Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PWNU DKI Jakarta Perkuat Wawasan Aswaja An-Nahdliyah di Jakarta Selatan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan menggelar halaqah Aswaja An-Nahdliyyah di aula Darul Marfu‘, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Ahad (17/9) pagi. Halaqah di PCNU Jaksel ini merupakan agenda keliling terakhir penguatan Aswaja NU yang dilakukan PWNU DKI Jakarta.

Halaqah ini diikuti oleh pengurus harian banom NU, lembaga NU, serta pengurus harian MWCNU yang ada di Jakarta Selatan.

PWNU DKI Jakarta Perkuat Wawasan Aswaja An-Nahdliyah di Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DKI Jakarta Perkuat Wawasan Aswaja An-Nahdliyah di Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DKI Jakarta Perkuat Wawasan Aswaja An-Nahdliyah di Jakarta Selatan

Halaqah ini diisi dengan dua sesi diskusi dengan tema berbeda. Satu sesi membahas materi Aswaja An-Nahdliyah mulai dari sikap keislaman hingga sikap kebangsaan. Sementara sesi kedua membahas dinamika NU paling aktual di lingkungan Jakarta Selatan mulai dari sikap politik hingga pembahasan plang NU di masjid-masjid.

Sekretaris PCNU Jakarta Selata KH Irfan Zidni mengatakan, “Ini keliling terakhir halaqah PWNU DKI Jakarta. Halaqah di PCNU Jakarta Selatan ini merupakan halaqah terbaik dari pelaksanaan halaqah terbaik dari seluruh PCNU di Jakarta sebagaimana pengakuan dari pengurus harian PWNU DKI Jakarta.”

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengatakan bahwa untuk menangani nahdliyin di Jakarta, pengurus NU harus memiliki pendekatan khusus.

“Pengurus NU harus turun ke bawah, rajin silaturahmi, lalu menggerakkan simpul-simpul kekuatan jamaah. Ujung tombaknya adalah pengurus harian MWCNU. Pengurus NU harus diisi oleh bukan kalangan ustadz dan santri saja, tetapi harus dari pelbagai kalangan. Bukan juga sekadar dzurriyah pendiri NU, tetapi mereka yang mau khidmah untuk NU di Jakarta,” kata Kiai Razak Alwi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, Olahraga, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 20 Februari 2018

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Para petani kerap dilanda masalah klasik. Mereka tidak memiliki kekuatan. Ketidaktersediaan micro finance yang menopang mereka mulai dari proses penanaman hingga paska panen, adalah alasan utama. Ketidakberdayaan mereka dimanfaatkan oleh para pengijon dan rentenir yang meraup keuntungan dari keringat para petani.

“ISNU mencoba memotong mata rantai pengijon dan para lintah darat itu tadi,” ungkap Ali Masykur Musa, Ketua Umum ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) kepada SMA Negeri 1 Slawi, seusai acara penanaman perdana padi di Desa Ragas Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (20/4) lalu.

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat

Desa Ragas Masigit, Kec. Carenang adalah salah satu areal GP3K, (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi) yang diprogramkan BUMN untuk pengembangan dunia pertanian. Kec. Carenang adalah wilayah kantong pertanian terbesar di Kota dan Kabupaten Serang, Banten, tambah Camat Carenang.

SMA Negeri 1 Slawi

Problem klasik, petani biasanya tidak memiliki modal awal untuk penanaman. Celah ini membuka masuknya para pengijon dan rentenir untuk menjerat para petani. Pada sisi yang lain, kelangkaan pupuk menjadikan harga pupuk meningkat tajam. Serangan hama pun menjadi ancaman tersendiri. Lepas panen, harga padi anjlok.

SMA Negeri 1 Slawi

Acara penanaman padi perdana di areal GP3K oleh ISNU diadakan persis di tengah sawah dengan bernaung tenda sederhana. Lebih 200 warga yang mayoritas petani, memadati tempat yang ada. Mereka tampak antusias mengingat acara ini berhubungan erat dengan nasib mereka.

Pertunjukan silat Cimande Cabang Carenang dan tabuhan rebana Permas (Persatuan Remaja Masjid) turut menghibur hati para hadirin. Atraksi Debus khas Banten antara lain bermain-main dengan senjata tajam tanpa luka sedikit pun, tak mau ketinggalan menyambut rombongan ISNU. Suguhan berupa penganan lokal, singkong, dan kacang rebus, keluar sebagai hidangan khas pedesaan.

ISNU bersama PT. Shang Hyang Seri, turun tangan untuk membina dan memproteksi para petani mulai dari proses penanaman hingga pemasaran paska panen. Uluran tangan semacam ini sangat dibutuhkan oleh para petani Indonesia. Mereka merasa tidak sendiri dalam menghadapi kendala-kendala dalam pertanian.

Self organizing, kemampuan mengorganisir diri sendiri bagi petani adalah target utama ISNU. Kemampuan mengatur diri sendiri adalah bekal dasar petani untuk menghapus ketergantungan mereka dari para pengijon dan lintah darat. Sementara, PT. Shang Hyang Seri siap meminjamkan 5 juta rupiah untuk tiap hektarenya.

Sedangkan pembayarannya menggunakan sistem ‘Yarnen’, pengembalian modal di masa panen. Pengembalian modal saat panen dibayar oleh petani tanpa bunga. Sistem Yarnen ini sangat efektif untuk memutus mata rantai pengijon dan lintah darat, tandas Ali Masykur Musa.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Cabang Jamiyyatul Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) dan Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Sumedang? melaksanakan pelatihan makharijul huruf atau pengucapan huruf yang benar dalam Al-Qur’an dengan metode Maisura.

Kegiatan dengan jumlah peserta 101 orang ini berlangsung Sabtu (18/3), di Aula PCNU Sumedang. Para peserta merupakan pengajar yang mewakili sekolah atau lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan LP Maarif NU Sumedang.

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)
JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)

JQHNU-LP Ma’arif Sumedang Latih Ratusan Guru Makharijul Huruf

Ketua Pimpinan Cabang JQHNU Kabupaten Sumedang Ahmad Jauharudin mengatakan, sering kali kami menemukan guru-guru di daerah yang mengajarkan Al-Quran tapi tidak sesuai dengan ilmu tajwid yang benar. “Temuan itu menjadikan kami sebagai pengurus JQH khawatir. Kalau gurunya sudah salah baca Al-Qur’annya maka bisa menular kepada muridnya. Kalau dibiarkan saja nanti akan muncul kesalahan membaca Al-Qur’an secara berjamaah.

SMA Negeri 1 Slawi

Rantai kesalahan ini harus segera diputus atau setidaknya harus diminimalisasi, kata Ahmad. Sebagai langkah awal untuk memutus rantai kesalahan tersebut, pengurus JQHNU Sumedang bekerja sama dengan LP Maarif NU Sumedang mengadakan pelatihan makharijul huruf khusus untuk guru-guru yang mengajar Al-Qur’an.

SMA Negeri 1 Slawi

Pemateri yang didatangkan pada pelatihan ini yaitu Muthmainnah. Beliau ahli quran, seorang hafidzoh, dewan hakim MTQ, serta salah satu dosen Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Pada kesempatan tersebut Muthmainnah menyampaikan materi makhorijul huruf dengan menggunakan metode maisura.

Ahmad jauharudin di akhir acara juga menyampaikan bahwa kegiatan ini baru langkah awal, ke depan akan ada kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan untuk terus menjaga kebenaran dalam membaca Al-Qur’an. “Semoga guru-guru yang hari ini mengikuti pelatihan dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat kepada murid-muridnya. Dan kebenaran membaca Al-Qur’an bisa terus terjaga,” tuturnya. (Ayi Abdul Kahar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Aswaja, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 16 Februari 2018

Untuk Dilantik, GP Ansor Sidoarjo Tunggu SK Pimpinan Pusat

Sidoarjo,? SMA Negeri 1 Slawi?

Usai pelaksanaan Konfercab ke-13 di Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Lebo Sidoarjo, beberapa waktu lalu, kini PC GP Ansor Sidoarjo membentuk pengurus baru periode 2016-2021. Ketua GP Ansor Sidoajro H Rizza Ali Faizin telah membentuk kepengurusan struktural di jajarannya.

Dalam menyusunan pengurus, PC GP Ansor telah melibatkan semua unsur banom NU dengan melakukan fit and proper test terhadap semua calon pengurus PC GP Ansor Sidoarjo.

Untuk Dilantik, GP Ansor Sidoarjo Tunggu SK Pimpinan Pusat (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Dilantik, GP Ansor Sidoarjo Tunggu SK Pimpinan Pusat (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Dilantik, GP Ansor Sidoarjo Tunggu SK Pimpinan Pusat

Rizza mengaku sudah mengantongi nama yang telah masuk dalam fit and proper test dan memilih sebanyak 26 pengurus harian yang mempunyai integritas serta memenuhi persyaratan. Dari 26 itu di antaranya 9 wakil ketua, 9 wakil sekretaris dan 7 bendahara.

"Dari wakil-wakil pengurus harian PC GP Ansor Sidoarjo tersebut terdapat dari Pengurus Anak Cabang Ansor yang ada di kabupaten Sidoarjo. Selain itu, ada kader fungsional dan kader profesional dari kalangan pemuda Nahdlatul Ulama," kata Rizza, Selasa (10/1).?

SMA Negeri 1 Slawi

Selanjutnya, sambung Rizza, Ansor Sidoarjo akan menyerahkan rekomendasi struktural organisasi ke Pengurus Wilayah GP Ansor Jatim. Setelah mendapat rekom dari PW GP Ansor Jatim, tinggal menunggu surat keputusan dari Pimpinan Pusat GP Ansor, dan selanjutnya dilakukan pelantikan.

"Alhamdulillah tanggal 4 Januari kita sudah bentuk pengurus harian dan sesuai kriteria yang diinginkan. Permohonan rekomendasi juga sudah kita bawa kepada PW Jatim. Setelah itu baru rekomendasi dari Ansor pusat. Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Ketum Ansor dan sudah positif tinggal menunggu dari pimpinan wilayah," pungkasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Kajian Islam, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Halal bihalal  yang di gelar Badan Otonom Nahdlatul Ulama kabupaten Jombang, Ahad (9/9) terlihat sangat meriah. Meski digelar lesehan, hampir 300 perwakilan Banom NU yang terdiri, Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, Pergunu, IPNU-IPPNU, Ikatan Sarjana NU, Pagar Nusa dan juga PMII pun terlihat kompak. 

Ketua PCNU Jombang terpilih KH Isrofil Amar, mengatakan kegiatan yang digelar Banom NU ini bisa menjadi momentum meneguhkan gerakan NU dimasa yang akan datang. "Kegiatan semacam ini, merupakan Inisiatif cemerlang untuk membangun NU ke depan. Saya sangat mengapresiasi positif, dan berharap bisa menjadi kegiatan yang lebih bermakna," tuturnya mengatakan.

Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Apalagi, Ketua PCNU dua periode ini menambahkan, dalam kegiatan halal bihalal badan otonom juga melibatkan PMII yang selama ini berada diluar perangkat kelembagaan NU."Mudahmudahan PMII segera masuk NU, mudah mudahan pada kongres mendatang bisa masuk menjadi perangkat organisasi NU," tandas Dosen Unipdu ini berharap.

SMA Negeri 1 Slawi

Masih menurut KH Isrofil menuturkan, persoalan NU ke depan, pihaknya sangat optimis dengan melihat kekompakan badan otonom, NU memiliki potensi yang sangat besar dan kuat."Mudah mudahan tidak hanya halal bihalal, tetapi juga kegiatan yang lain, juga bisa disinergikan, untuk menuju NU yang maju," tandasnya seraya meminta seluruh pengurus banom istqomah membesarkan NU dan tidak ada lagi Banom, baik  Muslimat, Ansor berjauhan dengan NU nya. 

SMA Negeri 1 Slawi

KH Isrofil mengakui, adanya kesenjangan komunikasi antar Badan Otonom. Dan hal itu karena kurang ada pertemuan."Mengapa ini terjadi demikian karena tidak sering ketemu. Karena itu mari kita kokohkan NU. Ini momentum, Kami minta dikokohkan untuk menuju masa depan NU yang gemilang," pungkasnya.

Nampak hadir memberikan semangat, pada kegiatan tersebut mantan ketua Muslimat NU Jombang Hj Munjidah Wahab. Putri pendiri NU, KH Wahab Hasbulloh ini meminta jalinan komunikasi antar banom bisa dilakukan terus menerus. "Ini penting, dan harus kita lakukan terus, dan saya siap untuk memfasilitasi sehingga ada sinergitas program antar Banom," tutur anggot DPRD Jatim ini menjanjikan. 

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Ramadlan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Olahraga, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi 

Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa akan menyelenggarakan Ijazah Kubro di Lapangan Puser Bumi, Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Ahad (28/1). Ijazah akan dilakukan kiai-kiai sepuh untuk sekitar 25.000 pendekar dan Nahdliyin. 

Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, mengungkapkan pentingnya agenda Ijazah Kubro bagi para pendekar Pagar Nusa dan Nahdlyyin. 

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Siap Adakan Ijazah Kubro Kiai Sepuh

"Penyelenggaraan Ijazah Kubro ini merupakan amanat dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan kiai-kiai sepuh," katanya. 

Menurut dia, si tengah pelbagai tantangan bangsa kini, perlu ada penyelenggarakan Ijazah Kubro untuk mendapatkan semangat dan sentuhan dari kiai sepuh. Intinya, Nahdliyin perlu siap secara mental dan spiritual menghadapi dinamika bangsa ini pada masa kini dan mendatang.

Menjelang agenda ini, Nabil Haroen didampingi Ketua Panitia, Zainul Munasichin dan pengurus Pimpinan Pusat Pagar Nusa, sowan ke beberapa kiai sepuh, di antaranya, KH Maimoen Zubair, KH Mustofa Bisri, KH Habib Luthfi bin Yahya, KH Maruf Amin, KH. Said Aqil Siroj, KH Ayip Abbas, dan beberapa kiai sepuh lainnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara salah seorang Pengurus Pimpinan Pusat, Athoillah juga akan bersilaturahim ke beberapa kiai di Jawa Timur, di antaranya KH Nawawi Abdul Jalil dan beberapa kiai sepuh lainnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ijazah Kubro ini terbuka bagi pendekar Pagar Nusa, Banser dan warga Nahdliyin. Bagi para peserta yang ingin hadir dan menjadi peserta, dapat menghubungi Pengurus Pagar Nusa di Wilayah dan Cabang masing-masing, atau mendaftar secara online di bit.ly/ijazahankubropn, serta menghubungi call center Pagar Nusa (0813 1947 1986 / 0878 8723 1986).

Kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian agenda Pengukuhan Pimpinan Pusat masa khidmah 2017-2022 di Cirebon, Jawa Barat, pada Ahad (28/1). Setelah itu, dilanjutkan dengan Rakernas di Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, pada 28-30 Januari 2018 yang dihadiri para pengurus Pimpinan Wilayah Pagar Nusa. (Sirojuddin/Abdullah Alawi)  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Festival Musik Patrol Jember, Musik Khas Bangun Sahur

Jember, SMA Negeri 1 Slawi - Satu-satunya musik lokal yang identik dengan Ramadhan adalah musik patrol. Dulu di Jember,? selama bulan Ramadhan musik patrol menjadi sarana dakwah yang efektif. Beberapa anak muda bahkan dewasa berkeliling kampung dengan musik patrolnya untuk membangunkan masyarakat agar tak telat makan sahur.

Namun sekarang, musik patrol untuk sarana dakwah tersebut semakin langka. Bahkan nyaris tak pernah terdengar suara musik patrol menjelang sahur. Hal itulah yang mendorong Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember rutin menghelat festival musik patrol, Sabtu (25/6) malam.

Festival Musik Patrol Jember, Musik Khas Bangun Sahur (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Musik Patrol Jember, Musik Khas Bangun Sahur (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Musik Patrol Jember, Musik Khas Bangun Sahur

Festival Ke-16 ini mengambil tema; Suaru Ramadhanku. Pesertanya mencapai 16 kelompok. Menurut Ketua Panitia Linda, setiap peserta wajib membawakan minimal dua lagu yang bertema Ramadhan atau religi. Pilihan lagu wajib tersebut adalah Lir-Ilir, Padang Bulan, Turi Putih, Sebatang Pohon, dan Tombo Ati. Sedangkan satu lagu lagi, temanya bebas.

"Karena ini untuk menyemarakkan Ramadhan, maka lagunya yang sejuk, tema lagunya Ramadhan atau religi," ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu Kepala Bidang Kebudayaan Kantor Pariwisata Jember Sirajuddin mengatakan, musik patrol adalah budaya asli Jember. "Musik patrol bukan milik Sumenep, Sampang, Pamekasan. Kita harus klaim musik patrol milik Jember," katanya saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Musik tradisional Jember yang menggunakan perkusi, mayoritas dari bambu dan diiringi? seruling ini adalah bagian dari kultur yang kembali hidup selama bulan Ramadhan. Di kampung-kampung nan jauh di pelosok desa, masih ada kelompok-kelompok kecil yang membangunkan umat Islam untuk makan sahur dengan memainkan musik yang satu ini.

Festival musik patrol menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat? Jember. Acara ini start di doble way Universitas Jember. Lalu menyusuri? jalan Kaliamtnan, Mastrip dan berakhir di alun-alun Jember. Di sepanjang jalan, mereka mendapat respon yang? hangat dari masyarakat. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi. PW Aswaja NU Center Jawa Timur memastikan bahwa setiap Jumat akan mengunjungi sejumlah masjid untuk kian memasyarakatkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada kaum muslimin. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab demi menyelamatkan akidah umat dari rongrongan gerakan Islam yang cenderung ekstrem.

"Kami telah memiliki mobil operasional dan akan dioptimalkan untuk menyapa masjid setiap Jumat," kata Direktur PW Aswaja NU Center, KH Abdurrahman Navis, Sabtu (22/8).

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Mobil dengan jenis APV tersebut akan menyediakan sejumlah kebutuhan Aswaja. "Dari mulai buku, flash disk, dan selebaran Jumat," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan sejumlah pengurus dan anggota siap memberikan layanan tanya jawab seputar Aswaja dan pengetahuan agama Islam yang dibutuhkan masyarakat, lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Navis, sapaan akrabnya sangat menyadari bahwa tantangan bagi tersebarnya Aswaja demikian berat. "Banyak masjid di sekitar kita yang telah dimasuki aliran Islam garis keras," ungkapnya. Dan untuk mengimbangi atau bahkan melawan gerakan ini, cara yang ditempuh adalah antara lain dengan melakukan sosialisasi ke sejumlah masjid tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga berharap agar gerakan PW Aswaja NU Center bisa dilakukan juga oleh banyak kalangan, khususnya para generasi muda. "Karena tantangan Aswaja ala NU semakin berat," pungkasnya.? (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Ubudiyah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi. Untuk mewujudkan mesjid sebagai pusat gerakan pemeliharaan akidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, sebagai pusat pelayanan dan kesehatan umat, pusat keilmuan, dan sumber pendidikan, Pengurus Lembaga Tamir Mesjid (LTM) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang kembali menggelar Pelatihan Muharrik Mesjid pada hari Sabtu, 16 April 2016.?

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Seluruh pengurus DKM se-Kecamatan Jatinangor yang berjumlah sebanyak 50 orang berkumpul di Mesjid Pondok Pesantren Al-Falah untuk mendapatkan materi tentang muharrik masjid.

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang Ust. Eman Sulaeman mengatakan bahwa pelatihan Muharrik Mesjid Nahdlatul Ulama ini menjadi program utama Pengurus LTMNU kabupaten Sumedang. Tujuan utamanya yaitu membentengi masjid-mesjid Nahdlatul Ulama dari rongrongan paham-paham radikal di luar paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.?

Selain itu ingin menyampaikan tentang pentingnya Kegiatan Muharrik Mesjid demi terciptanya pengurus masjid yang paham betul terhadap kegiatan-kegiatan tamir mesjid ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PCNU Sumedang Kiai Ade Gaos. Ia memaparkan secara detail dan terperinci materi tentang Ke-Aswaja-an ala Nahdlatul Ulama.?

Ia juga mengutip pepatah Arab, "Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir". Selain itu Kiai Ade Gaos juga membangkitkan semangat juang dan kecintaan warga Nahdliyin di daerah Jatinangor terhadap Nahdlatul Ulama dengan menyampaikan pepatah bijak Kiai Asad: "Jadikanlah NU itu sebagai istrimu yang engkau nafkahi, bukan sebagai suami yang engkau jadikan sebagai pemberi nafkah".

SMA Negeri 1 Slawi

Selanjutnya untuk terciptanya warga Nahdliyin yang aman sejahtera, Kiai Ade Gaos mengajak warga untuk bersama-sama membesarkan Nahdlatul Ulama khususnya di daerah Kabupaten Sumedang.?

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang sempat pula mengutip kata-kata bijak salah satu Kiai NU "Bangsa yang paling celaka adalah bangsa yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri, lebih-lebih umat yang tidak mengetahui sejarah agamanya sendiri" (Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya). (Dede Rohmat Apandi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Bahtsul Masail, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Pesantren sudah eksis ratusan tahun di Nusantara. Selama itu, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangsih yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Pada masa penjajahan, pesantren turut menentang penjajahan kolonial. Setelah merdeka, pesantren turut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa hingga hari ini masih begitu terasa.?

Bukan hanya berkecimpung di dunia pendidikan, pesantren juga aktif dalam sektor-sektor yang lain seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, sosial, budaya, dan lainnya. bahkan, Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah sub-kultur.

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Di sepanjang sejarahnya, pesantren menghadapi problematika yang beragam sesuai dengan eranya, baik tantangan dari luar ataupun tantangan dari dalam itu sendiri. Namun, semua permasalahan itu bisa diatasi sehingga pesantren bisa tumbuh subur dan berkembang hingga sampai detik ini. Dewasa ini, tantangan yang dihadapi pesantren juga tidak kalah hebatnya dengan tantangan yang telah dihadapi pada masa lalu.

Untuk mengurai segala hal ikhwal dunia pesantren –mulai dari peran pesantren dalam konteks keindonesiaan, peluang dan tantangan pesantren, dan masa depan pesantren, Jurnalis SMA Negeri 1 Slawi A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Ketua Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) KH Abdul Ghofar Rozin. Berikut perikan wawancaranya:

Peran pesantren dalam konteks keindonesiaan itu seperti apa, Gus?

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau kita ngomong Nusantara, kalau kita ngomong Indonesia maka tidak bisa lepas dari yang namanya pesantren. Kalau bicara pesantren, kita tidak hanya memotret pesantren secara kelembagaan yang kita lihat sekarang ini.?

Pesantren itu sebuah peradaban besar. Misalnya pada zaman Raden Fatah menjadi sultan itu juga merupakan dari peradaban pesantren. Kalau meminjam bahasanya Mas Imam, pesantren itu great civilization. Tetapi kalau kita motretnya ke sana itu terlalu kejauhan, meskipun cita-cita pesantren adalah menjadi great civilization seperti dulu.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau meloncat pada masa pra kemerdekaan, pesantren mendorong terjadinya kemerdekaan Indonesia. Meski pesantren ada lebih dulu sebelum Indonesia, tetapi pesantren juga yang menjaga kemerdekaan NKRI. Apapun taruhannya.?

Sepanjang sejarahnya, pasti pesantren memiliki tantangan-tantangan yang dihadapi. Apa saja tantangannya itu?

Tantangannya banyak. Ada tantangan ideologis, ada tantangan kelembagaan, dan ada tantangan budaya. Pada tantangan budaya, apakah pesantren mampu merumuskan kembali manifesto kebudayaan pesantren yang kompatibel terhadap isu-isu kekinian.?

Kiai menjadi figur dalam pesantren. Ada fenomena jika kiainya wafat maka pesantrennya akan mengalami penurunan. Bagaimana Gus Rozin melihat ini?

Memang kiai itu menjadi figur sentral di pesantren. Kalau kita lihat dua atau tiga puluh tahun yang lalu pendapat seperti itu relevan, tetapi sekarang sudah tidak relevan lagi. Karena selama dua puluh tahun terakhir, banyak pesantren yang berjalan by system.?

Artinya figur itu menjadi berpengaruh dan tidak satu-satunya faktor. Contoh pesantren yang ditinggal sesepuhnya yaitu Pesantren Denanyar, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Cipasung, namun pesantren-pesantren tersebut tambah pesat.?

Saya kira tesis itu harus ditinjau ulang. Itu dulu seorang kiai menjadi figur sentral, menjadi pelaksana, melakukan fungsi kehumasan. Namun sekarang jarang sekali kiai yang melakukan itu semua.

?

Artinya?

Secara alamiah pesantren menemukan bentuk barunya dan itu sudah berjalan. Memang ada persoalan yang pengasuhnya tokoh nasional atau tokoh yang terkenal lintas provinsi. Memang kalau kiai tersebut wafat, ada sesuatu yang ‘bolong.’ Saat beliau wafat, putra-putra atau saudara-saudaranya tidak mengambil peran kenasionalannya itu.

Tetapi itu tidak serta merta pesantrennya menurun. Karena sekali lagi dua puluh tahun terakhir ini, kiai-kiai tokoh besar itu memang menjalankan fungsi keluarnya. Fungsi internalnya dipegang oleh the second line, level kedua, level ketiga, para gus, para mantu. Bahkan ada pesantren yang mengajak profesional untuk bergabung di dalamnya.?

Kalau soal itu, saya optimis pesantren tidak akan turun. Kalau pesantren sebagai sebuah organisme, pasti dia akan menemukan sendiri caranya untuk survive.?

Balik lagi ke tantangan pesantren. Salah satunya tadi tantangan akidah seperti Pesantren-pesantren Wahabi. Bagaimana itu?

Saya meilhat tidak ada pesantren wahabi. Kalau ada pesantren yang wahabi itu berarti bukan pesantren. Pesantren itu khas nusantara, pesantren itu khas Indonesia. Pesantren yang asli itu secara genealogis, baik hubungan darah maupun hubungan keilmuan, pasti nyambungnya ke Wali Songo. Yang secara genealogis tidak nyambung ke Wali Songo berarti bukan pesantren, itu lembaga pendidikan biasa. ?

Kalau ‘pesantren’ yang mengajarkan kekerasan seperti cara menggunakan senjata tajam dan perakitan bom?

Itu bukan pesantren. Ngaku-ngaku pesantren tetapi bukan pesantren.?

?

Lalu, urgensi dari tantangan ideologis itu seperti apa?

Tantangan itu menjadi cukup serius sekarang karena ghozwul fikr itu sudah bergeser dari Timur Tengah kemudia di Indonesia. Intensititasnya meningkat. Problemnya adalah pesantren belum cukup sadar bahwa mereka harus menggukana media sosial dengan bijak dan untuk keperluan ini. Ini salah satu kelemahan pesantren yang harus diperbaiki.

Maksudnya?

Pesantren melihat teknologi bukan sebagai patner. Pesantren melihat teknologi tidak sebagai wasilah yang bisa digunakan. Pesantren melihat teknologi kebanyakan itu masih sebagai ancaman. Ini yang membuat akses terhadap teknologi itu dibatasi. Kalau ada santri yang mengakses gadget itu masih secara diam-diam.?

Di satu sisi santri masih belum begitu membutuhkan. Mereka harus fokus belajar dan tidak membutuhkan gadget itu karena kebutuhan yang dibutuhkan santri sudah dipenuhi oleh pesantren.?

Tetapi itu membawa madarat juga karena sesungguhnya gadget itu adalah sebuah alat dalam konteks ghozwul fikr dan dalam konteks remaja sekarang tidak bisa dilepaskan dari gadget. Teknologi itu seperti pisau, tergantung mau pakai apa pisaunya itu. Kalau kita buat masak, pisau itu akan bermanfaat.?





Bagaimana memecahkan masalah itu?

Pesantren melihat gadget itu adalah sebuah ancaman karena bisa untuk ‘memukul orang’. Toh, kita bisa ajarkan kepada mereka untuk menggunakan gadget secara bijak, secara bertahap, dan melalui mekanisme yang benar. Ini yang membuat kita tertinggal dalam ‘perang’ di media sosial karena di pesantren tidak disiapkan untuk itu. Bukan hanya memanaj penggunaan gadget, tetapi juga harus dimulai dari sudut pandang melihat bahwa teknologi itu adalah wasilah untuk mencapai tujuan. Karena kita melihat sejarah bahwa tidak ada satupun peradaban yang menang melawan teknologi.?





Saat ini, seberapa jauh pesantren mengakomodasi teknologi?

Beberapa sudah memiliki kesadaran dan mengaplikasikan teknologi sebagai alat sebagai sarana untuk berdakwah atau untuk pembelajaran. Tapi sebagian besar masih belum.?

Tantangan ideologis lainnya adalah radikalisasi atas nama agama. Bagaimana Gus Rozin melihat pesantren dalam melakukan upaya-upaya kontra-radikalisasi?

Selama ini pesantren bersikap defensif terhadap radikalisasi. Pesantren bereaksi ketika dirinya merasa terancam, bereaksi ketika santrinya ada yang ikut paham yang aneh-aneh itu. Pesantren belum ofensif. Pesantren belum secara aktif membuat sistem yang membuat pesantrennya imun dari pengaruh radikalisasi. ?

Sebenarnya dakwah-dakwah radikal menggunakan medsos. Sedangkan kita masih melihat medsos sebagai ancaman. Cara berfikir anak-anak muda ini kan berbeda, mereka digital born, sementara saya dan orang-orang yang berumur di atas empat puluh tahun digital migrant. Nah, karena pemegang kebijakan di pesantren adalah orang yang digital migrant yang berumur di atas empat puluh tahun masih belum mengalami bahwa yang mereka asuh adalah digital born.?





Ke depan, pesantren ini akan seperti apa?

Ke depan pesantren akan berperan strategis dalam merekatkan bangsa ini. Pertama, karena aspek sejarahnya. Pesantren yang mendorong adanya NKRI. Bahkan, Panglima TNI mengakui bahwa kalau tidak ada pesantren, maka belum tentu ada resolusi jihad. Kalau tidak ada resolusi jihad, belum tentu ada Indonesia.?

Kedua, pesantren sedang dalam sebuah proses untuk menjadi mainstream pendidikan di Indonesia. kalau itu tercapai, bukan tidak mungkin pesantren itu menjadi perekat bangsa. Dan fungsinya akan sangat strategis dan negara tidak akan pernah bisa meninggalkan pesantren. Inikatornya adalah hampir semua partai politik memiliki organisasi-organisasi yang didisain untuk mendekati pesantren. Ini menjadi indikator bahwa pesantren itu menjadi sangat penting.?

Partai politik memiliki kendaraan ke pesantren. Apakah ini peluang atau malah akan menjadi tantangan yang mengahncurkan pesantren?

Tergantung cara kita menyikapi. Kalau kita masuk secara sadar, maka kita akan mendapatkan manfaatnya. Kalau kita masuk secara tidak langsung, maka kita akan diperalat. ?





Terakhir, terkait dengan RUU Madrasah dan Pesantren. Bagaimana kita menyikapinya?

RUU Madrasah dan Pesantren belum masuk ke Badan Legislatif. Itu harus didorong. Walaupun memang ada beberapa bagian yang harus tetap dikritisi misalnya fokus dari RUU ini adalah lebih kepada soal pemerataan anggaran. Padahal kesuksesan sebuah lembaga pesantren dan madrasah, faktor anggaran itu bukan satu-satunya. Ada faktor-faktor lain yang harus disentuh yang belum mendapatkan perhatian. Tetapi tidak apa-apa, yang ada saja didorong dan nanti bisa diperbaiki sambil jalan. Semoga saja bisa segera masuk Baleg dan disahkan.?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 15 Januari 2018

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab

KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq adalah putra kelima KH Abdurrahman. Beliau merupakan adik KH Fathan bin Abdurrahman yang meneruskan perjalanan Pesantren Futuhiyyah bersama dengan dua keponakannya, KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan KH Muhammad Hanif Muslih, sepeninggal KH Muslih bin Abdurrahman.

?

Sepanjang masa itu, kiai Ahmad Muthohar merupakan sesepuh yang mengampu pengajian santri dan bertindak sebagai imam sholat maktubah di Masjid An Nur Pondok Pesantren Futuhiyyah, disamping sebagai imam sholat Jumat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kauman, Mranggen.

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Muthohar, Mursyid Thariqah Penulis Berbagai Kitab

Sedang struktur tata kelola organisasi pesantren (termasuk pengelolaan yayasan) dipimpin oleh dua putra KH Muslih bin Abdurrahman, yakni KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan dibantu adiknya KH Muhammad Hanif Muslih.

KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman terkenal sebagai sosok ulama yang istiqomah. Para santri menjadi saksi keistiqomahannya dalam hal ubudiyah. Sepanjang hayat, kecuali pada saat benar-benar udzur, beliau senantiasa melaksanakan sholat maktubah berjamaah dengan para santri.

Salah satu hal yang patut menjadi teladan dari kiai kelahiran 1926 ini adalah keistiqomahan dalam beribadah. Meski harus dengan menaiki kursi roda dan didorong oleh santri dari kediaman menuju masjid, beliau tetap semangat, bahkan masih sempat keliling ke kamar-kamar pesantren untuk membangunkan santri yang tidur atau sekedar mengingatkan waktu sholat jamaah.

Disamping menjadi imam Masjid An Nur Pesantren Futuhiyyah, sehari-harinya KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman juga mengampu pengajian kitab-kitab salaf.

SMA Negeri 1 Slawi

Semasa hidup, KH Ahmad Muthohar dikenal sebagai penulis produktif. Tak kurang dari 30 judul kitab kuning karyanya membahas berbagai disiplin ilmu, diantara kitab nahwu, shorof (tata bahasa), aqidah (ketahuidan), akhlak (budi pekerti), fiqih (hukum Islam), tafsir, hingga mawaris (tentang pembagian warisan).

KH Ahmad Muthohar merupakan salah satu ulama yang berkesempatan menimba ilmu dari Abu Al Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani, yang masyhur dikenal dengan Syekh Yasin Al Fadani, ulama Makkah asal Padang Sumatera Barat, bergelar “Al Musnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia), berkat keahliannya dalam hal ilmu periwayatan hadits.

SMA Negeri 1 Slawi

Di kalangan nahdliyyin, karya-karya KH Ahmad Muthohar cukup dikenal dan masih dipakai untuk pembelajaran agama hingga sekarang. Sebut saja kitab Imrithi dan Al Wafiyyah fi Al Fiyyah (Nahwu), Akhlaqul MArdliyyah (akhlak), Tafsir Faidurrahman (tafsir), Al Maufud (Shorof), Syifaul Janan dan Tuhfatul Athfal (tajwid). Buah karyanya yang lain, kitab Rahabiyyah (warisan) serta Tsamrotul Qulub (bacaan wirid sesudah shalat).

Sebagian besar karya KH Ahmad Muthohar diterbitkan oleh penerbit Thoha Putra Semarang, yang memang dikenal sebagai penerbit kitab-kitab klasik. Selain itu, ada pula sejumlah karyanya yang dirilis oleh penerbit Malaysia.

Selain penulis produktif, KH Ahmad Muthohar juga merupakan sosok penting di kalangan nahdliyin, hingga wafat tahun 2005, beliau adalah Mustafadl Jam’iyyah al Mu’tabarah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah An Nahdliyyah.

Tak heran, kepergiannya dihantarkan oleh banyak pelayat. Sebagian mereka merupakan murid thariqah. Tak cuma dari Mranggen, para murid tersebut datang dari berbagai kota di Jawa, seperti Semarang, Purwodadi, Kendal, Sragen, Pekalongan, Blora, Pati, Solo, Cirebon, bahkan luar Jawa.

KH Ahmad Muthohar meninggal dunia pada usia 79 tahun saat melaksanakan sholat tahajud, yang rutin dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Beliau wafat meninggalkan 8 putra-putri dari para istrinya, 4000-an santri, dan puluhan ribu anggota thoriqoh.

(Abdus Shomad/Ben Zabidy – PP. Futuhiyyah Suburan Mranggen)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui SMA Negeri 1 Slawi di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Warga jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) sudah semakin gandrung dengan media internet dalam memperkuat fungsi keorganisasian baik ke dalam maupun keluar. Dalam hal ini SMA Negeri 1 Slawi sebagai situs resmi PBNU menjadi kekuatan perekat dan pemandu bagi terciptanya konsolidasi organisasi.

“Tahun 1980-an saat membuat website www.bumi-nu.com saya masih merasa sendirian. Namun sekarang lembaga-lembaga di bawah naungan NU sudah memakai media internet untuk keperluan organisasi masing-masing,” kata H Said Budairi, usai menerima penghargaan sebagai salah seorang tokoh NU yang berjasa dalam pengembangan teknologi informasi pada acara Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 SMA Negeri 1 Slawi di Jakarta, Selasa (28/8) tadi malam.

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Selain Said Budairi, 3 tokoh lainnya yang mendapat penghargaan adalah Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Wakil Rais Syuriah NU Sumatra Barat Tuanku Bagindo Haji Mohhammad Letter, dan Pemimpin Pondok Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut KH Thonthowi Djauhari Musaddad.

Keempat tokoh tersebut dinilai berjasa dalam pengembangan dan pemamfaatan teknologi informasi untuk kebutuhan organisasi NU. Sebelumnya direncanakan hanya tiga tokoh NU yang mendapat pernghargaan. “Namun Alhamdulillah Bagindo Leter bisa hadir,” kata Suwadi DP, Ketua Pelaksana Acara.

Pada malam Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 SMA Negeri 1 Slawi juga dianugerahkan penghargaan kepada empat websiter terbaik di lingkungan NU, berturut-turut www.pmii.or.id, www.gp-ansor.orgwww.lakpesdamjombang.org, dan www.muslimat-nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

Keempat website terbaik itu dipilih dari 22 website yang memenuhi kriteria penilaian, yakni website milik perangkat-perangkat organisasi NU (lajnah, lembaga, dan badan otonom) baik tingkat pusat dan daerah, juga website Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di luar negeri. Aspek yang dinilai adalah kelengkapan teknis semisal desain grafis, standar kepantasan, keamanan, kemudahan navigasi, pencarian internal, dan kelancaran mesin pencari data.

Sementara kelengkapan non teknis meliputi isi website baik menyangkut kontinuitas, konsistensi dan relevansi dengan back-ground instansi, juga menyangkut jumlah pengunjung dan respon publik, inovasi teknologi serta dampak dan manfaat website bagi masyarakat.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Pendidikan SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Riuh canda seperti tak ada habisnya ketika dua orang berkebangsaan Jepang bertamu di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (6/1). Sore itu keduanya yang hendak menyatakan diri sebagai muallaf disambut hangat sejumlah pengurus harian PBNU.

Sebelum prosesi pembacaan dua kalimat syahadat, Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka, pria dan wanita berkebangsaan Jepang itu, berbincang dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Obrolan berlangsung santai dengan sesekali Kiai Said menyisipkan guyonan.

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang

“Arigatou sasamasu…” sapa Ketua PBNU Marsudi Syuhud yang baru datang sambil membungkukkan badan. Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka tertawa. Seharusnya, arigatou gozaimasu. Di Jepang, ungkapan ini juga tak lazim untuk menyapa orang karena artinya terima kasih. Kiai Said pun ikut tertawa.

Menjadi muallaf atau berpindah agama adalah keputusan besar, bahkan menegangkan bagi sebagian orang. Namun, Kiai Said dalam kesempatan itu seolah hendak menghilangkan ketegangan tersebut dengan gaya komunikasi yang sangat rileks dan cair.

Gaya yang sama juga ditunjukkan Kiai Said ketika membimbing para muallaf lain, seperti Ketua DPD Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Kabupaten Belitung Fendi Haryono pada Juni 2016, atau dua pengusaha Jepang bernama Ogawa Hideo dan Suzuki Nobukazu pada Desember 2015, atau warga asal Jepang Terao Taketoshi pada Maret 2016, dan lain-lain.

SMA Negeri 1 Slawi

(Baca juga: Kunjungi Jepang, Kiai Said Islamkan 12 Orang)

SMA Negeri 1 Slawi

Pertama-tama Kiai Said biasanya bertanya kepada calon muallaf untuk memastikan bahwa pilihannya untuk masuk Islam bukan karena paksaan. Baru kemudian kiai asal Cirebon ini menjelaskan bahwa Islam membawa misi kasih sayang. Selain soal iman, Islam juga menekankan akhlak.

Karena itu, semakin teguh keyakinan seseorang, semakin terbuka ia terhadap perbedaan. Musuh sejati umat Islam bukan perbedaan, melainkan kezaliman dan kebiadaban. “Jika ada orang melakukan teror, aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam, berarti ia tak paham dengan Islam,” tuturnya.

Umumnya pandangan seperti ini pula yang menarik perhatian para calon muallaf memilih NU sebagai pintu untuk memasuki Islam yang moderat dan menjunjung tinggi perdamaian. Seperti Terao Taketoshi yang mengaku tertarik kepada NU karena konsisten menegakkan Islam rahmatan lil alamin.

Usai yakin bahwa perpindahan agama lahir dari kesadaran sendiri, Kiai Said lantas menuntun calon muallaf membaca dua kalimat syahadat kata demi kata. Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung khidmat meski ia tetap memberi toleransi jika calon muallaf tidak fasih dalam pelafalan rukun Islam pertama itu.

Soal nama baru sang muallaf, Kiai Said tak melakukan perubahan terhadap nama asli. Kalaupun ada perubahan, Kiai Said biasanya menambahkan nama Muhammad, Ahmad, Hasan, Ali, Sholehah, atau nama-nama lain yang akrab di lidah umat Islam kebanyakan.?

Selanjutnya, mereka berfoto bersama, makan, atau berbincang lagi. Tak ada pembahasan seputar tema-tema berat tentang konsep ketuhanan, kenabian, atau lainnya. Islam dibahas prinsip-prinsipnya saja dan ? yang sejauh diterima para pemeluk baru Islam. “Islam itu mudah. Yang paling penting adalah tidak berhenti belajar,” kata Kiai Said. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Pahlawan, Sunnah SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 22 Desember 2017

Mustasyar PBNU: Bangun Masjid untuk Anak Cucu

Jepara, SMA Negeri 1 Slawi. KH Sya’roni Ahmadi, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, salah satu amal baik yang dapat diwariskan kepada anak cucu adalah masjid. Demikian disampaikannya dalam Peletakan Batu Pertama Masjid An-Nur 2 desa Sendang, kecamatan Kalinyamatan, Ahad (28/4) pagi.

Menurut Kiai Sya’roni, masjid yang digunakan untuk beribadah saat ini pun adalah warisan nenek moyang terdahulu. “Karenanya masjid yang kita bangun saat ini untuk anak-anak cucu kita kelak,” katanya. 

Mustasyar PBNU: Bangun Masjid untuk Anak Cucu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU: Bangun Masjid untuk Anak Cucu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU: Bangun Masjid untuk Anak Cucu

Kiai sepuh asal Kudus itu menjelaskan agar bangunan cepat selesai dibutuhkan pendanaan dari para dermawan. “Nyumbang (bersedekah, red) itu jangan banyak-banyak dan terlalu sedikit,” jelasnya.  

Dalam Surat Al-Isra’ juz 15 ia mengutip salah satu ayat yang menggunakan bahasa kinayah. “Tanganmu ojo mok belenggu gulumu lan ojo mok beberke ombo-ombo,” kutipnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari terjemahan itu, dirinya menyontohkan sedikit artinya bukan Rp.5.000 banyak bukan berarti 10 miliar. “Rp.5.000 itu untuk membeli bakso. Kalo nyumbangnya sampai 10 miliar malah panitia yang keenakan,” lanjutnya. 

Untuk beramal imbuhnya harus semedeng, tidak terlalu banyak dan sedikit. “Saat bangunan sudah jadi ya selesai nyumbangnya,” imbuhnya. 

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Sya’roni juga berpesan agar saat nyumbang seorang dermawan datang sendiri. Sebab yang butuh bukan panitia melainkan para dermawan. Disamping itu sedekah yang diberikan ditujukan amalnya untuk leluhur yang telah mendahului. Hal itu dilakukan agar almarhum bungah, bahagia. 

Lebih lanjut ia mengungkapkan berjuang di jalan Allah selain ditempuh dengan harta bagi para dermawan, bagi yang kuat tenaganya menggunakan kekuatannya. Juga dengan pikiran. “Untuk yang sepuh-sepuh dengan pikirannya setidaknya dengan merestui,” tegasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 18 Desember 2017

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Terjawab sudah teka-teki siapa yang bakal menempati posisi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia adalah Ali Masykur Moesa.

Ali Masykur yang sebelumnya merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Dewan Tanfidz menggantikan Muhaimin Iskandar, terpilih secara aklamasi. Ia ditunjuk oleh tim asistensi yang bertugas membantu Gus Dur menentukan ketua umum.

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

"Dengan ini tim asistensi yang membantu ketua dewan syuro sepakat menunjuk dan mengangkat saudara Ali Masykur Moesa sebagai Ketua Umum PKB," kata anggota tim asistensi yang juga Ketua DPW Kalimantan Selatan Rosehan N.B. saat membacakan hasil akhir rapat pleno tim formatur di arena Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB Gus Dur, di Parung, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/5).

SMA Negeri 1 Slawi

 

Penunjukan Ali Masykur ini untuk mengisi jabatan lowong yang ditinggalkan Muhaimin. Ali Masykur akan menjabat posisi ketua umum PKB untuk masa jabatan 2008-2010.

Gus Dur menyatakan, penunjukan Ali Masykur sebagai ketua umum PKB untuk tidak mengurangi kekompakan DPP PKB kubunya. Diharapkan dengan perubahan yang tidak banyak mempermudah proses selanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

"Setelah kami bersidang diputuskan susunan DPP PKB yang baru. Dan, sebenarnya hanya ada perubahan kecil saja agar tidak mengurangi kekompakan kita," kata Gus Dur.

Sebelumnya, sempat mengemuka tiga nama yang bakal mengisi posisi ketua umum Dewan Tanfidz. Di antaranya, Ali Masykur, Zanubah Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) dan Muamir Muin Syam. Namun, Yenny kemudia menolak dipilih sekaligus mendukung Ali Masykur.

Dalam pidatonya, Yenny Wahid menegaskan dirinya tidak bersedia maju dalam pemilihan Ketua Umum PKB. Menurut Yenny, langkah ini diambil untuk menghargai ayahnya Gus Dur, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB.

"Saya berharap keputusan ini membuat MLB PKB happy ending (berakhir bahagia)," ujar Yenny yang selanjutnya meminta peserta MLB mendukung Ali Masykur selaku ketua umum. (rif/mkf/dtc)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Ketum IPNU Minta Rekomendasi Rapimnas Diwujudkan PW dan PC

Bandung, SMA Negeri 1 Slawi

Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2017 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Bandung ditutup secara resmi oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irfan Mujahid, pada Senin (20/11/2017).

Ketum IPNU Minta Rekomendasi Rapimnas Diwujudkan PW dan PC (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPNU Minta Rekomendasi Rapimnas Diwujudkan PW dan PC (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPNU Minta Rekomendasi Rapimnas Diwujudkan PW dan PC

Dalam sambutan penutupannya, Asep mengatakan, bahwa rekomendasi yang telah dirumuskan tidak hanya selesai hanya dibacakan, tetapi harus diwujudkan dengan program nyata. Ia juga berharap agar Pimpinan Wilayah proaktif dalam membangun komunikasi dan menyampaikannya ke PC.

Asep juga menyampaikan, bahwa keterbatasan pelaksanaan, tidak mengurangi khidmah kader dalam berorganisasi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Keterbatasan pelaksanaan rapat pimpinan nasional ini tidak mengurangi khidmah kita dalam mengawal proses organisasi, mengawal ikhtiar kita untuk mewujudkan organisasi lebih baik,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Mewakili pimpinan wilayah se-Indonesia, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Barat Ziyad Ahmad menyampaikan beberapa pesan. IPNU, menurutnya, berdasar diskusi bersama seluruh PW, harus mengambil peran dalam wacana besar nasional.

“Organisasi berperan dalam memberikan wacana besar,” katanya.

Kondisi di tengah zaman yang terus bergerak secara dinamis ini membuat IPNU harus menyesuaikan diri. “IPNU harus mampu menyesuaikan diri dengan konteks pelajar zaman now,” katanya.

Selain itu, Pimpinan Pusat juga, menurut Ziyad, harus kembali mengkaji model kaderisasi berdasarkan data riil.

“PP harus kembali mengkaji sistem kaderisasi by data.”

Rekomendasi

Sementara itu, Ketua PP IPNU bidang jaringan kepesantrenan Aqib Malik menyampaikan beberapa rumusan rekomendasi pada malam sebelum penutupan. Ia mengatakan, bahwa PW harus memperkuat konsolidasi dan keterampilan anggota.

“Menguatkan konsolidasi di masing-masing wilayah untuk menghadapi dan merespon kekuatan luar yang mau merongrong dan menghancurkan pelajar dan generasi muda bangsa Indonesia,” katanya.

PP IPNU juga mengajak semua pihak untuk bersama memberi penguatan kebangsaan guna mencegah radikalisme yang sudah menjalar di dunia pelajar.

“PP IPNU mengharap penguatan materi kebangsaan dan kebhinnekaan, pendidikan inklusif dan nilai-nilai keagamaan yang moderat di dunia pendidikan guna menangkal radikalisme,” ujar Gus Aqib, begitu ia akrab disapa.

Selain itu, dalam hal narkoba, penting diketahui juga, bahwa ada pula yang menawarkannya agar kuat dalam berzikir.

“PP IPNU mengimbau kepada semua pihak untuk tidak bosan-bosan menyerukan bahaya narkoba kepada pelajar dan generasi muda mengingat bentuk narkoba sudah sangat beragam. Begitupun menawarkannya. Bahkan ada yang menawarkan agar zikirnya kuat dengan mengatakannya sebagai obat atau vitamin, padahal narkoba,” pungkasnya.

Wakil Sekretaris Bidang Kaderisasi Abdullah Muhdi PP IPNU mengatakan, dalam waktu dekat, PP IPNU akan menggelar workshop kaderisasi dan merampungkan buku kaderisasi nasional. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 21 November 2017

Gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat Terus Digiatkan

Salatiga, SMA Negeri 1 Slawi



Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMNINU) atau asosiasi pesantren NU terus mengintensifkan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat (PBPS). Rabu (11/5) kemarin, pelatihan berlangsung di aula Pondok Pesantren Tarbyatul Islam (PPTI) Al-Falah Salatiga, Jawa Tengah.

Gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat Terus Digiatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat Terus Digiatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat Terus Digiatkan

M Faiz Aminuddin, pemateri pada Training Housekeeping Pesantren dalam pelatihan tersebut mengatakan, hal penting yang perlu diingat adalah prinsip suka terlebih dulu. Menurutnya, kebersihan harus disukai terlebih dahulu. Selanjutnya proses yang akan mengambil peran dalam melaksanakan penataan pemahaman seseorang. Seperti roan (kerja bakti) di pondok pesantren yang dikerjakan santriwan-santriwati.

"Move on, bergerak ke arah yang lebih baik, berkelas, dan bermartabat," pinta pengajar di Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati ini.?

SMA Negeri 1 Slawi

Paradigma bahwa pesantren itu kumuh, kotor, tak teratur mulai ada pembenahan. Kantor Wilayah Kementerian Agama Jateng ini salah satunya untuk terus memperbaiki kekurangan pesantren. Memang, kata Faiz, banyak tantangan untuk menggerakkan perubahan.

"Sayangnya tidak semua orang menyukai perubahan, karena untuk berubah tidak mudah, tidak selalu indah dan terkadang tidak menyenangkan," tambahnya.

Rata-rata usia santri di pesantren di bawah dua puluh tahun. Secara psikologis, masa seperti ini masih labil dari segi spiritual, intelektual, emosional dan sosial. Maka, peran penting pelatihan ini membentuk agen penebar kebersihan dan kesehatan di pesantren-pesantren. Dalam sesi awal ini peserta diajak untuk menekankan tentang kebersihan dan kesehatan pesantren. (M. Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul, Olahraga, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 20 November 2017

Ajaran Radikalisme Wahabi Masuk Buku PAI Tingkat SMA

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Di saat pemerintah bersama ormas Islam seperti NU gencar membendung faham radikalisme dan ISIS, siswa dan guru agama tingkat SMA dikagetkan dengan masuknya materi aliran yang berbau radikal dan intoleran. Materi radikalisme yakni boleh membunuh orang yang dianggap musyrik, masuk pada buku Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas XI.

Materi yang dinilai mengajarkan kekerasan ini terdapat pada halaman 78, buku PAI yang dikeluarkan MGMP PAI Kabupaten Jombang. Dalam buku itu, mengungkap ? ajaran Wahabi dengan tokoh sentralnya Muhamad bin Abdul Wahab. Dijelaskan pada halaman itu, yang boleh dan harus disembah adalah Allah SWT. Orang yang menyembah selain Allah telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.

Ajaran Radikalisme Wahabi Masuk Buku PAI Tingkat SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Radikalisme Wahabi Masuk Buku PAI Tingkat SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Radikalisme Wahabi Masuk Buku PAI Tingkat SMA

Masuknya materi paham yang mengajarkan kekerasan ini disesalkan berbagai kalangan. Mukani, salah satu guru SMAN 1 Jombang mengatakan, adanya buku yang dinilai mengajarkan radikalisme ini sangat membahayakan. "Seharusnya penulis harus selektif memasukkan materi pelajaran agama, masih banya tokoh Islam yang mengajarkan Islam dengan santun dan rahmatal lil alamain, karena ini ranah pendidikan agama," ujarnya, Kamis (19/3).?

SMA Negeri 1 Slawi

Sekolahnya, lanjut Mukani, menerima buku PAI kelas XI belum lama ini. Buku tersebut diterbitkan oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). "Buku yang berisi lembar kerja itu juga sudah kita bagikan kepada siswa," ujar Mukani seraya menunjukkan buku yang telah diterimanya.

Dijelaskannya, pada halaman 78 juga terdapat materi yang mengajarkan paham atau materi yang mengarah pada intoleransi. Semisal mengharamkan tradisi yang selama ini berkembang di kalangan muslim Indonesia. Yakni menyebut nama Nabi, syekh atau malaikat sebagai perantara adalah syirik. "Termasuk juga tawasul dan meminta syafaat selain Allah adalah Syirik," imbuhnya menunjukkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Pihaknya berharap Dinas Pendidikan (Disdik) melakukan langkah cepat dan tegas. Yakni menarik buku PAI tersebut dari peredaran. "Kita berharap Dinas Pendidikan segera menarik buku PAI tersebut dari seluruh sekolah. Jika tidak, materi tersebut bisa menyesatkan dan menumbuhkan sikap intoleransi," ujar alumni Ponpes Seblak Kecamatan Diwek Jombang ini.

Hal senada juga dikatakan, Yusuf Suharto, sekretaris Pergunu Jombang yang menyesalkan masuknya paham kekerasan dalam buku pelajaran siswa. Dijelaskannnya, memutlakkan bahwa tidak beriman kepada Allah kemudian dibunuh adalah kedzaliman.?

"Membunuh itu ada dalam kontek peperangan. Pemahaman dibuku itu khas khawarij dengan pemahaman yang hanya tekstual. Buku itu harus dicabut dan harus ada revisi," tandasnsya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 19 November 2017

Peringati Maulid Nabi, Pesantren Ar-Rahmah Jombang Tanam Pohon

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Pondok pesantren Ar-Rahmah Nglawan Senden, Peterongan, Jombang, mendapatkan bantuan ratusan bibit dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemkab Jombang. Bantuan bibit seperti pohon jati, sengon, trembesi, nangka, dan sirsak, akhirnya ditanam pada peringatan maulid Rasulullah SAW.

Peringati Maulid Nabi, Pesantren Ar-Rahmah Jombang Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Maulid Nabi, Pesantren Ar-Rahmah Jombang Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Maulid Nabi, Pesantren Ar-Rahmah Jombang Tanam Pohon

"Bersamaan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, acara penanaman ratusan bibit pohon kami mulai Ahad lalu," kata Kepala Sekolah SMK Ar-Rahmah Affandi kepada SMA Negeri 1 Slawi, Senin (12/1). Kegiatan penanaman pohon dilakukan bersama ratusan siswa dan siswi sekolah SMK Ar-Rahmah dan sejumlah santri.

"Masing-masing bibit kami tanam di area sekitar pesantren dan sekolah," kata Affandi.

SMA Negeri 1 Slawi

Mereka terpanggil untuk menanam pohon karena kondisi iklim yang semakin tidak menentu. "Bagaimana mungkin saat musim penghujan ternyata hujan tidak lagi turun," kata alumnus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Demikian juga kala musim kemarau, ternyata tidak jarang turun juga hujan dengan intensitas tinggi, lanjutnya.

Belum lagi musibah tanah longsor dan kekeringan yang menimpa sebagian daerah. "Dalam pandangan kami, hal tersebut bukan murni sebagai musibah namun memang ada faktor kelalaian manusia dalam menjaga ekosistem," kata Affandi.

Oleh karena hal yang perlu untuk dilakukan adalah menyelamatkan lingkungan dengan menanam sebanyak mungkin pohon yang bisa menjaga ekosistem yang ada. 

"Paling tidak kita bisa mengingatkan mereka bahwa tugas menjaga kelestarian alam harus menjadi tanggungjawab bersama," katanya. Dan mengenalkan budaya menanam pohon adalah langkah positif bagi persepsi mereka terhadap alam di masa mendatang.

Sebelum penanaman pohon, para siswa siswi serta santri mengawali dengan pembacaan sholawat. Para pimpinan pesantren, sekolah dan guru berbaur dengan para santri dan murid melantunkan sholawat Nabi. Usai kegiatan shalawat dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon yang telah disiapkan. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Habib, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock