Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus

Temanggung, SMA Negeri 1 Slawi - Satuan Komando Cabang (Satkorcab) Banser X-22 Kabupaten Temanggung mengadakan Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Tanggap Bencana (Bagana) dan Banser Lalu Lintas (Balalin) di Desa Kundisari Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Sepanjang Jumat-Ahad (6-8/5), mereka dipersiapkan untuk menangani masalah bencana dan lalu lintas.

Kegiatan dengan tema Mengabdi Untuk Negeri Membentuk Kader Pemuda Yang Ikhlas, Tangkas, dan Cerdas ini diikuti oleh seratus peserta yang terdiri dari 60 peserta Diklatsus Bagana dan 40 peserta Diklatsus Balalin. Peserta merupakan utusan dari Satuan Komando Rayon (Satkoryon) Banser se-Kabupaten Temanggung.

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Seratus Banser Temanggung Tingkatkan Keterampilan Khusus

Komandan Satkorcab Banser Temanggung Lutfi Arifin mengatakan, selama ini anggotanya sudah banyak terjun di masyarakat membantu penanganan bencana di daerah rawan bencana maupun membantu mengatur kelancaran lalu lintas dalam banyak kegiatan. Hanya saja mereka belum memiliki keterampilan yang memadai.

"Untuk itu adanya Diklatsus Bagana dan Balalin ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader Banser Tanggap Bencana dan Kader Lalu Lintas yang mumpuni," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Belum lama ini puluhan anggota Banser Temanggung ikut berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung.

SMA Negeri 1 Slawi

Bersama Tim SAR Tretep dan masyarakat setempat puluhan anggota Banser ini membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama transportasi yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Fragmen, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Halal bihalal  yang di gelar Badan Otonom Nahdlatul Ulama kabupaten Jombang, Ahad (9/9) terlihat sangat meriah. Meski digelar lesehan, hampir 300 perwakilan Banom NU yang terdiri, Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, Pergunu, IPNU-IPPNU, Ikatan Sarjana NU, Pagar Nusa dan juga PMII pun terlihat kompak. 

Ketua PCNU Jombang terpilih KH Isrofil Amar, mengatakan kegiatan yang digelar Banom NU ini bisa menjadi momentum meneguhkan gerakan NU dimasa yang akan datang. "Kegiatan semacam ini, merupakan Inisiatif cemerlang untuk membangun NU ke depan. Saya sangat mengapresiasi positif, dan berharap bisa menjadi kegiatan yang lebih bermakna," tuturnya mengatakan.

Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Membangkitkan Jamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Membangkitkan Jamiyah

Apalagi, Ketua PCNU dua periode ini menambahkan, dalam kegiatan halal bihalal badan otonom juga melibatkan PMII yang selama ini berada diluar perangkat kelembagaan NU."Mudahmudahan PMII segera masuk NU, mudah mudahan pada kongres mendatang bisa masuk menjadi perangkat organisasi NU," tandas Dosen Unipdu ini berharap.

SMA Negeri 1 Slawi

Masih menurut KH Isrofil menuturkan, persoalan NU ke depan, pihaknya sangat optimis dengan melihat kekompakan badan otonom, NU memiliki potensi yang sangat besar dan kuat."Mudah mudahan tidak hanya halal bihalal, tetapi juga kegiatan yang lain, juga bisa disinergikan, untuk menuju NU yang maju," tandasnya seraya meminta seluruh pengurus banom istqomah membesarkan NU dan tidak ada lagi Banom, baik  Muslimat, Ansor berjauhan dengan NU nya. 

SMA Negeri 1 Slawi

KH Isrofil mengakui, adanya kesenjangan komunikasi antar Badan Otonom. Dan hal itu karena kurang ada pertemuan."Mengapa ini terjadi demikian karena tidak sering ketemu. Karena itu mari kita kokohkan NU. Ini momentum, Kami minta dikokohkan untuk menuju masa depan NU yang gemilang," pungkasnya.

Nampak hadir memberikan semangat, pada kegiatan tersebut mantan ketua Muslimat NU Jombang Hj Munjidah Wahab. Putri pendiri NU, KH Wahab Hasbulloh ini meminta jalinan komunikasi antar banom bisa dilakukan terus menerus. "Ini penting, dan harus kita lakukan terus, dan saya siap untuk memfasilitasi sehingga ada sinergitas program antar Banom," tutur anggot DPRD Jatim ini menjanjikan. 

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Ramadlan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Olahraga, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

Puluhan Drumben Banser Banjiri Pawai Ta’aruf Pesantren Roudlotul Huda

Kebumen, SMA Negeri 1 Slawi. Pawai ta‘aruf yang digelar pesantren Roudlotul Huda desa Kebadongan kecamatan Klirong kabupaten Kebumen, berlangsung meriah, Ahad (18/1) kemarin. Pawai ini tidak lepas dari aksi puluhan grup drumben Banser dari sejumlah kabupaten di wilayah eks karesidenan Kedu, Pekalongan, dan Banyumas.

Sepanjang perjalanan pawai, kerap kali para anggota Banser memamerkan ketangkasanya dalam memainkan alat musik tersebut seperti halnya grup drumben TNI dan Polri. Pawai ini juga tampak meriah oleh ratusan sepeda hias dan 50 grup jaran joged yang ditunggangi santri pesantren setempat.

Puluhan Drumben Banser Banjiri Pawai Ta’aruf Pesantren Roudlotul Huda (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Drumben Banser Banjiri Pawai Ta’aruf Pesantren Roudlotul Huda (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Drumben Banser Banjiri Pawai Ta’aruf Pesantren Roudlotul Huda

Wakil Bupati Kebumen Hj Djuwarni melepas langsung pawai ta‘aruf yang diadakan dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Lepas pawai, panitia maulid menyerahkan santunan kepada 50 anak yatim piatu .

SMA Negeri 1 Slawi

"Kegiatan pawai ta‘aruf ini merupakan rangkaian peringatan Maulid tahun ini yang dilaksanakan selama dua hari," kata Pengasuh pesantren Raudlotul Huda KH Khafi Mahfud di sela-sela kegiatan.

Pihak pesantren, kata Kiai Khafi, sengaja mengundang Banser dari berbagai daerah. Ia berharap, setelah melihat adanya ribuan anggota Banser warga NU di Kebumen akan merasa bangga sekaligus tumbuh semangatnya untuk menghidupkan organisasi NU.

SMA Negeri 1 Slawi

Pihaknya juga ingin mengenalkan keberadaan Banser kepada masyarakat terutama generasi muda. Mengingat semakin berkembangnya zaman, generasi muda NU yang tahu dan mengenal Banser semakin jarang.

"Dengan kedatangan ribuan anggota Banser di Kebumen ini, kita ingin menunjukan bahwa warga NU Kebumen tetap solid untuk menjaga keutuhan Bangsa Indonesia dari gangguan gerakan-gerakan Islam radikal," imbuh Kiai Khafi didampingi Komandan Banser Kebumen Juni Awaludin. (Beni Yanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Warta SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

PBNU: MK Tidak Melegalisasi Perzinaan, Perkosaan dan Hubungan Sesama Jenis

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Melalui Putusan Nomor 46/PUU-XIV/2016 tanggal 14 Desember 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan judicial review mengenai perluasan norma tentang zina, perkosaan dan hubungan sesama jenis yang saat ini pengaturannya ada di dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang merupakan warisan kolonial.

PBNU: MK Tidak Melegalisasi Perzinaan, Perkosaan dan Hubungan Sesama Jenis (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: MK Tidak Melegalisasi Perzinaan, Perkosaan dan Hubungan Sesama Jenis (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: MK Tidak Melegalisasi Perzinaan, Perkosaan dan Hubungan Sesama Jenis

Putusan tersebut tidak bulat alias ditempuh melalui dessenting opinion 4 dari 9 hakim menyatakan pendapat berbeda terhadap penolakan  permohonan uji materi tersebut.

Ketua PBNU Robikin Ehmhas berpendapat bahwa rumusan norma zina dalam KUHP tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang ada di Indonesia, karena yang dikategorikan zina hanya hubungan kelamin laki-laki dan perempuan yang salah satu atau keduanya terikat perkawinan dengan orang lain.

"Konsekuensinya, kalau kedua pelakunya single alias tidak berstatus nikah dengan orang lain maka menurut KUHP bukan zina dan tidak bisa dijatuhi hukuman dengan pasal perzinaan," ungkap Robikin melalui rilis yang diterima SMA Negeri 1 Slawi, Sabtu (16/12) petang.

SMA Negeri 1 Slawi

Hanya saja, lanjut dia, jika dibaca secara saksama, tidak terlihat MK menolak substansi permohonan perluasan norma yang diajukan pemohon. Dengan bahasa lain, MK tidak melegalisasi perzinaan, perkosaan dan hubungan sesama jenis. Namun, MK berpendirian bahwa perluasan norma mengenai zina, perkosaan dan hubungan sesama jenis adalah domain positive legislature, bukan wilayah negative legislature.

"Secara singkat, positive legislature dapat diartikan sebagai tindakan melakakukan penafsiran konstitusi secara aktif dengan cara membentuk suatu UU. Sedangkan penilaian bahwa suatu UU dan norma yang dihasilkan oleh pembentuk UU sebagai bertentangan dengan konstitusi merupakan negative legislature," terang dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Positive legislature adalah kewenangan cabang kekuasaan legislatif, sedangkan negative legislature merupakan domain cabang kekuasaan yudikatif.

"Dalam sistem ketatanegaraan kita, positive legislature diperankan oleh pembentuk undang-undang, yakni Pemerintah dan DPR. Sedangkan negative legislature menjadi kewenangan MK," Robikin menambahkan.

Munas Alim Ulama, Konbes NU dan Rancangan KUHP

Selain sudah usang sehingga tidak compatiable, dengan perkembangan masyarakat, beberapa norma KUHP bahkan tidak sesuai dengan landasan filosofis bangsa dan bertentangan dengan nilai-nilai agama yang ada di Indonesia. Diantaranya adalah norma tentang perzinaan, pemerkosaan dan hubungan sesama jenis.

"Dengan mempertimbangkan hal seperti itulah maka Munas Alim Ulama dan Konbes NU di NTB tanggal 23-25 November 2017 menjadikan Rancangan KUHP yang saat ini sedang dibahas di DPR dijadikan salah satu pokok bahasan," katanya.

Di antara pesan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 adalah agar Pemerintah dan DPR segera merampungkan pembahasan Rancangan KUHP yang ada.

"Apalagi kehendak untuk merubah KUHP sudah ada sejak akhir tahun 1960-an," pungkas Robikin. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Khutbah, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

1000 Banser Rembang Siap Tanggap Bencana 2016

Rembang, SMA Negeri 1 Slawi - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Rembang menyatakan siap menanggulangi bencana pada tahun 2016-2017 seiring telah datangnya musim penghujan. Mereka dengan giat melakukan simulasi dan pembekalan dalam menangani bencana.

Ketua GP Ansor Kabupaten Rembang Hanies Cholil mengatakan, total 1.000 orang anggota Banser disiagakan untuk menghadapi potensi bencana tahun ini. Banser mulai dari satuan koordinasi kelompok di masing-masing ranting, rayon di tiap kecamatan, dan cabang di kabupaten kini telah siap tanggap bencana.

1000 Banser Rembang Siap Tanggap Bencana 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
1000 Banser Rembang Siap Tanggap Bencana 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

1000 Banser Rembang Siap Tanggap Bencana 2016

"Kami sudah perintahkan Banser melalui Kepala Satkorcab untuk secara intensif saling berkoordinasi mengenai potensi bencana dan kejadian bencana di daerah masing-masing," terangnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia menyebutkan, daerah seperti Kecamatan Gunem, Sedan, Pamotan, Kaliori, dan Sumber, merupakan lima dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang yang siaga bencana.

"Melalui kegiatan pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) Banser di Gunem pada hari ini Jumat, (12/11) sampai Ahad besok, kami telah tegaskan, Banser siap tanggap bencana," tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Camat Gunem Teguh Gunawarman pada saat membuka Diklatsar Banser Angkatan V tahun 2016 di Desa Kulutan Kecamatan Gunem meminta Banser ikut serta tanggap bencana tanpa diminta.

"Kami berharap kepada Banser agar tanggap jika terjadi bencana. Tanpa harus diminta. Selain bertugas sebagai pengamanan misalnya dalam kegiatan Pemilu, Banser perlu tanggap bencana," ujarnya.

Meskipun demikian, Banser tetap harus menjalin koordinasi secara berjenjang dengan pihak yang berwenang saat terjadi bencana dengan kerawanan tertentu. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Jakarta pada 28 Mei hingga 1 Juni 2014 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tema yang diangkat kali ini adalah “Khidmah Muslimat NU untuk Indonesia Bermartabat”.

“Rakernas dilaksanakan oleh jajaran pengurus, sedangkan Mukernas akan dilakukan oleh perangkat Muslimat NU dari anak cabang hingga pusat,” terang Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dalam Jumpa Pers, Senin (26/5) di Gedung Serba Guna Utama Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Gelar Rakernas dan Mukernas di Jakarta

Khofifah juga menjelaskan bahwa Muslimat NU yang telah berkembang di 33 Provinsi, mempunyai 554 Cabang di tingkat Kabupten/Kota, 5.222 Anak Cabang di tingkat Kecamatan, dan lebih dari 36 ribu Ranting di tingkat Desa atau Kelurahan, serta 22 Juta anggota sangat perlu menyelenggarakan kegiatan seperti ini dalam rangka membangun Muslimat NU ke depan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Dengan berbagai macam materi dan permasalahan yang akan dibahas dalam kegiatan ini, diharapkan seluruh potensi Muslimat tumbuh berkembang untuk Indonesia bermartabat,” kata Khofifah, pusuk pimpinan badan otonom NU yang digawangi oleh kaum ibu ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Dia juga menuturkan bahwa sudah lazim kegiatan Muslimat NU berjalan antara 5 hingga 6 hari, karena, tambah Khofifah, kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen Muslimat NU di Indonesia agar terjalin komunikasi dan saling berbagi.

Acara ini akan dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI Boediono Rabu, 28 Mei 2014. Sebelum resmi dibuka, sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Gubernur DKI H Joko Widodo akan mengiringi kegiatan ini. Selain itu, acara ini juga akan dihadiri oleh para menteri, ulama, dan jajaran tokoh nasional lainnya. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sejarah, Fragmen, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

SMA Negeri 1 Slawi

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

SMA Negeri 1 Slawi

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Cerita, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi. Untuk mewujudkan mesjid sebagai pusat gerakan pemeliharaan akidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, sebagai pusat pelayanan dan kesehatan umat, pusat keilmuan, dan sumber pendidikan, Pengurus Lembaga Tamir Mesjid (LTM) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang kembali menggelar Pelatihan Muharrik Mesjid pada hari Sabtu, 16 April 2016.?

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesjid Sebagai Pusat Gerakan Aqidah Aswaja

Seluruh pengurus DKM se-Kecamatan Jatinangor yang berjumlah sebanyak 50 orang berkumpul di Mesjid Pondok Pesantren Al-Falah untuk mendapatkan materi tentang muharrik masjid.

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang Ust. Eman Sulaeman mengatakan bahwa pelatihan Muharrik Mesjid Nahdlatul Ulama ini menjadi program utama Pengurus LTMNU kabupaten Sumedang. Tujuan utamanya yaitu membentengi masjid-mesjid Nahdlatul Ulama dari rongrongan paham-paham radikal di luar paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.?

Selain itu ingin menyampaikan tentang pentingnya Kegiatan Muharrik Mesjid demi terciptanya pengurus masjid yang paham betul terhadap kegiatan-kegiatan tamir mesjid ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PCNU Sumedang Kiai Ade Gaos. Ia memaparkan secara detail dan terperinci materi tentang Ke-Aswaja-an ala Nahdlatul Ulama.?

Ia juga mengutip pepatah Arab, "Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir". Selain itu Kiai Ade Gaos juga membangkitkan semangat juang dan kecintaan warga Nahdliyin di daerah Jatinangor terhadap Nahdlatul Ulama dengan menyampaikan pepatah bijak Kiai Asad: "Jadikanlah NU itu sebagai istrimu yang engkau nafkahi, bukan sebagai suami yang engkau jadikan sebagai pemberi nafkah".

SMA Negeri 1 Slawi

Selanjutnya untuk terciptanya warga Nahdliyin yang aman sejahtera, Kiai Ade Gaos mengajak warga untuk bersama-sama membesarkan Nahdlatul Ulama khususnya di daerah Kabupaten Sumedang.?

Ketua LTMNU Kabupaten Sumedang sempat pula mengutip kata-kata bijak salah satu Kiai NU "Bangsa yang paling celaka adalah bangsa yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri, lebih-lebih umat yang tidak mengetahui sejarah agamanya sendiri" (Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya). (Dede Rohmat Apandi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Bahtsul Masail, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Banda Aceh, SMA Negeri 1 Slawi. Pengerus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh mengadakan kopdar Nusantara di Mizan Kupi, Lampineung Sabtu, 29 April 2017.

Ketua Umum PMII Akmal mengatakan, dalam kopdar Nusantara ini adalah sebuah anugerah terbesar bisa berkumpul di tanah rencong dengan sahabat-sahabati PMII se-Nusantara walaupun tidak semuanya dikarenakan mempunyai kewajiban dalam tugas mewakili kampus.

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Akmal juga berpesan silaturrahim ini harus tetap sampa bertemu dalam acara kongres yang sebentar lagi akan diselenggarakan.

"Kongres ini adalah kongres dengan seduhan aswaja dalam jiwa kita tanpa ada hal yang tidak kita inginkan," jelasnya?

Salah satu mewakili dari Kota Salatiga, Wasi menambahkan walaupun kita di Aceh tujuan awalnya adalah berkompetisi dalam Pionir ke VIII.

SMA Negeri 1 Slawi

"Karena sahabat/i terikat dalam suatu ikatan yang sangat luar biasa yaitu PMII kita semua awalnya saling bersaing tapi malam ini kita bisa duduk bersama, ngopi bersama," ujarnya

Arif juga mengatakan suatu kebanggaan selaku kader PMII Cabang Kota Palopo Karena telah berkesempatan untuk duduk bareng dengan sahabat(i) se-Nusantara di Kota Banda Aceh.

"Sekali lagi terima kasih kepada PC. PMII Kota Banda Aceh yang telah memberikan wadah bagi kami untuk kumpul bareng sahabat(i) se-Nusantara di Banda Aceh. Red: Mukafi Niam

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ahlussunnah, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Sejumlah kiai dan pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur menghadiri Forum Silaturrahim Kiai dan Pengasuh Pesantren NU se-Jawa Timur di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (11/1) kemarin. Forum antara lain membicarakan kriteria calon ketua umum PBNU.

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah

Hadir sebagai nara sumber pada halaqah bertema "Mengembalikan NU pada Ruhnya," mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi, pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah dan KH Muhyidin Abdusshomad dari Jember.

Halaqah menelorkan beberapa syarat atau kriteria calon ketua umum PBNU periode mendatang, antara lain calon juga harus mampu menjaga martabat NU, komitmen dalam menjalankan Qonun Asasi Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, memiliki kemampuan kepemimpinan dan managemen, istiqomah menjaga netralitas NU dalam politik praktis dan tidak punya beban masa lalu serta profesional.

Salah seorang penggagas kegiatan KH Abdurrahman Ustman mengatakan, meski tidak menyebut nama, kriteria yang diajukan mengarah kepada sosok KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu Gus Sholah dalam forum itu menyampaikan bahwa NU selama ini belum banyak membicarakan persoalan ekonomi terutama yang sesuai dengan sistem Islam, padahal organisasi lain telah melakukan.

“Apakah sistem ekonomi kita sudah islami atau belum? Dimana masih banyak masyarakat muslim dalam kondisi miskin. Padahal negera kita sangat kaya. Apakah ini sistem ekonomi islami.? Kedepan NU perlu membahas persolan ini," ujarnya.

Adik kandung Gus Dur ini menambahkan, NU harus berada di depan dalam menjalankan ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain itu, NU juga harus memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan pendidikan pesantren.

"Bagaimana NU bisa sesuai dengan Qonun Asasi KH Hasyim Asyari, melayani pesantren dan ulama karena NU didirikan dari ulama pesantren yang telah memberikan pendidikan sejak sebelum adanya lembaga pendidikan formal seperti sekarang," tandas cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari itu.

Disinggung soal kesiapan menjadi calon ketua PBNU, Gus Sholah mengaku belum berpikir, untuk menjadi kandidat. Dikatakannya hingga saat ini dirinya belum berpikir, dan tidak melakukan upaya apapun untuk maju sebagai calon ketua umum PBNU.

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya tidak berpikir dan belum berencana untuk itu, kita lihat saja nanti. Muktamar kan masih lama," pungkasnya usai acara. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaNu, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan beberapa hari lalu dalam keterangan tertulis menyatakan kekecewaannya karena menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencabut status tiga makam tokoh di Kalimantan Selatan sebagai cagar budaya.

Ketiga makam tersebut adalah Datu Abulung di Martapura (Kabupaten Banjar), Datu Sanggul di Tapin, dan Datu Tumpang Talu di Kandangan. PWNU memandang, mereka yang di makam itu adalah tokoh-tokoh terhormat, penyebar Islam, bahkan pejuang republik.

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendikbud Bantah Hapus Tiga Cagar Budaya Kalsel

Kemendikbud melalui Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, Ari Santoso membantah kebenaran berita tersebut karena berdasarkan data dan ketentuan tentang penetapan dan penghapusan cagar budaya sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, ketiga makam tersebut, yakni Makam Datu Hamid Ambulung di Kabupaten Banjar; Makam Tumpang Talu, di Kandangan; dan Makam Datu Sanggul, di Kabupaten Tapin, tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam UU Nomor 11 Tahun 2010, tambahnya, proses penetapan dilakukan melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya pada masing-masing kabupaten/kota, dan apabila sesuai dengan kriteria cagar budaya maka akan direkomendasikan untuk ditetapkan oleh bupati/walikota setempat sebagai cagar budaya.

“Ketiga lokasi makam tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” kata Ari melalui surat hak jawab, Jumat (11/8) sore, mengklarifikasi pemberitaan SMA Negeri 1 Slawi yang tayang 6 Agustus lalu.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mengatakan, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur telah mengeluarkan surat nomor 0207/E24/CB/2017, tanggal 22 Februari 2017, ditujukan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

Surat tersebut berisi tentang pernyataan bahwa ketiga makam tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Oleh karena itu, ketiga makam Tokoh Penyebar Islam di Kalimantan Selatan tersebut tidak lagi diusulkan sebagai cagar budaya yang dipelihara oleh BPCB Kalimantan Timur per bulan April 2017.

“Namun demikian Kemendikbud tetap memikirkan pemeliharaan ketiga makam tersebut dengan dikeluarkannya surat Kepala BPCB Kalimantan Selatan yang menyampaikan bahwa biaya pemeliharaan untuk juru pelihara makam diharapkan dapat dilaksanakan oleh dinas terkait,” tutup Ari. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Mojokerto, SMA Negeri 1 Slawi. Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi mengatakan momentum Peringatan Hari Santri Nasional perlu direspon secara nyata, tidak sekadar heroisme sesaat.

Oleh dunia pendidikan, dalam hal ini Pergunu, perlu adanya peningkatan perhatian terhadap guru Agama dan Guru NU, yang selama ini belum tersentuh secara nyata.?

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Negara wajib hadir untuk memperkuat eksistensi guru-guru tersebut. Perhatian terhadap guru-guru diniyah, guru TPA, dan TPQ, kiranya menjadi poin penting yang perlu diperhatikan Pemerintah.

Hal tersebut diungkapkannya saat mengisi diskusi pada Forum Silaturahim Kongres Pergunu II di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10) pagi.

Dari sisi Pergunu sendiri, Kiai Mujib mendorong agar guru-guru NU menguatkan kembali semangat berjihad melalui bidang pendidikan, yakni sebagai pengajar. Bahwa saat ini pemerintah menggulirkan sertifikasi guru, yang disatu sisi memperkuat kesejahteraan guru dan sisi lain mendorong profesionalisme, namun pada faktanya banyak yang hanya untuk mengejar kesejahteraan tanpa upaya peningkatan profesionalisme.

SMA Negeri 1 Slawi

“Oleh karena itu, saya lebih cenderung mendorong agar jiwa atau semangat yang dikembangkan dari pesantren perlu juga dipegang oleh para guru NU. Jiwa pesantren yang apa adanya lillahi taala, para guru akan mendidik para siswa dengan sekuat tenaga. Ketulusan dari hati juga terasa, dan daya didik dan keihlasan. Itu yang harus dikembangkan,” terang Mujib.?

Kiai Mujib meneruskan, para dosen perguruan tinggi NU sebenarnya termasuk dalam Pergunu. Namun kehadiran para dosen di komunitas Pergunu tampak masih malu-malu. Hal ini perlu dirumuskan lagi agar para dosen yang merupakan kader NU dapat bersentuhan aktif dalam wadah Pergunu.

Selain itu, Kiai Mujib mengungkapkan adanya anggapan ironis terhadap guru-guru agama SMA, karena banyaknya mahasiswa yang diduga dipengaruhi ajaran golongan radikal saat di SMA.?

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mematahkan anggapan tersebut dengan menyebutkan hasil survey oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Februari 2016, yang menyebutkan bahwa radikalisme di perguruan tinggi salah satunya karena dari kegiatan Rohis (Kerohanian Islam) SMA. Para pembina Rohis belum tentu guru agama yang terjangkit radikalisme dari dirinya.

Ditemui SMA Negeri 1 Slawi seusai acara Forum Silaturahim, Kiai Mujib mendorong agar masyarakat NU mengupayakan penyebaran ajaran aswaja dan ke-NU-an melalui kegiatan ? seperti Rohis, tanpa harus berlabel NU.

Terkait dengan perkembangan Pergunu dewasa ini, Kiai Mujib menilai secara umum sudah cukup bagus dengan kelembagaan yang terbentuk. Namun secara organisatoris dan sitem manajemen organisai masih perlu ditingkatkan. Ia mendorong agar Pergunu tidak hanya menjadi event organizer.?

“Peran NU bagi Indonesia tidak terbantahkan. Namun itu jangan menjadi alasan Pergunu untuk mengandalkan program-program dari Kementerian yang ada. Pergunu jangan bergantung pada Pemerintah. Ini yang perlu di-rescedule agenda-agenda Pergunu. Sebagai banom NU, Pergunu harus ikut induknya (PBNU), jadi tidak usah blusukan (mencari proyek) ke Kementerian,” pungkas Kiai Mujib. (Kendi Setiawan/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

Tasikmalaya, SMA Negeri 1 Slawi. Jajaran Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya membantah terlibat aksi dengan sejumlah ormas Islam yang digelar didepan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10) lalu.

Pasalnya, dalam Kabar Priangan edisi Sabtu (29/10/2016), disebutkan salah satu elemen yang ikut aksi ada IPNU dan GP Ansor.

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebuah Surat Kabar di Tasik Catut IPNU dan Ansor Terlibat Aksi soal Ahok

"Saya tegaskan IPNU tidak pernah dan tidak akan ikut aksi soal Ahok atau apapun namanya yang dilakukan oleh mereka. IPNU senantiasa fatsun pada intruksi PBNU," kata Ketua IPNU Kota Tasikmalaya, Saeful Malik, Sabtu (29/10/2016).

Menurut Apung (Panggilan Akrab Saeful Malik), seharusnya wartawan yang meliput melakukan "cross cek" ke IPNU karena sudah jelas garis organisasi IPNU dibawah NU.

SMA Negeri 1 Slawi

"NU sudah melarang. Masa kami ikut. Itu namanya fitnah," ujarnya.

Apung pun meminta agar Kabar Priangan memuat bantahan ini karena sudah jelas keterlibatan IPNU tidak benar.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf pun sama. Membantah terlibat aksi yang bertemakan "Bela Islam" karena sudah nyata GP Ansor satu komando dibawah NU.

"Aneh teu ngarti. Naha Ansor dibabawa (Aneh tak mengerti, kenapa Ansor dibawa-bawa)," ucapnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pimred Kabar Priangan, Duddy RS segera menindaklanjuti klarifikasi tersebut. Dan akan memintai keterangan wartawan terkait pencatutan nama IPNU dan Ansor saat aksi Bela Islam oleh sejumlah Ormas di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat (28/10).

"Apakah dilapangan ada yang mengaku demikian atau ada kesalahan pengutipan dari wartawan. Kami minta maaf atas kelalaian ini," ujar Duddy. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Kajian, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Kepala Perwakilan dan Direktur World Food Programme (WPF) Anthea Webb memberikan apresiasinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) dalam perannya di segala bidang termasuk kemanusiaan dan bencana.

Dia menyambangi Kantor PBNU Jakarta, Senin (21/11) untuk mengajak NU bersinergi dan kerja sama dalam penanganan ketahanan pangan, bencana, dan kemanusiaan.

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Ditemui langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengurus PBNU lain, Webb menyampaikan bahwa dalam mencegah dan menangani bencana kemanusiaan akibat kelaparan dan gizi buruk, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian.

“NU jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal,” ujar Webb.

Dia menjelaskan, WPF merupaka lembaga pangan bentukan PBB yang telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria.

SMA Negeri 1 Slawi

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan.

Hadir dalam pertemuan terbatas itu di antaranya, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Wasekjen Imam Pituduh, Ketua PP LPBINU M. Ali Yusuf, Ketua PP LKNU Hisyam Said Budairy beserta Sekretarisnya Citra Fitri Agustina. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 23 Desember 2017

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi?



Namanya Cornelius Ariyanto Wibisono. Mungkin ada yang bertanya kenapa nama tersebut menghiasi susunan penyelenggara Liga Santri Nusantara 2017. Tak tanggung-tanggung, nama itu menempati posisi Direktur Pengembangan Bisnis liga yang digelar Kemenpora bekerja sama dengan asosiasi pesantren Nahdlatul Ulama (RMINU).?

Cornelius Ariyanto Wibisono adalah seorang mualaf. Sosok yang akrab disapa Ary itu dua tahun sudah beralih dari keyakinan lamanya ke iman Islam. Ia tergoda memeluk Islam setelah bersinggungan dengan orang-orang NU!?

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahli Manajemen Ini Tergoda Masuk Islam Karena NU

Ary meraih gelar MBA dalam bidang Human Resources Management dari Phoenix University Arizona Amerika Serikat. Setelah kuliah dua tahun, Ary tinggal selama delapan tahun di negeri Paman Sam. Ia bekerja di markas besar sebuah perusahaan rakasasa minyak, yakni Chevron. Selanjutnya ia bekerja dua tahun di sebuah perusahaan multinasional lainnya di Thailand.

Ketika kembali ke tanah air, ia diserahi jabatan di top management di kantor Chevron Indonesia. Saat itu perusahaan multinasional tersebut sedang melakukan perampingan pekerja di beberapa lini jabatan kerja. Salah satunya menimpa unit kerja perusahaan minyak tersebut di Riau.

Alih-alih membela pihak perusahaan, Ary malah melakukan pembelaan terhadap buruh-buruh yang terkena program perberhentian kerja dari perusahaan. Inilah awal persentuhannya yang intensif dengan komunitas Muslim. Sekitar 300-an karyawan yang ia bela ternyata tergabung dalam sebuah serikat buruh, yakni Sarikat Buruh Muslimin Indonesia atau dikenal dengan mana Sarbumusi.

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagaimana diketahui, Sarbumusi merupakan sayap buruhnya Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Sarbumusi memang memiliki basis anggota yang signifikan di perusahaan minyak internasional tersebut.

"Setelah intensif membela kawan-kawan buruh tersebut, saya mengalami peristiwa-peristiwa spiritual yang kemudian mengantarkan saya untuk memeluk agama Islam. Ini menjadi perjalanan tidak mudah bagi diri saya pribadi karena terlalu banyak yang harus saya tinggalkan ketika memeluk agama yang haq ini," jelas Ary ketika ditemui di PBNU saat persiapan peluncuran LSN 2017.

Lebih lanjut Ary menuturkan kesannya terhadap kaum Nahdliyin, "Saya merasa beruntung sekali ketika saya mendapatkan hidayah, saya oleh Allah langsung diperkenalkan dengan lingkungan Nahdlatul Ulama. Kenapa saya merasa nyaman ber-NU ketika ber-Islam? Karena NU memegang prinsip moderat, adil, harmoni, dan respect. Mereka memilih esensi ketimbang terjebak pada bungkus formal," tutur Ary.

Ada kesan yang sangat luar biasa ketika ia kemudian dipanggil untuk bergabung dengan Liga Santri dan kemudian didapuk menjadi Direktur Pengembangan Bisnis LSN.?

SMA Negeri 1 Slawi

"Saya seperti bermimpi. Dulu saya kira PBNU itu serem dan sesuatu yang untouchable untuk orang biasa. Nyatanya sebaliknya, mereka sangat terbuka terhadap orang biasa seperti saya. Bahkan beberapa waktu lalu ketika saya sowan ke Rais Syuriyah NU Jawa Barat pun beliau menyebut saya bukan sebagai seorang mualaf lagi, tapi tingkatan sudah termasuk mukalaf. Tentu ini semakin memotivasi saya untuk ber-Islam dan ber-NU," pungkas sosok yang kini menduduki Top Management di Holcim ini menutup percakapan. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 18 Desember 2017

Resmi, PBNU Sikapi Perilaku Seksual Menyimpang LGBT

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tegas menolak praktik Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender sebagai perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. PBNU juga menilai, praktik-praktik kelompok tersebut adalah sebuah penodaan kehormatan kemanusiaan.

Sikap ini disampaikan oleh Wakil Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Kamis (25/2/2016). Dalam menyampaikan sikap PBNU tersebut, Kiai asal Jawa Timur ini didampingi oleh Katib Syuriyah PBNU, KH M Mujib Qulyubi.

Resmi, PBNU Sikapi Perilaku Seksual Menyimpang LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
Resmi, PBNU Sikapi Perilaku Seksual Menyimpang LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

Resmi, PBNU Sikapi Perilaku Seksual Menyimpang LGBT

Di depan para wartawan yang hadir, Kiai Miftah menegaskan, LGBT adalah bentuk penyimpangan dari fitrah kemanusiaan. Apalagi dalam Islam, lanjutnya, sangat menjunjung tinggi perlindungan terhadap keturunan (hifzun nasl).

“Terkait dengan kampanye sistematis terhadap aktivitas LGBT dan kelompok pendukungnya termasuk dukungan aliran dana, PBNU menolak dengan tegas paham dan gerakan yang membolehkan atau mengakui eksistensi LGBT,” ujar Kiai Miftah.

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ada pegerahan sumber daya untuk rehabilitasi terhadap orang yang mempunyai kecenderungan LGBT. PBNU meminta pemerintah serius memberikan rehabilitasi dan mewajibkannya. PBNU juga mengimbau kepada seulurh dai dan warga NU khususnya serta masyarakat pada umumnya untuk bahu-membahu menyediakan layanan rehabilitasi bagi mereka serta mendampingi untuk pemulihannya.

“PBNU juga mengimbau kepada seluruh elemen untuk melakukan berbagai usaha guna pencegahan dan pemulihan yang bertujuan membantu sesama manusia agar kembali pada fitrahnya sebagai manusia bermartabat,” tutur mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Kiai Miftah juga menyampaikan, untuk memperkuat ketahanan keluarga, salah satunya dengan pendidikan pra nikah serta konsultasi-konsultasi keagamaan untuk melanggengkan pernikahan.

“PBNU juga meminta kepada semu pihak untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang memiliki kecenderungan LGBT untuk dapat hidup lurus sesuai dengan norma-norma agama, sosial, dan budaya,” tuturnya. (Fathoni)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita, Budaya, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 27 November 2017

Pancasila-NKRI Terancam, PWNU Kumpulkan PC dan PR se-Jatim

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) Ali Maschan Moesa mengatakan, saat ini, gerakan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan ancaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin menguat. Karena itu, pihaknya akan mengumpulkan para Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Ranting (PR) NU se-Jatim.

“Dalam hal ini, NU jelas akan mempertahankan NKRI, karena bagi NU, NKRI merupakan bentuk final. Tidak ada tawar-menawar lagi,” tegas Ali, begitu panggilan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, itu kepada SMA Negeri 1 Slawi di Surabaya, Kamis (31/5) kemarin.

Pancasila-NKRI Terancam, PWNU Kumpulkan PC dan PR se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pancasila-NKRI Terancam, PWNU Kumpulkan PC dan PR se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pancasila-NKRI Terancam, PWNU Kumpulkan PC dan PR se-Jatim

Selain itu, menurut Ali, agenda besar yang juga akan dibicarakan pada acara tersebut ialah tentang penguatan paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), sebagaimana dianut NU. Sebab, seperti diketahui, saat ini wacana Aswaja sudah banyak diperebutkan kelompok Islam lainnya, “Meski perilaku mereka tidak sesuai dengan ajaran Salafus Shalih, mereka juga tidak segan mengaku sebagai Aswaja,” tandasnya.

Dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu menambahkan, pertemuan itu juga untuk membangun kembali NU, baik dari sisi jamaah maupun jamiyah (organisasi). Kedua unsur itu merupakan kesatuan yang sangat penting dalam tubuh NU. “Seperti sayap kanan dan kiri pesawat, keduanya penting, saling mendukung, dan menjadi penyeimbang lajunya pesawat,” tuturnya.

Dalam hal penguatan keorganisasian, pihaknya berupaya menertibkan administrasi. Seluruh PC dan PR yang tidak aktif, nantinya diminta untuk segera melakukan reformasi kepengurusan sekaligus ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) PC. Begitu juga bagi PR yang aktif namun belum memiliki SK, diminta juga melakukan hal yang sama.

SMA Negeri 1 Slawi

“Dan setiap Pengurus Ranting nantinya diminta untuk mendaftar seluruh anggotanya dengan tertib, lengkap dengan nomor induknya,” ujar Ali.

Pertemuan besar yang bakal digelar sepanjang bulan Juni dan Juli itu akan melibatkan 9.552 PR, 676 Majelis Wakil Cabang (MWC) dan 44 PC se-Jatim. Masing-masing PR diminta mengirimkan dua orang, terdiri dari ketua dan rais syuriah.

Pertemuan dilakukan dengan model pengelompokan. Dibagi menjadi sembilan kali pertemuan. Masing-masing bagian terdiri dari 4 hingga 6 PC terdekat. Pertemuan pertama dilakukan di Pendopo Kabupaten Probolinggo pada 2 Juni. Pertemuan di kota mangga itu diperuntukkan bagi PCNU Kabupaten dan Kota Probolinggo, Kraksaan, Lumajang dan Bangil.

SMA Negeri 1 Slawi

Sedangkan, pertemuan kedua bertempat di Ponpes Al-Hikam, Malang, pada 3 Juni. Pertemuan itu diikuti PCNU Kabupaten dan Kota Malang, Kabupaten dan Kota Pasuruan dan Kota Batu. Terakhir, dijadwalkan pada 29 Juli di Ponpes Darul Falah Bondowoso untuk PCNU Bondowoso, Jember, Kencong, Banyuwangi dan Situbondo. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, Fragmen, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 15 November 2017

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan, ada dua hal yang harus dilakukan untuk menangkal dan melawan kelompok-kelompok jihadis ekstremis yang terorganisir dengan sistematis. Pertama, membangun aliansi antar semua elemen bangsa, baik ormas Islam, LSM, dan elemen lainnya.

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis

“Kemudian membangun kerja sama. Misalnya NU bekerjasama dengan Muhammadiyah, dengan komunitas lintas iman, dan dengan komunitas-komunitas lainnya yang senafas,” kata Alissa selepas acara diskusi Meredam Ekstremisme-Kekerasan dengan Buku di Cikini Jakarta, Senin (31/7).

Kedua, membangun narasi-narasi Islam Indonesia. Menurut dia, ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya yang sejalan memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membuat dan mengkampanyekan model Islam Indonesia.

 

SMA Negeri 1 Slawi

“Narasi Islam Indonesia itu yang seperti apa. Menjadi orang Islam di Indonesia itu seperti apa. Itu harus disiapin. Kalau tidak, kita tidak akan bisa menjawab tantangan narasi yang usung oleh gerakan Islamis radikal,” urainya.

   

Semangat yang diusung oleh gerakan Islam radikal, jelas Alissa, yaitu orang Islam harus bersatu untuk memperjuangkan sistem yang Islami melalui gerakan Islam politik. Ia tidak sepakat dengan narasi ini. Baginya, Islam menjadi kuat di Indonesia bukan karena lewat politik, tetapi tumbuh dari sosial masyarakat.

 

“Kalaupun gerakan politik, gerakan politiknya bukan Islam sebagai agama tetapi Islam sebagai semangat. Semangat keadilan sosial, semangat kemaslahatan umat,” terangnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain itu, lanjut Alissa, mengungkapkan ada dua narasi besar yang dikampanyekan oleh kelompok-kelompok jihadis. Pertama, umat Islam Indonesia sedang tertindas. Baginya itu tidak lah jelas karena orang Islam Indonesia memiliki ekspresi keagamaan yang besar di Indonesia.

  

“Yang kedua, hanya ada satu Islam yaitu Islam yang murni. Praktik Islam di Indonesia dianggap tidak murni dan harus dimurnikan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Putri Sulung KH Abdurrahman Wahid itu menyebutkan bahwa narasi-narasi tersebut berujung dan mengajak umat Islam untuk memusuhi demokrasi, masyarakat yang ada saat ini, dan sesama muslim yang tidak sejalan dengan mereka. Oleh karena itu, permusuhan antar sesama umat Islam tidak terhindarkan lagi. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Saya masih ingat dulu pada dekade 70-80-an, saya memiliki seorang teman yang menyebut dirinya “Mbak Sri”. Jangan dibayangkan dia seorang cewek karena dia sesungguhnya seorang cowok sebagaimana saya. Nama lengkapnya sebut saja Sri Wardono. Ketika Mbak Sri masih dalam kandungan, ibunya sangat berharap ia akan lahir sebagai anak perempuan. Maklum di keluarganya, belum ada seorang pun anak perempuan. Semua anak adalah laki-laki yang jumlahnya sudah 4 orang. Ibunya sangat mendambakan kehadiran seorang anak perempuan agar ia tak sendiri sebagai perempuan dalam keluarga itu. Di sinilah awal mula permasalahan.

Ibunda Mbak Sri, sebut saja Bu Basuki, memang sangat mengidamkan memiliki seorang anak berjenis kelamin perempuan sebagaimana dirinya. Dalam setiap doanya kepada Tuhan ia selalu menyatakan hal itu. Mbak Sri belum lahir saja, ibunya sudah menyiapkan nama anak perempuan “Sri Lestari” sekaligus pakaian anak perempuan yang bagus-bagus. Singkat cerita Bu Basuki berdoa keras agar Tuhan memberinya anak perempuan yang akan menjadi anak kelima dalam keluarganya.

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Mbak Sri akhirnya benar-benar lahir ke dunia bukan sebagai anak perempuan, tetapi sebagai anak laki-laki. Bu Basuki kecewa dengan kanyataan yang ada. Tetapi ia tidak menyerah begitu saja. Ia masih memiliki kesempatan untuk tetap memberikan nama depan “Sri” yang sudah ia siapakan sebelum kelahirannya. Nama belakang Mbak Sri bukan “Lestari” sebagaimana rencana awal, tetapi sudah disesuaikan dengan jenis kelamin yang sebenarnya, “Wardono”. Jadi nama lengkap Mbak Sri menjadi “Sri Wardono”.

Dengan nama depan “Sri”, ibunya masih bisa berimajinasi bahwa anak kelimanya adalah perempuan karena nama “Sri” lebih umum dipakai untuk anak perempuan. Setiap hari Bu Basuki memperlakukannya sebagai anak perempuan. Baju-baju anak perempuan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya, tetap dipakaiankan pada anak itu. Ketika baju-baju itu sudah tak cukup untuk badannya yang sudah semakin besar, Bu Basuki tetap membuatkan baju-baju baru dengan model baju perempuan.

SMA Negeri 1 Slawi

Penampilan Mbak Sri yang dipaksakan feminin oleh ibunya ini, sedikit demi sedikit mempengaruhi kejiwaannya. Hal itu tampak pada perilakunya. Misalnya, ia lebih suka bergaul dengan anak-anak perempuan dan mulai tertarik dengan sesama laki-laki. Dia belajar berjalan dengan langkah gemulai meski suaranya tetap seperti kodratnya sebagai laki-laki. Ketika dewasa jakun di lehernya tak bisa disembunyikan.

SMA Negeri 1 Slawi

Hari demi hari terus berjalan. Tahun demi tahun terus berlalu. Mbak Sri telah tumbuh dan berkembang cukup besar. Ia harus sekolah sebagaimana anak-anak sebaya. Oleh orang tuanya, Mbak Sri didaftarkan sebagai anak laki-laki. Di sekolah ia memakai celana dan kemeja. Di rumah ia memakai rok. Hal ini berlangsung hingga ia duduk di kelas 4 SD. Saat itu umurnya telah mencapai 10 tahun.

Di usia kesepuluh itulah, ia dikhitankan oleh orang tuanya. Namun, ketika lukanya telah mengering dan sembuh, ia memutuskan memilih menjadi anak perempuan dan tidak lagi mau sekolah. Ia tinggalkan bangku sekolah dan tanggalkan seluruh pakaian laki-lakinya. Selanjutnya ia hanya mau memakai pakaian perempuan, terutama rok. Termasuk dalam hal ini ia tanggalkan sarung yang selama ini ia kenakan untuk shalat di masjid. Kemudian ia mengganti sarung dengan mukena sebagaimana perempuan.

Jika sebelumnya ia selalu shalat berjamaah di ruang laki-laki, sejak itu ia pindah ke ruang perempuan. Di ruang perempuan ini, ia memilih bersendirian di baris paling belakang. Atau kalau memang di sebelah kiri atau kanannya ada perempuan, ia bersikap hati-hati dengan mengambil jarak agar tidak bersentuhan kulit. Ia menyadari kelaki-lakiannya dan cukup tahu hal-hal yang bisa membatalkan wudhu. Ia tak ingin membatali wudhu teman-teman perempuannya.

Ketika usia Mbak Sri telah mencapai 25 tahun, ia mengadakan pesta ulang tahun di rumah sendiri dengan mengundang banyak tamu terutama kerabat dekat, teman-teman sesama waria dan tetangga sendiri. Saya juga termasuk yang diundang dan hadir dalam acara itu. Saat itu saya sudah kuliah, entah di semester berapa saya lupa.

Perayaan ultahnya yang ke 25 itu ternyata ia manfaatkan untuk mengumumkan perkawinannya dengan seorang gay yang selama beberapa tahun memang dikenal sebagai pacarnya. Tentu saja tidak ada ritual khusus seperti ijab qabul dan sebagainya dalam acara itu. Mbak Sri dan “suaminya” duduk berdua di kursi “pelaminan” layaknya perkawinan yang sebenarnya. Mereka juga melakukan adegan saling menyuapi makanan di depan para tamu.

Usia Mbak Sri kini sekitar 58 tahun. Sedang usia saya memasuki 53, atau? lima tahun lebih muda dari pada Mbak Sri. Saya tak tahu kabar Mbak Sri sekarang. Di mana kebaradaannya saya juga tidak tahu. Sejak puluhan tahun ia telah pindah ke kampung lain yang tidak saya ketahui. Saya berharap ia masih ada dan sehat-sehat saja. Saya ingin bertemu. Jika perlu, saya ingin menasihatinya sebagai seorang kawan di saat usia kami sama-sama sudah lebih dari setengah abad.

Fenomena Mbak Sri hendaknya membuka kesadaran masyarakat bahwa seorang LGBT belum tentu bersalah 100 persen, jika memang mereka harus dipersalahkan. Bisa jadi awal mula kesalahan perilaku seksualnya bermula dari orang tuanya. Hal lain yang perlu menjadi pelajaran berharga adalah para orang tua tentu boleh mendambakan seorang anak dengan jenis kelamin tertentu sesuai harapannya. Namun doa yang tidak pernah dipasrahkan kepada Tuhan akan berpotensi memaksakan kehendak.

Jika ternyata Tuhan menghendaki lain, orang tua bisa sangat frustrasi atas kenyataan yang ada karena kurangnya tawakal. Yang saya maksud dengan tawakal dalam hal ini adalah sikap menyerahkan kepada Allah SWT semata apa pun hasil dari apa yang diperjuangkan baik melalui usaha maupun doa-doa. Mbak Sri adalah contoh dari sikap orang tua yang tidak bisa menerima kehendak-Nya. Mbak Sri adalah korban. Padahal Allah SWT telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran, ayat 159:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya:“Ketika engkau telah membulatkan tekad (memiliki keinginan tertentu), maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya).”

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT tidak melarang seorang hamba memiliki keinginan tertentu. Tetapi Allah SWT mengingatkan apa pun tekad seseorang untuk mencapai keinginan tertentu itu, dari yang sepele hingga yang muluk-muluk, pada akhirnya tekad tersebut harus dipasrahkan kepada-Nya karena Dia-lah Yang Mengatur Hidup ini.



Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 14 November 2017

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan

Kulon Progo, SMA Negeri 1 Slawi. Seusai muktamar, persaudaraan harus dijalin dengan sebaik mungkin. Karena sejatinya dalam muktamar adalah momentum merekatkan persaudaraan. Kalaupun ada perbedaan, itu wajar dan alamiah. Semua justru menjadi semangat agar persaudaraan bisa semakin rekat. Momentum syawalan sekaligus melengkapi semangat persaudaraan pasca-muktamar.

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan

Demikian yang disuarakan Keluarga NU Kulon Progo dalam acara Syawalan Bersama PCNU Kolon Progo, LP Maarif NU, PC Mulimat NU Kulon Progo, Pamitan Calon Jamaah Haji KBIH Muslimat NU KP, dan Pelantikan PCNU Kulon Progo, pada Jumat, 07 Agustus 2015.  

Acara yang dihadiri para tokoh NU Kulon Progo ini hadir dengan semangat muktamar sekaligus semangat syawalan. 

SMA Negeri 1 Slawi

Pelantikan PCNU Kulon Progo dilakukan Rais Syuriyah PWNU DIY, KH Asyhari Abta. Sementara dalam tausiyah, menghadirkan KH Ahmad Ishomuddin, rais syuriyah PBNU. PCNU Kulon Progo kembali dipimpin oleh KH Saefudin sebagai rais syuriyah dan H. Wasiluddin sebagai ketua tanfidziyah. (Madun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Fragmen SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock