Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Santri Futuhiyyah Ikrar Antinarkoba dan Gelar Pengobatan Gratis

Demak, NU Online . Ratusan santri Suburan, Mranggen, Demak, menyatakan ikrar antinarkoba, antiminuman keras dan antiajaran yang berbau radikal. Hal itu dilakukan setelah mereka mendapatkan pembinaan dan pengarahan dalam diskusi bertema ”Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba” di aula pondok pesantren Futuhiyyah. Seharian, para pelajar mendapat pembekalan materi dari Kepala RSI NU Demak dokter Abdul Aziz.

Santri Futuhiyyah Ikrar Antinarkoba dan Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Futuhiyyah Ikrar Antinarkoba dan Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Futuhiyyah Ikrar Antinarkoba dan Gelar Pengobatan Gratis

Pembicara lainnya yaitu dokter Imam Purwohadi dan Siti Khoirul Umiyati. ”Kami senang mendapat pengarahan secara jelas bahaya penyalahgunaan narkoba, dan ternyata mengerikan,” kata Ahmad salah satu pelajar yang mengikuti acara itu pada kegiatan Kamis (27/10).

Ketua Yayasan Futuhiyyah, KH Said Lafif berpesan agar generasi muda, khususnya pelajar dan alumni Futuhiyyah tidak mencicipi dan coba-coba narkoba, minuman keras dan obat-obatan lain yang bersifat adiktif.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengobatan Gratis

SMA Negeri 1 Slawi

”Obat-obatan itu semuanya mengakibatkan ketergantungan atau kecanduan. Maka, jangan sampai santri atau pelajar Futuhiyyah mencobanya,” kata Ustadz Lafif.

Ketua Panitia Expo 115 Tahun Futuhiyyah, Faizurrohman Hanif menjelaskan, rangkaian kegiatan penyuluhan antinarkoba, pengobatan gratis dan khitan massal merupakan kerja sama RSI NU Demak dengan Pesantren Futuhiyyah dalam rangka Expo Futuhiyyah Refleksi 115 tahun Kiprah Untuk Bangsa.

”Kebetulan Kepala RSI NU Demak juga alumnus Futuhiyyah,” katanya sambil tertawa.

Khusus untuk Pengobatan gratis dan khitanan massal, Abdul Aziz menjelaskan, pihaknya mengerahkan tim beranggotakan 30 orang dilengkapi dua apoteker dan tujuh petugas medis dan perawat. Masyarakat di sekitar Kampung Suburan Mranggen tak menyianyiakan kesempatan itu. Mereka ramai-ramai mendatangi tempat pengobatan gratis yang ditempatkan tepat di halaman pondok pesantren tersebut.

Terjadi antrean panjang para pengunjung yang ingin berobat secara gratis. Adapun, khitanan massal diikuti 42 anak. Selain memberikan pengobatan gratis, tim RSI NU Demak juga menyampaikan penyuluhan dan konsultasi kesehatan.

”Mereka diajari bagaimana hidup sehat,” kata Aziz. (Ben Zabidy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Pemurnian Aqidah, IMNU SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 26 Februari 2018

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi - Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di Jawa Timur kembali berkonsolidasi dalam rangka peneguhan eksistensi sekaligus memaparkan komitmennya dalam menciptakan kualitas perguruan tinggi di kancah regional dan global.

Forum dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Timur, Selasa (20/9), di aula Salsabila Gedung PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Akbar Timur 9 Surabaya.

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Hadir dalam diskusi ini para pimpinan dan dosen PTNU Jawa Timur, PWLPTNU Jawa Timur serta perwakilan Jurusan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang baru saja divisitasi oleh Asesor AUN-QA (ASEAN University Network – Quality Assurance).

SMA Negeri 1 Slawi

AUN-QA adalah program sertifikasi penjaminan mutu skala global yang digagas oleh asosiasi perguruan tinggi. AUN sendiri berkantor pusat di Thailand, dengan anggota perguruan tinggi dan asesor dari berbagai kampus di negara-negara ASEAN.

SMA Negeri 1 Slawi

“Di dunia ini, setidaknya ada tiga ‘madzhab’ atau aliran dalam akreditasi perguruan tinggi, yang pertama Dublin Accord; kedua, Washington Accord; dan ketiga, Sidney Accord,” kata Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS Dr. Ardyono Priadi mengawali diskusi.

Dublin Accord adalah sertifikasi perguruan tinggi yang banyak bergerak pada bidang vokasi, Washington Accord menekankan bagaimana capaian lulusan pembelajaran (learning outcomes) dari lembaga pendidikan tinggi, sedangkan Sidney Accord lebih pada bagaimana kompetensi dari lulusannya.

“Di Indonesia tampaknya ada pergeseran dari madzhab kompetensi ke madzhab learning outcomes,” papar Ardyono.

Sebagaimana diketahui, beberapa dekade terakhir di era global ini perguruan tinggi dunia memacu diri dengan membuat sistem penjaminan mutu tata kelola dan hasilnya. Sebut saja ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology), perkumpulan perguruan tinggi Islam dunia (ISESCO/Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization), hingga ASEAN University Network ini.

Pada penilaian sertifikasi AUN-QA, ada 15 kriteria penilaian yaitu: Expected learning outcomes, programm specification, programm structure and content, teaching and learning strategy, student assessment,? academic staff quality, support staff quality, student quality, student advice and support, facilities and infrastructure, quality assurance of teaching and learning process, staff development activities, stakeholders feedback, output dan stakeholders satisfaction.

Menurut Setiyo Gunawan, Sekjur Teknil Kimia ITS, para asesor AUN-QA cukup detail dalam memverifikasi bukti-bukti fisik dari proses-proses yang sudah dikerjakan, mulai dari proses penyusunan kurikulum, proses pembelajaran, hingga umpan balik para pemangku kepentingan dan pengguna lulusan.

Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS Agus Zainal Arifin yang turut hadir dalam diskusi ini menambahkan, sertifikasi AUN-QA memang lebih mengkroscek dari segi proses. Dengan proses yang bermutu maka tentu akan menghasilkan output yang bermutu pula.

Yusuf Amrozi, sekretaris LPTNU Jawa Timur mengatakan, bukan tidak mungkin PTNU di Indonesia tersertifikasi secara global. Tinggal bagaimana PTNU kita ini memacu komitmen masing-masing untuk menumbuhkan budaya mutu. Sehingga jika budaya mutu telah terbentuk, maka tinggal mengikuti template yang diminta oleh lembaga akreditasi atau sertifikasi internasional tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 22 Februari 2018

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus

Temanggung, SMA Negeri 1 Slawi - Satuan Komando Cabang (Satkorcab) Banser X-22 Kabupaten Temanggung mengadakan Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Tanggap Bencana (Bagana) dan Banser Lalu Lintas (Balalin) di Desa Kundisari Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Sepanjang Jumat-Ahad (6-8/5), mereka dipersiapkan untuk menangani masalah bencana dan lalu lintas.

Kegiatan dengan tema Mengabdi Untuk Negeri Membentuk Kader Pemuda Yang Ikhlas, Tangkas, dan Cerdas ini diikuti oleh seratus peserta yang terdiri dari 60 peserta Diklatsus Bagana dan 40 peserta Diklatsus Balalin. Peserta merupakan utusan dari Satuan Komando Rayon (Satkoryon) Banser se-Kabupaten Temanggung.

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus

Komandan Satkorcab Banser Temanggung Lutfi Arifin mengatakan, selama ini anggotanya sudah banyak terjun di masyarakat membantu penanganan bencana di daerah rawan bencana maupun membantu mengatur kelancaran lalu lintas dalam banyak kegiatan. Hanya saja mereka belum memiliki keterampilan yang memadai.

"Untuk itu adanya Diklatsus Bagana dan Balalin ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader Banser Tanggap Bencana dan Kader Lalu Lintas yang mumpuni," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Belum lama ini puluhan anggota Banser Temanggung ikut berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung.

SMA Negeri 1 Slawi

Bersama Tim SAR Tretep dan masyarakat setempat puluhan anggota Banser ini membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama transportasi yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Fragmen, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Halal bihalal  yang di gelar Badan Otonom Nahdlatul Ulama kabupaten Jombang, Ahad (9/9) terlihat sangat meriah. Meski digelar lesehan, hampir 300 perwakilan Banom NU yang terdiri, Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, Pergunu, IPNU-IPPNU, Ikatan Sarjana NU, Pagar Nusa dan juga PMII pun terlihat kompak. 

Ketua PCNU Jombang terpilih KH Isrofil Amar, mengatakan kegiatan yang digelar Banom NU ini bisa menjadi momentum meneguhkan gerakan NU dimasa yang akan datang. "Kegiatan semacam ini, merupakan Inisiatif cemerlang untuk membangun NU ke depan. Saya sangat mengapresiasi positif, dan berharap bisa menjadi kegiatan yang lebih bermakna," tuturnya mengatakan.

Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Apalagi, Ketua PCNU dua periode ini menambahkan, dalam kegiatan halal bihalal badan otonom juga melibatkan PMII yang selama ini berada diluar perangkat kelembagaan NU."Mudahmudahan PMII segera masuk NU, mudah mudahan pada kongres mendatang bisa masuk menjadi perangkat organisasi NU," tandas Dosen Unipdu ini berharap.

SMA Negeri 1 Slawi

Masih menurut KH Isrofil menuturkan, persoalan NU ke depan, pihaknya sangat optimis dengan melihat kekompakan badan otonom, NU memiliki potensi yang sangat besar dan kuat."Mudah mudahan tidak hanya halal bihalal, tetapi juga kegiatan yang lain, juga bisa disinergikan, untuk menuju NU yang maju," tandasnya seraya meminta seluruh pengurus banom istqomah membesarkan NU dan tidak ada lagi Banom, baik  Muslimat, Ansor berjauhan dengan NU nya. 

SMA Negeri 1 Slawi

KH Isrofil mengakui, adanya kesenjangan komunikasi antar Badan Otonom. Dan hal itu karena kurang ada pertemuan."Mengapa ini terjadi demikian karena tidak sering ketemu. Karena itu mari kita kokohkan NU. Ini momentum, Kami minta dikokohkan untuk menuju masa depan NU yang gemilang," pungkasnya.

Nampak hadir memberikan semangat, pada kegiatan tersebut mantan ketua Muslimat NU Jombang Hj Munjidah Wahab. Putri pendiri NU, KH Wahab Hasbulloh ini meminta jalinan komunikasi antar banom bisa dilakukan terus menerus. "Ini penting, dan harus kita lakukan terus, dan saya siap untuk memfasilitasi sehingga ada sinergitas program antar Banom," tutur anggot DPRD Jatim ini menjanjikan. 

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Ramadlan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Olahraga, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Masyarakat Nusantara dikenal dengan kesantunan, kesopanan, dan kelembutannya. Mereka identik dengan masyarakat yang pandai bersosial dan bukan tipikal masyarakat individual. Kekompakan masyarakat Nusantara ini juga tercermin dalam tradisi agama yang mereka jalankan.

Terbukti hampir sebagian besar tradisi keagamaan mereka dilakukan secara kolektif (berjama’ah) dan memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Misalnya tradisi salaman setelah shalat.

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Kebiasaan ini lumrah ditemukan di masyarakat. Usai shalat berjama’ah mereka saling sapa satu sama lainnya dengan jabat tangan. Ada juga yang berdzikir dan berdo’a terlebih dahulu, kemudian baru salaman. Hal ini menunjukkan betapa akurnya masyarakat Nusantara dan tradisi ini sekaligus dapat memupuk persaudaraan dan memperkuat keakraban.

Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sudah lupa dengan tradisi Nusantara dan terlalu lama di negeri orang, tradisi salaman setelah shalat dianggap bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Tapi menurut An-Nawawi, jabat tangan setelah shalat termasuk bid’ah yang diperbolehkan (bid’ah al-mubahah), bahkan disunahkan bila bertujuan untuk silaturahmi. Dalam kumpulan fatwanya, Fatawa Al-Imam An-Nawawi, ia mengatakan,

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?)

? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jabat tangan disunahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan salaman setelah dua shalat (subuh dan ashar) tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi.”

Jadi, tradisi salaman yang sudah berlangsung lama di masyarakat Nusantara bukanlah bid’ah tercela, namun dapat digolongkan bid’ah hasanah. Bahkan menurut An-Nawawi, tradisi ini dapat dikatakan sebagai kesunahan terutama jika orang yang dijabat tangannya belum pernah bertemu sebelumnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Aswaja, Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Boyolali, SMA Negeri 1 Slawi. Menjelang bulan puasa Ramadhan, ratusan warga Dukuh Tompak, Tarubatang, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhur, Selasa (9/6).

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Sadranan di Desa Tompak termasuk yang paling awal dilakukan masyarakat di lereng Merapi-Merbabu tahun ini.

Sejak pagi, ratusan warga dari dukuh Desa Tompak serta warga dari daerah lain yang memiliki leluhur dimakamkan di pemakaman tersebut, berbondong-bondong ke pemakaman yang terletak di sisi timur lereng Gunung Merapi tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Bersama keluarga dan sanak saudaranya, warga berdatangan ke areal pemakaman dengan membawa tenong, yang berisi tumpeng nasi rasul dan aneka jajan seperti ketan, apem dan pisang.

SMA Negeri 1 Slawi

Bagi warga setempat, tradisi nyadran ini selain menjadi agenda untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, juga sebagai ajang silaturrahim. “Kegiatan ini juga memiliki pesan moral, yakni ajaran untuk saling berbagi antara satu dengan lainnya,” kata Syahirul Alim, salah satu tokoh pemuda setempat.

Usai melakukan doa bersama yang diisi dengan pembacaan yasin, zikir dan tahlil di areal pemakaman, warga kemudian saling berbagi makanan yang mereka siapkan dari rumah.

“Meski praktiknya sudah agak berbeda, dengan zaman saya kecil dulu, tapi pesan utamanya tetap dipegang teguh masyarakat, yakni untuk berbagi apa yang kita punyai serta bersyukur atas nikmat dari Allah,” tutur Syahirul yang juga aktif di JQHNU Boyolali itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Sholawat, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah”

Tasikmalaya, SMA Negeri 1 Slawi

Mengikuti Latihan Kader Utama (Lakut) sama dengan Jihad Fi Sabilillah, tutur pengasuh Pesantren Al Munir Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Ajengan Muayyad pada pembukaan Lakut Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Priangan Timur yang meliputi Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran.

Lakut adalah jenjang kaderisasi formal tingkat lanjut di Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU). Menurutnya, Lakut termasuk perjuangan dalam organisasi tingkat pelajar di NU.

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah”

“Kita perhatikan, penjaga NKRI adalah NU, NU dijaga oleh pelajar-pelajar NU ini, menjaga IPNU juga menjaga Ahlussunah wal Jamaah sebagai aqidah kita, pijakan kita,” ujarnya, Jumat (25/8) itu di hadapan para kader IPNU.

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh karena itu, bagi Ajengan Muayyad, mengikuti Lakut adaah bagian dari menjaga NU, menjaga NKRI, menjaga Aswaja. “Dan ini merupakan jalan kita untuk berjihad fisabilillah (di jalan Allah). Ini bentuk jihad kita, tidak harus ngebom dan sebagainya,” tuturnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menambahkan, di era globalisasi ini IPNU harus tampil di depan mengawal pelajar dan santri Nahdlatul Ulama untuk tetap berada pada ideologi yang benar demi mengisi kemerdekaan dan memajukan Indonesia.

“Hambatan dan tantangan yang sangat banyak di era ini harus ditaklukan oleh Pelajar NU, teruslah berjuang rekan-rekan pelajar NU, tetap belajar berjuang dan bertaqwa,” pungkas putra pendiri Pesantren Al Munir ini. (Husni Mubarok/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi News, Syariah, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Keluarga Maslahah

Keluarga Maslahah adalah konsep untuk menyebut keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat kepada ajaran agama di lingkungan NU. Secara khusus, konsep keluarga maslahah ini dikembangkan oleh LKK-NU.

Maslahah berasal dari akar kata sha-lu-ha yang secara harfiah berarti baik, manfaat, dan penting. Maslahah adalah kepentingan pribadi (perorangan), keluarga, dan masyarakat, karena maslahah adalah terpeliharanya kebutuhan primer manusia, baik agama, jiwa, harta benda, keturunan, serta akal atau kehormatan. Oleh karena itu, maslahah merupakan cita-cita setiap orang atau kelompok, khususnya kaum muslimin.

Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Maslahah

Teori al-Maslahah telah dikemukakan oleh para pemikir hukum Islam, seperti asy-Syatibi dan al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, maslahah adalah ungkapan yang pada intinya guna meraih kemanfaatan atau menolak kesulitan. Yang dimaksud adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan al-Khawarizmi mendefinisikan maslahah dengan ”memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak bencana atau kerusakan yang merugikan makhluk.”

SMA Negeri 1 Slawi

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa maslahah adalah sarana untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan manusia yang bersendi pada prinsip menarik manfaat dan menolak mafsadat (kerusakan). 

Dilihat dari kandungannya, maslahah dibagi dua, yakni: maslahat umum (al-maslahat al-’am), yakni maslahat untuk kepentingan orang banyak, dan maslahat khusus (al-maslhat al-khash), yakni maslahat untuk kepentingan pribadi.

SMA Negeri 1 Slawi

Keluarga maslahah adalah keluarga yang dapat memenuhi atau memelihara kebutuhan primer (pokok), baik lahir maupun batin. Terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan lahir dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari lilitan kemiskinan dan penyakit jasmani. Sedangkan terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan batin dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari kemiskinan akidah (iman), rasa takut, stres, dan penyakit-penyakit batin lainnya.

Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dan Pendidikan Kependudukan yang diterbitkan LKKNU dan BKKBN disebutkan, terpeliharanya keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin adalah:

1. Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak, seperti terjaminnya keselamatan jiwa dan raga ibu selama hamil, melahirkan, dan menyusui serta terjaminnya keselamatan anak sejak dalam kandungan.

2. Terpeliharanya keselamatan jiwa, kesehatan jasmani dan ruhani anak serta tersedianya pendidikan bagi anak.

3. Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

Adapun ciri dari kemaslahatan keluarga (mashalihul usrah) adalah keluarga yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:  

1. Suami-istri yang saleh, yakni yang dapat mendatangkan manfaat dan faedah untuk dirinya, anak-anaknya dan lingkungannya, sehingga darinya tecermin perilaku dan perbuatan yang dapat menjadi suri teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya maupun orang lain.

2. Anak-anaknya baik (abrar), dalam arti berkualitas, berakhlak mulia, sehat ruhani dan jasmani. Mereka produktif dan kreatif sehingga pada saatnya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain atau masyarakat.

3. Pergaulannya baik. Maksudnya, pergaulan anggota keluarga itu terarah, mengenal lingkungan yang baik, dan bertetangga dengan baik tanpa mengorbankan prinsip dan pendirian hidupnya.

4. Berkecukupan rezeki (sandang, pangan, dan papan). Artinya, tidak harus kaya atau berlimpah harta, yang penting dapat membiayai hidup dan kehidupan keluarganya, dari kebutuhan sandang, pangan dan papan, biaya pendidikan, dan ibadahnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Jadwal Kajian, Syariah, Ahlussunnah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging

Di sela-sela kesibukannya mengajar ngaji di Madrasah Diniyah desa setempat, merawat kerbau-kerbau anggota kelompoknya adalah pilihan hidup yang dijalani Ustadz Abdul Haris Sholeh dengan sepenuh hati. Hingga ia pun tidak mengenal kata lelah agar kegiatan mengajarnya di Madrasah Diniyah dan mengurus kerbau-kerbaunya tetap berjalan seiring.

Di tengah menurunnya populasi Kerbau di Indonesia, Ustadz Haris dengan gigih merawat dan mengembangkan kerbau hingga 630 kerbau per Mei 2015. Dia bersama teman-temannya di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kerbau Mahesa Mukti Desa Kebandungan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk membudidaya Kerbau Lumpur Brebes.?

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)
Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging

Dari kesibukannya di dunia peternakan ini, tidak jarang Ustadz Haris mengajak santri-santrinya untuk mengenal dunia peternakan. Dia berusaha memahamkan mereka bagaimana cara menyayangi sesama makhluk hidup. Karena baginya, mengenalkan karakter kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan penting sebagai internalisasi nilai-nilai agama.

SMA Negeri 1 Slawi

Haris bercerita, pernah suatu ketika ia melakukan outdoor learning, semacam belajar di luar kelas. Para santri tentu sangat antusias ber-tadabbur alam melalui dunia peternakan, yakni dengan memahami kehidupan hewan. Haris pun tidak ingin terlalu mengekang para santri di dalam kelas atau ruangan belajar. Baginya, para santri bisa menemukan dan berpikir banyak hal ketika mereka dihadapkan pada kondisi yang nyata, tak terkecuali dalam belajar agama sekalipun.

SMA Negeri 1 Slawi

Berkah peternakan kerbau yang dimilikinya benar-benar ingin dia manfaatkan seoptimal mungkin bagi pembelajaran santri-santrinya agar pemahaman agama tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga pemahaman secara kontekstual, secara nyata. Namun demikian, proses mengaji di dalam ruangan juga dilakukan dengan porsi maksimal sebelum para santri belajar di luar ruangan.

Komitmen pengabdian

Usaha menernak kerbau yang dijalaninya tak jarang menemui kendala. Namun demikian, Haris tidak mau mengalah dengan keadaan. Ia menjalani salah satu pekerjaannya dan pengabdiannya (khidmah-nya) itu dengan sepenuh hati sehingga setiap kendala yang muncul dapat dihadapinya dengan tidak mudah mengeluh.?

Kerap kali Haris merasa lelah setelah siangnya menemani kerbau-kerbau mencari makan maupun mandi di kali. Rasa lelah tersebut seketika hilang justru ketika sore harinya harus memenuhi kewajibannya sebagai guru ngaji. Baginya, bertemu dengan para muridnya di Madrasah Diniyah menjadi pengobat lelah setelah seharian bergelut dengan ternaknya.

Yang membanggakan dan membuat dirinya bersemangat dalam menjalani kesibukannya tersebut, usaha peternakan kerbau yang digelutinya mendapat apresiasi dari pemerintah Kabupaten Brebes. Ia dan kelompok ternaknya dinilai mampu mengembangkan peternakan kerbau di Brebes dengan baik dengan melakukan berbagai inovasi dalam mengelola peternakan. Haris pun tidak jarang membantu operasionalisasi Madrasah Diniyah dari hasil peternakannya tersebut.

Wujudkan swasembada daging

Atas ikhtiarnya tersebut, Haris diusulkan menjadi Pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Kerbau Lumpur tingkat Provinsi Jawa Tengah oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. “Menyayangi binatang, bagian dari ibadah,” katanya. Pria kelahiran Brebes, 12 Juni 1980 silam ini dipandang layak oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes sebagai Pelestari SDG Kerbau Lumpur. Karena terbukti telah mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDS/K) tahun 2015 dengan menjunjung kearifan lokal.

Kearifan lokal (local wisdom) yang ia junjung yaitu dengan konsisten dan komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan warisan nenek moyang berupa peternakan kerbau tersebut. Baginya, warisan (heritage) ini perlu terus dikembangkan dengan baik sehingga masyarakat dan pemerintah pun memperoleh berkahnya dengan mewujudkan swasembada yang dijelaskan di atas.

Menurut Haris, ternak sebagai rojo koyo dan tabungan sejak Nenek Moyang harus dipadukan dengan pendekatan interdisciplinary approach atau pembangunan peternakan yang melibatkan banyak pihak. Di desanya, dia berkoordinasi dengan kelompok ternak lainnya melakukan kegiatan Pelestarian Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) yang populasinya mulai terancam punah.?

Guru Ngaji itu juga melihat, nasib ? para peternak kerbau mulai tergusur kemajuan teknologi pertanian. Untuk itu, dia menggarap 4 hektar usaha tani dengan membawahi 86 anggota dari 4 KTT Pembibit Kerbau se-Desa Kebandungan. Ketua Kelompok Peternak (Kapoknak) Desa Kebandungan itu mengubah pola kehidupan peternak yang lebih terarah sejak 2008.?

“Realita dilapangan, mayoritas kerbau hanya dimiliki oleh peternak kecil dengan sistem tradisional (subsistem) pada lahan marjinal, sempit dengan menggunakan tenaga kerja keluarga yang kurang terdidik,” ujar alumni MA Miftahul Huda Tasikmalaya, Jawa Barat itu.

Di sinilah ia tidak ingin pengalamannya ini hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Bahkan masyarakat dalam kelompoknya perlu bersama-sama dalam mengembangkan peternakan sehingga hasil maksimal pun dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas lagi.

Semangat ustadz beranak dua itu makin tumbuh ketika dirinya menceritakan, bahwa Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyempatkan diri untuk meninjau potensi peternakan di daerahnya. Saat itu, kata Haris, tengah digelar Panen Gudel dan Pedet pada 4 November 2013 silam oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.?

Panen Gudel dan Pedet, tergolong sukses untuk ukuran Kebandungan, desa terpencil dengan kondisi infrastruktur yang kurang memadai di Kecamatan Bantarkawung. Kesuksesannya dibuktikan dengan kehadiran Bupati beserta jajarannya, Ketua DPRD Brebes, Kepala BPPTP Jawa Tengah, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Peneliti Senior Balitnak, Perguruan Tinggi dan Kelompok Tani Ternak se-Brebes.

Berawal dari acara tersebut, potensi ternak Desa Kebandungan seolah tiada henti dijadikan lokasi kegiatan penelitian seperti dari Lolit Grati Pasuruan, BET Cipelang, Mahasiswa PKL dan BPTP. Bahkan pakar Kerbau sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Tridjoko Wisnu Murti serta Perwakilan Direktorat Bibit Pusat beberapa kali menyambangi kelompok Kerbau binaan Ustadz Haris.

Kegiatan produktif di tempatnya oleh, baik oleh para praktisi maupun oleh para akademisi menjadi keuntungan tersendiri bagi Haris dan kelompok tani ternaknya. Karena hal tersebut tentunya dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan dunia peternakan.

Advokasi warga

Merubah pola pikir peternak Kerbau yang mayoritas hanya lulusan SD bahkan masih banyak yang belum melek huruf tidaklah semudah membalikan tangan. Karena mereka harus bisa mencatat atau mengingat perkawinan, menimbang dan mengukur kerbaunya agar menerapkan pola pembibitan (Good Breeding Practices). Namun berkat kesabaran dan keuletan Ustadz Haris, para peternak Kerbau Desa Kebandungan memiliki recording ternak kerbau yang dilaporkan tiap bulan ke Dinas Peternakan Brebes selaku pembina. Kegiatan seperti ini merupakan terobosan tak ternilai sebagai upaya pelestarian kerbau yang sudah sangat ? mendesak.?

Atas pengabdiannya ini, Haris bercerita, saat Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi berkunjung ke kediamannya. Yulian mengaku bangga dengan aktivitas yang dilakukan Haris. Kegiatan produktif yang dilakukan oleh Haris sebagai guru ngaji, menurut Dinas Peternakan Kabupaten sejalan dengan tujuan pihaknya yang tengah melakukan Program Pembibitan yang berkelanjutan agar populasi kerbau dan mutu genetik dapat lebih ditingkatkan.?

Melalui pendekatan Subdistrict raising model, dimana Ustadz Haris selaku Ketua Kelompok bersama pengurus KTT merangsang para pemilik ? ternak untuk bersatu dalam kelompok. Kegiatan mereka terkumpul secara kandang dan manajemen, dalam artian reproduksi, pakan, kesehatan, pengolahan dan pemasaran bersatu pada level desa. “Saya dinilai oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes telah sukses menerapkan program Sanak Sekadang (Sehat Ternak Sehat Kandang),” tutur Haris.

Dia menyampaikan, bahwa Yulia memuji upayanya yang telah menggalakkan pengembangan usaha pembibitan Kerbau. Ustadz Haris telah melakukan ? pengembangan tiga pilar peternakan, yakni pertama, pengembangan potensi ternak dan bibit ternak (recording yang valid dan berkelanjutan). Kedua, pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) di tanah tidur atau tanah bengkok, dan ketiga pengembangan teknologi budidaya dan pembibitan ternak ber-Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).

Haris juga menyampaikan penuturan Yulia, bahwa keberhasilan dirinya meskipun belum secepat yang dibayangkan, namun dengan memulai para peternak mencatat perkembangan ternak kerbau dan pola perkawinan terseleksi serta tidak mudah menjual ternak, adalah langkah awal yang brilian.?

Keberhasilan Haris di tengah kesibukannya mengajar ngaji anak-anak di Madrasah Diniyah, sangat perlu mendapat apresiasi dalam menerapkan pola budidaya tradisional menjadi peternak pembibit yang diikuti seluruh peternak kerbau di desanya.?

Hal ini menjadi acuan pelestarian dan pengembangan ternak kerbau lumpur yang mulai terpinggirkan oleh modernisasi teknologi pertanian secara umum. Dari karya besar Ustadz Haris sudah mewujudkan spirit ‘Kerbau Lumpur Brebes dari Desa Kebandungan-Bantarkawung untuk Indonesia’.

Dari prestasinya dalam menernak kerbau tersebut, tidak menyurutkan langkah Ustadz Haris untuk tetap membimbing anak-anak di Madrasah Diniyah. Baginya, membimbing dan mendorong anak-anak di desanya untuk mengaji sangat penting untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter. Dari kegiatan menernak kerbau inilah Ustadz Haris berupaya mengajarkan arti kerja keras kepada santri-santrinya. Kerja keras dalam mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat dan agama.?

Keberhasilan Ustadz Haris dalam menjalani semua pengabdiannya itulah yang membuat masyarakat sepenuh hati mempercayainya sebagai ‘komandan’ masyarakat di dalam kelompok tani ternak. Karena tidak mudah mengembangkan peternakan secara bersama-sama dalam sebuah wadah kelompok tani ternak jika tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Warga juga makin percaya kepada Ustadz Haris karena pengadian sepenuh hati yang dilakukannya dalam mendidik anak-anak warga desa di Madrasah Diniyahnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Doa, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

Dua Kepengurusan Ansor di Probolinggo Kerjasama Kelola BPUN

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi



Bertempat di gedung Auditorium Hasan Center Probolinggo, dua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Probolinggo-Kraksaan Jawa Timur, menggelar pertemuan teknik (tehnical meeting) dengan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) tahun ini pada Jumat (15/4)

Dua Kepengurusan Ansor di Probolinggo Kerjasama Kelola BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kepengurusan Ansor di Probolinggo Kerjasama Kelola BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kepengurusan Ansor di Probolinggo Kerjasama Kelola BPUN

Pembacaan istighotsah mengawali kegiatan temu teknis ini. Selanjutnya Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kab. Probolinggo Muhlis mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha mengemas kegiatan ini semenarik mungkin, disamping bertujuan untuk memperkenalkan tradisi warga Nahdlatul Ulama.

Dia mengatakan, "Tradisi spiritual warga NU semoga bisa menjadi penggugah para peserta untuk selalu berusaha keras dan senantiasa berdoa." Selanjutnya para peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) tahun ini akan melaksanakan tes tulis dan dikarantina di pesantren Hati Toroyyan Kraksaan. ?

Sementara Taufik, Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan menyampaikan sangat bahagia dengan adanya kegiatan yang diadakan bersama antara PC GP Ansor Kab. Probolinggo dan Kota Kraksaan. Dari sinilah nantinya akan mampu memperkuat tradisi NU dalam bergotong-royong, membahu membahu antara yang satu dengan lainnya terutama dengan Pemerintah Daerah Kab. Probolinggo.

Ia mengatakan, ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan baik dan penuh semangat. Taufik yakin bahwa PR Gerakan Pemudat Ansor sudah pasti mengetahui program kegiatan yang akan dilaksanakan oleh PAC Gerakan Pemuda Ansor di wilayahnya masing-masing, sekaligus sebagai ajang silaturrahim antara dua cabang yang sama-sama berada di daerah Probolinggo. Dalam mengemban amanah memajukan anak bangsa ini, tutupnya. Red: Mukafi Niam

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, Pondok Pesantren, Syariah SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional

Kudus, SMA Negeri 1 Slawi. Masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi pendidikan sejak sebelum nama Indonesia datang, salah satunya pesantren yang kini justru tak diakui sebagai sistem pendidikan formal ala pemerintah. Menurut KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), kondisi ini merupakan buah dari penjajahan yang sudah berlangsung sejak lama.

“Konsep pendidikan kita ini dikaburkan pertama kali oleh kolonialis Barat. Bukan hanya menjajah rakyatnya saja tapi juga menginjak-injak sistem pendidikan kita. Belanda itu memisahkan ilmu menjadi dua, ilmu umum dan ilmu agama,” papar Pejabat Rais Aam PBNU ini pada Harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di Gedung JHK (5/11).

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Tak Sepakat Konsep Pendidikan Nasional

Pemisahan semacam ini, kata Gus Mus, kemudian diadopsi oleh pemerintah kita. “Ilmu umum menjadi sekolah-sekolah negeri, dan ilmu agama terdapat di madrasah dan pondok pesantren. Padahal Islam tak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum,” paparnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketidaksepakatan Gus Mus dengan pendidikan nasional tertuju pada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Gus Mus pun mengkritik keberadaan toko buku yang tak menyediakan kitab, atau toko kitab yang tak menyediakan buku. Padahal antara buku dan kitab, sama-sama sumber keilmuan. “Kitab” artinya buku, dan buku jika dibahasaarabkan menjadi “kitab”.

SMA Negeri 1 Slawi

“Ada kelucuan-keluacuan yang dianggap tak lucu di negeri ini. Di toko buku kita tak bisa menjumpai kitab. Dan di toko kitab, kita tak menjumpai buku. Kitab ayah saya tak bisa dijumpai di toko buku, sedangkan buku-buku saya malah sebaliknya, tidak bisa dibeli di toko-toko kitab,” terang Gus Mus.

Sesungguhnya kolonial membangun sekolah adalah hanya untuk mendapati pegawai terdidik dengan upah yang murah. Gus Mus tentu tak sepaham dengan agenda pemerintah yang meloloskan sistem sekolah ala koloni menjadi sistem pendidikan nasional. Menurutnya, ini hanya akan mencetak dua jenis generasi yang saling bertolak belakang.

“Maka yang satu pandai soal urusan dunia namun tidak tahu agama, dan yang satu lagi pandai agamanya namun bodoh urusan dunianya. Akhirnya para ahli dunia membodohi yang ahli agama,” sesal Gus Mus.

Lebih lanjut, Gus Mus menyarankan agar nilai rapor murid tidak hanya mengedepankan pada aspek penilaian mata pelajaran umum, tapi juga agama. “Kalau pelajaran umum, biji-nya (nilainya) sangat teliti. matematika, biologi, gurunya selalu teliti. Tapi kalau tentang kelakuan, tidak perlu teliti. Biasanya satu sekolah sama nilainya, B. Sebab mau dikasih A terlalu tinggi, mau dikasih biji C kasihan. Kalau guru tahu persis kemampuan matematikanya, masak tidak tahu karakter muridnya?” keluh Gus Mus terhadap tradisi rapor di sekolah.

Menurutnya, hal ini menandakan bahwa akhlakul karimah dinilai tidak penting, sebab nilainya diabaikan tak seteliti saat guru menilai pelajaran umum. “Yang penting itu berprestasi. Pemerintah ndak butuh generasi berkahlak. Tidak berakhlakul karimah saja, orang-orang sudah bisa menjadi anggota DPR. Pemerintah tidak butuh orang ahli agama, orang yang berakhlakul karimah. Sampai lirik lagu ‘itulah tandanya murid yang budiman, diganti itulah tandanya murid berprestasi’,” sindir Gus Mus pada dunia pendidikan kita. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Humor Islam, Syariah, Halaqoh SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Pelajar NU di Banyuwangi Ini Ngontel di Hari Santri

Banyuwangi, SMA Negeri 1 Slawi. Semarak Hari Santri Nasional disambut antusias oleh Pelajar NU MTs Al-Huda Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam merayakan itu mereka menggelar parade Ngalap Berkah Doa Kiai dengan Ngontel Sareng Santri, Ahad (22/10).

"Santri mandiri, NKRI Hebat. Wajah santri wajah Indonesia" merupakan motto yang digaungkan oleh pengurus pusat PBNU. Semangat itulah yang kemudian merambah pada segenap jiwa para santri, khususnya PK. IPNU-IPPNU MTs Al-Huda Sukorejo. Sejak pukul 06.30 seluruhnya anggota berkumpul di start yang bertempat di depan Polsek Bangorejo.

Pelajar NU di Banyuwangi Ini Ngontel di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Banyuwangi Ini Ngontel di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Banyuwangi Ini Ngontel di Hari Santri

Munir, Ketua Panitia Hari santri IPNU-IPPNU Bangorejo menyampaikan pemilihan Kantor Polsek sebagai start, bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada masayarakat bahwa kepolisian adalah sebagai mitra sekaligus pengayom masyarakat.

Sedangkan pemilihan sepeda sebagai transportasi kirab, merupakan kampanye dari kaum santri untuk mengurangi polusi dan menghemat energi berbahan minyak.

SMA Negeri 1 Slawi

Hal sama juga diungkapkan oleh Wimpi yang mewakili Kapolsek Bangirejo Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak kapolsek Bangorejo. Menurutnya dalam bertugas polisi tidak bisa dipisahkan dengan masayarakat, keduanya harus bersinergi. Wimpi juga menambahkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh santri era kemerdekaan harus tetap ada di benak santri hari ini.

"Masyarakat, terlebih kaus santri/siswa harus mendukung, menguatkan PBNU yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD45," ungkap Wimpi.

Selanjutnya, mereka berjalan melalui rute yang telah ditentukan oleh panitia, dengan di iringi gema shalawat, serta lagu-lagu Nasionalisme disepanjang jalan. Setiap sepedah wajib mengibarkan bendera merah putih dan bendera Nahdlatul Ulama atau bendera banom-banom NU dari start sampai finish

Adapun pakaian, mereka mengenakan sarung dan songkok untuk laki-laki sedangkan busana muslim lengkap bagi peserta putri.

Sementara itu Susanto, Kepala MTs Al-Huda menyampaikan kepada seluruh siswa-siswi yang hadir agar tetap istiqomah dalam belajar, baik itu pendidikkan formal maupun nonformal. Susanto juga berpesan, agar seluruh siswa-siswinya  untuk melanjutkan studi hingga jenjang yang tinggi, namun dia mengingat untuk tidak lupa menjaga akhlak.

SMA Negeri 1 Slawi

"Sekolahlah setinggi-tingginya, kuliah dimanapun saja. Asalkan akhlaknya tetap akhlak santri. Mudah-mudahan di tahun yang akan datang IPNU-IPPNU MTs Al-Huda Sukorejo dapat memberikan kontribusi yang positif untuk bangsa dan negara." pungkasnya. (Yasin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Sidang lanjutan kasus penggelapan aset tanah milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan terdakwa Salim Muhammad (75) diisi dengan kesaksian oleh 2 orang saksi yang diajukan terdakwa. Salim mengajukan saksi yang meringankan dalam sidang yang dipimpin Heru Pramono SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu.

Saksi pertama, H. Luwandi, salah seorang guru, menjelaskan, sekolah di bawah Yayasan Waqfiyah yang dimiliki PBNU itu telah dipindah. Ia mengaku telah menerima uang sebesar Rp 2 Milyar untuk pendirian bangunan dan sewa tanah selama 30 tahun.

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan



Dalam negosiasi awal, ia meminta dana sebesar Rp 9 Milyar untuk merenovasi bangunan dan pembelian tanah. Namun, akhirnya tercapai kesepakatan sebesar Rp 2 Milyar. Sebenarnya ia masih membutuhkan dana untuk membangun tiga kelas, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Salim.

Saksi kedua, Liacun menjelaskan bahwa ia telah menerima uang sebesar Rp 1.25 Milyar dari Salim untuk pembelian tanah yang dimilikinya.

Kesaksian-kesaksian tersebut menguatkan bukti yang memang sudah ada sebelumnya. Namun, perihal penarikan deposito sebesar Rp 10 Milyar, pembelian rumah di Jalan KS Tubun senilai lebih dari Rp 1.2 M, pembelian rumah di Jalan MT Haryono dan Kedoya yang semuanya tidak ada kaitannya dengan kepentingan Yayasan Waqfiyah NU tidak dijelaskan.

SMA Negeri 1 Slawi

Kasus ini bermula dari surat dari Pemerintah DKI Jakarta agar Yayasan Waqfiyah NU yang berlokasi di Kuningan Selatan meminta agar lembaga pendidikan ini dipindah karena lokasi tersebut ditetapkan bukan untuk daerah pendidikan. Dalam prosesnya, terdapat dana yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga PBNU, selaku pemilik yayasan mengajukan tuntutan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

BNN Isi Materi di Matsama MTs Ma’arif NU 8 Panican

Purbalingga, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam rangka Kegiatan Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) hari kedua Tahun Pelajaran 2016/2017, MTs Maarif NU 08 Panican, Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (19/7) mengundang petugas dari BNN untuk menyosialisasikan bahaya narkoba.?

“Upaya ini dimaksudkan untuk memberi pemahaman awal bagi peserta didik dan pencegahan dini agar peserta didik MTs Maarif NU 8 Panican terhindar dari pemakaian dan penyalahgunaan obat-obat terlarang,” ungkap Torik Jahidin, Kepala MTs Maarif NU 8 Panican.

BNN Isi Materi di Matsama MTs Ma’arif NU 8 Panican (Sumber Gambar : Nu Online)
BNN Isi Materi di Matsama MTs Ma’arif NU 8 Panican (Sumber Gambar : Nu Online)

BNN Isi Materi di Matsama MTs Ma’arif NU 8 Panican

Dalam materinya, pihak BNN Yusuf menerangkan bahwa resiko bagi para pengguna obat-obat terlarang seperti narkoba dan sejenisnya membuat orang malas untuk belajar karena pikiran terganggu bahkan akan membuat gila.

Selain materi tentang Narkoba, juga diberikan materi wawasan kebangsaan untuk meningkatkan rasa nasionalisme sehingga kecintaan terhadap NKRI semakin tumbuh berkembang dan upaya menjauhkan peserta didik dari paham-paham yang anti-NKRI.?

Hadir sebagai pemateri dari Koramil Kemangkon, Purbalingga, juga masih banyak kegiatan lainnya seperti penampilan ekstrakurikuler Pagar Nusa, band, drumband, dan jenis kegiatan lainnya. (Red: Fathoni)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pertentangan terkait apakah pelajaran pendidikan agama itu perlu atau tidak diajarkan di sekolah atau kampus terus muncul. Masing-masing memiliki argumentasinya masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, sampai saat ini pelajaran agama masih terus diajarkan di sekolah-sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin mengatakan, tujuan diajarkannya pelajaran pendidikan agama di sekolah ada dua. Pertama, membentuk pribadi yang saleh dan bertakwa kepada Tuhan. 

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Alasan Pendidikan Agama Tetap Diajarkan di Sekolah

“Kedua bagaimana (pendidikan agama) bisa menjadi instrumen perekat sosial, memperkuat nasionalisme,” kata Kamaruddin di Hotel Le Meridien Jakarta, Rabu (8/11).

Ia berpendapat bahwa tujuan-tujuan tersebut sudah terakomodasi dan terfleksikan di dalam konsep kurikulum 2013.   

Meski demikian, dia mengakui untuk mencapai dua tujuan utama diadakannya pelajaran agama di sekolah atau kampus tersebut ada hambatan dan tantangannya. Pertama, kekurangan guru yang profesional dan berkualitas. Untuk menerjemahkan visi pendidikan agama di sekolah diperlukan, maka diperlukan guru atau dosen yang benar-benar berkualitas dan kompeten. Bagaimana agama diajarkan sebagai sebagai pembentuk pribadi yang saleh dan menciptakan kesalehan sosial.

“Ini benar-benar menjadi tantangan kita. Kita kekurangan guru agama profesional untuk pendidikan agama itu sekitar dua puluh satu ribu,” tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia menerangkan, saat ini tidak sedikit guru yang tidak berlatar belakang pendidikan agama menjadi guru agama di sekolah-sekolah.

“Seperti guru biologi mengajarkan agama dan seterusnya,” ucap lulusan Madrasah Aliyah Asadiyah Sengkang itu.

Kedua, waktu yang sedikit. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pelajaran agama di sekolah itu hanya dua hingga tiga jam seminggi di sekolah. Sedangkan, untuk mendalami pelajaran agama yang mendalam tentu waktu dua hingga tiga jam seminggu itu sangat lah tidak cukup.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan itu, saat ini Pendidikan Agama Islam Kemenag RI sedang melakukan pelatihan kepada sepuluh ribu guru agama. Mereka dipersiapkan sebagai upaya untuk mengarusutamakan pemahaman keagamaan yang moderat dan toleran. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Kita sudah melakukan upaya-upaya kreatif untuk bisa mengantisipasi potensi penetrasi radikalisme di lingkungan sekolah,” jelasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul, Bahtsul Masail, Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 25 November 2017

Pelajar NU Disiapkan Masuk PTN secara Sistematis

Depok, SMA Negeri 1 Slawi. Upaya sistematis untuk memfasilitasi pelajar dan santri NU agar sukses masuk PTN dengan menyelenggarakan Pesantren Kilat Sukses Masuk PTN merupakan pekerjaan luar biasa yang harus dimulai dengan niat yang lurus, lillahi ta’ala. ?

Pelajar NU Disiapkan Masuk PTN secara Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Disiapkan Masuk PTN secara Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Disiapkan Masuk PTN secara Sistematis

Demikian wejangan dari H Muhyiddin Arubusman, mantan Sekjen PBNU pada Workshop Manajemen Sanlat Sukses Masuk PTN yang diselenggarakan oleh Jaringan Nusantara untuk Sukses Masuk PTN di Villa Multazam Kukusan Depok, 24-25 Desember 2012.

Di depan sekitar 20-an panitia manajemen lokal dari 9 kota, Muhyiddin Arubusman menguraikan tentang kebutuhan NU akan sumber daya manusia yang kompeten untuk menjawab tantangan zaman sehingga NU mampu berperan dalam dinamika kebangsaan dan tidak hanya sebagai penonton seperti terjadi pada saat ini.

SMA Negeri 1 Slawi

“Oleh karena itu, kegiatan Sanlat Sukses Masuk PTN ini sangat luar biasa positif untuk mencetak kelas menengah NU yang akan mengisi posisi-posisi strategis di Indonesia 5-10 tahun mendatang,” urai Muhyiddin yang juga merupakan alumni PMII.

Pendapat senada dikemukakan Farida Farichah, Ketua Umum PP IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) yang menggambarkan tentang realitas di komunitas pelajar dan santri NU yang butuh motivasi dan fasilitas agar mampu kuliah di universitas-universitas unggulan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Banyak pelajar NU yang kurang percaya diri untuk kuliah di PTN dikarenakan kurangnya informasi dan minimnya motivasi dari lingkungan sekitarnya,” kata Farida yang baru terpilih pada Kongres IPNU-IPPNU di Palembang awal Desember lalu. ? ?

Oleh karena itu, Farida mengatakan bahwa IPPNU sangat mendukung Sanlat tersebut dan siap bersinergi dengan panitia Sanlat terutama untuk mensosialisasikan kegiatan ini di cabang-cabang IPNU-IPPNU.

Sementara itu, Ketua Jaringan Nusantara untuk Sukses Masuk PTN, Achmad Solechan mengatakan bahwa Sanlat Sukses Masuk PTN ini merupakan implementasi dari double track strategy pengkaderan NU, yaitu mencerdaskan pelajar NU agar sukses masuk PTN dan meng-NU-kan pelajar-pelajar cerdas yang umumnya ada di SMA-SMA negeri unggulan.

“Para aktivis PMII UI sudah melakukan gerakan ini sejak tahun 2001 walaupun masih secara sporadis, kini kami mencoba melakukannya dengan lebih sistematis serta melibatkan para aktivis muda NU dari berbagai daerah dan universitas yang peduli terhadap pengkaderan generasi muda NU,” papar Solechan yang juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Forum Alumni PMII UI.

Workshop Manajemen Sanlat Sukses Masuk PTN ini merupakan tahapan pertama dari pelaksanaan Sanlat Sukses Masuk 2013 yang diselenggarakan Jaringan Nusantara untuk Sukses Masuk PTN yang dipelopori oleh Forum Alumni PMII UI dan didukung oleh Bimbingan Belajar Makara Insani. ?

Sejumlah panitia lokal yang hadir adalah para alumni dan mahasiswa UI, UNJ, ITB, UPI, Undip, STAINU Jakarta dan sebagainya. ? Workshop ini juga dihadiri oleh Dr. Syahrizal Syarief, Wakil Sekjen PBNU yang juga Dosen FKM UI. ? Selain itu, juga tampak hadir sejumlah pengurus Forum Alumni PMII UI seperti Iqbal Saryudin, Hafidz, Dwi Nugroho, Agu s Mizuno, Abdurrahman, Senja Bagus Ananda, Hasyim, Wildan, Ana Farihah dan lain-lain serta Ketua PMII Cabang Depok, Woro Rahmat Hidayat.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Alfannya

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 13 November 2017

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren

Subang, SMA Negeri 1 Slawi - Di antara program kerja pengurus Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Subang adalah sosialiasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada para santri di beberapa pesantren yang ada di Kabupaten Subang. Hal ini bertujuan agar para santri bisa lebih memperhatikan kesehatan dalam menjalani aktivitasnya.

Demikian disampaikan Ketua LKNU Kabupaten Subang H Edi Supriadi usai menggelar kegiatan sosialisasi PHBS kepada 170 santri di Pondok Pesantren Nurul Anwar Mubtadiien, Subang, Ahad (5/11) pagi.

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren

"Insyaallah dalam setiap dua pekan kita akan melakukan roadshow ke tiap-tiap pesantren untuk melakukan sosialisasi kesehatan kepada para santri di Subang," ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Melalui kegiatan ini diharapkan tidak ada lagi stigma negatif dalam masyarakat yang memandang bahwa santri itu jorok dan tidak peduli dengan kesehatan lingkungan.

"Dengan kegiatan ini diharapkan para santri bisa lebih memahami kebersihan dan kesehatan karena hal itu merupakan bagian dari ajaran Islam dalam konteks hifzhun nafs," tambahnya.

Ia menambahkan, kegiatan sosialiasi PHBS ini terselenggara atas kerja sama LKNU, Dinas Kesehatan, dan DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini Kabupaten Subang.

SMA Negeri 1 Slawi

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua PCNU Subang, Kepala Kemenag Subang, perwakilan dari Kapolres Subang, Danyon 312 Kala Hitam, Kodim 0605 Subang dan beberapa pejabat setempat lainnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul Ulama, Syariah, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 11 November 2017

Presiden Iran: Tak Penting Barat Marah

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengaku tak peduli jika Barat marah terhadap negaranya jika program pengembangan nuklirnya terus dilanjutkan. “Tak penting mereka (Barat) marah,“ tegasnya.

Hal itu ia sampaikan di hadapan para hadirin peserta silaturrahmi antara Presiden Iran Ahmadinejad dengan sejumlah ulama dan tokoh nasional di Kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jum’at (12/5) menanggapi kemungkinan reaksi keras Barat terhadap negaranya.

Diceritakan Presiden Ahmadinejad, pernyataan tegas itu ia sampaikan juga kepada tim dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang memeriksa program nuklirnya beberapa waktu lalu.

Bagi Presiden Ahmadinejad, saat ini sudah tak ada lagi istilah negara adikuasa, layaknya Amerika Serikat (AS), yang mampu menghegemoni dan mendominasi negara lain. “Masa keadidayaan sudah berlalu. Masa kolonialisme sudah berlalu. Ketahuilah, bangsa Islam saat ini sudah bangkit,“ tegasnya disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruangan pertemuan tersebut.

Diceritakan Presiden Ahmadinejad, kepada tim IAEA, ia mempertanyakan mengapa Iran dilarang mengembangkan program nuklir, sementara banyak negara-negara lain, termasuk AS sendiri juga melakukan hal yang sama.

“Kalau nuklir dianggap buruk, kenapa kalian (Barat) memiliki. Kalau memang nuklir dianggap baik, kenapa kita (Iran) tidak boleh,“ ungkap Ahmadinejad yang sekali lagi disambut tepuk tangan hadirin.

Dipersoalkannya nuklir Iran oleh AS dan sekutunya, menurut Presiden Ahmadinejad, menunjukkan bahwa Barat tidak rela jika terjadi kemajuan di Iran dan dunia Islam. Kemajuan yang ia maksud terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Padahal, menurutnya, setiap bangsa dan juga setiap negara di dunia memiliki hak untuk maju, tak terkecuali Iran. “Soal energi nuklir Iran, logika sederhananya, setiap negara memiliki hak untuk maju. Setiap negara memiliki hak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,“ terangnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Ubudiyah, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Presiden Iran: Tak Penting Barat Marah (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran: Tak Penting Barat Marah (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran: Tak Penting Barat Marah

Jumat, 10 November 2017

Warisan Pendiri Bangsa Harus Dijaga dan Dirawat dengan Baik

Bandar Lampung, SMA Negeri 1 Slawi. Kemerdekaan, ujar penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto, di Bandar Lampung, Jumat (11/11) ? lalu adalah warisan besar yang diberikan pahlawan kepada masyarakat bangsa Indonesia yang beragam suku, agama, budaya dan profesi. Pahlawan telah nyata melakukan harakah (gerakan), bahkan menumpahkan darah bagi NKRI. Bagaimana dengan kita?

Warisan Pendiri Bangsa Harus Dijaga dan Dirawat dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Warisan Pendiri Bangsa Harus Dijaga dan Dirawat dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Warisan Pendiri Bangsa Harus Dijaga dan Dirawat dengan Baik

"Dalam konteks terkini, setiap anak bangsa wajib meneladani pahlawan dengan melakukan harakah positif bagi bangsa mengingat masih banyaknya persoalan bangsa sejak memproklamasikan diri sebagai bangsa merdeka 17 Agustus 1945", ujarnya.

Gatot memaparkan banyak kisah orang-orang kaya meninggalkan warisan tidak sedikit bagi anak-anaknya. Bagi yang cerdas, produktif dan tidak diam, warisan tersebut bertumbuh. Sebaliknya, bagi yang hanya diam tidak ada gerakan dan hanya bangga, bertepuk dada memiliki warisan besar, banyak kisah yang menegaskan hasil kebangkrutan atau berkurangnya warisan atas sikap semacam itu.

"Maka, ketika warisan-warisan pahlawan pendiri bangsa seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika yang dikagumi bangsa lain seperti Mesir tidak kita jaga. Kita tahu dan bahkan sedang merancang bagaimana yang terjadi dengan Indonesia mendatang," tegas Gatot yang juga bergiat di Jaringan Islam Anti Diskriminasi itu.

SMA Negeri 1 Slawi

KH Asad Syamsul Arifin yang Alhamdulillah pada tahun ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional menegaskan: "Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara harus ditaati, harus diamalkan, harus dijaga dan dipertahankan kelestariannya".

"Sebagai warga Indonesia dan NU, saya melihat dawuh (perintah) tersebut patut rawuh (datang) ke dalam diri dan dilanjutkan melalui harakah, bukan sekedar teriakan Pancasila jaya. Karena tidak semua sila akan tuntas dirampungkan seorang diri, pelaksanaan Pancasila sebagai salah satu warisan pahlawan bangsa harus dilakukan bersama-sama anak bangsa dengan jalan positif," imbuhnya.

Karena itu, kata Ketua PC GP Ansor Way Kanan itu melanjutkan, bergerak memberi kontribusi positif dan berarti bagi bangsa melalui kemampuan masing-masing adalah cara sederhana meneladani pahlawan.

SMA Negeri 1 Slawi

"Benarkah kita menjaga Persatuan Indonesia dengan saling hantam, menyebarkan benci kepada anak bangsa?" ujar dia lagi.

Ia menegaskan, darah pahlawan yang tumpah bukan pengorbanan murah, hargailah dengan harakah positif yang meriah, salah satu, tidak mengobral fitnah di media, namun memberi gagasan inspiratif sebagai solusi.

"Menggerakkan hati, jari dengan menulis yang baik untuk dikonsumsi publik adalah cara sederhana merayakan hadiah kemerdekaan dari pahlawan. Anak-anak muda NU harus mengisi ruang tersebut," ? demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 08 November 2017

RA Muslimat NU Lahewa Berjuang di Tengah Minoritas

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Lahewa merupakan salah satu kecamatan di Kepulauan Nias Utara. Kecamatan tersebut juga masuk dalam wilayah Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatra Utara.

Di Kecamatan itu, tepatnya di Jalan Bowo No 14, Lingkungan 3, Kelurahan Pasar Lahewa, terdapat Raudatul Athfal (RA) Muslimat NU Lahewa. Bangunan RA Muslimat NU Lahewa berukuran 30 meter persegi, dengan atap terbuat dari seng plat, dan plafon dari plastik.?

RA Muslimat NU Lahewa Berjuang di Tengah Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)
RA Muslimat NU Lahewa Berjuang di Tengah Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)

RA Muslimat NU Lahewa Berjuang di Tengah Minoritas

RA yang berdiri pada 1996 dibawah perizinan Lembaga Maarif NU, tahun ini memiliki 47 siswa. Adapun tenaga pendidik berjumlah 4 orang, dan satu kepala sekolah.

RA Muslimat NU Lahewa dibangun dengan iuran dari masyarakat NU. Demikian pula untuk honor para pengajarnya. Para guru yang mengajar di RA tersebut kesulitan mengajukan tunjangan dan gaji kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama. Karena para pendidik adalah tenaga relawan yang hanya berijazah SMK. Sementara peraturan terbaru menganjurkan pengajuan tunjangan untuk tenaga pendidik harus dengan mengantongi ijazah sarjana. Akibatnya sepanjang dan mulai 2016 lalu para guru tidak menerima gaji sama sekali.

SMA Negeri 1 Slawi

“Sejak 2016 sampai saat ini, para guru tidak bisa menerima insentif lagi dari pemerintah. Itu hasil pertemuan saya dengan Kepala Kementerian Agama Nias Utara beberapa waktu lalu,” tutur Ketua PCNU Nias Utara, Muhammad Yusuf Zebua, Selasa (28/3).

Yusuf mengatakan, selama ini anggaran untuk honor pengajar sebesar Rp350 ribu per orang per bulan. Mengacu harga beras yang mencapai Rp15 ribu per kilogram di Nias Utara. Angka tersebut sebenarnya sangat tidak sesuai dengan biaya kebutuhan hidup ideal.

“Kami sangat mengapresiasi para tenaga relawan yang bersedia mengajar di RA Muslimat NU Lahewa. Dengan imbalan tak seberapa dan sering telat, mereka tetap bersemangat mengabdikan diri menjadi pengajar di RA Muslimat NU Lahewa. Juga kepada para anggota Muslimat NU di Lahewa yang bersedia iuran untuk menggaji mereka,” ungkap Yusuf.

Akan tetapi, mengingat kebutuhan dan kesejahteraan para pengajar yang masih jauh dari layak, Yusuf mengajak warga NU secara umum untuk turut memperhatikan mereka.

SMA Negeri 1 Slawi

“Apalagi kebanyakan warga di Lahewa bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional dengan rata-rata penghasilan Rp50 ribu per hari,” kata Yusuf.

Di Kabupaten Nias Utara, warga NU, juga umat Islam secara umum, termasuk minoritas. Karenanya Yusuf mengajak semua pihak untuk dapat membantu demi tegaknya NU di Lahewa.

”Dengan kebutuhan hidup yang besar semoga ada perhatian dari Nahdliyin di Indonesia untuk bisa membantu lahirnya cikal bakal generasi penerus NU di Nias Utara. Dukungan semua pihak bisa membuktikan bahwa NU itu tidak hanya ada di Nias Utara (yang jumlahnya kecil), tetapi ada di mana-mana. Dan bahwa NU di Nias Utara juga bisa berkembang,” ungkap Yusuf. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock