jawa Timur serta perwakilan Jurusan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang baru saja divisitasi oleh Asesor AUN-QA (ASEAN University Network – Quality Assurance).

SMA Negeri 1 Slawi

AUN-QA adalah program sertifikasi penjaminan mutu skala global yang digagas oleh asosiasi perguruan tinggi. AUN sendiri berkantor pusat di Thailand, dengan anggota perguruan tinggi dan asesor dari berbagai kampus di negara-negara ASEAN.

SMA Negeri 1 Slawi

“Di dunia ini, setidaknya ada tiga ‘madzhab’ atau aliran dalam akreditasi perguruan tinggi, yang pertama Dublin Accord; kedua, Washington Accord; dan ketiga, Sidney Accord,” kata Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS Dr. Ardyono Priadi mengawali diskusi.

Dublin Accord adalah sertifikasi perguruan tinggi yang banyak bergerak pada bidang vokasi, Washington Accord menekankan bagaimana capaian lulusan pembelajaran (learning outcomes) dari lembaga pendidikan tinggi, sedangkan Sidney Accord lebih pada bagaimana kompetensi dari lulusannya.

“Di Indonesia tampaknya ada pergeseran dari madzhab kompetensi ke madzhab learning outcomes,” papar Ardyono.

Sebagaimana diketahui, beberapa dekade terakhir di era global ini perguruan tinggi dunia memacu diri dengan membuat sistem penjaminan mutu tata kelola dan hasilnya. Sebut saja ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology), perkumpulan perguruan tinggi Islam dunia (ISESCO/Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization), hingga ASEAN University Network ini.

Pada penilaian sertifikasi AUN-QA, ada 15 kriteria penilaian yaitu: Expected learning outcomes, programm specification, programm structure and content, teaching and learning strategy, student assessment,? academic staff quality, support staff quality, student quality, student advice and support, facilities and infrastructure, quality assurance of teaching and learning process, staff development activities, stakeholders feedback, output dan stakeholders satisfaction.

Menurut Setiyo Gunawan, Sekjur Teknil Kimia ITS, para asesor AUN-QA cukup detail dalam memverifikasi bukti-bukti fisik dari proses-proses yang sudah dikerjakan, mulai dari proses penyusunan kurikulum, proses pembelajaran, hingga umpan balik para pemangku kepentingan dan pengguna lulusan.

Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS Agus Zainal Arifin yang turut hadir dalam diskusi ini menambahkan, sertifikasi AUN-QA memang lebih mengkroscek dari segi proses. Dengan proses yang bermutu maka tentu akan menghasilkan output yang bermutu pula.

Yusuf Amrozi, sekretaris LPTNU Jawa Timur mengatakan, bukan tidak mungkin PTNU di Indonesia tersertifikasi secara global. Tinggal bagaimana PTNU kita ini memacu komitmen masing-masing untuk menumbuhkan budaya mutu. Sehingga jika budaya mutu telah terbentuk, maka tinggal mengikuti template yang diminta oleh lembaga akreditasi atau sertifikasi internasional tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) meraih juara kedua organisasi kepemudaan (OKP) terbaik tingkat nasional 2013. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memilihnya atas dasar kemandirian OKP.

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

“Ketika Kemenpora membuka pendaftaran lomba OKP, kita memasukkan segala berkas yang disyaratkan,” kata Sekretaris Umum PP IPPNU Wildatus Sururoh kepada SMA Negeri 1 Slawi di studio Radio NU, Gedung PBNU lantai tujuh, Jakarta Pusat, Kamis (24/10) petang.

Setelah persyaratan dinilai lolos, pihak Kemenpora kemudian mengadakan sidak langsung ke kantor Sekretariat PP IPPNU di Gedung PBNU lantai enam. Saat sidak di sekretariat, mereka mewawancarai kita, sambung Wilda.

SMA Negeri 1 Slawi

Beberapa waktu berselang, Kemenpora mengundang PP IPPNU untuk mempresentasikan program unggulannya, lanjut Wilda. Presentasi ini merupakan tahap terakhir. Untuk bisa juara, OKP harus melewati tiga tahapan.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau tidak lolos di satu tahap, peserta yang terdiri banyak OKP tidak bisa naik ke tahap berikutnya. Demikian seterusnya hingga tahap terakhir.

Dalam presentasi di kantor Kemenpora, IPPNU mengunggulkan program antiradikalisme, antikekerasan pelajar, dan antinarkoba. IPPNU mengikuti perlombaan OKP kelas pelajar. Selain kelas pelajar, Kemenpora juga membuka perlombaan OKP kelas mahasiswa dan pemuda.

Meskipun baru tahun ini mengikuti perlombaan itu, IPPNU sudah meraih juara kedua. Tetapi, kejuaraan ini menjadi pelajaran buat IPPNU agar terus membenahi diri, tegas Wilda. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, AlaSantri, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Ketum PBNU: Tidak Ada yang Paling Tepat Jadi KaBIN Selain Pak As’ad

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, angkat bicara mengenai tarik ulur pemilihan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN). 

Ketum PBNU: Tidak Ada yang Paling Tepat Jadi KaBIN Selain Pak As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Tidak Ada yang Paling Tepat Jadi KaBIN Selain Pak As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Tidak Ada yang Paling Tepat Jadi KaBIN Selain Pak As’ad

“Menurut saya tidak ada yang paling tepat jadi Kepala BIN selain Pak As’ad (Said Ali),” kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (11/11/2014).

 Kiai Said meminta Presiden Joko Widodo memilih sosok yang tepat dan profesional untuk mengisi pos Kepala BIN. “Ini bukan urusan main-main,” tambahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

 Kang Said, demikian Kiai Said akrab disapa, menilai As’ad Said Ali sudah memenuhi seluruh kriteria untuk menjadi Kepala BIN. Sebelum akhirnya pensiun dan mengabdikan dirinya di Nahdlatul Ulama, masih kata Kang Said, As’ad Said Ali memiliki pengalaman panjang di dunia intelejen, baik di dalam maupun luar negeri.

SMA Negeri 1 Slawi

 “Pak As’ad lama bertugas di Timur Tengah, pernah jadi salah satu direktur BIN di era Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian jadi Wakil Kepala BIN di era Bu Mega (Megawati, Red). Pak As’ad adalah wakil kepala di tiga Kepala BIN berbeda, yaitu di saat kepalanya Pak Hendropriyono, Pak Syamsir, dan Pak Sutanto,” urai Kang Said.  

 Lebih jauh Kang Said juga mengatakan, ancaman paling besar bagi bangsa Indonesia ke depan adalah redikalisme agama yang dalam prakteknya saat ini memunculkan ancaman perpecahan di tengah masyarakat. Radikalisme itu sendiri menurut Kang Said merupakan adopsi dari sejumlah negara di Timur Tengah. 

“Dan bicara terorisme, Pak As’ad-lah yang paling paham seluk beluknya. Bagaimana mengatasinya dan bagaimana mencegahnya, Pak As’ad paham itu,” tegas Kang Said. 

Mengenai nada-nada sumbang yang mengaitkan As’ad Said Ali dengan pelanggaran HAM berat di Indonesia, Kang Said meminta seluruh pihak menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. “Itu kan masih dugaan-dugaan, belum ada bukti nyatanya. Jangan sampai karena hanya dugaan nama baik orang tercemar,” pungkasnya. 

Nama As’ad Said Ali muncul sebagai salah satu kandidat Kepala BIN, yang pemilihannya merupakan hak prerogatif presiden. Beberapa saat lalu As’ad Said Ali sudah pernah dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember

Jember, SMA Negeri 1 Slawi



Puluhan orang yang tergabung dalam Jember Aksi Peduli Jalan Berlubang (Jadul) menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Selasa (11/4). Mereka mengeluhkan rusaknya jalan di sejumlah tempat, termasuk jalan yang dipenuhi lubang.?

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember

Menurut salah seorang pengunjuk rasa, Kustiono Musri, jalan berlubang di Jember sudah cukup parah sehingga perlu segera ditangani.?

Dikatakannya, hampir di setiap ruas jalan, lebih-lebih di pedesaan, lubang selalu ditemukan. "Jadi saya minta anggota dewan yang terhormat untuk menekan bupati agar jalan berlubang segera diperbaiki. Ini untuk kepentingan masyarakat. Bukan orang per orang," ucapnya.

Ia menambahkan, yang paling ? merasakan dampak rusaknya jalan (berlubang) adalah masyarakat kebanyakan, khsusunya di pedesaan. Selama ini jalan berlubang terkesan ? dibiarkan begitu saja, hingga akhirnya masyarakat berinisiaif untuk menanami lubang tersebut dengan pohon pisang. Tujuannya adalah sebagai tanda bahwa jalan itu berbahaya dan tak boleh dilintasi. "Itu juga sindiran bagi pemerintah," ungkap Kustiono.

SMA Negeri 1 Slawi

Hal senada juga diungkapkan, Prasetyo. Menurutnya, hampir setiap hari terjadi kecelakaan akibat jalan berlubang. Dikatakannya, korban jalan berlubang kebanyakan dari pengendara roda dua, sebab model ban kendaraan roda dua ? memang sangat rentan ? terhadap ? lubang.?

"Kalau roda dua, itu artinya kan katakanlah ? masyarakat biasa. Sedangkan pejabat biasanya memakai roda empat, sehingga tak terasa meski ada lubang. "Oleh karena itu, tolong ini diperhatikan. Jangan sampai lubang di jalan memakan korban lebih banyak lagi," jelasnya.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jember, Anang Murwanto menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan fungsi pengawasan dengan baik. Namun diakuinya, eksekusi di lapangan tergantung pada eksekutif.?

Walaupun demikian, katanya, apa yang disampaikan perwakilan pengunjuk rasa, merupakan masukan bagi dewan untuk melakuan evaluasi kinerja pada pihak-pihak terkait. "Kami sudah melakukan itu (pengawasan). Yang jelas kami juga tak ingin lubang di jalan terus memakan korban," ucap politisi Partai Demokrat itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian Sunnah, Santri, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 05 Februari 2018

Mengenal Pengajian Kitab Al-Hikam Terbesar di Blitar

Almaghfurlah KH Syaifulloh Harun merintis pengajian rutin Kitab Al-Hikam sejak tahun 1990. Majelis ilmu yang diselenggarakan setiap Ahad ini adalah pengajian terbesar di Blitar, Jawa Timur, dengan jumlah peserta (mustami’in) lebih kurang 1.000 orang.

Pengajian yang berlangsung rutin pukul 06.00 -07.00 WIB tersebut bertempat di Mushala Almaghfurlah H Sulthon di Desa Modangan Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sejak didirikan hingga saat ini situasi dan lokasi terkesan tidak berubah, hanya pelebaran tempat duduk para jamaah yang mengalami sedikit tambahan yaitu lesehan di plataran rumah Almaghfurlah H Sulthon dan bahkan sampai ada yang mengikutinya di teras rumah tetangga.

Mengenal Pengajian Kitab Al-Hikam Terbesar di Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Pengajian Kitab Al-Hikam Terbesar di Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Pengajian Kitab Al-Hikam Terbesar di Blitar

Majelis ini berawal dengan 20 mustami’in saja. Dan seterusnya berkembanglah hingga saat ini dengan jumlah samiin lebih kurang seribu orang yang terdiri dari laki- laki dan perempuan, tua, muda, bahkan ada juga yang masih remaja.

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah sang pengasuh pertama, Almaghfurlah KH Syaifulloh Harun meninggal dunia tahun 1995, pengasuh pengajian diteruskan oleh KH Imam Sibaweh hingga wafatnya pada tahun 2000. Selanjutnya pengajian Al-Hikam diasuh oleh KH Zainuddin.

Pada tahun 2005 KH Zainuddin meninggal dunia, dan pengasuh pengajian pun diteruskan oleh KH Lubul Aqil dan KH Masud Damanhuri dari Pondok Pesantren Sanan Gondang Gandusari Kabupaten Blitar hingga sekarang.

SMA Negeri 1 Slawi

Sakrip Ms BSc, jamaah pengajian Al-Hikam; tinggal di Jalan Seruni 35 Kota Blitar



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Bantul, SMA Negeri 1 Slawi. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pagelaran wayang mirip dengan Al-Qur’an. Selama ini bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang adalah bahasa Jawa Kawi, yang meskipun banyak orang dapat menikmati alur ceritanya, tapi tidak semua orang (Jawa) dapat mengerti dan memahami maknanya.

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

“Ini mirip dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu kan berbahasa Arab, tapi tidak semua orang Arab dapat memahaminya. Tapi meskipun tidak paham, itu dapat menimbulkan sensasi spiritual yang luar biasa ketika merapalkannya,” ujarnya saat mengisi Seminar Nasional bertajuk Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Senin (17/11) siang, di Aula Pesantren Kaliopak Bantul, Yogyakarta.

Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin itu menambahkan, sebenarnya pagelaran wayang bukanlah sekadar tontonan, hiburan, atau rekreasi semata, melainkan juga merupakan ritus keagamaan, selain sebagai media pendidikan. “Sehingga ada suasana yang mirip dengan ketika berdzikir,” tegas Kiai Yahya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menduga, pagelaran wayang sudah ada sejak sebelum zaman Wali Songo. Kemudian ketika ada Wali Songo, pagelaran wayang menjadi bagian dari Islam yang dikembangkan dalam peradaban Jawa.

SMA Negeri 1 Slawi

“Ini tidak ada kaitannya dengan otentik atau bid’ah, karena islam hadir untuk seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq),” tandasnya.

Dalam hal ini, Kiai Yahya menitikberatkan pada kata-kata utammima yang berarti menyempurnakan. Menurutnya, ada alasan di balik penggunaan kata-kata utammima dan bukan ubaddila yang berarti menggantikan. “Rasulullah saat itu diutus hanya untuk menyempurnakan, tidak menggantikan. Secara implisit ini merupakan pengesahan bahwa makarimal akhlaq sebelum Islam itu sudah ada, dan Nabi tidak menggantikannya, tapi menyempurnakannya agar menjadi lebih berkualitas,” jelasnya panjang lebar.

Maka sama halnya dengan pagelaran wayang, yang tidak serta merta langsung diganti begitu saja oleh Wali Songo, melainkan disempurnakan dengan membingkainya sebagai salah satu ritus keagamaan dalam Islam. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nusantara, Berita, Khutbah SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock