Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan akan menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk membahas nasib daerah penggusuran Luar Batang dan lokasi sekitarnya Kampung Akuarium dan Pasar Ikan.

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

"Kami akan bertemu Pemda untuk mempertahankannya. Tidak digusur tapi diperbaiki," kata Kiai Ma’ruf saat mengunjungi lokasi penggusuran di sekitar Luar Batang, Jakarta, Selasa.

Kiai Ma’ruf yang juga rais aam NU ini mengatakan salah satu hal yang akan direkomendasikan terkait hak-hak warga itu adalah supaya Ahok dapat membangun kembali rumah yang telah digusur dengan yang lebih baik.

Kiai Ma’ruf mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi warga Luar Batang pascapenggusuran oleh otoritas Pemda DKI. Terlebih setelah MUI meninjau langsung lokasi penggusuran itu.

SMA Negeri 1 Slawi

Kendati demikian, MUI akan melakukan investigasi lebih dalam terlebih dahulu mengenai rincian hak-hak warga yang dilanggar. Dengan begitu, rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan saat bertemu Ahok akan menyeluruh.

Kiai Ma’ruf mengatakan Pemda DKI sudah seharusnya mempertahankan situs sejarah Luar Batang dan sekitarnya lantaran kawasan itu sudah ada sejak lama yaitu ketika kota Sunda Kelapa cikal bakal Jakarta dibangun.?

SMA Negeri 1 Slawi

Kawasan Luar Batang, kata dia, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi khususnya terkait dengan Islam.

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya melakukan relokasi warga Pasar Ikan dengan memberikan solusi kepada warga yang telah bermukim sejak lama dan memiliki rumah tinggal di lingkungan RT 001, 002, 011 dan 012 di RW 04 untuk mendapatkan hunian layak di rusun Marunda dan Rawa Bebek.

Saat dilakukan penggusuran pada Senin pagi (11/4), ratusan warga Pasar Ikan mencoba menolak dan bertahan. Bahkan petugas pengamanan gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polisi dan TNI sebanyak 4.218 personel membawa sejumlah warga dengan bus yang telah disediakan. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hadits, Nasional, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Sebanyak lima ratus anggota Banser melangsungkan apel kesetiaan terhadap Pancasila di Lapangan Asrama Haji, Medan, Sumatera Utara. Mereka memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh pada awal Juni.

Instruktur apel akbar ini adalah Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea. Mereka melangsungkan apel Jumat (3/6) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Bangsa Dalam Bingkai NKRI dan Pancasila.

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Sementara acara peringatan Harlah Ke-82 GP Ansor dihadiri tokoh NU Sumut Ir Husni Kamil Manik yang juga Ketua KPU RI.

“Pada kesempatan ini kita mengadakan pengukuhan majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor dan pengukuhan Koperasi Ansor Sejahtera di aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan,” kata Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala yang hadir di lokasi acara.

SMA Negeri 1 Slawi

Tampak hadir pada peringatan ini Gubernur Sumut Ir Tengku Ery Nuradi, Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebelumnya GP Ansor Sumut melangsungkan kaderisasi dengan instruktur Muhammad Adnan Anwar. Ia menyampaikan materi di LI 1 PW Ansor Sumut di Asrama Haji Medan, Rabu-Jumat (1-3/6). Sebanyak 62 peserta mengikuti pelatihan ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi. Untuk mewujudkan mesjid sebagai pusat gerakan pemeliharaan akidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, sebagai pusat pelayanan dan kesehatan umat, pusat keilmuan, dan sumber pendidikan, Pengurus Lembaga Tamir Mesjid (LTM) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang kembali menggelar Pelatihan Muharrik Mesjid pada hari Sabtu, 16 April 2016.?

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Seluruh pengurus DKM se-Kecamatan Jatinangor yang berjumlah sebanyak 50 orang berkumpul di Mesjid Pondok Pesantren Al-Falah untuk mendapatkan materi tentang muharrik masjid.

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang Ust. Eman Sulaeman mengatakan bahwa pelatihan Muharrik Mesjid Nahdlatul Ulama ini menjadi program utama Pengurus LTMNU kabupaten Sumedang. Tujuan utamanya yaitu membentengi masjid-mesjid Nahdlatul Ulama dari rongrongan paham-paham radikal di luar paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.?

Selain itu ingin menyampaikan tentang pentingnya Kegiatan Muharrik Mesjid demi terciptanya pengurus masjid yang paham betul terhadap kegiatan-kegiatan tamir mesjid ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PCNU Sumedang Kiai Ade Gaos. Ia memaparkan secara detail dan terperinci materi tentang Ke-Aswaja-an ala Nahdlatul Ulama.?

Ia juga mengutip pepatah Arab, "Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir". Selain itu Kiai Ade Gaos juga membangkitkan semangat juang dan kecintaan warga Nahdliyin di daerah Jatinangor terhadap Nahdlatul Ulama dengan menyampaikan pepatah bijak Kiai Asad: "Jadikanlah NU itu sebagai istrimu yang engkau nafkahi, bukan sebagai suami yang engkau jadikan sebagai pemberi nafkah".

SMA Negeri 1 Slawi

Selanjutnya untuk terciptanya warga Nahdliyin yang aman sejahtera, Kiai Ade Gaos mengajak warga untuk bersama-sama membesarkan Nahdlatul Ulama khususnya di daerah Kabupaten Sumedang.?

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang sempat pula mengutip kata-kata bijak salah satu Kiai NU "Bangsa yang paling celaka adalah bangsa yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri, lebih-lebih umat yang tidak mengetahui sejarah agamanya sendiri" (Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya). (Dede Rohmat Apandi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Bahtsul Masail, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Kader Binaan LDNU Dibekali Materi Revolusi Mental

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Lembaga Dakwah (LDNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar dialog interaktif Revolusi Mental sekaligus pembekalan materi penguatan kualitas bagi kader dai binaan. Kegiatan ini digelar atas kerja sama dengan Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di lantai 5 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (23/12).

Kader Binaan LDNU Dibekali Materi Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Binaan LDNU Dibekali Materi Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Binaan LDNU Dibekali Materi Revolusi Mental

Ketua Pelaksana Muhammad Imaduddin mengatakan, program presiden terkait Revolusi Mental ada yang mengidentifikasikan adalah program dari kelompok kiri, lantaran revolusi mental pernah diungkapkan oleh Karl Marx.

"Dalam perspektif Islam khususnya NU ajaran revolusi mental itu ada. Sebab Islam itu Rahmatan lil alamin, bukan untuk orang Islam saja," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Lebih lanjut Imaduddin mengungkapkan bahwa data Surya Candra dari Universitas Indonesia di mana tahun 2020 sampai 2030 masyarakat Indonesia? akan menikmati bonus demografi di mana anak-anak usia produktif melimpah tetapi dengan kondisi mental bangsa yang semakin bobrok baik dari segi ekonomi, politik maupun budaya.

Salah satu cara adalah melakukan Revolusi Mental dari atas sampai bawah, dari elit sampai rakyat.

SMA Negeri 1 Slawi

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka," kata Imaduddin menyitir surat Ar-Rad ayat 11.

Untuk itu, kata Imaduddin, para da’i penggerak binaan LDNU mengambil manfaat sekaligus wawasan yang didapat dari kegiatan kali ini.

Materi diskusi disampaikan oleh Deputi Menko PMK Drs. Sahlan, Wakil Ketua LDNU KH Agus Salim, dan Sekretaris LDNU Drs Nurul Yaqin Ishaq. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 15 Januari 2018

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab

KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq adalah putra kelima KH Abdurrahman. Beliau merupakan adik KH Fathan bin Abdurrahman yang meneruskan perjalanan Pesantren Futuhiyyah bersama dengan dua keponakannya, KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan KH Muhammad Hanif Muslih, sepeninggal KH Muslih bin Abdurrahman.

?

Sepanjang masa itu, kiai Ahmad Muthohar merupakan sesepuh yang mengampu pengajian santri dan bertindak sebagai imam sholat maktubah di Masjid An Nur Pondok Pesantren Futuhiyyah, disamping sebagai imam sholat Jumat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kauman, Mranggen.

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab

Sedang struktur tata kelola organisasi pesantren (termasuk pengelolaan yayasan) dipimpin oleh dua putra KH Muslih bin Abdurrahman, yakni KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan dibantu adiknya KH Muhammad Hanif Muslih.

KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman terkenal sebagai sosok ulama yang istiqomah. Para santri menjadi saksi keistiqomahannya dalam hal ubudiyah. Sepanjang hayat, kecuali pada saat benar-benar udzur, beliau senantiasa melaksanakan sholat maktubah berjamaah dengan para santri.

Salah satu hal yang patut menjadi teladan dari kiai kelahiran 1926 ini adalah keistiqomahan dalam beribadah. Meski harus dengan menaiki kursi roda dan didorong oleh santri dari kediaman menuju masjid, beliau tetap semangat, bahkan masih sempat keliling ke kamar-kamar pesantren untuk membangunkan santri yang tidur atau sekedar mengingatkan waktu sholat jamaah.

Disamping menjadi imam Masjid An Nur Pesantren Futuhiyyah, sehari-harinya KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman juga mengampu pengajian kitab-kitab salaf.

SMA Negeri 1 Slawi

Semasa hidup, KH Ahmad Muthohar dikenal sebagai penulis produktif. Tak kurang dari 30 judul kitab kuning karyanya membahas berbagai disiplin ilmu, diantara kitab nahwu, shorof (tata bahasa), aqidah (ketahuidan), akhlak (budi pekerti), fiqih (hukum Islam), tafsir, hingga mawaris (tentang pembagian warisan).

KH Ahmad Muthohar merupakan salah satu ulama yang berkesempatan menimba ilmu dari Abu Al Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani, yang masyhur dikenal dengan Syekh Yasin Al Fadani, ulama Makkah asal Padang Sumatera Barat, bergelar “Al Musnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia), berkat keahliannya dalam hal ilmu periwayatan hadits.

SMA Negeri 1 Slawi

Di kalangan nahdliyyin, karya-karya KH Ahmad Muthohar cukup dikenal dan masih dipakai untuk pembelajaran agama hingga sekarang. Sebut saja kitab Imrithi dan Al Wafiyyah fi Al Fiyyah (Nahwu), Akhlaqul MArdliyyah (akhlak), Tafsir Faidurrahman (tafsir), Al Maufud (Shorof), Syifaul Janan dan Tuhfatul Athfal (tajwid). Buah karyanya yang lain, kitab Rahabiyyah (warisan) serta Tsamrotul Qulub (bacaan wirid sesudah shalat).

Sebagian besar karya KH Ahmad Muthohar diterbitkan oleh penerbit Thoha Putra Semarang, yang memang dikenal sebagai penerbit kitab-kitab klasik. Selain itu, ada pula sejumlah karyanya yang dirilis oleh penerbit Malaysia.

Selain penulis produktif, KH Ahmad Muthohar juga merupakan sosok penting di kalangan nahdliyin, hingga wafat tahun 2005, beliau adalah Mustafadl Jam’iyyah al Mu’tabarah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah An Nahdliyyah.

Tak heran, kepergiannya dihantarkan oleh banyak pelayat. Sebagian mereka merupakan murid thariqah. Tak cuma dari Mranggen, para murid tersebut datang dari berbagai kota di Jawa, seperti Semarang, Purwodadi, Kendal, Sragen, Pekalongan, Blora, Pati, Solo, Cirebon, bahkan luar Jawa.

KH Ahmad Muthohar meninggal dunia pada usia 79 tahun saat melaksanakan sholat tahajud, yang rutin dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Beliau wafat meninggalkan 8 putra-putri dari para istrinya, 4000-an santri, dan puluhan ribu anggota thoriqoh.

(Abdus Shomad/Ben Zabidy – PP. Futuhiyyah Suburan Mranggen)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 09 Januari 2018

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan keberatan atas Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH) yang telah disetujui dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis (25/9). UU JPH membuka pintu monopoli sertifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Adnan Anwar menyayangkan monopoli jaminan halal oleh MUI pada UU JPH. Pasalnya jumlah warga sangat banyak untuk ditangani dengan keterbatasan jumlah SDM pada institusi MUI.

Semangat monopoli ini menutup peran keumatan ormas-ormas keislaman seperti NU, Muhammadiyah dan lainnya. “Jumlah kader NU yang memiliki kemampuan fikih dan ushul fikih sangat banyak. Mereka sangat terlatih memecahkan persoalan keumatan melalui diskusi, musyawarah, dan terutama bahtsul masail.”

SMA Negeri 1 Slawi

Keputusan mereka menjadi valid dengan dukungan dan pertimbangan dari para peneliti dan saintis di kalangan pemuda NU. Mereka cukup berkompeten untuk meneliti kandungan-kandungan produk di makanan, perlengkapan kosmetik, dan lainnya.

Di samping itu basis massa NU di tengah masyarakat sangat jelas. Dari situ pelayanan yang berkenaan dengan jaminan kehalalan produk menjadi lebih optimal.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau JPH dimonopoli MUI, kepentingan warga yang banyak itu akan terbengkalai, pungkas H Adnan di Jakarta, Jumat (25/9). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Budaya, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakatnya untuk menunaikan shalat di awal waktu. Dengan Shalat di awal waktu mampu membentuk budaya hidup disiplin di berbagai segi kehidupan.

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Bupati menyampaikan pesan tersebut saat kembali dari menunaikan ibadah umroh Senin malam, (11/1).

Menurutnya, kedisiplinan amat penting untuk mencapai kesuksesan.Terbukti negara-negara yang menerapkan budaya disiplin telah maju dan rakyatnya sejahtera.

SMA Negeri 1 Slawi

Dirinya juga akan membuat surat edaran terkait imbauan kepada PNS, atau pekerja pabrik ketika datang waktu shalat untuk menghentikan sementara pekerjaannya guna menunaikan shalat fardlu ain di awal waktu.

SMA Negeri 1 Slawi

“Saya akan membuat surat imbauan terkait, shalat di awal waktu,” ucapnya.

Dia yakin, dengan shalat diawal akan mendatangkan keberkahan. Bila kita mengutamakan shalat, shalat pula yang menjadikan amalan mendapat penilaian pertama kali ketika dihisab. “Jangan khawatir akan keduniaan karena Allah SWT menjamin apa pun bila warganya beriman dan bertakwa. Insya Allah barokah,” tuturnya.

Saat turun dari bis yang mengangkut rombongan umroh bersama 38 warga masyarakat Brebes, bupati disambut hangat oleh keluarga, dan beberapa pejabat pemerintah kabupaten Brebes.

Dia menambahkan, umroh bukan perjalanan wisata. Namun perjalanan religi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Haji kecil ini diperlukan disamping ziarah ke raudlah juga melakukan aktivitas peribadatan lainnya.

“Saya sangat bangga dengan banyaknya warga Brebes yang melakukan perjalanan umroh, hampir setiap minggu ada yang berangkat ke tanah suci,” ungkapnya.

Ini menandakan, sambungnya, masyarakat Brebes sudah tambah sejahtera dan keimanannya makin meningkat. “Mudah-mudahan Brebes makin aman, nyaman, sejahtera di bawah perlindungan Allah SWT, baldatun toyibatun warobun ghofur,” pungkasnya.

Perjalanan Umrah Bupati Brebes yang didampingi suami Drs Kompol H Warsidin MH dipandu Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah I KH Labib Sodiq Suhaemi. Bupati melakukan perjalanan Umrah sejak 3 hingga 11 Januari. Tugas pokok dan fungsi selama itu dipegang Wakil Bupati Narjo SH. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Bahtsul Masail, Pondok Pesantren SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

GP Ansor: Kejari Pamekasan Abaikan UU Pencucian Uang

Pamekasan, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam penuntasan sejumlah kasus korupsi di Kabupaten Pamekasan, Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat dinilai belum menerapkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang terhadap para koruptor. Sejumlah kasus yang ditangani belum tampak bisa membuat para koruptor tersita harta hasil korupsinya.

GP Ansor: Kejari Pamekasan Abaikan UU Pencucian Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Kejari Pamekasan Abaikan UU Pencucian Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Kejari Pamekasan Abaikan UU Pencucian Uang

Hal demikian disayangkan oleh Sekretaris GP Ansor Pamekasan Abd Latif saat dihubungi SMA Negeri 1 Slawi, Kamis (29/5). Latif menegaskan, betapa Kejari Pamekasan tampak gentar memiskinkan para koruptor di Pamekasan yang kian menjamur.

Padahal, selanya, dengan melakukan penyitaan harta kekayaan koruptor, itu bisa menjadi salah satu cara yang bisa menimbulkan efek jera. Juga, bisa menjadi upaya pencegahan terhadap perilaku korupsi di Pamekasan secara berkesinambungan.

SMA Negeri 1 Slawi

Latif menilai, setiap ada kasus korupsi pihak Kejari terlihat belum berani menerapkan UU tersebut. Diterangkan, sejumlah tersangka kasus korupsi di Pamekasan yang sedang ditahan maupun yang sudah menjalani vonis hukuman, tapi hartanya masih belum disita. Menurutnya setelah bebas, para koruptor itu masih bisa menikmati harta kekayaan hasil korupsinya tanpa perasaan jera untuk korupsi lagi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kejari Pamekasan harus mempergunakan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2008 di setiap pengungkapan kasus korupsi, dengan memiskinkan para koruptor. Supaya menimbulkan efek jera bagi mereka dan para calon koruptor yang lain,” katanya.

Dicontohkan, dengan jumlah korupsi yang bisa mencapai Rp 5 miliar, namun hanya menjalani hukuman selama 5 tahun penjara tidak akan membuat jera. Pasalnya, jumlah uang sebesar itu bisa saja dinikmati setelah keluar dari penjara. Akibatnya, calon pelaku korupsi yang lain juga tidak akan takut untuk melakukan tindakan penggerogotan uang rakyat.

“Yang kami ketahui sampai detik ini, kasus korupsi yang sudah vonis seperti penyelewengan raskin di Desa Tanjung Kecamatan Pademawu, tidak ada penyitaan harta kekayaan. Termasuk penyidangan kasus raskin Desa Larangan Slampar, Kecamatan Tlanakan,” ungkap pria asal Desa Kertajaya, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Sementara itu, Plh Kepala Kejari Pamekasan Syafei mengatakan, pihaknya akan menyampaikan kritikan GP Ansor itu kepada Kepala Kejari Pamekasan Sudiharto yang saat ini masih menjalani pendidikan dan pelatihan (diklat) di luar kota. ?

“Saya sampaikan terima kasih atas semua kritik dan saran pada Kejari Pamekasan. Nanti akan disampaikan kepada Kepala Kejari dan tim di Kejari,” tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, News SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 25 Desember 2017

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat

Yogyakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Forum Silaturahim Mahasiswa Pascasarjana NU UGM kembali mengadakan diskusi bulanan kelima Kamis (16/11).

Diskusi ini mengangkat tema Pemanfaatan Jamur-jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat bagi Masyarakat bertempat di laboratorium Integrated of Plant Disease Science Fakultas Pertanian UGM. 

Bahru Rohmah, pembicara dalam acara tersebut mengatakan jamur edibel adalah jamur yang dapat dikonsumsi, sebagai salah satu alternatif sumber makanan sehat bagi masyarakat. 

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat

Beberapa jenis jamur edible yang dapat dikonsumsi, seperti jamur tiram, jamur merang, jamur kancing, dan beberapa jamur konsumsi lainnya.

Terdapat 35 jenis jamur edibel, namun yang sudah dibudidayakan sebanyak 20 jenis. 

“Dari berbagai jenis jamur tersebut, jamur tiram memiliki presentase budidaya terbesar, yaitu sebesar 25 persen. Hal dini didukung karena meningkatnya pengetahuan masyarakat akan konsumsi jamur serta kebradaan jamur yang mudah didapatkan,” kata mahasiswa pascasarjana pada program studi Fitopatologi Fakultas Pertanian UGM.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain menjelaskan jamur edibel, Bahru juga menjelaskan mengenai jamur yang beracun dan jamur yang dapat dijadikan sebagai obat. 

“Jamur genoderma lucidum, adalah salah satu jamur yang banyak digunakan sebagai obat pada beberapa penyakit,” jelas Bahru.  

Forum diskusi ini merupakan wadah bagi mahasiswa pascasarjana, baik S2 maupun S3 UGM untuk sharing tentang keilmua mereka. Forum juga membahas lintas disiplin ilmu. 

Kekuatan forum ini adalah karena masing-masing peserta diskusi datang dari latar belakang keilmuan yang bebeda, baik dari rumpun keilmuan sosial-humaniora, maupun dari rumpun keilmuan eksakta.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain itu kekuatan forum ini adalah mengintegarsikan masing-masing bidang keilmuan untuk memperkuat dan membahas suatu masalah agar lebih komprehensif. (Irsyadul Ibad/Kendi Setiawan)

  

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU

Oleh Abdul Rahman Wahid

--Wacana kembalinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) mulai memasuki titik ujung. Hal ini didasarkan pada hasil Sidang Komisi Organisasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) pada Sabtu, 1 November 2014. PBNU dan perwakilan wilayah NU dari seluruh Indonesia telah sepakat memberikan tenggang waktu kepada PMII hingga menjelang Muktamar NU 2015 nanti. Jika tidak ada sikap PMII kembali ke NU, ada kemungkinan NU akan membuat organisasi kemahasiswaan yang baru di bawah naungan NU.

Menilik pada sejarah, berangkat dari hasrat atau panggilan nurani mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi merupakan hal yang wajar, karena kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat memungkinkan untuk mendirikan organisasi baru.

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU

Hasrat tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk Ikatan Mahasiswa NU (IMANU) pada akhir 1955 yang diprakarsai oleh beberapa pimpinan pusat dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Namun IMANU tak berumur panjang, karena PBNU secara tegas menolak keberadaannya. Tindakan keras itu dilakukan lantaran IPNU baru saja lahir, yakni pada tanggal 24 Februari 1954. “Apa jadinya jika baru lahir saja belum terurus sudah terburu menangani yang lain,” logika yang dibangun oleh PBNU. Jadi keberadaan PBNU bukan pada prinsip berdiri atau tidak adanya IMANU tapi lebih merupakan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas waktu.

Pada tanggal 14-16 Maret 1960 IPNU menggelar Konferensi Besar di Kaliurang,? Yogyakarta. Konferensi inilah yang menjadi cikal bakal pendirian suatu organisasi mahasiswa yang terlepas dari IPNU baik secara struktural maupun administratif, kemudian dikristalkan dengan nama PMII. Selanjutnya, PMII diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibuat di Surabaya. Tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khodijah pada tanggal 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 H.

?

Independensi PMII

SMA Negeri 1 Slawi

Jatuhnya rezim Orde Lama dan naiknya Soeharto sebagai penguasa Orde Baru telah membawa Indonesia kepada perubahan politik dan pemerintahan baru. Pada masa Orde Baru (1966) situasi sosial politik semakin panas dan banyak organisasi-organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan kekuatan politik untuk sepenuhnya mendukung dan menyokong kemenangan partai. Akhirnya, PMII yang sejak kelahirannya sedikit banyak terpengaruhi oleh kondisi politik, gerakan PMII juga cenderung bersifat politik praktis dengan menjadi Under-bow partai NU.

Keterlibatan PMII dalam dunia politik praktis semakin jauh pada pemilu pertama, tahun 1971. Keterlibatan tersebut disinyalir sangat merugikan gerakan PMII sebagai organisasi mahasiswa, yang menyebabkan PMII mengalami kemunduran? dalam banyak hal. Hal ini juga berakibat buruk pada beberapa Cabang PMII di daerah-daerah.

Kondisi ini menuntut PMII untuk mengkaji ulang gerakan yang telah dilakukannya, khususnya dalam dunia politik praktis. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka pada Musyawarah Besar tanggal 14-16 Juli 1972 PMII mencetuskan deklarasi Independen di Murnajati, Lawang, Jawa Timur, kemudian dikenal dengan “Deklarasi Murnajati.

SMA Negeri 1 Slawi

Sejak itulah PMII secara formal-struktural lepas dari naungan partai NU. PMII membuka ruang sebesar-besarnya tanpa berpihak kepada salah satu partai politik. Pada saat itu PMII Cabang Yogyakarta mendorong secara total di canangkannya independensi PMII. Dengan alasan bahwa PMII sebagai organisasi kemahasiswaan dan kelompok insan akademis yang harus bebas menentukan sikap.

?

Menakar Kembalinya PMII Pada Rahim NU

Melihat fakta sejarah, keluarnya PMII dari naungan NU lantaran NU menjadi Partai Politik. PMII sebagai gerakan mahasiswa terpasung dalam bergerak. PMII lebih menjadi under-bow NU di level mahasiswa. Sikap kritis dan kepekaan sebagai organisasi kemahasiswaan tumpul dengan sendirinya. Namun, ada beberapa hal kenapa hari ini PMII dirasa penting kembali ke pangkuan NU.

Pertama, muktamar ke-27 di Situbondo pada tahun 1984, di bawah kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) NU menyatakan sikap “kembali ke khittah 1926”. NU melepaskan diri sebagai partai politik dan kembali menjadi organisasi sosial keagamaan.

Dengan demikian, alasan keluarnya PMII karena NU menjadi partai politik hari ini sudah tidak dibenarkan lagi. Kembalinya NU ke khittah 1926 membenarkan kembalinya PMII menjadi badan otonom NU. Karena cita-cita yang diusung keduannya sama.

Kedua, berakhirnya otoritarianisme Orde Baru dan munculnya era reformasi. Dimana, PMII pada masa Orde Baru memakai logika vis a vis terhadap Negara dengan selalu melakukan kritik. Sikap ini dibenarkan karena Soeharto pada saat itu memimpin dengan cara militeristik, memasung dan menindas hak kebebasan semua warga serta memihak pada golongan tertentu. Hadirnya Negara pada masa Orde Baru sangat represif, PMII menyadari itu.

Akan tetapi, kehadiran Negara pasca reformasi berbeda jauh dengan Orde Baru. Kebebesan sudah bisa dirasakan oleh semua elemen masyarakat Indonesia. Saat ini mesin kekuasaan sudah bergerak cepat dan terbuka lebar, bersikap demokratis transformatif adalah pilihan yang harus diambil. Memperbaiki dari dalam mendorong agenda kesejahteraan? merupakan agenda besar yang harus terpatri secara terus menerus dalam tubuh PMII. Bagaimanapun juga PMII dan NU sama-sama mempunyai komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketiga, munculnya kelompok-kelompok makar dengan nama agama dan spirit Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang diusung PMII dan NU. Banyaknya kelompok makar yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam merupakan masalah serius. Jika hal ini dibiarkan maka cita-cita NU dan PMII tinggal slogan saja.

NU maupun PMII sudah final dengan Pancasila dan NKRI merupakan harga mati. Dengan berlandaskan Aswaja, selama ini NU dan PMII merupakan kelompok Islam Indonesia yang sangat toleran dengan kelompok lain. Nah, kalau NU dan PMII berjalan dengan sendiri-sendiri kekuatan besar itu akan terbelah menjadi dua.

Berangkat dari kultur dan tradisi yang sama, bagaimanapun juga PMII adalah tameng terakhir yang bergerak di level mahasiswa (pemuda) dalam mempertahankan paham Aswaja. Untuk menjadi jamaah yang besar dalam merealisasikan cita-cita bangsa PMII harus menjadi bagian dari NU. Dengan demikian, jika PMII kembali ke pangkuan NU, eksistensi Pancasila dan Keutuhan NKRI akan semakin terjaga pula. Agar Islam yang menghargai sesama, menghargai tradisi, dan Islam yang rahmatal lil ‘alamin ini tetap menjadi ciri khas Islam Indonesia.

Menurut penulis sendiri, wacana kembalinya PMII menjadi Badan Otonom NU bisa dibenarkan untuk saat ini. Seperti yang telah disampaikan oleh PBNU dan juga para sesepuh PMII. Dimana, selama ini ada keterputusan jenjang kaderisasi. IPNU sebagai organisasi pelajar juga bergerak di Perguruan Tinggi. Agar kaderisasi IPNU fokus di pelajar, NU butuh wadah yang jelas di level mahasiswa. PMII merupakan oraganisasi yang tepat, karena PMII lahir dari rahim NU.

Namun penulis di sini melihat ada dua hal urgen yang harus dilakukan PMII ketika sudah kembali ke naungan NU. Pertama, PMII mampu menginternalisasi pemahaman Aswaja. Karena sejauh ini saya melihat pemahaman Aswaja bukan menjadi hal utama dalam kaderisasi PMII. Seakan-akan pemahaman Aswaja dianggap cukup karena kader PMII mayoritas dari pesantren yang kulturnya NU. Generalisasi semacam ini tidak bisa dibenarkan.

Kedua, tidak ada patronase pada partai politik. Jika PMII berpatron pada partai politik dan cenderung menjadi tujuan utama untuk meniti karir ini akan berakibat fatal. Spirit kembalinya PMII ke pangkuan NU tak akan membuahkan hasil apa-apa. Namun bukan berarti PMII tidak boleh berpolitik. Yang dimaksud di sini adalah, tradisi transaksional yang mengatasnamakan organisasi harus dihilangkan. Bagaimanapun juga NU dan PMII mempunyai dua identitas, NU dan PMII sebagai organisasi serta NU dan PMII sebagai Jamaah.

Saya rasa, jika dua hal di atas di penuhi maka kembalinya PMII menjadi badan otonom NU akan menjadi kekuatan besar di Republik ini. Keberadaan PMII dan NU akan menjadi tameng pertahanan NKRI. Sejarah pun akan mencatat momen penyatuan kembali NU dan PMII. Sehingga membicarakan Indonesia tidak lengkap tanpa membicarakan NU dan PMII juga. Karena Indonesia, NU dan PMII tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Jika ingin berbicara pada sejarah, inilah saat yang tepat PMII kembali kepangkuan NU.

?

Abdul Rahman Wahid, pengurus Rayon PMII Ashram Bangsa, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Masa Khidmat 2014-2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Nasional, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 15 Desember 2017

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk?

Sarana untuk mendapatkan pahala di dalam Islam sangatlah banyak. Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah wajib, tetapi juga menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah. Hampir setiap ibadah terdapat kewajiban dan kesunnahan. Dalam shalat misalnya, ada shalat wajib dan ada pula shalat sunnah. Demikian pula puasa, ada yang wajib dan ada yang sunnah. Bahkan, pada shalat dan puasa wajib pun nanti juga ada kesunnahan di dalamnya.

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk?

Aturan pelaksanaan ibadah sunnah biasanya tidak seberat ibadah wajib. Dalam kaidah fikih disebutkan, al-nafl awsa’ min al-fardh (sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan fardhu). Maksudnya, ibadah sunnah lebih fleksibel dibanding ibadah wajib. Terdapat beberapa hal yang mesti ada dan tidak boleh tinggalkan saat ibadah wajib, namun boleh diabaikan ketika mengerjakan ibadah sunnah.

Misalnya, keharusan berdiri saat shalat. Berdiri bagi orang mampu termasuk bagian dari rukun shalat dan tidak sah shalat bila tidak berdiri bagi yang mampu. Akan tetapi, dalam shalat sunnah tidak diharuskan berdiri. Meskipun mampu berdiri, mengerjakannya sambil duduk tetap diperbolehkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Zaynuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan:

SMA Negeri 1 Slawi



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Shalat sunnah sambil duduk dan berbaring dibolehkan walaupun mampu berdiri dan duduk. Akan tetapi, bagi orang yang berbaring diharuskan duduk ketika ruku’ dan sujud. Adapun shalat sunnah dalam kondisi tidur terlentang dihukumi tidak sah bila masih sanggup berbaring”

Berdasarkan penjelasan penulis Fathul Mu’in di atas, shalat sunnah dibolehkan sambil duduk dan berbaring, meskipun mampu berdiri dan duduk. Dengan demikian, kewajiban berdiri tidak berlaku pada shalat sunnah dan hanya berlaku untuk shalat wajib. Akan tetapi, shalat sunnah tidak boleh dilakukan sambil tidur telentang bila masih sanggup berdiri dan duduk.

Namun perlu diingat, terkadang nilai dari sebuah amalan diukur berdasarkan tingkat kesulitan yang dihadapi saat mengerjakan amalan tersebut. Semakin sulit dan susah, semakin besar ganjaran yang diperoleh. Shalat dalam keadaan berdiri tentu lebih berat dan sulit dibanding shalat sambil duduk. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Jadwal Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Peserta Kongres Diundang Bupati Boyolali di Pendhapa Alit Boyolali

Boyolali, NU Online. Para peserta Kongres ke-XVIII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di Boyolali Jawa Tengah diminta hadir di Pendhapa Alit Kabupaten Boyolali.

“Malam ini, akan diadakan acara welcome party bersama Bupati Boyolali. Juga pertemuan perwakilan Pengurus Wilayah se-Indonesia,” terang Ketua Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Tengah, Amir Mustofa Zuhdi, saat dihubungi SMA Negeri 1 Slawi Jumat (4/12).

Peserta Kongres Diundang Bupati Boyolali di Pendhapa Alit Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Kongres Diundang Bupati Boyolali di Pendhapa Alit Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Kongres Diundang Bupati Boyolali di Pendhapa Alit Boyolali

Ditambahkan Amir, selain acara penyambutan tersebut, sebagai rangkaian dari kegiatan untuk memeriahkan kongres juga akan diadakan kegiatan apresiasi seni. “Kegiatan tersebut, akan menampilkan berbagai kesenian seperti tari dan sebagainya dari perwakilan cabang Jawa Tengah,” kata dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan Kongres IPNU-IPPNU yang rencananya selama lima hari (4-8/12) ini, Amir berharap menjadi momentum untuk kembali mempertegas dan memperjelas fungsi serta peran IPNU.

SMA Negeri 1 Slawi

“Khittah IPNU sebetulnya ranah pelajar. Nah, pada kongres nanti semoga ada pembahasan dan penataan ulang khususnya terkait pola kaderisasi di IPNU,” papar Amir.

Dalam kegiatan kongres ini, secara resmi masing-masing cabang berhak untuk mengirimkan masing-masing perwakilan 4 orang anggota IPNU dan 4 orang anggota IPPNU. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Humor Islam, Kajian Islam SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pertentangan terkait apakah pelajaran pendidikan agama itu perlu atau tidak diajarkan di sekolah atau kampus terus muncul. Masing-masing memiliki argumentasinya masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, sampai saat ini pelajaran agama masih terus diajarkan di sekolah-sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin mengatakan, tujuan diajarkannya pelajaran pendidikan agama di sekolah ada dua. Pertama, membentuk pribadi yang saleh dan bertakwa kepada Tuhan. 

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah

“Kedua bagaimana (pendidikan agama) bisa menjadi instrumen perekat sosial, memperkuat nasionalisme,” kata Kamaruddin di Hotel Le Meridien Jakarta, Rabu (8/11).

Ia berpendapat bahwa tujuan-tujuan tersebut sudah terakomodasi dan terfleksikan di dalam konsep kurikulum 2013.   

Meski demikian, dia mengakui untuk mencapai dua tujuan utama diadakannya pelajaran agama di sekolah atau kampus tersebut ada hambatan dan tantangannya. Pertama, kekurangan guru yang profesional dan berkualitas. Untuk menerjemahkan visi pendidikan agama di sekolah diperlukan, maka diperlukan guru atau dosen yang benar-benar berkualitas dan kompeten. Bagaimana agama diajarkan sebagai sebagai pembentuk pribadi yang saleh dan menciptakan kesalehan sosial.

“Ini benar-benar menjadi tantangan kita. Kita kekurangan guru agama profesional untuk pendidikan agama itu sekitar dua puluh satu ribu,” tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia menerangkan, saat ini tidak sedikit guru yang tidak berlatar belakang pendidikan agama menjadi guru agama di sekolah-sekolah.

“Seperti guru biologi mengajarkan agama dan seterusnya,” ucap lulusan Madrasah Aliyah Asadiyah Sengkang itu.

Kedua, waktu yang sedikit. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pelajaran agama di sekolah itu hanya dua hingga tiga jam seminggi di sekolah. Sedangkan, untuk mendalami pelajaran agama yang mendalam tentu waktu dua hingga tiga jam seminggu itu sangat lah tidak cukup.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan itu, saat ini Pendidikan Agama Islam Kemenag RI sedang melakukan pelatihan kepada sepuluh ribu guru agama. Mereka dipersiapkan sebagai upaya untuk mengarusutamakan pemahaman keagamaan yang moderat dan toleran. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Kita sudah melakukan upaya-upaya kreatif untuk bisa mengantisipasi potensi penetrasi radikalisme di lingkungan sekolah,” jelasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul, Bahtsul Masail, Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Kader IPPNU Ikuti Kompetisi Internasional tentang Pangan di Swiss

Malang, SMA Negeri 1 Slawi

Salah satu kader Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Brawijaya, Anik Haryanti, kini sedang berjuang dalam acara TFF (Thought For Food) Challenge 2016 yang berlangsung 1-2 April 2016 di Zurich, Swiss.

Kader IPPNU Ikuti Kompetisi Internasional tentang Pangan di Swiss (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPPNU Ikuti Kompetisi Internasional tentang Pangan di Swiss (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPPNU Ikuti Kompetisi Internasional tentang Pangan di Swiss

Anik yang merupakan mahasiswi Universitas Brawijaya sekaligus pengurus IPPNU Universitas Brawijaya beserta tim melakukan inovasi dan mengangkat produk lokal di ajang akademik dan teknologi pangan tersebut. Dengan mengusung produk Biteback, mereka berhasil membawa nama Indonesia di ajang internasional. Biteback merupakan produk yang meyakini serangga dapat menjadi solusi pangan alternatif di masa depan.

Setelah bersaing ketat dengan 416 tim dari 105 negara di seluruh penjuru dunia, Tim Biteback yang digawangi Anik Haryanti bersama tiga mahasiswa lainnya akhirnya mampu menuju babak final. Tim-tim yang dinyatakan lolos di antaranya berasal dari negara Amerika, Brazil, India, Uganda, Kenya, Britania Raya, dan Perancis.

SMA Negeri 1 Slawi

Tim Biteback mengusung inovasi dalam pengolahan makanan, dan menemukan minyak untuk memasak yang dibuat dari serangga meailworm atau larva kumbang. Inovasi minyak ini diyakini mengandung omega-3 yang tinggi dan zat besi yang mampu mengatasi anemia.

SMA Negeri 1 Slawi

Babak final kompetisi ini akan diselenggarakan di Zurich, Swiss, 1-2 April mendatang. Pemenang akan berkesempatan mendapatkan dana investasi dengan total 15.000 USD atau setara 208 juta rupiah untuk pengimplementasian program yang direncanakan. Selamat berjuang ya! (Ikbar Al Asyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Pertandingan, Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

GP Ansor Desak PWNU agar Netral pada Pilgub Jatim

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, meminta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) maupun seluruh badan otonom NU di Jawa Timur agar netral dalam menghadapi Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2013 mendatang.

GP Ansor Desak PWNU agar Netral pada Pilgub Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Desak PWNU agar Netral pada Pilgub Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Desak PWNU agar Netral pada Pilgub Jatim

“NU secara institusi harus netral, GP Ansor berharap NU dan seluruh banomnya juga harus netral,” kata Nusron, dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip GP-Ansor.org (4/12).

Dengan demikian, Nusron berharap pengurus NU bisa membebaskan seluruh warganya untuk memilih siapapun calon yang dikehendaki.

SMA Negeri 1 Slawi

Ansor berharap, NU secara kelembagaan juga fokus pada kegiatan untuk mengurus umat. Jangan sampai, harap dia, Pilgub nanti akan memecah belah umat.

Terkait munculnya dua nama dari internal NU yaitu Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Muslimat NU dan Saifullah Yusuf, Wakil Ketua Pengurus Besar NU dalam Pilgub mendatang, Nusron dengan tegas minta kedua calon tidak hanya pandai memanfaatkan nama besar NU, melainkan juga harus menunjukkan manfaatnya bagi NU.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada kesempatan berbeda, Miftachul Ahyar, Rais Syuriyah PWNU Jatim mengaku akan menggerakan kekuatan PWNU Jatim untuk menentukan dukungan bagi satu kandidat dari internal NU. Saat ini, kata Miftach, sudah ada dua kandidat di internal NU yang akan mereka dukung yaitu Khofifah Indar Parawansa serta Saifullah Yusuf.

“Kita secepatnya gelar pleno untuk menentukan dukungan,” kata Miftach. Pleno akan digelar dengan menghadirkan beberapa kiai berpengaruh serta seluruh Ketua Pengurus Cabang yang ada di Jatim.

Redaktur: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 18 November 2017

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Pati, SMA Negeri 1 Slawi

Suara hentakan kaki puluhan pemuda ramai pada Jumat (25/3) sekitar pukul lima pagi selepas sembahyang subuh berjamaah. Dengan penuh semangat mereka melakukan senam pinguin sebelum mengawali aktivitas mereka hari itu.

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Begitulah cara Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyegarkan para peserta pendidikan dan latihan (diklat) atau kaderisasi di kecamatan setempat. Puluhan pemuda tersebut adalah calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) X-7 Pati

Menurut Ketua PAC GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi, olahraga ini cocok untuk menjaga kesehatan tubuh dan jiwa peserta diklat agar selalu fit dalam setiap kegiatan. “Badan akan terasa enteng setelah melakukan senam pagi,” tuturnya. Dia juga menambahkan kalau peserta diklat akan menjadi fokus disetiap kegiatan setelah melakukan beberapa gerakan-gerakan senam.

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah senam peserta lantas berjalan kaki memutari keindahan alam Desa Tluwuk, Wedarijaksa, Pati. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta diklat dan juga warga sekitar. Di sela perjalanan peserta diklat diwajibkan membawa kantong plastik yang digunakan untuk menyisir sampah di jalan yang mereka lalui.

SMA Negeri 1 Slawi

“Peserta memang harus mempunyai tubuh yang fit karena banyaknya kegiatan yang nanti dilakukan” ungkap Instruktur diklat Ahmad Thohir. Tubuh yang sehat akan menumbuhkan jiwa yang kuat, jiwa yang kuat akan membuat otak bekerja dengan maksimal. Dengan siklus yang seperti itu, peserta harus menjaga tubuh dan pikiran sebaik mungkin.

Peserta diklat mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. “Kebanyakan memang berasal dari kecamatan Wedarijaksa, tapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa,” ucap ketua panitia, Ahmad Halimi.? “Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat” imbuhnya.

PAC GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari PC GP Ansor Kabupaten tetapi dari ranting yang memang mengusulkan untuk segera mengadakan pengaderan Banser. (Hasannudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Bahtsul Masail, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 06 November 2017

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial

Jepara, SMA Negeri 1 Slawi. Hingga kini alumni ISIS yang sudah berada di Indonesia berjumlah 124 orang. Sisanya 800-an orang masih di luar negeri. Dengan kondisi yang memprihatinkan itu Ketua PBNU H Marsyudi Syuhud mengharapkan kaderisasi di ranah NU harus terus digalakkan.

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial

“Alumni ISIS yang sekarang di Indonesia harus dideteksi keberadaannya. Jangan sampai merekrut kader-kader kita,” kata Marsudi saat memberikan sambutan Pelantikan PCNU Jepara di Gedung NU Jepara, Selasa (22/12) siang.

Jika kader NU di pesantren dan di madrasah diajar pelajaran sharaf “Dharaba yadhribu dharban,” tetapi dengan mengikuti ISIS peserta dilatih bagaimana cara membom. Untuk itu kepada ratusan nahdliyyin dan tamu undangan ia mengingatkan harus terus waspada.

SMA Negeri 1 Slawi

“IPNU-IPPNU harus terus bergerak. Jangan sampai lengah,” lanjutnya.

Mantan Sekjen PBNU 2010-2015 itu membeberkan perekrutan ISIS tidak lain ialah remaja berusia sekitar 12 tahun. Mereka merekrut via fesbuk, twiter serta media massa.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain keliling Indonesia lulusan pesantren Ash-Shiddiqiyyah Jakarta itu juga menyebarkan Islam ramah ke Amerika, Uni Eropa, Roma, Australia, dan negara-negara yang lain.

Uni Eropa juga secara resmi mengirimkan surat ke PBNU dan meminta PBNU untuk mengirim kiai ke Eropa dan Australia. “Intinya mereka ketakutan dengan Islam radikal, dan ingin mendalami Islam ala Indonesia,” tegas putra H Suhadi dan Hj Sairah ini.

Tidak hanya itu, negara-negara di belahan Timur Tengah misalnya juga meminta hal yang sama. “NU hari ini sedang diperhitungkan dunia. Dunia Timur Tengah dan Barat sedang rindu belajar dengan kaum sarungan,” pujinya.

Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair membenarkan Islam Indonesia sangat dikagumi Timur Tengah dan Barat sehingga Australia, Selandia Baru, dan negara yang lain ingin terus belajar Islam kepada NU. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

NU dan FPI dalam Tiga Matra

Oleh M. Kholid Syeirazi



Banyak orang bertanya, apa beda Nahdlatul Ulama (NU) dan Front Pembela Islam (FPI)? Apa pula persamaannya? FPI ditulangpunggungi para habaib. Untuk urusan ta’dzim kepada habaib, orang NU tidak ada duanya. Sejak kecil, para santri dididik menghormati keturunan Rasululllah. Di Pekalongan, kota kelahiran saya, ‘salim’ dengan habib merupakan berkah luar biasa. Karena itu, jika sowan atau bertemu habib, salamannya tidak cukup cium tangan sekali, tetapi berkali-kali, dibolak-balik. Kalau tidak percaya, datang ke Pekalongan, sowan ke Habib Luthfi atau Habib Baqir. InsyaAllah akan jumpa bahwa yang salaman ke habib dengan cara tangan dibolak-balik itu bukan hanya santrinya, tetapi juga kiainya. Para kiai NU sangat menghormati habib, termasuk Gus Dur. Dulu, ketika Ketua MUI KH Hasan Bisri meragukan eksistensi keturunan Rasulullah di Indonesia, Gus Dur membela para habaib.

NU dan FPI dalam Tiga Matra (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan FPI dalam Tiga Matra (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan FPI dalam Tiga Matra

Salah seorang yang diyakini sebagai keturunan Rasululullah itu bernama Habib Rizieq Syihab (HRS), pendiri Front Pembela Islam (FPI). Apa semua habib sama? Pasti tidak! Ada yang mendukung pola dakwah HRS, ada juga yang tidak. Belakangan, NU dan FPI sering bersitegang di lapangan. Kenapa ini terjadi? Titik temu dan titik beda NU dan FPI bisa dilihat dari tiga matra, yaitu âmaliyyah, fikrah, dan harakah.

Pertama, secara ‘amaliyyah ubûdiyyah, tradisi NU dan FPI sama: sama-sama pelaku tradisi, sama-sama ‘pengamal bid’ah’. NU qunut, FPI qunut. Tarawih–nya sama-sama 20 rakaat.? Sama-sama gemar shalawatan, tahlilan, dan ziarah kubur. Shalawatannya sama-sama pakai kata ‘sayydina’. Jelas kedua-duanya bukan penganut Islam puritan. Karena itu, FPI pasti tidak cocok dengan aliran Islam yang mengusung agenda purifikasi. Dalam soal ini, FPI akur dengan NU dan ‘bentrok’ dengan Wahabi, HTI, Islam modernis, dan aliran lain yang agendanya adalah memberantas TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat).

SMA Negeri 1 Slawi

Kedua, secara fikrah, FPI akur dengan NU dalam fikrah dîniyyah (pemikiran keagamaan), tetapi ‘bentrok’ dengan NU dalam fikrah siyâsiyyah (pemikiran politik). Dalam fikrah dîniyyah, NU dan FPI sama-sama pengikut ajaran Abu Hasan al-Asy’ari dalam tawhid, pengikut Imam Syafi’i dalam fikih, dan al-Ghazali dalam tasawuf. HRS, dalam berbagai kesempatan, menegaskan dirinya sebagai penganut Asy’ari dan menyerang i’tiqad Salafi-Wahabi. Oleh para pengikut Wahabi, HRS juga kerap dituduh Syi’ah, sama seperti KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. Dalam fikrah siyâsiyyah, FPI berseberangan dengan NU. NU menyatakan NKRI final, dalam bentuk sekarang. HRS menginginkan NKRI Bersyariah. Agendanya seperti Piagam Jakarta. Dalam isu ini, FPI ‘bentrok’ dengan NU dan punya titik temu dengan sejumlah ormas Islam yang mendukung agenda formalisasi syariat Islam, entah itu HTI, Wahabi, atau sebagian partai eks-Masyumi yang mengusung isu formalisasi syariat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketiga, dalam harakah (gerakan), NU dan FPI cenderung ‘bentrok.’ Dakwah NU mengusung prinsip tawassuth (moderasi), tasâmuh (toleransi), tawâzun (proporsional), dan i’tidâl (tidak berat sebelah). NU juga meyakini prinsip ?? ? ? yaitu alon-alon, bertahap dalam dakwah dan mengamalkan syariat Islam. NU mengayomi budaya dan meyakini syariat Islam bisa diterapkan secara swadaya oleh masyarakat, tanpa legislasi dan campur tangan negara. Pemberlakukan syariat Islam yang perlu campur tangan negara, seperti hudud, bisa diganti dengan hukuman lain yang bisa diterima semua pihak. Dalam harakah, FPI punya titik temu dengan gerakan Islam transnasionalyang mengusung agenda formalisasi syariat Islam. FPI juga resisten dengan adopsi budaya lokal sebagai medium dakwah. Karena itu, HRS dengan keras menolak diskursus Islam Nusantara dan memelesetkannya dengan istilah yang kurang sedap. ?

Ala kulli hâl, dari tiga matra, satu setengah FPI cocok dengan NU, satu setengah yang lain FPI berbeda dengan NU. Namun, dibanding kepada ormas Islam puritan, FPI lebih dekat secara ‘amaliyyah dengan NU dan karena itu punya potensi untuk beraliansi strategis. Di sebuah tayangan youtube, yang direkam dari ceramah beliau, HRS bilang FPI bukan orang lain. FPI adalah anak NU yang bandel. Jika HRS sekarang cenderung ‘bersahabat’ dengan Islam puritan, saya merasa itu bentuk dari aliansi taktis untuk tujuan politis. Namanya aliansi taktis, suatu saat akan bubar,? jika tujuan politisnya hilang atau bertolak belakang.

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Olahraga, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 01 November 2017

Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi. Tiga grup Qosidah dari Kecamatan Tonjong, Brebes berhasil mendominasi kejuaraan lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup Competition 2015 di Pondok Pesanteren Jamsu Izzul Islam Bumiayu Kabupaten Brebes, Sabtu (28/11) lalu.

Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya (Sumber Gambar : Nu Online)
Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya (Sumber Gambar : Nu Online)

Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya

Untuk Kategori Qosidah, juara 1 grup Al-Hidayah dari Kalijurang Tonjong dengan nilai (266). Juara 2 grup Al-Barokah Munawaroh dari Kalijurang Tonjong (264), juara 3 grup Lasqi Jaya dari Watujaya Tonjong (263).

Untuk kategori Hadrah, juara 1 grup Al-Ikhlas dari Winduaji Paguyangan (274), juara 2 grup Darunnajat Pruwatan Bumiayu (268), dan juara 3 grup As-Salwa Manggis Sirampog (265). Juara 1 mendapatkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp. 1,5 juta, juara 2 Rp 1 juta dan juara 3 Rp 750 ribu, juga mendapatkan piala dan piagam penghargaan.

SMA Negeri 1 Slawi

Lomba yang digelar sejak pukul 08.00 hingga pukul 20.00 WIB bagian Kesra Setda Brebes itu, diikuti 23 grup Qosidah dan 20 grup hadrah. Menurut Ketua panitia Harun SAg, lomba digelar untuk melestarikan kesenian tradisional islami. Selain itu juga untuk membangkitkan syiar Islam lewat kesenian Islami.?

SMA Negeri 1 Slawi

Hadiah diserahkan langsung Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE. Dalam sambutannya, Bupati mengajak para pecinta seni qosidah agar terus melestarikan keberadaan seni Islami tersebut. Pasalnya, kedua kesenian tersebut sangat ampuh sebagai obat hati dan syiar islam di segala usia. “Anak-anak, kaum muda bahkan lansia bisa menikmati Qosidah dan Hadrah dalam segala suasana,” kata Bupati.

Pesan-pesan yang ada di dalam Qosidah maupun Hadrah, kata Bupati, seyogyanya dipatuhi karena mengandung nilai-nilai akhlakul karimah. “Selain puji-pujian kepada Nabi, di dalam Qosidah dan Hadrah juga banyak tuntunan yang bisa kita ambil hikmahnya,” ajaknya.

Bupati juga memuji kegigihan santri dalam menuntut ilmu di pondok pesantren. Karena mondok menjadikan generasi kita makin berkualitas. “Dengan mondok, santri mendapatkan ilmu jasmani maupun rohani, ilmu dunia dan akhirat,” pujinya.?

Dalam kesempatan tesebut juga diisi dengan pengajian umum yang disampaikan pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah 2 Benda KH Labib Sodiq Suhaemi. Dalam ceramahnya, dia menekankan pentingnya kepatuhan seorang santri kepada kiainya. Sehebat dan sepandai apapun seorang santri, bila tidak patuh pada kiainya, ilmunya tidak akan manfaat. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 20 Oktober 2017

Aplikasi Android Stasiun Televisi Aswaja Diluncurkan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Sejumlah anak muda NU yang fokus di bidang informasi teknologi, meluncurkan sebuah aplikasi yang memuat beberapa stasiun televisi bermuatan paham aswaja di seluruh Indonesia. Aplikasi android ini dapat dengan mudah diakses lewat telepon genggam smartphone.

Aplikasi Android Stasiun Televisi Aswaja Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Aplikasi Android Stasiun Televisi Aswaja Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Aplikasi Android Stasiun Televisi Aswaja Diluncurkan

“Kini siaran televisi Islam Aswaja dapat dinikmati melalui internet. Televisi streaming ini sangat mudah diakses,” kata salah satu aktivis PPM Aswaja Ozzy El-Huda kepada SMA Negeri 1 Slawi, Kamis (22/5).

Pengguna smartphone android dapat mengunduh aplikasi ini di Google Play dengan memasukkan keyword ‘Islam Nusantara’. Sebagai pilihannya, mereka juga bisa menggunakan link https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aswajacenter.tvislam dan melakukan instalasi aplikasi itu.

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah aplikasi terinstall di smartphone, maka dengan mudah kita bisa memilih beberapa channel tv Islam Nusantara yang siarannya berisi dakwah Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Ozzy berharap, aplikasi yang dikembangkan komunitas PPM Aswaja ini dapat berguna bagi kita untuk memperoleh tontonan bermanfaat, tontonan TV Islam Nusantara. (Mukhlisin Akhlis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Nahdlatul Ulama, AlaNu SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock