Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Mantan wakil presiden RI Try Sutrisno mengingatkan para pelaku politik negeri ini untuk kembali kepada sistem yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Keberhasilan dalam menata sistem politik tidak bisa diukur dengan standar sistem yang ada di negara lain.

“Kita harus punya sistem sendiri, baik fisik maupun non fisik; bahkan tidak perlu mencontoh karena kita punya Pancasila,” katanya dalam diskusi bertajuk “Amandemen UUD 45 dalam Dimensi Sosial, Ekonomi Politik” di kantor PBNU, Kamis (19/7).</p> Dikatakannya, praktek komunisme di Indonesia terbukti tidak bisa bertahan dalam suasana kebatinan banga Indonesia. Alih-alih memperbaiki tata kenegaraan Indonesia, faham asing itu justru mengganggu stabilitas negara.

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

”Kita tidak belajar dari masa lalu. Sistem liberal pun pada akhirnya bertemu dengan komunis, sama-sama mempertanyakan keberadaan Tuhan,” katanya.

Sejak berakhirnya Orde Baru dan dimulainya era reformasi, tatanan politik Indonesia cenderung mengarah kepada sistem politik yang liberal. Itu pun dengan model yang sangat bebas dan terbuka dari intervensi asing.

”Pada umumnya negara-negara maju tidak sebebas di Indonesia. Di sini partai politik terlalu bebas. Pemerintahan menjadi tidak efektif,” katanya.

Sementara amandemen UUD 1945, kata Try, cenderung acuh terhadap aspek pertahanan dan keamanan. Padahal ancaman pertahanan dan keamanan datang dari berbagai lini kehidupan berbangsa, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri.

SMA Negeri 1 Slawi

”Sekarang aspek pertahanan dan keamanan tidak seperti yang dibanggakan dulu. Narkotika bisa bebas beredar. Ada terorisme, gerakan sparatis dan lain-lainnya yang mengancam NKRI dan UUD 45,” katanya.(nam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Nahdlatul Ulama, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Maret 2018

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

SMA Negeri 1 Slawi

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.?

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan “Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.”

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Budaya, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 25 Februari 2018

Konferwil PWNU Jabar Diawali Istighotsah, Dibuka Ketum PBNU

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi?



Konferensi Wilayah ke-17 PWNU Jawa Barat akan dimulai dengan istighotsah para kiai dan peserta konferensi pada Senin malam (10/10) di Pondok Pesantren Fauzan, Kabupaten Garut. Kemudian keesokan harinya, Selasa (11/10) konferensi akan dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.?

Menurut salah seorang panitia Konferwil, Dasuki Qs, pada istighotsah tersebut akan disertakan doa kepada para korban musibah yang menimpa Garut dan Sumedang belum lama ini.

Konferwil PWNU Jabar Diawali Istighotsah, Dibuka Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil PWNU Jabar Diawali Istighotsah, Dibuka Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil PWNU Jabar Diawali Istighotsah, Dibuka Ketum PBNU

“Senin siang registrasi sampai malam. Kemudian istighotsah dan malam amal,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi ketika dihubung dari Jakarta, Sabtu (8/10).

Ia menambahkan, konferwil bertema “Meneguhkan Khidmah Jamiyah ? untuk Umat dan Bangsa” ini akan dihadiri 27 perwakilan PCNU dan satu karteker dan para peninjau. “Salah satu agendanya, akan menentukan pemimpin NU Jabar lima tahun mendatang,” katanya. ? (Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 18 Februari 2018

NU, Nasionalisme dan Politik

Oleh Abdurrahman Wahid. Kenyataan politik di bawah kolonialisme Belanda menyadarkan aktivis gerakan Islam dan gerakan nasionalis sebelum masa kemerdekaan. Dari kesadaran itulah lahir berbagai gerakan Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Walaupun ‘berbaju’ gerakan kultural, tapi lingkup pembahasan di kalangan mereka bersifat politis. Tidak heranlah jika para tokoh mereka juga berwajah nasionalis.

Dalam lingkungan gerakan-gerakan Islam di luar Indonesia muncul orang-orang seperti Jamaluddin al-Afghani, yang menyuarakan pentingnya arti kemerdekaan bagi kaum muslimin sendiri. Demikian juga halnya dengan berbagai gerakan Islam di negeri kita waktu itu. Apa lagi ketika H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya mengambil menantu Soekarno di tahun dua puluhan. Soekarno yang waktu itu sudah “terbakar” melihat nasib bangsa-bangsa terjajah, mulai mencari bentuk perjuangan politik untuk kemerdekaan bangsanya.

NU, Nasionalisme dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Nasionalisme dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Nasionalisme dan Politik

Memang, dalam waktu sepuluh-dua puluh tahun baru tampak hasilnya, tetapi bagaimanapun juga kiprah para pemuda itu menunjukkan arah yang jelas: menolak penjajahan dan menuntut kemerdekaan Kongres Pemuda 1928 nyata-nyata menunjukkan hal itu. Ini sekaligus merupakan pantulan hasrat kemerdekaan dari berbagai orang muda yang berasal dari berbagai daerah. Mereka mecita-citakanapa yang dikemudian dikenal sebagai Republik Indonesia. Mereka kemudian memimpin pembentukan apa yang kemudian hari dikenal dengan nama Bangsa Indonesia.

SMA Negeri 1 Slawi

Dua raksasa di lingkungan gerakan-gerakan Islam yaitu Muhammadiyah dan NU memimpin kesadaran berbangsa melalui jaringan pendidikan yang mereka buat. Walaupun Muhamadiyah merintis pendidikan yang ‘lebih banyak’ mengacu kepada hal-hal duniawi, seperti penguasaan pengetahuan umum, dan NU mengacu kepada pengetahuan agama, namun keduanya sangat dipengaruhi oleh apa yang berkembang di lingkungan gerakan nasionalis. Nasionalisme dalam arti menolak penjajahan, berarti juga pencarian jati diri sejarah masa lampau negeri sendiri.

SMA Negeri 1 Slawi

Para pemuda mendapati bahwa sejarah masa lampau kawasan ini juga menyajikan hal-hal lain di luar ideologi nasionalisme, seperti pluralitas budaya dan rasa toleransi yang tinggi antara berbagai budaya daerah. Pada waktu bersamaan, di negeri lain muncul juga orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan Sun Yat Sen.

Sejak semula lahir juga di kalangan gerakan-gerakan Islam, mereka yang tidak memperdulikan nasionalisme. Mereka hanya mengutamakan perhatian kepada masalah-masalah keislaman belaka. Mereka melihat kepada hal-hal yang penting menyangkut kehidupan kaum muslimin belaka. Cukup lama terjadi ‘pemisahan’ antara kedua pihak. Dan kedua-duanya mengambil sikap tidak memperdulikan keadaan satu sama lain. Pembelaan Bung Karno di muka Pengadilan Negeri Bandung di tahun 1931, berjudul “Indonesia menggugat” seperti hanya di baca kalangan nasionalis saja, dan tidak oleh kalangan Islam.

Dalam keadaan seperti itu, rakyat kehilangan contoh-contoh mereka yang memberikan apresiasi terhadap perjuangan yang dilakukan. Jadilah “perjuangan Islam” seolah-olah terpisah dari gerakan nasionalisme.

Hanya hubungan kekeluargaan antara H.O.S Tjokroaminoto dan KH. M. Hasjim As’yari dari Tebu Ireng, Jombang saja, yang membuat persamaan itu hampir terlihat. KH. M. Hasjim As’yari memang menyadari bahwa secara kultural, gerakan Islam dan nasionalis berbeda satu dari yang lain, tetapi dari sudut ideologi berupa kebutuhan akan kemerdekaan, kita adalah satu bangsa. Di saat-saat menentukan seperti itu, apa yang dipikirkannya itu lalu disebarkan kepada sanak keluarga terdekat, dan kemudian kepada organisasi yang dipimpinnya: NU.

Tentu saja hal ini tidak berlangsung secara mulus. Bagaimanapun juga, sikap seperti itu masih menjadi pandangan minoritas. Tampak nyata ketika pandangan integratif yang menyatukan agama dan cita-cita kemerdekaan itu dibawa ke dalam lingkungan NU. Namun, di kalangan generasi muda NU, pemikiran seperti itu sudah mulai dapat diterima dengan baik.

Dalam tahun-tahun menjelang Perang Dunia II KH. Mahfudz Sidiq umpamanya, mengemukakan prinsip perjuangan "khaira ummah” (umat yang baik), yang diambilkan dari ayat Al-Qur’an: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan antara sesama manusia, karena kalian memerintahkan yang baik dan menolak yang tidak baik (kuntum khaira ummah ukhrijat lin n?s ta’m?r?na bil-ma`r?f wa tanhauna `anil-munkar). Pendapat ini dikemukakan, ketika ia dalam usia muda menjadi Ketua NU di tahun menjelang Perang Dunia II. Istilah itu ia gunakan untuk menunjukkan pentingnya memperkuat posisi ekonomi-finansial warga NU sendiri sebagai anggota gerakan Islam. Atau dapat dikatakan prinsip tersebut guna mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang akhir-akhir ini menjadi lebih penting lagi. Jelas dari gambaran itu, bahwa kalangan muda lebih memahami konteks kebangsaan. Cukup menarik bukan.

Sumber belum terlacak, Jakarta, 18 Maret 2007

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pondok Pesantren, Anti Hoax, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Berziarah ke Ajengan Abdullah Bin Nuh, Ulama Produktif Sunda

Bogor, SMA Negeri 1 Slawi 



Para ajengan dari Bandung Barat berziarah ke makam Mama Ajengan KHR. Abdullah Bin Nuh di Pondok Pesantren Al-Ghazali, Kota Bogor, Sabtu (20/1). Para ajengan itu mendapat sambutan yang hangat dari KH Toto Mustofa Abdullah Bin Nuh,  putra Mama Ajengan Abdullah Bin Nuh beserta keluarga.

Mama Ajengan Abdullah Bin Nuh adalah seorang mahaguru ulama dari Tatar Sunda keturunan ketujuh dari Eyang Dalem Wiratanu Datar (Dalem Cikundul), Cianjur. Ia dikenal sebagai ulama produktif menulis. Lebih dari 70 buah karya tulis lahir dari pemikirannya dalam bidang fiqh, ushuludin, sejarah, sastra dan sebagainya. Sebagian karyanya telah tersebar dan menjadi rujukan di berbagai belahan dunia Islam. 

Berziarah ke Ajengan Abdullah Bin Nuh, Ulama Produktif Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Berziarah ke Ajengan Abdullah Bin Nuh, Ulama Produktif Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Berziarah ke Ajengan Abdullah Bin Nuh, Ulama Produktif Sunda

Menurut Kiai Toto, Mama Ajengan Abdullah bin Nuh merupakan seorang ulama yg teguh dan gigih dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja) sebagaimana terangkum dalam karya monumentalnya sebanyak 36 jilid Ana Muslimun, Suniyyun, Syafiiyun yang telah dicetak di Mesir. 

Sayangnya, kata dia, figur ulama kharismatik yang nasionalis sejati ini telah diselewengkan peran sejarahnya sebagai salah seorang pendiri HTI. Pihak keluarga secara tegas menolak klaim tersebut. Klaim tersebut sebagai bentuk yang tidak bertanggung jawab.

SMA Negeri 1 Slawi

Di Bandung Barat, jejak Mama Ajengan Abdullah Bin Nuh merupakan salah satu tokoh penting berdirinya Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung (P3SB) Cililin tahun 1970 bersama Kiai Mayor Makmun dan Kiai Supardan.

Mulai 10 Februari 2018, rencananya karya-karya intelektual ulama Sunda kelas Internasional ini akan secara rutin dikaji bersama ajengan-ajengan Bandung Barat dipandu langsung oleh putranya KH Toto Mustofa Abdullah Bin Nuh.

Selain jamuan yang sempurna dari keluarga Mama Ajengan, para peziarah diberikan oleh-oleh tiga buah buku karya Mama Ajengan tersebut, yaitu Ana Muslimun Suniyyun Syafiiyun jilid 1, Islam dan Materialisme dan Mencintai Keluarga Nabi. (Edi Rusyandi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Ahlussunnah SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

NU Setia Menjaga NKRI

Nusantara sebagai sebuah kesatuan geografis, kesatuan budaya, kesatuan politik dan kesatuan ekonomi terbentuk melalui proses berabad-abad, setidaknya mulai wangsa Sanjaya Mataram, Sriwijaya yang terus berkembang zaman Kahuripan, Daha, Singasari, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram Baru hingga Republik Indonesia saat ini. Kehadiran penjajah Spanyol, Belanda, Inggris, selama ratusan tahun itu gagal memecah-belah kesatuan yang telah kokoh itu.

Ketika Indonesia merdeka kesatuan itu segera dikukuhkan kembali sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Sebagaimana disebutkan di depan bahwa kesatuan Indonesia ini bukan sesuatu yang sekali jadi melainkan terus berkembang dalam proses, karena itulah kesatuan NKRI dan keutuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara harus dijaga dan dipertahankan. Tidak sedikit kelompok yang dengan menawarkan ideologi tertentu mencoba untuk menolak Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan, dan berusaha memecah belah sebagai serta berusaha memutus pengikatnya yaitu Pancasila sebagai ideologi negara.

NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setia Menjaga NKRI

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan. Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara dan dari situlah 88 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan, karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Dengan tidak diubahnya konsep NKRI dan Pancasila tersebut tidak dengan sendirinya NKRI tetap ada dan lestari. Secara geografis sejak reformasi hingga sekarang memang masih utuh, maraknya gerakan separatisme beberapa waktu yang lalau tidak mampu memecah kesatuan geografis negeri ini. Tetapi apabila ditinjau dari segi kesatuan politik, dengan diterapkannya otonomi yang tanpa batas, kesatuan Indonesia sebagai kesatuan politik mulai pudar. Mulai banyak pejabat daerah yang tidak setia pada pemerintah di atasnya atau bahkan pemerintah pusat.

SMA Negeri 1 Slawi

Dilihat dari sudut pertahanan (militer), nampaknya integritas NKRI juga sudah mulai mengendor, terbukti dengan terjadinya pelanggaran wilayah oleh pasukan asing yang tidak sepenuhnya bisa diatasi oleh tentara Indonesia. Sementara, setiap upaya peningkatan sistem pertahanan selalu mendapat serangan dari kelompok tertentu dari bangsa sendiri, sehingga kedaulatan Republik ini dengan mudah diganggu dan dinodai masuknya kekuatan asing yang ingin memecah belah negeri ini.

Dari segi kesatuan ekonomi, sejak dilakukan liberalisasi perdagangan, dengan dibebaskannya investasi asing masuk ke seluruh sektor strategis, maka bisa dilihat bahwa saat ini ekonomi nasional tidak lagi di bawah kendali bangsa sendiri, melainkan telah dikuasai asing. Mulai dari sektor pertambangan, sektor perbankan, sektor pertanian, sektor industri, sektor properti, telekomunikasi, yang penguasaan asing rata-rata di atas 50%, bahkan terakhir di sektor bandara yang bisa mencapai 100 persen. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat tajam yang belum pernah terjadi di Indonesia ini selama ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Kemudian di sektor kebudayaan, pengaruh asing mulai menerobos hingga ke sektor privat, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sementara informasi dari dunia internasional yang dikendalikan oleh kapitalisme global yang berpandangan hidup liberal, tetaplah begitu jauh mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tindakan masyarakat negeri ini. Dengan demikian nilai-nilai agama budaya dan tradisi, termasuk nilai-nilai Pancasila akan sulit diterapkan. Karena propaganda liberal disebarkan sedemikian gencar dengan peralatan teknologi dan strategi yang sangat canggih.

Inilah yang menjadi keprihatinan NU dan yang menjadi tekad NU untuk selalu setia menjaga keutuhan NKRI di saat pihak lain banyak yang mulai meragukan pentingnya NKRI. Karena itu bersamaan dengan peringatan Hari Lahir NU yang ke-88 tahun 2014 ini, NU berikrar bahkan bertekad bahwa keutuhan NKRI dan kejayaan Pancasila harus dijaga. Keutuhan NKRI harus tetap dijaga, tidak hanya secara geografis, tetapi secara politik, ekonomi dan budaya ini Indonesia kembali menjadi negara yang berdaulat, sebagaimana yang diperjuangkan para ulama NU terdahulu bersama elemen bangsa lainnya.

Untuk menjaga keutuhan NKRI ini sarana yang paling tepat adalah Pancasila, karena Pancasila dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, merupakan tali pengikat keragaman bangsa ini. Kemampuan Pancasila dalam merekat keutuhan bangsa ini telah terbukti selama bertahun-tahun. Maka NU tidak mau ambil risiko dengan adanya kelompok lain? yang ingin mengganti Pancasila, sebab tanpa Pancasila NKRI tidak akan bisa dipertahankan.

Sebagaimana NKRI, saat ini Pancasila secara formal memang masih ada, tetapi harap diketahui, Pancasila oleh liberalisme tidak lagi dijadikan sumber nilai, baik dalam merumuskan undang-undang, dalam menentukan kebijakan politik, termasuk dalam kebijakan ekonomi dan kebudayaan. Semuanya mengacu pada berbagai konvensi internasional yang berfalsafah liberal yang jauh dari nilai agama dan tradisi.

Bagi NU membela NKRI dan Pancasila merupakan keharusan politik, untuk menjaga kesatuan dan kedamaian negeri ini. Dan sekaligus merupakan kewajiban syar’i, karena membela negara wajib hukumnya menurut agama.? Sebagaimana diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila bagi umat Islam Indonesia sama dengan menjalankan syariat Islam. Sebagai konsekwensinya NU berkewajiban menjaga dan mengamankan Pancasila.

Komitmen atau kesetiaan ini perlu terus ditegaskan sehingga ketika NU genap berusia satu abad tahun 2026 nanti, sekitar 12 tahun lagi, kita berharap NKRI tetap utuh dan Pancasila tetap jaya. Penegasan ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya untuk pada Nahdliyin, tetapi untuk bangsa secara keseluruhan dan bahkan untuk sekalian umat manusia. Karena itu berangkat dari Harlah NU yang 88 ini, tekad dan kesetiaan tersebut kita ikrarkan, di tengah Indonesia dengan NKRI dan Pancasila sedang menghadapi tantangan.

?

KH Said Aqil Siroj

Ketua Umum PBNU

?

* Disampaikan dalam acara peringatan hari lahir atau Harlah ke-88 NU di Jakarta, 31 Januari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pertandingan, Doa, Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

Santri Situbondo Terbitkan Buku Sukses Bisnis Via Internet

Situbondo, SMA Negeri 1 Slawi. Rahmat Saputra, santri di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang juga motivator bisnis, menerbitakan buku tentang strategi sukses berbisnis lewat internet.

Santri Situbondo Terbitkan Buku Sukses Bisnis Via Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Situbondo Terbitkan Buku Sukses Bisnis Via Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Situbondo Terbitkan Buku Sukses Bisnis Via Internet

"Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja, termasuk yang baru mulai mau belajar berbisnis. Isinya sangat praktis, yakni 30 persen teori dan 70 persen praktik," ujar Rahmat Saputra di Situbondo, Senin.

Pria kelahiran Aceh yang mengenyam pendidikan di Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukrejo, Situbondo, yang didirikan oleh ulama tekemuka KH Asad Syamsul Arifin ini mengemukakan bahwa bukunya berisi tentang bagaimana menjual produk lewat internet.

SMA Negeri 1 Slawi

Pendiri komunitas Internet Cerdas Indonesia (ICI) yang sebelumnya telah menerbitkan tiga buku mengenai bisnis ini menjelaskan bahwa pemasaran merupakan ilmu yang sangat penting dalam dunia bisnis.

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya pernah melihat seorang ibu yang sangat kreatif menciptakan produk-produk kerajinan tangan yang indah dari sampah daur ulang. Produk itu sangat disukai oleh pelajar-pelajar di sekitar rumahnya. Kelemahannya adalah ibu tersebut hanya mampu memasarkan produk itu di sekitar rumahnya," kata penerima penghargaan sebagai satu dari 100 pemuda pembawa perubahan di Indonesia dari "Indonesian Young Changemaker Summit" (IYCS) ini.

Ia melanjutkan bahwa ibu tersebut kemudian menutup usahanya ketika permintaan semakin mengecil karena wilayah pemasarannya yang terbatas. Padahal produk si ibu tersebut sebetulnya memiliki pasar yang sangat luas jika ia menguasai ilmu mengenai pemasaran dengan baik.

Sementara di tempat lain, kata dia, banyak perusahaan yang hampir semua orang mengenal produknya, padahal produk itu belum tentu lebih bagus dari produk lainnya. Hal itu terjadi karena perusahaan tersebut menguasai strategi pemasaran.

Di buku berjudul "Revolusi Bisnis Internet; 3 Langkah dan 7 Strategi Sukses dan Kaya dari Internet" ini, Rahmat membagikan ilmunya bagaimana memasarkan produk lewat media online sehingga penyebarannya menjadi sangat luas karena dapat diakses oleh pasar di berbagai belahan dunia.

Salah satu pengurus Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jatim ini mengemukakan bahwa di Indonesia saat ini sangat banyak produk atau jasa yang dihasilkan oleh masyarakat, namun persoalannya adalah mereka tidak bisa menjual.

"Hal ini berbeda dengan negara lain, seperti Singapura yang sangat kecil dan bahkan mereka tidak memiliki produk sendiri. Kita menjual produk dengan kualitas rendah ke Singapura, lalu mereka menjual produk tersebut dengan nilai tinggi ke negara-negara lainnya," katanya.

Ia berharap lewat bukunya ini akan banyak lahir wiraswastawan baru di negeri ini. Dengan demikian, maka hal itu akan mengurangi pengangguran dan pada akhirnya akan membuka banyak lapangan kerja. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock