Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan akan menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk membahas nasib daerah penggusuran Luar Batang dan lokasi sekitarnya Kampung Akuarium dan Pasar Ikan.

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

"Kami akan bertemu Pemda untuk mempertahankannya. Tidak digusur tapi diperbaiki," kata Kiai Ma’ruf saat mengunjungi lokasi penggusuran di sekitar Luar Batang, Jakarta, Selasa.

Kiai Ma’ruf yang juga rais aam NU ini mengatakan salah satu hal yang akan direkomendasikan terkait hak-hak warga itu adalah supaya Ahok dapat membangun kembali rumah yang telah digusur dengan yang lebih baik.

Kiai Ma’ruf mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi warga Luar Batang pascapenggusuran oleh otoritas Pemda DKI. Terlebih setelah MUI meninjau langsung lokasi penggusuran itu.

SMA Negeri 1 Slawi

Kendati demikian, MUI akan melakukan investigasi lebih dalam terlebih dahulu mengenai rincian hak-hak warga yang dilanggar. Dengan begitu, rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan saat bertemu Ahok akan menyeluruh.

Kiai Ma’ruf mengatakan Pemda DKI sudah seharusnya mempertahankan situs sejarah Luar Batang dan sekitarnya lantaran kawasan itu sudah ada sejak lama yaitu ketika kota Sunda Kelapa cikal bakal Jakarta dibangun.?

SMA Negeri 1 Slawi

Kawasan Luar Batang, kata dia, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi khususnya terkait dengan Islam.

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya melakukan relokasi warga Pasar Ikan dengan memberikan solusi kepada warga yang telah bermukim sejak lama dan memiliki rumah tinggal di lingkungan RT 001, 002, 011 dan 012 di RW 04 untuk mendapatkan hunian layak di rusun Marunda dan Rawa Bebek.

Saat dilakukan penggusuran pada Senin pagi (11/4), ratusan warga Pasar Ikan mencoba menolak dan bertahan. Bahkan petugas pengamanan gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polisi dan TNI sebanyak 4.218 personel membawa sejumlah warga dengan bus yang telah disediakan. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hadits, Nasional, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 24 Februari 2018

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain

Ponorogo, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur merupakan PKC dengan jumlah cabang terbanyak se-Indonesia. Jumlah cabang definitif PMII se-Jatim adalah 31 institusi. Mulai dari ujung barat Ngawi hingga ujung timur Banyuwangi.

Demikian dikatakan ketua PKC PMII Jatim 2014-2016, Ahmad Junaidi dalam Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur resmi dilaksanakan di Pendopo Agung Kabupaten, Ponorogo pada kamis Rabu 27-30 April 2016.

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbesar, PMII Jatim Mesti Jadi Contoh bagi Wilayah Lain

“Meskipun begitu, saya harap sahabat-sahabat tidak melupakan tiga hal, yakni komitmen ideologi, kaderisasi, dan gerakan PMII. Dan tiga poin itu haruslah juga jadi agenda utama forum (konkoorcab) ini,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kang Juned, sapaan akrabnya, dengan potensi cabang yang banyak tersebut PMII Jatim seharusnya memberikan teladan pergerakan bagi wilayah-wilayah lain.

SMA Negeri 1 Slawi

“PMII merupakan kawah candradimuka para politisi dan intelektual NU di masa depan, mari membangun PMII lebih bermanfaat,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf mengatakan, sejarah Jatim menjadi tempat sejarah kelahiran PMII pada 17 April 1960 tidak boleh melengahkan PMII Jatim untuk terus berupaya menjadi barometer kepemimpinan, gerakan dan ideologisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Secara simbolik pembukaan konkoorcab resmi dibuka dengan penabuhan gong sebanyak tiga kali oleh Bupati Ponorogo Ipoeng Mukhlisoni ditemani Ketum PB PMII Aminuddin Ma’ruf dan Ketum PKC Jatim Ahmad Junaidi.

Pada kesempatan pembukaan juga ditampilkan kesenian Reog Ponorogo yang merupakan kesenian asli Nusantara asal Ponorogo. Pada kesempatan acara juga makin khidmat dengan kehadiran salah satu pendiri PMII KH Nuril Huda, dan sejumlah alumni PMII dan pejabat setempat. (Ali Makhrus/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Nasional, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 15 Februari 2018

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ingatkan sineas muda Indonesia konsisten dalam berkarya dan menghadirkan film-film berkualitas dan mengangkat tema yang menarik.?

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial

"Jadi tidak hanya mengedepankan horor dan menyerempet eksploitasi seks semata," ungkap Khofifah disela-sela acara nonton bersama film Kartini di Studio XXI Plaza Senayan, Jumat (7/4).

Beragamnya tema, kata Khofifah, dapat membuat gairah perfilman Indonesia semakin baik, produktif dan berkualitas. Menurutnya, tema-tema sosial sangat jarang diangkat. Berbeda dengan tema cinta yang begitu mudah dijumpai.?

Padahal tema sosial, lanjutnya, cukup menarik karena mampu membangun kepedulian sosial, setia kawan, kepahlawanan, dan lain sebagainya. Khofifah mengatakan, film bisa menjadi alat kampanye sosial efektif jika disajikan secara kreatif dan kekinian.?

SMA Negeri 1 Slawi

"Film seperti Laskar Pelangi atau Habibie Ainun tidak hanya menarik untuk ditonton, tapi banyak pesan moral yang bisa diambil dari tiap scene. Termasuk film Kartini yang hari ini saya tonton karena sarat pesan pendidikan dan nilai-nilai perjuangan kesetaraan serta emansipasi," ujarnya.?

Khofifah mengungkapkan, jika dikontekskan dengan era kekinian, "Kartini-Kartini Indonesia" harus menjadi perempuan yang sehat, cerdas, dan peduli kepada yang lemah tanpa meninggalkan kodratnya.?

SMA Negeri 1 Slawi

Menjadi penting, tambahnya, karena perempuan adalah pondasi dan ibu bangsa. Hal ini bukan isapan jempol, mengingat setiap perempuan adalah guru dan pengajar, minimal bagi anaknya sendiri.

"Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak. Peran ini sangat fundamental karena akan berimplikasi kepada ketahanan keluarga yang tentunya bermuara pada ketahanan nasional," imbuhnya. ?

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga memuji alur cerita film Kartini garapan sutradara Hanung Bramantyo yang menurutnya sangat runtut, dan mampu memainkan emosi penonton.?

"Filmnya bagus, banyak pesan dan nilai perjuangan perempuan dalam meraih kesempatan pendidikan dan kesantunan yang bisa diambil oleh generasi muda. Banyak-banyak baca buku dan menulis," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pendidikan, Nasional SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan

Padangpariaman, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten  Padang Pariaman Dr Zainal Tuanku Mudo, SAg, Mag, mengatakan, ibadah kurban merupakan salah satu ibadah untuk  menyempurnakan nilai-nilai  kemanusiaan. Karena dengan berkurban, dapat mengembalikan umat manusia menjadi hamba yang bertauhid.

Zainal mengatakan hal itu ketika bertindak sebagai Khatib Shalat Idul Adha 1436 H/2015, di halaman Kantor Bupati Padangpariaman, Paritmalintang, Kamis (24/9).

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Sumatera Barat ini menyebutkan, tujuan dari ibadah kurban untuk meningkatkan kebersamaan, karena di dalam pelaksanakan kurban, ada berbagi dengan sesama umat yang dirasakan  dengan penuh keindahan dan berkah.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Zainal, berawal dari mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam, yang disuruh untuk menyembilih anak, oleh Sang Khaliq, menyembelih anaknya Nabi Ismail, karena Ibrahim yakin, bahwa yang menyuruh itu Allah swt, dia tidak ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Sementara itu, Bupati Padang Pariaman, Drs H Ali Mukhni dalam sambutannya menuturkan, Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat muslim sedunia karena dilaksanakannya dua ibadah agung yaitu ibadah haji dan ibadah kurban.

SMA Negeri 1 Slawi

"Kedua ibadah itu disebut dalam  Al-Quran sebagai salah satu dari syiar-syiar agama Isalam  yang harus dihormati dan diangungkan oleh hamba-hambanya," ucapnya 

Ali Mukhni menambahkan,  Idul Adha banyak mengandung hikmah bagi kehidupan manusia sekarang dan masa depan (now and future). Salah satunya, aspek kesepakatan antara Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

PBNU Berangkatkan Tujuh Kontainer Bantuan Korban Gempa Sumbar

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberangkatkan tujuh kontainer bantuan untuk korban gempa Sumatra Barat yang merupakan hasil bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui AusAids senilai 250.000 Dolar Australia.

Pemberangkatan bantuan ini dilakukan dengan pemotongan pita oleh Ketua PBNU HM Rozy Munir, Wakil Sekjen PBNU Iqbal Sullam dan Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer, Kamis (29/10).

PBNU Berangkatkan Tujuh Kontainer Bantuan Korban Gempa Sumbar (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berangkatkan Tujuh Kontainer Bantuan Korban Gempa Sumbar (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berangkatkan Tujuh Kontainer Bantuan Korban Gempa Sumbar

Avianto Muhtadi, program manager Community Based Disaster Risk Management (CBDRMNU) yang merupakan penanganan bencana berbasis komunitas NU menjelaskan bantuan ini merupakan bagian dari kerjasama dan kepercayaan yang sudah terjalin sejak tahun 2006 lalu antara pemerintah Australia dengan PBNU melalui MoU yang ditandatangi oleh PM Kevin Rudd dan KH Hasyim Muzadi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Bantuan ini merupakan upaya Pemerintah Australia untuk memberikan dukungan kepada warga NU yang jumlahnya sangat besar dalam mengatasi bencana mengingat Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana,” tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Jangkau Deerah Terpencil

Ia menjelaskan, bantuan dari pemerintah Australia ini ditargetkan mampu menjangkau daerah-daerah terpencil yang selama ini kurang terjangkau. Dari rapid assessment yang dilakukan oleh tim (CBDRMNU), banyak bantuan yang belum sampai atau belum memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Banyak permintaan langsung yang ditujukan kepada Nahdlatul Ulama setempat. Karena itu, bantuan yang dikirimkan telah disesuaikan dengan kebutuhan paling penting bagi para korban,” jelasnya.

Beberapa jenis kebutuhan yang berikan meliputi layanan kesehatan dasar dan gigi, penyediaan kebutuhan peralatan sekolah berupa buku pelajaran dan peralatan tulis, penyediaan kebutuhan psikososial atau penyembuhan traumatis bagi anak-anak melalui pendekatan psikososial maupun agamis serta penyediaan kebutuhan sarana prasarana sanitasi, alat masak, pakaian dalam, tenda, selimut, terpal, peralatan mandi, sarung, mukena, ember, jerigen, termos, dan tempat sampah yang berada di lokasi pengungsian. Ditargetkan bantuan ini mampu menjangkau 10.000 jiwa di 24 nagari/desa.

“Dengan menggunakan pendekatan berbasis komunitas dalam menangani bencana, PBNU melibatkan seluruh komponen warga NU di Sumatra Barat seperti tokoh masyarakat, kiai, dan relawan NU serta jejaring bersama seperti BNPB, Pemda Sumbar, Pemkab, Kecamatan dan fihak kelurahan,” tandasnya.

Sebelumnya pada tanggal 4 Oktober 2009, Tim PBNU telah berada di Padang 15 orang yang terdiri dari para dokter dan relawan untuk membantu pada masa tanggap darurat. Ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi juga telah melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi yang menjadi daerah sasaran pemberian bantuan PBNU pada 10-11 Oktober lalu. Bantuan yang dikirimkan diantaranya meliputi ambulan, bus, tenda, senter, kantong tidur, selimut, sabun, peralatan medis, obat-obatan, tabung oksigen, sembako dan susu.

Avianto menjelaskan, dalam pesannya kepada warga NU di Sumatra Barat, KH Hasyim Muzadi meminta agar para korban gempa tidak sampai putus asa dari rahmat Allah. Jangan sampai terjadi hidup tak karuan setelah bencana gempa melanda.

Ditambahkannya, kiai Hasyim berharap agar bencana tsunami di Aceh dapat menjadi pelajaran. “Beliau memberi pesan yang tak kalah pentingnya dilakukan pascagempa adalah perawatan batin umat yang terkena bencana. Untuk perawatan batin ini, perlu disiapkan mursyid, ustadz dan tenaga pembinaan mental umat. Sehingga masalah baru tidak muncul pascagempa ini,” ujarnya.

Dubes Australia Bill Farmer menyatakan senang danb bangga bisa bekerjasama dengan NU. Dikatakannya, bantuan ini merupakan bagian dari kerjasama yang sudah dijalin antara pemerintah Australia dan PBNU yang ditandatangani PM Kevin Rudd dan KH Hasyim Muzadi.

“Ini merupakan refleksi dari hubungan yang kuat antara pemerintah Australid dan Indonesia serta ormas seperti NU, yang terus memberikan dukungan kepada mereka yang terkena bencana,” jelasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Ulama, Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Haul Habib Ali Ditutup Pembacaan Simthudduror

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Acara peringatan haul Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi di Masjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, ditutup dengan pembacaan kitab maulid karya Habib Ali, Simtudurar pada Senin (4/3) pagi.?

Haul Habib Ali Ditutup Pembacaan Simthudduror (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Habib Ali Ditutup Pembacaan Simthudduror (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Habib Ali Ditutup Pembacaan Simthudduror

Pembacaan maulid tersebut dihadiri oleh puluhan ribu jamaah yang membuat kompleks masjid dan sepanjang jalan masjid penuh dengan manusia yang dominan berbaju putih.

Mereka bahkan rela menunggu dari malam harinya, untuk mendapat tempat yang menurut mereka paling berkah, yakni di dalam masjid. Apabila datang sesudah subuh, jangan harap bisa dapat tempat di masjid, bahkan di halaman masjid pun masih harus berdesakan. Itulah gambaran suasana tempat para pencari berkah dari wali Allah.

SMA Negeri 1 Slawi

“Saya datang tadi setelah subuh, mesti legowo dapat tempat di sini (dekat RS Kustasti, sekitar 500 m dari masjid),” kata Pitoyo, salah satu pengunjung haul.

Jadi bisa dibayangkan betapa penuhnya daerah Pasar Kliwon pada waktu itu. Sesudah salat subuh acara pembacaan kitab maulid Simtudurar pun dimulai, dipimpin oleh Habib Alwi bin Anis, cucu dari Habib Ali Al-Habsyi.

SMA Negeri 1 Slawi

Kitab yang dibaca Simthud-Durar, yang lengkapnya bernama Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa awshaafi wa siyar (Untaian mutiara kisah kelahiran manusia utama, akhlak, sifat dan riwayat hidupnya), ditulis oleh Habib Ali ketika ia berusia 68 tahun, atau sekitar tahun 1327 H/1909 M. Kitab ini berisi riwayat sejarah hidup Nabi Muhammad, sifat dan akhlak beliau. Semua itu terangkai dalam syair nan indah.

Salah satu keistimewaan dari Simtudurar, menurut Habib Thoha bin Hasan bin Abdur Rahman as-Saqqaf dalam Fuyudhotul Bahril Maliy, beliau menukil kata-kata Habib Ali seperti berikut.?

”Jika seseorang menjadikan kitab mawlidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka rahasia Nabi Besar akan nampak pada dirinya. Aku mengarangnya dan mengimlakannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Junjungan Nabi saw.”

Acara pembacaan maulid berlangsung hingga sekitar pukul 10 pagi. Usai acara tersebut dilanjutkan dengan ziarah ke makam keturunan Habib Ali, yakni Habib Alwi (putera), Habib Anis (cucu) dan Habib Ahmad (cucu), yang terletak di selatan Masjid.?

Di akhir acara, sebelum pulang para peziarah kemudian disuguhi hidangan khas haul, yakni nasi kebuli dan masakan dengan bahan daging kambing. Setelah ikut haul, hati jadi tenang perut juga kenyang.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 19 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

Ponorogo, SMA Negeri 1 Slawi. Menjelang berlangsunya Liga Santri Nusantara Tahun 2016 yang akan digelar usai bulan Ramadhan, Panitia Pelaksana LSN Region Jawa Timur 1 melakukan rapat bersama Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Jum’at (17/6).

Pada rapat yang dihadiri Koordinator LSN Jawa Timur 1 Habib Mustofa, pengurus KONI dan PSSI Ponorogo itu berhasil menyepakati pelaksanaan kompetisi sepakbola antar pesantren itu akan dirangkaikan dengan Piala Bupati Ponorogo Tahun 2016. ?

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

“Sesuai dengan arahan Bupati Ponorogo, kick off LSN Region Jatim 1 dan Piala Bupati Ponorogo akan digelar pada 27 Juli mendatang di Ponorogo,” jelas Kepala Dinas BUDPARPORA, Sapto Djatmiko di Kantornya Jl Pramuka No 19A Ponorogo.

Menurut Sapto, Bupati Ponorogo Ipong Muclissoni sangat mengapresiasi atas ditunjuknya Kota Reog Ponorogo sebagai tuan rumah gelaran Liga Santri Nusantara Region Jawa Timur 1 yang akan diikuti sebanyak 32 Peserta itu.

SMA Negeri 1 Slawi

“Bupati berharap besar kepada Panitia Liga Santri Nusantara untuk mengundang Menpora H Imam Nahrawi agar dapat hadir di Ponorogo dalam acara pembukaan liga santri nusantara dan piala Bupati Ponorogo yang rencananya akan diikuti oleh ribuan santri,” katanya.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ponorogo menyambut baik perhelatan sepakbola antar pesantren ini. Mereka akan berperan aktif dalam mensukseskan LSN tahun 2016.

“Kami akan mempersiapkan peralatan pertandingan sekaligus akan membentuk kepanitiaan lokal yang akan bersinergi dengan RMI NU, Banom NU dan Pihak pemerintah daerah serta kalangan professional,” jelas Dite perwakilan PSSI Ponorogo.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 akan diikuti 32 Peserta, yang meliputi Ponorogo sebanyak 5 pesantren, Trenggalek (5), Pacitan (5), Magetan (5), Ngawi (5), Kabupaten Madiun (5), dan Kota Madiun 2 pesantren itu.

Sementara Itu pada selasa malam (14/6) lalu, Panitia Pelaksana juga melakukan rapat membahas teknis pelaksanaan LSN dan hal-hal terkait bersama pengurus Asosiasi Wasit dan Perangkat Pertandingan Professional Indonesia (AWAPPI).?

SMA Negeri 1 Slawi

Rapat membahas tentang hal-hal teknis seperti, Kode disiplin liga santri nusantara, peraturan khusus bidang komersial, dan regulasi LSN. Selain itu, masing-masing divisi telah memaparkan tugas dan tanggungjawabnya. Tugas utama dari panitia lokal antara lain terus melakukan sosialisasi kepada kalangan pesantren dibawah naungan Asosiasi Pesantren NU (RMI). (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Hikmah, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo menyerukan kepada semua pengurus jajaran ranting di wilayah kerja kecamatan untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga nahdliyin.

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi

“Agungkanlah peringatan hari kelahiran Baginda Rasulullah SAW ini dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan tradisi dari pendiri NU. Tradisi NU ini harus terus dipertahankan oleh pemuda Ansor. Oleh karenanya, pemuda itu harus banyak belajar dari orang yang lebih tua,” ujar Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Dringu Mahfud Hidayatullah kepada SMA Negeri 1 Slawi, Selasa (22/1).

Menurut Mahfud, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang ada di perkotaan saja tetapi juga dilakukan warga nahdliyin di pelosok-pelosok desa. Momentum bersejarah tersebut bahkan diperingati dengan sangat menarik. Masyarakat desa biasanya membawa makanan, kue dan buah-buahan yang kemudian dikumpulkan di musholla maupun masjid setempat.

SMA Negeri 1 Slawi

“Biasanya setelah terkumpul semua, selanjutnya dilakukan pembacaan sholawat Nabi (srakalan) secara bersama-sama. Masyarakat di desa mempercayai pada saat pembacaan tersebut, ruh Nabi Muhammad SAW akan hadir untuk memberikan rahmat,” jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Tidak berhenti sampai disitu saja, sebab setelah prosesi pembacaan sholawat Nabi Muhammad SAW selesai tandas Mahfud, barang bawaan tadi ditukar dengan barang bawaan tetangga sekitar untuk dimakan bersama-sama.

“Disitulah tercipta tali silaturahim antar sesama warga nahdliyin. Tanpa melihat status, mereka makan bersama-sama dalam satu wadah. Dan tradisi itu tidak bisa dihilangkan karena itu tradisi NU,” terangnya.

Untuk tahun ini, PAC GP Ansor Kecamatan Dringu berencana akan memberikan santunan kepada fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa. Santunan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk pakaian maupun makanan tergantung porsi kebutuhan dari masing-masing warga nahdliyin.

“Santunan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian pemuda Ansor Kecamatan Dringu kepada warga yang sangat membutuhkan. Harapannya, santunan ini dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tandasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Oleh Candra Malik

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illalaahu, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillaahil hamdu.

Gelombang ribuan malaikat selalu bertawaf dan shalat di Baitul Makmur di langit ketujuh. Ketika diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj, Muhammad SAW berjumpa dengan Ibrahim AS di Rumah Allah yang diyakini segaris lurus dengan Kabah di Makkah itu. Sementara, lautan manusia bertawaf di Baitullaah di Tanah Haram.

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Namun, Hamzah Fansuri, penyair Sufi dari Barus yang berada di bawah pendudukan Kasultanan Aceh pada kurun 1524-1668, memiliki sentuhan keindahan tersendiri mengabadikan kerinduannya pada Allah. Ia meyakini “kediaman” Allah tak jauh, yakni dalam hati manusia. Sebab, Tanah Haram bersemayam di hati insan beriman.

SMA Negeri 1 Slawi

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Kabah

Dari Barus ke Qudus terlalu payah

Akhirnya dapat di dalam rumah

SMA Negeri 1 Slawi

Pengarang kitab Syarab al-Asyiqin (Minuman Pecinta yang Birahi) ini memberi pengaruh besar tidak hanya di semesta kesufian di tanah air. Ia juga menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan hingga sekarang. Jika berbicara tentang Sastra Indonesia, niscaya kita tak bisa lepas dari Sastra Nusantara, termasuk Sastra Melayu.

Ketika percakapan sampai pada Sastra Indonesia, A. Teeuw mencatat Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 dan pendiri bangsa Indonesia, sebagai peletak tonggak. Sajaknya berjudul Bahasa, Bangsa pada 1921 dianggap membuka sastra Indonesia modern.

Selagi kecil berusia muda,

Tidur di anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita pemanjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa,

Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Sungguh benar perkataan M. Yamin dalam puisi itu bahwa tiada bahasa, bangsa pun hilang. Oleh karena itu, saya bahagia menyambut gagasan para santri Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur ini. Gerakan Menulis Serentak 1.111 Sajak adalah gerakan kesadaran yang selayaknya diapresiasi dan didukung.

Gerakan dari dalam pesantren ini dapat membawa efek puncak gunung es jika digelindingkan. Apalagi, tak dapat dipungkiri, sastrawan Muslim dicatat sejarah mengoreskan pena kepenyairan. Dari Hamzah Fansuri hingga Nuruddin al-Raniri, dari Raja Ali Haji sampai Hamka. Dari Chairil Anwar hingga Acep Zamzam Noor. Dari Sunan Bonang sampai Raden Ronggowarsito. Dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai Ahmad Mustofa Bisri. Dari H.B. Jassin hingga Emha Ainun Nadjib. Dari Asrul Sani sampai Mahbub Djunaidi. Dan, masih banyak lagi nama besar penyair Muslim, atau yang lebih khusus lagi dapat disebut sebagai penyair santri.

Nama Ronggowarsito yang abadi sebagai pujangga besar pun ternyata adalah santri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Kiai Besar Hasan Besari pada awal abad 18. Salah satu dari sekian banyak syair yang ditulis Raden Mas Burham, nama kecil Ronggowarsito, adalah Serat Kalatidha.

?

Petikan:

Amenangi jaman edan

Ewuhaya ing pambudi

Melu ngedan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih bedja kang eling klawan waspada

Terjemah Bebas:

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Sastrawan Ahmad Tohari dalam sejumlah kesempatan mendorong kalangan pesantren untuk melahirkan kembali penyair-penyair unggulan. Penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengasuh Pesantren Al Falah di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah ini terus mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra Islam.

Tema tasawuf yang disarikan dari kandungan Al-Quran memang tidak pernah kering menginspirasi. Kitab Jatiswara yang berangka tahun Jawa 1711 hingga gubahannya, yaitu Suluk Tambangraras atau populer disebut Serat Centhini, yang berangka tahun 1742 (sekira 1814 Masehi), pun meneguhkan khazanah tasawuf itu.

Bagi masyarakat pesantren, yang sehari-hari bergaul dengan ilmu alat, yang salah satunya adalah balaghah, selayaknya sastra diyakini sebagai pena bertinta emas yang dengannya kalam-kalam indah dan berderajat adiluhung dapat diciptakan. Sastra santri patut ditumbuhkembangkan.

Terlebih, sejak 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, kita perlu mendorong sastra santri sebagai perwujudan dari Resolusi Jihad. Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap bangsa. Dan, seperti yang disajakkan oleh Muhammad Yamin: tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kami lahir di Indonesia

minum airnya menjadi darah kami

Kami makan beras dan buah-buahan Indonesia menjadi daging kami

Kami menghirup udara Indonesia menjadi nafas kami

Kami bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kami

Bila tiba saatnya kami mati

Kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Syair karya KH Zawawi Imron, Penyair "Celurit Emas" dari Madura ini adalah konfirmasi betapa wajib kita sendiri yang menyelamatkan bangsa dan bahasa Indonesia. Dan dengan puisi, kata Kiai Zawawi, kita dapat kembali menjadi putra ibu dan sekaligus putra bangsa dan tanah air dengan kesadaran penuh.

Selamat bertumbuh, sastra santri.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1437 H, 12 September 2016

Candra Malik, sastrawan sufi, Wakil Ketua Lesbumi PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Apresiasi Warga Maluku, Pesantren Tebuireng Cabang Ambon Diresmikan

Ambon, SMA Negeri 1 Slawi. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengapresiasi warga Maluku sebagai masyarakat yang mengalami dan menjiwai makna penting persaudaraan. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat pertemuan dengan para tokoh agama dan peresmian berdirinya Pesantren Tebuireng Cabang Ambon di Batumerah, Ambon, Rabu (5/4).

Menurut Gus Sholah, saat ini masyarakat sudah capek dan sadar, apa pun alasannya, tidak ada manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah konflik. Tingkat kerukunan di Maluku juga dinilai semakin membaik, setelah terlepas dari belenggu konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA belasan tahun silam. "Mestinya Maluku sudah bisa jadi laboratorium kerukunan umat beragama di Indonesia," ungkap adik kandung Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Apresiasi Warga Maluku, Pesantren Tebuireng Cabang Ambon Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Apresiasi Warga Maluku, Pesantren Tebuireng Cabang Ambon Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Apresiasi Warga Maluku, Pesantren Tebuireng Cabang Ambon Diresmikan

Pada acara yang juga dihadiri Gubernur Maluku Said Assagaf dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Fesal Musaad itu, Gus Sholah berharap para pejabat di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama dapat menjaga kondusivitas yang sudah berjalan baik.

"Fenomena pilkada DKI harus disikapi dengan bijak, sebagai sebuah pendidikan politik yang mencerahkan. Bukan sebaliknya, malah larut dan ikut-ikutan mengadopsi pola-pola perilaku politik yang tidak baik," pesan salah satu cucu pendiri NU ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam pidatonya, Gus Sholah menuturkan bahwa umat Islam memiliki kontribusi yang besar dan signifikan dalam proses tegak dan berdirinya NKRI pada berbagai aspek kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan. "Pesantren dengan madrasahnya, sangat besar perannya meski tidak mendapatkan bantuan dari negara," tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Gus Sholah juga mengkritik belum diterapkannya Pancasila secara penuh dalam kehidupan bernegara. "Kelima sila Pancasila memang belum sepenuhnya bisa dilaksanakan oleh negara, terutama sila kedua dan kelima tentang keadilan sosial, dengan sila ketiga sebagai resultannya," tutur mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Cabang Tebuireng Kesebelas

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan berdirinya pesantren di Ambon ini, Pesantren Tebuireng telah memiliki 11 cabang yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Sulawesi Utara, hingga Sumatera Utara.

Direktur Pendidikan Pesantren Tebuireng Kusnadi menuturkan, inisiator pendirian Pesantren Tebuireng Cabang Ambon ini adalah mantan Kepala Kanwil Kemenag Maluku HM Attamimy. Pria yang sekarang menjadi guru besar IAIN Ambon ini mendapatkan wakaf tanah seluas 2.500 meter persegi dari mantan hakim PTUN Ambon bernama Umar. Oleh Attamimy, amanah tersebut disampaikan kepada Gus Sholah. "Dan Kiai Salahuddin berkenan menerima wakaf tanah ini untuk pendirian cabang Pesantren Tebuireng ke-11," ujarnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pendidikan, Nasional, Pahlawan SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme

Jember, SMA Negeri 1 Slawi. Hj Erma Fatmawati mendorong Fatayat NU Jember untuk terus melakukan penguatan paham Aswaja NU di masyarakat. Dengan cinta tanah air, kader Fatayat NU Jember memperkecil pintu masuk paham-paham radikal dan kejahatan korupsi.

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Laporkan Kejahatan Korupsi, Fatayat NU Jember Merawat Nasionalisme

“Sejak zaman Belanda, NU telah menunjukkan sikap nasionalismenya yang tinggi, dan sampai kapanpun harus tetap dipertahankan,” kata Hj Erma di hadapan 45 peserta Latihan Kader Dasar Fatayat NU di aula PCNU Jember, Sabtu (20/9).

Ia juga mengajak anggota Fatayat NU untuk menjadi pioner dalam menjaga nasionalisme dengan memperluas wawasan kebangsaan dan menghayati nilai-nilai Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Di dalam Islam sudah jelas, mencintai  tanah air adalah sebagian dari iman. "Fatayat adalah bagian dari NU. Mari bekerja dengan benar, laporkan kejahatan korupsi, itu sudah termasuk menjaga nasionalisme," ungkapnya.

Ketua Fatayat NU Jember Rahmah Saidah menegaskan pentingnya kader NU untuk  memperluas wawasan, terutama terkait dengan NU dan kebangsaan.

SMA Negeri 1 Slawi

"Yang juga penting kita sikapi adalah pasar bebas Asia tahun depan. Kita berharap anggota muslimat juga tahu dan paham soal itu," ujar Rahmah. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan

Kupang, SMA Negeri 1 Slawi. Pembangunan Masjid Nur Musafir, yang sebelumnya dihentikan Walikota Kupang Daniel Adoe pada tahun 2012 lalu, lantaran ada penolakan dari masyarakat setempat akhirnya bisa dilanjutkan. Selama empat tahun lamanya, persoalan pembangunan Masjid ini baru bisa dilanjutkan setelah Walikota Kupang Jonas Salean mencabut kembali surat larangan pembangunan.

Berdasarkan pantuan SMA Negeri 1 Slawi, pembangunan lanjutan Masjid Nur Musafir ini dihadiri tiga pejabat Kementerian Agama, yakni Dirjen Bimas Islam Prof Machasin, Dirjen Bimas Protestan Odita Hutabarat, dan Sekretaris Dirjen Bimas Agus Tungga Gempa. Selain itu tampak hadir Ketua MUI NTT KH ? Abdulkadir Makarim, Kapolres Kupang AKBP Budi Hermawan, Kabinda NTT, Dandim 1604 Kupang, PW Ansor NTT, PC Ansor Kota Kupang, Pemuda Lintas Agama dan jajaran Forkopinda Kota Kupang.

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan

Walikota Kupang Jonas Salean mengatakan, baru pertama kali di NTT bahkan mungkin di Indonesia, dua Dirjen hadir bersamaan peletakan batu pertama pembangunan mesjid di tingkat kelurahan. "Ini baru pertama kali terjadi pembangunan masjid di hadiri dua Dirjen," kata Jonas dalam sambutan pembukaan pembangunan lanjutan Masjid Nur Musafir Batuplat, Senin (11/4).

Diakui Jonas, pembangunan masjid ini memang banyak kendala karena pendekatan yang keliru sehingga ada warga Batuplat yang tersinggung kemudian menolak pembangunan masjid. Namun setelah pemerintah melakukan mediasi antar warga, akhirnya disepakati pembangunan masjid dilanjutkan.

Dikatakan Jonas, sesuai motto kota yang didasarkan pada KASIH (Kupang, Aman, Sehat, Indah Harmonis), menjadikan warga Kota Kupang hidup rukun dan damai. "Kita tidak ada lagi muncul perbedaan di antara kita, sebab kita ini masih bersaudara, "ungkapnya.

Dirjen Bimas Islam, Machasin dalam sambutannya mengatakan, pembangunan Masjid Nur Musafir ini memang sebelumnya ada persoalan. Namun ia menilai permasalahan tersebut bisa diselesaikan jika masyarakat mengedepankan kerukunan. " Dengan kerukunan yang menjadi baromoter maka semua masalah bisa diselesaikan," pungkasnya. (Ajhar Jowe/Zunus)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, Nasional SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU

Oleh Abdul Rahman Wahid

--Wacana kembalinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) mulai memasuki titik ujung. Hal ini didasarkan pada hasil Sidang Komisi Organisasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) pada Sabtu, 1 November 2014. PBNU dan perwakilan wilayah NU dari seluruh Indonesia telah sepakat memberikan tenggang waktu kepada PMII hingga menjelang Muktamar NU 2015 nanti. Jika tidak ada sikap PMII kembali ke NU, ada kemungkinan NU akan membuat organisasi kemahasiswaan yang baru di bawah naungan NU.

Menilik pada sejarah, berangkat dari hasrat atau panggilan nurani mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi merupakan hal yang wajar, karena kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat memungkinkan untuk mendirikan organisasi baru.

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya PMII Kembali ke Pangkuan NU

Hasrat tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk Ikatan Mahasiswa NU (IMANU) pada akhir 1955 yang diprakarsai oleh beberapa pimpinan pusat dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Namun IMANU tak berumur panjang, karena PBNU secara tegas menolak keberadaannya. Tindakan keras itu dilakukan lantaran IPNU baru saja lahir, yakni pada tanggal 24 Februari 1954. “Apa jadinya jika baru lahir saja belum terurus sudah terburu menangani yang lain,” logika yang dibangun oleh PBNU. Jadi keberadaan PBNU bukan pada prinsip berdiri atau tidak adanya IMANU tapi lebih merupakan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas waktu.

Pada tanggal 14-16 Maret 1960 IPNU menggelar Konferensi Besar di Kaliurang,? Yogyakarta. Konferensi inilah yang menjadi cikal bakal pendirian suatu organisasi mahasiswa yang terlepas dari IPNU baik secara struktural maupun administratif, kemudian dikristalkan dengan nama PMII. Selanjutnya, PMII diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibuat di Surabaya. Tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khodijah pada tanggal 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 H.

?

Independensi PMII

SMA Negeri 1 Slawi

Jatuhnya rezim Orde Lama dan naiknya Soeharto sebagai penguasa Orde Baru telah membawa Indonesia kepada perubahan politik dan pemerintahan baru. Pada masa Orde Baru (1966) situasi sosial politik semakin panas dan banyak organisasi-organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan kekuatan politik untuk sepenuhnya mendukung dan menyokong kemenangan partai. Akhirnya, PMII yang sejak kelahirannya sedikit banyak terpengaruhi oleh kondisi politik, gerakan PMII juga cenderung bersifat politik praktis dengan menjadi Under-bow partai NU.

Keterlibatan PMII dalam dunia politik praktis semakin jauh pada pemilu pertama, tahun 1971. Keterlibatan tersebut disinyalir sangat merugikan gerakan PMII sebagai organisasi mahasiswa, yang menyebabkan PMII mengalami kemunduran? dalam banyak hal. Hal ini juga berakibat buruk pada beberapa Cabang PMII di daerah-daerah.

Kondisi ini menuntut PMII untuk mengkaji ulang gerakan yang telah dilakukannya, khususnya dalam dunia politik praktis. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka pada Musyawarah Besar tanggal 14-16 Juli 1972 PMII mencetuskan deklarasi Independen di Murnajati, Lawang, Jawa Timur, kemudian dikenal dengan “Deklarasi Murnajati.

SMA Negeri 1 Slawi

Sejak itulah PMII secara formal-struktural lepas dari naungan partai NU. PMII membuka ruang sebesar-besarnya tanpa berpihak kepada salah satu partai politik. Pada saat itu PMII Cabang Yogyakarta mendorong secara total di canangkannya independensi PMII. Dengan alasan bahwa PMII sebagai organisasi kemahasiswaan dan kelompok insan akademis yang harus bebas menentukan sikap.

?

Menakar Kembalinya PMII Pada Rahim NU

Melihat fakta sejarah, keluarnya PMII dari naungan NU lantaran NU menjadi Partai Politik. PMII sebagai gerakan mahasiswa terpasung dalam bergerak. PMII lebih menjadi under-bow NU di level mahasiswa. Sikap kritis dan kepekaan sebagai organisasi kemahasiswaan tumpul dengan sendirinya. Namun, ada beberapa hal kenapa hari ini PMII dirasa penting kembali ke pangkuan NU.

Pertama, muktamar ke-27 di Situbondo pada tahun 1984, di bawah kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) NU menyatakan sikap “kembali ke khittah 1926”. NU melepaskan diri sebagai partai politik dan kembali menjadi organisasi sosial keagamaan.

Dengan demikian, alasan keluarnya PMII karena NU menjadi partai politik hari ini sudah tidak dibenarkan lagi. Kembalinya NU ke khittah 1926 membenarkan kembalinya PMII menjadi badan otonom NU. Karena cita-cita yang diusung keduannya sama.

Kedua, berakhirnya otoritarianisme Orde Baru dan munculnya era reformasi. Dimana, PMII pada masa Orde Baru memakai logika vis a vis terhadap Negara dengan selalu melakukan kritik. Sikap ini dibenarkan karena Soeharto pada saat itu memimpin dengan cara militeristik, memasung dan menindas hak kebebasan semua warga serta memihak pada golongan tertentu. Hadirnya Negara pada masa Orde Baru sangat represif, PMII menyadari itu.

Akan tetapi, kehadiran Negara pasca reformasi berbeda jauh dengan Orde Baru. Kebebesan sudah bisa dirasakan oleh semua elemen masyarakat Indonesia. Saat ini mesin kekuasaan sudah bergerak cepat dan terbuka lebar, bersikap demokratis transformatif adalah pilihan yang harus diambil. Memperbaiki dari dalam mendorong agenda kesejahteraan? merupakan agenda besar yang harus terpatri secara terus menerus dalam tubuh PMII. Bagaimanapun juga PMII dan NU sama-sama mempunyai komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketiga, munculnya kelompok-kelompok makar dengan nama agama dan spirit Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang diusung PMII dan NU. Banyaknya kelompok makar yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam merupakan masalah serius. Jika hal ini dibiarkan maka cita-cita NU dan PMII tinggal slogan saja.

NU maupun PMII sudah final dengan Pancasila dan NKRI merupakan harga mati. Dengan berlandaskan Aswaja, selama ini NU dan PMII merupakan kelompok Islam Indonesia yang sangat toleran dengan kelompok lain. Nah, kalau NU dan PMII berjalan dengan sendiri-sendiri kekuatan besar itu akan terbelah menjadi dua.

Berangkat dari kultur dan tradisi yang sama, bagaimanapun juga PMII adalah tameng terakhir yang bergerak di level mahasiswa (pemuda) dalam mempertahankan paham Aswaja. Untuk menjadi jamaah yang besar dalam merealisasikan cita-cita bangsa PMII harus menjadi bagian dari NU. Dengan demikian, jika PMII kembali ke pangkuan NU, eksistensi Pancasila dan Keutuhan NKRI akan semakin terjaga pula. Agar Islam yang menghargai sesama, menghargai tradisi, dan Islam yang rahmatal lil ‘alamin ini tetap menjadi ciri khas Islam Indonesia.

Menurut penulis sendiri, wacana kembalinya PMII menjadi Badan Otonom NU bisa dibenarkan untuk saat ini. Seperti yang telah disampaikan oleh PBNU dan juga para sesepuh PMII. Dimana, selama ini ada keterputusan jenjang kaderisasi. IPNU sebagai organisasi pelajar juga bergerak di Perguruan Tinggi. Agar kaderisasi IPNU fokus di pelajar, NU butuh wadah yang jelas di level mahasiswa. PMII merupakan oraganisasi yang tepat, karena PMII lahir dari rahim NU.

Namun penulis di sini melihat ada dua hal urgen yang harus dilakukan PMII ketika sudah kembali ke naungan NU. Pertama, PMII mampu menginternalisasi pemahaman Aswaja. Karena sejauh ini saya melihat pemahaman Aswaja bukan menjadi hal utama dalam kaderisasi PMII. Seakan-akan pemahaman Aswaja dianggap cukup karena kader PMII mayoritas dari pesantren yang kulturnya NU. Generalisasi semacam ini tidak bisa dibenarkan.

Kedua, tidak ada patronase pada partai politik. Jika PMII berpatron pada partai politik dan cenderung menjadi tujuan utama untuk meniti karir ini akan berakibat fatal. Spirit kembalinya PMII ke pangkuan NU tak akan membuahkan hasil apa-apa. Namun bukan berarti PMII tidak boleh berpolitik. Yang dimaksud di sini adalah, tradisi transaksional yang mengatasnamakan organisasi harus dihilangkan. Bagaimanapun juga NU dan PMII mempunyai dua identitas, NU dan PMII sebagai organisasi serta NU dan PMII sebagai Jamaah.

Saya rasa, jika dua hal di atas di penuhi maka kembalinya PMII menjadi badan otonom NU akan menjadi kekuatan besar di Republik ini. Keberadaan PMII dan NU akan menjadi tameng pertahanan NKRI. Sejarah pun akan mencatat momen penyatuan kembali NU dan PMII. Sehingga membicarakan Indonesia tidak lengkap tanpa membicarakan NU dan PMII juga. Karena Indonesia, NU dan PMII tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Jika ingin berbicara pada sejarah, inilah saat yang tepat PMII kembali kepangkuan NU.

?

Abdul Rahman Wahid, pengurus Rayon PMII Ashram Bangsa, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Masa Khidmat 2014-2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Nasional, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum

Suatu kali masyarakat Quraisy dibuat canggung dengan kasus pencurian oleh seorang perempuan bangsawan dari subklan Bani Makhzum. Mereka gelisah karena dalam kesadaran kolektif penduduk Arab kala itu, bangsawan adalah simbol kehormatan suku. Aib bangsawan adalah aib masyarakat Quraisy secara umum.

Akibat suasana serbabingung dan malu tersebut, mereka pun ragu-ragu ketika hendak melaporkanya kepada Rasulullah. Di dalam hati mereka terbesit keinginan, si bangsawan pencuri mendapatkan dispensasi hukuman.

Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum

Hingga akhirnya masyarakat Quraisy meminta bantuan kepada Usamah bin Zaid yang dikenal sangat dekat dan dicintai Rasulullah. Usamah merupakan putra Zaid bin Haritsah, budak yang dimerdekakan Nabi yang kemudian menjadi pelayan setia beliau.

Usamah pun mengantarkan perempuan bangsawan itu menghadap Nabi. Seperti paham dengan gelagat Usamah, dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa wajah Rasulullah saat itu memerah dan berujar, “Kamu mau meminta keringanan hukum Allah?”

Usamah menyesali tindakannya, “Mintakan ampun atas dosaku, wahai Rasulullah!”

Sore harinya, Rasulullah berdiri dan berpidato di depan khalayak, "Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya."

SMA Negeri 1 Slawi

Perempuan bangsawan itu pun akhirnya menerima sanksi potong tangan. Perempuan ini didakwa mencuri karena ia meminjam harta orang lain, lalu mengingkari perbuatannya. Ini adalah bagian dari tindakan korupsi. Siti Aisyah menceritakan, setelah peristiwa hukuman tersebut, si perempuan bangsawan bertobat secara sungguh-sungguh dan menikah.

SMA Negeri 1 Slawi

Rasulullah dalam paparan peristiwa di atas menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang tegas dan adil. Hukum diposisikan setara di hadapan semua orang, entah bangsawah ataupun rakyat biasa. Tidak ada diskriminasi atau pandang bulu dalam memutuskan perkara hukum, meski “lobi-lobi politik” lewat Usamah sempat dilakukan.

Hal ini menjadi renungan bersama bahwa hukum tak semestinya hanya keras saat berhadapan dengan rakyat kecil, tapi lembek kala bersentuhan dengan para pejabat, pengusaha, politisi, ataupun orang-orang terpandang lainnya. Dalam bahasa populer disebut, hukum jangan tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Nasional, AlaNu SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 30 November 2017

Ragu dalam Berwudlu

Manusia identik dengan lupa. Begitulah kira-kira penafsiran al-insan mahallul khota’ wan nisyan. Lupa bisa mendatangkan berkah, tetapi juga bisa memanggil musibah.

Lupa minum dalam puasa dalah berkah, tetapi lupa minum racun tikus adalah musibah.

Begitu dekatnya lupa dalam kehidupan manusia, sehingga fiqih pun mementingkan untuk membahasnya sendiri. Hanya saja tema besar yang digunakan adalah keragu-raguan yang sejatinya lahir dari kelupaan. Diantara keraguan yang sering terjadi adalah keraguan dalam wudlu.

Ragu dalam Berwudlu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragu dalam Berwudlu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragu dalam Berwudlu

Jika seseorang mengalami keraguan setelah dirinya berwudlu. Apakah dirinya sudah batal ataukah masih suci? Maka hukumnya dikembalikan pada keyakinan bahwa ia telah wudhu. Sebagaimana dituliskan oleh Muslim Bin Muhammad Ad-Dusiri dalam kitabnya Al-Mumti’ Fi Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah

لو أن شخصا تيقن أنه على طهارة، ثم إنه بعد ذلك شك في أنه قد أحدث، فإنه يحكم ببقائه على حدثه، لأن الأصل هنا هو الطهارة، والأصل بقاء ما كان على ما كان.

Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudlu’, lalu ragu-ragu apakah dia sudah batal ataukah belum? maka dia tidak wajib berwudlu’ lagi, karena yang ia yakini adalah sudah berwudlu’, sedangkan batalnya masih diragukan.

SMA Negeri 1 Slawi

Begitu juga ketika seseorang yang telah batal wudlu dan ragu apakah ia sudah wudlu kembali atau belum? Maka yang dijadikan pedoman adalah keyakinanya yang telah batal.

لو أن شخصا تيقن أنه محدث، ثم إنه شك في أنه قد تطهر، فإنه يحكم ببقائه على حدثه، لأن الأصل هنا هو الحدث، والأصل بقاء ما كان على ما كان

SMA Negeri 1 Slawi

Dan begitu pula sebaliknya, apabila seseorang yakin bahwa dia telah batal wudlunya, tetapi dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu’ kembali ataukah belum? Maka dia wajib berwudlu’ kembali (jika akan menjalankan shalat atau ibadah lain yang syaratnya adalah dengan berwudlu’) karena dalam masalah ini yang yakin adalah batalnya wudlu’. 

 Demikianlah masalah keraguan yang sering menimpa umat yang sering berwudhu. (Fuad H. Basya/Red. Ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pertandingan, Nasional, Humor Islam SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 26 November 2017

PMII Ya’qub Husein Inginkan Mahasiswa Baru Terampil Menulis

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Komisariat PMII Ya’qub Husein Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo Jombang memfasilitasi puluhan mahasiswa baru dalam pelatihan menulis di aula Balai Desa Bulurejo kecamatan Diwek, Jombang. Mereka mendampingi mahasiswa baru dalam menulis karya ilmiah dan karya populer, Kamis (4/9) pagi.

Mantan Presiden Mahasiswa STIT Al-Urwatul Wutsqo, Romza mengantarkan materi penulisan opini sebagai salah satu jenis karya populer.

PMII Ya’qub Husein Inginkan Mahasiswa Baru Terampil Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ya’qub Husein Inginkan Mahasiswa Baru Terampil Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ya’qub Husein Inginkan Mahasiswa Baru Terampil Menulis

“Menulis sebuah opini tidak serumit menulis makalah atau skripsi. Karena opini tidak perlu tebal dengan rincian referensinya dalam footnote atau daftar pustaka,” terang Romza di depan puluhan peserta pelatihan.

SMA Negeri 1 Slawi

Romza yang kini berkarir sebagai jurnalis di sebuah media cetak nasional ini menganjurkan peserta lebih banyak membaca demi memperkaya bahan penulisan.

“Referensinya harus kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Analisanya juga dipertajam agar tulisannya bernilai tinggi. Dalam opini, gagasan harus aktual dan murni dari pemikiran kita,” lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua PMII Jombang Mahmudi dalam sambutannya berharap kegiatan ini cukup membekali keterampilan dasar menulis bagi mahasiswa baru. “Menjadi mahasiswa merupakan pilihan. Kita harus memahami dan melestarikan semua tradisi ilmiah kemahasiswaan tidak terkecuali menulis,” kata Mahmudi.

Senada dengan Mahmudi, Ketua PMII Ya’qub Husein Tolak Ediy berharap pelatihan ini memberikan gambaran kepada peserta agar mudah mengerjakan tugas perkuliahan, terlebih menulis makalah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 11 November 2017

Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis

Dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i dikisahkan, suatu kali Iblis mendatangi Fir’aun dan berkata, “Apakah kau mengenaliku?”

“Ya,” sahut Fir’aun.

Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis

“Kau telah mengalahkanku dalam satu hal.”

“Apa itu?” Tanya Fir’aun penasaran.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kelancanganmu mendaku sebagai tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya.”

SMA Negeri 1 Slawi

“Kau benar. Tapi aku akan bertobat,” kata Fira’un.

“Jangan buru-buru begitu,” bujuk Iblis la’natullah ‘alaih, “Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan.”

“Kau benar,” jawab Fir’aun, “Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?”

Kata Iblis, “Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Ia lebih buruk dariku dan darimu.” (Mahbib/Sindikasi Media)





* Dari kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i (Surabaya: Al-Haramain), h. 57

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Kyai, News SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 06 November 2017

NU dan FPI dalam Tiga Matra

Oleh M. Kholid Syeirazi



Banyak orang bertanya, apa beda Nahdlatul Ulama (NU) dan Front Pembela Islam (FPI)? Apa pula persamaannya? FPI ditulangpunggungi para habaib. Untuk urusan ta’dzim kepada habaib, orang NU tidak ada duanya. Sejak kecil, para santri dididik menghormati keturunan Rasululllah. Di Pekalongan, kota kelahiran saya, ‘salim’ dengan habib merupakan berkah luar biasa. Karena itu, jika sowan atau bertemu habib, salamannya tidak cukup cium tangan sekali, tetapi berkali-kali, dibolak-balik. Kalau tidak percaya, datang ke Pekalongan, sowan ke Habib Luthfi atau Habib Baqir. InsyaAllah akan jumpa bahwa yang salaman ke habib dengan cara tangan dibolak-balik itu bukan hanya santrinya, tetapi juga kiainya. Para kiai NU sangat menghormati habib, termasuk Gus Dur. Dulu, ketika Ketua MUI KH Hasan Bisri meragukan eksistensi keturunan Rasulullah di Indonesia, Gus Dur membela para habaib.

NU dan FPI dalam Tiga Matra (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan FPI dalam Tiga Matra (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan FPI dalam Tiga Matra

Salah seorang yang diyakini sebagai keturunan Rasululullah itu bernama Habib Rizieq Syihab (HRS), pendiri Front Pembela Islam (FPI). Apa semua habib sama? Pasti tidak! Ada yang mendukung pola dakwah HRS, ada juga yang tidak. Belakangan, NU dan FPI sering bersitegang di lapangan. Kenapa ini terjadi? Titik temu dan titik beda NU dan FPI bisa dilihat dari tiga matra, yaitu âmaliyyah, fikrah, dan harakah.

Pertama, secara ‘amaliyyah ubûdiyyah, tradisi NU dan FPI sama: sama-sama pelaku tradisi, sama-sama ‘pengamal bid’ah’. NU qunut, FPI qunut. Tarawih–nya sama-sama 20 rakaat.? Sama-sama gemar shalawatan, tahlilan, dan ziarah kubur. Shalawatannya sama-sama pakai kata ‘sayydina’. Jelas kedua-duanya bukan penganut Islam puritan. Karena itu, FPI pasti tidak cocok dengan aliran Islam yang mengusung agenda purifikasi. Dalam soal ini, FPI akur dengan NU dan ‘bentrok’ dengan Wahabi, HTI, Islam modernis, dan aliran lain yang agendanya adalah memberantas TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat).

SMA Negeri 1 Slawi

Kedua, secara fikrah, FPI akur dengan NU dalam fikrah dîniyyah (pemikiran keagamaan), tetapi ‘bentrok’ dengan NU dalam fikrah siyâsiyyah (pemikiran politik). Dalam fikrah dîniyyah, NU dan FPI sama-sama pengikut ajaran Abu Hasan al-Asy’ari dalam tawhid, pengikut Imam Syafi’i dalam fikih, dan al-Ghazali dalam tasawuf. HRS, dalam berbagai kesempatan, menegaskan dirinya sebagai penganut Asy’ari dan menyerang i’tiqad Salafi-Wahabi. Oleh para pengikut Wahabi, HRS juga kerap dituduh Syi’ah, sama seperti KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. Dalam fikrah siyâsiyyah, FPI berseberangan dengan NU. NU menyatakan NKRI final, dalam bentuk sekarang. HRS menginginkan NKRI Bersyariah. Agendanya seperti Piagam Jakarta. Dalam isu ini, FPI ‘bentrok’ dengan NU dan punya titik temu dengan sejumlah ormas Islam yang mendukung agenda formalisasi syariat Islam, entah itu HTI, Wahabi, atau sebagian partai eks-Masyumi yang mengusung isu formalisasi syariat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketiga, dalam harakah (gerakan), NU dan FPI cenderung ‘bentrok.’ Dakwah NU mengusung prinsip tawassuth (moderasi), tasâmuh (toleransi), tawâzun (proporsional), dan i’tidâl (tidak berat sebelah). NU juga meyakini prinsip ?? ? ? yaitu alon-alon, bertahap dalam dakwah dan mengamalkan syariat Islam. NU mengayomi budaya dan meyakini syariat Islam bisa diterapkan secara swadaya oleh masyarakat, tanpa legislasi dan campur tangan negara. Pemberlakukan syariat Islam yang perlu campur tangan negara, seperti hudud, bisa diganti dengan hukuman lain yang bisa diterima semua pihak. Dalam harakah, FPI punya titik temu dengan gerakan Islam transnasionalyang mengusung agenda formalisasi syariat Islam. FPI juga resisten dengan adopsi budaya lokal sebagai medium dakwah. Karena itu, HRS dengan keras menolak diskursus Islam Nusantara dan memelesetkannya dengan istilah yang kurang sedap. ?

Ala kulli hâl, dari tiga matra, satu setengah FPI cocok dengan NU, satu setengah yang lain FPI berbeda dengan NU. Namun, dibanding kepada ormas Islam puritan, FPI lebih dekat secara ‘amaliyyah dengan NU dan karena itu punya potensi untuk beraliansi strategis. Di sebuah tayangan youtube, yang direkam dari ceramah beliau, HRS bilang FPI bukan orang lain. FPI adalah anak NU yang bandel. Jika HRS sekarang cenderung ‘bersahabat’ dengan Islam puritan, saya merasa itu bentuk dari aliansi taktis untuk tujuan politis. Namanya aliansi taktis, suatu saat akan bubar,? jika tujuan politisnya hilang atau bertolak belakang.

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nasional, Olahraga, Bahtsul Masail SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 27 Oktober 2017

Kisah Sembuh dari Penyakit Diabetes lantaran Shalawat

Sidoarjo, SMA Negeri 1 Slawi

Wakil Gubernur Jawa Timur H Saifullah Yusuf menyatakan bahwa shalawat mampu membuat hati bahagia. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini menceritakan, salah satu guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa) Ali Aziz telah melakukan penelitian terkait dengan penyakit diabetes yang ia derita.

Kisah Sembuh dari Penyakit Diabetes lantaran Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Sembuh dari Penyakit Diabetes lantaran Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Sembuh dari Penyakit Diabetes lantaran Shalawat

Gus Ipul melanjutkan, Ali Aziz telah berobat ke dokter dan membaca buku bahwa "orang yang sehat dihitung seberapa jauh otaknya bekerja, orang bahagialah yang bekerja dengan sempurna karena mengirim darah ke seluruh tubuh dengan sempurna pula".

"Menurut penelitiannya (Ali Aziz), umumnya orang saat bershalawat itu senang dan seakan-akan bertemu Rasulullah. Kemudian Ali Aziz ini bershalawat setiap hari di rumahnya. Alhamdulillah penyakitnya sembuh atas hidayah Allah melalui shalawat tersebut," kata Gus Ipul pada acara HUT TV9 Nusantara ke 6 dan HUT Sidoarjo ke 157 yang dikemas dalam Sidoarjo bershalawat di halaman parkir Timur Gor Sidoarjo, Ahad malam (24/1).

SMA Negeri 1 Slawi

Gus Ipul berharap semoga warga Nahdliyin semakin cinta kepada Rasulullah dan kedua orang tuanya. "Mewakili PBNU dan PWNU Jawa Timur, semoga kita senantiasa senang ke Rasulullah, orang tua dan guru-guru kita. Mudah-mudahan dengan shalawat ini hati kita sehat semua, membuat hati kita bahagia. Insyaallah pahalanya banyak dan semoga mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW," doanya.

Di tempat yang sama Bupati Sidoarjo periode 2016-2021 H Saiful Ilah menyebutkan bahwa dengan bershalawat berarti umat Islam berdoa agar kebutuhan hidupnya tercapai, terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

SMA Negeri 1 Slawi

"Shalawat ini sebagai langkah dan upaya bersama untuk menumbuh kembangkan agar permasalahan-permasalahan bisa segera terselesaikan. Dengan bershalawat mampu memberikan dampak spiritual, mewujudkan tatanan pemerintah yang demokratis," kata pria yang akrab disapa Abah Ipul itu.

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Timur Halim Iskandar yang turut hadir dalam kesempatan itu mengimbau kepada warga untuk tetap waspada dan hati-hati dengan peredaran narkoba serta radikalisme yang masuk ke Jawa Timur. Ia berharap para orang tua lebih hati-hati dalam mendidik anak-anak. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, Nasional, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 22 September 2017

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Oleh Irham Yuwanamu

Selepas hari libur Lebaran ini topik full day school (FDS)—sekolah 5 hari dan 8 jam perhari—makin hangat diperdebatkan. Pasalnya, hingga kini belum ada titik temu antara pemerintah dan masyarakat yang kontra.

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Sejak awal terlontarkan pada tahun 2016 ide ini sudah menuai kritik dan penolakan dari masyarakat. Walupun begitu pemerintah melalui Mendikbud tetap ingin menerapkan ide tersebut dengan membuat Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Kritik dan penolakan pun datang dari berbagai pihak.

SMA Negeri 1 Slawi

Karena kontroversi yang sangat keras, Presiden Jokowi akhirnya membatalkan Permendikbud itu, dan akan dikaji ulang. Menurut Mendikbud, FDS akan diperlakukan melalui aturan yang lebih tinggi melalui Perpres.



Akar Masalah


SMA Negeri 1 Slawi

Mendikbud keukeuh untuk menerapkan ide yang digagasnya sejak awal menjadi menteri pendidikan tanpa mempertimbangkan aspirasi yang ada. Keributan di luar dianggap angin lalu. Sebenarnya apa argumentasi yang paling mendasar dari Mendikbud ini? Mencermati dari Permendikbud nomor 23 itu tujuannya untuk menghadapi era globalisasi dengan penguatan karakter dengan restorasi pendidikan karakter. Untuk itu alternatifnya adalah waktu sekolah dibuat 5 hari dan perharinya 8 jam.

?

Sebelumnya tak terdengar ada kajian yang mendalam tentang bentuk restorasi pendidikan karakter yang tepat seperti apa, kemudian mengapa solusinya FDS, apa hubungannya. Dugaan penulis jangan jangan ini masih sebatas asumsi Mendikbud bahwa FDS sebagai jawaban tepat.

Mendikbud tak melihat kesiapan di bawah seperti apa. Faktanya banyak forum guru dan orang tua murid menolak, warga NU protes keras yang secara resmi disampaikan oleh PBNU, dan juga MUI dengan berbagai alasan yang mendasar. Ini menunjukkan ketergesaan Mendikbud dan abai atas aspirasi rakyat. Kebijakan tanpa melihat aspirasi dari bawah yang niatnya baik bisa menjadi tidak baik hasilnya. Mengapa fakta dari bawah tidak diindahkan.

Persoalan karakter sudah menjadi sorotan oleh menteri pendidikan sebelum era Presiden Jokowi, yaitu pada saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang menteri pendidikannya waktu itu pak Nuh. Dengan berbagai kajian yang dilakukan terwujudlah kurikulum 2013 (K-13) sebagai kurikulum yang terintegrasi dan berbasis karakter. Tentu kurikulum ini disertai kritik tajam dari masyarakat dan para pakar. Kurikulum ini pun nasibnya belum jelas karena sebelum diimplementasikan sepenuhnya sudah diberhentikan. Namun begitu, pendidikan di lingkungan Kemenag saat ini telah menerapkan K-13. Artinya penguatan karakter melalui kurikulum pendidikan belum rampung sudah beralih pada penentuan hari sekolah.

Kemudian tepatkah FDS untuk? penguatan karakter? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, mengingat klausul utama dalam Permendikbud itu adalah penguatan karakter dan jawabannya tidaklah cukup berangkat dari asumsi, tetapi harus dari hasil riset yang mendalam.

Asumsi FDS adalah membatasi jam main anak di luar kontrol orang tua sepulang sekolah. Dengan demikian agar anak didik terjaga di sekolah dan karakternya menjadi baik. Benarkah demikian! Apakah kalau tidak FDS anak didik merosot karakternya, jangan jangan hanya kasuistik saja hal itu terjadi. Ini butuh kajian lapangan yang serius.

Setelah presiden Jokowi meminta agar permendikbud dibatalkan dan dikaji kembali, Mendikbud menjelaskan sebenarnya ide sekolah 8 jam sehari berawal dari problem tunjangan guru (detik, 8/6). Jika Hal ini benar,? maka Permendikbud yang lahir tersebut atau yang akan dibuat perpres tak jelas landasan dasarnya untuk penguatan karakter.

Pengelolaan pendidikan tidak boleh asal, sebab pendidikan sebagai strategi membangun peradaban dan kebudayaan bangsa. Dari pendidikan juga sosio-kultural terbentuk. Jadi dampaknya ini sangat besar, apakah sudah diperhitungkan semua itu?



Kebijakan Multikultural


Indonesia adalah negara yang berbhineka. Tidak Indonesia kalau tak beragam dan majemuk. Untuk mengatasi persoalan pendidikan nasional di Indonesia khususnya tentang FDS, kebijakan yang menghargai perbedaan dan kemajemukan lah yang bisa menjadi solusi.

Sejarah era orde baru dapat menjadi pelajaran penting. Kebijakan yang sifatnya terpusat, dari atas ke bawah tanpa melihat keragaman dan perbedaan yang ada, terbukti gagal. Indonesia yang berbhineka alias multikultural tidak bisa disamaratakan. Di era reformasi jangan sampai kembali pada masa kelam.

Kebijakan multikultural dalam pendidikan nasional perlu diterapkan. Kebijakan yang seperti ini yang menghargai keragaman dan kemajemukan yang tepat untuk Indonesia. Kontroversi tentang kebijakan FDS hemat saya karena tidak melihat aspirasi masyarakat dan tak berdasar dari riset yang kuat. Sementara masyarakat ada yang pro dan kontra karena kebutuhan dan konteks sosial yang berbeda. Mungkin bagi masyarakat perkotaan dengan kondisi orang tua murid yang sibuk bekerja akan setuju, walaupun tidak semuanya. Dan ini berbeda pada kondisi yang ada di daerah. Situasi pendidikan yang masih kurang memadai baik sarana prasarana maupun SDM-nya juga menjadi salah satu faktornya. Belum lagi tradisi lainnya seperti adanya sekolah sore (sekolah ngaji). Mendikbud setidaknya mengajak bicara pada semua kalangan yang memiliki kepentingan. Dengan seperti ini akan tahu aspirasi yang disampaikan yang berbeda-beda pula.

Perbedaan yang ada itu perlu diperhatikan sehingga kebijakan yang ditetapkannya tidak harus seragam tapi dapat beragam sesuai konteks masalah yang dihadapi. Inilah semangat dari UU Sisdiknas tahun 2003 yaitu otonomi pendidikan. Jika FDS masih diberlakukan dengan pendekatan seragam dari atas ke bawah, ini bertentangan dengan UU Sisdiknas tersebut, alih-alih untuk meningkatkan moralitas, malah bisa-bisa membuat karakter anak makin merosot karena kebijakan yang tanpa didukung dengan riset yang mendalam.

Kebijakan multikultural dapat diberlakukan pada kurikulum, sistem evaluasi, dan yang terkait dengan pendidikan. Semestinya hal-hal yang seperti ini diurus oleh organisasi profesi keguruan yang merupakan ahlinya. Level kementerian mengurus yang sifatnya besar-besar saja misalnya soal pendanaan, dan pengembangan SDM. Dengan seperti ini proyek pendidikan dengan visi ke depan jangka panjang tetap terjaga. Sementara ini visi pendidikan nasional kita masih jangka pendek, ganti menteri ganti kebijakan. Kapan unggulnya?

Penulis adalah dosen FAI UNISMA Bekasi, dan UNU Indonesia serta peneliti di Pusat Riset Pendidikan Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaNu, Nasional, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock