Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Ansor Sumberdadi Kembangkan Pertanian Organik

Lamonan, SMA Negeri 1 Slawi. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan dari program GP Ansor. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumberdadi yang mayoritas adalah petani,  Pengurus Ranting GP Ansor Sumberdadi, Kecamatan Mantup, Lamongan, Jawa Timur  bersinergi denganLembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama menggulirkan 5758_Maju Mapan.

Melalui 5758_Maju mapan, GP Ansor Sumberdadi melakukan gerakan pemberdayaan petani dengan memanfaatkan limbah disekitar menjadi pupuk organik cair dan pupuk kandang. Hal itu sesuai dengan tujuan 5758_Maju yaitu menciptakan pertanian organik dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam, ramah lingkungan dengan biaya yang terjangkau oleh petani di desa.

Ansor Sumberdadi Kembangkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sumberdadi Kembangkan Pertanian Organik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sumberdadi Kembangkan Pertanian Organik

Program yang juga bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Pelestarian Lingkungan (LPPL) Kalibrantas Lamongan, beberapa jenis pupuk organik cair MOL (Mikro Organisme Lokal) yang dikembangkan terdiri dari MOL Buah, MOL Mojo, MOL Rebung, MOL Bonggol pisang dan Pestisida nabati. Selain itu juga pembuatan pupuk kandang dari limbah kotoran ternak.  

Muklisin, Koordinator dari program, mengatakan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian organik cukup melimpah dan mudah didapatkan, tinggal kemauan kita untuk memanfaatkannya dalam pertanian organik.

SMA Negeri 1 Slawi

"Bahan-bahan dari alam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penyedia unsur hara maupun pengendali organisme penganggu tanaman dan hama penyakit pada tanaman,” kata pria yang telah mendapatkan penghargaan Pemuda Mandiri dari Pemkab Lamongan pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2017,

Ketua LPNU 5758_Maju Mapan PR GP Ansor Sumberdadi, M. Saiful Alam, mengatakan Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah pupuk organik cair yang memiliki kandungan mikro organisme setempat (lokal).

Cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik/dekomposer dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang berada di tempat tersebut.

"Bahan-bahannya banyak tersedia di sekitar kita. Bisa juga memanfaatkan limbah buah-buahan," terangnya.

Ia menambahkan diperlukan waktu untuk dapat melihat hasil dari pengelolaan pertanian secara organik. Namun ia menegaskan paling tidak ini dapat dijadikan salah satu solusi bagi petani di tengah kelangkaan pupuk dan mahalnya biaya produksi pertanian yang sering dikeluhkan oleh masyarakat.

SMA Negeri 1 Slawi

"Untuk berikutnya kita juga akan mengembangkan biogas dari kotoran sapi,” kata Sukamto, Ketua PR GP Ansor Sumberdadi dan pendidik di SMK Ma’arif NU Mantup Lamongan.

Ir. Achmad Yani Mashudi, Direktur LPPL Kalibrantas Lamongan menyatakan siap bekerjasama dengan PR GP Ansor Sumberdadi untuk mengembangkan biogas di masyarakat. LPPL Kalibrantas sendiri telah mengembangkan biogas sejak tahun 2009 melalui Program Pengabdian Masyarakat dari Ponpes Al Hikam Malang. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Internasional, Doa, Humor Islam SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

NU Setia Menjaga NKRI

Nusantara sebagai sebuah kesatuan geografis, kesatuan budaya, kesatuan politik dan kesatuan ekonomi terbentuk melalui proses berabad-abad, setidaknya mulai wangsa Sanjaya Mataram, Sriwijaya yang terus berkembang zaman Kahuripan, Daha, Singasari, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram Baru hingga Republik Indonesia saat ini. Kehadiran penjajah Spanyol, Belanda, Inggris, selama ratusan tahun itu gagal memecah-belah kesatuan yang telah kokoh itu.

Ketika Indonesia merdeka kesatuan itu segera dikukuhkan kembali sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Sebagaimana disebutkan di depan bahwa kesatuan Indonesia ini bukan sesuatu yang sekali jadi melainkan terus berkembang dalam proses, karena itulah kesatuan NKRI dan keutuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara harus dijaga dan dipertahankan. Tidak sedikit kelompok yang dengan menawarkan ideologi tertentu mencoba untuk menolak Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan, dan berusaha memecah belah sebagai serta berusaha memutus pengikatnya yaitu Pancasila sebagai ideologi negara.

NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setia Menjaga NKRI

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan. Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara dan dari situlah 88 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan, karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Dengan tidak diubahnya konsep NKRI dan Pancasila tersebut tidak dengan sendirinya NKRI tetap ada dan lestari. Secara geografis sejak reformasi hingga sekarang memang masih utuh, maraknya gerakan separatisme beberapa waktu yang lalau tidak mampu memecah kesatuan geografis negeri ini. Tetapi apabila ditinjau dari segi kesatuan politik, dengan diterapkannya otonomi yang tanpa batas, kesatuan Indonesia sebagai kesatuan politik mulai pudar. Mulai banyak pejabat daerah yang tidak setia pada pemerintah di atasnya atau bahkan pemerintah pusat.

SMA Negeri 1 Slawi

Dilihat dari sudut pertahanan (militer), nampaknya integritas NKRI juga sudah mulai mengendor, terbukti dengan terjadinya pelanggaran wilayah oleh pasukan asing yang tidak sepenuhnya bisa diatasi oleh tentara Indonesia. Sementara, setiap upaya peningkatan sistem pertahanan selalu mendapat serangan dari kelompok tertentu dari bangsa sendiri, sehingga kedaulatan Republik ini dengan mudah diganggu dan dinodai masuknya kekuatan asing yang ingin memecah belah negeri ini.

Dari segi kesatuan ekonomi, sejak dilakukan liberalisasi perdagangan, dengan dibebaskannya investasi asing masuk ke seluruh sektor strategis, maka bisa dilihat bahwa saat ini ekonomi nasional tidak lagi di bawah kendali bangsa sendiri, melainkan telah dikuasai asing. Mulai dari sektor pertambangan, sektor perbankan, sektor pertanian, sektor industri, sektor properti, telekomunikasi, yang penguasaan asing rata-rata di atas 50%, bahkan terakhir di sektor bandara yang bisa mencapai 100 persen. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat tajam yang belum pernah terjadi di Indonesia ini selama ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Kemudian di sektor kebudayaan, pengaruh asing mulai menerobos hingga ke sektor privat, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sementara informasi dari dunia internasional yang dikendalikan oleh kapitalisme global yang berpandangan hidup liberal, tetaplah begitu jauh mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tindakan masyarakat negeri ini. Dengan demikian nilai-nilai agama budaya dan tradisi, termasuk nilai-nilai Pancasila akan sulit diterapkan. Karena propaganda liberal disebarkan sedemikian gencar dengan peralatan teknologi dan strategi yang sangat canggih.

Inilah yang menjadi keprihatinan NU dan yang menjadi tekad NU untuk selalu setia menjaga keutuhan NKRI di saat pihak lain banyak yang mulai meragukan pentingnya NKRI. Karena itu bersamaan dengan peringatan Hari Lahir NU yang ke-88 tahun 2014 ini, NU berikrar bahkan bertekad bahwa keutuhan NKRI dan kejayaan Pancasila harus dijaga. Keutuhan NKRI harus tetap dijaga, tidak hanya secara geografis, tetapi secara politik, ekonomi dan budaya ini Indonesia kembali menjadi negara yang berdaulat, sebagaimana yang diperjuangkan para ulama NU terdahulu bersama elemen bangsa lainnya.

Untuk menjaga keutuhan NKRI ini sarana yang paling tepat adalah Pancasila, karena Pancasila dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, merupakan tali pengikat keragaman bangsa ini. Kemampuan Pancasila dalam merekat keutuhan bangsa ini telah terbukti selama bertahun-tahun. Maka NU tidak mau ambil risiko dengan adanya kelompok lain? yang ingin mengganti Pancasila, sebab tanpa Pancasila NKRI tidak akan bisa dipertahankan.

Sebagaimana NKRI, saat ini Pancasila secara formal memang masih ada, tetapi harap diketahui, Pancasila oleh liberalisme tidak lagi dijadikan sumber nilai, baik dalam merumuskan undang-undang, dalam menentukan kebijakan politik, termasuk dalam kebijakan ekonomi dan kebudayaan. Semuanya mengacu pada berbagai konvensi internasional yang berfalsafah liberal yang jauh dari nilai agama dan tradisi.

Bagi NU membela NKRI dan Pancasila merupakan keharusan politik, untuk menjaga kesatuan dan kedamaian negeri ini. Dan sekaligus merupakan kewajiban syar’i, karena membela negara wajib hukumnya menurut agama.? Sebagaimana diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila bagi umat Islam Indonesia sama dengan menjalankan syariat Islam. Sebagai konsekwensinya NU berkewajiban menjaga dan mengamankan Pancasila.

Komitmen atau kesetiaan ini perlu terus ditegaskan sehingga ketika NU genap berusia satu abad tahun 2026 nanti, sekitar 12 tahun lagi, kita berharap NKRI tetap utuh dan Pancasila tetap jaya. Penegasan ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya untuk pada Nahdliyin, tetapi untuk bangsa secara keseluruhan dan bahkan untuk sekalian umat manusia. Karena itu berangkat dari Harlah NU yang 88 ini, tekad dan kesetiaan tersebut kita ikrarkan, di tengah Indonesia dengan NKRI dan Pancasila sedang menghadapi tantangan.

?

KH Said Aqil Siroj

Ketua Umum PBNU

?

* Disampaikan dalam acara peringatan hari lahir atau Harlah ke-88 NU di Jakarta, 31 Januari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pertandingan, Doa, Anti Hoax SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendesak agar koruptor yang berasal dari penegak hukum, mendapat hukuman dua kali lipat dibandingkan dengan yang lain.

“Karena mereka ngerti hukum,” katanya di gedung PBNU, Kamis.

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

Publik kembali dikejutkan dengan tertangkapnya ketua Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang selama ini sangat dihormati. Meskipun demikian, Kiai Said tidak secara khusus merujuk pada figur ketua MK, melainkan semua pelaku koruptor karena Indonesia sudah dalam keadaan darurat korupsi.

SMA Negeri 1 Slawi

PBNU dalam munas tahun 2003, memutuskan koruptor tidak layak disholati oleh para kiai dan komitmen terhadap pemberantasan korupsi ini kembali ditegaskan dalam munas NU di Cirebon 2012 lalu.

“Kita mendukung sepenuhnya langkah KPK dalam memberantas korupsi,” tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Doa SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Menyegarkan Peran Kebudayaan NU

Sejak didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H, NU lebih banyak berbaur dengan masyarakat bawah di pedesaan. Sehingga tidak heran bila NU lekat dengan bahasa tradisional.

Meski sekarang ini terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan, sebagai respon NU terhadap perkembangan dunia modern. Namun NU tetaplah organisasi yang getol mempertahankan tradisi-tradisi Nusantara, asalkan manfaatnya jelas dan bisa diselaraskan dengan ninai-nilai keislaman.

Menyegarkan Peran Kebudayaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyegarkan Peran Kebudayaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyegarkan Peran Kebudayaan NU

Salah satu contoh konkret yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah budaya tahlilan. Meski ormas-ormas lain gencar menuduh tahlilan bi’dah, karean tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, namun NU tetap kuat dengan perinsipnya, selama mengandung maslahah bagi masyarakat dan bisa diselaraskan dengan nilai-nilai ke-Islaman, tanpa masalah.

Dalam sejarah Nusantara masa lalu, tahlilan berasal dari upacara pribadatan (selamatan) yang dilakukan nenak moyang bangsa Indonesia yang mayoritas dari mereka adalah penganut agama Hindu dan Budha. Upacara tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan do’a kepada orang yang telah meninggal dunia.

SMA Negeri 1 Slawi

Namun secara praktis tahlilan yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu dengan tahlilan yang dilakukan oleh warga NU jauh berbeda, yakni menganti semua bacaan upacara selamatan tersebut dengan bacaan-bacaan-bacaan Al-Quran, Shalawat dan dzikir-dzikir kepada Allah SWT. Manfatnya, selain mendekatkan diri kepada Allah SWT. budaya tahlilan juga merekatkan relasi sosial masyarakat.

SMA Negeri 1 Slawi

Itu hanya salah satu contoh bahwa NU begitu menghargai kebudayaan Nusantara. Selama mengandung maslahah dan bisa diselaraskan dengan ajaran Islam, kebudayaan apapun harus tetap dipertahankan. Sebab kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang harganya begitu mahal. Bahkan suatu bangsa tanpa kebudayaan tak bernilai di mata dunia internasional.

Di tengah kemajuan teknologi yang berkembang begitu pesat, NU harus mampu memainkan perannya secara siginifikan di bidang kebudayaan. Agar aset-aset kekayaan bangsa Indonesia tidak tergerus oleh budaya global yang notabene banyak dipengaruhi budaya-budaya Barat. Terutama menyangkut kerekatan relasi sosial antarsesama bangsa.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat menjadi ancaman serius bagi budaya silaturrahim yang sejak dulu telah membudaya di bumi Nusantara. Komunikasi melalui HP, Facebook, Twiter dan yang sejenis, perlahan tapi pasti telah merusak tatanan kebudayaan Nusantara. Meski secara jujur kita akui ada hal positifnya. Hanya saja jangan sampai kita terlelap dalam gelamur kebudayaan modern, sehingga lupa akar kebudayaan Nusantara yang mestinya kita lestarikan.

Hal mendasar yang begitu terasa jauh saat ini dari realitas dilingkungan kita adalah budaya gotong royong. Dulu budaya ini mengakar kuat dalam tradisi Nusantara. Sekarang hanya tinggal kenangan, sebab masyarakat sibuk dengan ambisi individualismenya masing-masing dan mengukur segalanya dengan upah (uang). Di desa sekalipun kita sangat sulit menemukan budaya gotong royong dilakukan oleh warga. Sementara gotong royong dahulu begitu akrab didengar di pedesaan.

Suatu contoh, di masa lalu orang desa yang hendak memperbaiki kandang hewan peliharaan hanya butuh kentongan sebagai alat bunyi yang menandakan bahwa keluarga tersebut sedang butuh bantuan, sehingga ketika kentongan tersebut bunyikan warga datang berhamburan untuk membantunya. Kemudian mereka berbaur bersama begitu akrab tanpa tanpa berharap upah. Sekarang budaya seperti ini sudah tidak jelas rimbanya.

Oleh karena itu, NU sebagai organisasi sosial keagamaan harus bisa memainkan perannya secara signifikan dalam rangka menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara. Jangan sampai aset kebudayaan yang begitu banyak dimiliki Indonesia di masa lalu hilang ditelan globalisasi budaya. Negara kita dikenal dengan negara multikultural, kita tidak ingin julukan ini hanya manis di masa lalu, namun sekarang kita hanya gigit jari karena kelalaian dalam menjaga kebudayaan tersebut.

* Penulis adalah Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Bidik Misi (Ambisi) dan Pustakawan Pesantren Mahasiswa (Pesma) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ulama, Habib, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Demak, SMA Negeri 1 Slawi. Menggelar haflah akhirus sanah, pesantren Al-Amin yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak mewisuda santri berprestasi dengan predikat Khatam Al-Quran bin-Nazhri. Haflah ini diadakan dalam rangka memperingati haul KH M Ridwan.

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Tampak hadir dalam haflah segenap keluarga dan dewan guru pesantren Al-Amin serta guru di Yayasan Futuhiyyah, para tamu undangan serta orang tua murid yang diwisuda. KH Yahya Cholil Staquf yang hadir sebagai pemberi taushiyah menekankan pentingnya warga NU menghadiri haul kiai.

“Selain mengalap berkah, kita mendatangi haul seorang kiai juga berarti ikut ‘mendaftar’ rombongan kiai yang dihauli untuk masuk ke surga. Jika mau jujur melihat amaliyah ibadah, kita tidak bisa masuk surga sendiri-sendiri. Karenanya kita semua akan memasuki surga secara rombongan seperti keterangan surat Az-Zumar ayat 73,” terang Gus Yahya mengawali ceramahnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Pedoman pesantren itu sanad, kata Gus Yahya. Ilmu NU itu memgang rantai sanad,sehingga amalan-amalan  NU itu ada sanadnya. Ikut rombongan kiai insya Allah selamat.

Atas nama pengasuh, KH Ali Makhsun dalam sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan para orang tua wisudawan. Ia juga mengharapkan para santri yang akan melanjutkan studinya lebih tinggi agar tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip pesantren.

SMA Negeri 1 Slawi

“Semoga santri yang telah khataman mendapatkan ilmu manfaat dan berkah. Keluarga besar pesantren Al-Amin selalu diberikan kemajuan istiqomah menyebarkan ilmu sesuai amanah perintis pondok KH Muhammad Ridlwan,” harapnya. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Doa SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 23 Januari 2018

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang kerap disapa Kang Said mendukung sepenuhnya usulan seorang anggota DPR RI kepada Menkominfo beberapa hari lalu untuk menutup situs jejaring sosial Islam yang bersifat provokatif.

Namun Kang Said memberikan catatan bahwa penutupan website itu harus hati-hati. Website Islam yang berisi dakwah dan penyiaran syiar Islam, tidak masuk dalam daftar penutupan.

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif

?

“Artinya website itu, saya kira, harus dipilah-pilah. Kalau isi website itu merusak akidah, merusak perilaku yang cenderung kepada kekerasan, saya setuju website itu ditutup,” kata Kang Said kepada SMA Negeri 1 Slawi di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (29/7) sore.

SMA Negeri 1 Slawi

Terlebih lagi kalau isi website Islam itu cenderung berisi caci maki seperti mazhab Wahabi, lanjut Kang Said, saya sangat setuju penutupan website demikian. Karena, isinya memprovokasi, menghasut, meresahkan, dan membakar umat Islam.

Selain website yang bersifat provokasi, Kang Said juga mendukung penutupan website yang memengaruhi kuat kerusakan perilaku pengunjungnya seperti website porno.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara Rais Syuriyah PBNU KH Mashdar F Masudi menginginkan penutupan semua website yang bersifat provokatif.

“Seharusnya pemerintah tidak hanya menutup website Islam yang provokatif, tetapi semua website provokatif, yang memecah belah, menciptakan permusuhan di tengah masyarakat. Apapun yang provokatif itu tidak boleh,” tegas KH Mashdar kepada SMA Negeri 1 Slawi usai diskusi ‘Menggugat Empat Pilar’ di Kantor PBNU, Jumat (2/8) sore.

“Nahdliyin sendiri harus mewaspadai website Islam seperti arrahmah, voa islam, hidayatullah, nahi munkar, dan sejumlah website Islam lain yang tidak membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,” tegas Pemred Situs Resmi PBNU SMA Negeri 1 Slawi Syafi Alielha beberapa hari lalu.

Penulis Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Doa, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Ada Cerdas Cermat Aswaja Online di Perwimanas

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi. Inilah antara lain yang membedakan perkemahan di lingkungan Ma’arif  NU dengan perkemahan serupa. Ada adu kemampuan dan wawasan keaswajaan ala NU yang dilakukan secara online.

Tidak semata mengasah diri secara fisik dan kemampuan kepramukaan, para peserta Perkemahan Wirakarya Ma’arif  Nasional (Perwimanas) juga akan diuji pengetahuan dan kedalaman materi keaswajaan ala Nahdlatul Ulama. 

Ada Cerdas Cermat Aswaja Online di Perwimanas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Cerdas Cermat Aswaja Online di Perwimanas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Cerdas Cermat Aswaja Online di Perwimanas

Ratusan utusan peserta perkemahan akan diadu dalam kegiatan lomba cerdas cermat Aswaja. “Ada sekitar tiga ratus peserta yang akan mengikuti lomba cerdas cermat keaswajaan ini secara online,” kata Sunan Fanani kepada SMA Negeri 1 Slawi (10/6).

SMA Negeri 1 Slawi

Sekretaris PW LP Ma’arif  NU Jawa Timur ini menandaskan pada seleksi awal, setiap Sangga akan mengirimkan utusan untuk beradu kemampuan menjawab sejumlah soal yang telah disediakan panitia. 

“Mereka nantinya akan dikumpulkan di aula madrasah berkapasitas tiga ratus peserta dan diberikan materi soal yang harus dijawab secara serempak,” tandas dosen Fakultas Ekonomi Unair Surabaya ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Peserta diwajibkan untuk menjawab setidaknya seratus soal Aswaja yang diselesaikan 120 menit. Namun demikian, para peserta tidak akan dapat saling mencontek lantaran akan mendapatkan soal berbeda. 

“Dengan demikian tidak akan ada kecurangan seperti yang didengar pada pelaksanaan ujian di banyak tempat,” kata mahasiswa program doktor di Unair ini.

Dari tiga ratus peserta yang mengikuti seleksi di babak awal, nantinya akan dipilih hanya 36 peserta untuk maju pada babak berikutnya. 

“Untuk peserta yang masuk seleksi tahap dua nantinya juga akan diberikan soal dengan mekanisme seperti babak awal,” katanya.

Dari 36 peserta akan dipilih 6 peserta dari putera maupun puteri. “Mereka inilah yang akan memasuki babak final dengan memperebutkan juara satu, dua dan tiga,” katanya.

Diluar itu semua, cerdas cermat ini setidaknya memberikan kesan mendalam sehingga saat pulang ke tempat masing-masing, mereka bisa mendapatkan pemahaman dan kedalaman Aswaja NU.

Demikian juga, sebelum berangkat, peserta Perwimanas disyaratkan mengenal teknologi informasi secara baik. Karena semua soal disampaikan dalam bentuk online dengan memanfaatkan jaringan internet yang ada di lokasi. 

“Internet, laptop, komputer dan perangkat komunikasi yang lain adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dari seorang pelajar dan aktifis pramuka,” terangnya. “Namun yang harus ditekankan adalah bahwa penguasaan terhadap sejumlah piranti teknologi itu hendaknya dapat dioptimalkan untuk tujuan mulia,” lanjutnya.

“Makna inilah yang akan ditekankan kepada peserta Perwimanas, dengan tetap mendorong mereka untuk menguasai teknologi informasi yang sehat dan bermanfaat,” pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pahlawan, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 19 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

Bandar Lampung, SMA Negeri 1 Slawi - Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Bandar Lampung H Moh Mukri menyatakan dukungannya dengan akan digelarnya Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kabupaten Lampung Timur.

Insya Allah pada Kick Off nanti saya akan hadir dalam pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur pada 26 Agustus 2017 mendatang,” kata H Moh Mukri di sela-sela menerima kunjungan rombongan Panitia Pelaksana Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di kediamannya, Kota Bandar Lampung, Senin (31/7).

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

“Liga Santri Nusantara harus menjadi media untuk menebarkan nilai-nilai (values) Islam rahmatan lil alamin, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara ini dan telah ikut berkiprah lahirnya republik ini. Tanpa pesantren dan ulama saya rasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan pernah ada. Oleh karenanya, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa para ulama (jas hijau),” imbuh Mantan Ketua PW GP Ansor Provinsi Lampung ini.

SMA Negeri 1 Slawi

“Liga Santri Nusantara adalah momentum baik menyebarkan semangat (ghirah) kepada masyarakat luas untuk memondokkan putra-putrinya ke pesantren. Pesantren adalah tempat lahirnya para ulama, para pejuang yang tanpa pamrih, oleh karenanya Liga Santri Nusantara selain menjadi media silaturahmi antarpesantren se-Provinsi Lampung, juga membangkitkan kembali semangat jargon Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren,” tegasnya yang juga alumni pesantren Langitan Tuban Jawa Timur ini.

“Inilah berkahnya di pesantren. Saya juga tidak akan jadi Rektor kalau tidak pernah nyantri,” tutupnya yang juga Dewan Pembina Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung.

Koordiantor Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung Munir A Haris menambahkan, pendaftaran Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung akan kami tutup pada hari Sabtu mendatang, 5 Agustus 2017 karena kami hanya membatasi 48 klub pesantren saja.”

SMA Negeri 1 Slawi

“Direncanakan pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung, pada Sabtu, 26 Agustus 2017 di Lapangan Merdeka Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung, akan dihadiri tokoh-tokoh NU antara lain; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Panitia Pelaksana Pusat atau CEO Liga Santri Nusantara (LSN) KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), Inisiator Nasional Liga Santri Nusantara H Abdul Muhaimin Iskandar, Menpora H Imam Nahrowi, Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri, Bupati Lampung Timur Hj Chusnunia Chalim, pengurus harian PWNU Provinsi Lampung, pengasuh-pengasuh pesantren, dan lain-lain,” imbuh alumnus Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kiai, Halaqoh, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Penasihat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Achmad Sujudi mengatakan, dasar perjuangan pemberantasan Tuberculosis (TB) adalah semangat atau passion. Semangat tersebut dapat bisa dibangunkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui inspirasi dari karya seni.?

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Sujudi menyampaikan hal itu dalam diskusi bertema “Praktik Terbaik Program Kemitraan Stop Tuberculosis dengan LSM/CSO” di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12) siang.

“Karya seni dari poster, sajak dan lagu dapat menjadi semangat. Dari puisi Chairil Anwar berjudul Aku terdapat kata-kata ’tak perlu sedu sedan itu/aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang/biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih perih/dan aku akan lebih tidak perduli/aku mau hidup seribu tahun lagi,” demikian Sujudi mengutip puisi karangan Chairil Anwar.

Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004) ini menjelasakan penderita TB ibaratnya seperti binatang jalang dari kumpulan sampah yang terbuang.?

SMA Negeri 1 Slawi

“Tapi mereka tidak menyerah, justru ingin hidup (sampai) seribu tahun lagi. Itu bisa menjadi slogan dan semangat para penderita TB,” tegas Sujudi.

Bentuk seni berikutnya adalah poster yang bisa diambil dari karya pelukis Sudjojono berjudul “Bung, Ayo Bung!”

SMA Negeri 1 Slawi

“Poster itu mengajak semua orang untuk berjuang. Semangat perjuangannya bisa ,” kata Sujudi dalam diskusi yang dihadiri para pemerhati penanganan TB.

Berikutnya dalam lagu karangan Ismail Marzuki berjudul “Indonesia Pusaka”. Menurut Sujudi, ? lagu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga Indonesia, termasuk melalui perbaikan kesehatan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sunnah, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging

Di sela-sela kesibukannya mengajar ngaji di Madrasah Diniyah desa setempat, merawat kerbau-kerbau anggota kelompoknya adalah pilihan hidup yang dijalani Ustadz Abdul Haris Sholeh dengan sepenuh hati. Hingga ia pun tidak mengenal kata lelah agar kegiatan mengajarnya di Madrasah Diniyah dan mengurus kerbau-kerbaunya tetap berjalan seiring.

Di tengah menurunnya populasi Kerbau di Indonesia, Ustadz Haris dengan gigih merawat dan mengembangkan kerbau hingga 630 kerbau per Mei 2015. Dia bersama teman-temannya di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kerbau Mahesa Mukti Desa Kebandungan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk membudidaya Kerbau Lumpur Brebes.?

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)
Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)

Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging

Dari kesibukannya di dunia peternakan ini, tidak jarang Ustadz Haris mengajak santri-santrinya untuk mengenal dunia peternakan. Dia berusaha memahamkan mereka bagaimana cara menyayangi sesama makhluk hidup. Karena baginya, mengenalkan karakter kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan penting sebagai internalisasi nilai-nilai agama.

SMA Negeri 1 Slawi

Haris bercerita, pernah suatu ketika ia melakukan outdoor learning, semacam belajar di luar kelas. Para santri tentu sangat antusias ber-tadabbur alam melalui dunia peternakan, yakni dengan memahami kehidupan hewan. Haris pun tidak ingin terlalu mengekang para santri di dalam kelas atau ruangan belajar. Baginya, para santri bisa menemukan dan berpikir banyak hal ketika mereka dihadapkan pada kondisi yang nyata, tak terkecuali dalam belajar agama sekalipun.

SMA Negeri 1 Slawi

Berkah peternakan kerbau yang dimilikinya benar-benar ingin dia manfaatkan seoptimal mungkin bagi pembelajaran santri-santrinya agar pemahaman agama tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga pemahaman secara kontekstual, secara nyata. Namun demikian, proses mengaji di dalam ruangan juga dilakukan dengan porsi maksimal sebelum para santri belajar di luar ruangan.

Komitmen pengabdian

Usaha menernak kerbau yang dijalaninya tak jarang menemui kendala. Namun demikian, Haris tidak mau mengalah dengan keadaan. Ia menjalani salah satu pekerjaannya dan pengabdiannya (khidmah-nya) itu dengan sepenuh hati sehingga setiap kendala yang muncul dapat dihadapinya dengan tidak mudah mengeluh.?

Kerap kali Haris merasa lelah setelah siangnya menemani kerbau-kerbau mencari makan maupun mandi di kali. Rasa lelah tersebut seketika hilang justru ketika sore harinya harus memenuhi kewajibannya sebagai guru ngaji. Baginya, bertemu dengan para muridnya di Madrasah Diniyah menjadi pengobat lelah setelah seharian bergelut dengan ternaknya.

Yang membanggakan dan membuat dirinya bersemangat dalam menjalani kesibukannya tersebut, usaha peternakan kerbau yang digelutinya mendapat apresiasi dari pemerintah Kabupaten Brebes. Ia dan kelompok ternaknya dinilai mampu mengembangkan peternakan kerbau di Brebes dengan baik dengan melakukan berbagai inovasi dalam mengelola peternakan. Haris pun tidak jarang membantu operasionalisasi Madrasah Diniyah dari hasil peternakannya tersebut.

Wujudkan swasembada daging

Atas ikhtiarnya tersebut, Haris diusulkan menjadi Pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Kerbau Lumpur tingkat Provinsi Jawa Tengah oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. “Menyayangi binatang, bagian dari ibadah,” katanya. Pria kelahiran Brebes, 12 Juni 1980 silam ini dipandang layak oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes sebagai Pelestari SDG Kerbau Lumpur. Karena terbukti telah mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDS/K) tahun 2015 dengan menjunjung kearifan lokal.

Kearifan lokal (local wisdom) yang ia junjung yaitu dengan konsisten dan komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan warisan nenek moyang berupa peternakan kerbau tersebut. Baginya, warisan (heritage) ini perlu terus dikembangkan dengan baik sehingga masyarakat dan pemerintah pun memperoleh berkahnya dengan mewujudkan swasembada yang dijelaskan di atas.

Menurut Haris, ternak sebagai rojo koyo dan tabungan sejak Nenek Moyang harus dipadukan dengan pendekatan interdisciplinary approach atau pembangunan peternakan yang melibatkan banyak pihak. Di desanya, dia berkoordinasi dengan kelompok ternak lainnya melakukan kegiatan Pelestarian Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) yang populasinya mulai terancam punah.?

Guru Ngaji itu juga melihat, nasib ? para peternak kerbau mulai tergusur kemajuan teknologi pertanian. Untuk itu, dia menggarap 4 hektar usaha tani dengan membawahi 86 anggota dari 4 KTT Pembibit Kerbau se-Desa Kebandungan. Ketua Kelompok Peternak (Kapoknak) Desa Kebandungan itu mengubah pola kehidupan peternak yang lebih terarah sejak 2008.?

“Realita dilapangan, mayoritas kerbau hanya dimiliki oleh peternak kecil dengan sistem tradisional (subsistem) pada lahan marjinal, sempit dengan menggunakan tenaga kerja keluarga yang kurang terdidik,” ujar alumni MA Miftahul Huda Tasikmalaya, Jawa Barat itu.

Di sinilah ia tidak ingin pengalamannya ini hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Bahkan masyarakat dalam kelompoknya perlu bersama-sama dalam mengembangkan peternakan sehingga hasil maksimal pun dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas lagi.

Semangat ustadz beranak dua itu makin tumbuh ketika dirinya menceritakan, bahwa Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyempatkan diri untuk meninjau potensi peternakan di daerahnya. Saat itu, kata Haris, tengah digelar Panen Gudel dan Pedet pada 4 November 2013 silam oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.?

Panen Gudel dan Pedet, tergolong sukses untuk ukuran Kebandungan, desa terpencil dengan kondisi infrastruktur yang kurang memadai di Kecamatan Bantarkawung. Kesuksesannya dibuktikan dengan kehadiran Bupati beserta jajarannya, Ketua DPRD Brebes, Kepala BPPTP Jawa Tengah, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Peneliti Senior Balitnak, Perguruan Tinggi dan Kelompok Tani Ternak se-Brebes.

Berawal dari acara tersebut, potensi ternak Desa Kebandungan seolah tiada henti dijadikan lokasi kegiatan penelitian seperti dari Lolit Grati Pasuruan, BET Cipelang, Mahasiswa PKL dan BPTP. Bahkan pakar Kerbau sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Tridjoko Wisnu Murti serta Perwakilan Direktorat Bibit Pusat beberapa kali menyambangi kelompok Kerbau binaan Ustadz Haris.

Kegiatan produktif di tempatnya oleh, baik oleh para praktisi maupun oleh para akademisi menjadi keuntungan tersendiri bagi Haris dan kelompok tani ternaknya. Karena hal tersebut tentunya dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan dunia peternakan.

Advokasi warga

Merubah pola pikir peternak Kerbau yang mayoritas hanya lulusan SD bahkan masih banyak yang belum melek huruf tidaklah semudah membalikan tangan. Karena mereka harus bisa mencatat atau mengingat perkawinan, menimbang dan mengukur kerbaunya agar menerapkan pola pembibitan (Good Breeding Practices). Namun berkat kesabaran dan keuletan Ustadz Haris, para peternak Kerbau Desa Kebandungan memiliki recording ternak kerbau yang dilaporkan tiap bulan ke Dinas Peternakan Brebes selaku pembina. Kegiatan seperti ini merupakan terobosan tak ternilai sebagai upaya pelestarian kerbau yang sudah sangat ? mendesak.?

Atas pengabdiannya ini, Haris bercerita, saat Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi berkunjung ke kediamannya. Yulian mengaku bangga dengan aktivitas yang dilakukan Haris. Kegiatan produktif yang dilakukan oleh Haris sebagai guru ngaji, menurut Dinas Peternakan Kabupaten sejalan dengan tujuan pihaknya yang tengah melakukan Program Pembibitan yang berkelanjutan agar populasi kerbau dan mutu genetik dapat lebih ditingkatkan.?

Melalui pendekatan Subdistrict raising model, dimana Ustadz Haris selaku Ketua Kelompok bersama pengurus KTT merangsang para pemilik ? ternak untuk bersatu dalam kelompok. Kegiatan mereka terkumpul secara kandang dan manajemen, dalam artian reproduksi, pakan, kesehatan, pengolahan dan pemasaran bersatu pada level desa. “Saya dinilai oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes telah sukses menerapkan program Sanak Sekadang (Sehat Ternak Sehat Kandang),” tutur Haris.

Dia menyampaikan, bahwa Yulia memuji upayanya yang telah menggalakkan pengembangan usaha pembibitan Kerbau. Ustadz Haris telah melakukan ? pengembangan tiga pilar peternakan, yakni pertama, pengembangan potensi ternak dan bibit ternak (recording yang valid dan berkelanjutan). Kedua, pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) di tanah tidur atau tanah bengkok, dan ketiga pengembangan teknologi budidaya dan pembibitan ternak ber-Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).

Haris juga menyampaikan penuturan Yulia, bahwa keberhasilan dirinya meskipun belum secepat yang dibayangkan, namun dengan memulai para peternak mencatat perkembangan ternak kerbau dan pola perkawinan terseleksi serta tidak mudah menjual ternak, adalah langkah awal yang brilian.?

Keberhasilan Haris di tengah kesibukannya mengajar ngaji anak-anak di Madrasah Diniyah, sangat perlu mendapat apresiasi dalam menerapkan pola budidaya tradisional menjadi peternak pembibit yang diikuti seluruh peternak kerbau di desanya.?

Hal ini menjadi acuan pelestarian dan pengembangan ternak kerbau lumpur yang mulai terpinggirkan oleh modernisasi teknologi pertanian secara umum. Dari karya besar Ustadz Haris sudah mewujudkan spirit ‘Kerbau Lumpur Brebes dari Desa Kebandungan-Bantarkawung untuk Indonesia’.

Dari prestasinya dalam menernak kerbau tersebut, tidak menyurutkan langkah Ustadz Haris untuk tetap membimbing anak-anak di Madrasah Diniyah. Baginya, membimbing dan mendorong anak-anak di desanya untuk mengaji sangat penting untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter. Dari kegiatan menernak kerbau inilah Ustadz Haris berupaya mengajarkan arti kerja keras kepada santri-santrinya. Kerja keras dalam mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat dan agama.?

Keberhasilan Ustadz Haris dalam menjalani semua pengabdiannya itulah yang membuat masyarakat sepenuh hati mempercayainya sebagai ‘komandan’ masyarakat di dalam kelompok tani ternak. Karena tidak mudah mengembangkan peternakan secara bersama-sama dalam sebuah wadah kelompok tani ternak jika tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Warga juga makin percaya kepada Ustadz Haris karena pengadian sepenuh hati yang dilakukannya dalam mendidik anak-anak warga desa di Madrasah Diniyahnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Syariah, Doa, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Pergeseran Tata Nilai NU

PENGANTAR REDAKSI: 1 Oktober 1995, H. Mahbub Djunaidi wafat. Ia dijuluki pendekar pena karena kemampuannya menulis beragam bentuk, mulai dari esai, puisi, drama, cerpen, dan novel. Ia juga penerjemah. Meski semua jenis tulisan dikuasai, ia lebih suka dibilang sastrawan.

Mahbub juga aktivis. Ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan salah seorang Ketua PBNU. Juga pernah menjadi politikus.   

Pergeseran Tata Nilai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergeseran Tata Nilai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergeseran Tata Nilai NU

Sebagai haul kedelapan belas H. Mahbub Djunaidi, redaksi akan memuat tulisannya. Juga akan memuat tulisan orang lain tentang dia. Berikut salah satu tulisan dia, Pergeseran Tata Nilai NU. 

Buku Pramudya Ananta Toer yang ditulisnya di Pulau Buru memang dilarang. Tapi ada kalimat di situ yang menarik perhatian saya. Bunyi kalimat Itu: bersikap adillah sejak dalam pikiran. Siapa bisa bantah kebenaran anjuran itu ? Jelas saya, tidak.

SMA Negeri 1 Slawi

Oleh sebab itu saya berusaha bersikap adil menilai kasus DR. KH. Idham Chalid. Sikap adil bukan saja mulai dalam pikiran, tapi juga ketika menuangkannya dalam tulisan ini. Sikap adil apa yang saya maksud? Begini. Dari sejak awal tahun 60-an saya mengidap sikap ganda terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Di satu pihak saya menyukainya, dan pada saat yang berbarengan saya menolaknya. Pergantian sikap yang satu ke sikap yang lain begitu seringnya sehingga sulit dihitung jari.  Dan karena seringnya itu pula, maka segala sesuatu berjalan seperti tidak ada apa-apa. Bila laki-bini tiap menit bertengkar, para tetangga menganggapnya angin lalu. Tak seorang pun menyimak, kecuali meludah.

Apanya yang saya suka? Pertama karena dia kurus. Saya suka orang yang kurus. Kedua humornya tinggi. Saya suka humor, saya benci cemberut. Bukankah cuma binatang yang tidak suka tertawa? Ada memang saya dengar binatang kuda bisa tertawa, tapi saya kira itu bohong besar.

SMA Negeri 1 Slawi

Dan apanya yang saya tolak? Sifat pelupanya yang tinggi. Ini memang manusiawi. Tapi jika kelewatan, masalahnya bisa jadi lain. Akibat sifat ini, sering dia bilang A pada saya dan bilang B pada lain orang. Padahal perkaranya itu-itu juga. Ini membuat saya tersandung-sandung. Padahal saya kurang suka tersandung-sandung itu. Kemudian saya juga kurang sepakat dengan kebiasaannya mengambang pada saat keputusan yang diperlukan. Bukankah tugas seorang pemimpin sebetulnya gampang saja: mengambil keputusan? Bilamana seorang pemimpin tidak suka mengambil keputusan tegas yang jadi pegangan (tak peduli keputusan itu benar atau meleset), maka segala sesuatu akan jalan mengambang. Seperti layang-layang putus talinya, dan akan jadi rebutan anak-anak.

Atas dasar itu saya sering melancarkan kritik terbuka, kadang kala keras. Akibatnya sering membawa akibat fatal buat diri saya, tapi saya tidak peduli. Misalnya kasus yang menimpa harian “Duta Masyarakat”. Sebagai pemimpin redaksi koran partai NU, saya tidak begitu saja tunduk kepada jalan pikirannya. Berulang kali saya ditegur, tapi saya nekad. Saya percaya sayalah yang benar karena jurnalistik memang bidang saya. Apa akibatnya? Akibatnya tentunya pada suatu saat turun suatu keputusan yang isinya cukup jelas: Harian “Duta Masyarakat” dipecat selaku organ resmi partai NU! Kendati akhirnya rujuk lagi, tapi yang jelas harian resmi partai NU itu pernah jadi anak gelandangan.

Apakah sikap penolakan terbuka saya ini diterima baik oleh alam seputar? Tentu saja tidak. Sikap saya seperti itu dianggap “bukan kultur NU”. Dianggap menyimpang dari tata nilai NU. Orang NU yang baik adalah orang NU yang menyimpan kritik di dalam saku belakangnya. Mengkritik pemimpin adalah bertentangan dengan keharusan hormat kepada orang tua. Bertentangan dengan akhlak “tawadhu”. Maka harga saya segera merosot menjadi harga seekor serigala yang mesti dijauhi. Mesti diceburkan kecomberan!

Orang yang paling rajin menasihati saya supaya merubah akhlak saya itu adalah KH. Saifuddin Zuhri. Merasa menjadi orang yang paling paham “kultur dan tata nilai NU”, dengan sendirinya saya senantiasa dapat dampratan, paling sedikit cegahan. Jangan begini dan jangan begitu. Bukan cara NU begitu. Mengkritik model begitu sudah berada di luar garis peradaban NU. Dan seterusnya.

Maka akibatnya sudah bisa dibayangkan: saya bingung bukan alang kepalang. Apakah saya mesti berdiam diri seperti sebatang lilin? Apa mesti saya telan saja apapun yang datang ke mulut tanpa periksa sedikitpun? Apa mesti saya iyakan apa yang mestinya saya tidakkan? Apa saya mesti meningkahi irama gendang yang ditabuh seorang pemimpin? Apa mesti saya tersenyum-senyum dan manggut-manggut meskipun saya tidak yakin kebenarannya? Apa kritik itu termasuk barang yang haram? Bagaimana mestinya yang bersikap “tawadhu” sedangkan saya berpendapat yang berbeda? Bagaimana mestinya saya mengatakan “Nol!” itu? Apa cuma boleh dalam mimpi?

Begitulah saya mendapat ceramah tentang “kultur dan tata nilai NU” sehingga saya bisa lulus cum laude bilamana diadakan satu ujian. Simpanlah kritik kamu itu, atau lemparkan ke tengah samudra hingga lenyap selama-lamanya. Unjukkan sikap “tawadhu” kepada pemimpin, tak peduli apapun yang dilakukan pemimpin itu. Itulah cara yang terbaik dan itulah cara yang paling selamat. Bikinlah kalbu pemimpin itu senantiasa girang gembira, itulah jalan terbaik yang tersedia bagimu. Sekarang saya menjadi bingung. Amat bingung! Orang yang justru jadi penasihat saya, orang yang senantiasa mencegah saya melakukan kritik terbuka, justru sekarang menjadi pengkritik yang paling keras terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Dan orang itu tak lain dan tak bukan dari KH. Saifuddin Zuhri sendiri! Bahkan bobot kritiknya jauh lebih keras dari yang biasa saya lakukan.

Rupanya dunia sudah terbalik sungsang, pikirku. Rupanya malam sudah menjadi siang dan siang menjadi malam. Sang wasit agung sudah turun sendiri ke lapangan dan menggiring bola hingga ke tiang gawang. Apalagi jadinya kalau bukan membikin saya terlongo-longo? Apa sesungguhnya sudah terjadi? Apa sekedar fatamorgana atau nyata senyata-nyatanya? Pening kepala saya.

Yang membikin saya lebih terlongo-longo adalah peristiwa belakangan ini. Bukan cuma KH. Saifuddin Zuhri yang turun langsung lancarkan dia punya misil kritik terhadap diri DR. KH. Idham Chalid, melainkan juga para ulama besar NU, saya ulang: para ulama besar NU! Bilamana NU itu dimisalkan sebagai perseroan terbatas, maka para ulama itu merupakan para pemegang saham istimewa yang kedudukannya tinggi di atas awan. Nah, apa komentar saya terhadap kejadian ini.

Kritik terbuka tampaknya sudah mulai membudaya. Kultur dan tata nilai yang selama ini dianggap amat mapan, dianggap tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, sekarang sudah berubah bentuk. Sekarang sudah bergeser. Sudah bergerak mencari bentuk barunya. Apakah ini berkat perubahan tata nilai masyarakat itu sendiri? Apakah ini menjadi kemauannya sang evolusi sosial itu sendiri?

Apalagi kritik para alim ulama NU terhadap kepemimpinan DR. KH. Idham Chalid bukanlah kritik sembarang kritik, melainkan kritik yang berbobot berton-ton. Kritik itu sudah menggunakan “fiqh” sebagai barometer. Artinya, DR. KH. Idham Chalid oleh para alim ulama besar NU termasuk Rois Aam NU, dianggap sudah berbuat di luar pagar kaidah “fiqh”. Apa artinya jika seorang Ketua Umum Tanfidziyah NU sudah dianggap para alim ulama tidak lagi berpijak pada kaidah “fiqh”? Tak mampu saya bayangkan.

Sikap ini sudah dikemukakan secara blak-blakan oleh para alim ulama termasuk Rois Aam di depan Menteri Agama Alamsyah malam Jum‘at tanggal 4 Juni 1982 di Jakarta. Malam itu Menteri Agama mengundang para alim ulama yang terdiri dari KH. As‘ad Syamsul Arifin dari Situbondo, KH. Machrus Ali dari Kediri, KH. Ali Maksum dari Krapyak. Sesudah makan malam, mereka berbincang selama 1 jam 20 menit. Satu perbincangan yang lama dan intensif.

Tidak mudah menyimpulkan segala macam apa yang sedang terjadi di dalam tubuh NU ini. Tapi secara gampang-gampangan saja, bisalah saya katakan bahwa sedang terjadi pergeseran kultur dan tata nilai NU secara amat mendasar. Apa sebab secara mendasar? Karena baru kali ini terjadi seorang Ketua Umum Tanfidziyah berbeda pendapat dengan para alim ulama NU. Baru kali ini para alim ulama NU menganggap Ketua Umum Tanfidziyah (DR. KH. Idham Chalid) sudah tidak sejalan dengan kaidah “fiqh”.

Apa ujung cerita ini? Mana saya tahu! Yang jelas, ini bukanlah sekedar masalah rutin. Ini masalah amat mendasar yang menyangkut nilai-nilai dasar NU sendiri. Eksistensi rohaniah NU berada dalam taruhan. Bila organisasi yang namanya “Nahdlatul Ulama”, para ulamanya sudah bilang A dan Ketua Umum Tanfidziyah bilang B, hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana menyelesaikan kemelut esensiil ini. Betul lho, saya tidak tahu.

Merdeka, 12 Juni 1982.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan

Jember, SMA Negeri 1 Slawi. Seorang pendeta Kotlik di Jember, Jawa Timur, Romo Deni menyambut posisitf acara Refleksi 1 Tahun Asparagus Jember yang digelar di Pondok Pesantren AlFauzan Ajung, Jumat (13/10) malam.

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Katolik Jember Tegaskan Perbedaan adalah Keindahan

Menurut Romo Deni, dengan diundang dan hadir pada kegiatan tersebut, dirinya bisa menjalin komunikasi dan tukar informasi, sehingga tahu keberadaan Islam dan pesantren yang sebenarnya.

"Kita semua saudara. Kebetulan kami Katolik, dan Saudara Islam. Perbedaan itu tidak boleh memecah belah,” katanya.

Ia menegaskan perbedaan merupakan keindahan. Dengan bertemu, bisa saling menghargai, dan berusaha mengenal pesantren.

“Agar kami tidak takut sama kiai, dan kiai tidak takut sama kami,” jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief, kembali mengingatkan pentingnya kesederhanaan yang diperolah dari pesantren. Dengan kesederhanaan dan kemandirian, pesantren tetap bertahan dalam  situasi dan kondisi bagaimanapun.

“Dengan kemandirian, kesederhanan serta keikhlasan para Kiai NU, pesantren jadi  basis kekuatan besar perjuangan merebut kemerdekaan, jadi kesetiaan para kiai dan pesantren terhadap negara tidak bisa diragukan lagi," tegas alumni Pesantren Annuqoyah di Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Pengasuh Pesantren Silo ini berharap nilai-nilai yang dimiliki oleh para kiai terdahulu tetap dipertahankan oleh para Lora-lora dan Gus-gus.

SMA Negeri 1 Slawi

"Moto Asparagus, Menjaga tradisi menjalin silaturahmi. Itu sangat tepat," tegasnya.

 

Kembangkan Potensi 

Menurut Wabup, potensi yang dimiliki pesantren di Jember sangat besar. 

“Ada 570 lebih pesantren di Jember, dengan ratusan ribu santri. Potensi inilah yang harus banyak menjadi renungan oleh para Lora-lora dan Gus-gus,” katanya. 

Salah satu contoh, sambung Wabup, berapa kwintal jumlah kebutuhan beras per hari, berapa banyak buku-buku yang dibutuhkan, dan kebutuhan lainnya.

“Kalau Asparagus bisa  merajut  potensi ekonomi itu, sungguh akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Masalah managemen itu bisa dilakukan, ada Universitas Jember di sini,"  lanjutnya.

Hal yang penting adalah bagaimana tetap merajut potensi yang ada, lantaran para santri biasanya sangat kreatif.

“Dalam keadaan terjepit akan muncul kreatifitas,” kata Wabup.

Menurutnya masalah bantuan hanyalah suplemen.

“Jika bergantung ke atas, akan rapuh. Tapi kalau kita mandiri akan bisa bertahan,” tandasnya. (Khoerus/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi PonPes, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan

Way Kanan, SMA Negeri 1 Slawi. Muhammad? Setyo Mukti Wicaksono, dalang cilik yang tercatat sebagai Pelajar SMPN1 Baradatu Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung akan meramaikan rangkaian puncak hari lahir (harlah) Nahdalatul Ulama (NU) ke-90 di Gedung PCNU Way Kanan, Jalan Lintas Sumatera Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu.

Ketua Lakpesdam Way Kanan Supri Iswan selaku Koordinator Harlah NU ke 90 di Blambangan Umpu, Rabu (3/2) menyatakan, Mukti akan tampil pada 8 Februari mulai pukul 20.00 WIB.

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan

Muhammad? Setyo Mukti Wicaksono, lahir di Way Kanan, 3 Maret 2001. Belajar mendalang di Sanggar Mukti Budaya Radio Rapansa? Baradatu. Mukti tercatat tampil mendalang ke 15 kalinya pada Festival Dalang Bocah Nasional pada 2012.

SMA Negeri 1 Slawi

Pada Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional Tahun 2015, di Museum Seni Rupa, Taman Fatahilah, Jakarta Kota, Mukti ditetapkan panitia sebagai Juara II Penyaji Lakon Terbaik, membakan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta dengan lakon Gatotkaca Jago.

SMA Negeri 1 Slawi

"Allhamdulillah, NU dapat sumbangan pemantasan wayang kulit dari Ketua PGRI Way Kanan Sugiharto Pandu Dwijo Prayitno untuk meramaikan Harlah ke 90. Ini tentu kita syukuri," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda menambahkan.

Selain sumbangan pementasan wayang oleh putranya, Sugiharto Pandu juga membantu persoalan sound system, tarub dan menyiapkan siaran langsung kegiatan Harlah NU di Way Kanan melalui Radio Rapansa FM 96,5 Mhz miliknya.

"Saya hanya bisa membantu itu untuk NU. Silakan dipakai untuk meramaikan harlah NU," ujar Pandu yang juga berkomitmen mendorong kemandirian kader GP Ansor Way Kanan itu lagi.

Setelah selesainya lomba dan pengajian di sejumlah MWCNU mulai 30-31 Januari. Puncak peringatan Harlah NU ke 90 digelar di PCNU Way Kanan mulai 7 hingga 9 Februari yang ditutup pengajian akbar oleh KH Mahfudz Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahun Najah, Pringsewu, Lampung yang merupakan alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jawa Timur. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Doa, Ubudiyah SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil

Jombang, SMA Negeri 1 Slawi. Dengan duduk berhadapan, Muhibbulloh salah satu pengurus jamiyah Yasinan dan Tahlil Dusun Babatan Desa Kedawong Kecamatan Diwek Jombang dengan telaten melayani pinjamaan modal bagi anggotanya. 

Kegiatan peminjaman ini dilakukan usai menjalankan pembacaan Yasin dan Tahlil setiap malam Jum’at. Dengan modal saling percaya jamaah ini telah memiliki omset sebesar Rp 16,5 juta selama dua tahun yang digulirkan tanpa ada bunga sama sekali.

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil

“Alhamdulillah, dengan adanya dana Yasinan dan Tahlil ini masyarakat tidak lagi meminjam dari rentenir yang getol masuk di desa ini,” ujarnya bercerita.

SMA Negeri 1 Slawi

Muhibbullah menceritakan, kegiatan simpan pinjam modal di desanya memang dilatarbelakangi maraknya rentenir yang masuk dalam perekonomian masyarakat di lingkungan dusun Babatan Desa Kedawong Diwek Jombang. Melalui PKBM Sanggar Belajar Yalatif yang memberikan infaq Dana kepada Jam’iyah Yasin Tahlil membuat sistem perbantuan ekonomi dengan sistem Simpan Pinjam Tanpa Bunga (SPTB). 

SMA Negeri 1 Slawi

“Kegiatan yang dilakukan sejak bulan September 2010 ini sampai saat ini telah memiliki modal sebesar Rp16,2 juta dan dipinjam bergiliran oleh 32 orang dari 70 anggota jam’iyah,” bebernya.

Untuk bisa meminjam modal usaha, dikatakannya, nasabah harus terlebih dahulu menjadi anggota aktif Jamiyah Yasin Tahlil dan mendaftar dengan uang pangkal (simpanan wajib) sebesar Rp. 5.000. Soal berapa besar pinjaman untuk setiap anggota bervariasi. 

“Untuk modal usaha maksimal pinjaman Rp 1 juta sedangkan untuk keperluan konsumtif maksimal pinjaman Rp500.000,” ungkapnya.

Muhib meyakinkan, bahwa setiap nasabah yang hutang menerima utuh modal yang dipinjam tanpa adanya potongan administrasi sebagaimana di koperasi atau yang lainnya. Sedangkan terkait pengembalian juga dilakukan secara utuh dengan cara mengangsur selama 20 kali kegiatan Yasin tahlil atau 20 minggu dengan toleransi absen 2 kali,

”Berapa yang diangsur tidak ada ketentuan, yang penting 20 pertemuan Yasin Tahlil bisa lunas, jadi jika melakukan pengembalian nasabah juga dilakukan saat kegiatan Yasin dan tahlil,” ungkapnya seraya mengatakan selama masih memiliki pinjaman, setiap anggota bisa memasukkan infaq sukarela ke dalam kaleng yang disediakan jamaah.

Dari infaq para nasabah dan jamaah ini pada akhir tahun (bulan Sya’ban) baru dibuka. Adapun dana infaq dari kaleng peruntukannya dibagi menjadi 3 kegiatan, yakni 20 % untuk petugas pencatat, 30 % untuk dana sosial (bila ada tetangga kesusahan) dan yang 50 % untuk tambahan modal atau Kas Yasinan.

Bagaimana cara pengurus menghindari kredit macet..? Dikatakan Muhib, untuk menghindari pinjaman agar tidak macet, beberapa cara dilakukan diantaranya adalah setiap anggota yang meminjam, maka antara Pengurus dan Peminjam melakukan akad pinjam meninjam disaksikan seluruh Jamaah. 

“Saya Pak Fulan dengan ini meminjam uang Yasinan sebesar Rp 1 juta untuk modal usaha, semoga barokah,” ucapnya dan akan menggembalikan dalam waktu 22 pertemuan.

Dengan akad pinjam modal dengan model ini dikatakan Muhibbullah sebagai bentuk tanggung jawab seorang nasabah terhadap seluruh jamaah yasin dan tahlil. 

“Akad pinjam ini efektif untuk menghindari kredit macet,“ jelasnya.

Disamping itu, ada sanksi sosial yang juga dijalankan atas kesepakatan jamaah, karena dana yang dipinjam adalah uang Jam’iyah Yasiin, sejak awal dibentuknya SPTB ini semua anggota telah bersepakat bahwa ketika ada anggota yang ngemplang utang, maka kalau dia atau keluarganya meninggal. Masyarakat tidak akan datang untuk Tahlil ke rumahnya.

”Faktanya membuktikan bahwa uang infaq sukarela peminjam yang dikumpulkan ketika dibuka di akhir tahun jumlahnya lebih besar dari bunga konvensional,” bebernya.

Dari kegiatan Simpan Pinjam melalui Jamaah Yasin Tahlil ini, hari ini bisa dirasakan masyakarat. Diantaranya adalah tidak ada rentenir yang berani masuk Dusun Babatan Desa Kedawong Diwek. Karena uang mereka tidak laku lagi, karena bunganya juga sangat tinggi. 

“Dan Alhamdulillah kini masyarakat sudah mulai ada rintisan wirausaha. Ada sebanyak 21 Rumah Tangga yang memiliki jenis usaha, seperti pengolahan kripik gadung dan tape ketan hijau "tjap sanggar" dan lain lain dibawah naungan PKBM Sanggar Belajar Yalatif,” pungkas Zainudin yang terus mendampingi kegiatan masyarakat ini.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Warta, Doa, Sholawat SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 27 November 2017

Bupati Apresiasi Posko Mudik Banser Brebes

Brebes, SMA Negeri 1 Slawi. Posko Mudik Banser Kabupaten Brebes mendapat Apresiasi dari Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE. Terbukti pada Rabu dini hari (15/7) Bupati menyambangi Posko sembari sahur bersama anggota Banser yang tengah berjaga di Jl Ahmad Yani Brebes. Kedatangan Bupati menambah semangat relawan yang tengah berjaga, apalagi Bupati membawa ratusan dus makanan santap sahur.

“Kami sangat bangga dengan Bupati yang ke royo-royo menyambangi posko kami,” tutur Ketua PAC Ansor Kecamatan Brebes Moh Subekhan kepada SMA Negeri 1 Slawi.

Bupati Apresiasi Posko Mudik Banser Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Apresiasi Posko Mudik Banser Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Apresiasi Posko Mudik Banser Brebes

Dalam kesempatan tersebut, Subekhan menceritakan perihal pendirian posko mudik yang telah berlangsung lama. Katanya, tradisi pendirian posko sebagai upaya menolong para pemudik dan juga warga masyarakat Brebes yang hendak menyeberang ke pasar. 

SMA Negeri 1 Slawi

“Kebetulan posko kami tetap di lontrong yang biasa warga Brebes menyeberang ke pasar, jadi kami lebih banyak membantu menyeberangkan mereka,” tutur Subekhan kepada Bupati.

Bupati menyarankan kepada seluruh anggota Banser yang bertugas untuk menjaga kesehatan dan utamakan keselamatan bersama. Para pemudik harus dibantu, apalagi mereka sangat dinanti-nantikan keluarganya di rumah. “Bantuan yang diberikan Banser, tentu sangat bermanfaat bagi para pemudik,” puji Bupati. 

SMA Negeri 1 Slawi

Bupati yang didampingi suaminya Drs H Kompol Warsidin MHum, Staf Ahli Bupati Bidang Kesra, Dra Hj Lely Mulyani juga mengunjungi Posko Banser di Kluwut, Tanjung dan Kantor Kecamatan Wanasari. 

Ditempat terpisah, Kasatkorcab Banser Kabupaten Brebes Moh Ikhwan HMS menjelaskan, sebanyak 500 anggota Banser dari berbagai Satkoryon Banser se-kabupaten Brebes membantu secara sukarela. Mereka juga ditempatkan di pusat keramaian dengan membangun pos pengamanan dan area istirahat. “Kami akan berusaha menolong pemudik yang melintasi Brebes dengan mengerahkan sekitar 500 personil lebih,” terangnya.

Menurut Ikhwan, siapapun pemudiknya akan dilayani secara baik. Pos-pos pelayanan Banser ditempatkan antara lain di SMP Islam Losari plus rest area, Masjid Al-Mukaromah Kluwut Bulakamba, Terminal, Masjid Izzul Islam Ketanggungan, Depan Kantor Kecamatan Wanasari plus area istirahat, Depan Kantor Baznas Brebes, Ciregol Tonjong, jalan lingkar Bumiayu dan perbatasan Paguyangan Purwokerto.

“Di pos exit tol Pejagan dan tol exit Banjaranyar Brebes Timur kami tidak membangun pos, tapi bergabung dengan pos Polres,” paparnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Santri, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 25 November 2017

Muslimat NU Sulsel Ingin Bumikan Al-Qur’an di Desa-desa

Makassar, SMA Negeri 1 Slawi?



Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan Majdah Agus Numang bercita-cita ingin membumikan Al-Quran di desa-desa Sulawesi Selatan.?

“Ada 3.030 desa di Sulawesi Selatan yang akan kita bumikan Al-Qur’an,” katanya pada Halal Bihalal yang dilaksanakan berbagai organisasi yaitu Forum Kajian Cinta Alquran Sulsel, Yayasan Jantung Cabang Utama Sulsel, FKA ESQ Sulsel, BK PAKSI Sulsel, Pengda Soina Sulsel, Perwosi Sulsel, IKA Pascasarjana Unhas, MT. AL Insan KPMP Unhas di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Sabtu (8/7).

Muslimat NU Sulsel Ingin Bumikan Al-Qur’an di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sulsel Ingin Bumikan Al-Qur’an di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sulsel Ingin Bumikan Al-Qur’an di Desa-desa

Ia menambahkan, kita akan membangun Sulsel yang qur’ani serta menyebarkan Islam yang ramah, moderat, ke seluruh pelosok daerah.?

Pada kesempatan tersebut, panitia mengundang penceramah Imam Islamic Center of New York yang menurut Majdah memiliki visi menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai, rahmatan lil alamin dan moderat.

"Insya Allah pada kesempatan hari ini, hikmah Halal Bihalal akan dibawakan oleh Imam Islamic Center of New York Shamsi Ali. Tentunya kita mengetahui beliau sudah 20 tahun berdakwah di Amerika. Tentunya banyak tantangan yang telah dihadapi,” katanya.?

SMA Negeri 1 Slawi

Pada kesempatan itu, Shamsi Ali mengajak untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai petunjuk.?

Selain itu, ia meminta agar jangan lupa bersyukur, yakni mempertahankan yang sudah ada dan melanjutkan yang sudah ada. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi Ahlussunnah, Nahdlatul, Doa SMA Negeri 1 Slawi

KH Quraish Shihab: Jangan Monopoli Kebenaran Tafsir Al-Qur’an

Tangerang Selatan, SMA Negeri 1 Slawi - Penulis Tafsir Al-Misbah KH Muhammad Quraish Shihab mengumpamakan ayat-ayat Al-Qur’an itu seperti berlian. Seseorang yang melihat berlian tersebut dari satu sudut akan melihat pancaran cahaya yang berbeda dengan sudut yang lainnya.

Namun demikian, ia menyesalkan, ada orang yang hanya melihat Al-Quran dari sudut yang ia senangi saja dan mengabaikan sudut yang lainnya.“Padahal ada arti lain,” kata Quraish di Pondok Cabe, Tangsel, Kamis (11/5) malam.

KH Quraish Shihab: Jangan Monopoli Kebenaran Tafsir Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Quraish Shihab: Jangan Monopoli Kebenaran Tafsir Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Quraish Shihab: Jangan Monopoli Kebenaran Tafsir Al-Qur’an

Dalam memahami Al-Quran, ia mengumpamakannya dengan orang yang melihat gajah. Jika ada yang mengatakan bahwa gajah itu besar, itu benar. Begitupun benarnya jika ada orang yang mengatakan bahwa gajah adalah binatang yang memiliki belalai.

Oleh karena itu, mantan Menteri Agama RI itu menilai, kebenaran itu bisa beragam. Kesalahan umat Islam dalam memahami Al-Qur’an adalah hanya menganggap satu makna atau tafsir saja yang benar.

SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

“Padahal Tuhan tidak bertanya lima tambah lima berapa, karena jawabannya hanya satu, sepuluh. Tuhan bertanya sepuluh itu berapa tambah berapa. Bisa tujuh tambah tiga, delapan tambah dua,” urainya.

Pemahaman seperti itulah, lanjut Duta Besar Indonesia untuk Mesir, yang seharusnya dihayati dan diajarkan agar tidak menimbulkan sikap perpecahan diantara umat Islam.

“Jangan menganggap hanya ini yang benar. Jangan memonopoli kebenaran,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Berita, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 20 November 2017

Kader PMII Majalengka Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris

Majalengka, SMA Negeri 1 Slawi. Para kader PMII Majalengka menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar diskusi rutin. Dengan pengantar itu, mereka berniat menciptakan lingkungan bahasa Inggris agar terbiasa dalam komunikasi sehari-hari.

Kader PMII Majalengka Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Majalengka Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Majalengka Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris

Agenda ini dipandu oleh  instruktur dari Happy English Course Pare Kediri di Gazebo pesantren Raudlatul Mubtadiin Cisambeng, Palasah, Majalengka, Rabu (11/2) pagi.

Kader PMII universitas Majalengka Mawah Khoerunnisa menyatakan rasa bangganya atas diskusi berpengantar bahasa Inggris. “Walaupun masih terus berlatih dalam menyusun kalimatnya, tapi hal ini menjadi kebanggaan.”

SMA Negeri 1 Slawi

Mawah yang juga mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris ini menambahkan, pelatihan ini sangat membantu karena insya Allah ke depan pihaknya akan membentuk kelompok belajar dan kelompok paduan suara PMII yang memakai bahasa Inggris.

SMA Negeri 1 Slawi

"Pokoknya anak PMII tiada henti harus memahami Bahasa Inggris. Soalnya, malam Jumat ada kegiatan pertemuan relijius dengan pidato berbahasa Inggris. Sementara malam Aha dada kegiatan pertemuan mingguan yang berisi drama english, debat berbahasa Inggris. Setiap hari peserta wajib berbicara bahasa Inggris,” ujar Ma’wah.

Sementara Ketua PMII Majalengka Iwan Irwanto mengatakan, walaupun agenda ini PMII hanya bersifat mengikut, namun itu sangat membantu para kader dalam menunjukkan kemampuannya selama beberapa hari mengikuti pelatihan di pesantren ini.

“Tak hanya itu para kader pula yang notabene bukan asli santri setidaknya bisa mengenal dunia pesantren dan nyantri di sini selama pelatihan berlangsung,” kata Iwan.

Iwan berharap ke depan para kadernya bisa lebih berdaya saing dengan organisasi mahasiswa lain dalam rekrutmen kadernya. Ini juga menjadi nilai plus bagi PMII Majalengka untuk menciptakan kader yang tak hanya mampu berwacana tapi mampu memperlihatkan kemampuannya khususnya komunikasi bahasa Inggris.

Acara dimulai pukul 20:00 dengan terlebih dahulu tahlillan dan ditutup dengan doa. Setiap hari 4 kali pembelajaran pukul 09-10 (grammar), pukul 10-11 (speaking), pukul 13.30-15 (tutorial program), pukul 16-17.30 (speaking), dan pukul 21-23 (grammar, trick, review). (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Lomba, Makam, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 19 November 2017

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan

Sumenep, SMA Negeri 1 Slawi. Kantor Pusat Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Mal wat Tamwil (KJKS BMT) Nuansa Umat (NU) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diresmikan pada Sabtu (14/12).

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kantor Koperasi Nuansa Umat Diresmikan

Hadir pada kesempatan tersebut tersebut Rais Syuriah PCNU Sumenep KH. Ahmad Basyir AS., Ketua PCNU A. Pandji Taufiq, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Hasan Mutawakkil Alallah, Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali, Ketua LPNU PBNU Musholihin, pengurus PCNU, MWC, banom dan lembaga/lajnah.

Sementara dari jajaran pemerintah tampak hadir Wakil Gubenur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Bupati Sumenep A. Busyro Karim, Ketua DPRD KH. Imam Hasyim dan perwakilan dari jajaran polisi dan TNI.

SMA Negeri 1 Slawi

Gedung berlantai dua dengan dominasi warna hijau diresmikan Rais Syuriah PCNU Sumenep KH. Ahmad Basyir AS dengan ditandai pengguntingan pita, disaksikan seluruh undangan yang berjumlah sekitar 750.

SMA Negeri 1 Slawi

Usai dilakukan peresmian, sejumlah undangan sempat mengunjungi kantor tersebut. Pada Sabtu malam dilanjutkan dengan pesta rakyat.? (M. Kamil Akhyari/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Amalan, Kiai, Doa SMA Negeri 1 Slawi

Habib Luthfi: Peringatan Maulid, Wujud Cinta Rasul

Jepara, SMA Negeri 1 Slawi. Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan perwujudan daripada cinta kepada Rasulullah SAW. Demikian diungkapkan Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di desa Robayan kecamatan Kalinyamatan, Rabu (6/6) kemarin.

Habib Luthfi: Peringatan Maulid, Wujud Cinta Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Peringatan Maulid, Wujud Cinta Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Peringatan Maulid, Wujud Cinta Rasul

Menurutnya, peringatan maulid merupakan wujud cinta kepada siapa saja. Bisa cinta kiai, ulama, wali utamanya kepada Rasul. Ketika tertanam cinta, maka sirah (sejarahnya) akan dibaca berulang-ulang, dibaca. Semisal membaca kitab Safinatun Najah bab Arkanul Islam, jika dibaca berulang-ulang akan muncul pemahaman yang berbeda. Semakin sering dibaca akan semakin bertambah paham.

“Pembacaan maulid yang dilakukan berulang-ulang akan memperoleh pemahaman yang berbeda. Hari ini dan kemarin akan menemukan pemahaman berbeda. Akan bertambah pula pemahamannya,” jelasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Begitu juga dengan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja melainkan setiap setiap hari senin dan upacara kebangsaan yang lain cinta kepada bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka merah-putih. “Kalau kita tidak cinta pada NKRI untuk apa kita harus melakukan upacara bendera. Hormat kepada sang saka merah putih?” tandasnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Habib Luthfi menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung yakni kita mesti bercermin kepada merah-putih. Bahwa merah-putih adalah harga diri bangsa. Kehormatan bangsa.

“Jika kita mau bercermin kepada merah-putih semestinya kita malu menjadi bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri bangsa. Pada sang saka merah-putih,” tegasnya.

Habib menambahkan, dengan membaca maulid maka sekaligus akan menemukan menemukan kisah Isra’ Mi’roj, Nuzulul Qur’an, Hijrah dan akhlak beliau.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Doa, Pahlawan, Aswaja SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock