Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi - Sekitar jam 13.00 WIB rombongan Tim Resolusi Jihad NU 2016 tiba di Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang. Disambut drumband, mereka diterima pimpinan pesantren setempat. KH Cholil Dahlan mewakili pimpinan PPDU mengemukakan bahwa para pendiri pesantren sangat peduli dengan perjuangan NU.

"Di pesantren ini, kami memperjuangkan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah secara lahir dan batin," katanya, Sabtu (15/10) siang.

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pesantren Darul Ulum, Tim Resolusi Jihad Ditunjukkan Kiprah Pendiri Pesantren

Ketua MUI Jombang ini juga menceritakan bahwa kiprah pendiri PPDU telah dimulai sejak tahun 1885. "Kala itu pesantren didirikan oleh KH Tamim Irsyad," terangnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari putra-putrinya yakni Ny Hj Farihah Cholil, KH Romli Tamim, dan KH Umar Tamim perjuangan PPDU dilanjutkan.

Bahkan akses perjuangan kepada NU kian nyata saat KH Romli dan KH Dahlan memperjuangkan masuknya dua badan otonom (banom). "Dua banom itu adalah Jamiyatul Qurra wal Huffadz serta thariqah mutabarah," terang Kiai Cholil, sapaan akrabnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Demikian pula saat terjadi perang kemerdekaan. "Karena kala itu KH Cholil menjadikan kediamannya sebagai markas Hizbullah," ungkapnya.

Karenanya, kehadiran Tim Resolusi Jihad ini menjadi penyemangat bagi seluruh komponen di PPDU untuk terus berkhidmat.

Ketua rombongan Tim Resolusi Jihad NU H Ishfah Abidal Azis yang juga sangat terharu dengan sambutan ini.

Selanjutnya rombongan dan pimpinan PPDU melakukan tahlil di pesantren setempat. Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke Pesantren Tebuireng. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Lembaga Dakwah, Sosial, Ekonomi Fastabiqul Khoirot (Faskho) Surakarta menggelar berbagai acara buka bersama dan santunan kepada puluhan anak yatim dan juga kado lebaran bagi kaum Dhuafa. Program yang bergulir sejak Ramadhan tahun lalu ini telah memberikan suka cita bagi anak anak yatim di Kota Solo terutama di daerah Gilingan.

Direktur Faskho Surakarta Budi Iriono mengatakan, berbagai program tersebut sudah berjalan hingga saat ini, bahkan belum lama ini Faskho kerjasama dengan Omah Genthong Resto mengadakan santunan dan mancing bareng dengan anak-anak yatim dhuafa. "Alhamdulillah kerjasama tersebut sudah terjalan sejak lama, sudah menjadi rutinitas setiap bulan," kata Budi.

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceriakan Anak Yatin, Faskho Surakarta Gelar Ragam Kegiatan di Bulan Ramadhan

Selain itu, kegiatan untuk menyemarakan datangnya bulan Ramadhan kemarin, pihaknya menyelenggarakan studi wisata rohani di tiga mesjid yakni Masjid Agung Kudus, Masjid Agung Demak dan Masjid Raya Jawa Tengah Semarang. Dengan tujuan mengenalkan para anak-anak tetang sejarah masjid yang telah berdiri ratusan tahun silam.

Tak hanya anak anak yatim ? yang bersuka cita, orang tua dan ibu ibu yang ikut wisata pun mengalami hal yang sama. Karena impian mereka untuk bisa datang ke masjid itu sudah terwujud."Tidak mudah untuk bisa datang ke tempat bersejarah, mereka harus mengumpulkan uang recehan 1000 selama beberapa bulan agar bisa terkumpul lalu berangkat," jelasnya.

Selama Ramadhan ini pihaknya setiap hari mengadakan pengajian dan buka bersama dengan anak anak yatim serta warga Gilingan. Warga terlihat cukup antusias dengan diadakannya acara ini setiap hari terlebih bisa berada di tengah-tengah anak-anak yatim. "Setiap anak merupakan aset masa depan bangsa. Semakin baik kualitas setiap anak, maka akan semakin baik, maju dan bermartabat. Anak Yatim sudah semestinya menjadi kepedulian semua umat, agar mereka kelak dapat hidup sukses membangun bangsa, Negara dan Keluarganya," pungkas Ketua RT ini kepada SMA Negeri 1 Slawi.? (Mashri/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Haram Membawa HP Masuk Masjid

Derasnya kemajuan teknologi-informasi hendaknya dibaengi dengan sikap yang bijaksana. Tidak saja dalam hal pergaulan tetapi juga dalam masalah peribadatan. Karena bila diperhatikan kemajuan teknologi ini satu sisi membawa maslahah dan satu sisi juga mengundang mafsadah. Terkadang maslahahnya terasa begitu besar, tetapi seringkali mafsadahnya juga lebih besar. Peran keduanya sangat bersifat subjektif, tergantung manusia yang menggunakannya.

Memang kemajuan teknolgi-informasi sebagai syarat globalisasi tidak dapat dihindari. Masyarakat muslim sebagai bagian dari masyarakat duniapun ikut menikmati imbasnya. Dalam tamsil yang paling sepele adalah bagaimana kita sering terkaget dan merasa risi ketika nada panggil berbunyi di tengah-tengah jama’ah shalat. Padahal di tembok-tembok masjid itu telah ditempel tulin ‘HP harap dimatikan’ atau berbagai penanda yang menunjukkan larangan membawa atau mengaktifkan HP di masjid.

Nah bagaimanakah fiqih menyikapi realita ini? dalam konteks fiqih masalah semacam ini biasa disebut dengan tayswisy, yaitu berbagai macam tindakan yang mengganggu atau menimbulkan keraguan orang yang berada disekitranya. Biasanya hukum atas tindakan tayswisy ini diklarifikasi lagi.

Apabila memang mengganggu ibadah orang disekitarnya maka hukumnya makruh. Namun jika ternyata tidak mengganggu orang sekitarnya hukumnya diperbolehkan. Dengan catatan bentuk tasywisy itu adalah bacaan al-qur’an, tasbih atau dzikir, sebagaimana diterangkan Ba’lawi al-Hadrami dalam Bughyatul Mustarsyidin

Haram Membawa HP Masuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Haram Membawa HP Masuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Haram Membawa HP Masuk Masjid

جماعة Ù? قرأوÙ? القرأÙ? فى المسجد جهرا ÙˆÙ? Ù? تفع بقرائتهم Ø£Ù? اس ÙˆÙ? تشوش أخروÙ? فإÙ? كاÙ? ت المصلحة أكثر Ù…Ù? المفسدة فالقرأة أفضل وإÙ? كاÙ? ت بالعكس كرهت اهـ فتاوى الÙ? ووÙ?

Jikalau orang berkumpul membaca al-qur’an di dalam masjid dengan lantang, dan bacaan itu membuat sebagian orang disekitar merasa nyaman namun juga menyebabkan sebagian yang lain terganggu, apabila unsur maslahah dalam bacaan alqur’an itu lebih banyak (karena mendengarkan qur’an ada pahalanya) dari pada madharat, maka bacaan (al-qur’an yang lantang) itu lebih utama. Akan tetapi jika bacaan itu banyak mudharatnya (mengganggu orang lain), maka hukumnya makruh. ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Lain lagi pendapat al-Turmusi yang tegas mengharamkan tasywisy bila memang terbukti mengganngu orang lain. Walaupun tasywisy itu adalah shalat.

ÙˆÙ? حرم على كل أحد الجهر فى الصلاة وخارجها Ø¥Ù? شوش على غÙ? ره Ù…Ù? Ù? حو مصل أو قارئ أو Ù? ائم

Haram bagi seorang bersuara lantang baik dalam shalat ataupun lainnya apabila mengganggu orang lainnya yang sedang shalat dan membaca qur’an bahkan (mengganggu) orang tidur sekalipun.

Lantas bagaimanakah jika tasywisy itu berasal dari bunyi dering HP, atau suara orang berkomunikasi melalui HP di dalam dalam masjid? Jika melihat dua nash di atas jelas hukumnya haram, baik mengganggu ataupun tidak. Karena bentuk tasywisynya tidak mengandung ibadah yang mendekatkan diri pada Allah swt. Apalagi jika menimbang etika dalam masjid yang merupakan ruang untuk berdzikir Allah swt tidak untuk yang lain.

SMA Negeri 1 Slawi

?

(Redaktur: Ulil Hadrawy)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Internasional, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29

Lumajang, SMA Negeri 1 Slawi. Ancaman terkoyaknya ? kerukunan dan tergerusnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang belakangan kian santer terdengar, menjadi salah satu alasan para penyuluh agama se-Jawa Timur untuk menghelat Jambore regional di Puncak B-29, Kabupaten ? Lumajang tanggal 24 sampai 26 Juli 2017 mendatang.

Menurut Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Jawa Timur, Syaifuddin Maarif, Jambore yang bertemakan "Penyuluh Lebih Dekat Melayani Umat" tersebut bertujuan agar penyuluh mampu memberikan pelayanan lebih baik bagi masyarakat. Kedepan, katanya, penyuluh diimbau tidak hanya "berceramah" soal agama tapi juga perlu melebarkan tema hingga soal kerukunan antarumat beragama, soal NKRI dan sebagainya. ? "Kita ingin melebur dan menyatu dengan masyarakat. Umat Islam harus betul-betul menjadi rahmat di negeri ini," turur Syaifuddin usai survei lokasi, Selasa (11/7).

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29 (Sumber Gambar : Nu Online)
NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29 (Sumber Gambar : Nu Online)

NKRI Terancam, Penyuluh Agama Se-Jatim Helat Jambore di Puncak B-29

Menurut rencana, kegiatan tersebut akan dihadiri Menteri Agama RI, Wakil Gubernur Jawa Timur, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kepala Kemenag dan Kasi Bimas Islam se-Jawa Timur dan ? sejumlah Ketua Pokjaluh dari berbagai provinsi serta 550 penyuluh agama Islam se-Jawa Timur. "Ada beberapa Ketua Pokjaluh yang akan ikut hadir dengan biaya sendiri, diantaranya adalah Pokjaluh Gorontalo, Pokjaluh Palembang, Pokjaluh Maluku, Pokjaluh DKI dan Pokjaluh Jawa Barat," tambah Syaifuddin

Di Jambore itu, para penyuluh juga akan menggelar bakti sosial dengan memberikan bantuan untuk para mualaf dan menanam 5000 pohon sebagai bentuk kepedulian penyuluh terhadap kelestarian lingkungan. "Ini misi kita bersama, dekat dengan masyarakat dan peduli terharap lingkungan," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Jambore, Sriwanti menyatakan, para peserta akan menginap di home sty milik masyarakat setempat. Ratusan penyuluh dan para pejabat akan bermalam bersama untuk melakukan tadabbur alam. "Ini agar para penyuluh dekat dan menyatu dengan masyarakat," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaNu, Anti Hoax, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

Tasikmalaya, SMA Negeri 1 Slawi. Jajaran Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya membantah terlibat aksi dengan sejumlah ormas Islam yang digelar didepan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10) lalu.

Pasalnya, dalam Kabar Priangan edisi Sabtu (29/10/2016), disebutkan salah satu elemen yang ikut aksi ada IPNU dan GP Ansor.

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

"Saya tegaskan IPNU tidak pernah dan tidak akan ikut aksi soal Ahok atau apapun namanya yang dilakukan oleh mereka. IPNU senantiasa fatsun pada intruksi PBNU," kata Ketua IPNU Kota Tasikmalaya, Saeful Malik, Sabtu (29/10/2016).

Menurut Apung (Panggilan Akrab Saeful Malik), seharusnya wartawan yang meliput melakukan "cross cek" ke IPNU karena sudah jelas garis organisasi IPNU dibawah NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"NU sudah melarang. Masa kami ikut. Itu namanya fitnah," ujarnya.

Apung pun meminta agar Kabar Priangan memuat bantahan ini karena sudah jelas keterlibatan IPNU tidak benar.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf pun sama. Membantah terlibat aksi yang bertemakan "Bela Islam" karena sudah nyata GP Ansor satu komando dibawah NU.

"Aneh teu ngarti. Naha Ansor dibabawa (Aneh tak mengerti, kenapa Ansor dibawa-bawa)," ucapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pimred Kabar Priangan, Duddy RS segera menindaklanjuti klarifikasi tersebut. Dan akan memintai keterangan wartawan terkait pencatutan nama IPNU dan Ansor saat aksi Bela Islam oleh sejumlah Ormas di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10).

"Apakah dilapangan ada yang mengaku demikian atau ada kesalahan pengutipan dari wartawan. Kami minta maaf atas kelalaian ini," ujar Duddy. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Oleh Ahmad Zaki Muntafi



Produktivitas ulama nusantara sejatinya amat luar biasa. Apresiasi dari hal itu berupa penggunaan kitab-kitab karya ulama nusantara di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Artinya, karya tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia saja, tetapi telah meluas ke pelosok negeri Muslim. Bukan itu saja, bahkan sosoknya juga amat dihormati dan disegani hingga sekarang. Misal saja, Syaikh Nawawi al-Bantani dengan seabrek kitab karyanya.

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Mahakarya Ulama Nusantara

Kajian tentang literatur (kitab) karya ulama nusantara memang tiada hentinya di masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan akademisi. Namun, terdapat persoalan yang muncul kemudian, yakni ternyata masih banyak kitab karya ulama nusantara yang belum terjamah untuk dikaji dan dipelajari, termasuk yang masih berbentuk naskah-manuskrip. Artinya, ? karya ulama tersebut masih berbentuk tulisan tangan asli dan belum dicetak dengan alat modern. Tentu hal itu yang harus ditindak lanjuti secara berkelanjutan, mengingat pentingnya ajaran Islam ulama nusantara melalui karya-karyanya.

Ada sebuah buku yang menarik tentang kajian literatur karya ulama nusantara. Buku yang berjudul “Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara.” Buku yang ditulis secara apik oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban (2017), serta baru di launching beberapa hari yang lalu. Lahirnya buku ini berawal dari aktivitas Sya’ban melakukan dokumentasi berbagai naskah-manuskrip (kitab) karya ulama nusantara yang ada di Timur Tengah, yakni Mesir dan Arab Saudi.

Sya’ban menyatakan bahwa dalam penelusurannya mencari kitab karya ulama nusantara di Timur Tengah tidaklah susah. Bahkan, menurutnya mudah menemukannya di perpustakaan yang ada. Selama melakukan pencarian dan pelacakan kitab karya ulama nusantara, Sya’ban menemukan amat banyak literatur kitab yang ditulis oleh ulama nusantara. Bisa dikatakan jumlahnya ratusan kitab, bahkan hingga ribuan.

Dalam buku tersebut Sya’ban hanya menggunakan 104 naskah-manuskrip (kitab) yang di¬¬jelaskannya. Sekitar 60-an kitab didapatkan selama pencarian dan pelacakan di Mesir, serta sisanya didapatkan di Arab Saudi, yakni di kota Mekah dan Madinah. Sya’ban memaparkan bahwa khazanah literatur karya ulama nusantara terangkai dengan apik dalam kitab-kitab yang ditelaahnya, mulai dari yang masih berbentuk naskah-manuskrip, serta kitab yang sudah dicetak pula. Bahkan, tidak hanya ditulis dengan bahasa Arab, tetapi ditulis pula dengan bahasa Jawa, Sunda, serta Melayu yang diaksarakan dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, secara historisasi cukup menggambarkan pola penting keislaman yang ada di nusantara dalam kurun waktu beradab-abad silam.?

SMA Negeri 1 Slawi

Misal saja, dalam kitab yang berbahasa Sunda ditemukan perkembangan ajaran tarekat yang ada di Sunda. Bahkan, sebelumya Oman Fathurahman (2016) sebagai ahli filologi telah menuliskannya tentang perkembangan tarekat yang ada di Sunda, di mana temuannya menunjukkan bahwa Jawa Barat (Sunda) memiliki peran penting dalam perkembangan tasawuf dan tarekat, khususnya yang ada di Jawa. Fathurahman menyebutkan bahwa Karang, Pamijahan yang saat ini menjadi daerah Tasikmalaya telah menjadi rujukan lokasi yang penting, serta terdapat sosok penting Syaikh Abdul Muhyi sebagai tokoh penting dalam perkembangan tarekat sufi Shattariyah dibeberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Hal itu dijelaskan Fathurahman dalam bukunya “Shattariyah Silsilah in Aceh, Java, and The Lao Area of Mindanao”.

Selanjutnya, esensi pembahasan yang ada didalam kitab karya ulama nusantara juga beragam, mulai dari fiqih, tafsir, tasawuf, hingga tarekat sebagaimana telah sederhana dipaparkan di atas. Hanya saja, cukup sedikit kitab karya ulama nusantara yang dikaji di Indonesia untuk saat ini. Jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah karya ulama nusantara. Karya-karya yang dihasilkan ulama nusantara tidak hanya dari ulama Tanah Jawa, tetapi ulama luar Jawa pula, seperti di ? Aceh, Palembang, Padang, serta daerah lainnya pula.?

Sebenarnya, kajian literatur karya ulama nusantara amat penting dalam era kekinian, bahkan hingga masa yang akan datang. Hal itu karena posisi ulama amat penting. Selain itu, agar eksistensi ulama nusantara bukan dianggap sebagai fiktif belaka, apalagi mitos. Sebagaimana saat ini, terdapat beberapa kelompok yang tidak mengakui adanya Wali Songo sebagai ulama nusantara. Tentunya upaya tersebut sebagai langkah preventifnya. Selain itu, terdapat ribuan karya ulama nusantara yang menanti perlu untuk dikaji dan ditelaah.

Terlepas dari itu, ajaran dan gagasan ulama nusantara juga perlu dikembangan dan diimplementasikan di era yang begitu erat dengan polemik sosial-keagamaan saat ini. Seperti diketahui, ulama nusantara pun dikenal cukup moderat dalam memahami ajaran Islam. Namun, untuk mengetahui segala ajarannya hanya dapat dilakukan dengan mengkaji karya-karya ulama nusantara sebagai warisan keilmuan di Tanah Nusantara ini.?

SMA Negeri 1 Slawi





Penulis adalah Ketua Umum KBPA UIN Jakarta & Mudabbir Mabna Syaikh Nawawi Ma’had Al-Jami’ah UIN Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, RMI NU, Jadwal Kajian SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar

Bogor, SMA Negeri 1 Slawi. Sebagai model pesantren yang istimewa, pesantren muadalah didorong memiliki kurikulum standar. Pasalnya, pesantren yang unik ini kurikulumnya banyak dirujuk pesantren lain baik yang salaf maupun modern.

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Rujukan Bersama, Pesantren Muadalah Didorong Miliki Kurikulum Standar

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Litbang Pendidikan Norformal-Informal Puslitbang Penda Balitbang Diklat Kementerian Agama, Muhammad Murtadlo, usai membuka secara resmi seminar tentang pesantren muadalah di Wisma PP Puncak, Bogor, Senin (23/11) malam.

Keistimewaan pesantren muadalah ini justru terlebih dahulu mendapat pengakuan dari luar negeri sebelum dari dalam negeri. Misalnya, ijazah pesantren tersebut bisa digunakan untuk melanjutkan belajar di kampus-kampus Timur Tengah. "Nah, di sini kan baru sekitar tahun 1990-an saja ada istilah muadalah," ujar Murtadlo.

SMA Negeri 1 Slawi

Bagi Murtadlo, pilar pendidikan pesantren terdapat di pesantren muadalah. Oleh karena itu, seminar yang digelar hendak diarahkan untuk pendampingan untuk membuat standarisasi kurikulum. "Saya pikir kita perlu belajar bersama dan mencermati fakta pesantren muadalah ini. Sebab, ia menjadi rujukan pesantren salaf maupun modern," ungkapnya.

Terkait kurikulum, Murtadlo menegaskan, Puslitbang Kemenag mendorong sesama pesantren muadalah agar bisa bersinergi dengan internal mereka sendiri juga dengan pemerintah melalui Kemenag.

SMA Negeri 1 Slawi

"Nanti mau kita dorong ke sidang komisi atau penjaringan aspirasi. Pertama apa yang harus dilakukan kementerian dan apa pula yang musti dilakukan pesantren sesama muadalah. Itu jadi satu komisi," tegasnya.

Kedua, lanjut Murtadlo, karena ini penelitian needs assesment, makanya yang perlu diketahui adalah kebutuhan apa saja yang dibutuhkan pesantren muadalah. "Karena ini makhluk ini, kami hanya bisa mengumpani tapi tidak bisa mengatur sepenuhnya. Kami memberi ruang, merawat serta mengkonservasi saja," tandasnya.

Seminar ini mengundang sejumlah narasumber, antara lain Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) KH Abdul Ghoffar Rozien dan Subi Sudarto, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan dan Berkelanjutan, Direktorat Pembinaan Pendidikan Kesetaraan dan Kesetaraan (Ditbindikta), Kemendikbud.

Para narasumber akan memberi komentar, catatan, dan masukan atas riset terhadap 11 pesantren terpilih. Sebelas pesantren tersebut adalah PP Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, PP Darussalam Garut, PI Matholiul Falah Kajen Pati, PP Tremas Pacitan, PP Al-Basyariyah Bandung, PP Tamirul Islam Surakarta, PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, PP Lirboyo Kediri, PP Al-Amin Prenduan Sumenep, PP Al-Hikmah Brebes, dan PP MHS Cirebon. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)



Foto: Ketua RMI NU KH A Ghoffar Rozien saat berbicara pada seminar hasil riset pesantren muadalah oleh Puslitbang Penda di Wisma PP, Puncak, Bogor, Selasa (24/11)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, RMI NU SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock