Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kendal, SMA Negeri 1 Slawi

Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan workshop sistem manajemen pesantren (Simapes). Pelatihan Peningkatan mutu ini bertempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong. Hadir tim Simapes sebagai trainer pada acara ini.?

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholihin mengenang ketika masih di pesantren selalu ingat dengan 3 T+S+M yaitu tahu, tempe, terong ditambah sambel dan mendoan. Namun, substansi itu bukan yang ingin dijelaskan, tetapi pesantren menjadi lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh merawat tradisi dan budaya masyarakat.?

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

"Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Sholihin, Kamis (28/1/2016).?

Bisa dilihat, alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.?

Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. "Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat)," tambah Sholihin. Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.?

SMA Negeri 1 Slawi

Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren pelatihan ini menjadi penting. Simapes akan mempermudah untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren. Tim Simapes ini terbentuk dari unsur Kanwil Kemenag Jateng, RMINU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Quote, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

STAINU-Forluni UI Siapkan Santri Masuk PTN

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menyiapkan kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Sukses Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) 2013.

Kegiatan akan dilaksanakan pada pertengahan Mei hingga Juni 2013 mendatang, tidak lama setelah Ujian Nasional (UN) selesai.

STAINU-Forluni UI Siapkan Santri Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU-Forluni UI Siapkan Santri Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU-Forluni UI Siapkan Santri Masuk PTN

Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa atas izin Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) STAINU Jakarta yang bekerja sama dengan Forum Silaturahim Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia - Universitas Indonesia (Forluni PMII UI).

Sanlat diawali dengan seleksi melalui try out SBMPTN sejak gelombang I pada 4 November 2012 lalu di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Kedoya – Jakarta Barat dan diikuti tidak kurang dari 90 siswa dari beberapa sekolah yang diundang se-Jakarta Barat serta difasilitatori oleh KH Marsudi Syuhud (Sekretaris Jendral PBNU).

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan bimbingan belajar melalui Sanlat diharapkan dapat menarik perhatian bagi kalangan siswa-siswi yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi negeri, meskipun kuota tes tulis SBMPTN tahun ini oleh pemerintah dicanangkan hanya 30%, 50% melalui undangan (hasil raport) dan 20% adalah tes tulis di masing-masing perguruan tinggi.

Kendati pun demikian, karena besarnya minat pelajar untuk mengikuti kegiatan ini, maka try out/seleksi kembali digelar pada Ahad, 17 Maret 2013 mendatang (gelombang II) dan diprediksikan akan diikuti tidak kurang dari 80 pelajar SMA/sederajat.

SMA Negeri 1 Slawi

Bahkan tak hanya yang berasal dari Ibukota, panitia “Gebyar Try Out SBMPTN 2013” menyatakan bahwa ada beberapa siswa dari luar DKI Jakarta seperti Cirebon dan Bekasi, meskipun dalam pekan ini seluruh lembaga pendidikan tingkat SMA/sederajat sedang menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah untuk kelas XII.

Menurut pihak panitia, para siswa nampaknya antusias dan sangat berminat untuk mengikuti program Sanlat Sukses Masuk PTN 2013 yang akan diselenggarakan secara intensif dan tidak dipungut biaya ini sehingga mendorong mereka untuk tetap mengikuti try out sebagai syarat untuk resmi menjadi peserta apabila lulus dengan kualifikasi nilai yang cukup.

Alfany (Ketua Forluni PMII UI) memberikan dukungan dan pihaknya akan memfasilitasi soal ujian/try out tersebut melalui sebuah lembaga bimbingan dan konseling, Makara Insani. Selain itu, progres persiapan kegiatan ini terus dilakukan oleh panitia dan terus melakukan komunikasi terhadap pihak sekolah-sekolah yang diundang untuk mengikutsertakan siswa-siswinya atau pun melalui alumni.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Maja Sutedjo

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 05 Februari 2018

JQHNU Sumedang Rutin Gelar Semaan Al-Qur’an

Sumedang, SMA Negeri 1 Slawi

Pimpinan Cabang Jamiyyatul Qurra wal Hufadz (JQH) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang, Jumat (2/12), mengadakan kegiatan Semaan Al-Quran di aula PCNU setempat, Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan tersebut digagas dalam rangka mendoakan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.

Semua pengurus PC JQH NU Sumedang yang mayoritas para hafidz dan hafidzah diberikan kesempatan untuk membaca Al-Quran secara dihafal. Sementara yang lain menyimak atau mendengarkan dengan seksama lafal yang dibaca. Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh yang merupakan penghafal Al-Qur’an juga ikut bagian dalam semaan ini.

JQHNU Sumedang Rutin Gelar Semaan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
JQHNU Sumedang Rutin Gelar Semaan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

JQHNU Sumedang Rutin Gelar Semaan Al-Qur’an

Ketua PC JQH NU Kabupaten Sumedang Ahmad Jauharudin mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda bulanan pengurus. Biasanya yang hadir hanya pengus JQH, tapi untuk bulan ini sengaja mengundang seluruh pengurus PCNU, badan otonom NU, dan lembaga NU yang ada di Sumedang. Selain syukuran aula baru PCNU, tambahnya, juga ikut mendoakan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh di sela-sela acara mengatakan bahwa Al-Quran adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati manusia yang tersiksa hati nuraninya. Selain itu Al-Quran bisa memperbaiki kerusakan akhlak dan moral manusia. Siapa pun yang mau mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan-Nya melalui Al-Quran, hidupnya tidak akan sesat dan celaka.

Al-Quran sangatlah istimewa, tutur H Sadulloh. Dengan keistimewaanya, Al-Quran mampu memecahkan problem-problem kemanusiaan dalam berbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani, sosial, ekonomi, maupun politik dengan pemecahan yang bijaksana. Pada setiap problem itu, Al-Quran meletakan sentuhannya yang mujarab dengan dasar-dasar umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia di setiap zaman.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan demikian, kaum Muslimin dengan Al-Qurannya harus mampu membangun obor di tengah-tengah gelapnya sistem-sistem dan prinsip-prinsip lain di luar Al-Quran. Kaum Muslimin dengan Al-Qurannya harus membimbing manusia yang kebingungan, sehingga terbimbing ke pantai keselamatan, tutup H Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, Ulama, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Muharram bagian dari Al-Asyhurul Hurum

Sebagai bulan pertama dalam sistem penanggalan hijiryah, bulan Muharram memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan yang tidak dimiliki bulan lain diantaranya

Bulan Muharram merupakan salah satu dari Al-Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan) oleh Allah SWT yang berjumlah empat, yaitu: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Karena para ulama tafsir bersepakat tentang empat bulan tersebut yang masuk pada Al-Asyhur Al-Hurum. Dalam surat At-Taubah ayat 36 Allah SWT berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? : 36). "Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan pada ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

Muharram bagian dari Al-Asyhurul Hurum (Sumber Gambar : Nu Online)
Muharram bagian dari Al-Asyhurul Hurum (Sumber Gambar : Nu Online)

Muharram bagian dari Al-Asyhurul Hurum

Pada ayat ini dapat dipahami bahwa ketetapan Allah SWT setelah penciptaan langit dan bumi Allah menetapkan bilangan bulan yang berjumlah 12, empat diantaranya adalah bulan-bulan haram (yang di muliakan) bulan yang mendapat keistimewaan dari Allah swt dari pada bulan-bulan yang lain kecuali bulan Ramadlan.

Diantara empat bulan tersebut adalah bulan Muharram, yang mana Allah melarang umat Islam berperang dan melakukan kedhaliman sebagai penghormatan pada bulan Muharram. Karena menurut sebagian ahli tafsir disamping amalan pada bulan tersebut pahalanya dilipatgandakan, keburukannya pun balasannya akan dilipat gandakan. Maka alangkah baiknya pada bulan Muharram diisi dengan kebaikan-kebaikan serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

SMA Negeri 1 Slawi

Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa disamping melipatgandakan perbuatan baik.

Dalam sebuah hadits riwayat dari Abu Hurairah RA, dijelaskan mengenai ketetapan empat bulan haram ini,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan berturut-turut; Dzulqadah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhirah dan Syaban.

Maka jelaslah bahwa empat bulan tersebut memiliki keagungan dan keistimewaan yang sangat luar biasa dari bulan-bulan yang lain kecuali bulan Ramadlan, hingga Allah SWT dan Rasulnya SAW memberi penjelasan khusus mengenai hal ini.

(Pen. Fuad H./Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 29 Januari 2018

PBNU akan Usulkan Perubahan UU Perkawinan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan UU Perkawinan yang telah berlaku sejak tahun 1970-an saat ini sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang, salah satunya mengenai soal batasan perkawinan bagi perempuan berumur 16 tahun.

“Kita akan usulan perubahan UU tersebut, tetapi akan kita bahas dahulu lebih matang bersama lembaga bahtsul masail,” katanya dalam pertemuan dengan Kepala BKKBN Dr Sudibyo, Selasa (12/2).

PBNU akan Usulkan Perubahan UU Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU akan Usulkan Perubahan UU Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU akan Usulkan Perubahan UU Perkawinan

Salah satu yang akan diusulkan oleh PBNU adalah menaikkan batasan usia pernikahan bagi perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun.

Mengenai persoalan Keluarga Berencana (KB) Kang Said menyatakan dukungan atas program tersebut. NU turut mensukseskan program KB secara nasional setelah sebelumnya pemerintah kurang maksimal dengan pendekatan birokratisnya. Melalui para kiai, masyarakat menerima dan mendukung program tersebut. Dulu masyarakat berpandangan, banyak anak banyak rezeki atau rezeki sudah diatur oleh Allah, tanpa melihat faktor-faktor yang lain.

SMA Negeri 1 Slawi

Kang Said menjelaskan, Imam Ghozali dalam kita Ihya Ulumuddin menyetujui pengaturan kelahiran dengan sejumlah alasan. Pertama, alasan kesehatan, baik itu dan anak yang dilahirkannya, jangan sampai terlalu rapat melahirkan karena bisa menganggu kedua belah pihak. 

Alasan kedua adalah alasan pendidikan, baik menyangkut soal kecerdasan atau soal biaya pendidikan yang harus disediakan oleh orang tua. Ketiga, alasan kemaslahatan dan kesejahteraan anak.

SMA Negeri 1 Slawi

“Bahkan Imam Ghozali juga menyetujui mengatur angka kelahiran agar istri tetap seksi,” paparnya.

Sayangnya, setelah program KB tersebut berhasil, kalangan ulama ditinggal sehingga sekarang angka penurunan tingkat kelahiran mengalami stagnasi. 

Kedatangan Kepala BKKBN merupakan upaya untuk menjalin silaturrahmi dan kerjasama di masa yang akan datang. Salah satu kerjasama yang akan digagas adalah pendirian pusat informasi kesehatan reproduksi di pesantren untuk memberi pemahaman yang lebih lengkap kepada remaja soal kesehatan alat-alat reproduksinya. 

Sudibyo dalam kesempatan tersebut mengatakan, saat ini angka kelahiran dari remaja usia 15-19 tahun meningkat. Hal ini diperkirakan sebagian karena naiknya kehamilan di luar nikah. Australian National University (ANU) bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) dalam penelitian di Jatabek melaporkan 20.9 remaja usia 17-24 tahun hamil sebelum menikah. 

Untuk membantu memberi pemahaman yang lebih baik tentang reproduksi, BKKBN membentuk Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) baik di sekolah-sekolah, universitas maupun organisasi kepemudaan. Melalui PIK KIRR, remaja akan memperoleh informasi dan konseling tentang reproduksi sehat dan memperoleh rujukan bila ada permasalahan terkait kesehatan reproduksi.

Melalui program-program tersebut diharapkan dapat membantu remaja dalam menghadapi permasalahan dan tantangan yang ada dalam kehidupannya, serta membantu remaja dapat melalui 5 transisi kehidupan dengan lebih baik. Lima fase  transisi kehidupan remaja tersebut yaitu melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, mencari pekerjaan yang komperhensif dan kompetitif, memulai kehidupan berkeluarga yang harmonis, menjadi anggota masyarakat dan dapat mempraktekkan hidup sehat.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pendidikan, Warta, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Mendikbud Janjikan Pembenahan Regulasi PAUD

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam Rakernas Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (30/5), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berterima kasih atas peran Muslimat NU dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, dan taman pendidikan Al-Qur’an. Nuh berjanji akan membenahi regulasi dan kurikulum PAUD terutama pada kelembagaan, tenaga pengajar, dan pembinaan.

Nuh juga mengingatkan pentingnya perhatian khusus terhadap pendidikan anak-anak di tengah banyaknya problem anak-anak di Indonesia saat ini.

Mendikbud Janjikan Pembenahan Regulasi PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Janjikan Pembenahan Regulasi PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Janjikan Pembenahan Regulasi PAUD

“Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Muslimat NU yang menggerakkan PAUD, TK serta TPA. Kami juga mengakui masih banyaknya problem pendidikan dini yang harus dibenahi,” kata Nuh.

SMA Negeri 1 Slawi

Persoalan PAUD di Indonesia masih menyangkut tentang kelembagaan, ketersediaan tenaga pengajar, dan kesiapan kurikulum. “Meski masih ada persoalan yang harus dibenahi, kami berterima kasih kepada Muslimat atas upaya luar biasa,” ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

“Kami sedang menyusun regulasi untuk menata apakah di PAUD itu harus guru, pembina, atau pengasuh. Kalau Guru, terkena UU Guru dan Dosen, yakni harus S1 atau D4. Kami melihat PAUD tak harus ditangani S1 atau D4. Substansinya pengasuh mampu mengembangkan kreatifitas dan motivasi anak PAUD,” ujarnya.

Muslimat saat ini memiliki Yayasan Pendidikan Muslimat dengan empat puluhan ribu lembaga pendidikan berbasis masyarakat ? yang tersebar di seluruh Indonesia. Nuh mendukung langkah Muslimat NU dalam memanfaatkan tempat-tempat ibadah untuk lembaga pendidikan berbasis kemasyarakatan seperti PAUD dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) serta taman pendidikan Al-Qur-an.

“Masjid pada pagi hari biasanya sepi. Tetapi Muslimat NU memanfaatkan masjid sebagai tempat PAUD. Sekurangnya Muslimat NU mengoptimalkan wakaf atau jariyah para dermawan yang menyumbang masjid, mengajarkan cinta masjid sejak dini, dan melayani anak-anak sekitar masjid,” imbuhnya. (Abdul Malik/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Indonesia Akan Makmur Jika Dipimpin Kiai

Malang, SMA Negeri 1 Slawi. Mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara makmur dan mampu bersaing dengan negara lain jika dipimpin oleh seseorang yang berpikiran kiai atau ulama.

"Saya kira negara kita ini akan menjadi negara yang besar dan makmur kalau yang memimpin negeri ini perpikiran seorang ulama atau kiai," katanya usai melantik Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kabupaten Malang periode 2006-2011 di Ponpes Annur Bululawang, Kabupaten Malang, Minggu sore.

Indonesia Akan Makmur Jika Dipimpin Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Akan Makmur Jika Dipimpin Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Akan Makmur Jika Dipimpin Kiai

Menurut dia, strategi pembangunan yang diterapkan Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kurang maksimal dan bisa dibilang  tidak berhasil bahkan harga kebutuhan pokok masyarakat terutama beras juga melambung.

Hanya saja, Gur Dur tidak memberikan solusi bagi "kebaikan" Indonesia ke depan agar lebih baik dan kemakmuran masyarakat luas bisa tercapai. (ant/mad)



SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi News, Kyai, Kiai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Manfaatkan Momentum Tahun Baru Hijriah untuk Bermuhasabah

Pringsewu, SMA Negeri 1 Slawi. Berlalunya waktu memiliki dua sisi sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, berjalannya waktu akan menambah umur kita menjadi lebih tua namun di sisi lain akan mengurangi jatah umur kita yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Manfaatkan Momentum Tahun Baru Hijriah untuk Bermuhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Momentum Tahun Baru Hijriah untuk Bermuhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Momentum Tahun Baru Hijriah untuk Bermuhasabah

Hal tersebut diungkapkan Ketua MWCNU Kecamatan Pringsewu KH Ahmad Shodiqin saat menerangkan Hikmah Tahun Baru Hijriah pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang rutin dilaksanakan di Aula Gedung NU Pringsewu, Lampung, Ahad (24/9).

Ia mengingatkan pula agar kedatangan tahun baru hijriah 1439 dijadikan momentum untuk senantiasa muhasabah diri dengan selalu mengingat sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Ia menjelaskan bahwa Hijrah memiliki dua versi makna yaitu hijrah secara badaniah dan hijrah secara Bathiniyyah. "Secara dzohir badaniyyah hijrah adalah pindah ketempat yang lain yang lebih baik, sedangkan Hijrah bathiniah adalah hijrah menjadi pribadi yang lebih baik," jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Momentum hijrah ini juga haruslah dimaksimalkan dengan senantiasa bersyukur atas karunia Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada kita.

Muhasabah yang dapat dilakukan, lanjutnya, dapat dalam bentuk memperhitungkan apa yang telah dilakukan selama ini dan menyadari bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

SMA Negeri 1 Slawi

"Saat kesempatan masih ada berhitunglah apa yang telah kita lakukan agar kita masih bisa menambal kekurangan ditahun tahun yang lalu sebelum Allah yang melakukan perhitungan dan saat itu sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki amal kita," jelasnya.

Menurutnya orang yang celaka adalah orang yang melupakan dosa-dosa dimasa lalu dan tidak memohon ampunan karena dosa yang tidak dimintai ampunan akan tetap utuh sampai kita bertaubat.

Orang yang celaka lainnya adalah orang yang selalu membanggakan amal yang telah dilakukan sehingga membuatnya malas untuk beramal sholeh karena merasa sudah pernah melakukan banyak kebaikan dan pahala.

"Orang yang memiliki tanda tanda celaka adalah mereka yang selalu melihat keatas untuk urusan dunia, akan tetapi melihat kebawah untuk urusan akherat," katanya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Khutbah, Kyai, Habib SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Oleh Inggar Saputra

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Meski Islam hadir pertama kali di Arab Saudi, tapi berkat perjuangan para pedagang dan ulama, agama ini mampu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Islam di Indonesia mampu menciptakan akulturasi dengan menyerap spirit perjuangan masyarakat lokal. Penyatuan Islam dan kearifan lokal ini yang sering disebut Islam Nusantara.

Konteks Indonesia, salah satu penyebar Islam yang penting adalah ulama khususnya Wali Sanga di Tanah Jawa. Mereka (Wali Sanga) merupakan sembilan ulama yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan, moderatisme, penuh nilai toleransi dan kedamaian. Wali Sanga adalah pejuang Islam, pendidik dan ulama yang membawa nilai Islam yang mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Dengan prinsip mempertahankan budaya atau tradisi yang lama dan baik, serta memasukkan nilai Islam yang awalnya dianggap asing, masyarakat membuka tangannya sehingga dakwah Wali Sanga berjalan sukses dan masyarakat ramai-ramai memeluk Islam.

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Salah satu Wali Sanga yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.





Memahami Islam Nusantara

SMA Negeri 1 Slawi

Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998) Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad Saw. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara.?

Meski begitu Islam tidak lahir dari ruang kosong, melainkan selalu mampu berdialog dengan kearifan lokal termasuk budaya dan peradaban manusia Indonesia. Perpaduan budaya ini berjalan saling menegasikan, mempengaruhi dan menyempurnakan sehingga terbentuk pemahaman Islam Nusantara. Hasil interaksi Islam dan budaya lokal pada akhirnya akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu Islam mewarnai mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, kemungkinan kedua adalah Islam yang justru diwarnai budaya lokal (Simuh: 2003)

Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, pernikahan ulama atau pedagang dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.

Islam di Nusantara jelas bukan sebuah agama yang baru, sebab perkembangan Islam sudah dibawa pedagang dan ulama sejak masa kerajaan Hindu-Buddha masih dominan mempengaruhi pemikiran masyarakat di Indonesia. Islam Nusantara bersifat akomodatif dan inklusif dalam mengintegrasikan nilai universal Islam dan peradaban lokal Indonesia yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Ini penting ? dalam melahirkan kembali karakter positif manusia Indonesia seperti toleran, moderat, damai, ramah tamah, gotong royong dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Islam menyerap spirit kearifan lokal yang baik dan meminggirkan secara halus kepercayaan atau keyakinan yang bertentangan dengan syariat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Sejatinya setiap muslim yang secara sadar mendeklarasikan syahadat akan terhindar dari sifat adigang adigung adiguna. SIfat negative harus dihilangkan dan digantikan semangat menghargai perbedaan keyakinan, tidak diskriminatif, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika serta menjauhikan sifat ekslusif dan superior di antara manusia lainnya ? (Ishom Yusqi, 2015). Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara nash syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015).

Untuk lebih memperjelas makna Islam Nusantara maka dapat digambarkan dalam dua kata, Islam dan Nusantara. Islam adalah ajaran samawi (langit). Nusantara adalah tradisi ardhi (bumi). Maka secara sederhana Islam Nusantara dapat diartikan sebagai ajaran langit yang membumi. Islam Nusantara bukan soal menilai buruk dan salah pada yang lain. Tapi lebih tentang di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. ? Menjadi Nusantara adalah hal yang paling manusiawi bagi manusia Nusantara. Dilahirkan sebagai anak Nusantara, berakar kebudayaan negeri sendiri, berkebangsaan bangsa sendiri, dan menjadi diri sendiri. Bukan menjadi orang lain dengan justru kehilangan jati diri. Sebab, kehilangan terbesar adalah kehilangan diri sendiri (Candra Malik: 2015).

Dalam kacamata yang bersifat akademis Islam Nusantara mengacu kepada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (Nusantara) yang mencakup Muslim Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea). Dengan cakupan seperti itu, Islam Nusantara sama sebangun dengan Islam Asia Tenggara (Southeast Asian Islam). Secara akademik, istilah terakhir ini sering digunakan secara bergantian dengan Islam Melayu-Indonesia (Malay-Indonesian Islam). Islam Nusantara bersifat inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum Muslimin maupun dengan umat-umat lain. (Azra: 2015)

Gagasan Islam Nusantara memang muncul selama dua tahun terakhir dan mulai populer di kalangan masyarakat setelah menjadi tema Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33 di Makassar. Ketika pertama kali didengungkan sebagai pemikiran progresif dan berjiwa ke-Indonesiaan pro kontra langsung berdatangangan sehingga memunculkan polemik panas dan berkepanjangan sesama umat Islam. Tidak sedikit kalangan memberikan label negatif kepada ide Islam Nusantara tanpa mau mendialogkan secara terbuka dan kritis-konstruktif dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut. Padahal Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban duniaberangkat dari empat pilar agung khas nahdiyin yaitu moderat, seimbang, toleran dan selalu berpihak kepada kebenaran. Gagasan Islam Nusantara juga terhitung progresif dan ilmiah sehingga harus terus disebarkan dan diupayakan dialog secara mendalam sehingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Penulis berpandangan gagasan ini berangkat dari dua aspek keilmuan yang cukup penting yaitu aspek sejarah dan aspek kebudayaan. Sejarah panjang Islam di Indonesia menempatkan ulama sebagai titik sentral dalam teladan membagikan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Konteks ini, ulama dianggap sebagai tempat bertanya dan referensi utama masyarakat dalam persoalan kehidupan sehari-hari dan spritualitas-keagamaan. Dengan kedudukan strategis itu, peran ulama dinanti dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ulama adalah tokoh penting dalam menanamkan aqidah, tempat bertanya masalah dunia dan akhirat serta rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya peran itu, para ulama adalah pelaku sejarah dalam usaha menyebarkan Islam di Indonesia. Ulama adalah manusia yang dimuliakan masyarakat karena pengetahuan beragama yang kuat dan mendalam sehingga seringkali kekuasaan ulama sangat besar meliputi kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Konteks ini, ulama dalam artian kiai dan wali khususnya Wali Sanga di Jawa memiliki kemampuan untuk menstruktur tindakan orang lain dalam bidang ke-Islaman sesuai dengan keyakinan agamanya. Kemampuan itu meliputi pengetahuan ke-islaman, mengamalkan ajaran Islam dengan tertib dan konsisten menjalankan ajaran Islam sehingga merasakan dekat dengan Allah (Busthami: 2007)

Aspek budaya, sulit sekali melupakan bagaimana ulama berusaha menempatkan dakwah Islam dalam konteks kearifan lokal sehingga penerimaan masyarakat dapat berjalan baik. Para ulama memahami dan mengakui Islam berasal dari Arab sehingga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Tetapi untuk dapat diterima masyarakat Indonesia, Islam harus mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kebudayaan setempat (budaya suku atau kelompok masyarakat di Indonesia). Apalagi diketahui pengaruh animisme dan penyebaran agama Hindu dan Buddha masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga kreatifitas dalam berdakwah diperlukan agar tidak tercipta pergolakan dan penolakan keras masyarakat setempat terhadap keagungan ajaran Islam.

Sejarah mempertontonkan bagaimana kreatifitas ulama berkembang dalam hal kebudayaan melalui sarana lokal seperti lagu, budayam wayang dan lainnya. Para ulama menganut prinsip mempertahankan tradisi atau kebudayaan yang lama dan baik, dan secara perlahan mengenalkan budaya baru yang lebih baik dan sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Islam dikenalkan dengan tanpa adanya paksaan. Kebudayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat tetap kedudukan yang tepat bersanding dengan ajaran Islam yang agung dan inspiratif.?

Wali Sanga dan Islamisasi Jawa

Proses Islamisasi di tanah Jawa tidak terlepas dari jasa para ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Munculnya Wali Sanga mengakhiri dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka (Wali Sanga) adalah simbol penyebaran Islam di tanah Jawa dan berperan penting dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa (Solikin, Syaiful dan Wakidi: 2013) Wali Sanga berjumlah sembilan yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Para ulama ini memiliki hubungan dekat baik hubungan darah maupun hubungan guru dengan muridnya. Maulana Malik Ibrahim merupakan wali sanga tertua, memiliki anak Sunan Ampel dan keponakan Sunan Giri. Sunan Ampel dan istrinya melahirkan Sunan Drajad dan Sunan Bonang. ? Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga (murid dari Sunan Bonang). Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Sunan Kudus menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.?

Para ulama hebat ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan dan umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak awal abad 15 hingga pertengahan abad 16,. Mereka bermukim di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah simbol intelektual agamis yang berperan strategis dalam membentuk peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang menyatukan Islam dan kearifan lokal, dakwah Wali Sanga mampu memikat hati masyarakat sehingga banyak kalangan baik raja dan rakyat jelata masuk Islam dengan kesadaran sepenuh hati dan tidak dipengaruhi paksaan pihak manapun.?

Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi yang mirip panitia ad hoc (kabinet) dalam urusan mengislamkan masyarakat Jawa. Setiap wali bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau Nayaka (menteri) yang sering berkumpul bersama dalam sebuah rapat dalam membahas tugas dakwah Islam yang sedang diperjuangkannya. Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi berperan penting dalam pembangunan Masjid Demak yang dilaksanakan secara gotong royong (Widji Saksono: 1996)

Dalam kegiatan dakwahnya Wali Sanga menggunakan pendekatan bijaksana dan disesuaikan dengan pemahaman (pengetahuan masyarakat setempat terhadap Islam itu sendiri. Sunan Kalijaga misalnya membuat gamelan Sekaten yang kemudian dilanjutkan acara Sekaten (Syahadatain) di Masjid Agung. Dalam kesempatan lain, Sunan Kudus membuat lembu dengan hiasan unik dan menarik sehingga mengundang minat masyarakat luas untuk lebih mengenal Islam secara mendalam. Para Wali Sanga juga menggunakan kreasi lain seperti beduk atau kentongan sebagai tanda dimulainya waktu sholat lima waktu. Mengingat adzan yang diteriakkan melalui menara masjid terkadang kurang efektif dan komunikatif (Mastuki: 2014)

Model Dakwah Sunan Kalijaga?

Sunan Kalijaga (nama kecil, Raden Said) merupakan salah satu Wali Sanga yang terkenal dan dilahirkan tahun 1455 Masehi. Sunan Kalijaga memiliki darah keturunan ningrat mengingat ayahnya Arya Wilatika adalah Adipati Tuban keturunan dari Ranggalawe. Ada beragam versi mengenai nama Sunan Kalijaga, dimana masyarakat Cirebon berpendapat nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon mengingat dirinya pernah bertempat tinggal di Cirebon. Sebagian kalangan mengaitkan dengan tugas menjaga Kali yang diberikan gurunya (Sunan Bonang) sebagai ujian kesetiaan dan keseriusannya dalam belajar agama Islam. Tapi ada pula yang menilai nama itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan (Darmawan: 2011)

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga menyerap semangat kultural masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Untuk mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Kalijaga memilih jalur kebudayaan dan kesenian sebagai media dan sarana dakwah sehingga cepat menyerap dan diterima secara hangat oleh masyarakat pada zamannya. Sunan Kalijaga menjadi teladan terbaik dalam penyesuaian Islam dengan budaya lokal, berdasarkan prinsip mempertahankan yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dengan lebih baik (Anif Arifani: 2010) sehingga ajaran Islam masuk ke dalam struktur berpikir masyarakat secara halus dan secara perlahan menghilangkan tradisi masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam. Dakwah Sunan Kalijaga banyak sekali mendapatkan pengikut dari kalangan masyarakat menengah ke bawah (rakyat jelata).?

Sunan Kalijaga berpendapat jika diserang prinsip yang selama ini dipegang secara teguh (keyakinan Hindu-Buddha) masyarakat akan menjauh. Sehingga diperlukan dakwah secara bertahap sebab jika Islam sudah berhasil dipahami masyarakat, maka kebiasaan lama yang bertentangan dengan syariat akan hilang. Maka dapat disebut ajaran Sunan Kalijaga cenderung sinkretis dalam mengajak orang lain mengenal Islam. Beliau menciptakan berbagai media dakwah yang kreatif dan efektif. Ini menyebabkan dakwah di kalangan rakyat semakin meluas dan tak sedikit pula para petinggi kerajaan yang tertarik dengan dakwahnya. Beberapa diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak (Afifudin Muhajir: 2015). Secara umum banyak sekali sarana dakwah kreatif dari Sunan Kalijaga, tapi beberapa diantaranya yang fenomenal ada tiga yaitu masjid Demak, wayang dan lagu.

Pecahan Kayu Masjid Agung Demak

Diceritakan bagaimana para wali bergotong royong dalam membangun Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga mendapatkan tugas membuat satu dari empat tiang masjid. Dalam menjalankan tugas itu, beliau menggantikan balok kayu besar dengan pecahan kayu yang biasa disebut tatal. ? Sunan Kalijaga menyusun dan melekatkan bagian potongan kayu dengan lem dammar, kemenyan dan blendok. Tidak disangka sampai sekarang, tiang darurat itu masih bertahan kokoh (Sudarsono: 2010)?

Adanya soko tatal diartikan sebagai lambang spritualitas, persatuan dan kerukunan mengingat dalam membangun Masjid Agung Demak sempat terjadi perpecahan dalam masyarakat Islam. Dalam kondisi itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk menyusun tatal yang ada menjadi tiang yang kuat dan kokoh. ? Pemahaman filosofis tatal adalah jika umat Islam bersatu maka akan menjadi kuat dan jangan pernah sekalipun sesuatu yang sifatnya sisa seperti tatal. Dalam pengertian ini, Sunan Kalijaga mengajarkan makna Islam Nusantara dalam aspek bergotong royong, persatuan dan saling tolong menolong sebagai kunci sukses dunia dan akhirat. Aspek ini sesuai dengan jiwa kebangsaan yang menjadi variabel turunan dalam memaknai konsep Islam Nusantara.

Sampai sekarang Masjid Agung Demak banyak dikunjungi muslim seluruh Indoensia dan menjadi pusat agama terpenting di tanah Jawa. Islamisasi di Jawa termasuk daerah pedalaman banyak berawal dari syiar masjid bersejarah ini. Masjid Agung Demak bukan saja berkembang sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran besar Islam. (Siami Fitri: 2007)

Wayang dan Azimat Kalimasada

Wayang adalah sebuah kosakata asli bahasa Jawa yang berarti “bayang” atau “bayang-bayang” berasal dari akar kata ‘yang’ dan mendapat awalan ‘wa’ menjadi kata wayang (Darori Amin: 2000). Masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha sudah terbiasa melakukan pertunjukkan wayang untuk memanggil roh nenek moyang. Pada masa Hindu-Buddha, wayang semakin berkembang dengan munculnya wayang kulit dan cerita dewa-dewa dalam mitologi kedua agama tersebut. Ketika Islam masuk ke Indonesia, wayang mulai mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islami.

Sunan Kalijaga menyaksikan bagaimana masyarakat sangat menyukai wayang sehingga melihat ada peluang berdakwah dengan kesenian wayang. Pemikiran itu mendorongnya untuk mempopulerkan wayang yang sesuai syariat Islam. Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada (Imron Amar: 1992)?

Ada dua alasan mendasar mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima masyarakat secara luas. Secara normatif, Sunan Kalijaga sudah menjalankan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang masuk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyatakat sekitarnya. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkorelasi dengan nilai Islam. Tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Dalam mengajak penonton wayang, Sunan Kalijaga mengganti biaya masuk yang umumnya membayar uang dengan membaca kalimat syahadat. Secara kreatif para tokoh wayang yang identik dengan kepahlawanan Hindu diganti nama rukun Islam yang lima. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. (Purwadi: 2003). Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa sebagai proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat duniawi lainnya. Nakula dan Sadewa dipandang sebagai symbol zakat dan haji (Ahmad Chadjim: 2003)?

Lagu Ilir-Ilir

Lagu Ilir-Ilir merupakan salah satu tembang yang diciptakan SUnan Kalijaga dan cukup populer hingga sekarang. Pada masa dahulu, lagu ini sering dinyanyikan anak desa terutama pada malam purnama. Tanpa disadari, terdapat makna filosofis mendekat kepada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dalam tembang ini. Muncul sikap optimistik agar seorang muslim memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hari kiamat nanti. Para ahli tafsir menilainya sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas sehingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. (Hariwijaya: 2006).?

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar

Cah angon –cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodot iro

Dodotiro-dodotira, kumitir bedah ing pinggir

Dondomano jrumantana, kango sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane , mumpung padhang

rembulane

Suraka surak horeeeee.

Adapun makna yang terkandung dalam lagu lir-ilir tersebut, dalam catatan Hasyim Umar, adalah sebagai berikut:

Lir-ilir, lir ilir tandure wisa sumilir (Makin subur dan tersiramlah agama Islam yang disiarkan wali dan muballigh). Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten Anyar (Hijau adalah warna lambang dari agama Islam yang dikira pengantin baru sehingga menarik perhatian masyarakat). Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Cah angon/penggembala adalah penguasa yang diharapkan mampu menggembalakan rakyat agar masuk Islam, sementara buah belimbing mempunyai segi atau kulit yang mencuat berjumlah lima yaitu lambang rukun Islam) Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodotiro (Walaupun licin, sukar, tetapi usahakanlah agar dapat (agama Islam) agar mampu mensucikan dodot. Dodot adalah sejenis pakaian yang dipakai orang-orang atasan (trahing ngaluhur/? jaman dulu) Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir (Pakaian dan agamamu sudah robek karena dicampuri kepercayaan animisme dan upacara suci yang bertentangan dengan ajaran Islam) Dandomono jrumantana, kanggo sebo mengko sore (Agama yang rusak itu harus diperbaiki dengan agama Islam untuk menghadap Tuhan nanti sore) Mumpung jembar kalangane, mumung padhang rembulane (Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan bertobat kepada Tuhan) Suraka surak horeeee (Bergembiralah kalian moga-moga mendapat anugerah dari Tuhan).?

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mengakak setiap muslim termasuk pemimpin kerajaan saat itu untuk memeluk Islam meskipun dalam menumbuhkan dan menyuburkannya terdapat banyak sekali kesulitan dan tantangan. Tapi jika tidak putus asa, maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Mengapa Sunan kalijaga memberikan dakwah kepada pemimpin atau raja? Sebab mereka adalah teladan yang ditiru dan dicontoh masyarakat. Perkataan dan tindakan pemimpin akan menjaci acuan bagi rakyatnya sehingga jika pemimpinnya masuk Islam, maka rakyat akan mudah mengikutinya.?

Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai,? International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, PonPes, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 31 Desember 2017

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi



Sekretaris Jenderal Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Eko Darwanto menyayangkan banyaknya pengusaha yang mencurigai para buruh ketika membentuk serikat buruh sebagai wadah penyaluran aspirasi.

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

“Kita bikin serikat buruh dianggap melawan,” kata Eko Darwanto pada acara Kopi Darat Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (2/5).

Menurut Eko, hal itu karena banyak pengusaha yang tidak paham mengenai Undang-Undang ketenagakerjaan, dan hubungan industri.

Padahal, katanya, seorang pengusaha harus mengizinkan serikat buruh di dalam. “Kalau tidak diizinkan, terkena pidana itu,” katanya

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh karenanya, Eko mengingatkan tugas serikat buruh untuk mendorong supaya teman-teman buruh menyadari haknya. Selain itu, ia juga mengingatkan pengusaha dan pemerintah supaya perusahaan ini diberikan pemahaman yang jelas soal hubungan industrial yang baik.

Pada acara yang bertema “NU, Negara & Pemberdayaan Pekerja/Buruh Indonesia” ini, Eko juga menjelaskan tentang berbagai kewajiban pengusaha yang harus diberikan kepada para buruh.

“Pengusaha harus memenuhi kewajibannya sebagai pengusaha; membayarkan gaji, menyiapkan pesangon, THR, jaminan sosial, banyak,” katanya

Selain Eko Darwanto, hadir juga sebagai pembicara Suharyono (ILO Indonesia), dan Muchtar Said (Dosen UNU Indonesia). (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Aswaja, AlaSantri, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Kepala Perwakilan dan Direktur World Food Programme (WPF) Anthea Webb memberikan apresiasinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) dalam perannya di segala bidang termasuk kemanusiaan dan bencana.

Dia menyambangi Kantor PBNU Jakarta, Senin (21/11) untuk mengajak NU bersinergi dan kerja sama dalam penanganan ketahanan pangan, bencana, dan kemanusiaan.

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Ditemui langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengurus PBNU lain, Webb menyampaikan bahwa dalam mencegah dan menangani bencana kemanusiaan akibat kelaparan dan gizi buruk, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian.

“NU jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal,” ujar Webb.

Dia menjelaskan, WPF merupaka lembaga pangan bentukan PBB yang telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria.

SMA Negeri 1 Slawi

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan.

Hadir dalam pertemuan terbatas itu di antaranya, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Wasekjen Imam Pituduh, Ketua PP LPBINU M. Ali Yusuf, Ketua PP LKNU Hisyam Said Budairy beserta Sekretarisnya Citra Fitri Agustina. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Aswaja NU Center Probolinggo Bedah Kitab Tsalatsu Rasail fil Aqidah karya Al-Qusyairy

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi - Pengurus Cabang Aswaja NU Center (Asnuter) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tegalsiwalan menggelar Dauroh Aswaja An-Nahdliyah berupa bedah kitab Tsalatsu Rasail Fil Aqidah di Pesantren Darul Mukhlasin, Ahad (9/10) malam.

Kitab Tsalatsu Rasail fil Aqidah merupakan sebuah kitab klasik karya Imam Al-Qusyairy. Di mana Imam Al-Qusyairy merupakan seorang ulama besar Islam dari abad X Masehi.

Aswaja NU Center Probolinggo Bedah Kitab Tsalatsu Rasail fil Aqidah karya Al-Qusyairy (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center Probolinggo Bedah Kitab Tsalatsu Rasail fil Aqidah karya Al-Qusyairy (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center Probolinggo Bedah Kitab Tsalatsu Rasail fil Aqidah karya Al-Qusyairy

Kegiatan ini diikuti oleh 200 orang peserta, terdiri dari pengurus NU, jamaah Muslimat NU, pengurus Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, para guru ngaji dan santri pondok pesantren.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengasuh Pesantren Darul Mukhlasin KH Mahfudz Basya mengungkapkan kebahagiaannya atas pelaksanaan kegiatan tersebut di lingkungan pesantren. Pasalnya kegiatan ini juga melibatkan para santri. “Saya senang teman-teman NU membuat kegiatan di sini. NU itu tidak boleh dipisah dari pesantren, karena pesantren adalah roh NU,” katanya.

Ketua PCNU Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah mengatakan, peneguhan aqidah Aswaja bagi generasi muda adalah sangat penting dan mendesak. “Kalau mau NKRI terus eksis, maka Aswaja solusinya. Tidak ada lain,” tegasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Sedangkan Ketua Asnuter Probolinggo Teguh Mahameru mengaku senang dengan meriahnya kegiatan tersebut. Apalagi kegiatan ini disambut dengan sangat antusias. “Kegiatan seperti ini akan terus kita lakukan. Insyallah setelah ini di Kecamatan Leces,” ungkapnya.

Hadir sebagai narasumber Ketua LTN NU Probolinggo Ansori Halim dan Wakil Rais PCNU Probolinggo KH Zainullah Ghozali. Sementara Ketua Lakpesdam NU Probolinggo Sholehudin membahas masalah manajemen organisasi NU. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pemurnian Aqidah, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat

Samarinda, SMA Negeri 1 Slawi. Anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi, kembali mengingatkan media massa untuk tidak membuat dan menayangkan pemberitaan seputar isu-isu terorisme yang bersifat stigma.

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Bukan Jihad, Tapi Jahat

"Saya mengistilahkan terorisme itu bukan jihad, tapi jahat. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pembunuhan karena ada perbedaan paham keagamaan. Sekali lagi terorisme itu jahat, karena mereka membunuh hanya karena alasan perbedaan paham keagamaan," kata Jimmy saat menjadi narasumber Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme ? diselenggarakan ? Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, Kamis (11/8).

Jimmy menegaskan, larangan pemberitaan bersifat stigma tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik, dan secara khusus juga tercantum dalam Pedoman Peliputan Terorisme yang diterbitkan Dewan Pers dan BNPT. "Jihad identik dengan ajaran agama dan memiliki makna positif, sementara terorisme sebaliknya," tambahnya.

Hal senada disampaikan Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya. Dikatakannya, terorisme selama ini menunggangi agama sebagai pembenaran atas aksi-aksi yang dilakukannya. "Jika ada yang menganggap terorisme adalah jihad, salah besar. Jihad urusan agama, sementara terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan agama," katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Willy juga mengatakan, bentuk penunggangan agama oleh pelaku terorisme tampak dari penggunaan istilah-istilah yang menyerupai ajaran agama tertentu, di antaranya fai (perampokan), thogut (kafir), amaliyah, hingga pengantin. Faktanya, istilah tersebut sengaja diciptakan oleh kelompok pelaku terorisme sebagai bagian upaya membangun opini publik.

"Ketika masyarakat, khususnya media massa, menduplikat istilah-istilah itu maka teroris sudah memperoleh kemenangannya. Oleh karena itu ketika ada pelaku bom bunuh diri, tulis pelaku bom bunuh diri, jangan diistilahkan dengan kata pengantin atau yang lainnya," urai Willy.

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme ? merupakan rangkaian dari program Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme yang diselenggarakan BNPT bersama FKPT di 32 provinsi se-Indonesia. Satu kegiatan lainnya adalah Media Visit, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa yang sudah dilaksanakan pada Rabu (10/8). (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Pati, SMA Negeri 1 Slawi. Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh telah berwasiat kepada beberapa kiai Kajen agar dimakamkan di kompleks pemakaman Syeikh KH Ahmad Mutamakkin. Ia mengkaveling tanah makam di sana tiga tahun silam karena berharap bisa dekat dengan leluhurnya.

KH Muadz Thohir yang masih kerabat dekat Mbah Sahal menceritakan hal tersebut kepada SMA Negeri 1 Slawi dan beberapa tamu usai tahlilan mitung dino atau peringatan tujuh hari wafatnya Rais Aam PBNU tiga periode tersebut di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen-Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (28/1) malam.

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)
Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Menurut Pengasuh Pesantren Putri Roudloh At-Thahiriyyah Kajen ini, mula-mula dirinya diajak Pengasuh Pesantren Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kajen KH Junaidi Muhammadun untuk menghadap KH A Nafi’ Abdillah. Mereka berdua ingin mengklarifikasi kebenaran informasi ihwal wasiat Mbah Sahal kepada sepupu Ketua Umum MUI Pusat tersebut.

SMA Negeri 1 Slawi

“Saya masih ingat betul, awalnya Pak Jun ngajak saya untuk datang ke Kak Fe’ (Gus Nafi’). Saya tanya, ‘Ada apa?’ Jawab Pak Jun, ‘Sudahlah, nanti juga tau sendiri.’ ‘Jangan begitu, sebenarnya ada apa kok tumben ngajak ke sana?’ Saya masih penasaran,” terang Kiai Muadz.

SMA Negeri 1 Slawi

Sampai tiga kali bertanya, lanjut Kiai Muadz, Kiai Junaidi tetap tidak mau bercerita. Lalu, sesampainya di kediaman Gus Nafi’, mereka berdua dikasih cerita oleh Gus Nafi’ tentang wasiat Mbah Sahal tersebut. Gus Nafi’ yang putra Almaghfurlah KH Abdullah Salam (Mbah Dulah) adalah orang yang diberi wasiat tentang makam oleh Mbah Sahal. Sontak, ketiganya tergugu menahan tangis lantaran belum siap ditinggal Mbah Sahal.

“Meski Kiai Sahal jarang mengajar di madrasah (Matholi’ul Falah-red), tapi ruhnya sangat terasa. Jadi, ketika beliau sudah bilang seperti itu rasanya tak lama lagi benar-benar akan meninggalkan kami semua,” ujar Kiai Muadz berkaca-kaca.

Ditanya seputar percepatan acara mitung dino Mbah Sahal, Musytasyar PCNU Pati itu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan wasiat kakeknya, KH Nawawi. Mbah Nawawi khawatir jika tradisi masa lalu itu dipahami layaknya syariat Islam. Oleh karenanya, beliau berpesan agar tidak terjadi hal demikian maka perlu dibuat beda.

“Mbah saya dari bapak mewasiatkan hal itu. Jadi, biar tidak sama persis dengan tradisi Hindu-Budha. Kita bikin netral dan luwes aja waktunya. Tidak harus tepat pada hari ketujuh to,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Muslimat NU Klaten Gelar Workshop Advokasi Perempuan

Klaten, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam keluarga, seorang wanita, khususnya ibu, memegang peran yang tidak bisa dianggap sepele. Bahkan, dapat dikatakan ibu menjadi madrasah pertama bagi para anaknya.

Muslimat NU Klaten Gelar Workshop Advokasi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Klaten Gelar Workshop Advokasi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Klaten Gelar Workshop Advokasi Perempuan

Namun, terkadang dalam kondisi keluarga yang tidak ideal, peran tersebut menjadi tidak optimal, ketika tidak mendapat dukungan dari pasangan hidupnya. Bahkan, pasangan yang diharapkan perlindungannya, justru melakukan tindak kekerasan, yang akhirnya berefek tidak baik.

Untuk itulah, Muslimat NU Klaten Jawa Tengah menggelar workshop Advokasi Perempuan, Ahad (27/11). Menurut ketua PC Muslimat NU Klaten, Hj Retno Fitrotin, acara yang diselenggarakan di Aula Al Ikhlas Kompleks Kantor Kemenag Klaten ini, agar dapat meminimalkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

SMA Negeri 1 Slawi

"Dari acara ini yang kita harapkan, para kader Muslimat NU memiliki pendidikan yang baik tentang persoalan perlindungan seorang wanita dalam keluarga,” terang Retno, di sela acara.

Ditambahkan Retno, dengan adanya pendidikan advokasi juga memaksimalkan perlindungan terhadap ? perempuan guna mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah.

Dalam kesempatan tersebut, menghadirkan sejumlah narasumber antara lain, Wakil Ketua PWNU Jateng, KH. Syamsudin Asyrofi, H. Abdul Cholik, dan Kasat Binmas Polres Klaten. (Ajie Najmuddin)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta menggelar aksi damai untuk Palestina di depan kantor Kedutaan Besar Palestina Jl Dipenogoro No 49 Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (12/07) sore. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap penderitaan rakyat di Jalur Gaza akibat agresi militer Israel.

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina

Dalam aksinya, IPNU DKI Jakarta meminta kepada perdana menteri Israel, Benyamin Nyetanyahu untuk segera merespon kecaman dunia, terkait dengan serangan yang dilakukan pihak militer Israel yang mengakibatkan ratusan korban dari warga sipil yang kebanyakan wanita dan anak-anak.

Pada kesempatan ini, dua perwakilan IPNU DKI diterima oleh Duta Besar Palestina Mr Fariz Mehdawi beserta staf. Mereka menyambut baik kedatangan pelajar-pelajar NU, seraya mengucapkan terima kasih atas aksi damai yang dilakukan.

SMA Negeri 1 Slawi

Mr. Fariz Mehdawi mengaku sangat terharu dengan kepedulian pelajar NU, dan ia menyebut ini sebagai langkah awal dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua IPNU DKI Jakarta, Muhammad Said mengatakan, “Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kita atas penderitaan yang dialami saudara kita di Palestina sana, dengan harapan ada langkah konkret dari dubes Palestina dalam agresi militer tersebut."

Sebagai tindak lanjut, katanya, pengurus IPNU DKI Jakarta akan mengadakan audiensi kembali bersama dubes dalam waktu dekat.

Aksi ini diikuti seluruh pengurus Pimpinan Wilayah IPNU DKI, pengurus Pimpinan Cabang dan Anak Cabang se-DKI Jakarta, serta para pelajar NU di tingkat SLTA maupun SLTP. (Mohammad Khoiron/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Pahlawan SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa

Oleh Hj. Ida Masruroh Hakim* Tanggal 29 Maret 2015 usia Muslimat NU genap berusia 69 tahun. Bagi sebuah organisasi, ? tumbuh dan berkembang ? melampaui lebih ? dari setengah abad, adalah fakta yang sulit dibantah bahwa organisasi ini semakin meneguhkan eksistensi kematangan dan kemapanannya.?

Tidaklah mudah bagi sebuah organisasi dapat bertahan melampaui jauh dari usia keemasan (50 tahun) bahkan terus berkembang semakin kuat dan mengakar sampai ke pelosok desa di seluruh Nusantara.?

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Muslimat NU untuk Perempuan dari Masa ke Masa

Maka tidak mengherankan jika dalam perkembangannya Muslimat NU yang notabene sebagai Badan Otonom NU tumbuh menjadi Organisasi Sosial Kemasyarakatan Keagamaan berbasis perempuan terbesar di negeri ini bahkan di dunia karena anggotanya sampai tahun 2015 ini mencapai 22 juta orang tersebar di 33 Wilayah (Provinsi), 554 Cabang (Kab/Kota), 5.222 Anak Cabang (Kecamatan), 36.000 Ranting (Desa/Kelurahan).

Muslimat NU lahir 69 tahun yang lalu tepatnya 29 maret 1946 di Purwokerto dalam Kongres NU XVI (sekarang muktamar) dengan nama Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM). Kelahirannya dilatarbelakangi keprihatian kuat atas keterbelakangan, kebodohan dan rendahnya derajat kesehatan ang dialami oleh kaum perempuan sebagai akibat kuatnya budaya patriarkhi saat itu.?

SMA Negeri 1 Slawi

Sebagai salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama dengan mandat garapan pada segmen perempuan dewasa, sejak awal kelahirannya Muslimat NU konsern pada bidang dakwah islamiyah, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Mengangkat perempuan dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan menjadi cita-cita awal Muslimat NU.?

SMA Negeri 1 Slawi

Catatan singkat berikut ini dapat membantu menengok bagaimana Muslimat NU melakukan ikhtiar dan upaya mengentaskan perempuan dari lembah keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan:

Tahun 1952 Melaksanakan Pelatihan kepemimpinan Perempuan untuk membekali perempuan dapat berkiprah menjadi guru, memimpin organisasi dan meningkatkan kualitas diri.

Tahun 1950 Mencanangkan Program Pemberantasan Buta Aksara untuk mengentaskan perempuan dari kebodohan dan ketertinggalan.

Tahun 1954 merekomendasikan kepada pemerintah melakukan pelarangan perkawinan di bawah umur/pernikahan usia dini.

Tahun 1968 menyepakati dan menyetujui Program keluarga Berencana yang dilakukan BKKBN, untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.

Tahun 1970 Mendorong duindangkannya UU no 1 tahu 1954 tentang Perkawinan.

Program–program ini sepertinya biasa dan hampir semua organisasi perempuan juga melaksanakannya, karena program tersebut menjadi isu nasional dan bahkan isu dunia, akan tetapi jikalau ditilik dari masa pencanangan program yang dilakukan Muslimat NU, maka akan terlihat bahwa Muslimat NU selalu mencanangkan program dan merelisasikannya puluhan tahun sebelum isu tersebut booming. Hal ini menegaskan bahwa Muslimat NU selalu menjaga orisinalitas gagasan agar tidak terjebak pada euforia belaka.

Adalah program Keluaga Berencana (KB) oleh BKKBN, program ini pada awal dicanangkan oleh Pemerintah mendapat penolakan dari kalangan ulama karena dianggap menolak takdir dan membatasi kelahiran. Namun Muslimat NU menyetujui program KB sebagai upaya Pemerintah untuk mengatur dan merencanakan kelahiran sejak tahun 1980. Berkat peran Ormas Keagamaan termasuk Muslimat NU, KB akhirnya dapat diterima masyarakat dan ? menjadi program pemerintah yang populis.

Pada awal bedirinya Muslimat NU ? hanya dipandang sebagai kumpulan pengajian Ibu-ibu untuk ? Tahlilan dan Berzanjenan, pandangan tersebut berlanjut sampai masa orde baru yang memandang Muslimat NU dengan sebelah mata. Seiring dengan datangnya masa reformasi dibawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemberdayaan Perempuan RI era Gus Dur Muslimt NU mengalami kemajuan pesat.?

Berkat kepiawaian Khofifah meyakinkan pihak eksternal bahwa Muslimat NU memiliki social capital yang riil sampai pada tingkat akar rumput maka banyak Kementrian dan lembaga menjalink Kemitraan dengan Muslimat NU. Program- program ini hasilnya dirasakan betul sampai pada struktur paling bawah yaitu Ranting/Desa. ? ?

Keberhasilan Khofifah dalam memimpin Muslimat NU dengan berbagai dinamikanya membentuk Khofifah menjadi sosok perempuan yang progresif, tangguh dengan skill kepemimpinan yang teruji. Tidak heran jika predikat sebagai Srikandi Demokrasi Indonesia disandangkan kepadanya. Dan karena alasan inilah Presiden Joko Widodo mendaulatnya menjadi Menteri Sosial RI pada masa Pemerintahannya.?

Pengangkatan Khofifah yang masih menjabat sebagai Ketua Umum Muslimat NU ini tentu saja menjadi kesyukuran tersendiri bagi Muslimat NU karena pasti akan membawa efek domino bagi ? Muslimat NU dengan bergaining position yang semakin meningkat merajai jagad keormasan ? berbasis perempuan keagamaan di Indonesia.

Namun di sisi lain sesungguhnya ada tantangan serius yang pada momentum peringatan Harlah Muslimat NU ke 69 ini patut menjadi bahan Refleksi bersama. Meningkatkan kualitas sumber daya pengurus serta penguatan kelembagaan Muslimat NU di semua tingkatan merupakan langkah prioritas yang harus segera dilaksanakan, agar Muslimat NU di semua tingkatan, layak menjadi semacam implementator agen dari program–program pembangunan melalui berbagai layanan keumatan yang dimilki oleh Muslimat NU. Ini sekaligus juga meneguhkan komitmen Muslimat NU untuk selalu menjadi bagian dari ikhtiar penyelesai masalah bangsa...

“Selamat harlah Muslimat NU ke-69. Dirgahayu Muslimat NU“

Hj. Ida Masruroh Hakim, Pengurus PW Muslimat NU Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi RMI NU, Kyai, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 19 November 2017

Puasa dan Tradisi "Posonan"

Oleh Ahmad Muayyad?

Tanggal 1 Juni 2015, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan Gerakan Nasional “Ayo Mondok”. Sebuah gerakan kembali ke pesantren yang berada di bawah koordinasi Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI).?

Puasa dan Tradisi Posonan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Tradisi Posonan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Tradisi "Posonan"

Selang setahun kemudian, tepatnya tangal 13-15 Mei 2016, Silatnas pertama “Ayo Mondok” digelar di Pasuruhan, Jawa Timur. Menurut koordinator “Ayo Mondok”, KH Luqman HD Attarmasi, Silatnas ini mengusung agenda ingin menunjukkan kepada masyarakat dunia secara luas bahwa pesantren merupakan lembaga yang masih relevan, imun, dan berkemajuan. Lembaga pendidikan yang bersih, sehat dan ingin mencetak generasi umat manusia menjadi umat yang benar, pintar, dan menjadi harapan bagi bangsa dan negara (SMA Negeri 1 Slawi, 06 April 2016).?

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Ramadhan tahun ini menjadi momentum bagi gerakan “Ayo Mondok” untuk lebih intensif menjaring santri baru, mengenalkan dunia pesantren beserta tradisi yang ada di dalamnya. Terlebih, Ramadhan 1437 hijriah ini bertepatan dengan masa libur panjang sekolah, sehingga bisa dimanfaatkan pelajar untuk mondok singkat atau posonan.

Tradisi? Posonan. Posonan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa “poso” yang berarti puasa. Posonan berarti mondok alias nyantri di suatu pesantren pada bulan puasa. Dalam bahasa Indonesia lebih sering disebut pesantren ramadhan, atau pesantren kilat. Yang menarik, kitab-kitab yang dikaji selama posonan ini biasanya selalu khatam sebelum ramadhan pamit.

Di Jawa Tengah misalnya, banyak pesantren yang menyelenggarakan posonan. Bahkan hampir setiap pesantren selalu ada posonan di setiap tahunnya. Di pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang contohnya. Pasantren asuhan KH Maimoen Zubair tahun ini mengkaji kitab Syajaratul-Ma’arif-wal-Achwaal wa Sholichul Aqwal wal A’mal karya Syaikh Izzuddin bin Abdissalam. Pada Ramadlan tahun lalu, kiai sepuh ini mengkaji kitab Irsyadul Ibad karya Syeikh Izzuddin bin Abdil Aziz Al-Malibari. Kajian kitab ini khatam dalam jangka waktu lima belas hari. Kiai Maimoen juga memberikan ijazah sanad keilmuannya kepada santri-santri posonan.?

Posonan di Sarang Rembang, bukan hanya ngaji pada Mbah Maimoen saja. Di sana ada beberapa kiai muda yang mengajar berbagai varian kitab, mulai kitab fiqih sampai nahwu-shorof. Di pesantren Ma’hadu Ulumis Syar’iyyah biasanya mengkhatamkan Tafsir Jalalain tak kurang dari sebulan.?

Nah, bagi yang tidak berkesempatan ikut posonan, tidak perlu khawatir. Syekh Izzuddin bin Abdil Aziz Al Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in memberi ulasan lengkap agar seorang muslim bisa memanfaatkan waktunya di bulan suci ramadhan.?

Petama, perbanyak sedekah dan membaca Al-Qur’an. Dalam hal membaca Al-Qur’an ini, waktu-waktu yang utama adalah antara sholat Maghrib dan Isya’, kemudian di waktu sahur, dan selepas Subuh. Kedua, perbanyak i’tikaf. Lebih bagus lagi kalau membaca Al-Qur’annya di masjid. Sebagaimana yang tertera dalam kitab At Tibyan fii Adabi Chamalatil Qur’an, bahwasanya sebagian ulama mensunahkan membaca Al-Qur’an di masjid dikarenakan bisa sekalian memperoleh keutamaan beri’itikaf. Tentunya dengan catatan harus niat i’tikaf.

Dengan kata lain, jika kita tidak ada waktu ikut posonan, paling tidak kita bisa ikut tholabul ilmi. Mengikuti pengajian-pengajian di masjid atau mushola sekitar. Sementara bagi yang mau posonan ayo segera ke pesantren, mumpung ramadhan belum undur diri.





Ahmad Muayyad?



Siswa Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 16 November 2017

LP Maarif NU Sidoarjo Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI/SD

Sidoarjo, SMA Negeri 1 Slawi. Sebagai upaya untuk mencari bibit atlet profesional di bidang olahraga, Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama menggelar kejuaraan futsal tingkat madrasah ibtidaiyah (MI) dan sekolah dasar (SD) se-Kabupaten Sidoarjo, Jumat (10/4).

Dalam turnamen yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Sidoarjo dan Kementerian Agama (Kemenag) Sidoarjo ini, masing-masing tim harus mendaftarkan setiap timnya maksimal 10 orang dengan pembagian 5 pemain inti dan 5 pemain cadangan.

LP Maarif NU Sidoarjo Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI/SD (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Sidoarjo Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI/SD (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Sidoarjo Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI/SD

Kompetisi yang digelar di sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda Sedati Sidoarjo tersebut diikuti 35 tim sepak bola dari 20 sekolah. Ke-32 tim ini merupakan hasil seleksi dari ratusan tim sepak bola tingkat MI maupun SD yang berada di Sidoarjo. Rencananya akan diambil 3 juara utama dan 3 juara harapan, yang masing-masing akan memperoleh piala bergilir dari LP Maarif NU dan Dinas Pendidikan Sidoarjo serta mendapatkan uang pembinaan.

SMA Negeri 1 Slawi

Ketua LP Maarif NU Sidoarjo Khoirul Anam mengatakan bahwa turnamen ini diadakan untuk mencari bibit atlet tim nasional (timnas) untuk generasi yang akan datang. Hal ini agar Indonesia tidak ketinggalan peringkat dengan negara Timur Leste dalam bidang olahraga, terutama sepak bola di tingkat nasional.

"Prestasi olahraga di kalangan pelajar Kabupaten Sidoarjo cukup membanggakan. Pada beberapa cabang olahraga tertentu Sidoarjo menempati urutan pertama. Meski demikian turnamen kejujuran semacam ini harus sering diadakan untuk mengasah kemapuan calon-calon atlet di Sidoarjo," kata Khoirul Anam.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan. Menurutnya, turnamen olahraga seperti ini memang rutin dilakukan di tingkat pelajar, hal itu dilakukan untuk mencari bibit atlet profesional salah satu di cabang olahraga sepak bola. (Moh Kholidun/Mahbib)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Ribuan Nahdliyin Ikuti Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi - Ribuan Nahdliyin se-Kabupaten Probolinggo, Jum’at (21/4) malam mengikuti Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro) ke-271 di depan Eks Kantor Bupati Probolinggo di Kecamatan Dringu.

Kegiatan yang digelar oleh Pemkab Probolinggo bekerja sama dengan PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan ini dimeriahkan dengan Seni Hadrah dan Ruddat dari Pengurus Cabang Ishari Nahdlatul Ulama (NU) Kota Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo.

Ribuan Nahdliyin Ikuti Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Ikuti Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Ikuti Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar

Kegiatan ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin didampingi Wakil Bupati Probolinggo HA Timbul Prihanjoko, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i serta segenap tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Kabupaten Probolinggo.

SMA Negeri 1 Slawi

H Hasan Aminuddin mengatakan, telah banyak pekerjaan dari aspirasi dan prestasi yang diraih oleh Kabupaten Probolingggo. Hal ini diperoleh karena kerja sama dan kepedulian masyarakat Kabupaten Probolinggo.

“Tanpa doa para tokoh agama dan masyarakat semua prestasi tidak akan mampu meningkatkan perkembangan pembangunan di Kabupaten Probolinggo,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ia mengharapkan agar momentum ini bisa dijadikan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas keberhasilan dan kesuksesan yang diraih Kabupaten Probolinggo.

“Hasil peningkatan pembangunan ini telah diwujudkan dengan bentuk prestasi-prestasi sebagai tanda bukti meningkatnya pembangunan di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Kegiatan ini juga diisi dengan pembacaan Shalawat Nabi Muhammad SAW yang dipimpin oleh Ustadz Thoha dari Desa Curah Tulis Kecamatan Tongas yang diikuti oleh seluruh peserta jamaah Seni Hadrah dan Ruddat Ishari Nahdlatul Ulama (NU) Kota Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH Munir Kholili. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Ahlussunnah, Kyai SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock