Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

RS NU Jombang Dikelola Profesional, Kedepankan Pengabdian Sosial

Bermula pada 19 Ramadhan 1429 H/2008 M, ba’da salat Tarawih Pengurus Harian PCNU mengadakan rapat di kediaman Rais Syuriah membicarakan tentang adanya informasi tawaran bantuan pembangunan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Jombang

Setelah dimusyawarahkan, dengan segala pertimbangannya, rapat memutuskan untuk mendelegasikan Rais Syuriyah, Ketua dan Wakil Ketua Tanfidziyah menghadap ke  Menteri Kesehatan di Jakarta untuk memastikan adanya informasi tersebut.  Difasilitasi  H. Achmad Mundzir, pada 22 Ramadhan delegasi PCNU  diterima  Menteri didampingi  ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah dan ketua PBNU  KH. Hasyim Muzadi.

RS NU Jombang Dikelola Profesional, Kedepankan Pengabdian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
RS NU Jombang Dikelola Profesional, Kedepankan Pengabdian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

RS NU Jombang Dikelola Profesional, Kedepankan Pengabdian Sosial

Dalam pertemuan tersebut  Menteri yang didampingi tiga orang Dirjen menyampaikan kepastian adanya bantuan pembangunan Rumah Sakit untuk Nahdlatul Ulama Jombang. Untuk itu, PCNU berkewajiban menyediakan tanah.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada  23 Ramadhan di kediaman Ketua Tanfidiyah PCNU dibahas tentang kepastian menerima tawaran menteri tersebut dilanjutkan membahas langkah-langkah mencari lahan tanah yang disyaratkan. Kemudian dari beberapa alternatif tanah yang disurvei baik dari segi kelayakan, prospek maupun harga dan sistem pembayarannya maka diputuskan untuk memproses tanah yang berlokasi di desa Balong Besuk Ceweng Jombang, yang luas keseluruhannya 5900 meter. Harga yang disepakati PCNU dengan pemilik tanah untuk yang 5200 meter adalah Rp 1,5 milyar dan 700 Meter Rp 200.000.000. Total harga tanah seluas 5900 meter adalah Rp. 1.700.000.000 dengan sistem pembayaran bertahap sampai paling akhir 6 bulan, 31 Maret 2009.

Untuk pembayaran tanah, PCNU mengumpulkan tokoh-tokoh dan pengusaha NU pada tanggal 29 Ramadlan

Penyerahan dana pembelian tanah sudah dilaksanakan pada 15 Oktober 2008. Dan pada  25 Oktober 2008 disepakati perjanjian peralihan nama hak milik sertifikat tanah dari pemilik asal ke Jam’iyyah Nahdlatul Ulama Jombang melalui seorang notaris yang ditunjuk dan kemudian diproses di Badan Pertahanan Kab Jombang.

SMA Negeri 1 Slawi

PCNU mengadakan beberapa kali rapat untuk menyusun skema pembayaran pinjaman dan akhirnya memutuskan langkah-langkah sebagai berikut :

Segera melakukan penggalangan partisipasi keluarga besar NU dan para simpatisan melalui gerakan wakaf dengan skema wakaf tanah per 1 meter seharga Rp. 288.450. (dua ratus delapan puluh delapan ribu empat ratus lima puluh rupiah).

Mengajukan bantuan dana hibah pendampingan ke Pemkab Jombang melalui APBD 2009 sesuai dengan prosedur yang ada. dan setelah melakukan komunikasi dengan Ketua DPRD,  Bupati serta Wakil Bupati disepakati adanya komitmen untuk mendapatkan bantuan tersebut pada APBD 2009.

PCNU hanya berkewajiban menyediakan tanah, seluruh proses pembangunan mulai dari perencanaan dan pelaksanaannya dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jatim sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

PCNU dan seluruh jajarannya tidak ikut serta dalam proses pembangunan. Ibaratnya PCNU tinggal menerima kunci bangunan RSNU dari pemerintah apabila sudah jadi.

Bahwa jadwal pelaksanaan pembangunan RSNU menurut informasi dari Pemerintah Pusat dan Pemprov Jatim dimulai akhir bulan proses tender perencanaan Desember pengerjaan fisik dan diperkirakan bulan Agustus 2009 sudah bisa diresmikan, walaupun kemudian pembukaan dan peresmian dilaksanakan pada 10 Maret 2012.

Profil Rumah Sakit Nahdlatul Ulama dapat digambarkan sebagai berikut : Pemilik RSNU adalah Jamiyah Nahdatul Ulama Cabang Jombang, dan bukan atas nama pengurus atau yayasan tersendiri yang dibentuk untuk itu. Sementara legalitas hukum dan keabsahan kepemilikan Jamiyyah NU Cabang Jombang atas RSNU tersebut dibuktikan dengan : kepemilikan tanah RSNU adalah Jam’iyyah NU Jombang, baik sebagai Mauquf alaih atau Mauhub lah. Adapun PCNU Jombang bertindak sebagai nadhir atas tanah tersebut.

Untuk memastikan ke depan supaya tidak terjadi permasalahan-permasalahan dan kemungkinan adanya pembelokan kepemilikan RSNU, maka PCNU telah membentuk tim yang ditugasi untuk mengumpulkan data dan menyusun draft rumusan pedoman dasar yang mengatur tentang pola hubungan kelembagaan antara RSNU dan PCNU, standar manejemen pengelolaan RSNU, standar rekruitmen ketenagaan, standar pengelolaan keuangan dan pertanggung jawabannya.

Hasil rumusan tersebut akan dikaji melalui forum-forum workshop dengan berbagai pihak baik dari internal warga Nahdlatul Ulama dan para ahli dibidangnya. Dan akhirnya Draft tersebut ditetapkan melalui forum musyawarah pleno lengkap PCNU yang dihadiri dan disahkan oleh PWNU dan PBNU.

RS NU akan dikelola secara profesional dengan keunggulan-keunggulan tertentu dengan tetap berprinsip pada pengabdian sosial dan prinsip-prinsip keagamaan Jamiyah Nahdlatul Ulama

Segenap PCNU Jombang mengharap partisipasi dari seluruh jajaran Pengurus dan warga NU di Jombang, para tokoh, jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang untuk sepenuhnya memberikan dukungan dan partisipasi khususnya dalam hal gerakan wakaf tanah.

(bersambung…)

Penulis : Yusuf Suharto

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pondok Pesantren, Santri, Internasional SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember

Jember, SMA Negeri 1 Slawi



Puluhan orang yang tergabung dalam Jember Aksi Peduli Jalan Berlubang (Jadul) menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Selasa (11/4). Mereka mengeluhkan rusaknya jalan di sejumlah tempat, termasuk jalan yang dipenuhi lubang.?

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadul Unjuk Rasa ke DPR soal Kerusakan Jalan di Jember

Menurut salah seorang pengunjuk rasa, Kustiono Musri, jalan berlubang di Jember sudah cukup parah sehingga perlu segera ditangani.?

Dikatakannya, hampir di setiap ruas jalan, lebih-lebih di pedesaan, lubang selalu ditemukan. "Jadi saya minta anggota dewan yang terhormat untuk menekan bupati agar jalan berlubang segera diperbaiki. Ini untuk kepentingan masyarakat. Bukan orang per orang," ucapnya.

Ia menambahkan, yang paling ? merasakan dampak rusaknya jalan (berlubang) adalah masyarakat kebanyakan, khsusunya di pedesaan. Selama ini jalan berlubang terkesan ? dibiarkan begitu saja, hingga akhirnya masyarakat berinisiaif untuk menanami lubang tersebut dengan pohon pisang. Tujuannya adalah sebagai tanda bahwa jalan itu berbahaya dan tak boleh dilintasi. "Itu juga sindiran bagi pemerintah," ungkap Kustiono.

SMA Negeri 1 Slawi

Hal senada juga diungkapkan, Prasetyo. Menurutnya, hampir setiap hari terjadi kecelakaan akibat jalan berlubang. Dikatakannya, korban jalan berlubang kebanyakan dari pengendara roda dua, sebab model ban kendaraan roda dua ? memang sangat rentan ? terhadap ? lubang.?

"Kalau roda dua, itu artinya kan katakanlah ? masyarakat biasa. Sedangkan pejabat biasanya memakai roda empat, sehingga tak terasa meski ada lubang. "Oleh karena itu, tolong ini diperhatikan. Jangan sampai lubang di jalan memakan korban lebih banyak lagi," jelasnya.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jember, Anang Murwanto menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan fungsi pengawasan dengan baik. Namun diakuinya, eksekusi di lapangan tergantung pada eksekutif.?

Walaupun demikian, katanya, apa yang disampaikan perwakilan pengunjuk rasa, merupakan masukan bagi dewan untuk melakuan evaluasi kinerja pada pihak-pihak terkait. "Kami sudah melakukan itu (pengawasan). Yang jelas kami juga tak ingin lubang di jalan terus memakan korban," ucap politisi Partai Demokrat itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian Sunnah, Santri, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

SMA Negeri 1 Slawi

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

SMA Negeri 1 Slawi

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Cerita, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Antara Syekh Mahfuzh Tremas dan Kiai Sholeh Darat

Kapan pertama kali Syekh Mahfuzh Termas (Al-Imam al-‘Allamah al-Faqih al-U?li al-Mu?addith al-Muqri Mu?ammad Ma?f?z bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Mannan at-Tarmasi al-Jawi al-Makki ash-Syafi‘i, 1868-1919) bertemu dengan Kiai Sholeh Darat (Al-‘Alim al-‘Allamah Mu?ammad ?ali? bin ‘Umar as-Samarani, w.1903)? 

Barangkali jawabannya terjadi pada akhir 1870-an. Ketika itu, Mahfuzh kecil dibawa oleh ayahnya, Kiai ‘Abdullah, untuk mondok di Pesantren Darat yang diasuh oleh Kiai Sholeh Darat, seorang kiai yang telah terkenal kealimannya pada masa itu. Kiai ‘Abdullah jelas telah mengenal Kiai Sholeh Darat di Mekkah, di mana hingga kelahiran Mahfuzh beliau masih berada di sana.

Dalam pengantar karyanya Kifayat al-Mustafid Lima ‘Ala Min al-Asanid, Syekh Mahfuzh menceritakan proses mengajinya sebagai berikut:

Antara Syekh Mahfuzh Tremas dan Kiai Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Syekh Mahfuzh Tremas dan Kiai Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Syekh Mahfuzh Tremas dan Kiai Sholeh Darat

Di antara para syekhkku yang mulia dan mendalam ilmunya … adalah al-‘Allamah asy-Syekh Mu?ammad ?ali? bin ‘Umar as-Samarani: Aku mengikuti pengajian beliau dalam Tafsir al-Jalalain secara keseluruhannya sebanyak dua kali, Syar? asy-Syarqawi ‘Ala al-?ikam begitu juga (dua kali khatam, ed.), Wasila(tu?) -?ullab, dan Syar? al-Mardini dalam ilmu astronomi. (Ma?f?z, Kifayat al-mustafid, 7)

Dalam daftar guru yang disusun Syekh Mahfuzh di atas, Kiai Sholeh menempati urutan kedua setelah ayah beliau. Hal ini dapat mengindikasikan paling tidak satu dari dua hal berikut. Pertama, Kiai Sholeh adalah guru pertama setelah ayah Syekh Mahfuzh sendiri. Artinya, daftar itu disusun berdasarkan urutan kronologis. Kedua, daftar ini disusun berdasarkan urutan pengaruh. Artinya, Kiai Sholeh dinilai oleh Syekh Mahfuzh sebagai guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan beliau, setelah sang ayah.

Syekh Mahfuzh jelas merupakan murid yang istimewa di mata sang guru. Hal ini dapat disimpulkan dari keinginan beliau menjadikan Syekh Mahfuzh sebagai menantu. Iya! Syekh Mahfuzh-lah yang pertama kalinya dikehendaki menjadi menantunya. Namun, kita ketahui bahwa, Kiai Dahlan-lah, adik dari Syekh Mahfuzh yang akhirnya menjadi menantu Kiai Sholeh. Apa yang terjadi? Berikut kisahnya sebagaimana dituturkan Drs. KH Fathurrahim kepada penulis setahun yang lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas (Nuris), Jembrana, Bali, ini mengatakan bahwa tanda dari keinginan Kiai Sholeh ingin menjadikan Syekh Mahfuzh sebagai menantu sangat jelas. Keturunan Kiai Sholeh Darat dari Kiai Dahlan at-Tarmasi ini mengisahkan bahwa Kiai Sholeh sering sekali memberikan hadiah untuk Syekh Mahfuzh. Hadiah ini beragam, mulai dari pecis, baju, sarung dan lainnya. Hal ini ditangkap jelas oleh Syekh Mahfuzh bahwa Kiai Sholeh ingin menjadikannya sebagai menantu. 

Namun, Syekh Mahfuzh justru selalu memberikan hadiah dari Kiai Sholeh kepada adiknya, Kiai Dahlan. Kiai yang dikenal sebagai ahli astronomi, sehingga beliau dijuluki Kiai Dahlan al-Falaki, selalu menerima pemberian itu. Suatu ketika, barangkali saat itu Kiai Sholeh menilai bahwa anak perempuannya telah siap untuk menikah, beliau datang berkunjung ke rumah Kiai ‘Abdullah. Kali ini beliau menyatakan secara jelas bahwa beliau hendak menjalin hubungan besan dengan Kiai ‘Abdullah dengan melamar Syekh Mahfuzh untuk putri Kiai Sholeh, Raden Adjeng Siti Zahroh.

“Keluarlah ke sini wahai yang hendak menjadi calon menantuku!” ucap Kiai Fathurrahim menceritakan ucapan Kiai Sholeh.

Syekh Mahfuzh meminta adiknya untuk memakai seluruh hadiah yang pernah ia berikan, yaitu hadiah yang sebenarnya dari Kiai Sholeh. Beliau lalu mengajak sang adik untuk menghadap Kiai Sholeh. Ketika berada di hadapan Kiai Sholeh, Syekh Mahfuzh berkata,

SMA Negeri 1 Slawi

“Yang memakai seluruh pemberian Mbah Yai inilah yang menjadi calon menantu Mbah Yai.”

Kiai Dahlan yang tidak tahu apa-apa, saya kira tentunya cukup kaget dengan ucapan kakaknya itu. Namun, beliau diam saja mengikuti rencana sang kakak. Barangkali, sebagian kita akan menduga bahwa Kiai Sholeh akan marah karena “ditolak” oleh Syekh Mahfuzh. Namun hal itu keliru, Kiai Sholeh menerima perubahan calon menantunya.

“Baiklah! Tidak mengapa, asalkan aku bisa berbesan dengan Kiai ‘Abdullah,” ucap Kiai Sholeh.

Dari sinilah terjawab teka-teki pernikahan Kiai Dahlan at-Tarmasi dengan Raden Adjeng Siti Zahroh. Kiai Dahlan sendiri adalah santri Kiai Sholeh di Pesantren Darat.

Di akhir perbincangan kami, Kiai Fathurrahim berpesan agar saya mencarikan sebuah kitab falak karya Kiai Dahlan yang menurutnya ada di Belanda. Sejauh saya mencari, terutama di Perpustakaan Leiden, saya tidak menemukan kitab tersebut. Barangkali ada yang tahu kitab falak karya Kiai Dahlan at-Tarmasi, bisa tolong bantu kami? (Nur Ahmad, Wakil Sekretaris PCINU Belanda 2017-2019, Alumni Master’s Vrije Universiteit Amsterdam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Warta, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba

Pamekasan, SMA Negeri 1 Slawi. Sebanyak sepuluh aktivis Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Kabupaten Pamekasan mengikuti pelatihan kader Satuan Tugas P4GN di kantor Badan Narkotika Kabupaten (BNK) setempat, Jalan Kabupaten Nomor 07 Pamekasan, Senin (19/12). Kesepuluh orang tersebut berasal dari pengurus Baanar kabupaten dan sebagian Baanar kecamatan.

Selain aktivis Baanar, peserta pelatihan tersebut juga berasal dari Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Pamekasan. Mereka menerima materi pencegahan, penanggulangan, dan penindakan atas peredaran narkoba dari BNl Provinsi Jawa Timur.

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba

Kepala Baanar Kabupaten Pamekasan Ra Hasam Almandury menegaskan, pihaknya berhasil memasukkan sepuluh aktivis Baanar sebagai peserta berkat teken kontrak dengan BNK Pamekasan yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu. Pasalnya, peserta pelatihan tersebut tidak sembarang orang.

"Baanar Kabupaten Pamekasan mengutus kader-kader Ansor pilihan yang nanti bergerak dalam menyikapi persoalan narkoba. Masalah narkoba kian akut di Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan," paparnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Karena itu, pihaknya menekankan kepada aktivis Baanar yang jadi peserta untuk betul-betul serius mengikuti pelatihan. Usai pelatihan, diharapkan ilmu yang telah didapatkan dapat disalurkan pada para aktivis Baanar di 13 kabupaten yang ada di Pamekasan.

Pelatihan Satgas P4GN berlangsung dua hari sampai Selasa (20/12) siang. Di hari pertama, para peserta tampak tidak melewatkan setiap materi yang diberikan BNK Jawa Timur. Mereka berkomitmen untuk ikut materi sampai tuntas hingga penutupan. (Hairul Anam/Fathoni)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian Sunnah, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

Keluarga Besar NU di UI Buka Bersama

Depok, SMA Negeri 1 Slawi. Sore yang gelap berbarengan dengan rintikan hujan tidak membuat peserta untuk datang pada acara buka puasa bersama Keluarga Besar Nahdlotul Ulama (KBNU) di Ahad pertama bulan Ramadhan (20/7). 

Acara ini diperkasai oleh Forum Alumni (forluni) PMII Universitas Indonesia yang dibantu Pengurus Cabang PMII Depok Universitas Indonesia. Jumlah peserta yang datang ini sebanyak 75 orang bertempat di Kafe Protein, Pusat Study Jepang Universitas Indonesia.

Keluarga Besar NU di UI Buka Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Besar NU di UI Buka Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Besar NU di UI Buka Bersama

Acara dihadiri oleh banyak tokoh, dosen dan mahasiswa NU yang ada di Universitas Indonesia dan tokoh NU sekitar Depok. Tokoh yang turut hadir mulai dari Ketua Program Study Vokasi UI Prof Hikam, Perwakilan dari PBNU Ahmad Solehan. Manager Abdurrahman Wahid Center UI Achmad Suaedy, Fuad, senior aktivis HMI jurusan Sejarah UI dan perwakilan PKTTI UI (Pusat Kajian Timur Tengah Islam) oleh M Ibrahim Hamdani. 

SMA Negeri 1 Slawi

Tidak hanya para aktivis sosial saja yang hadir, kalangan pesantren yang dekat UI seperti Pesantren Mahasiswa Mutiara Bangsa dan Pesantren Mahasiswa Alhikam Depok juga turut datang.

SMA Negeri 1 Slawi

Acara ini bertemakan diskusi “Membangun Generasi Muda NU” supaya putra keturunan muda NU yang kuliah di UI dapat diterwadahi oleh KBNU. Adapun narasumber yang menjadi diskusi ini adalah Ahmad Solechan, Prof. Hikam, dan Fuad. 

Menurut Hikam, “Sudah saatnya orang-orang NU harus sering-sering bersilaturrahim tidak hanya pada saat berbuka puasa saja.”

Setelah adzan berkumandang lalu diakhiri acara dengan ramah-tamah. Alfani, ketua Forluni PMII UI ini mengatakan, “Kami menyediakan tempat bernama Nusantara Unggul (NU) Makara Insani yang bertempat di Jalan Margonda. Hal ini membina kader-kader muda bagi mahasiswa baru yang dari daerah-daerah tidak salah jalan dalam beragama.”

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Maulana Ghozali 

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Santri SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Inilah Waktu Larangan Lontar Jumrah bagi Jemaah Haji Indonesia

Makkah, SMA Negeri 1 Slawi - Pemerintah Arab Saudi dalam hal ini Menteri Haji dan Umrah melalui Muassasah Asia Tenggara merilis surat edaran tentang waktu yang dilarang bagi jemaah haji Indonesia untuk melontar jumrah.

Berdasarkan edaran tersebut, Daker Makkah mengeluarkan maklumat terkait waktu larangan melontar jamarat bagi jemaah haji Indonesia tertanggal 6 Agustus 2017. Maklumat ditujukan kepada seluruh Kepala Seksi dan Kepala Sektor Daker Makkah agar informasi seputar larangan ini bisa segera disosialisasikan kepada jemaah haji Indonesia.

Inilah Waktu Larangan Lontar Jumrah bagi Jemaah Haji Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Waktu Larangan Lontar Jumrah bagi Jemaah Haji Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Waktu Larangan Lontar Jumrah bagi Jemaah Haji Indonesia

Kepala Daker Makkah Nasrullah Jasam dalam maklumatnya mengatakan, komitmen mematuhi larangan waktu melontar ini penting demi kelancaran bersama dan untuk menghindari kemacetan akibat penumpukan jemaah.

“Jemaah haji Indonesi agar memperhatikan dan mentaati jadwal waktu melontar jumrah,” tulisnya, Senin (6/8) pekan lalu, sebagaimana dilansir situs resmi Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI.

SMA Negeri 1 Slawi

Berikut ini waktu yang dilarang bagi jemaah haji Indonesia untuk melontar jumrah yang menjadi salah satu wajib haji:

1. 10 Dzulhijjah larangan melontar jamarat dari jam 06.00 s.d. 10.30 WAS;

SMA Negeri 1 Slawi

2. 11 Dzulhijjah larangan melontar jamarat dari jam 14.00 s.d. 18.00 WAS;

3. 12 Dzulhijjah larangan melontar jamarat dari jam 10.30 s.d. 14.00 WAS.

Kepada PPIH Arab Saudi, Nasrullah meminta agar menyosialisaikan waktu larangan ini sehingga bisa dipahami dan ditaati oleh seluruh jemaah haji Indonesia. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Santri, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock