Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Mantan wakil presiden RI Try Sutrisno mengingatkan para pelaku politik negeri ini untuk kembali kepada sistem yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Keberhasilan dalam menata sistem politik tidak bisa diukur dengan standar sistem yang ada di negara lain.

“Kita harus punya sistem sendiri, baik fisik maupun non fisik; bahkan tidak perlu mencontoh karena kita punya Pancasila,” katanya dalam diskusi bertajuk “Amandemen UUD 45 dalam Dimensi Sosial, Ekonomi Politik” di kantor PBNU, Kamis (19/7).</p> Dikatakannya, praktek komunisme di Indonesia terbukti tidak bisa bertahan dalam suasana kebatinan banga Indonesia. Alih-alih memperbaiki tata kenegaraan Indonesia, faham asing itu justru mengganggu stabilitas negara.

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

”Kita tidak belajar dari masa lalu. Sistem liberal pun pada akhirnya bertemu dengan komunis, sama-sama mempertanyakan keberadaan Tuhan,” katanya.

Sejak berakhirnya Orde Baru dan dimulainya era reformasi, tatanan politik Indonesia cenderung mengarah kepada sistem politik yang liberal. Itu pun dengan model yang sangat bebas dan terbuka dari intervensi asing.

”Pada umumnya negara-negara maju tidak sebebas di Indonesia. Di sini partai politik terlalu bebas. Pemerintahan menjadi tidak efektif,” katanya.

Sementara amandemen UUD 1945, kata Try, cenderung acuh terhadap aspek pertahanan dan keamanan. Padahal ancaman pertahanan dan keamanan datang dari berbagai lini kehidupan berbangsa, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri.

SMA Negeri 1 Slawi

”Sekarang aspek pertahanan dan keamanan tidak seperti yang dibanggakan dulu. Narkotika bisa bebas beredar. Ada terorisme, gerakan sparatis dan lain-lainnya yang mengancam NKRI dan UUD 45,” katanya.(nam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Nahdlatul Ulama, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) meraih juara kedua organisasi kepemudaan (OKP) terbaik tingkat nasional 2013. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memilihnya atas dasar kemandirian OKP.

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

“Ketika Kemenpora membuka pendaftaran lomba OKP, kita memasukkan segala berkas yang disyaratkan,” kata Sekretaris Umum PP IPPNU Wildatus Sururoh kepada SMA Negeri 1 Slawi di studio Radio NU, Gedung PBNU lantai tujuh, Jakarta Pusat, Kamis (24/10) petang.

Setelah persyaratan dinilai lolos, pihak Kemenpora kemudian mengadakan sidak langsung ke kantor Sekretariat PP IPPNU di Gedung PBNU lantai enam. Saat sidak di sekretariat, mereka mewawancarai kita, sambung Wilda.

SMA Negeri 1 Slawi

Beberapa waktu berselang, Kemenpora mengundang PP IPPNU untuk mempresentasikan program unggulannya, lanjut Wilda. Presentasi ini merupakan tahap terakhir. Untuk bisa juara, OKP harus melewati tiga tahapan.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau tidak lolos di satu tahap, peserta yang terdiri banyak OKP tidak bisa naik ke tahap berikutnya. Demikian seterusnya hingga tahap terakhir.

Dalam presentasi di kantor Kemenpora, IPPNU mengunggulkan program antiradikalisme, antikekerasan pelajar, dan antinarkoba. IPPNU mengikuti perlombaan OKP kelas pelajar. Selain kelas pelajar, Kemenpora juga membuka perlombaan OKP kelas mahasiswa dan pemuda.

Meskipun baru tahun ini mengikuti perlombaan itu, IPPNU sudah meraih juara kedua. Tetapi, kejuaraan ini menjadi pelajaran buat IPPNU agar terus membenahi diri, tegas Wilda. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, AlaSantri, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 14 Februari 2018

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kendal, SMA Negeri 1 Slawi

Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan workshop sistem manajemen pesantren (Simapes). Pelatihan Peningkatan mutu ini bertempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong. Hadir tim Simapes sebagai trainer pada acara ini.?

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholihin mengenang ketika masih di pesantren selalu ingat dengan 3 T+S+M yaitu tahu, tempe, terong ditambah sambel dan mendoan. Namun, substansi itu bukan yang ingin dijelaskan, tetapi pesantren menjadi lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh merawat tradisi dan budaya masyarakat.?

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

"Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Sholihin, Kamis (28/1/2016).?

Bisa dilihat, alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.?

Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. "Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat)," tambah Sholihin. Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.?

SMA Negeri 1 Slawi

Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren pelatihan ini menjadi penting. Simapes akan mempermudah untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren. Tim Simapes ini terbentuk dari unsur Kanwil Kemenag Jateng, RMINU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Quote, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Grup Qasidah “Band Kepret” dari Pesantren Al-Karimiyyah turut berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Pembukaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecatamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, di gedung Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Huda, Ahad (10/3) kemarin.

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Salah satu keunikan dari Grup Qasidah yang digawangi oleh Nashori, Cecep, Ino, Epul, Wisnu, Gofur, Irfan, Radi, Yadi dan Sopyan tersebut ketika tampil di hadapan sedikitnya 78 orang peserta dan 30 orang panitia adalah berhasil membawakan beberapa lagu shalawat dengan beberapa arransemen dan para penabuh yang mengiringinya pun dapat menyesuaikan dengan arransemen yang dibawakan oleh Nashori, sang vokalis.

Selain itu, keunikan lainnya adalah dalam Grup Qasidah ini pun terdapat beberapa alat musik yang tidak biasanya hadir dalam Grup Qasidah “Band Kepret”, karena selain alat musik konvensional dari “band kepret”, juga dilengkapi dengan tam-tam, kotek, symbal dan drum tenor.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Nashori, kolaborasi alat musik tersebut merupakan hasil karyanya sendiri, naluri dan imajinasi musiknya berhasil membuat inovasi suara dalam “band kepret” apalagi kemampuan musiknya selalu dilatih dalam seminggu paling tidak 2 kali.

“Jadwal latihan kita seminggu dua kali, hari jum`at sore dan minggu sore,” ujarnya

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut mahasiswa STAI Riyadlul Jannah ini, dibandingkan dengan marawis dan hadroh, qasidah dihitung lebih mudah dalam melakukan inovasi.

“Menurut saya, untuk membuat kreasi dan inovasi musik lebih gampang qasidah daripada marawis dan hadrah,” ungkapnya

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Pengurus MWCNU Patokbeusi, PC IPNU Subang, Sekretaris Kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat tersebut grup qasidah Al-karimiyyah cukup menghibur hadirin dan hadirin pun terlihat khusu dalam mendengarkan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan oleh mereka.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Warta, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung Gerakan Sertifikat Tanah Wakaf Sejuta Nahdliyin yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Dalam hal ini PWNU Jatim bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional RI dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Gubenur Jawa Timur Soekarwo menilai, sertifikat merupakan masalah yang serius karena terkait dengan kepastian hukum, baik tanah milik organisasi maupun yayaan. Langkah PWNU Jatim dinilai sangat bagus. ?

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU

"Program ini merupakan langkah awal dan baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Kalau di Jatim ini berhasil, otomatis langkah ini akan dijadikan contoh untuk program sertifikat tanah wakaf milik NU yang ada di provinsi lain," tegas Gubenur yang disapa Pakde Karwo ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, program ini juga akan memberikan nilai tambah bagi pemilik tanah karena member kepastian hukum bagi tanah yang mereka miliki.

Selanjutnya pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu menambahkan, peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang Sejuta Nahdliyin juga sangat bagus. Ia bangga Jatim menjadi proyek percontohan pengembangan ekonomi syariah.

SMA Negeri 1 Slawi

“Salah satunya adalah sekarang ini, yaitu wakaf uang sejuta Nahdliyin, kemudian sertifikat untuk tanah wakaf. Terus yang terkahir adalah bagaimana kemudian uang itu harus diputar untuk dikembangkan secara sariat Islam,” ujarnya. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Internasional, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang menegaskan jika Nahdlatul Ulama (NU), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Serbaguna (Banser) NU adalah sebagai ujung tombak 4 Pilar (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Bahkan NU sudah mempeloporinya sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agutus 1945.

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar

"Jadi, saya sebagai pimpinan MPR RI tidak ragu lagi dengan sepak terjang dan perjuangan NU dan organisasinya dalam memperjuangkan 4 Pilar. Apalagi NU sebagai organisasi Islam terbesar, maka sangat efektif jika perjuangan 4 Pilar MPR RI itu bergandengan dengan NU, GP Ansor dan Banser di seluruh Indonesia," tegas Oesman Sapta dalam acara Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) Angkatan Ke-2 GP Ansor-Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mengabdi kepada Agama, Bangsa dan Negara di Ciracas, Jakarta Timur, pada Kamis (19/2).

Hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid, Sekjen M. Aqil Irham, Kabag Humas MPR RI Yana Indrawan dan lain-lain. Acara ini berlangsung sampai Senin (23/2). Sebagai pembicara antara lain Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Menhan RI Tedjo Edhy Purdijatno, dan lain-lain.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Oesman Sapta, dengan cara yang sederhana, tanpa kemewahan melainkan tradisional, justru sosialisasi 4 Pilar MPR RI tersebut jauh lebih efektif disbanding dengan gaya-gaya modern. "Jadi, ini gaya kampung, yang hadir di kota. Tanpa mewah-mewah di hotel dan sebagainya," ujarnya.

Justru, anggota DPD RI asal Kalimantan Barat itu merasa prihatin dengan perkembangan masyarakat saat ini akibat pengaruh budaya Barat, sehingga banyak melupakan 4 Pilar. "Kita boleh apa saja, tapi hatinya tetap nasionalisme Indonesia. Sebab, bagaimana bisa memabngun bangsa ini jika nasionalisme kita sudah runtuh?" tanya Oesman.

SMA Negeri 1 Slawi

Karena itu kata Oesman Sapta, sebagai keluarga besar NU dirinya merasa bertanggungjawab untuk terus menyosialisasikan 4 Pilar MPR RI itu. "Bayangkan saya hanya ditelepon oleh Nusron Wahid, tapi saya datang. Ini tidak lain karena saya merasa terpanggil untuk memperjuangkan 4 Pilar itu bersama keluarga besar NU ini," tambahnya.

Melalui sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini, Oesman Sapta bertekad membangkitkan rakyat Indonesia untuk kembali kepada jati diri bangsa yang kuta dengan kearifan lokal, gotong-royong, sederhana, menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan sebagainya.

"Jangan sampai pengaruh Barat dan liberalism itu menjadikan kita lupa sebagai bangsa. Apalagi diperparah dengan kepentingan asing dalam merumuskan kebijakan Negara. Lalu, mau menjadi apa bangsa ini? Maka ke depan sosialisasi ini harus disesuaikan dengan trend anak-anak zaman sekarang. Bukan lagi seperti era dulu yang penuh indoktrinasi. Misalnya melalui komik atau film kartun I love Indonesia dll," ungkapnya.

Selain itu, sosialisasi 4 Pilar itu dengan komitmen dan tekad untuk mengentaskan kebodohan, kemiskinan, menegakkan keadilan, mengurangi ketidakamanan dan ketidaknyamanan, dan ketertinggalan lainnya. ? ? ?

Dengan demikian dia berharap, NU, Ansor dan Banser menjadi agen perubahan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Di mana GP Ansor tidak pernah absen dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini. Bahkan Muktamar NU ke-27 di Situbdondo Jawa Timur pada tahun 1984 telah menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas berbangsa dan bernegara dan NKRI sebagai bentuk Negara sebagai harga mati dan final.

Mengapa? Karena PBNU itu sama dengan 4 Pilar, yaitu PBNU singkatan dari (Pancasila, Bhinneka Tunggal IKa, NKRI dan UUD NRI 1945). "Untuk itu NU dan kita semua dalam berbangsa dan bernegara itu harus memikirkan kepentingan bangsa dan negara serta kesehteraan rakyat," pungkasnya. (ahmad munif/mukaf niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) di Kota Solo mungkin tidak sebegitu populer dibandingkan dengan daerah yang menjadi basis pesantren. Di Kota Bengawan, usai menyelesaikan jenjang TPA/TPQ, anak pada umumnya kurang mendapat pendidikan Agama Islam secara intensif.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pendiri Madin Miftahul Ulum, untuk menyelenggarakan pendidikan Agama di daerah pinggiran Bengawan Solo. “Di sini anak dewasa cenderung gengsi untuk mengikuti pendidikan agama, maka dari itu nama TPA, yang identik dengan anak-anak, diubah menjadi madrasah diniyah,” terang Durrotun Nasihin, Kepala Madin Miftahul Ulum, Jumat (28/6) Siang.

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Pada tahun 2004, Nasihin bersama para temannya yang ditugaskan dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, membantu berdirinya Miftahul Ulum yang diasuh Ustaz Munaji Jazuli itu. “Sebelumnya sudah ada Masyitah dan TPA yang didirikan NU tahun sekitar 1994, namun belum ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari awal mula dua kelas, madrasah ini terus berkembang. Sampai saat ini siswa Madin yang terletak di Semanggi Pasar Kliwon Solo ini jumlah santrinya mencapai 140-an, dengan jenjang 8 kelas mulai dari tingkat TPA (2 tahun) kemudian Madin (6 tahun). “Kita sudah meluluskan dua kali angkatan,” Kata pemuda asal Madura tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi dan prestasi juga telah dihasilkan. Tambahan pelajaran seperti les Bahasa Inggris dan komputer diadakan. Bahkan, program tersebut pernah menarik minat siswa SMA MTA Solo, yang letaknya memang sangat berdekatan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Siswa mereka banyak yang ikut program kami, sekitar 50 peserta. Namun ketika didengar, kami menanamkan ideologi Ahlussunah, pimpinan MTA terus melarang,” ungkap Nasihin.

Sedangkan prestasi yang pernah diraih diantaranya lomba tingkat kota seperti kaligrafi, pidato, Al-Quran, dan baca kitab.

Kini, pada momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, Madin Miftahul Ulum semakin mantap untuk menatap masa depan. Cita-cita luhur para pendirinya untuk memperjuangkan Islam semakin kuat. Dari awalnya hanya dua kelas, Miftahul Ulum sekarang telah membuka dua cabang yakni di Mojosongo (Solo) dan Sukoharjo.

“Para alumninya juga bersemangat untuk terus mencari ilmu agama. “Sudah banyak yang meneruskan ke pesantren, itu aset (kaum Aswaja) ke depan,” pungkasnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Jakarta pada 28 Mei hingga 1 Juni 2014 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tema yang diangkat kali ini adalah “Khidmah Muslimat NU untuk Indonesia Bermartabat”.

“Rakernas dilaksanakan oleh jajaran pengurus, sedangkan Mukernas akan dilakukan oleh perangkat Muslimat NU dari anak cabang hingga pusat,” terang Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dalam Jumpa Pers, Senin (26/5) di Gedung Serba Guna Utama Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta

Khofifah juga menjelaskan bahwa Muslimat NU yang telah berkembang di 33 Provinsi, mempunyai 554 Cabang di tingkat Kabupten/Kota, 5.222 Anak Cabang di tingkat Kecamatan, dan lebih dari 36 ribu Ranting di tingkat Desa atau Kelurahan, serta 22 Juta anggota sangat perlu menyelenggarakan kegiatan seperti ini dalam rangka membangun Muslimat NU ke depan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Dengan berbagai macam materi dan permasalahan yang akan dibahas dalam kegiatan ini, diharapkan seluruh potensi Muslimat tumbuh berkembang untuk Indonesia bermartabat,” kata Khofifah, pusuk pimpinan badan otonom NU yang digawangi oleh kaum ibu ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia juga menuturkan bahwa sudah lazim kegiatan Muslimat NU berjalan antara 5 hingga 6 hari, karena, tambah Khofifah, kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen Muslimat NU di Indonesia agar terjalin komunikasi dan saling berbagi.

Acara ini akan dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI Boediono Rabu, 28 Mei 2014. Sebelum resmi dibuka, sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Gubernur DKI H Joko Widodo akan mengiringi kegiatan ini. Selain itu, acara ini juga akan dihadiri oleh para menteri, ulama, dan jajaran tokoh nasional lainnya. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sejarah, Fragmen, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi



Sekolah berbasis pesantren di Jombang Jawa Timur kesulitan menerapkan program Full Day School dengan lima hari sekolah. Pasalnya, model pendidikan lembaga pesantren memiliki durasi pertemuan lebih padat daripada sekolah umum lainnya. Sehingga akan kedodoran jika akan diringkas dalam lima hari pertemuan saja.

"Tentu banyak yang harus dipertimbangkan. Di sekolah kami, baik jam pelajaran maupun jumlah mata pelajaran sangat jauh berbeda dengan sekolah umum lain. Kalau dipaksakan sistem lima hari sekolah, bisa-bisa anak-anak Maghrib baru bisa pulang," ungkap Sutrisno, Kepala Sekolah MAN Tambakberas, Jombang,?

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

Di sekolah yang emmiliki ribuan siswa putra dan putrid ini, dikatakannya ada 24 mata pelajaran dengan durasi pertemuan hingga 52 jam dalam seminggu. Hal ini berbeda dengan sekolah lainnya yang umumnya memiliki rata - rata 18 mata pelajaran dengan durasi pertemuan 48 jam.

"Sebab di sekolah berbasis pesantren, semua Mapel sekolah umum ada dan ditambah pelajaran keagamaan. Tentu siswa akan sangat kelelahan jika diringkas menjadi lima hari masuk sekolah," beber Sutrisno.

SMA Negeri 1 Slawi

Masih menurut Kasek Sutrikno, kondisi anak didiknya juga berbeda-beda. Di antaranya ada yang setelah pulang sekolah, mereka harus membantu orang tuanya beraktifitas. Demikian juga dari sisi pengawasan anak, jika benar-benar di berlakukan, dua hari masa libur yakni, ? Sabtu dan Ahad menjadi masalah tersendiri bagi orang tua, utamanya bagi orang tua yang bekerja hingga akhir pekan.

"Banyak juga wali murid yang bekerja. Tentu akan menjadi masalah pada sisi pengawasan anak jika libur. Dari sisi guru pun begitu, semakin panjang durasi mengajar, juga akan menimbulkan masalah, karena sebagian guru juga mempunyai anak kecil," tandasnya.

Sutrisno berharap ada semacam tinjauan kembali terhadap program Full Day School dan berkeinginan agar program ini tidak dipaksakan, namun lebih baik jika bersifat opsional.

Senada dengan Sutrisno, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang, Ahmad Faqih menilai program Full Day School ini juga akan sulit dilakukan bagi daerah - daerah yang kurang sarana dan prasarana serta yang memiliki geografis sulit.

SMA Negeri 1 Slawi

"Bagi daerah yang secara geografis sulit dan infrastruktur seperti jalan dan penerangan minim akan menjadi masalah tersendiri bagi wali murid jika sekolah diberlakukan hingga malam," papar Ahmad Faqih.

Selain itu menurut Faqih, penerapan lima hari masuk sekolah juga terlebih dahulu perlu difikirkan pengalokasian anggaran bantuan operasional dalam jumlah yang memadai bagi lembaga pendidikan agama seperti Madrasah Diniyah atau Taman Pendidikan Al Qur an dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Hal ini sebagai wujud nyata dukungan terbentuknya kolaborasi dan kerjasama dalam perbaikan penguatan kualitas karakter peserta didik," pungkasnya.(Muslim Abdurahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan beberapa hari lalu dalam keterangan tertulis menyatakan kekecewaannya karena menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencabut status tiga makam tokoh di Kalimantan Selatan sebagai cagar budaya.

Ketiga makam tersebut adalah Datu Abulung di Martapura (Kabupaten Banjar), Datu Sanggul di Tapin, dan Datu Tumpang Talu di Kandangan. PWNU memandang, mereka yang di makam itu adalah tokoh-tokoh terhormat, penyebar Islam, bahkan pejuang republik.

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Kemendikbud melalui Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, Ari Santoso membantah kebenaran berita tersebut karena berdasarkan data dan ketentuan tentang penetapan dan penghapusan cagar budaya sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, ketiga makam tersebut, yakni Makam Datu Hamid Ambulung di Kabupaten Banjar; Makam Tumpang Talu, di Kandangan; dan Makam Datu Sanggul, di Kabupaten Tapin, tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam UU Nomor 11 Tahun 2010, tambahnya, proses penetapan dilakukan melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya pada masing-masing kabupaten/kota, dan apabila sesuai dengan kriteria cagar budaya maka akan direkomendasikan untuk ditetapkan oleh bupati/walikota setempat sebagai cagar budaya.

“Ketiga lokasi makam tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” kata Ari melalui surat hak jawab, Jumat (11/8) sore, mengklarifikasi pemberitaan SMA Negeri 1 Slawi yang tayang 6 Agustus lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mengatakan, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur telah mengeluarkan surat nomor 0207/E24/CB/2017, tanggal 22 Februari 2017, ditujukan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

Surat tersebut berisi tentang pernyataan bahwa ketiga makam tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Oleh karena itu, ketiga makam Tokoh Penyebar Islam di Kalimantan Selatan tersebut tidak lagi diusulkan sebagai cagar budaya yang dipelihara oleh BPCB Kalimantan Timur per bulan April 2017.

“Namun demikian Kemendikbud tetap memikirkan pemeliharaan ketiga makam tersebut dengan dikeluarkannya surat Kepala BPCB Kalimantan Selatan yang menyampaikan bahwa biaya pemeliharaan untuk juru pelihara makam diharapkan dapat dilaksanakan oleh dinas terkait,” tutup Ari. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Pesantren Tambakberas Siapkan Peringatan Seabad Madrasah

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi

Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) yang lebih dikenal dengan Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur, tahun ini akan memperingati usia satu abad madrasah. Berbagai acara disiapkan sebagai momentum hari bersejarah tersebut.

Pesantren Tambakberas Siapkan Peringatan Seabad Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Siapkan Peringatan Seabad Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Siapkan Peringatan Seabad Madrasah

"Kalau usia pesantren memasuki 191 tahun," kata KH M Fadlullah Malik kepada media ini, Rabu (23/3). Sedangkan satu abad adalah peringatan bagi dikenalkannya sistem klasikal atau madrasah di PPBU sebagai perpaduan antara model lama khas pesantren dengan sistem baru hasil pengembaraan pengetahuan ke sejumlah kawasan baik di dalam maupun luar negeri,? khususnya di Tanah Haram, lanjutnya.

"Perlu diketahui bahwa Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas didirikan tahun 1825 oleh salah satu pasukan Pangeran Diponegoro yang membentengi Jawa yakni Abdussalam yang lebih populer dengan nama Mbah Saichah," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dan dalam perjalanannya, pesantren yang terletak di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Jombang ini terus menjaga sistem weton, sorogan, dan bandongan. "Dan setelah sejumlah putra kiai dan santri menempuh pendidikan tinggi di dalam serta luar negeri, sistem tersebut mengalami adaptasi dengan dikenalkannya model klasikal madrasah," terangnya.

Peristiwa mulai dikenalkannya model madrasah secara klasikal ini adalah tahun 1915, yang akhirnya menjadi momentum diselenggarakan acara satu abad madrasah tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

"Kepanitiaan telah terbentuk dan melakukan sejumlah rapat untuk memastikan rangkaian yang akan digelar," kata Gus Fad, sapaan akrabnya. Ketua panitia kegiatan ini mengemukakan bahwa berbagai kegiatan telah melalui pertimbangan dan dipasrahkan kepada para koordinator bidang.

Secara lebih rinci, mantan anggota DPRD Jombang itu menjelaskan bahwa acara yang telah disiapkan adalah bedah buku, wayang wali, ushbu‘ul waahid, festival bonsai, seminar, gowes, pameran, dan kontes burung, lailatus shalawat, khatbilom Quran bildhaib, khitanan massal, serta pengajian umum.

"Untuk pembukaan sekaligus dimulainya rangkaian harlah satu abad madrasah adalah dengan kegiatan bedah buku," kata Gus Fad. Acara diselenggarakan di aula pesantren setempat hari Selasa, 26 April mendatang, jelasnya.

Dan usai bedah buku, kegiatan lain akan mengiringi hingga Sabtu, 4 Juni. "Sehingga kegiatan dalam rangkaian harlah satu abad ini lumayan panjang karena sejumlah kegiatan diselenggarakan di banyak tempat dan melibatkan peserta dari berbagai kalangan," ungkapnya.

Peringatan satu abad ini sebagai upaya mengingatkan para kiai, ustadz, santri dan juga alumni akan makna didirikannya madrasah di pesantren tersebut.? (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi News, AlaSantri, Kiai SMA Negeri 1 Slawi

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Sekretaris Jenderal Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Eko Darwanto menyayangkan banyaknya pengusaha yang mencurigai para buruh ketika membentuk serikat buruh sebagai wadah penyaluran aspirasi.

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

“Kita bikin serikat buruh dianggap melawan,” kata Eko Darwanto pada acara Kopi Darat Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (2/5).

Menurut Eko, hal itu karena banyak pengusaha yang tidak paham mengenai Undang-Undang ketenagakerjaan, dan hubungan industri.

Padahal, katanya, seorang pengusaha harus mengizinkan serikat buruh di dalam. “Kalau tidak diizinkan, terkena pidana itu,” katanya

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh karenanya, Eko mengingatkan tugas serikat buruh untuk mendorong supaya teman-teman buruh menyadari haknya. Selain itu, ia juga mengingatkan pengusaha dan pemerintah supaya perusahaan ini diberikan pemahaman yang jelas soal hubungan industrial yang baik.

Pada acara yang bertema “NU, Negara & Pemberdayaan Pekerja/Buruh Indonesia” ini, Eko juga menjelaskan tentang berbagai kewajiban pengusaha yang harus diberikan kepada para buruh.

“Pengusaha harus memenuhi kewajibannya sebagai pengusaha; membayarkan gaji, menyiapkan pesangon, THR, jaminan sosial, banyak,” katanya

Selain Eko Darwanto, hadir juga sebagai pembicara Suharyono (ILO Indonesia), dan Muchtar Said (Dosen UNU Indonesia). (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Aswaja, AlaSantri, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 23 Desember 2017

Selamat Jalan Mas Slamet, Sang Aktor Perubahan

Pada Kamis, 03 Desember 2015 sekitar pukul 01:45 dini hari WIB, pesan singkat yang masuk membuat jantung berdetak kencang. Ucapan bendera PMII dikibarkan setengah tiang membuat jantung semakin berdebar: kabar Slamet Effendy Yusuf telah berpulang. Sempat tidak percaya dengan kabar duka yang ada. Sampai akhirnya kabar itu nyata, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu benar-benar menghembuskan napas terakhirnya. Tepatnya, Rabu, 02 Desember 2015 sekitar pukul 23.00 WIB, sosok yang sangat luwes itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Mas Slamet, begitu beliau akrab dipanggil. Awalnya, nama Slamet Effendy Yusuf saya kenal sebagai salah satu tokoh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari Kota Pelajar, Yogyakarta. Beliau sangat dikenal dikalangan aktivis PMII. Semasa mahasiswa, Mas Slamet mengawali proses menjadi aktivis di Rayon PMII Syariah (sekarang Ashram Bangsa), IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bahkan Mas Slamet sering disebut sebagai Ketua Rayon pertama PMII Syariah, meski beliau sendiri menampiknya. Beliau membenarkan bahwa sebelum dirinya menjadi ketua Rayon PMII Syariah masih ada ketua Rayon sebelumnya, namun hingga kini belum ada data pasti siapa ketua Rayon PMII Syariah sebelum Mas Slamet mengembannya.

Selamat Jalan Mas Slamet, Sang Aktor Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Jalan Mas Slamet, Sang Aktor Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Jalan Mas Slamet, Sang Aktor Perubahan

Di PMII, Mas Slamet dikenal sebagai deklarator Independensi PMII atau dikenal dengan Deklarasi Murnajati pada tahun 1971. Selanjutnya (1972), Mas Slamet terpilih sebagai ketua Cabang PMII Daerah Istimewa Yogyakarta. Dokumen sejarah menyebutkan PMII Yogyakarta adalah motor penggerak Independensi PMII. Saat itu, Mas Slamet menjadi juru bicara dalam memperjuangkan PMII agar terlepas secara struktur dari partai NU. Semangat berorganisasi yang dijalankan juga mengantarkan Mas Slamet terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyarkarta (1973-1975).

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah lulus dari bangku kuliah, semangat Mas Slamet untuk melakukan perubahan semakin berkobar. Nama Mas Slamet muncul sebagai motor penggerak agar NU kembali ke Khittah 1926. Bersama tokoh-tokoh muda NU, Mas Slamet mendorong NU untuk fokus mengurusi hal-hal keagamaan, pendidikan, dakwah, sosial dan perekonomian sebagaimana hakekat NU didirikan oleh para Kiai.

Persiapan perumusan naskah khittah itu sebenarnya ditugaskan kepada Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Karena saat itu Gus Dur sibuk, perunusan naskah khittah akhirnya dilimpahkan kepada Mas Slamet. Bahkan pada Muktamar 1985 di Purwokerto, Gus Dur mengakui dengan jujur peran Mas Slamet dalam perumusan naskah khittah NU. Bahwa masih banyak yang mengira kalau naskah khittah NU itu Gus Dur yang menyiapkannya, padahal bukan. Saat itu Gus Dur mengatakan bahwa yang menyiapkan naskah khittah NU adalah orang Purwokerto, yang dimaksud Gus Dur adalah Slamet Effendy Yusuf. Keterlibatannya dalam persiapan naskah khittah menjadikan Mas Slamet selalu dijadikan Sekretaris Komisi Khittah pada muktamar selanjutnya (setelah Muktamar NU 1984 saat khittah NU diputuskan).

SMA Negeri 1 Slawi

Pada tataran nasional, Mas Slamet merupakan salah satu aktor perubahan Undang-Undang 1945, kala itu beliau aktif sebagai Wakil Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPR (1999). Gagasan-gagasan segar beliau tertuang dalam melakukan perubahan ini. Menurut pandangannya, penerapan UUD 1945 yang terjadi pada dua rezim melahirkan model kepemimpinan yang sama. Artinya, baik Demokrasi Terpimpin maupun Demokrasi Pancasila, keduanya sama-sama bersifat diktatorial, otoriter dan koruptif. Hal itu dibuktikan dengan Ir. Soekarno menjadi Presiden seumur hidup dan Jend. Soeharto sebagai presiden yang selalu terpilih secara terus menerus hingga rentan waktu 30 tahun lebih.

Dari kejadian ini akhirnya Indonesia merasakan ada batasan yang jelas bagi jabatan Presiden, hubungan antar lembaga akhirnya didasarkan pada chek and balance, dan rakyatpun mendapatkan hak demokratiknya tanpa harus terkooptasi oleh superbody MPR dan lain sebaginya. Alasan-alasan itu kemudian menjadikan Mas Slamet turut bergumul dalam melakukan persiapan perubahan Undang-Undang Dasar 1945.

Kini, Mas Slamet pulang kehadirat-Nya. Diusianya yang ke 67 tahun (1948-2015) pria kelahiran Purwokerto tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan, Mas Slamet adalah tokoh sepuh yang pada Munas Kom-Bes NU 2014 dan Muktamar NU 2015 mendorong PMII untuk kembali secara struktural kepada NU. Sayang sekali, perubahan yang hendak dilakukan itu tidak sempat kita tanyakan. Sebagai aktor sejarah deklarasi independensi PMII, saya sebagai kader PMII menyesal tidak menggali kenapa beliau diujung usianya menginginkan PMII menjadi Banom NU kembali. Ada apa sebenarnya? Wallahualam.

Kami yakin, perjuangan jenengan tidak akan sia-sia. Kami yakin, amal ibadah jenengan akan dibalas dengan kebaikan-Nya. Kami yakin, Tuhan telah menyediakan tempat yang layak untuk jenengan di sisi-Nya.? Terkahir, doakan kami di sana, semoga kami selalu menjadi orang yang seperti jenengan, mendedikasikan hidup untuk kemaslahatan umat. Membawa nama baik PMII, mengharumkan nama baik NU dan selalu cinta Tanah Air. Kami semua adalah saksi akan kiprah jenengan di PMII, NU dan Bangsa

Selamat jalan sahabat, namamu akan selalu tercatat dalam sejarah PMII. Perjuangaanmu akan selalu kami lanjutkan.

Selamat jalan senior, semoga keluwesan dan kesederhanaanmu selalu menjadi pelajaran bagi kader PMII, kader NU dan seluruh generasi Indonesia.

Selamat jalan guru, terima kasih atas kisah, kasih, pengalaman dan segudang ilmu yang telah engkau berikan kepada kami semua.

Selamat jalan Mas Slamet, selamat jalan sang aktor perubahan. Allaahummaghfirlahu warhamhu waafihii wafu anhu.

Abdul Rahman Wahid, adalah kader Rayon PMII Ashram Bangsa, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Banser Waykanan Kawal Pawai Akbar Hari Santri Pakuan Ratu

Waykanan, SMA Negeri 1 Slawi. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Waykanan yang dipimpin Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Alex Almukmin turun di lapangan bersama sejumlah pasukannya. Mereka mengawal pawai akbar Hari Santri yang digelar MWCNU dan GP Ansor Pakuan Ratu, Kamis (22/10).

Alex didampingi sejumlah anggota Banser berada di bagian depan mengawal arak-arakan para santri yang membawa bendera merah putih dan bendera NU. Peserta arak-arakan berasal dari pesantren Al-Falakhus Saadah asuhan Kiai Zainal Maarif.

Banser Waykanan Kawal Pawai Akbar Hari Santri Pakuan Ratu (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Waykanan Kawal Pawai Akbar Hari Santri Pakuan Ratu (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Waykanan Kawal Pawai Akbar Hari Santri Pakuan Ratu

"Kami menggelar pawai akbar dan bakti sosial menyambut Hari Santri. Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai. Bertolak dari kantor MWCNU Pakuan Ratu atau Klinik Bulan Medical Center (BMC). Banser yang mengawal pawai harus mengenakan seragam lengkap," kata Ketua PAC GP Ansor Waykanan Bakti Gozali.

SMA Negeri 1 Slawi

Wakil Sekretaris GP Ansor Waykanan Edi Sugianto menyatakan, sekitar 2.000 warga NU Pakuan Ratu meramaikan Hari Santri. Melalui akun fesbuknya, ia juga menunjukan foto-foto santri pesantren Al-Falakhussaadah yang berada di kampung Serupa Indah kecamatan Pakuan Ratu. Para santri tampak antusias mengikuti pawai akbar Hari Santri dengan menggunakan puluhan sepeda motor dan sejumlah mobil pick up.

"Pimpinan Cabang GP Ansor Waykanan mengapresiasi dan mempersembahkan hormat kepada sahabat-sahabat Ansor, Banser serta sesepuh NU di Pakuan Ratu yang meramaikan Hari Santri tanpa embel-embel politik mengingat Waykanan akan memilih kepala daerah pada 9 Desember mendatang. Kami sampaikan takzim atas ketidakberpihakan yang senantiasa dijaga," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto.

SMA Negeri 1 Slawi

Gatot didampingi Bendahara GP Ansor Waykanan Abdullah Candra Kurniawan melakukan penandatanganan nota kesepahaman "Motivasi dan Pengembangan Sumber Daya Siswa" dengan pihak SMAN 1 Blambangan Umpu yang hari ini merayakan HUT ke 31 tahun.

"Bagi kami, Resolusi Jihad hari ini adalah melawan pembodohan dan kebodohan. Generasi Indonesia mendatang harus dipersiapkan hebat. Melalui bimbingan BPUN, kami bergerak, menggunakan dengkul kami untuk merealisasikan gagasan di kepala. Ini tekad, pengabdian kami, warga NU, bagi bangsa Indonesia. Menjadi fakta adalah pilihan dalam hidup seringkali dikerubuti fantasi. Bangkit berdaya dalam hidup adalah pilihan! Kami mohon doa restu dari sahabat, senior, sesepuh dan para ulama atas penandatanganan nota kesepahaman ini," kata Gatot lagi.

Melalui peringatan Hari Santri, elemen NU di Waykanan juga mengajak pemuda dan masyarakat di Waykanan untuk menggunakan gambar bertuliskan “Selamat Hari Santri Nasional. Kekerasan dan Kebencian Bukan Untuk NKRI!” pada profil akun sosial media fesbuk hingga Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. (Disisi FS/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, AlaSantri, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat

Samarinda, SMA Negeri 1 Slawi. Anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi, kembali mengingatkan media massa untuk tidak membuat dan menayangkan pemberitaan seputar isu-isu terorisme yang bersifat stigma.

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat

"Saya mengistilahkan terorisme itu bukan jihad, tapi jahat. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pembunuhan karena ada perbedaan paham keagamaan. Sekali lagi terorisme itu jahat, karena mereka membunuh hanya karena alasan perbedaan paham keagamaan," kata Jimmy saat menjadi narasumber Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme ? diselenggarakan ? Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, Kamis (11/8).

Jimmy menegaskan, larangan pemberitaan bersifat stigma tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik, dan secara khusus juga tercantum dalam Pedoman Peliputan Terorisme yang diterbitkan Dewan Pers dan BNPT. "Jihad identik dengan ajaran agama dan memiliki makna positif, sementara terorisme sebaliknya," tambahnya.

Hal senada disampaikan Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya. Dikatakannya, terorisme selama ini menunggangi agama sebagai pembenaran atas aksi-aksi yang dilakukannya. "Jika ada yang menganggap terorisme adalah jihad, salah besar. Jihad urusan agama, sementara terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan agama," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Willy juga mengatakan, bentuk penunggangan agama oleh pelaku terorisme tampak dari penggunaan istilah-istilah yang menyerupai ajaran agama tertentu, di antaranya fai (perampokan), thogut (kafir), amaliyah, hingga pengantin. Faktanya, istilah tersebut sengaja diciptakan oleh kelompok pelaku terorisme sebagai bagian upaya membangun opini publik.

"Ketika masyarakat, khususnya media massa, menduplikat istilah-istilah itu maka teroris sudah memperoleh kemenangannya. Oleh karena itu ketika ada pelaku bom bunuh diri, tulis pelaku bom bunuh diri, jangan diistilahkan dengan kata pengantin atau yang lainnya," urai Willy.

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme ? merupakan rangkaian dari program Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme yang diselenggarakan BNPT bersama FKPT di 32 provinsi se-Indonesia. Satu kegiatan lainnya adalah Media Visit, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa yang sudah dilaksanakan pada Rabu (10/8). (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Pasar Murah Ramadhan, Ludes Diserbu Warga

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi - Ribuan warga Brebes mendatangi pasar murah Ramadhan yang digelar Pemerintah Kabupaten Brebes di alun-alun kota setempat, Senin (13/6). Pasar murah yang menjajakan sembako tersebut begitu dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti langsung diserbu warga dan habis dalam hitungan kurang dari 30 menit.

“Kebutuhan menjelang lebaran semakin tinggi, apalagi bagi warga kurang mampu, untuk itu Pemkab perlu menggelar pasar murah guna memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Idza memaparkan pentingnya digelar pasar murah Ramadhan.

Pasar Murah Ramadhan, Ludes Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasar Murah Ramadhan, Ludes Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasar Murah Ramadhan, Ludes Diserbu Warga

Meski demikian, ia mengimbau agar di saat Ramadhan hingga lebaran jangan terlalu konsumtif. Sebab, kebutuhan tidak hanya saat lebaran tetapi masih ada kebutuhan lain yang harus dibiayai sesudah lebaran. “Saya harap jangan terlalu konsumtif dan berhati-hatilah dalam berbelanja, karena masih ada kebutuhan lain yang menanti usai lebaran,” kata Idza.

Kepala Bagian Perekonomian Da’an Susanto menjelaskan, pasar murah Ramadhan menyediakan 7.130 paket sembako. Satu paket yang terdiri dari beras 1,5 kg, gula pasir 1,5 kg, minyak goreng 1 liter, dan mie instan 3 bungkus seharga Rp 50 ribu, namun dijual hanya Rp 25.000,-.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebanyak 7.130 paket ini dijajakan di tujuh tempat, antara lain di Kecamatan Bantarkawung sebanyak 1.000 paket, Paguyangan 800 paket, Alun-Alun Brebes 2.500 paket, Tonjong 500 paket, Ketanggungan 1.000 paket, Kersana 830 paket, dan Bulakamba 500 paket.

SMA Negeri 1 Slawi

“Pasar murah ini untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan pangan menjelang lebaran,” ungkap Da’an.

Salah seorang pembeli Linda warga Limbangan Kulon mengaku senang dirinya mendapatkan undangan dari RT setempat untuk membeli sembako murah. “Saya dikasih kupon, untuk membeli sembako di alun-alun, ternyata harganya murah,” tutur Linda.

Linda mengaku sudah menunggu sejak jam 8 pagi, ternyata acaranya baru dibuka jam 9.00. “Tapi tidak apa-apa menunggu lama, yang penting saya bisa mendapatkan sembako murah,” ujarnya.

Pasar murah Ramadhan dijajakan oleh masing-masing SKPD, PKK, Dharma Wanita dan GOW serta BUMD dan BUMN di Kabupaten Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 27 November 2017

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Almaghfurlah KH Muhammad Saalih, Sang Pendiri Pesantren Al-Mawaddah, Jumat (8/1) malam.

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri

Hadir dalam acara tersebut, para habaib, tokoh masyarakat, dan ulama. Antara lain Pengasuh Pesantren Qothrun Nada Depok, KH Burhanuddin Marzuki, Pengasuh Pesantren Nurul Hayat Depok, KH Nur Kholis, dan Pengasuh Pesantren Tahfidz Nurani Cipedak Jakarta Selatan, KH M Ilyas Marwal.

Dari umara, hadir Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi, Camat Jagakarsa, Fidiyah Rokhim, Komandan Rayon Militer (Danramil) 08 Jagakarsa Mayor Arm Hartono, dan Kapolsek Metro Jagakarsa, Komisaris Polisi (Kompol) Sri Bhayangkari beserta jajarannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ribuan hadirin tampak khidmat mengikuti lantunan sholawat Shimtudduror yang didendangkan para santri diiringi rebana modern. Sembari duduk lesehan di halaman pesantren di sebelah barat hingga makam KH M Saalih di sebelah timur. Mereka juga khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran oleh juara 1 MTQ Kota Depok, Ahmad Fajaruddin Jazuli.

SMA Negeri 1 Slawi

Pantauan SMA Negeri 1 Slawi, makin malam para pengunjung terus berdatangan secara bergelombang. Sepanjang Jalan Sadar Raya Gudang Baru hingga ujung Jalan Warung Sila Ciganjur ditutup. Di beberapa titik, tampak aparat kepolisian sektor Jagakarsa berjaga-jaga dibantu para santri berseragam Pramuka.?

Dalam sambutannya selaku Pengasuh Pesantren Al-Mawaddah, KH Abdullah Hasani mengajak hadirin untuk terus menumbuhkembangkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. “Melalui rangkaian acara gebyar Maulid Nabi kali ini, kami mengajak hadirin khususnya para santri untuk selalu cinta Rasul,” ujarnya.

Sebelumnya, lanjut Kiai Abdullah, gebyar maulid dimeriahkan beberapa kegiatan. Antara lain festival hadroh, lomba bina bakat islami, dan festival marawis se-Jabodetabek. Turut meramaikan kegiatan, konser amal “Debu Peduli Santri” di hotel Bumi Wiyata Depok, juga bakal digelar Rabu, 6 Februari 2016 mendatang.

“Hasil konser amal tersebut 100% untuk pembangunan pesantren ini. Kepada Musthofa, pimpinan grup Debu, kami ucapkan jazakumullah,” ujar Kiai Abdullah bangga.

Di tempat terpisah, KH Abdillah Hasani menambahkan gebyar maulid yang digelar di Pesantren Al-Mawaddah hendak memberi pesan bahwa Nabi Muhammad sebagai teladan abadi. “Saya ingin para santri menjaga tradisi ini serta terus semangat untuk meneladani beliau,” tandas saudara kembar Kiai Abdullah ini.

Dalam acara tersebut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam Jamiyyah Ahlu Thariqah al Mutabarah Annahdliyyah (JATMAN) dijadwalkan menyampaikan ceramah agama. Grup musik religi Debu juga tampil melantunkan sholawat dan nasyid-nasyid penggugah jiwa. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Kiai, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 25 November 2017

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan proses radikalisasi anak pelaku terorisme terjadi di dalam rumah tahanan. Hal itu merupakan akibat terjadinya interaksi dan doktrinasi dari narapidana terorisme dewasa. Padahal, Undang-Undang mengatur anak pelaku terorisme dikualifikasi sebagai korban yang harus mendapat perlindungan khusus. Dan, penanganannya harus mengedepankan pendekatan pemulihan (restoratif justice).

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan

"Ini PR besar bagi kita semua dalam penanganan kasus terorisme di Indonesia. Di satu sisi kita harus keras memberi hukuman terhadap pelaku demi melahirkan efek jera, namun di sisi lain kita harus memutus mata rantai terorisme anak dengan pendekatan rehabilitatif dan restoratif," kata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh, melalui siaran pers, setelah melakukan kunjungan ke Lapas Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (28/9).

Menurutnya, khusus terhadap anak yang terpapar ajaran terorisme, harus ada pendekatan khusus, yaitu pendekatan pemulihan (restoratif), bukan pendekatan penghukuman dan pemenjaraan (punitif) sebagaimana orang dewasa yang dijerat kasus terorisme.

SMA Negeri 1 Slawi

"Ini harus menjadi konsen kita bersama. Untuk menangani masalah ini, KPAI dan BNPT saling menjalin komunikasi guna merumuskan mekanisme dan model pencegahan dan penanggulangan anak-anak yang terpapar terorisme dengan pendekatan re-edukasi," jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kasus IAH (terdakwa terorisme anak di Medan) yang sekarang sedang proses peradilan, harus dijadikan momentum untuk penerapan pendekatan keadilan restoratif sebagaimana diatur UU Sistem Peradilan Pidana Anak.

Untuk itu, tambahnya, Jaksa dan Hakim harus berpedoman dan mengedepankan prinsip-prinsip restoratif justice seperti tertuang dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dalam pertimbangan dan putusannya.

"Apalagi, anak sudah mengaku salah, menyesali perbuatannya, meminta maaf, dan meminta untuk dibina. Ini adalah momentum besar untuk menyelamatkan anak dari doktrinasi yang lebih mendalam. Jaksa dan hakim punya kewajiban untuk pemulihan," kata Niam.

Dari hasil assesment yang dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas), penjelasan yang diberikan oleh Kalapas, dan pendalaman yang dilakukan KPAI terhadap anak, menunjukkan bahwa anak masih polos, doktrin terorisme belum terlalu masuk dan peluang untuk pemulihan sangat besar.

KPAI berharap, vonis yang dijatuhkan hakim kepada IAH dalam kerangka pemulihan, misalnya penempatan di lembaga pembinaan khusus untuk reedukasi, bukan vonis yang membunuh masa depan anak, apalagi yang menyuburkan benih radikalisme yang sempat tersemai. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, AlaSantri, Internasional SMA Negeri 1 Slawi

Wakaf harus Dikelola Profesional

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengelolaan lembaga wakaf sebagai bagian dari pengembangan peradaban dan mengurangi kemiskinan harus dikelola secara professional, bukan lagi secara tradisional.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah dalam acara Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Wakaf yang diselenggarakan oleh Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) Kamis, (2/8).

Dikatakan oleh Masykuri bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam pengelolaan wakafnya dibandingkan negara-negara lain. Bahkan, terdapat lembaga khusus yang namanya wazir aukof yang berfungsi mengelola wakaf-wakaf tersebut.

Wakaf harus Dikelola Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakaf harus Dikelola Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakaf harus Dikelola Profesional

Sejauh ini, wakaf yang ada di Indonesia juga belum dikelola secara produktif. Sebagian besar masih digunakan untuk sarana ibadah seperti masjid dan musholla. Bahkan yang terbesar masih diperuntukkan untuk kuburan.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini menjelaskan sebenarnya PBNU memiliki banyak asset wakaf yang layak untuk dikembangkan menjadi lebih produktif sehingga bisa mendanai kegiatan NU.

“Terdapat beberapa lembaga yang sudah siap mengembangkan tanah wakaf yang dimiliki oleh PBNU jika sertifikatnya sudah beres,” tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Potensi lainnya yang bisa dikembangkan adalah kerjasama PBNU dengan Departemen Kehutanan dan Perhutani untuk pengelolaan lahan kritis yang saat ini dikelola lewat Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 24 November 2017

Kesebelasan Pengahafal Al-Qur’an

Anak muda duduk berjajar sila setengah lingkaran. Jumlahnya sebelas. Masing-masing menghadapi recal yang di atasnya terbuka kitab suci Al-Quran. Mereka lalu membaca bersama-sama Surat Ath-Thariq. Sekonyong-konyong bacaan mereka berhenti. Pasalnya ada bunyi satu ketukan. Mereka mengulang satu kalimat. Jika ketukan berbunyi lagi, kembali mereka mengulang.

Sebelas anak itu sedang diperiksa bacaannya, mulai makhorijul huruf, panjang pendeknya bacaan, dan waqafnya. Jika ada yang tak beres, maka ketukan itu berbunyi. Sumbernya dari tangan Ustadz Ramdani yang duduk bersandar ke sebuah tiang di tengah majelis ta’lim di hadapan mereka.

Kesebelasan Pengahafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Pengahafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Pengahafal Al-Qur’an

Pemeriksaan bacaan itu rutin dilakukan tiap malam, kecuali malam Jumat. Tiap malam membaca satu surat pada juz 30. Ketika sampai surat An-Nas, esoknya mereka akan memulai lagi dari ‘amma yatasyalun demi menjaga hafalan juz terakhir tersebut. Begitu putaran waktu sebelas anak yang dilakukan selepas isya di majelis ta’lim Al-Guroba, Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten.

SMA Negeri 1 Slawi

Mereka tidak hanya diperiksa bacaan, tapi juga menghafalnya. Pagi selepas Subuh, mereka akan setor beberapa ayat ke Ustad Ramdani. Siang, selepas dhuhur, mengulang hafalan. Sore setor. Maghrib mengulang. Kemudian ketemu isya lagi, diperiksa bacaan juz 30.

Pada ashar dan maghrib, mereka harus menyatu dengan santri kalong. Waktu ashar, sekitar 40an anak datang ke majelis itu. Rata-rata usia mereka 10 tahun ke bawah. Mereka akan belajar membaca Iqra di berbagai tingkatan, menghafal doa-doa, ayat-ayat pendek, serta Ratib Haddad.

Selepas magrib, sekitar 50an anak datang lagi ke masjid itu. Kali ini usia mereka 10 tahun ke atas sampai usia kelas 3 SMA. Mereka juga belajar membaca Al-Quran dan menghafalnya. Sebelum dihafal, mereka diberi tahu dulu cara membacanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Cara mengaji di majelis itu adalah, sekitar tiga anak maju dengan Al-Qurannya masing-masing ke hadapan Ramdani. Kemudian membacakaan ayat masing-masing secara bersamaan. Bisa saja mereka membaca ayat berbeda karena capaian ketiganya berbeda. Masing-masing membacakannya sampai tiga ayat. Anak yang tidak dikoreksi, dia akan segera mundur. Sementara yang belum lancar, akan tetap di situ sampai bisa. Setelah bisa, dia akan mundur juga digantikan yang lain. Terus begitu. Ramdani menyimak semuanya dengan cermat dan benar. Ia memejamkan mata, sesekali buku tangannya mengetuk recal, jika bacaan sang anak meleset.

“Bapak itu aneh, ngantuk aja tahu kalau bacaan saya salah. Padahal ia menyimak bacaan tiga orang,” ujar Syahrul, salah seorang santri.

Ramdani adalah sedikit ustad yang hafal Al-Qur’an 30 juz di luar kepala. Bahkan Iqra saja hafal karena saking seringnya mengajar. Kemudian menyimak bacaan anak-anak seperti dengan feeling saja. “Yang salah itu anak mana saya nggak tahu,” katanya, “tapi telinga saya merasakan ada yang salah baca,” lanjutnya.  

Sementara membagi konsentrasi, fokus ketiga anak dengan bacaan berbeda, menurut dia karena sering dilakukan dan dalam waktu lama, bertahun-tahun. “Siapa pun bisa kalau sering dan lama melakukannya,” katanya.

Menghafal dari depan dan Belakang

Kesebalasan anak itu adalah mereka yang tidur di pondok yang didirikan Ramdani. Ia menamainya dengan Bustanu Musyaqil Qur’an. Di situ cuma tiga kamar kamar kecil. Di antara mereka ada yang masih sekolah formal, hanya mengaji, dan mengaji sambil bekerja. Makan dan minum ditanggung Ramdani. Bahkan di antara mereka, yang yatim piatu, disedikan uang jajannya.

Santri-santri itu penghafal Al-Qur’an itu dibagi dua kelompok. Bagi yang hanya ngaji, memulai menghafal dari juz 1 ke belakang. Sementara yang masih sekolah dan bekerja dari juz 30 mundur. Capaian tertinggi santri yang cuma menghafal atas nama Syahrurramadhan. Anak Betawi itu sudah hafal 21 juz. Sementara yang masih sekolah atas nama Ilman Fernando Chaniago. Di bawahnya ada Fajri, anak Prubalingga yang hafal 10 juz. Anak keturunan Sumatera Barat yang sekarang duduk di kelas 1 SMA tersebut hafal 6 juz dari juz 30 ke juz 24.

“Awalnya ngaji aja nggak mau. Dianterin orang tuanya ke sini, nggak ngaji, nggak apa, nangis mulu,” kata Ramdani mengisahkan Ilman yang masuk masuk tahun 2012.

Sekali waktu ada orang tua yang menceritakan nilai anaknya di sekolah jelek. “Santai saja. Kita lihat perubahannya. Nanti kalau dia sudah tahu caranya menghafal akan berubah,” jawab Ramdani .

Jawaban Ramdani tidak omong kosong. Sekarang banyak anak yang ngaji di situ menduduki ranking satu di kelasnya. Bisa dipastikan anak-anak majelis di berada dalam 10 besar di tingkatannya masing-masing. Termasuk Syahrul waktu sekolah, ia tak lepas dari ranking 2 atau 3. Sementara ranking 1 juga dari majelis itu. “Kalau sudah tahu metodenya menghafal ya begitu,” katanya.

Keberhasilan Ramdani juga ditunjukkan pada sebelas anak itu. Selain Syahrul 21 Juz, ada Fajriyanto 10 juz, Ilman 6 juz,  Ilham 4 juz, Akbar, Afwan, dan Alfin  juz dua, Rayan dua juz.  Sementara Bakti dan yuda baru mulai menghafal. Serta puluhan anak yang sudah menghafal doa-doa, surat pendek, dan Ratib Haddad.   

Keberhasilan itu didapat karena keseriusan dari dua belah pihak, Ramdani dan santri-santrinya. Terutama tekun menghafal dan disiplin jadwal. Sebetulnya, jadwal itu longgar dan bisa dikatakan berbeda. Misalnya, Syahrul hari Senin pagi setoran, siang ngulang, sore hafalan. Maghrib membantu mengajar ngaji tak lebih dari 4 sampai 5 orang.

Mulanya dari Radio

Ramdani, pria kelahiran Cileduk, Jakarta 1976 tersebut mengaku berasal dari keluarga pedagang. Hampir semua saudaranya berprofesi itu. Selepas SD tiba-tiba saja dia ingin mondok, ia nyantri sambil sekolah tingkat SMP di salah satu pesantren di Kebon Jeruk, Jakarta Barat di bawah asuhan KH Dasuki Adnan. Pesantren itu bergaya salafi modern.

Menurut dia, mulanya minat ke pondok pesantren karena pas kecil sekitar tahun 80an, tiap pagi ayahnya mendengar ceramah-ceramah agama di radio atau lagu-lagu kasidah dan gambus. Suatu ketika ayahnya pernah bilang, “jadi penceramah dan guru ngaji itu enak. Tidak kerja.”

Minatnya pada ilmu agama, selepas SMP, ia lanjutkan nyantri sambil sekolah di Pesantren Darut Tafsir, Bogor, Jawa Barat, di bawah Asuhan KH Istikhori Abdarurohman. Selepas lulus, ia balik lagi ke rumah. “Nganggur, kerja nggak, kuliah juga nggak,” katanya.

Kemudian ia memaksa orang tuanya untuk melanjutkan mondok. Padahal waktu itu juga ayahnya meminta untu kuliah. Tapi ia bersikeras untuk mondok lagi. Kali ini ingin ke pesantren hafalan Al-Qur’an.

Akhirnya pada tahun 1995, ia diberi ongkos 200 ribu oleh orang tuanya. Tujuannya kota Demak, Jawa Tengah. Kota itu ia tuju bukan tak berdasar, melainkan atas keterangan gurunya semasa di Darut Tafsir. Di daerah tersebut, konon ada pesantren khusus menghafal Al-Quran. Namanya pesantren Bustanu Musyakil Quran, taman pencinta A-Qur’an di bawah asuhan KH Harir Muhammad.

Di situlah ia kemudian membaca Al-Quran bin nadhar selama 6 bulan. Ketika akan melanjutkan menghafal Al-Quran, ia disuruh pulang dulu, diminta kiainya untuk meminta izin orang tua memulai menghafal Al-Qur’an. “Karena udah terpaksa orang tua memberikan izin. Saya ingin dikuliahkan sama orang tua sampai S3,” terangnya.

Soal izin orang tua ini, ia terapkan juga di majelisnya. Anak harus diantar orang tuanya. Jika anaknya bolos, orang tuanya akan dipanggil, ditanya keseriusan mengaji di situ. Jika tidak serius, anak itu diminta pidah ke majelis lain. Itu ia lakukan supaya tidak meracuni temannya yang lain. Tidak mencontohkan untuk bolos dan sebagai peringatan bagi yang lain supaya serius.

Pada tahun 2002 ia menikah dengan gadis kelahiran Desa Binong. Di situ ia mengajar sekolah formal di yayasan pendidikan milik mertuanya. Di tengah aktivitasnya, ia tetap merawat hafalannya. Bercita-cita juga ingin membangun majelis sendiri untuk prnghafal Al-Quran. “Orang yang hafal itu berharap ada yang hafal dari dirinya sendiri,” katanya.

Karena, kata dia, mengajarkan baca Al-Qur’an dan membimbing orang lain menghafalkannya, pahala akan mengalir terus.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, pada tahun 2010, ia berhenti total dari aktivitas mengajar di sekolah formal. Ia membangun majelis di atas tanah miliknya. Kemudian tahun 2011 mulai membangun pondok 3 kamar.  

Kepada anak-anak yang mengaji ia menyusupkan cerita-cerita serta keutamaan penghafal Al-Qur’an, mulai dari hadits nabi serta qaul-qaul ulama. “Sering ngasih motivasi dan bercerita keutamaan orang-orang menghafal Al-Quran,” kata Syahrul. “Nanti penghafal AL-Qur’an berhak mensyafaati 10 orang keluarganya di akhirat. Waduh banyak juga ya. Itu ingat terus sampai sekarang,” lanjut santri generasi pertama tersebut.  

Ia terpesona motivasi itu karena berdasar cerita orang tuanya, leluhurnya jauh dari agama. Ada yang seumur-umur tidak shalat. ”Motivasi itu sangat luar biasa banget bagi saya. Saya ingin meneyelamatkan keluarga,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Pesantren, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock