Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2018

Pelarangan HTI Harus Disertai Pembinaan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah tepat, meskipun dinilai terlambat karena organisasi transnasional ini sudah berkembang dan mempunyai banyak pengikut. Karena itu, proses pelarangan HTI harus disertai dengan pembinaan terhadap para "korban" yang sudah terlanjur mengikuti organisasi ini.

Demikian dalam diskusi dan peluncuran buku "Gerakan Politik Hizbut Tahrir Indonesia Mampukah Menjadi Gerakan Dakwah?" karya Sofiuddin di Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Tangsel, Selasa (13/6). Diskusi dihadiri Wasekjen PBNU H Abdul Munim DZ, Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Adung Abdul Rahman, dan mantan staf khusus Wantimpres Hilmi Asshidiqie.

Pelarangan HTI Harus Disertai Pembinaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelarangan HTI Harus Disertai Pembinaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelarangan HTI Harus Disertai Pembinaan

Dalam pemaparan bukunya, Sofiuddin mengatakan, pembubaran HTI bukan tanpa implikasi. "Justru mereka akan bergerak dan semakin militan jika tidak dibarengi dengan pembinaan," katanya.

Lebih lanjut, kata Sofiuddin, para anggota HTI yang berjumlah lebih dari 10 ribu orang merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dengan warga lain.

Hal senada disampaikan Hilmi Asidiqie. Menurutnya, HTI sudah sepantasnya dibubarin karena menentang ideologi negara. "Silakan bentuk organisasi tapi jangan seperti sebelumnya menentang ideologi negara. Jangan pertentangkan lagi agama dan negara," katanya.

Mengutip pernyataan KH Hasyim Muzadi (alm), ia mengatakan bahwa syariat Islam sebenarnya sudah diterapkan 92 persen di Indonesia. Hanya sedikit yang tidak diterapkan di Indonesia sebagaimana di negara lain, terutama terkait pelaksanan hukum pidana qishas dan rajam. Selebihnya Indonesia adalah salah satu negara yang paling islami di dunia.

SMA Negeri 1 Slawi

Dikatakan, Pancasila memberi ruang yang luas bagi umat Islam untuk menjalankan syaraiat Islam yang berisi aspek akidah, syariah, dan akhlak.

Sekjen GP Ansor Adung Abdul Rahman dalam kesempatan itu menegaskan kembali dukungannya kepada pemerintah untuk membubarkan HTI. "Kalau membaca buku ini, semua ditolak HTI: Pancasila, kebhinekaan, dan NKRI, karena tidak sesuai Islam kaffah menurut mereka," ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Indonesia didirikan oleh para pejuang dengan mengorbankan harta dan nyawa. "Termasuk nyawa para senior kami di GP Ansor," tegasnya. Karena itu tidak boleh ada yang merongrong Indonesia.

Ia juga menyesalkan perilaku HTI yang seringkali memanipulasi dukungan para tokoh dan warga NU. Sikap mereka juga seringkali ambigu. "Mereka anti Pancasila dan NKRI tapi banyak anggota mereka yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Mereka menghidupi keluarga mereka dari anggaran negara," ujarnya.

Wasekjen PBNU dalam kesempatan itu menegaskan bahwa bagi NU, Pancasila bukan saja pilihan politik (siyasi) tetapi juga sesuai dengan ketentuan syariat Islam (syari).

"Pancasila adalah syariat Islam. Pada Munas alim ulama NU di Situbondo Jawa Timur tahun 1983, para ulama telah menegaskan bahwa menjalankan Pancasila sama dengan menjalankan syariat Islam. Pancasila itu sendiri dirumuskan oleh ulama NU lengkap dengan (dalil) Quran dan haditsnya," demikian Munim DZ. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Hadits SMA Negeri 1 Slawi

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi. Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo beserta para jajaran Forpimda Jatim menghadiri grand launching sukses muktamar ke-33 Nahdatul Ulama, Sabtu malam (14/3) lalu. Terlihat ada di belakang Pakde Karwo, Anas Yusuf (Kapolda Jatim) Eko Wiratmoko (Pangdam Brawijaya V), H Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim) dan beberapa Bupati se-Jatim.

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang

Dalam sambutannya ia menceritakan saat PWNU Jatim meminta izin akan mengadakan muktamar di Jawa Timur dan meminta Wakil Gubernur menjadi ketua Panitia Daerah, tanpa berpikir panjang Pakde Karwo langsung mengiyakan. "Iya, gus saya setuju," jelas Pakde Karwo kepada Gus Ipul waktu itu.

Pakde juga mengapresiasi langkah NU yang mengambil tema Islam Nusantara, menurut pakde, dalam hidup itu harus diimbangi dengan spiritual dan kultural. Kalau ada orang Islam yang menentang, diislamkan kembali Prof Kiai Said," kata Pakde kepada Ketum PBNU.

SMA Negeri 1 Slawi

NU sungguh luar biasa dalam mengambil keputusan terkait kepentingan umat. NU selalu bermusyawarah dan tidak mengenal votting. Itulah yang dilakukan NU lewat bahtsul masailnya. Banyak keputusan NU yang sangat membantu pemerintah, kata gubernur dua periode itu. (Rofi’i Boenawi/Anam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Pendidikan, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Ratusan Santri Meriahkan Pawai Taaruf GP Ansor Subang

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Ratusan pelajar turut? memeriahkan pawai Taaruf Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang di Jalur Pantai Utara (Pantura) Subang, Selasa (29/11).

Ratusan Santri Meriahkan Pawai Taaruf GP Ansor Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Meriahkan Pawai Taaruf GP Ansor Subang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Meriahkan Pawai Taaruf GP Ansor Subang

Pawai tersebut sebagai rangkaian kegiatan prosesi pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang masa khidmah 2016-2020 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Istiqamah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang.

Dalam pantauan, ratusan pelajar tersebut berjalan menyusuri lajur satu Jalan Pantura sehingga membuat arus lalu lintas jalan nasional tersebut menjadi sedikit tersendat.

SMA Negeri 1 Slawi

Kendati demikian, tidak mengganggu arus lalu lintas jalur baik dari arah Cirebon dan sebaliknya tersebut karena dikawal oleh aparat kepolisian Resort Subang dibantu Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Turut dalam memeriahkan Pawai Taaruf ratusan pelajar tersebut terdiri dari Santri Pondok Pesantren Yapimu Pusakajaya, MTs Darul Maarif Pamanukan, dan SMP NU Ghofarona, Kebondanas. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Kajian Sunnah SMA Negeri 1 Slawi

Pengajian Dialogis Permudah Masyarakat Pahami Islam

Kudus, SMA Negeri 1 Slawi - Menjelang Ramadhan, sekitar 600 orang dari berbagai lapisan masyarakat memadati Pengajian Pitulasan di pendopo Yayasan Makam dan Masjid Menara Sunan Kudus (YM3SK), Jawa Tengah. Tradisi khas Kudus tiap Ramadhan sejak puluhan tahun lalu ini merupakan pengajian dialogis. Hadirin dapat langsung menanyakan berbagai persolan Islam maupun kehidupan secara umum dengan narasumber.

Hadir dalam kesempatan yang dimoderatori oleh KH M Faruq Senin (27/6) malam tersebut, empat kiai besar Kudus yang menjadi narasumber, yakni KH Nadjib Hassan, KH Ulil Albab Arwani, KH Hasan Fauzi, KH Arifin Fanani.

Pengajian Dialogis Permudah Masyarakat Pahami Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengajian Dialogis Permudah Masyarakat Pahami Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengajian Dialogis Permudah Masyarakat Pahami Islam

Adapun tema utama yang disampaikan pada pengajian dialogis tersebut adalah bab zakat. KH Nadjib Hassan dalam pengantar materinya menuturkan bahwa pembahasan tentang zakat sangat penting, meskipun ibadah ini dilakukan setahun sekali, tetapi tidak sedikit yang tidak tahu atau lupa mengenai tata caranya.

"Masalah yang berkaitan zakat semakin lama semakin berkembang. Tidak ada salahnya kita mempelajari lagi pembahasan tentang zakat," ujar kiai yang juga Ketua YM3SK itu.

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan suguhan kopi hangat yang disediakan oleh panitia untuk seluruh hadiran, malam itu ada belasan hadirin yang mengacungkan jari lalu menanyakan 1-3 masalah tentang zakat yang dihadapkan dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Tidak sedikit juga hadirin yang menanyakan beragam masalah di luar bab zakat. Tak jarang ada yang menanyakan dari masalah sepele, konyol sampai masalah aktual.

Secara bergantian, satu demi satu para kiai yang menjadi narasumber itu menjawab dengan berlandaskan keterangan atau kaidah yang ada di dalam kitab-kitab kuning dalam tradisi kalangan Ahlussunnah wal-Jamaah.

SMA Negeri 1 Slawi

Saifur Rohman, hadirin asal Desa Kaliwungu, Kudus, mengungkapkan pengajian dialogis ini menambah wawasan dan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Terutama pengajian dialogis. Jarang-jarang ada di tengah masyarakat karena biasanya hanya orang-orang tertentu saja. Ini kesempatan besar bagi kita sebagai pemula, pelajar maupun orang dewasa campur menjadi satu untuk bertukar pikiran," ungkap pria yang menanyakan hukum Kebiri Kimia bagi pelaku kekerasan seksual pada anak.

Senada dengan Rohman, Bahrul Ulum, pelajar asal Desa Mlati, Kudus ini merasa mendapatkan banyak manfaat. Bagi pemuda yang menanyakan masalah zakat ini menilai pengajian dialogis tersebut membuka wawasan baru tentang hukum-hukum Islam yang terkadang dianggap sepele, padahal apabila dijabarkan sangat luas isinya.

Di ujung acara, sekitar pukul 12 malam, para kiai tidak lupa meminta maaf tatkala ada hal-hal yang dirasa kurang atas jawaban diberikan. "Semoga acara ini mendapatkan barokah dan manfaat," pungkas Kiai Nadjib Hassan yang juga Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU. (M. Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Kiai, Pesantren SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Amalan supaya Selamat dalam Perjalanan

Ada amalan menarik yang pernah dikutip oleh Imam Az-Zarkasyi untuk semua orang yang ingin selamat dalam perjalanan. Ia mengutip kisah yang pernah diamalkan oleh al-Kiya al-Harasi, seorang yang lahir di tahun yang sama persis dengan Imam al-Ghazali, pada tahun 450 H dan wafatnya hanya selisih satu tahun. Jika al-Ghazali wafat tahun 505 H, al-Harasi wafat tahun 504 H.

Kehidupan kedua orang ini selalu bersama. Mereka adalah teman dekat. Mulai belajar, mengajar, pun jadi ulama, keduanya selalu berbarengan. Hanya, di antara keduanya masing-masing mempunyai keistimewaan yang tidak sama. Al-Harasi yang juga pengarang kitab Ahkamul Quran ini lebih jago dalam mengajar, sedang al-Ghazali sebagai pengarang Ihya Ulumuddin lebih mahir dalam menulis.

Amalan supaya Selamat dalam Perjalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan supaya Selamat dalam Perjalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan supaya Selamat dalam Perjalanan

Pemilik nama lengkap Abul Hasan Ali bin Muhammad At Thabari ketika akan melakukan perjalanan, ia membaca semua huruf yang ada di permulaan surat Al-Quran (fawatihus suwar). Mulai alif lam mim, alif lam mim, alif lam mim shad, alif lam ra, dan seterusnya yang berjumlah 29 potong ayat.

SMA Negeri 1 Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi

Artinya: Imam al-Kiya al-Harasi rahimahullah ketika sedang bepergian membaca huruf-huruf  yang berada di permulaan surat-surat ini (awailus suwar). Beliau ditanya tentang amalan itu, lalu dijawab "Tidak ada tempat yang dibacakan itu atau tempat maupun barang yang dituliskan tulisan tersebut kecuali pembacanya dan hartanya akan dijaga, harta dan jiwanya aman dari kerusakan serta resiko tenggelam. (Badruddin Muhammad bin Abdullah Az Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulumil Quran [Darut Turats, Kairo], vol 1, h. 434)

Jadi, menurut salah satu pakar fiqih madzhab Syafii ini, siapa saja yang mau membaca atau menulis di satu tempat, pembacanya akan selamat, harta jiwanya akan aman dari malapetaka dan tenggelam.

KH Abdul Qayyum Manshur, Lasem, ketika mengisi mauidhah hasanah di Haflah Khotmil Quran Pesantren At Taufiiqiyyah, Brabo, Grobogan mengatakan bahwa amalan ini sudah diijazahkan kepada masyarakat untuk siapa yang yang menginginkan sawahnya aman, selamat dari kecelakaan ketika bepergian, tidak tenggelam, atau sebagainya. (Ahmad Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Kiai Maruf Amin: Kemandirian Warisan Santri Ratusan Tahun

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin menyebut kemandirian sebagai identitas asli santri. Menurut Kiai Maruf, tema kemandirian ini bukan sesuatu yang baru, tetapi untuk penguatan bahwa santri itu mandiri.

Demikian Rais Aam PBNU KH Maruf Amin menanggapi tema Santri Mandiri, NKRI Hebat yang diusung Rabithah Ma‘ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) pada acara peluncuran dan konferensi pers Hari Santri 2017 di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (10/8) malam.

Kiai Maruf Amin: Kemandirian Warisan Santri Ratusan Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Kemandirian Warisan Santri Ratusan Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Kemandirian Warisan Santri Ratusan Tahun

Santri, menurutnya, dari dulu diajar mandiri. Kemandirian ini juga diperintah oleh Rasulullah, “Kamu jangan menjadi beban orang”. Begitu juga dalam salah satu doa kita dengan menyebut wal afafah, yakni menjaga diri dari meminta-minta kepada orang.

Oleh karena itu, kata Kiai Ma’ruf, santri biasa hidup mandiri dan diajar hidup sederhana. Santri, juga sudah terbiasa hidup prihatin.

SMA Negeri 1 Slawi

“Santri memang pantang meminta-minta, tapi kalau dikasih pantang menolak. Itu santri itu,” katanya diiringi tawa hadirin.

Jadi, kemandirian merupakan watak yang dari dulu diajarkan di pesantren. Kemandirian merupakan suatu keharusan supaya tidak menjadi beban negara dan bangsa. Lebih dari itu, santri harus berkontribusi untuk bangsa dan negara.

SMA Negeri 1 Slawi

“Dari dulu, soal kontribusi itu, dari dulu santri berkontribusi (kepada bangsa dan negara),” katanya.

Tampak hadir pada acara ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waketum PBNU Mochammad Maksum Machfoedz, Ketua PP RMI NU KH Abdul Ghofarrozin dan tamu undangan dari beberapa perwakilan kementrian. (Husni Sahal/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Warta, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Malang, SMA Negeri 1 Slawi - Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofiuddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

SMA Negeri 1 Slawi

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daaiyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi lanatan lil alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Daerah, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Jombang,SMA Negeri 1 Slawi. SMA Darul Ulum Pesantren Rejoso Jombang kembali menggelar (SSO) Science Sosial and Olympiads ke XVI tahun 2015 untuk pelajar SMP sederajat se-Indonesia. Kegiatan yang diikuti sebanyak 814 group tersebut ditutup langsung Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi.

"Seharusnya kegiatan SSO ini bisa menjadi agenda Nasional. Dan insyaallah akan segera kami sampaikan kepada rekan rekan terutama Menteri Pendidikan dan Menteri Ristek Dikti, agar gelaran SSO menjadi gelaran nasional," ujarnya saat menutup kegiatan, Ahad (23/8).

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Ingin SSO Pesantren Rejoso Jadi Gelaran Nasional

Imam Nahrowi menambahkan, pemerintah punya fasilitas yang sangat memungkinkan untuk memnfasilitasi kegiataan SSO ini. “Sehingga bisa inspirasi dan motifasi bagi siswa siswa SMP dan juga semangat para anak muda kita untuk mengasah kemampuan terbaiknya," imbuhnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menteri juga berpesan kepada pelajar SMA DU2 Unggulan yang juga santri Pesantren Rejoso ini agar dalam menimba ilmu tetap patuh kepada para guru dan kiai. "Sebagai pelajar dan santri harus tetap takdiman wa takriman kepada kiai, guru dan dosen. Yang lebih penting adalah kepada orang tua agar ilmunya bermanfaat," pintanya mengingatkan.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara itu dalam pelaksanaan SSO kemarin, diikuti sekitar 817 tim dengan rincian 505 tim Science dan 313 tim sosial. Meski dilaksanakan di SMA milik Pesantren Darul ulum Peterongan Jombang, peserta juga banyak dari nonmuslim.

"Mohon tidak heran dan kaget, meski di pesantren pesertanya ada yang tidak berjilbab. Karena kami tidak membatasi peserta latar belakang apa, muslim atau nonmuslim yang terpenting mereka sekolah SMP atau sederajat silakan ikut di SSO ini," kata KH Zaimuddin W Asad salah satu Majelis pengasuh Pesantren seraya mengatakan pihaknya sudah mengajarkan Islam Nusantara terlihat dari pesertanya juga banyak yang non muslim.

Kepala Sekolah SMA Darul Ulum 2 Kaseri mengatakan, SSO adalah murni kreativitas dari anak-anak SMA Darul Ulum 2 Peterongan. Mulai dari izin pelaksanaan menembus sulitnya demokrasi pemerintah hingga grand final untuk menjaring bibit muda berpotensi menjadi generasi emas Indonesia guna memimpin bangsa di masa yang akan datang.

"SSO ini adalah yang ke 16 yang merupakan tahun ke-4 yang dilaksanakan secara online. Kita berharap dukungan pemerintah agar kegiatan ini bisa menjadi kegiatan nasional," ujarnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Halaqoh, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 05 Desember 2017

Bakti Santri untuk Negeri

Oleh: Anggi Afriansyah

Gemuruh kegembiraan Peringatan Hari Santri Nasional begitu semarak dirayakan di berbagai tempat. Sejak 2015, tanggal 22 Oktober memang resmi diperingati sebagai hari santri. Penetapannya dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. 

Bakti Santri untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Santri untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Santri untuk Negeri

Ada beberapa pertimbangan mengapa hari santri kemudian diperingati. Pertama, ulama dan santri berkontribusi besar dalam merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, mengenang serta meneladani ulama dan santri dalam membela, mempertahankan dan berkontribusi untuk pembangunan bangsa. Ketiga, sebagai pengingat, bahwa pada tanggal tersebut resolusi jihad dikumandangkan oleh para Ulama, sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi militer Belanda.

Tentu saja jejak langkah pesantren dalam mendidik anak bangsa tak usah diragukan. Latif (2013) mencatat hingga paruh pertama abad ke 19 sekolah-sekolah Islam tradisional mampu berperan sebagai institusi-institusi pendidikan yang utama di Hindia. Catatan dari Steenbrink, pada tahun 1873 merujuk pada laporan Kantor Inspeksi Pendidikan Pribumi (didirikan J.A. van der Chijs) jumlah pesantren ketika itu sekitar 20.000-25.000 dengan santri sekitar 300.000.

Beberapa pesantren yang didirikan pada era tersebut masih eksis hingga saat ini. Pesantren Tremas di Pacitan (1823), Pesantren Jampes dan Bendo di Kediri dan Pelangitan di Babat (1855), Pesantren Teglasari di Semarang (1870), Pesantren Tebu Ireng di Jombang (1899) (Soekardi, 1979; Dhofier, 1982 dalam Latif, 2013). Para santri dan kiayi merupakan agen penting perlawanan bagi pemerintah kolonial. Seruan hubbul wathon minal iman menjadi penguat bagi para santri untuk memperjuangkan kemerdekaan. 

SMA Negeri 1 Slawi

Para santri lahir dari rahim pesantren, dididik dengan tauladan terbaik para ulama para pewaris nabi yang mengedepankan uswatun hasanah. Mereka digembleng melalui disiplin tinggi pendidikan pesantren. Disiapkan untuk menjadi sosok terbaik yang mampu bermanfaat sesuai hadist Rasullah, khoirunnas anfauhum linnas--sebaiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Sebab itu pijakan pendidikan pesantren selalu berorientasi pada kemaslahatan umat dan kebaikan semesta. Berfokus pada penempaan diri para santri menjadi sebaik-baiknya manusia penebar kasih bagi sesamanya. 

Jumlah santri yang tercatat oleh Kemenag (2012) sebesar 3.759.198 adalah aset besar bagi bangsa ini. Jumlah tersebut dirilis tahun 2012. Jumlah yang sebesar itu jika tentu akan berkontribusi positif bagi negeri ini jika mendapatkan pendidikan di pesantren secara optimal. Santri tentu punya peran yang amat strategis bagi keberlangsungan bangsa ini. 

Di pesantren, para santri terpapar dengan beragam keilmuan bagi untuk penguatan keagamaan juga pengetahuan-pengetahuan praksis keseharian. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu keunggulan sistem pembelajaran pesantren. Pembelajaran pesantren menitikberatkan pada penguasaan yang benar-benar mumpuni mengenai permasalahan keagamaan dari beragam referensi yang di susun ulama-ulama terdahulu. Mereka dibiasakan dengan beragam perdebatan beragam ulama. Kondisi tersebut membuat para santri sejak awal dibiasakan dengan ragam cara pandang yang tentu saja tidak monolitik.

Di pesantren, para santri juga dikondisikan untuk mengenal lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya. Pendidikan pesantren memang ditujukan mendekatkan para santri dengan realitas masyarakat, sebab mereka memang disiapkan untuk mengabdi di masyarakat setelah lulus nanti apapun profesinya.

Jihad para santri saat ini tentu semakin berat. Selain kemampuan mumpuni pada penguasaan keislaman juga diharapkan memiliki keluasan cakrawala dalam beragam perspektif keilmuan umum. Sebab mereka akan dihadapkan pada penyelesaian persoalan masyarakat di mana mereka hidup. 

SMA Negeri 1 Slawi

Dan saat ini tantangan bagi para santri tentu lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Mereka akan bergelut dengan isu-isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang lebih rumit disbanding dengan masa lalu. Modalitas yang didapat para santri ketika ditempa di pesantren sesungguhnya sangat berarti bagi realitas kebangsaan kini. Apalagi jika dikuatkan dengan kapasitas yang dimiliki di beragam bidang kehidupan. 

Di era digital misalnya saja para santri bisa mengisi ruang diskusi di dunia maya dengan beragam konten yang mencerahkan. Ruang-ruang media sosial yang selama ini cenderung gaduh sepatutnya diisi oleh beragam konten yang lebih produktif. Peluang santri mengisi beragam konten tersebut sangatlah terbuka. 

Kehadiran kanal daring misalnya menjadi dapat menjadi ruang yang amat strategis untuk menyerukan ajaran islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang ramah bukan yang marah. Ajaran dan ujaran yang meneduhkan bukan malah menimbulkan kemarahan, yang merangkul bukan memukul. Konten-konten tersebut harus diisi oleh para santri dengan beragam telaahan yang lebih konstruktif. Ruang-ruang yang dapat digunakan untuk menebar kasih dan kebermanfaatan bukan oleh konten yang penuh rasa benci.

Semoga ke depan, pendidikan pesantren semakin banyak melahirkan kader-kader terbaik bagi bangsa ini. Seperti para pendahulu yang sudah membaktikan dirinya untuk bangsa sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya. 

*

Penulis adalah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Anti Hoax, Warta SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 27 November 2017

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Almaghfurlah KH Muhammad Saalih, Sang Pendiri Pesantren Al-Mawaddah, Jumat (8/1) malam.

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Gelar Maulid Nabi dan Haul Pendiri

Hadir dalam acara tersebut, para habaib, tokoh masyarakat, dan ulama. Antara lain Pengasuh Pesantren Qothrun Nada Depok, KH Burhanuddin Marzuki, Pengasuh Pesantren Nurul Hayat Depok, KH Nur Kholis, dan Pengasuh Pesantren Tahfidz Nurani Cipedak Jakarta Selatan, KH M Ilyas Marwal.

Dari umara, hadir Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi, Camat Jagakarsa, Fidiyah Rokhim, Komandan Rayon Militer (Danramil) 08 Jagakarsa Mayor Arm Hartono, dan Kapolsek Metro Jagakarsa, Komisaris Polisi (Kompol) Sri Bhayangkari beserta jajarannya.

SMA Negeri 1 Slawi

Ribuan hadirin tampak khidmat mengikuti lantunan sholawat Shimtudduror yang didendangkan para santri diiringi rebana modern. Sembari duduk lesehan di halaman pesantren di sebelah barat hingga makam KH M Saalih di sebelah timur. Mereka juga khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran oleh juara 1 MTQ Kota Depok, Ahmad Fajaruddin Jazuli.

SMA Negeri 1 Slawi

Pantauan SMA Negeri 1 Slawi, makin malam para pengunjung terus berdatangan secara bergelombang. Sepanjang Jalan Sadar Raya Gudang Baru hingga ujung Jalan Warung Sila Ciganjur ditutup. Di beberapa titik, tampak aparat kepolisian sektor Jagakarsa berjaga-jaga dibantu para santri berseragam Pramuka.?

Dalam sambutannya selaku Pengasuh Pesantren Al-Mawaddah, KH Abdullah Hasani mengajak hadirin untuk terus menumbuhkembangkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. “Melalui rangkaian acara gebyar Maulid Nabi kali ini, kami mengajak hadirin khususnya para santri untuk selalu cinta Rasul,” ujarnya.

Sebelumnya, lanjut Kiai Abdullah, gebyar maulid dimeriahkan beberapa kegiatan. Antara lain festival hadroh, lomba bina bakat islami, dan festival marawis se-Jabodetabek. Turut meramaikan kegiatan, konser amal “Debu Peduli Santri” di hotel Bumi Wiyata Depok, juga bakal digelar Rabu, 6 Februari 2016 mendatang.

“Hasil konser amal tersebut 100% untuk pembangunan pesantren ini. Kepada Musthofa, pimpinan grup Debu, kami ucapkan jazakumullah,” ujar Kiai Abdullah bangga.

Di tempat terpisah, KH Abdillah Hasani menambahkan gebyar maulid yang digelar di Pesantren Al-Mawaddah hendak memberi pesan bahwa Nabi Muhammad sebagai teladan abadi. “Saya ingin para santri menjaga tradisi ini serta terus semangat untuk meneladani beliau,” tandas saudara kembar Kiai Abdullah ini.

Dalam acara tersebut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam Jamiyyah Ahlu Thariqah al Mutabarah Annahdliyyah (JATMAN) dijadwalkan menyampaikan ceramah agama. Grup musik religi Debu juga tampil melantunkan sholawat dan nasyid-nasyid penggugah jiwa. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Kiai, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 18 November 2017

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Pati, SMA Negeri 1 Slawi

Suara hentakan kaki puluhan pemuda ramai pada Jumat (25/3) sekitar pukul lima pagi selepas sembahyang subuh berjamaah. Dengan penuh semangat mereka melakukan senam pinguin sebelum mengawali aktivitas mereka hari itu.

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Begitulah cara Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyegarkan para peserta pendidikan dan latihan (diklat) atau kaderisasi di kecamatan setempat. Puluhan pemuda tersebut adalah calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) X-7 Pati

Menurut Ketua PAC GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi, olahraga ini cocok untuk menjaga kesehatan tubuh dan jiwa peserta diklat agar selalu fit dalam setiap kegiatan. “Badan akan terasa enteng setelah melakukan senam pagi,” tuturnya. Dia juga menambahkan kalau peserta diklat akan menjadi fokus disetiap kegiatan setelah melakukan beberapa gerakan-gerakan senam.

SMA Negeri 1 Slawi

Setelah senam peserta lantas berjalan kaki memutari keindahan alam Desa Tluwuk, Wedarijaksa, Pati. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta diklat dan juga warga sekitar. Di sela perjalanan peserta diklat diwajibkan membawa kantong plastik yang digunakan untuk menyisir sampah di jalan yang mereka lalui.

SMA Negeri 1 Slawi

“Peserta memang harus mempunyai tubuh yang fit karena banyaknya kegiatan yang nanti dilakukan” ungkap Instruktur diklat Ahmad Thohir. Tubuh yang sehat akan menumbuhkan jiwa yang kuat, jiwa yang kuat akan membuat otak bekerja dengan maksimal. Dengan siklus yang seperti itu, peserta harus menjaga tubuh dan pikiran sebaik mungkin.

Peserta diklat mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. “Kebanyakan memang berasal dari kecamatan Wedarijaksa, tapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa,” ucap ketua panitia, Ahmad Halimi.? “Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat” imbuhnya.

PAC GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari PC GP Ansor Kabupaten tetapi dari ranting yang memang mengusulkan untuk segera mengadakan pengaderan Banser. (Hasannudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Bahtsul Masail, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 13 November 2017

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren

Subang, SMA Negeri 1 Slawi - Di antara program kerja pengurus Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Subang adalah sosialiasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada para santri di beberapa pesantren yang ada di Kabupaten Subang. Hal ini bertujuan agar para santri bisa lebih memperhatikan kesehatan dalam menjalani aktivitasnya.

Demikian disampaikan Ketua LKNU Kabupaten Subang H Edi Supriadi usai menggelar kegiatan sosialisasi PHBS kepada 170 santri di Pondok Pesantren Nurul Anwar Mubtadiien, Subang, Ahad (5/11) pagi.

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Subang Gelar Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Pesantren

"Insyaallah dalam setiap dua pekan kita akan melakukan roadshow ke tiap-tiap pesantren untuk melakukan sosialisasi kesehatan kepada para santri di Subang," ujarnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Melalui kegiatan ini diharapkan tidak ada lagi stigma negatif dalam masyarakat yang memandang bahwa santri itu jorok dan tidak peduli dengan kesehatan lingkungan.

"Dengan kegiatan ini diharapkan para santri bisa lebih memahami kebersihan dan kesehatan karena hal itu merupakan bagian dari ajaran Islam dalam konteks hifzhun nafs," tambahnya.

Ia menambahkan, kegiatan sosialiasi PHBS ini terselenggara atas kerja sama LKNU, Dinas Kesehatan, dan DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini Kabupaten Subang.

SMA Negeri 1 Slawi

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua PCNU Subang, Kepala Kemenag Subang, perwakilan dari Kapolres Subang, Danyon 312 Kala Hitam, Kodim 0605 Subang dan beberapa pejabat setempat lainnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Nahdlatul Ulama, Syariah, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

LPBI NU Dirikan Posko Peduli Banjir

Bojonegoro, SMA Negeri 1 Slawi. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Bojonegoro, mendirikan posko peduli banjir di depan kantor PCNU, jalan A. Yani Bojonegoro sejak Rabu (10/4) lalu.

LPBI NU Dirikan Posko Peduli Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Dirikan Posko Peduli Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Dirikan Posko Peduli Banjir

"Rencananya posko akan didirikan selama seminggu ke depan," ujar sekretaris LPBI NU Bojonegoro, Alexander Mubarrok, Kamis (11/4).

Alex sapaan akrabnya mengaku, posko tersebut didirikan LPBI NU berkerja sama dengan pagar nusa (PN) dan juga Banser NU. Hingga saat ini sudah terkumpul uang sekitar Rp 7 juta dan paket obat-obatan.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, segala bantuan dari donatur yang dibutuhkan korban banjir akan diterima dan didistribukan kepada yang membutuhkan. Karena melihat banjir yang sangat besar terjadi beberapa hari di Bojonegoro kemarin.

Pasca banjir nanti, juga akan membantu korban banjir dengan melakukan renovasi fasilitas umum seperti masjid dan sekolah. "Mengecat bangunan masjid dan sekolah, serta memberikan paket bantuan kepada siswa," terangnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Mantan ketua PC PMII Bojonegoro itu menambahkan, cat, peralatan dan juga tenaga kerja akan di terjunkan langsung usai banjir nanti untuk proses pengecatan. Selain itu, akan melakukan pembagian 100 paket alat tulis, di lima sekolah yang sudah ditentukan.

Saat ini sudah didistibusikan paket sembako ke Kecamatan Kanor, yakni Desa Piyak 30 paket dan Desa Cangaan 50 paket. Serta rencananya ratusan paket akan didistribusikan ke korban banjir lainnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Yazid

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 31 Oktober 2017

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Kiai Arwani Amin, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, beliau tak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan para putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Lutfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini Habib Lutfi tak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.

“Nggak apa-apa,” kata beliau kemudian. “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

“Cemburu bagaimana, Habib?” mereka tak memahami.

“Allah memberi kasyaf kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, bapak kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.

Ketika para putra Kiai Arwani sampai kembali di rumah mereka menyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat bapakmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal? (Yazid Muttaqin)

Cerita ini dikisahkan KH Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Habib, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Kamis, 28 September 2017

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

Bagaimana Mama Sempur merespon gerakan Wahhabisme dari Nejd? Sebagai ajengan yang hidup di Jawa Barat, beliau menulis buku dalam bahasa Sunda sebagai panduan untuk menghadapi gerakan politik yang menggunakan baju agama tersebut. Mama Sempur ataua Ajengan Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, demikian nama lengkapnya, menulis buku “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah”.





Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Sampul dan halaman pertama kitab Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah. Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis:

?2? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

SMA Negeri 1 Slawi





(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/ Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M.

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya.

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Hikmah, Daerah, Olahraga SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 02 Agustus 2017

Prof Maksum: ABG Makin "Jijik" dengan Pertanian

Yogyakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Minat kalangan ABG atau anak baru gede terhadap bidang pertanian semakin merosot. ABG bahkan makin "jijik" dengan sektor ekonomi yang membersarkan mereka di desa.

Demikian dikatakan Guru Besar Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr H Mohammad Maksum. Menurutnya, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia ke-63 kemarin tidak banyak bermakna bagi pengembangan sektor pertanian.

Prof Maksum: ABG Makin Jijik dengan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum: ABG Makin Jijik dengan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum: ABG Makin "Jijik" dengan Pertanian

”Inti persoalannya adalah bahwa sektor pertanian ini nyaris tidak memiliki janji ekonomis, sektor yang dipermasalahkan. Padahal kinerja ekonomis sektor ini yang sebenarnya harus digenjot,” katanya kepada SMA Negeri 1 Slawi di Yogyakarta, Senin (25/8).

SMA Negeri 1 Slawi

Dikatakan Prof Maksum yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, rasa kemerdekaan bangsa Indonesia mestinya terusik lagi ketika menyaksikan eksportasi getah karet, misalnya, yang makin membengkak. Sementara itu importasi ban mobil ke Indonesia sangat besar.

”Importasi ban Bridgestone, Genlop, RTRadial, makin tinggi dan memacetkan jalan raya RI. Eksportasi getah diimbangi dengan impor ban mobil, bukan pengembangan pabrik ban dengan nilai tambah hulu-hilirnya,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Maksum mengeluhkan, sistem tataniaga dan industri pertanian telah lama tidak dibangun sebagai kepentingan nilai tambah dan rakyat tani. Sektor ini telah lama diabaikan dalam sistem pembangunan nasional.

Akibatnya nilai tambahnya menjadi terbatas dan pada gilirannya sektor ini menjadi sektor anak tiri yang tidak menjanjikan masa depan.

”Tentu janji masa depan ini penting sekali bagi ABG. Ketika sektor ini tidak menjanjikan perekonomian dan masa depan yang menarik, maka wajar sekali kalau ABG makin jijik dan menjauhi sektor pertanian, yang dalam benak publik dan khususnya ABG tanpa masa depan dan kemerdekaan,” katanya.

Dikatakan Maksum, pemerintah mempunyai tantangan serius untuk membangun sektor pertanian. Kebijakan yang dzalim terhadap sektor pertanian menyebabkan sektor ini tidak menarik bagi kalangan ABG. ”Sistem pembangunan pertanian harus berbenah diri dan dirombak total,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Budaya, Doa, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 08 Juli 2017

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Pati, SMA Negeri 1 Slawi. Ratusan mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) dan santri dari berbagai pondok pesantren di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati berduyun-duyun mendonorkan darah di kampus setempat.

Aksi tersebut, baru kali pertama dan tidak biasa dilakukan dalam rangkaian peringatan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin. Haul yang digelar setiap 10 Muharram itu, mengundang partisipasi banyak kalangan, terutama kalangan santri dan pelajar.

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Para peziarah dan pedagang dari berbagai daerah juga turut meramaikan haul tersebut. Bagi warga masyarakat, santri pondok pesantren dan lembaga pendidikan di Kajen, Haul Syekh Ahmad Mutamakkin menjadi momentum untuk bertemu dalam kegiatan positif. Sekaligus mengawali tahun dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.

SMA Negeri 1 Slawi

Aksi donor darah berlangsung Rabu (21/10). “Donor darah ini misalnya menjadi contoh kecil kegiatan positif di awal tahun hijriyah, sekaligus wujud solidaritas sesama insan melalui darah,” ujar Zaki Fuad panitia pelaksana donor darah di Fakultas Dakwah Progam Studi Pengembangan Masyarakat Islam.

SMA Negeri 1 Slawi

Melalui PMI

Dalam kesempatan itu, sedikitnya 170 Mahasiswa dan santri merelakan sebagian darahnya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Jumlah penyumbang darah tersebut, di luar dugaan lantaran melebihi target yang ditetapkan, yakni 100 penyumbang darah.

“Mahasiswa dan santri sangat antusias sehingga jumlah penyumbang darah membeludak. Jumlah tersebut, sebenarnya bisa lebih banyak namun karena santri terkendala transportasi sehingga hanya 170 orang,” jelas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, animo penyumbang darah yang besar menunjukkan, bahwa kepekaan sosial mahasiswa dan santri di Kajen dan sekitarnya cukup tinggi. Itu tidak terlepas dari pola pendidikan yang selama ini diterapkan, yakni memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kedepan kegiatan seperti ini akan kami persiapkan lebih matang lagi, sehingga akan mengundang lebih banyak peserta yang terlibat tidak hanya dari kajen saja,” tandasnya.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Kajian, Daerah SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Mei 2017

Kopetisi Esai IPNU-IPPNU Unnes Diikuti Berbagai Universitas

Semarang, SMA Negeri 1 Slawi

Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Negeri Semarang (Unnes) berhasil menyelenggarakan kompetisi esai tingkat mahasiswa se-Pulau Jawa untuk pertama kalinya.

Acara yang dimotori Departemen Keilmiahan dan Keterampilan PKPT IPNU dan IPPNU Unnes ini menjadi salah satu dari empat rangkaian acara besar Great Muharram Festival 2016 yang sudah dibuka sejak 29 Agustus 2016. Peserta yang telah lolos seleksi sebelumnya dipertemukan dalam technical meeting yang dilanjutkan dengan presentasi konsep dari para finalis di puncak Grand Final.

Kopetisi Esai IPNU-IPPNU Unnes Diikuti Berbagai Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopetisi Esai IPNU-IPPNU Unnes Diikuti Berbagai Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopetisi Esai IPNU-IPPNU Unnes Diikuti Berbagai Universitas

Kompetisi bertema "Inovasi Muslim untuk Dunia" tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa se-Pulau Jawa, dan berhasil menyaring 10 finalis terbaik di antaranya dari tuan rumah sendiri, Universitas Negeri Semarang, Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Jendral Soedirman, Universitas Darussalam Gontor, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan STAIN Pamekasan.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengumuman pemenang digelar selepas acara penutupan, Ahad (16/10). Pada kesempatan kali ini, UIN Sunan Ampel Surabaya yang diwakili oleh Irsad Roxiyul Azmi menjadi Juara 1 dalam bidang esai islami, selanjutnya Juara 2 oleh Kurnia Islami mahasiswa Universitas Brawijaya dan Juara 3 oleh Soifiatul Amrih mahasiswa Universitas Brawijaya.

Irsad menyandang gelar Juara I setelah berhasil lolos dalam berbagai tahapan, antara lain seleksi naskah presentasi, hingga akhirnya melenggang ke tahap grand final. Irsad mengusung konsep inovasi terapi berjudul "Dari Psikoterapis Muslim untuk Kesehatan Dunia: Menelusuri Inovasi Pemikiran Cendekiawan Muslim dalam Ranah Psikologi".

SMA Negeri 1 Slawi

Irsad mengaku senang dapat menyumbangkan konsep ini demi memberikan alternatif terapi.? "Saya bersyukur mampu menghadirkan hal yang baru namun tetap bernapaskan nilai-nilai Al-Quran. Dan kembalilah pada jas merah, sejarah para ulama yang pernah menjayakan Islam. NU sangat menghargai sejarah, dan giat dalam mencetak sejarah baru. Event ini bagian dari sejarah kebangkitan para rekan dan rekanita dalam menegakkan peradaban keilmuan," tutur Irsad.

Kopetisi esai ini diharapkan menjadi agenda tahunan di bulan Muharram sebagai wujud partisipasi PKPT IPNU dan IPPNU Unnes dalam memeriahkan Hari Santri Nasional yang dibalut dalam serangkaian acara Great Muharram Festival (GMF). “Ke depannya (semoga) peserta yang berpartisipasi semakin bertambah banyak dan semakin meningkat untuk tahap kompetisi yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat nasional,” tutur Nur Zumroh selaku Kepala Departemen Ketrampilan dan Keilmiahan PKPT IPNU IPPNU Unnes. (Khoriskiya Novita/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Fragmen, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 08 April 2017

Pilkada Serentak, Nahdliyin Jangan Mau Diintimidasi dan Terintimidasi

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Dalam hitungan jam, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017 akan dimulai di 101 daerah, Rabu (15/2/2017) besok. Warga NU (Nahdliyin) di seluruh Indonesia yang menjadi mayoritas agar menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab dan mandiri. Jangan mau diintimidasi maupun terintimidasi oleh kelompok-kelompok tertentu.

Pilkada Serentak, Nahdliyin Jangan Mau Diintimidasi dan Terintimidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Serentak, Nahdliyin Jangan Mau Diintimidasi dan Terintimidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Serentak, Nahdliyin Jangan Mau Diintimidasi dan Terintimidasi

Hal itu ditekankan oleh Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Rumadi Ahmad saat dihubungi SMA Negeri 1 Slawi, Selasa (14/2) di Jakarta.

Rumadi menilai, partisipasi aktif warga NU dalam pesta demokrasi merupakan bagian dari tanggung jawab konstitusional yang harus ditunaikan.

“Ini juga bagian dari upaya menjaga negara dalam memilih pemimpinnya. Segala kepentingan dalam proses Pilkada sudah pasti ada. Namun, warga NU jangan mau diintimidasi dan terintimidasi,” tegas Rumadi.

Selain menggunakan hak pilih, dia juga mendorong masyarakat agar berpartisipasi aktif menjaga agar Pilkada berjalan dengan damai dan lancar melalui langkah-langkah yang positif.?

SMA Negeri 1 Slawi

Hal ini bisa dilakukan lewat media sosial agar tidak menyebarkan dan tidak terpengaruh oleh informasi-informasi palsu (hoax) terkait pelaksanaan Pilkada yang dapat memunculkan suasana tidak kondusif.

SMA Negeri 1 Slawi

Pria yang juga salah seorang Komisioner di Komisi Informasi Pusat (KIP) ini tidak menampik segala kemungkinan yang bakal terjadi pasca Pilkada. Sebab itu ia mengimbau kepada masyarakat jangan mau dibawa-bawa dalam pusaran konflik kepentingan politik sesaat.

“Pada umumnya masyarakat tenang dan damai-damai saja terkait Pilkada. Saya tidak yakin mereka (masyarakat) akan terus-terusan ribut. Konflik hanya dibuat oleh mereka yang mempunyai kepentingan. Masyarakat jangan mau dibawa-bawa,” ucap Rumadi.

Menurut keterangan KPU RI, Pilkada serentak 2017 terselenggara di 101 daerah dengan rincian di 7 provinsi memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, 76 kabupaten memilih Bupati dan Wakil Bupati, serta 18 kota memilih Walikota dan Wakil Walikota. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Daerah, Sejarah, Meme Islam SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 01 Februari 2017

Lamandau Kini Punya Anggota Baru Banser-Fatser NU

Lamandau, SMA Negeri 1 Slawi

Sebanyak 128 peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Dilatsar) angkatan pertama telah resmi menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Lamandau. Mereka berasal dari hampir seluruh Kecamatan di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.



Lamandau Kini Punya Anggota Baru Banser-Fatser NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lamandau Kini Punya Anggota Baru Banser-Fatser NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lamandau Kini Punya Anggota Baru Banser-Fatser NU



Mereka dinyatakan lulus menjadi Banser-Fatser setelah mengikuti seluruh proses Diklatsar yang diadakan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Lamandau yang berlangsung di Nanga Bulik selama tiga hari, 1-3 Desember 2017.

"Alhamdulillah, dari 176 peserta yang mendaftar pada Diklatsar Banser-Fatser angkatan pertama ini, 128 diantaranya telah dinyatakan lulus dan kini resmi menjadi anggota Banser-Farser Lamandau. Adapun sisanya dinyatakan tidak lulus karena tidak menjalani semua atau sebagian proses selama Diklatsar berlangsung," ungkap Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lamandau, Salman Azzuhri, Ahad (3/12) malam.

SMA Negeri 1 Slawi

Salman menyebut, 128 peserta yang dinyatakan lulus Diklatsar meliputi 123 Banser (laki-laki) dan lima lainnya adalah Fatayat Serbaguna (Fatser/perempuan). Kesemuanya dipastikan telah mengikuti seluruh materi yang disuguhkan selama Diklatsar, baik materi yang sifatnya kognitif, afektif maupun psikomotorik,

"Mulai materi yang berkaitan dengan materi ke-NU-an, ke-Ansor-an, ke-Banser-an, ke-Indonesia-an atau wawasan kebangsaan, bela diri, hingga materi lapangan seperti pengamanan dan pengaturan lalu lintas," tambah Salman.

SMA Negeri 1 Slawi

Diresmikannya anggota baru Banser-Fatser Lamandau ini juga ditandai dengan proses pembaiatan.

Salman mengatakan bahwa meski 128 peserta telah mengikuti semua materi yang disuguhkan, namun ditegaskan bahwa tanggung jawab untuk menjadi Banser-Fatser sesungguhnya belumlah selesai.

Pasalnya, kata dia, setelah Diklatsar tersebut para anggota Banser-Fatser yang baru ini tetap berkewajibkan untuk mengikuti proses pengkaderan selanjutnya dibawah komando Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser dan PC GP Ansor kabupaten Lamandau.

"Sebutannya juga Diklatsar, artinya semua materi yang disampaikan itu sifatnya adalah materi dasar, artinya anggota Banser-Fatser baru tersebut nantinya wajib untuk aktif mengikuti proses pengkaderan selanjutnya," tuturnya.

Sementara itu, Kasatkorcab Banser Lamandau, Saifudin Zuhri mengku bangga atas antusiasme serta kesungguhan peserta dalam mengikuti seluruh proses Diklatsar. Terlebih, kata dia, jumlah maksimal peserta yang awalnya hanya diarget sekira 70-100 orang, namun faktanya ternyata melampaui ekspektasi. 

Jumlah peserta Diklatsar tersebut juga disebut-sebut sebagai Diklatsar dengan peserta terbanyak dalam satu angkatan jika dibanding dengan peserta Diklatsar daerah lain di Kalimantan Tengah. Kondisi itu sangat disyukuri jajaran pengurus Ansor, apalagi Lamandau sendiri merupakan daerah baru karena baru berdiri sebagai kabupaten pada 15 tahun lalu.

"Saya juga berharap agar anggota Banser-Fatser yang baru hasil dari Diklatsar angkatan pertama di Lamandau ini tidak hanya banyak secara jumlah, namun juga dapat menjadi militer NU yang militan, militan dalam menjadi benteng ulama, pembela agama, bangsa dan negeri. Karena bagi NU, Pancasila sudah Final dan NKRI Harga Mati!" serunya.

Diketahui, guna memastikan lancarnya kegiatan Diklatsar, pihak panitia juga sengaja mengundang sedikitnya tiga orang instruktur dari Satkornas Banser pusat selama Diklat berlangsung. Sebelumnya, kegiatan Diklatsar tersebut juga secara resmi dibuka oleh ketua PC NU Lamandau, Kiai Hamim, Jumat (1/12). (Hendi Nurfalah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Daerah, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock