Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain

Ponorogo, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur merupakan PKC dengan jumlah cabang terbanyak se-Indonesia. Jumlah cabang definitif PMII se-Jatim adalah 31 institusi. Mulai dari ujung barat Ngawi hingga ujung timur Banyuwangi.

Demikian dikatakan ketua PKC PMII Jatim 2014-2016, Ahmad Junaidi dalam Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur resmi dilaksanakan di Pendopo Agung Kabupaten, Ponorogo pada kamis Rabu 27-30 April 2016.

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain

“Meskipun begitu, saya harap sahabat-sahabat tidak melupakan tiga hal, yakni komitmen ideologi, kaderisasi, dan gerakan PMII. Dan tiga poin itu haruslah juga jadi agenda utama forum (konkoorcab) ini,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kang Juned, sapaan akrabnya, dengan potensi cabang yang banyak tersebut PMII Jatim seharusnya memberikan teladan pergerakan bagi wilayah-wilayah lain.

SMA Negeri 1 Slawi

“PMII merupakan kawah candradimuka para politisi dan intelektual NU di masa depan, mari membangun PMII lebih bermanfaat,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf mengatakan, sejarah Jatim menjadi tempat sejarah kelahiran PMII pada 17 April 1960 tidak boleh melengahkan PMII Jatim untuk terus berupaya menjadi barometer kepemimpinan, gerakan dan ideologisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Secara simbolik pembukaan konkoorcab resmi dibuka dengan penabuhan gong sebanyak tiga kali oleh Bupati Ponorogo Ipoeng Mukhlisoni ditemani Ketum PB PMII Aminuddin Ma’ruf dan Ketum PKC Jatim Ahmad Junaidi.

Pada kesempatan pembukaan juga ditampilkan kesenian Reog Ponorogo yang merupakan kesenian asli Nusantara asal Ponorogo. Pada kesempatan acara juga makin khidmat dengan kehadiran salah satu pendiri PMII KH Nuril Huda, dan sejumlah alumni PMII dan pejabat setempat. (Ali Makhrus/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Nasional, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 22 Februari 2018

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi - Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur mengagendakan Dauroh Aswaja khusus untuk mahasiswa secara cuma-cuma. Dauroh pertama akan selenggarakan pada 30 September, dan yang kedua pada November.

Demikian kesimpulan rapat tim Aswaja NU Center pada Sabtu (16/9) di kantor PWNU Jatim, Surabaya. Rapat dipimpin oleh Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis.

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa

Menurut Kiai Navis, tiap angkatan peserta maksimal berjumlah 100 mahasiswa, dan yang mendaftar selepas itu akan diikutsertakan pada angkatan berikutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pendaftaran ini bisa langsung perorangan ke Assisten Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim  (Ustadz Muhaimin), atau secara kelompok melalui organisasi kemahasiswaan, atau pimpinan perguruan tinggi.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam satu dauroh, peserta bisa berasal dari kampus berbeda. Mahasiswa yang telah mendaftar sama sekali tidak dipungut biaya. “Yang menjadi acuan adalah buku Khazanah Aswaja, dan dauroh berlangsung sehari, dengan tiga sesi,” katanya.

“Sesi pertama adalah paparan bab satu dan bab dua. Akan disampaikan oleh Ustadz Yusuf Suharto dan Ustadz Muntaha. Pada sesi pertama ini yang dibahas seputar sejarah Aswaja dan mengapa harus Aswaja, Aqidah 50 dan persoalan persoalan Aqidah termasuk kritik trilogi tauhid,” tambah Kiai Navis.

Ia menambahkan, sesi kedua, materi akan diisi bab ketiga dan bab keempat yang bakal disampaikan oleh Ustadz Maruf Khozin. Ini terkait dengan pembahasan mengapa harus bermazhab, dan membahas landasan amaliah, juga tentang jati diri tasawuf.

“Dan sesi ketiga, bab kelima dan keenam, akan disampaikan Ustadz Faris Khoirul Anam dan Ustadz Fathul Qodir. Ini tentang aliran aliran di luar aswaja dan memaparkan sejarah NU, perjuangan dan khitah nya," ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Khutbah, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 21 Februari 2018

Gagap Digital, Dakwah NU Tak Terkoordinir dengan Baik

Banyuwangi, SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) PBNU Hari Usmayadi mengatakan, sekitar 88,1 juta dari total penduduk dunia menggunakan browsing internet dalam waktu 4,1 jam. Selebihnya digunakan untuk bermedia sosial.

Ia mengatakan hal itu saat menyampaikan materi di "Kongkow Netizen NU" di aula tingkat II kantor PCNU Banyuwangi, Ahad (19/2).

Gagap Digital, Dakwah NU Tak Terkoordinir dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagap Digital, Dakwah NU Tak Terkoordinir dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagap Digital, Dakwah NU Tak Terkoordinir dengan Baik

Pria yang akrab disapa Cak Usma tersebut, sebelum berbicara lebih dalam tentang penggunaan sosial media, ia mengupas tentang permasalahan organisasi NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"Permasalahan NU saat ini terkesan masih gagap menyikapi tantangan perkembangan dakwah di era digital terkini dan peningkatan masyarakat kelas menengah," tuturnya di hadapan ratusan peserta kongkow yang terdiri dari mahasiswa, anggota IPNU dan IPPNU, PMII, banom & lembaga PCNU Banyuwangi, serta netizen yang tergabung di banyuwangi.

SMA Negeri 1 Slawi

Sehingga, menurutnya, saluran dan muatan informasi syiar dakwah tidak terkoordinir dengan baik dari struktural pusat sampai cabang.

"Inilah permasalahan yang saat ini perlu dan harus kita selesaikan bersama. Untuk penyelesaian ini perlu adanya koneksi mulai tingkat pusat sampai ranting," kata Cak Usma.

Setidaknya, kata dia, NU harus memetakan secara spesifik analisis strength, weakness, opportunity, threat (SWOT). Setelah hal itu, barulah membuat strategi gebrakan-gebrakan yang berarti dalam penyelesaian masalah yang telah kita petakan," pungkas Usma.

Sementara itu, Wakil Ketua LTN PWNU Jatim Sururi Arumbani memberikan dua racikan solusi yang harus digerakaan di semua media. Termasuk SMA Negeri 1 Slawi Banyuwangi.

"Pertama yang harus dilakukan adalah peningkatan kuantitas maupun kualitas wartawan media dalam setiap periode," tutur Ruri.

Karena kualitas dan kuantitas wartawan, lanjut dia, merupakan satu-satunya mesin penggerak media sampai mencapai kejayaannya. Wartawan disini pun harus menulis dan mencari berita media secara terus-menerus. "Jangan setengah-setengah !" tegas Ruri.

Tak kalah penting, menurutnya, yaitu keberlangsungan produksi narasi juga harus ditingkatkan. Artinya produksi tulisan tidak hanya terbatas hanya berita-berita. Juga penting diisi dengan profil kiai, nasehat, dan fatwa-fatwanya.

"Dengan sebuah gebrakan, misalnya, wartawan sering-sering mendatangi kediaman sesepuh dan kiai. Selain disana untuk meminta nasehat juga bisa meminta fatwa terhadap suatu permasalahan. Karena tugas seorang kiai sangat padat sekali dalam masalah keummatan dan pengajian. Dalam hal ini wartawan harus jemput bola agar produksi tulisan tidak berhenti dan monoton," pungkas pengurus Jatim asal Rembang.

Kongkow yang dihelat SMA Negeri 1 Slawi Banyuwangi ini dihadiri Katib Syuriah PCNU Jember Harisudin. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Cabang Jamiyyatul Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) dan Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Sumedang? melaksanakan pelatihan makharijul huruf atau pengucapan huruf yang benar dalam Al-Qur’an dengan metode Maisura.

Kegiatan dengan jumlah peserta 101 orang ini berlangsung Sabtu (18/3), di Aula PCNU Sumedang. Para peserta merupakan pengajar yang mewakili sekolah atau lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan LP Maarif NU Sumedang.

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)
JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf

Ketua Pimpinan Cabang JQHNU Kabupaten Sumedang Ahmad Jauharudin mengatakan, sering kali kami menemukan guru-guru di daerah yang mengajarkan Al-Quran tapi tidak sesuai dengan ilmu tajwid yang benar. “Temuan itu menjadikan kami sebagai pengurus JQH khawatir. Kalau gurunya sudah salah baca Al-Qur’annya maka bisa menular kepada muridnya. Kalau dibiarkan saja nanti akan muncul kesalahan membaca Al-Qur’an secara berjamaah.

SMA Negeri 1 Slawi

Rantai kesalahan ini harus segera diputus atau setidaknya harus diminimalisasi, kata Ahmad. Sebagai langkah awal untuk memutus rantai kesalahan tersebut, pengurus JQHNU Sumedang bekerja sama dengan LP Maarif NU Sumedang mengadakan pelatihan makharijul huruf khusus untuk guru-guru yang mengajar Al-Qur’an.

SMA Negeri 1 Slawi

Pemateri yang didatangkan pada pelatihan ini yaitu Muthmainnah. Beliau ahli quran, seorang hafidzoh, dewan hakim MTQ, serta salah satu dosen Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Pada kesempatan tersebut Muthmainnah menyampaikan materi makhorijul huruf dengan menggunakan metode maisura.

Ahmad jauharudin di akhir acara juga menyampaikan bahwa kegiatan ini baru langkah awal, ke depan akan ada kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan untuk terus menjaga kebenaran dalam membaca Al-Qur’an. “Semoga guru-guru yang hari ini mengikuti pelatihan dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat kepada murid-muridnya. Dan kebenaran membaca Al-Qur’an bisa terus terjaga,” tuturnya. (Ayi Abdul Kahar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Aswaja, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 11 Februari 2018

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan

Banjar, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Jawa Barat, sepakat menolak ajakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bergabung dalam satu organisasi. Berdasarkan hasil Munas-Konbes NU 2014, PBNU memberi tenggang waktu hingga Muktamar 2015 untuk kembali kepangkuannya.

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kota Banjar: Kembali Menginduk ke NU Tak Relevan

Penolakan ini muncul dalam sebuah diskusi PC PMII Kota Banjar di kantor sekretariat setempat, di Jalan Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Senin (10/11).

Diskusi rutin tersebut memberi tanggapan terhadap imbauan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang mengatakan, Independensi PMII terjadi saat NU aktif sebagai Partai Politik. Setelah NU bukan lagi partai politik seyogianya PMII kembali ke pangkuan NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"Nampaknya kurang relevan PMII meniru IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang menjadi onderbouw ormas Muhammadiyah jika dalil yang dipakai adalah NU saat ini sudah tidak lagi menjadi partai politik,” kata Ketua PC PMII Kota Banjar Muhafid.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, di berbagai kampus yang berlatarbelakang Muhammadiyah justru yang relatif dominan bukan IMM, melainkan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), atau PMII.

“Apakah kegagalan model ini yang perlu ditiru? Kiranya, perlu kembali diingat bahwa secara historis PMII lahir ketika NU menjadi partai politik dan bukan pada saat menjadi ormas," imbuh Muhafid.

PMII Kota Banjar menilai, PMII lebih tepat tetap independen, sementara NU fokus terhadap kondisi umat Islam yang semakin tergerus oleh Wahabi dengan mengoptimalkan badan otonom, lajnah, dan lembaga NU. (Wahidan-Ahmad M/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, Halaqoh, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Aktivis senior yang juga mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden KH Abdurrahman Wahid, Bondan Gunawan memberikan motivasi kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menyatu kembali dalam satu organisasi Nahdlatul Ulama.

Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan orasi di hadapan para kader PMII dalam acara peringatan hari pahlawan yang digelar Pengurus Cabang PMII Jakarta Pusat di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (12/11) malam. Ia mendorong PMII Jakpus mendukung hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2014.

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU

”Sudah saatnya PMII sebagai organisasi kemahasiswaan kembali kepangkuan NU, karena apapun keputusan yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh NU merupakan suatu bentuk perhatian orang tua terhadap anaknya. Sebab tidak bisa dipungkiri PMII lahir dari rahim NU,” tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Turut hadir pada acara tersebut Ketua Umum PMII DKI Jakarta, PMII Jakarta Timur, PMII Jakarta Utara, dan PMII Jakarta Selatan, serta beberapa perwakilan dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat yang secara bergantian menyampaikan orasi kebangsaan.

Peringatan hari pahlawan berlangsung khidmat, diawali dengan musikalisasi puisi, dan doa bersama. dan orasi kebangsaan.? Selain Bondan Gunawan, hadir pula menyampaikan orasi anggota Majelis Pembina Nasional PB PMII, Amsar A. Dulmanan.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam kesempatan itu, Amsar mengajak seluruh kader PMII untuk memaknai kembali peringatan hari pahlawan ini. Bukan sekadar mengingat dan mengenang, tetapi menjiwai setiap perjuangan yang telah memakan ribuan jiwa yang rela mengorbankan tumpah darah mereka demi bangsa Indonesia.

”Hidup harus belajar dari masa lalu, dengannya kita akan memahami masa kini untuk membaca masa depan. Menghargai para pahlawan berarti menggali pondasi-pondasi nation building. Jadi, hiduplah untuk masa depan, dengan memahami masa kini, dan menghargai masa lalu,” tegasnya.

Ketua Pimpinan Cabang PMII Jakarta Pusat Daud Gerung mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat pergerakan kader-kader PMII dalam merefleksikan dan mengenang perjuangan para pahlawan yang telah gugur membela dan mempertahankan tanah air.

“Kader PMII sudah seharusnya mampu untuk mengaktualisasikan semangat juang para pahlawan nasional, terutama kiai NU dan laskar santri sehingga apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu dengan mudah direalisasikan demi menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia,” kata Daud. (Rico K. Sanjaya/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Jadwal Kajian, Aswaja, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Masyarakat Nusantara dikenal dengan kesantunan, kesopanan, dan kelembutannya. Mereka identik dengan masyarakat yang pandai bersosial dan bukan tipikal masyarakat individual. Kekompakan masyarakat Nusantara ini juga tercermin dalam tradisi agama yang mereka jalankan.

Terbukti hampir sebagian besar tradisi keagamaan mereka dilakukan secara kolektif (berjama’ah) dan memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Misalnya tradisi salaman setelah shalat.

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jabat Tangan Usai Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jabat Tangan Usai Shalat

Kebiasaan ini lumrah ditemukan di masyarakat. Usai shalat berjama’ah mereka saling sapa satu sama lainnya dengan jabat tangan. Ada juga yang berdzikir dan berdo’a terlebih dahulu, kemudian baru salaman. Hal ini menunjukkan betapa akurnya masyarakat Nusantara dan tradisi ini sekaligus dapat memupuk persaudaraan dan memperkuat keakraban.

Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sudah lupa dengan tradisi Nusantara dan terlalu lama di negeri orang, tradisi salaman setelah shalat dianggap bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Tapi menurut An-Nawawi, jabat tangan setelah shalat termasuk bid’ah yang diperbolehkan (bid’ah al-mubahah), bahkan disunahkan bila bertujuan untuk silaturahmi. Dalam kumpulan fatwanya, Fatawa Al-Imam An-Nawawi, ia mengatakan,

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?)

? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jabat tangan disunahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan salaman setelah dua shalat (subuh dan ashar) tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi.”

Jadi, tradisi salaman yang sudah berlangsung lama di masyarakat Nusantara bukanlah bid’ah tercela, namun dapat digolongkan bid’ah hasanah. Bahkan menurut An-Nawawi, tradisi ini dapat dikatakan sebagai kesunahan terutama jika orang yang dijabat tangannya belum pernah bertemu sebelumnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Aswaja, Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock