Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF

Magelang, SMA Negeri 1 Slawi - Bekerja sama dengan lembaga UNICEF, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah mengembangkan sekolah Inklusif yang siap menampung dan mendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Hal itu disampaikan oleh Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Agus Sofwan Hadi dalam acara Festival Olahraga Seni dan Olahraga Inklusif yang diselenggarakan di arena Perwimanas II, Rabu (20/9).

Kembangkan Sekolah Inklusif,  LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Sekolah Inklusif, LP Ma’arif Jateng Gandeng UNICEF

“Alhamdulillah, Ma’arif NU Jawa Tengah sudah memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya,” tegas Agus dalam sambutannya.

SMA Negeri 1 Slawi

LP Ma’arif Jateng, lanjut Agus telah mengembangkan sekolah inklusif di tiga kabupaten yakni di Semarang, Banyumas dan Kebumen. “Ini adalah program yang kita jalankan dengan bekerja sama dengan UNICEF,” tambah Agus.

 

Acara festival ini, kata Agus merupakan acara yang luar biasa yang menampilkan kreativitas anak-anak yang dididik di LP Ma’arif NU. “Festival ini diikuti oleh tiga ratus siswa yang berasal dari sekolah-sekolah inklusif di bawah naungan LP Ma’arif,” tambah Agus.

 

Sementara itu, Ketua LP Ma’arif PBNU HZ Arifin Junaidi mengapresiasi LP Ma’arif Jateng yang telah merintis sekolah inklusif. “Kita tidak memungkiri bahwa masih ada stigma yang tidak baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus di masyarakat. Semoga yang dilakukan oleh LP Ma’arif Jateng yang bekerja sama dengan UNICEF bisa menular ke daerah-daerah lain,” tegas Arifin.

SMA Negeri 1 Slawi

Arifin juga meminta kepada UNICEF agar tidak hanya di wilayah Jateng saja tapi di seluruh Indonesia.  “LP Ma’arif ini menaungi ribuan madrasah di seluruh Indonesia. Jadi tidak salah alamat kalau UNICEF bekerja sama dengan LP Ma’arif,” tandas Arifin.

Pada festival tersebut, banyak sekali bakat dan kreativitas yang ditampilkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Festival ini dihadiri oleh beberapa sekolah di bawah naungan LP Ma’arif di antaranya adalah SLB Ma’arif Muntilan, SLB Sendang, MI Ma’arif NU Keji, MI Ma’arif Ambal Kebumen, MTs Ma’arif NU Sumpiuh, MI Salafiyah dan MTS Al-Hidayah Purwokerto. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 11 Februari 2018

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan

Banjar, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Jawa Barat, sepakat menolak ajakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bergabung dalam satu organisasi. Berdasarkan hasil Munas-Konbes NU 2014, PBNU memberi tenggang waktu hingga Muktamar 2015 untuk kembali kepangkuannya.

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan

Penolakan ini muncul dalam sebuah diskusi PC PMII Kota Banjar di kantor sekretariat setempat, di Jalan Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Senin (10/11).

Diskusi rutin tersebut memberi tanggapan terhadap imbauan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang mengatakan, Independensi PMII terjadi saat NU aktif sebagai Partai Politik. Setelah NU bukan lagi partai politik seyogianya PMII kembali ke pangkuan NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"Nampaknya kurang relevan PMII meniru IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang menjadi onderbouw ormas Muhammadiyah jika dalil yang dipakai adalah NU saat ini sudah tidak lagi menjadi partai politik,” kata Ketua PC PMII Kota Banjar Muhafid.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, di berbagai kampus yang berlatarbelakang Muhammadiyah justru yang relatif dominan bukan IMM, melainkan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), atau PMII.

“Apakah kegagalan model ini yang perlu ditiru? Kiranya, perlu kembali diingat bahwa secara historis PMII lahir ketika NU menjadi partai politik dan bukan pada saat menjadi ormas," imbuh Muhafid.

PMII Kota Banjar menilai, PMII lebih tepat tetap independen, sementara NU fokus terhadap kondisi umat Islam yang semakin tergerus oleh Wahabi dengan mengoptimalkan badan otonom, lajnah, dan lembaga NU. (Wahidan-Ahmad M/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, Halaqoh, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Syukur yang Mendekatkan Kepada Allah SWT

Syukur merupakan salah satu sifat mahmudah yang harus dimiliki seorang muslim. Syukur tidaklah sekedar ungkapan ? rasa terimakasih seorang hamba kepada Allah swt, tetapi juga merupakan wahana menuju (wushul) kepada Allah swt.

اÙ? الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودÙ? Ù? الحق Ù„Ù? ظهره على الدÙ? Ù? كله. أرسله بشÙ? را ÙˆÙ? ذÙ? را وداعÙ? ا الى الله? باذÙ? Ù‡ وسراجا Ù…Ù? Ù? را. أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد اÙ? محمدا عبده Ùˆ رسوله. ارفع البرÙ? Ø© قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد. فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? .

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Marilah pada kesempatan ini kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan diri dan keluarga kita dengan melakukan berbagai amal kebaikan yang dapat memperbanyak pahala. Diantaranya dengan memenuhi perintah-Nya bersyukur atas segala nikamt dan rahmat yang diberikan oleh-Nya kepada kita semua.

Syukur yang Mendekatkan Kepada Allah SWT (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukur yang Mendekatkan Kepada Allah SWT (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukur yang Mendekatkan Kepada Allah SWT

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Pada dasarnya syukur merupakan salah satu sifat mahmudah yang harus dimiliki seorang muslim. Dalil tentang perintah bersyukur sangatlah jelas diterangkan dalam al-Baqarah ayat 152

SMA Negeri 1 Slawi

فاذكروÙ? Ù‰ أذكركم واشكروا لى ولا تكفروÙ?

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku

Seringkali orang memahami bahwa syukur merupakan uangkapan? manusia atas nikmat yang diberikan oleh Allah swt kepada mereka, sehingga syukur terkesan hanya sebagai ? ‘re-aksi‘ seorang hamba kepada Tuhannya, Allah swt. Padahal sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Karena sesungguhnya syukur merupakan salah satu wasilah mendekatkan diri kepada Allah swt. Syukur merupakan laku ibadah tersendiri yang apabila dikelola dengan benar oleh hamba akan mempermudahkan perjalanan mendekati Yang Maha Agung. Atau yang oleh para ahli tasawwuf dikatakan sebagai wushul kepada Allah swt.

SMA Negeri 1 Slawi

Begitulah kiranya, Allah swt menaruh kata syukur bedekatan dengan kata dzikir dalam ayat diatas. Tidak lain karena, posisi syukur sama pentingnya dengan dzikir kepadaNya. Keduanya (dzikir dan syukur) sama-sama akan menghantarkan kita kepada-Nya.

Apabila diperhatikan secara seksama, potongan pertama ayat di atas yang berbunyi ‘fadzkuruni adzkurkum’ mengandung pemahaman bahwa barang siapa mengingat Allah swt maka Allah swt juga ? akan mengingatnya. Artinya barang siapa berdzikir kepada-Nya, maka Allah swt akan selalu dekat dengannya.

Mengenai hal ini Rasulullah saw pernah berkata kepada para sahabatnya “maukah kalian aku tunjukkan amal yang paling bagus, yang paling bersih (di sisi-Nya) dan lebih berharga dari pada infaq emas-perak, juga lebih bernilai dibandingkan jika kalian memenggal leher musuh dan kemudian musuh itu memenggal lehermu (mati syahid di medan perang)”. Para sahabat kemudian menjawab ? “mau ya Rasul” lalu nabi membalas “itulah dzikir kepada Allah swt”.

Pada kesempatan lain dalam hadits qudsi juga diterangkan “ana ma’a abdi idza dzkaroni,

Aku akan selalu menyertai hamabaku, selama hambaku ingat kepadaku dan kedua bibirnya selalu bergerak-gerak.

Kedua hadits di atas menunjukkan betapa dzikir itu sungguh berharga di sisi-Nya. Karena dzikir merupakan wahana mendekatkan diri kepadaNya. Dan begitupula dengan syukur yang tidak kalah berharganya dengan dzikir, sebagaimana keduanya diperintahakn oleh Allah dalam al-Baqarah ayat 152dengan redaksi ‘fadzkuruni dan wasykuruli ’.

Pertanyaannya kemudian, syukur seperti apakah yang berharga senilai dengan dzikir? Syukur seperti apakah yang dapat menghantarkan kita mendekat kepada Nya? yaitu syukur yang mengandung tiga hal sekaligus pertama, syukur billisan, syukur bil janan dan syukur bil arkan

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jika ketiganya tidak terkumpul dalam satu tindakan, maka syukur itu tidak akan mampu mendorong diri manusia mendekat kepadaNya.

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah swt.

Pertama, Syukur billisan. Yaitu menggunakan lisan sebagai media representasi rasa terimakasih kepada Tuhan dengan mengucapkan kalimat ‘alhamdulillah’. Kalimat yang hanya terdiri dari dua kata ini jika terucap dari mulut seorang hamba, maka sejatinya hamba itu telah mengakui keagungan dan kemewahan rahmat Allah swt atas segala yang telah ditakdirkan dan diberlakukan kepadanya. Sebagaimana tersimpan dalam huruf ‘al’ dalam al-hamdu yang bermakna ‘lil istighraq’. Artinya segala macam puja dan puji hanya kepada-Nya. Ini sekaligus juga menepis adanya pengakuan lain selain Allah swt. membersihkan dari dari rasa syirik yang mungkin menempel dalam hati kecil manusia.

Oleh karena itu Allah swt menggaransi siapapun yang mengucapkan Alhamdulillah dengan ridha-Nya. Maka dari itu marilah kita bersama-sama melatih diri membiasakan mengucap Alhamdulillah dalam laku kita. baik setelah makan, setelah minum, setelah berpakaian, setelah shalat dan lain sebagainya. Karena jikalau Allah swt telah meridhai kita, rasanya Allah tidak akan membiarkan makanan yang telah masuk ke dalam perut kita sebagai penyakit. Jika Allah telah meridhai kita maka kehidupan kita akan berjalan di atas trek ketentuan-Nya.

Demikian keterangan hadits Rasulullah saw;

عَÙ? Ù’ Ø£ÙŽÙ? َسِ بْÙ? ِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ إِÙ? ÙŽÙ‘ اللَّهَ Ù„ÙŽÙ? َرْضَى عَÙ? Ù’ الْعَبْدِ Ø£ÙŽÙ? Ù’ Ù? َأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَÙ? َحْمَدَهُ عَلَÙ? ْهَا أَوْ Ù? َشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَÙ? َحْمَدَهُ عَلَÙ? ْهَا. رواه مسلم?

Bahwa Rasulullah saw pernah bersabda sesungguhnya Allah swt (pasti) meridhai seorang hamba yang makan makanan kemudian bersyukur (mengucap alhamdulillah) atau meminum minuman kemudian bersyukur (mengucap alhamdulillah) .

Namun, tidak hanya berhenti sekedar ucapan alhamdulillah saja.Tetapi harus disertai dengan tambahnya rasa dalam hati (biljanan)akan rasa cinta kepada Allah swt sebagai Sang Pemberi rizki. Itulah perasaan yang diutamakan. Baru menyusul kemudian rasa senang dan gembira akan rizki yang diberikan kepadanya.

Disinilah para Jama’ah yang Dirahmati Allah… yang perlu digaris bawahi bahwa yang utama adalah menambahkan rasa cinta kepada Allah Sang Pemberi nikmat, lalu setelah baru rasa senang dan gembira atas rizki yang diberikan oleh-Nya.

Yang ketiga dan terakhir, adalah menyertai ucapan dan perasaan itu dengan tindakan konkrit (bilarkan). Berupa berbagai macam kewajiban syariat yaitu zakat, bila memang sudah memenuhi syaratnya. Artinya, nikamt yang diberikan Allah kepadanya harus digunakan sebagai alat mendekatkan diri kepada Allah swt. Jangan sampai rizki pemberian dari-Nya menemuhi salah sasaran dipergunakan selain kepentingan ilahiyah.

Jika memang ketiga hal ini dirangkai dalam satu tindakan syukur, maka Allah akan menjamin kehidupan hamba itu dan meridhainya. Hal ini pulalah yang akan menghantarkan kita memahami ayat special untuk syukur yang berbunyi

لَئِÙ? شَكَرْتُمْ لأَزِÙ? دَÙ? َّكُمْ وَلَئِÙ? كَفَرْتُمْ إِÙ? ÙŽÙ‘ عَذَابِÙ? لَشَدِÙ? د

Bahwa Allah pasti akan menambahkan kepada mereka yang bersyukur dan menyiksa mereka yang kufur.

Demikianlah khutbah kali ini semoga, bermanfaat bagi kita semua, amin.

بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

redaktur: Ulil Hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Menengok Masjid Syekh Jafar Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun

Garut, SMA Negeri 1 Slawi. Salah seorang tokoh penyebar Islam di Garut, Jawa Barat adalah Syaikh Muhammad Jafar Shidiq Cibiuk yang hidup satu perjuangan dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya dan Syaikh Maulana Mansur Banten.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang datang berziarah ke makam Syekh Jafar Sidiq yang terletak di Gunung Haruman Cibiuk dan nama Haruman ini kemudian jadi nama lain Syekh Jafar Sidiq, Sunan Haruman, namun masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Embah Wali Cibiuk.

Menengok Masjid Syekh Jafar Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Masjid Syekh Jafar Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Masjid Syekh Jafar Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun

Menurut riwayat, Syekh Jafar Sidiq ini bersahabat baik dengan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Maulana Mansur Banten, bahkan persahabatan Syekh Jafar Sidiq dengan Syekh Maulana Mansur tergambar jelas dari gaya arsitektur bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Syaikh Jafar Shiddiq.

Masjid yang sudah beberapa kali mengalami renovasi tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari 400 tahun dan sampai hari ini pataka yang terbuat dari ukiran batu dan dipasang di pucuk atap bangunan masjid tersebut masih terlihat utuh.

"Pada saat membangun masjid Agung tersebut Embah Wali mendatangkan arsitek dari Banten, makanya bentuk masjidnya mirip sekali dengan bentuk masjid Banten," papar H Rd Imam Abdurrachman di Pesantren As-Saadah Limbangan,Garut. Jumat (29/12) lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Dikatakan Imam, masjid tersebut berlokasi beberapa KM dari kaki gunung Haruman, tepatnya di jalan Pesantren Tengah, Desa Cibiuk Tengah, Kecamatan Cibiuk dan masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Masjid Agung, Masjid Keramat atau masjid Embah Wali.

"Syaikh Syaikh Muhammad Jafar Shiddiq Cibiuk ini adalah putera Kyai Mas Masud Dipakusumah dan merupakan generasi ke 8 dari Sunan Pancer Limbangan," tambah Katib Syuriah MWCNU Limbangan ini.

Berdasarkan pantuan SMA Negeri 1 Slawi, konstruksi bangunan Masjid Syaikh Jafar Shidiq yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6x6 meter ini masih berdiri kokoh dan konstruksi bangunan yang didominasi oleh kayu jati tersebut berbentuk panggung, sedangkan bangunan baru yang ada di belakangnya berukuran lebih luas dan sudah menggunakan lantai keramik.

Selain mewariskan masjid, ada juga peninggalan lain dari puteri Syekh Jafar Shidiq yang bernama Nyimas Siti Fatimah, ia mewariskan resep kuliner Sambel Cibiuk yang sampai hari ini masih terkenal hingga ke beberapa kota besar di Indonesia. (Aiz Luthfi/Fathoni)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Kajian Sunnah, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Mengenang Subchan ZE

Oleh Yit Prayitno



teringat subchan ze anak negri

tabir talenta beraneka warni

Mengenang Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Subchan ZE

simponi teduh kiai dan santri

terkenang orasi tak henti

di pangung politik bernyanyi?

SMA Negeri 1 Slawi

di panggung dansa lenggok menari

SMA Negeri 1 Slawi

bersua kaum papa, sapa priyayi

mengenang pencinta harmoni

berhaji jiwa nyawa terhenti

siapa menyudahi?

misteri

kudus, 14 Januari2017

Penulis lahir dan tinggal di Kudus, jurnalis Harian Suara Merdeka, sesekali menulis puisi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Kiai SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 22 Januari 2018

Nusron Wahid: GP Ansor Harus Ngaji, Ngader, dan Kerja

Wonosobo, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Nusron Wahid mengajak kader Ansor untuk selalu belajar ilmu agama, mencetak dan melakukan kaderisasi, serta meningkatkan etos kerja yang tinggi.

Nusron Wahid: GP Ansor Harus Ngaji, Ngader, dan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid: GP Ansor Harus Ngaji, Ngader, dan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid: GP Ansor Harus Ngaji, Ngader, dan Kerja

"Sebagai kader Ansor harus ngaji, ngader dan kerja supaya bisa memberi kemanfaatan bagi masyarakat,"katanya di depan peserta Konferensi Wilayah (Konferwil Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah di Universitas sain Ilmu Quran (UNSIQ), Sabtu (17/5).

Ia menjelaskan, bukti adanya semangat mengaji di kalangan Ansor harus ditunjukkan melalu gerakan program sholawatan bersama kiai, ulama maupun habaib. Setiap Pimpinan Cabang dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) harus mendirikan sebuah jamiyah Rijalul Ansor untuk mensyiarkan dan menjaga tradisi ajaran Aswaja.

SMA Negeri 1 Slawi

"Setidaknya Ansor nanti bisa menyaingi Muslimat yang selama ini banyak mengadakan pengajian di ranting-ranting. Sekaran harus ada pengajian atau jam’iyah bernama “ansoran” tidak hanya “muslimatan”,"ujar Nusron bersemangat

Begitu pula, kaderisasi di lingkungan Ansor supaya berjalan berkisinambungan. Ia meminta semua PC atau PAC mampu menyelenggarakan pengkaderan semacam Pendidikan Kader Dasar (PKD).

SMA Negeri 1 Slawi

"Mengenai kerja, kader Ansor mampu membangun sisi ekonomi. Seperti mendirikan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) pada setiap PAC/PC," terangnya.

Konferwil yang dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ini diikuti peserta 266 PAC dan 29 PC. Konferensi ini berlangsung singkat, hanya menetapkan hasil materi yang sudah dibahas sebelumnya dalam Rakerwil 10-11 Mei lalu di Kantor PWNU Jl Drs Cipto Semarang.

Kemudia Konferwil juga hanya memilih ketua baru PW GP Ansor periode 2014-2018. Pada sidang pemilihan yang dipimpin PP Ansor menetapkan Ikhawanudin menjadi ketua baru menggantikan ketua lama Jabir Al Faruqi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, Halaqoh, Nahdlatul SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Terapkan Kurikulum 2013, SMANU I Gresik Gelar Parade Teater 2014

Gresik, SMA Negeri 1 Slawi. Kurikulum 2013 yang bermuatan pembentukan karakter siswa, diwujudkan dalam Parade Teater yang menampilkan 22 pementasan di SMANU I Gresik sepanjang Rabu-Ahad, (7-11/5). Parade Teater ini mengajak para siswa melihat keragaman masyarakat dan memanggil mereka untuk mengembangkan aneka budaya di Indonesia.

Parade yang diselenggarakan Teater Nusa ini wajib diikuti seluruh siswa-siswi yang memprogram mata pelajaran seni teater. Kegiatan selama lima hari ini diikuti oleh komunitas teater dari Gresik, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Sumenep.

Terapkan Kurikulum 2013, SMANU I Gresik Gelar Parade Teater 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Terapkan Kurikulum 2013, SMANU I Gresik Gelar Parade Teater 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Terapkan Kurikulum 2013, SMANU I Gresik Gelar Parade Teater 2014

Teater Nusa ialah komunitas kecil teater di SMANU I Gresik.

SMA Negeri 1 Slawi

Kepala Sekolah SMANU I Gresik Nasihuddin berharap, “Parade ini dapat membantu meningkatkan kreativitas serta pola pikir kritis para siswa dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud penerapan kurikulum 2013 yang sudah diterapkan di SMANU I Gresik.”

SMA Negeri 1 Slawi

Enam belas dari 22 pementasan, dipersembahkan para siswa peminat seni teater di SMANU I Gresik. Sedangkan 6 lakon lainnya dipentaskan grup Lalakona Teater dari Sumenep, Teater Nusa, Teater 911 dari Surabaya, dan Teater Batang Bambu dari Mojosari serta Gresik Teater.?

Selain Parade Teater, para siswa-siswi SMANU I Gresik menggelar pameran fotografi hasil pemotretan pementasan teater. (Faris Assegaf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 19 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

Bandar Lampung, SMA Negeri 1 Slawi - Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Bandar Lampung H Moh Mukri menyatakan dukungannya dengan akan digelarnya Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kabupaten Lampung Timur.

Insya Allah pada Kick Off nanti saya akan hadir dalam pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur pada 26 Agustus 2017 mendatang,” kata H Moh Mukri di sela-sela menerima kunjungan rombongan Panitia Pelaksana Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di kediamannya, Kota Bandar Lampung, Senin (31/7).

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

“Liga Santri Nusantara harus menjadi media untuk menebarkan nilai-nilai (values) Islam rahmatan lil alamin, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara ini dan telah ikut berkiprah lahirnya republik ini. Tanpa pesantren dan ulama saya rasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan pernah ada. Oleh karenanya, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa para ulama (jas hijau),” imbuh Mantan Ketua PW GP Ansor Provinsi Lampung ini.

SMA Negeri 1 Slawi

“Liga Santri Nusantara adalah momentum baik menyebarkan semangat (ghirah) kepada masyarakat luas untuk memondokkan putra-putrinya ke pesantren. Pesantren adalah tempat lahirnya para ulama, para pejuang yang tanpa pamrih, oleh karenanya Liga Santri Nusantara selain menjadi media silaturahmi antarpesantren se-Provinsi Lampung, juga membangkitkan kembali semangat jargon Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren,” tegasnya yang juga alumni pesantren Langitan Tuban Jawa Timur ini.

“Inilah berkahnya di pesantren. Saya juga tidak akan jadi Rektor kalau tidak pernah nyantri,” tutupnya yang juga Dewan Pembina Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung.

Koordiantor Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung Munir A Haris menambahkan, pendaftaran Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung akan kami tutup pada hari Sabtu mendatang, 5 Agustus 2017 karena kami hanya membatasi 48 klub pesantren saja.”

SMA Negeri 1 Slawi

“Direncanakan pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung, pada Sabtu, 26 Agustus 2017 di Lapangan Merdeka Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung, akan dihadiri tokoh-tokoh NU antara lain; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Panitia Pelaksana Pusat atau CEO Liga Santri Nusantara (LSN) KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), Inisiator Nasional Liga Santri Nusantara H Abdul Muhaimin Iskandar, Menpora H Imam Nahrowi, Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri, Bupati Lampung Timur Hj Chusnunia Chalim, pengurus harian PWNU Provinsi Lampung, pengasuh-pengasuh pesantren, dan lain-lain,” imbuh alumnus Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, Halaqoh, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Oleh Inggar Saputra

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Meski Islam hadir pertama kali di Arab Saudi, tapi berkat perjuangan para pedagang dan ulama, agama ini mampu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Islam di Indonesia mampu menciptakan akulturasi dengan menyerap spirit perjuangan masyarakat lokal. Penyatuan Islam dan kearifan lokal ini yang sering disebut Islam Nusantara.

Konteks Indonesia, salah satu penyebar Islam yang penting adalah ulama khususnya Wali Sanga di Tanah Jawa. Mereka (Wali Sanga) merupakan sembilan ulama yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan, moderatisme, penuh nilai toleransi dan kedamaian. Wali Sanga adalah pejuang Islam, pendidik dan ulama yang membawa nilai Islam yang mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Dengan prinsip mempertahankan budaya atau tradisi yang lama dan baik, serta memasukkan nilai Islam yang awalnya dianggap asing, masyarakat membuka tangannya sehingga dakwah Wali Sanga berjalan sukses dan masyarakat ramai-ramai memeluk Islam.

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Salah satu Wali Sanga yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.





Memahami Islam Nusantara

SMA Negeri 1 Slawi

Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998) Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad Saw. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara.?

Meski begitu Islam tidak lahir dari ruang kosong, melainkan selalu mampu berdialog dengan kearifan lokal termasuk budaya dan peradaban manusia Indonesia. Perpaduan budaya ini berjalan saling menegasikan, mempengaruhi dan menyempurnakan sehingga terbentuk pemahaman Islam Nusantara. Hasil interaksi Islam dan budaya lokal pada akhirnya akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu Islam mewarnai mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, kemungkinan kedua adalah Islam yang justru diwarnai budaya lokal (Simuh: 2003)

Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, pernikahan ulama atau pedagang dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.

Islam di Nusantara jelas bukan sebuah agama yang baru, sebab perkembangan Islam sudah dibawa pedagang dan ulama sejak masa kerajaan Hindu-Buddha masih dominan mempengaruhi pemikiran masyarakat di Indonesia. Islam Nusantara bersifat akomodatif dan inklusif dalam mengintegrasikan nilai universal Islam dan peradaban lokal Indonesia yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Ini penting ? dalam melahirkan kembali karakter positif manusia Indonesia seperti toleran, moderat, damai, ramah tamah, gotong royong dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Islam menyerap spirit kearifan lokal yang baik dan meminggirkan secara halus kepercayaan atau keyakinan yang bertentangan dengan syariat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Sejatinya setiap muslim yang secara sadar mendeklarasikan syahadat akan terhindar dari sifat adigang adigung adiguna. SIfat negative harus dihilangkan dan digantikan semangat menghargai perbedaan keyakinan, tidak diskriminatif, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika serta menjauhikan sifat ekslusif dan superior di antara manusia lainnya ? (Ishom Yusqi, 2015). Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara nash syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015).

Untuk lebih memperjelas makna Islam Nusantara maka dapat digambarkan dalam dua kata, Islam dan Nusantara. Islam adalah ajaran samawi (langit). Nusantara adalah tradisi ardhi (bumi). Maka secara sederhana Islam Nusantara dapat diartikan sebagai ajaran langit yang membumi. Islam Nusantara bukan soal menilai buruk dan salah pada yang lain. Tapi lebih tentang di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. ? Menjadi Nusantara adalah hal yang paling manusiawi bagi manusia Nusantara. Dilahirkan sebagai anak Nusantara, berakar kebudayaan negeri sendiri, berkebangsaan bangsa sendiri, dan menjadi diri sendiri. Bukan menjadi orang lain dengan justru kehilangan jati diri. Sebab, kehilangan terbesar adalah kehilangan diri sendiri (Candra Malik: 2015).

Dalam kacamata yang bersifat akademis Islam Nusantara mengacu kepada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (Nusantara) yang mencakup Muslim Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea). Dengan cakupan seperti itu, Islam Nusantara sama sebangun dengan Islam Asia Tenggara (Southeast Asian Islam). Secara akademik, istilah terakhir ini sering digunakan secara bergantian dengan Islam Melayu-Indonesia (Malay-Indonesian Islam). Islam Nusantara bersifat inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum Muslimin maupun dengan umat-umat lain. (Azra: 2015)

Gagasan Islam Nusantara memang muncul selama dua tahun terakhir dan mulai populer di kalangan masyarakat setelah menjadi tema Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33 di Makassar. Ketika pertama kali didengungkan sebagai pemikiran progresif dan berjiwa ke-Indonesiaan pro kontra langsung berdatangangan sehingga memunculkan polemik panas dan berkepanjangan sesama umat Islam. Tidak sedikit kalangan memberikan label negatif kepada ide Islam Nusantara tanpa mau mendialogkan secara terbuka dan kritis-konstruktif dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut. Padahal Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban duniaberangkat dari empat pilar agung khas nahdiyin yaitu moderat, seimbang, toleran dan selalu berpihak kepada kebenaran. Gagasan Islam Nusantara juga terhitung progresif dan ilmiah sehingga harus terus disebarkan dan diupayakan dialog secara mendalam sehingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Penulis berpandangan gagasan ini berangkat dari dua aspek keilmuan yang cukup penting yaitu aspek sejarah dan aspek kebudayaan. Sejarah panjang Islam di Indonesia menempatkan ulama sebagai titik sentral dalam teladan membagikan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Konteks ini, ulama dianggap sebagai tempat bertanya dan referensi utama masyarakat dalam persoalan kehidupan sehari-hari dan spritualitas-keagamaan. Dengan kedudukan strategis itu, peran ulama dinanti dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ulama adalah tokoh penting dalam menanamkan aqidah, tempat bertanya masalah dunia dan akhirat serta rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya peran itu, para ulama adalah pelaku sejarah dalam usaha menyebarkan Islam di Indonesia. Ulama adalah manusia yang dimuliakan masyarakat karena pengetahuan beragama yang kuat dan mendalam sehingga seringkali kekuasaan ulama sangat besar meliputi kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Konteks ini, ulama dalam artian kiai dan wali khususnya Wali Sanga di Jawa memiliki kemampuan untuk menstruktur tindakan orang lain dalam bidang ke-Islaman sesuai dengan keyakinan agamanya. Kemampuan itu meliputi pengetahuan ke-islaman, mengamalkan ajaran Islam dengan tertib dan konsisten menjalankan ajaran Islam sehingga merasakan dekat dengan Allah (Busthami: 2007)

Aspek budaya, sulit sekali melupakan bagaimana ulama berusaha menempatkan dakwah Islam dalam konteks kearifan lokal sehingga penerimaan masyarakat dapat berjalan baik. Para ulama memahami dan mengakui Islam berasal dari Arab sehingga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Tetapi untuk dapat diterima masyarakat Indonesia, Islam harus mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kebudayaan setempat (budaya suku atau kelompok masyarakat di Indonesia). Apalagi diketahui pengaruh animisme dan penyebaran agama Hindu dan Buddha masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga kreatifitas dalam berdakwah diperlukan agar tidak tercipta pergolakan dan penolakan keras masyarakat setempat terhadap keagungan ajaran Islam.

Sejarah mempertontonkan bagaimana kreatifitas ulama berkembang dalam hal kebudayaan melalui sarana lokal seperti lagu, budayam wayang dan lainnya. Para ulama menganut prinsip mempertahankan tradisi atau kebudayaan yang lama dan baik, dan secara perlahan mengenalkan budaya baru yang lebih baik dan sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Islam dikenalkan dengan tanpa adanya paksaan. Kebudayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat tetap kedudukan yang tepat bersanding dengan ajaran Islam yang agung dan inspiratif.?

Wali Sanga dan Islamisasi Jawa

Proses Islamisasi di tanah Jawa tidak terlepas dari jasa para ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Munculnya Wali Sanga mengakhiri dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka (Wali Sanga) adalah simbol penyebaran Islam di tanah Jawa dan berperan penting dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa (Solikin, Syaiful dan Wakidi: 2013) Wali Sanga berjumlah sembilan yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Para ulama ini memiliki hubungan dekat baik hubungan darah maupun hubungan guru dengan muridnya. Maulana Malik Ibrahim merupakan wali sanga tertua, memiliki anak Sunan Ampel dan keponakan Sunan Giri. Sunan Ampel dan istrinya melahirkan Sunan Drajad dan Sunan Bonang. ? Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga (murid dari Sunan Bonang). Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Sunan Kudus menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.?

Para ulama hebat ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan dan umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak awal abad 15 hingga pertengahan abad 16,. Mereka bermukim di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah simbol intelektual agamis yang berperan strategis dalam membentuk peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang menyatukan Islam dan kearifan lokal, dakwah Wali Sanga mampu memikat hati masyarakat sehingga banyak kalangan baik raja dan rakyat jelata masuk Islam dengan kesadaran sepenuh hati dan tidak dipengaruhi paksaan pihak manapun.?

Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi yang mirip panitia ad hoc (kabinet) dalam urusan mengislamkan masyarakat Jawa. Setiap wali bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau Nayaka (menteri) yang sering berkumpul bersama dalam sebuah rapat dalam membahas tugas dakwah Islam yang sedang diperjuangkannya. Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi berperan penting dalam pembangunan Masjid Demak yang dilaksanakan secara gotong royong (Widji Saksono: 1996)

Dalam kegiatan dakwahnya Wali Sanga menggunakan pendekatan bijaksana dan disesuaikan dengan pemahaman (pengetahuan masyarakat setempat terhadap Islam itu sendiri. Sunan Kalijaga misalnya membuat gamelan Sekaten yang kemudian dilanjutkan acara Sekaten (Syahadatain) di Masjid Agung. Dalam kesempatan lain, Sunan Kudus membuat lembu dengan hiasan unik dan menarik sehingga mengundang minat masyarakat luas untuk lebih mengenal Islam secara mendalam. Para Wali Sanga juga menggunakan kreasi lain seperti beduk atau kentongan sebagai tanda dimulainya waktu sholat lima waktu. Mengingat adzan yang diteriakkan melalui menara masjid terkadang kurang efektif dan komunikatif (Mastuki: 2014)

Model Dakwah Sunan Kalijaga?

Sunan Kalijaga (nama kecil, Raden Said) merupakan salah satu Wali Sanga yang terkenal dan dilahirkan tahun 1455 Masehi. Sunan Kalijaga memiliki darah keturunan ningrat mengingat ayahnya Arya Wilatika adalah Adipati Tuban keturunan dari Ranggalawe. Ada beragam versi mengenai nama Sunan Kalijaga, dimana masyarakat Cirebon berpendapat nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon mengingat dirinya pernah bertempat tinggal di Cirebon. Sebagian kalangan mengaitkan dengan tugas menjaga Kali yang diberikan gurunya (Sunan Bonang) sebagai ujian kesetiaan dan keseriusannya dalam belajar agama Islam. Tapi ada pula yang menilai nama itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan (Darmawan: 2011)

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga menyerap semangat kultural masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Untuk mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Kalijaga memilih jalur kebudayaan dan kesenian sebagai media dan sarana dakwah sehingga cepat menyerap dan diterima secara hangat oleh masyarakat pada zamannya. Sunan Kalijaga menjadi teladan terbaik dalam penyesuaian Islam dengan budaya lokal, berdasarkan prinsip mempertahankan yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dengan lebih baik (Anif Arifani: 2010) sehingga ajaran Islam masuk ke dalam struktur berpikir masyarakat secara halus dan secara perlahan menghilangkan tradisi masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam. Dakwah Sunan Kalijaga banyak sekali mendapatkan pengikut dari kalangan masyarakat menengah ke bawah (rakyat jelata).?

Sunan Kalijaga berpendapat jika diserang prinsip yang selama ini dipegang secara teguh (keyakinan Hindu-Buddha) masyarakat akan menjauh. Sehingga diperlukan dakwah secara bertahap sebab jika Islam sudah berhasil dipahami masyarakat, maka kebiasaan lama yang bertentangan dengan syariat akan hilang. Maka dapat disebut ajaran Sunan Kalijaga cenderung sinkretis dalam mengajak orang lain mengenal Islam. Beliau menciptakan berbagai media dakwah yang kreatif dan efektif. Ini menyebabkan dakwah di kalangan rakyat semakin meluas dan tak sedikit pula para petinggi kerajaan yang tertarik dengan dakwahnya. Beberapa diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak (Afifudin Muhajir: 2015). Secara umum banyak sekali sarana dakwah kreatif dari Sunan Kalijaga, tapi beberapa diantaranya yang fenomenal ada tiga yaitu masjid Demak, wayang dan lagu.

Pecahan Kayu Masjid Agung Demak

Diceritakan bagaimana para wali bergotong royong dalam membangun Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga mendapatkan tugas membuat satu dari empat tiang masjid. Dalam menjalankan tugas itu, beliau menggantikan balok kayu besar dengan pecahan kayu yang biasa disebut tatal. ? Sunan Kalijaga menyusun dan melekatkan bagian potongan kayu dengan lem dammar, kemenyan dan blendok. Tidak disangka sampai sekarang, tiang darurat itu masih bertahan kokoh (Sudarsono: 2010)?

Adanya soko tatal diartikan sebagai lambang spritualitas, persatuan dan kerukunan mengingat dalam membangun Masjid Agung Demak sempat terjadi perpecahan dalam masyarakat Islam. Dalam kondisi itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk menyusun tatal yang ada menjadi tiang yang kuat dan kokoh. ? Pemahaman filosofis tatal adalah jika umat Islam bersatu maka akan menjadi kuat dan jangan pernah sekalipun sesuatu yang sifatnya sisa seperti tatal. Dalam pengertian ini, Sunan Kalijaga mengajarkan makna Islam Nusantara dalam aspek bergotong royong, persatuan dan saling tolong menolong sebagai kunci sukses dunia dan akhirat. Aspek ini sesuai dengan jiwa kebangsaan yang menjadi variabel turunan dalam memaknai konsep Islam Nusantara.

Sampai sekarang Masjid Agung Demak banyak dikunjungi muslim seluruh Indoensia dan menjadi pusat agama terpenting di tanah Jawa. Islamisasi di Jawa termasuk daerah pedalaman banyak berawal dari syiar masjid bersejarah ini. Masjid Agung Demak bukan saja berkembang sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran besar Islam. (Siami Fitri: 2007)

Wayang dan Azimat Kalimasada

Wayang adalah sebuah kosakata asli bahasa Jawa yang berarti “bayang” atau “bayang-bayang” berasal dari akar kata ‘yang’ dan mendapat awalan ‘wa’ menjadi kata wayang (Darori Amin: 2000). Masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha sudah terbiasa melakukan pertunjukkan wayang untuk memanggil roh nenek moyang. Pada masa Hindu-Buddha, wayang semakin berkembang dengan munculnya wayang kulit dan cerita dewa-dewa dalam mitologi kedua agama tersebut. Ketika Islam masuk ke Indonesia, wayang mulai mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islami.

Sunan Kalijaga menyaksikan bagaimana masyarakat sangat menyukai wayang sehingga melihat ada peluang berdakwah dengan kesenian wayang. Pemikiran itu mendorongnya untuk mempopulerkan wayang yang sesuai syariat Islam. Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada (Imron Amar: 1992)?

Ada dua alasan mendasar mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima masyarakat secara luas. Secara normatif, Sunan Kalijaga sudah menjalankan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang masuk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyatakat sekitarnya. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkorelasi dengan nilai Islam. Tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Dalam mengajak penonton wayang, Sunan Kalijaga mengganti biaya masuk yang umumnya membayar uang dengan membaca kalimat syahadat. Secara kreatif para tokoh wayang yang identik dengan kepahlawanan Hindu diganti nama rukun Islam yang lima. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. (Purwadi: 2003). Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa sebagai proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat duniawi lainnya. Nakula dan Sadewa dipandang sebagai symbol zakat dan haji (Ahmad Chadjim: 2003)?

Lagu Ilir-Ilir

Lagu Ilir-Ilir merupakan salah satu tembang yang diciptakan SUnan Kalijaga dan cukup populer hingga sekarang. Pada masa dahulu, lagu ini sering dinyanyikan anak desa terutama pada malam purnama. Tanpa disadari, terdapat makna filosofis mendekat kepada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dalam tembang ini. Muncul sikap optimistik agar seorang muslim memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hari kiamat nanti. Para ahli tafsir menilainya sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas sehingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. (Hariwijaya: 2006).?

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar

Cah angon –cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodot iro

Dodotiro-dodotira, kumitir bedah ing pinggir

Dondomano jrumantana, kango sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane , mumpung padhang

rembulane

Suraka surak horeeeee.

Adapun makna yang terkandung dalam lagu lir-ilir tersebut, dalam catatan Hasyim Umar, adalah sebagai berikut:

Lir-ilir, lir ilir tandure wisa sumilir (Makin subur dan tersiramlah agama Islam yang disiarkan wali dan muballigh). Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten Anyar (Hijau adalah warna lambang dari agama Islam yang dikira pengantin baru sehingga menarik perhatian masyarakat). Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Cah angon/penggembala adalah penguasa yang diharapkan mampu menggembalakan rakyat agar masuk Islam, sementara buah belimbing mempunyai segi atau kulit yang mencuat berjumlah lima yaitu lambang rukun Islam) Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodotiro (Walaupun licin, sukar, tetapi usahakanlah agar dapat (agama Islam) agar mampu mensucikan dodot. Dodot adalah sejenis pakaian yang dipakai orang-orang atasan (trahing ngaluhur/? jaman dulu) Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir (Pakaian dan agamamu sudah robek karena dicampuri kepercayaan animisme dan upacara suci yang bertentangan dengan ajaran Islam) Dandomono jrumantana, kanggo sebo mengko sore (Agama yang rusak itu harus diperbaiki dengan agama Islam untuk menghadap Tuhan nanti sore) Mumpung jembar kalangane, mumung padhang rembulane (Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan bertobat kepada Tuhan) Suraka surak horeeee (Bergembiralah kalian moga-moga mendapat anugerah dari Tuhan).?

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mengakak setiap muslim termasuk pemimpin kerajaan saat itu untuk memeluk Islam meskipun dalam menumbuhkan dan menyuburkannya terdapat banyak sekali kesulitan dan tantangan. Tapi jika tidak putus asa, maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Mengapa Sunan kalijaga memberikan dakwah kepada pemimpin atau raja? Sebab mereka adalah teladan yang ditiru dan dicontoh masyarakat. Perkataan dan tindakan pemimpin akan menjaci acuan bagi rakyatnya sehingga jika pemimpinnya masuk Islam, maka rakyat akan mudah mengikutinya.?

Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai,? International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, PonPes, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Sejumlah Akademisi-Aktivis Siap Ramaikan Riungan Kebangsaan Gusdurian

Way Kanan-Lampung, SMA Negeri 1 Slawi. Akademisi Universitas Lampung (Unila) yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Way Kanan Dr Farida Aryani menyatakan diri untuk berpartisipasi dalam kegiatan "Riungan (kumpulan) Kebangsaan" dihelat Gusdurian Lampung bersama sejumlah pihak yang mempunyai persepsi sama  mengenai kebangsaan dan kemanusiaan.

"Beliau sudah menyatakan diri untuk hadir dalam kegiatan berisi diskusi kebangsaan dan donor darah beserta relasi, termasuk Ketua Yayasan Shuffah Blambangan Umpu Khairul Huda, S.Psi, M.AP juga berkomitmen untuk bisa ikut donor darah," demikian disampaikan aktivis Gusdurian di Way Kanan, Lampung Agung Rahadi Hidayat di Blambangan Umpu, Sabtu (24/7).

Sejumlah Akademisi-Aktivis Siap Ramaikan Riungan Kebangsaan Gusdurian (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Akademisi-Aktivis Siap Ramaikan Riungan Kebangsaan Gusdurian (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Akademisi-Aktivis Siap Ramaikan Riungan Kebangsaan Gusdurian

Berkaitan dengan itu, Gusdurian Lampung mengapresiasi positif support yang bermunculan dari berbagai pihak atas kegiatan tersebut.  Riungan, kumpulan atau silaturahmi, kata Agung yang tercatat bergiat di Palang Merah Indonesia (PMI) Way Kanan dan pengurus Ansor Kecamatan Way Tuba, menjadi penting sebagai gerbang masuk berbagai kemaslahatan.

SMA Negeri 1 Slawi

"Silaturahmi masyarakat di tingkat lokal masyarakat perlu digalakkan, dengan silaturahmi semangat persatuan dan persaudaraan dapat terwujud. Aneka persoalan masyarakat butuh pemecahan yang melibatkan banyak pihak, masyarakat perlu saling bahu-membahu mencari jalan keluar atas kebuntuan persoalan.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan melibatkan banyak pihak, demikian Agung menambahkan, forum ini menjadi wadah dialog mengenai perkembangan kemasyarakatan, adanya kerjasama antar pemangku kepentingan untuk menghadapi permasalahan serta untuk lebih peduli terhadap situasi dan kondisi di Kabupaten Way Kanan.

Riungan Kebangsaan dan Donor Darah tersebut  berrtema "Mensinergikan Keberagaman Menumbuhkan Kemanusiaan". Kegiatan tersebut merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, Alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.

"Kegiatan berlangsung Senin 27 Juli 2015 di Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda Way Kanan mulai pukul 08.30 WIB. Pihak-pihak yang ingin ikut serta donor darah kami persilakan untuk hadir mengingat persediaan darah di Provinsi Lampung masih banyak mengalami kekurangan dalam jumlah cukup besar. Sebanyak 60 persen komposisi penyumbang darah sukarela, yang mendonorkan darah mereka secara rutin sebagai penopang ketersediaan darah, untuk Lampung masih kekurangan persediaan darah berkisar 40 persen dari kebutuhan darah bagi masyarakat di Lampung," katanya.

Ia menambahkan, optimisme keberkahan silaturahmi akan mengantarkan masyarakat ke arah perbaikan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara karena bertujuan membangkitkan spirit kebangsaan, kepedulian dan gotong royong, lalu juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional serta menghidupkan, menjaga serta melestraikan kearifan lokal.

"Kegiatan perkumpulan ini akan membangun konektifitas antar elemen masyarakat daerah ini sehubungan melibatkan sejumlah elemen di Way Kanan kendati belum optimal atau 100 persen terjangkau," demikian Agung Rahadi Hidayat.

Diskusi kebangsaan akan menghadirkan sejumlah pembicara, seperti I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan. Kegiatan dimoderatori oleh Ponita Dewi, Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 yang juga presenter salah satu televisi di Lampung. Topiknya, "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" (Gatot Arifianto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ubudiyah, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia

Ciputat, SMA Negeri 1 Slawi. KH Akhmad Sodiq menjelaskan bahwa tujuan diajarkannya tarekat adalah untuk melembutkan dan melenturkan perasaan seseorang.

“Tarekat digunakan untuk melembutkan perasaan. Semua sifat buruk akan dilenturkan dengan tarekat,” kata Kiai Sodiq saat menjadi pembicara pada acara Safari Ramadlan Menepis Radikalisme dengan Spiritualisme di Masjid Fathullah, Kampus UIN Ciputat, Rabu (8/6). ?

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia

Kiai Sodiq menerangkan, ada lima cara yang bisa mengubah sifat buruk menjadi baik. “Sifat buruk bisa diubah dengan cepat adalah dengan dzikir, ibadah, wuquful qolbi, tawajjuh, dan mujahadah riyadhoh (pembiasaan),” jelas dosen UIN Jakarta tersebut.

Menurutnya, di sekolah hanya menggunakan mujahadah riyadhoh atau pembiasaan sebagai metode untuk mengubah sifat jelek seseorang agar menjadi baik, tetapi kalau di tarekat semuanya diajarkan dan digunakan. Kelima cara tersebut terangkum ke dalam satu wadah, yaitu ibadah.

Ia mengumpamakan sifat jelek itu seperti es batu, sedangkan ibadah itu ibarat matahari.?

SMA Negeri 1 Slawi

“Semakin kuat sinarnya, maka semakin cepat dan mudah es batu tersebut hancur,” tegasnya.?

Lebih lanjut, Kiai Sodiq menjelaskan bahwa tidak sedikit mursyid atau ahli tarekat yang menolak anak muda untuk bergabung ke dalam kelompok tarekat yang mereka pimpin, hal tersebut dikarenakan mereka sangat menjaga tarekat.

“Kalau ada mursyid yang tidak mau mengijazahkan tarekat, jangan su’udzan. Mungkin dia sangat berhati-hati,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Mahasiswa Ahlu At-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An- Nahdliyah (Matan) Cabang Ciputat Ahmad Atmo Prawiro menjelaskan, keberadaan Matan bisa menjadi organisasi alternatif di tengah-tengah mahasiswa yang berpikiran pragmatis.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Matan Cabang Ciputat dilantik pada 11 April 2016 di Masjid Fathullah. Mereka secara rutin mengelar pengajian dan diskusi tarekat melalui Café Sufi. (Muchlishon Rochmat/Zunus) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama Thariqah Akan Gelar Manaqib Kubro

Pekalongan, SMA Negeri 1 Slawi. Berbagai musibah yang menimpa bangsa Indonesia membuat kalangan ulama Jawa Tengah yang tergabung dalam wadah jam’iyyah tarekat NU atau Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah merasa prihatin. Terjadinya banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, kecelakaan kereta api, pesawat terbang dan kapal laut, juga masalah flu burung, demam berdarah, hingga bencana lumpur lapindo di Sidoarjo tidak terlepas dari kesalahan manusia sendiri.

Rencananya, tidak kurang dari 700 ulama dan kiai thariqah se-Jawa Tengah akan berkumpul di Pondok Pesantren Al Utsmani, Gejlig, Kecamatan Kajen, Pekalongan untuk bersama-sama berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT, memohon ampunan melalui istighotsah dan manaqib kubro yang juga akan diikuti oleh sekitar 10.000 umat muslimin se-Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya. Acara akan dilaksanakan pada Sabtu (17/3) pukul 19.00.

Banyaknya musibah yang menimpa negeri ini tidak bisa lagi ditimpakan pada sekelompok orang apalagi kepada para pemimpin bangsa ini. Akan tetapi sudah menjadi kesalahan kita bersama yang diakui atau tidak telah melakukan penyimpangan dan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah.

Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama Thariqah Akan Gelar Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama Thariqah Akan Gelar Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama Thariqah Akan Gelar Manaqib Kubro

Ketua panitia manaqib kubro, KH. Mirza Hasbullah kepada wartawan mengatakan, kehadiran para ulama dan kiyai se Jawa Tengah di samping dalam rangka manaqib kubro, juga akan membahas berbagai persoalan keagamaan yang dikemas dalam bentuk Bahtsul Masail Diniyah pada hari esoknya. Gubernur, Pangdam IV/Diponegoro dan Kapolda Jawa Tengah serta Rais Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya telah menyatakan siap hadir secara pribadi di acara manaqib kubro dan sekaligus akan memberikan pengarahan di hadapan ribuan ummat Islam.

KH. Mirza menambahkan, untuk menampung para kiyai dari berbagai daerah, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak pesantren Al Utsmani dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk kesiapan akomodasi dan lain-lain. Apalagi kehadiran tiga pejabat penting Jawa Tengah diperlukan pengamanan khusus, sehingga dirinya memerlukan bekerja sama dengan pihak Polres Pekalongan dan Kodim serta dibantu pengamanan internal yakni banser dan pagar nusa Kabupaten Pekalongan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al Utsmani, H. Arifin Utsman mengatakan, dirinya dengan segenap kekuatan yang ada yang meliputi santri, murid dan pengasuh di komplek Pondok Pesantren Al Utsmani telah melakukan berbagai persiapan terkait dengan kedatangan para kiyai dan pejabat di pesantrennya. Sebagai tuan rumah, dirinya berharap kehadiran para kiyai dan ulama thariqah dapat memberikan kontribusi melalui cara-cara ulama thariqah untuk ikut meringankan beban penderitaan bangsa yang sedang ditimpa musibah beruntun ini. (muiz)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Lomba, Ahlussunnah, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 11 Januari 2018

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Sejumlah harapan untuk segera bergerak cepat bertumpu kepada Lajnah Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) dibawah kepemimpinan Khotibul Umam Wiranu yang menggantikan Sulthon Fathoni.

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja

Lembaga yang terkait dengan pengembangan dunia kepenulisan di lingkungan Nahdlatul Ulama ini diharap menjadi ujung tombak memperkenalkan faham Ahlussunah wal-Jamaah.

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) Andi Najmi Fuadi berharap supaya LTNNU bisa mengjangkau yang selama ini belum terjangkau.

“LTNNU harus bisa menghubungkan komunitas-komunitas NU. Dari mulai Nahadliyin yang kultur hingga yang struktur. Bahkan dengan komunitas di luar Nahdliyin,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sekretaris Umum Jamiyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) Ahmad Ary Masyhuri berharap LTNNU bisa lebih progresif, “Saya tahu sejak muda, ia (Khotibul Umam Wiranu) aktif dalam dunia kajian dan intelektual,” katanya selepas serah terima jabatan Ketua LTN NU di gedug PBNU, Jakarta, Senin malam (15/4).

SMA Negeri 1 Slawi

Mukhlisin, Sekretaris Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) berharap supaya LTN NU bisa berkoordinasi tidak hanya dengan NU struktural, tapi dengan kultural seperti dengan PPM.

Harapan itu juga datang dari Ketua KPUD DKI Jakarta, Dahliah Umar. Ia berharap LTN NU jadi andalan untuk menjadi jembatan ulama dan umat. Bisa membuat terobosan-terobosan baru dengan memanfaatkan teknologi dengan lebih baik.

“LTNU harus memperkenalkan alam pikiran ulama Nahdliyin dari yang klasik sampai yang modern sesuai perkembangan zaman,” katanya.

Lebih jauh, kader PMII DKI Jakarta ini berharap supaya LTN NU bisa menggerakkan anak-anak muda NU.   

Lajnah Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama, disingkat LTNNU, bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab atau buku serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal Jamaah.

Situs resmi NU bernama SMA Negeri 1 Slawi yang beralamat di www.nu.or.id dan majalah Risalah dibawah nanungan LTNNU.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 09 Januari 2018

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri

Jember, SMA Negeri 1 Slawi - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember dalam rangka menyambut hari santri nasional mewajibkan segenap warga civitas akademika mulai dari dosen, pegawai, satpam hingga mahasiswa memakai busana ala santri.

Mahasiswa diharuskan memakai sarung, baju takwa atau batik, berkopiah dan bersandal atau sepatu sandal. Sementara mahasiswi dan dosen wanita tetap menggunakan jilbab dan sandal. Dosen atau mahasiswa yang tidak berbusana ala santri dilarang masuk kecuali tamu orang luar IAIN Jember.

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri

Kewajiban menggunakan busana ala santri itu berlaku sejak 17 Oktober hingga tiga hari ke depan.

Dalam pantauan SMA Negeri 1 Slawi, IAIN Jember benar-benar berubah. Sejak masuk pintu gerbang kampus, suasana ala pesantren sudah terasa. Begitu juga di dalam ruang perkuliahan, juga tak ubahnya seperti di madrasah atau pondok. Bahkan, tak jarang di antara mereka saling menggoda dan bercanda soal busana santrinya.

SMA Negeri 1 Slawi

"Hari santri memang kami sambut sedemikian rupa agar syiarnya lebih menggema dan maknanya lebih terasa. Acara lain juga masih banyak terkait hari santri," ujar Rektor IAIN Jember Babun Suharto kepada SMA Negeri 1 Slawi.

Menurutnya, selain terkait hari santri instruksi berbusana ala santri tersebut juga sejalan dengan visi IAIN Jember, yaitu sebagai pusat kajian Islam Nusantara berbasis pesantren.

SMA Negeri 1 Slawi

Sambutan positif datang dari dosen IAIN Jember Halim Subahar. Pria yang juga Ketua MUI Jember ini menilai apa yang diterapkan kampusnya dalam menyambut hari santri layak diapresiasi. Ia berharap pakaian ala santri bisa diterapkan secara rutin di IAIN Jember, misalnya setiap hari Jumat.

"Saya akan senang kalau mahasiswa dan dosen diminta terus berbusana santri. Pakai sarung ini sangat rileks. Justru kalau pakai celana panjang malah terkekang," canda Halim. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Tegal, Halaqoh, Humor Islam SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional

Kudus, SMA Negeri 1 Slawi. Masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi pendidikan sejak sebelum nama Indonesia datang, salah satunya pesantren yang kini justru tak diakui sebagai sistem pendidikan formal ala pemerintah. Menurut KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), kondisi ini merupakan buah dari penjajahan yang sudah berlangsung sejak lama.

“Konsep pendidikan kita ini dikaburkan pertama kali oleh kolonialis Barat. Bukan hanya menjajah rakyatnya saja tapi juga menginjak-injak sistem pendidikan kita. Belanda itu memisahkan ilmu menjadi dua, ilmu umum dan ilmu agama,” papar Pejabat Rais Aam PBNU ini pada Harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di Gedung JHK (5/11).

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional

Pemisahan semacam ini, kata Gus Mus, kemudian diadopsi oleh pemerintah kita. “Ilmu umum menjadi sekolah-sekolah negeri, dan ilmu agama terdapat di madrasah dan pondok pesantren. Padahal Islam tak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum,” paparnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketidaksepakatan Gus Mus dengan pendidikan nasional tertuju pada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Gus Mus pun mengkritik keberadaan toko buku yang tak menyediakan kitab, atau toko kitab yang tak menyediakan buku. Padahal antara buku dan kitab, sama-sama sumber keilmuan. “Kitab” artinya buku, dan buku jika dibahasaarabkan menjadi “kitab”.

SMA Negeri 1 Slawi

“Ada kelucuan-keluacuan yang dianggap tak lucu di negeri ini. Di toko buku kita tak bisa menjumpai kitab. Dan di toko kitab, kita tak menjumpai buku. Kitab ayah saya tak bisa dijumpai di toko buku, sedangkan buku-buku saya malah sebaliknya, tidak bisa dibeli di toko-toko kitab,” terang Gus Mus.

Sesungguhnya kolonial membangun sekolah adalah hanya untuk mendapati pegawai terdidik dengan upah yang murah. Gus Mus tentu tak sepaham dengan agenda pemerintah yang meloloskan sistem sekolah ala koloni menjadi sistem pendidikan nasional. Menurutnya, ini hanya akan mencetak dua jenis generasi yang saling bertolak belakang.

“Maka yang satu pandai soal urusan dunia namun tidak tahu agama, dan yang satu lagi pandai agamanya namun bodoh urusan dunianya. Akhirnya para ahli dunia membodohi yang ahli agama,” sesal Gus Mus.

Lebih lanjut, Gus Mus menyarankan agar nilai rapor murid tidak hanya mengedepankan pada aspek penilaian mata pelajaran umum, tapi juga agama. “Kalau pelajaran umum, biji-nya (nilainya) sangat teliti. matematika, biologi, gurunya selalu teliti. Tapi kalau tentang kelakuan, tidak perlu teliti. Biasanya satu sekolah sama nilainya, B. Sebab mau dikasih A terlalu tinggi, mau dikasih biji C kasihan. Kalau guru tahu persis kemampuan matematikanya, masak tidak tahu karakter muridnya?” keluh Gus Mus terhadap tradisi rapor di sekolah.

Menurutnya, hal ini menandakan bahwa akhlakul karimah dinilai tidak penting, sebab nilainya diabaikan tak seteliti saat guru menilai pelajaran umum. “Yang penting itu berprestasi. Pemerintah ndak butuh generasi berkahlak. Tidak berakhlakul karimah saja, orang-orang sudah bisa menjadi anggota DPR. Pemerintah tidak butuh orang ahli agama, orang yang berakhlakul karimah. Sampai lirik lagu ‘itulah tandanya murid yang budiman, diganti itulah tandanya murid berprestasi’,” sindir Gus Mus pada dunia pendidikan kita. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Humor Islam, Syariah, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah

Malang, SMA Negeri 1 Slawi. Selama bulan Ramadhan 1434 H ini, Pondok Pesantren An-Nahdliyah Kepuharjo Karangploso Malang, Jawa Timur menggelar pasaran (ngaji kilat). Dari 5 kitab yang dikaji, 2 diantaranya penguatan Aswaja An-Nahdliyah.?

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Anti-Wahabi Dikaji di Pesantren An-Nahdliyah

Dua kitab penguatan Aswaja adalah Al-Masa’il fi al-Radd ‘ala Aqwaali al-Wahabiyyah (Permasalahan-permasalahan dalam menolak pendapat-pendapat kaum Wahabi) dan Ahlussunnah wa Khashaisuhum wa Ahlul Bid’ah (Ciri Khas Ahlissunnah Wal Jamaah dan ciri-ciri Ahlil Bid’ah).?

Selain itu dikaji pula kitab Al Masaa’il Fi Al-Ihdzaar ‘ala Hizbi Al-Tahrir (pokok-pokok masalah mengapa harus berhati-hati, menjaga jarak, dengan Hizbu Tahrir); Asraaru Al-Shalah (Rahasia-rahasia Shalat); dan Innama Ya’muru Masaajida Allahi (hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah).

SMA Negeri 1 Slawi

Kelima kitab tersebut disusun KH Ahmad Yasin bin Asmuni dari Ponpes Hidayatut Thullab, Desa Petuk Semen Kediri Jawa Timur. Kitab-kitab tersebut akan dibacakan beberapa ustadz di Pondok Pesantren yang diasuh KH Moh Mansur, Rais PCNU Kabupaten Malang.

Kegiatan rutin Pesantren An-Nahdliyah tersebut, selain diikuti para santri yang dari dalam pesantren, juga menerima santri dari luar.?

SMA Negeri 1 Slawi

Pengajian akan dilaksanakan mulai hari Rabu, 17 Juli 2013 sampai 31 Juli 2013. Pengajian kilatan dilaksanakan dalam dua sesi setiap harinya, yakni ba’da jamaah Shalat dhuhur dan ba’da jamaah Shalat Ashar.

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor: Ahmad Nur Kholis?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Amalan SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 14 Desember 2017

Metode Telaah Hadis Palsu untuk Telusuri dan Cegah ‘Hoax’

Tangsel, SMA Negeri 1 Slawi?

Sebagai rangkaian penutup haul ke-1 KH Ali Mustafa Yaqub, mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasantri Nabawi mengadakan diskusi dan peluncuran Majalah Nabawi edisi 116 yang bertajuk Hadis dan Hoax di Masjid Muniroh Salamah Pesantren Darus-Sunnah, Ahad (16/04).?

Acara ini mengundang Juman Rofarif, editor di Penerbit Zaman Jakarta, serta Dr H Shofin Sugito, Wakil Direktur Darus-Sunnah.

Metode Telaah Hadis Palsu untuk Telusuri dan Cegah ‘Hoax’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Metode Telaah Hadis Palsu untuk Telusuri dan Cegah ‘Hoax’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Metode Telaah Hadis Palsu untuk Telusuri dan Cegah ‘Hoax’

Dalam pernyataannya, Juman Rofarif yang juga alumni Pesantren Darus-Sunnah ini menyatakan bahwa salah satu hal yang penting terkait kabar palsu yang beredar saat ini adalah bagaimana menelusuri motif dan ciri-cirinya. Juman menyebutkan, kabar palsu, sudah menjadi fokus para ulama hadits pada masa awal kodifikasi.?

“Dahulu, ilmu hadits adalah satu alat untuk melawan fitnah yang merebak akibat hadits-hadits palsu. Jadi kabar hoax yang bertebaran hari ini pun adalah fitnah yang memiliki kemiripan konteks dengan persebaran hadits-hadits maudlu’, hadits yang palsu,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk kemunculan hadits palsu didasari oleh sekian motif, yaitu motif politik, ekonomi, menjilat penguasa, mencari popularitas, bahkan urusan motivasi ibadah. Hadits yang dipandang sakral pun dipalsukan melalui berbagai cara, baik memoles teks matan hadits atau memalsukan nama-nama pada rantai sanad hadits.?

SMA Negeri 1 Slawi

“Hal ini sudah dimulai sejak masa terbunuhnya Sayyidina Utsman bin Affan, dan merebaknya fitnah ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib menjabat, sebagaimana diungkapkan oleh ulama hadis Muhammad bin Sirin,” terang Juman.

“Semua kabar yang kita baca, khususnya di media sosial, harus dianggap hoax sampai terklarifikasi dan teruji kebenarannya,” ujar Juman. Untuk mendeteksi itu, ada tiga hal bisa dijadikan pegangan dan bisa dikaitkan dengan kabar palsu dewasa ini. Pertama, pengakuan sang pemalsu kabar baik secara langsung dari komentar pakar lainnya. Kedua, isi kabar yang terlalu indah atau terlalu menjatuhkan tanpa disertai data-data, terlebih disertai polesan kalimat yang memantik emosi. Kemudian ketiga, adanya pengakuan validitas dari orang atau kelompok yang dipandang memiliki otoritas atas hal tersebut. Menurut Juman, hal ini serupa dengan bagaimana cara untuk menelusuri sumber-sumber hadits palsu.

Pembicara selanjutnya, Shofin Sugito, menyatakan bahwa pada dasarnya meski menurutnya definisi hoax belum bisa disepakati, namun kabar palsu harus selalu dicurigai tujuan-tujuan di baliknya. “Kabar palsu itu bisa berdampak baik atau buruk. Namun bagaimanapun, kabar palsu ini adalah hal yang dipegang dari dua hal sesuai ayat dalam surat Al Hujurat: yaitu ketika seorang fasiq datang membawa berita, maka carilah penjelasan,” sebut doktor alumni Universitas Sidi Mohammed bin Abdellah Maroko ini.

Acara ini dibuka oleh Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah, H Zia Ul Haramein, serta dihadiri oleh mahasiswa UIN Jakarta, PTIQ, IIQ, serta pesantren-pesantren mahasiswa di sekitar daerah Ciputat, Tangerang Selatan. (M Iqbal Syauqi/Mukafi Niam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi. Terkait tragedi Mina, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta keluarga jamaah haji untuk tidak memercayai informasi selain rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag) dan sumber berita korban Mina. Pasalanya, Hasan menambahkan, validitas informasi yang beredar diragukan.

Demikian disampaikan Hasan kepada sejumlah wartawan usai pulang dari melaksanakan ibadah haji, Selasa (29/9). “Saya saja yang ada di sana tidak tahu kronologis pasti kejadian itu. Karena itu, meskipun ada teman yang telepon, sms atau BBM tanya kondisi di sana tidak saya jawab. Karena saya tidak tahu persis, kalau tidak tahu persis kemudian bercerita maka khawatir keliru,” ujarnya.

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Informasi terkait kejadian Mina itu baru dia dapatkan dari sumber berita korban Mina, Saiful Bahri. Di mana anggotanya banyak yang menjadi korban.

SMA Negeri 1 Slawi

“Di Bandara Jeddah saya bertemu dengan pimpinan Komisi VIII yang bertindak sebagai pengawas haji. Mereka menyampaikan akan segera menggelar RDP (Rapat Dengan Pendapat) begitu jamaah haji pulang ke Indonesia,” katanya.

Tidak hanya itu, dalam RDP itu Hasan juga diminta untuk mengajak serta Saiful. Sebab, Komisi VIII ingin mengetahui kondisi yang ada di sana versi Saiful yang juga sebagai korban. Apalagi dirinya mengaku sudah berbicara dengan Saiful usai melaksanakan rukun haji dan mengetahui kondisi sebenarnya saat tragedi itu terjadi.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Hasan, saat itu seluruh jamaah di kloter 48 berangkat ke Mina melalui jalur yang semestinya. Tetapi sampai di pertigaan, askar meminta untuk berbelok. Pengalihan itulah yang membuat tragedi itu terjadi. Saiful mengaku sudah melayangkan protes pada askar, namun tidak dihiraukan.

Saat itulah tragedi terjadi. Mulanya, ada 3 kursi roda yang seharusnya memuat orang ternyata memuat barang. Kursi roda itu macet dan ada mobil berhenti. Sehingga, banyak jamaah yang terhalang untuk lewat.

Di tengah padatnya manusia dan cuaca yang cukup terik, banyak jamaah yang panik dan ingin segera sampai. “Saat itu gelombang manusia menurut Saiful seperti ombak. Semuanya histeris, apalagi banyak yang kehausan gara-gara cuaca yang terik. Semuanya berteriak dan minta tolong, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan,” jelasnya.

Di kanan dan kiri jalur tersebut terdapat maktab jamaah dari negara lain. Sebagian jamaah yang selamat karena memanjat pagar. Anehnya, tidak satupun orang yang membuka pintu pagar di kanan dan kiri.

“Seandainya pagar dibuka, munngkin bisa mengurai kepadatan jamaah. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan, apa alasan askar mengalihkan jalur jamaah,” terangnya.

Oleh karena itu, Hasan berharap pemimpin-pemimpin negara yang mengirimkan jamaah untuk mendesak Arab Saudi menjelaskan alasan askar tersebut. Sehingga ke depan manajemen tata kelola haji bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian, jamaah bisa beribadah dengan khusyuk. “Solusinya perlu keterlibatan dari Negara-negara Islam dalam rangka perbaikan pelayanan ibadah haji di Arab Saudi,” tegasnya.

Hasan juga meminta agar masyarakat tidak saling menyalahkan supaya bisa menyejukkan. “Sekali lagi, jangan percaya sms dari siapapun yang tidak tahu persoalannya. Saya berani bicara karena tahu dari sumber berita yang juga menjadi korban,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ubudiyah, Amalan, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Jombang,SMA Negeri 1 Slawi. SMA Darul Ulum Pesantren Rejoso Jombang kembali menggelar (SSO) Science Sosial and Olympiads ke XVI tahun 2015 untuk pelajar SMP sederajat se-Indonesia. Kegiatan yang diikuti sebanyak 814 group tersebut ditutup langsung Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi.

"Seharusnya kegiatan SSO ini bisa menjadi agenda Nasional. Dan insyaallah akan segera kami sampaikan kepada rekan rekan terutama Menteri Pendidikan dan Menteri Ristek Dikti, agar gelaran SSO menjadi gelaran nasional," ujarnya saat menutup kegiatan, Ahad (23/8).

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Imam Nahrowi menambahkan, pemerintah punya fasilitas yang sangat memungkinkan untuk memnfasilitasi kegiataan SSO ini. “Sehingga bisa inspirasi dan motifasi bagi siswa siswa SMP dan juga semangat para anak muda kita untuk mengasah kemampuan terbaiknya," imbuhnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menteri juga berpesan kepada pelajar SMA DU2 Unggulan yang juga santri Pesantren Rejoso ini agar dalam menimba ilmu tetap patuh kepada para guru dan kiai. "Sebagai pelajar dan santri harus tetap takdiman wa takriman kepada kiai, guru dan dosen. Yang lebih penting adalah kepada orang tua agar ilmunya bermanfaat," pintanya mengingatkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu dalam pelaksanaan SSO kemarin, diikuti sekitar 817 tim dengan rincian 505 tim Science dan 313 tim sosial. Meski dilaksanakan di SMA milik Pesantren Darul ulum Peterongan Jombang, peserta juga banyak dari nonmuslim.

"Mohon tidak heran dan kaget, meski di pesantren pesertanya ada yang tidak berjilbab. Karena kami tidak membatasi peserta latar belakang apa, muslim atau nonmuslim yang terpenting mereka sekolah SMP atau sederajat silakan ikut di SSO ini," kata KH Zaimuddin W Asad salah satu Majelis pengasuh Pesantren seraya mengatakan pihaknya sudah mengajarkan Islam Nusantara terlihat dari pesertanya juga banyak yang non muslim.

Kepala Sekolah SMA Darul Ulum 2 Kaseri mengatakan, SSO adalah murni kreativitas dari anak-anak SMA Darul Ulum 2 Peterongan. Mulai dari izin pelaksanaan menembus sulitnya demokrasi pemerintah hingga grand final untuk menjaring bibit muda berpotensi menjadi generasi emas Indonesia guna memimpin bangsa di masa yang akan datang.

"SSO ini adalah yang ke 16 yang merupakan tahun ke-4 yang dilaksanakan secara online. Kita berharap dukungan pemerintah agar kegiatan ini bisa menjadi kegiatan nasional," ujarnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 05 Desember 2017

Tingkatkan Kapasitas Kader Ansor dengan Gerakan Bulanan

Way Kanan, SMA Negeri 1 Slawi

Silaturahim unsur pimpinan cabang dan pimpinan anak cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan, Lampung di Blambangan Umpu, Jumat (15/7) memutuskan evaluasi program dan gerakan bakal dilakukan ke depan melalui Rapat Kerja Cabang (Rakercab).

Tingkatkan Kapasitas Kader Ansor dengan Gerakan Bulanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kapasitas Kader Ansor dengan Gerakan Bulanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kapasitas Kader Ansor dengan Gerakan Bulanan

"Ujung tombak pimpinan cabang adalah pimpinan anak cabang, karena itu wajib didorong tumbuh dan kuat melalui program-program positif untuk membuktikan kader Ansor memang kompeten dan mempunyai ketangguhan menghadapi persoalan di masyarakat," kata Ketua PC Ansor Way Kanan Gatot Arifianto.

Supaya Rakercab tidak bertele-tele, maka setiap pimpinan anak cabang diharuskan membawa dua rumusan program yang akan dilakukan per enam bulan sekali.

SMA Negeri 1 Slawi

"Misal PAC Negara Batin program pertama jatuh pada Maret, maka program selanjutnya dilakukan enam bulan ke depan, lalu PAC lain di bulan berikutnya, begitu seterusnya sehingga setiap bulan, dalam setahun Ansor di Way Kanan ini ada kegiatan," ujar Ketua Bidang Media dan Publikasi DPP Sarbumusi NU itu pula.

Gatot melanjutkan, kaderisasi tanpa mempersiapkan regenerasi dan upaya peningkatan kapasitas bagi kader adalah hal sia-sia. "Rumusan program sebaiknya bermanfaat, baik untuk internal (organisasi) dan eksternal (masyarakat/pemerintah). Namun demikian, program itu terpisah dari gerakan ekonomi yang harus pula dimiliki setiap PAC," paparnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kabupaten Way Kanan memiliki 14 kecamatan, dari jumlah itu, ada enam kepengurusan PAC yang perlu dievaluasi dan didampingi, yakni Blambangan Umpu, Negeri Besar, Bumi Agung, Buay Bahuga, Bahuga dan Gunung Labuhan.

Pada silaturahim dihadiri Dewan Penasehat Darul Hafiz, Wakil Ketua Refki Dharmawan, Heri Amanudin, Hasyim Asyari, Bendahara Abdullah Candra Kurniawan, Wakil Sekretaris Pebri, Kasatkorcab Alex Almukmin dan anggota Banser serta sejumlah Ketua PAC Ansor, Kecamatan Pakuan Ratu Bakti Gozali, Negara Batin Hozin Munir, Banjit Yudi Hutri Winata, Rebang Tangkas Arif Makhfudin, Kasui Hendri Purwadi, diputuskan pimpinan cabang akan melakukan pendampingan dan melakukan evaluasi terhadap enam PAC tersebut, targetnya rampung pada 24 Juli sebelum Rakercab yang akan digelar 27 Juli 2016 di Pesantren Darul Hikmah asuhan KH Supandi di Taman Asri, Baradatu.

Koordinator pendampingan Rebang Tangkas, Banjit dan Kasui Pebri. Untuk Blambangan Umpu dan Negeri Agung Abdullah Candra, lalu Way Tuba, Buay Bahuga, Bahuga dan Bumi Agung Hasyim Asyari. Kemudian untuk Baradatu dan Gunung Labuhan sahabat Basuki Rahmat dibantu Supri Iswan. Adapun untuk Negeri Besar, Negara Batin dan Pakuan Ratu Alex Almukmin dibantu Bakti Gozali.

"Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat kiprah Gerakan Pemuda Ansor di Way Kanan," imbuh Heri Amanudin. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Lomba, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock