Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

SMA Negeri 1 Slawi

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.?

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan “Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.”

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Budaya, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 12 Februari 2018

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai ajang konsolidasi dengan kepengurusan NU di bawahnya. Pengurus Harian NU DKI Jakarta menemui pengurus Majelis Wakil Cabang NU se-Jakarta Selatan di Kantor Sekretariat PCNU Jakarta Selatan di Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (11/6) malam.

Kunjungan silaturahmi dan konsolidasi ini diawali dengan khataman Al-Quran dan sembahyang tarawih berjamaah. Forum ini diisi dengan tanya jawab terkait ke-NU-an dan permasalahan ibu kota Jakarta antara pengurus MWCNU dan PWNU DKI Jakarta.

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

“Semoga pertemuan silaturahmi ini menguatkan nahdliyin di Ibu Kota Jakarta,” kata Ketua Panitia Safari Ramadhan Ustadz H Munahar Mukhtar mengawali sambutannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengapresiasi gerakan tangkas pengurus harian NU DKI Jakarta. Menurutnya, tidak lama setelah konferensi wilayah NU pengurus baru harian NU DKI Jakarta segera melangsungkan pelantikan untuk kemudian terus menyapa cabang dan majelis wakil cabang NU di Jakarta.

“Insya Allah Jakarta adem kalau pengurus NU dan nahdliyin bergerak menjalankan amanah organisasi dan menghidupkan tradisi Aswaja NU. Semoga gerakan NU Jakarta ini menjadi etalase kepengurusan NU se-Indonesia,” kata Kiai Abdurrazak.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebelum menyapa pengurus MWCNU se-Jakarta Selatan, H Saefullah mendata kehadiran pengurus satu per satu MWCNU. Menurutnya, Jakarta ini penuh dengan masalah.

Pengurus NU di Jakarta, menurutnya, harus kerja keras untuk membenahi Jakarta dan nahdliyin. Kiprah NU dalam pergerakan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan. Kini kita mesti meningkatkan pengabdian kita untuk khususnya Jakarta menjadi lebih baik.

“Kalau Pemda DKI Jakarta punya APBD, NU ini seperti kata Ketua PBNU KH Imam Aziz tidak memiliki APBN dan APBD. Tetapi berkah perjuangan para ulama kita, NU harus terus bergerak dari mana rezekinya,” kata H Saefullah disambut gelak tawa hadirin.

Menurutnya, NU sudah terbukti menerima Pancasila dan UUD 1945. Hal ini terbukti dari komitmen NU terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideal dan konstitusional di Indonesia. NU dalam acara formalnya selalu membawakan lagu Indonesia Raya.

Sebelum ditutup dengan doa khatmil Quran oleh KH Muhyiddin Ishaq, Ketua PWNU DKI Jakarta Dr H Saefullah menyerahkan secara simbolis wakaf Al-Quran pribadinya kepada Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi. Sebelum bubar, para hadirin membaca doa kaffaratul majlis yang dipimpin Rais Syuriyah NU Jakarta Selatan KH Lukman Hakim. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, PonPes, Tokoh SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang

Bandung, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua PC PMII Kota Bandung, Ahmad Riyadi mengatakan, hasil KAA memang bisa dilihat, tetapi harapan yang ideal dari KAA kali ini adalah negara Asia Afrika harus memiliki kekuatan ekonomi politik untuk menentang dominasi imperialisme Amerika.?

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung: Kekuatan Ekonomi Asia-Afrika Harus Saling Menopang

“Harus adanya kekuatan ekonomi Asia Afrika yang saling menopang dan mengembangkan negara-negara berkembang, jangan sampai peserta negara KAA sendiri yang melakukan penghisapan dan eksploitasi terhadap negara berkembang lainnya. Maka, Indonesia sebagai tuan rumah harus lantang bicara soal koorporasi di Indonesia,” tegasnya saat dimintai konfirmasi oleh SMA Negeri 1 Slawi, Kamis (23/4) di Bandung.?

Selain itu, mahasiswa Pascasarjana Universitas Langlangbuana Bandung ini menilai, KAA harus memiliki suara lebih lantang untuk bicara persoal konflik di Timur Tengah yang sudah melanggar hukum kemanusiaan.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia menginginkan, negara-negara peserta KAA harus saling menjaga dan menghargai kedaulatan negara, sehingga dalam konteks kerjasama ekonomi luar negeri harus berangkat dari hukum kemanusiaan bukan logika hukum dagang semata.

Selain itu, Riyadi menyampaikan, bahwa Konferensi Asia Afrika (KAA) jangan hanya ditinjau dari indahnya seremonial belaka dan maksimalnya persiapan, tetapi yang paling penting adalah muatan materi dan gerakan kemanusiaan yang nyata bagi kepentingan nasional dan global.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kalau dinilai dari keindahan, maka saya katakan, Kota Bandung juga bisa disulap menjadi (bergaya) Eropa dalam sekejap,” jelasnya?

Riyadi meminta kepada Wali kota Bandung supaya jangan pernah berparadigma bahwa dengan bagusnya tata kota Bandung untuk menarik investor asing menanam modal di kota Bandung. Tetapi bagaimana menciptakan pasar ekonomi untuk mempromosikan kreatifitas masyarakat kota Bandung ke dunia Internasional.?

Pihaknya juga memandang peringatan ke-60 tahun KAA pada ini berlangsung terbuka, dan dalam seremonialnya terpublikasikan dengan baik.?

“Tapi pertemuan tertutup di Jakarta belum diberitakan untuk melahirkan (keputusan) apa. Mungkinkah ada kesepakatan yang sama seperti Dasa Sila Bandung dan semangat kebersamaan dan kemanusiaannya sama?” tandas Riyadi. (Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Subang, SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar mengatakan, sudah saatnya kader GP Ansor bangkit dari segala keterpurukan.

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

"Ketika hari ini orang lain menilai bahwa kemiskinan itu sebuah isu, saya tegaskan bahwa kemiskinan itu sudah nyata," ujar Deni saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Subang di Pondok Pesantren Al-Istiqamah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang, Selasa (29/11).

Dikatakan, sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor harusnya tampil untuk memberikan pembinaan dan pemberdayaan bagi para anggotanya.

SMA Negeri 1 Slawi

"Salah satunya dengan penguatan kapasitas dan revitalisasi pemberdayaan kader. Jika itu dijalankan, niscaya GP Ansor menjelma sebagai organisasi yang besar," katanya.

Dengan penguatan kapasitas tersebut, lanjut Deni, hendaknya bisa memanfaatkan potensi dan peluang yang ada sehingga kader Ansor tidak kesulitan lagi dalam mengembangkan kreativitasnya itu.

SMA Negeri 1 Slawi

"Terlebih, kader-kader Ansor sebetulnya memiliki skill individu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Tentu didorong dengan semangat yang tinggi," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Halaqah Ulama ASEAN Kembali Digelar Kementerian Agama

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Kementerian Agama kembali menggelar Halaqah (Sarasehan) Ulama ASEAN. Pelaksanaan halaqah tahun ini merupakan yang ketujuh sejak tahun 2010 yang diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.

Halaqah Ulama ASEAN Kembali Digelar Kementerian Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah Ulama ASEAN Kembali Digelar Kementerian Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah Ulama ASEAN Kembali Digelar Kementerian Agama

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud dalam jumpa pers di Gedung Kemenag Jl MH Thamrin Jakarta, Jumat (13/10). Acara yang dijadwalkan selama tiga hari, Selasa-Kamis, 17-19 Oktober 2017 ini akan dihelat di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta.

“Halaqah ini merupakan tindaklanjut dari halaqah tahun 2016  yang saat itu mengetengahkan tema Mengembangkan Islam Moderat Melalui Jaringan Pesantren ASEAN,” ujar Mas’ud didampingi Kepala Puslitbang Penda Amsal Bachtiar, Ketua Panitia OC Nyai Hj Faiqoh Mansyur.

Mas’ud menambahkan, Halaqah Ulama ASEAN Tahun 2017 ini akan diarahkan kepada tiga isu utama. Pertama, pengembangan Islam moderat (wasathiyah) melalui jaringan pendidikan Islam ASEAN. Kedua, penguatan daya saing lembaga pendidikan Islam di ASEAN. Ketiga, membuat model lembaga pendidikan Islam yang kompetitif, mampu merespon tantangan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut pria kelahiran Kudus ini, halaqah tahun 2017 lebih istimewa lantaran didahului oleh penelitian tentang pesantren dan lembaga pendidikan yang memiliki kemandirian di bidang ekonomi, baik di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN. Dari halaqah ini diharapkan lahirk program kerja yang berkelanjutan (networking).

“Hasil riset menyebut bahwa beberapa pesantren di Indonesia ternyata mampu mandiri dalam membiayai ekonomi dan mendorong jiwa wiraswasta kepada para santrinya. Di negara ASEAN lainnya, lembaga pendidikan Islam berjalan lewat usaha sendiri, terutama di negara-negara minoritas muslim, seperti Kamboja dan Philipina,” ungkapnya.

Dikatakan Mas’ud, tahun ini tema yang diangkat adalah Memperkuat Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam ASEAN. Menurutnya, pertimbangan tema ini penting dan perlu diangkat karena peran sentral pendidikan.

“Pendidikan itu segala-galanya, (proses dan hasil) pendidikan itu lambat, tapi ia adalah kekuatan yang dasyat,” tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Mas’ud, halaqah akan diikuti oleh 12 negara, 10 negara ASEAN dan dua dari Tiongkok dan Timor Leste. “Kita bisa belajar masing-masing negara itu, karena tidak mungkin kita berdiri sendiri maka butuh pengalaman dari pembicara dari negara lainnya,” tandasnya.

Sejumlah pembicara akan hadir, antara lain Yunahar Ilyas (Wakil Ketua Umum MUI), Nurhayati Subakat (CEO PT Paragon Technology Innovation), Esmael Ebrahim (Direktur PCID Philipina). Ketiga narasumber tersebut akan berbicara tentang Daya Saing Ekonomi & Lembaga Pendidikan Islam di ASEAN.

Ronald Lukens Bull (University of North Florida, USA), Abdurrahman Mas’ud (Kepala Balitbang Diklat Kemenag RI), dan Dato’ Siddiq Fadzil (Presiden Kolej Dar Hikmah dan Pengurus Institut Darul Ehsan Selangor Malaysia) akan berbicara tentang Pendidikan Islam ASEAN dan Daya Saing Sumber Daya Manusia.

Sementara topik Lembaga Pendidikan Islam di ASEAN: Wacana Moderatisme dan Usaha Mengembangkan Pendidikan Berdaya Saing akan disampaikan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, Dosen NUS Singapura Khaerudin al-Juned, dan Anggota Komisi VIII DPR RI KH Maman Imanul Haq. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Habib, Budaya SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 09 Januari 2018

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan keberatan atas Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH) yang telah disetujui dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis (25/9). UU JPH membuka pintu monopoli sertifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Keberatan Monopoli Sertifikasi Halal UU JPH

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Adnan Anwar menyayangkan monopoli jaminan halal oleh MUI pada UU JPH. Pasalnya jumlah warga sangat banyak untuk ditangani dengan keterbatasan jumlah SDM pada institusi MUI.

Semangat monopoli ini menutup peran keumatan ormas-ormas keislaman seperti NU, Muhammadiyah dan lainnya. “Jumlah kader NU yang memiliki kemampuan fikih dan ushul fikih sangat banyak. Mereka sangat terlatih memecahkan persoalan keumatan melalui diskusi, musyawarah, dan terutama bahtsul masail.”

SMA Negeri 1 Slawi

Keputusan mereka menjadi valid dengan dukungan dan pertimbangan dari para peneliti dan saintis di kalangan pemuda NU. Mereka cukup berkompeten untuk meneliti kandungan-kandungan produk di makanan, perlengkapan kosmetik, dan lainnya.

Di samping itu basis massa NU di tengah masyarakat sangat jelas. Dari situ pelayanan yang berkenaan dengan jaminan kehalalan produk menjadi lebih optimal.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau JPH dimonopoli MUI, kepentingan warga yang banyak itu akan terbengkalai, pungkas H Adnan di Jakarta, Jumat (25/9). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Bahtsul Masail, Budaya, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Sosok Ulama yang Komplit

Nama Pondok Pesantren Zainul Hasan, di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup populer. Pesantren yang juga dikenal dengan nama Pesantren Genggong ini, sering dikait-kaitkan dengan penggalan sejarah perjalanan NU.

Maklum, pesantren yang didirikan oleh Kiai Zainul Abidin ini kerap menjadi tuan rumah berbagai hajatan NU tingkat regional maupun nasional. Semua itu tak lepas dari kiprah dan kharisma Kiai Hasan Saifourridzal yang menjadi sabab musabab bendera Genggong terkerek tinggi-tinggi.

Sosok Ulama yang Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosok Ulama yang Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosok Ulama yang Komplit

Kiai Hasan –sapaan akrabnya— lahir ketika bangsa Indonesia merajut kekuatan para pemuda dalam bingkai “Sumpah Pemuda”, yaitu tanggal 28 Oktober 1928, dari pasangan Kiai Muhammad Hasan dan Nyai Hj. Siti Aminah. Adalah Desa Karangbong, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo yang menjadi tempat kelahiran pria yang bernama kecil Ahsan itu. Ayahnya, Kiai Muhammad Hasan adalah seorang ulama besar dan salah satu pendiri pesantren Zainul Hasan.?

Masa kecil Non Ahsan –panggilannya sewaktu kecil-- ? tidak hidup di lingkungan pesantren karena tinggal bersama ibunya di kota Probolinggo, lalu pindah ke Bondowoso. Ini terjadi karena biduk rumah tangga orang tuanya pecah, firoq. Kendati hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, namun Non Ahsan tetap tegar. Untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup ibunya, ia rela berjualan makanan ringan di terminal dan kadang di stadion saat ada event keramaian. ?

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Menjelang umur 16 tahun, Non Ahsan diminta pulang, tinggal bersama ayahnya di Genggong. Di situlah ia diajari kitab kuning. Tidak hanya di situ, Non Ahsan juga dimondokkan ke beberapa pesantren di Madura, Paterongan, Tebuireng (asuhan KH. Hasyim Asy’ari) dan Lirboyo, Kediri.?

Waktu terus berputar, masapun berlalu. Ketika usianya semakin matang, Non Ahsan menyunting seorang gadis asal Desa Sukodadi, Kec. Paiton, Probolinggo. Namanya Himami Hafsyawati. Sejak saat itu, ia diberi amanah oleh ayahnya untuk mengurus pesantren. Nama Kiai Hasan tercatat sebagai generasi ketiga yang memimpin pesantren Zainul Hasan.

Mengasuh pesantren dan menjadi muballigh, itulah dua tugas ? yang selalu melekat dalam perjalanan hidup Kiai Hasan. Karena kehebatannya berorasi, Kiai Hasan dijuluki singa podium. Dengan gayanya yang khas, Kiai Hasan mampu membuat auiden hanyut dalam pidatonya. Popularitasnya sebagi da’i yang handal juga sampai ke manca negara. Diantaranya beliau pernah diundang ke Malaysia, Singapura, Brunai, Tahiland dan Iraq.

Di sisi lain, sejarah mencatat, pesantren Zainul Hasan tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama tapi juga menjadi bagian dari penggemblengan para pejuang. Bahkan Kiai Hasan sendiri terjun langsung di garda terdepan untuk mengusir penjajah. Ketika perang berkecemuk di Tulangan, Sidoarjo, Kiai Hasan bersama 20 pasukannya yang tergabung dalam Ansorudinillah, ikut bergabung dalam bentrok fisik versus serdadu Belanda itu. Alhamdulillah beliau selamat.

Kiai Hasan juga dikenal sebagai tokoh NU. Beliau pernah dua periode menjabat Rais Syuriah PCNU Kabupaten Probolinggo. Kendati secara politik, Kiai Hasan waktu itu “dekat” dengan kekuasaan, namun beliau menolak mentah-mentah ajakan Bupati Probolinggo, Suprapto untuk mengamini praktek vasektomi. “Terus terang kalau masalah politik, saya ikut bupati. Tapi kalau masalah hukum, saya ikut NU. Karena NU mengharamkan vasektomi, maka sampai sekarang saya tetap mengatakan haram,” ujar Kiai Hasan di hadapan Bupati Suprapto dan para hadirin saat itu.

NU adalah segalanya bagi Kiai Hasan. Ketika NU menjadi partai politik, beliau tampil sebagai jurkam andalan. Tapi saat NU kembali menjadi ormas, Kiai Hasan juga cabut dari aktifitas politik. Belakangan Kiai Hasan memilih jalan berbeda. Beliau bergabung dengan Golkar. Sebuah pilihan yang sebenarnya terasa pahit, namun karena beliau ingin menghindari kian tajamnya tekanan penguasa terhadap wara nahdliyyin, maka itupun menjadi solusi. Seperti diketahui, ? selama sekian tahun Golkar begitu dominan dan menjadi raja diraja di jagat politik nusantara. Jangankan melawan penguasa, bersuara kritis saja, harus siap-siap diculik, atau dijebak masuk penjara.

Kenyataannya, banyak ulama NU yang ditahan lantaran berseberangan dengan penguasa. Contohnya KH. Badri Masduki (pengasuh pesantren Badrid Duja, Kraksaan), yang sempat ditangkap aparat keamanan di Jember karena dianggap menentang penerapan azas tunggal. Atas campur tangan Kiai Hasan, beliau bebas. Kiai Marfu’ (anggota DPRD Probolinggo dari PPP) yang mau dibabat habis karir politiknya (dengan alasan tidak lulus litsus), namun Kiai Hasan bisa membantunya.

Dengan perannya itu, Kiai Hasan benar-benar tampil sebagai sosok ulama yang komplit. Ya, sebagai pendidik, orator ulung, pejuang dan politikus. ? Semua itu bermuara kepada satu tujuan; menggapai ridlo Allah.

Betapapun sebuah perjuangan ditakar, bagaimanapun sebuah kegigihan dan cita-cita ditebar, semuanya masih dibelenggu oleh dimensi waktu. Umurlah yang akan menyudahi segala aktifitas manusia. Kiai Hasan yang begitu agung, toh akhirnya harus tunduk kepada sunnatulah, ajal. Hari Jum’at 13 Juni 1991, Kiai Hasan meninggalkan alam fana.?

Jasad Kiai Hasan boleh tiada, tapi perjuangan, pengabdian dan cita-citanya harus tetap lestari. Dan anak-anak beliau yang berjumlah 24 orang, siap melanjutkan perjuangan sang ayah sesuai profesinya masing-masing. (Aryudi A. Razak /Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, Ulama, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock