Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Nadlatul Ulama (LTMNU) mengimbau, upaya paling baik menangkal ektremisme adalah dengan memperkuat kegiatan dari dalam. Memakmurkan masjid merupakan cara efektif merealisasikan usaha ini.

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen mengakui, masjid-masjid NU yang tersebar di beberapa tempat mulai diganggu oleh kelompok-kelompok berhaluan keras. Selain menjadi cermin tentang kelemahan pengurus masjid, persoalan ini menuntut penanganan secepat mungkin.

“Tidak ada jalan lain kecuali memakmurkan masjid,” ujarnya saat ditemui di Kantor PP LTMNU, Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

SMA Negeri 1 Slawi

Dengan memperbanyak aktivitas ibadah di dalam masjid, jamaah tak hanya menuai maslahat dalam hal ibadah dan hubungan sosialnya, tapi juga menghambat proses masuknya paham kekerasan ke dalam masjid.

“Apalagi masjid jamaahnya yang jelas. Jadi perlu diperdayakan dalam hal-hal positif,” imbuhnya.

SMA Negeri 1 Slawi

LTMNU juga menyarankan, Pengurus Cabang NU di setiap daerah untuk senantiasa memperhatikan kegiatan masjidnya. Mereka didorong untuk menggerakkan lembaga dan lajnah yang dimilikinya serentak memakmurkan masjid.

“Kan ada LDNU (Lembaga Dakwah NU) untuk mengisi dakwah, JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz) dalam hal mengaji, tarekat, dan lainnya,” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah warga NU, khususnya di kota Depok, mengeluh atas aksi pembubaran kegiatan ibadah yang dialami di masjid. Secara paksa, beberapa orang tak sepaham membubarkan aktivitas majelis taklim yang dianggap bidah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat

Makassar, SMA Negeri 1 Slawi. Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Anregurutta Haji (AGH) Sanusi Baco mengharapkan berharap semua pengurus tetap menjaga keikhlasan dalam mengurus umat dan tetap konsisten pada khittah NU 1926.

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

AGH Sanusi Baco: Jaga Keikhlasan Mengurus Umat

Kemarin (19/9), AGH Sanusi Baco memberikan pengarahan dalam Rapat Pleno Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama di Aula Gedung Universitas Islam Makassar.

Rapat ini dihadiri semua unsur pengurus syuriyah, tanfidziyah, lembaga, Lajnah dan badan otonom guna membicarakan persiapan Musyawarah Kerja NU Sulsel, mengevaluasi dan membicarakan program kerja yang akan dibicarakan pada Musyawarah Kerja Wilayah.

Ia mengharapkan setelah dua kegiatan besar terlaksana yakni pelantikan dan halal bihalal, semua pengurus tetap menjaga keikhlasan dalam menjalankan roda organisasi.

SMA Negeri 1 Slawi

“Pada musyawarah kerja nanti diharapkan semua pengurus hadir untuk memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan Nahdlatul Ulama khususnya di Sulawesi Selatan,” kata AGH Sanusi Baco.

SMA Negeri 1 Slawi

Beberapa isu akan dibicarakan pada Musker nanti, antara lain penanganan dan penataan asset NU, pengembangan pendidikan NU di Sulawesi Selatan, mendiskusikan isu-isu keagamaan dan mengadakan kerja sama dengan pemerintah daerah. (Andi Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita, Quote SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 29 Januari 2018

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak?

Solo, SMA Negeri 1 Slawi

Sore itu, suasana di kompleks Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta terlihat seperti biasa, usai menyelesaikan jadwal belajar sekolah diniyah, para santri bergegas ke tempat yang mereka tuju untuk mengikuti kegiatan ekstakurikuler.

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak?

Tak terkecuali dua santri, Wildan Aji Gumilang dan Abdul Rouf, dengan masih mengenakan sarung dan peci keduanya bergegas untuk pergi ke serambi masjid pondok. Tiba di lokasi, keduanya langsung bergabung bersama santri yang lain untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikurikuler jurnalistik dan sastra.

Setelah mendapat pengarahan dari sang pembimbing, buku yang mereka bawa mulai dibuka untuk berlatih menulis. Macam-macam tulisan yang mereka buat, ada puisi, berita, dan lain-lain. Posisi menulis pun dibebaskan, ada yang sembari tengkurap, duduk, bersandar pada tiang dan sebagainya.

Wildan, Rouf dan beberapa santri kelas 7 dan 8 SMP Al-Muayyad lainnya mengikuti kegiatan pelatihan tulis menulis ini kurang lebih sudah sekitar setengah tahun yang lalu. Kegiatan ini diadakan setiap Selasa, pukul 4 hingga 5 sore.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan jurnalistik termasuk salah satu ekstra pilihan yang mesti yang diikuti para santri. Selain itu ada pramuka, public speaking, sablon, kaligrafi, PBB, qiro’ah, dan rebana.

Kenalkan melalui sastra

Miftahul Abrori, sang pembimbing ekstrakurikuler jurnalistik, mengungkapkan dalam pelatihan ini para santri selain belajar jurnalistik, juga menggali kemampuan mereka di bidang sastra.

“Tadinya pihak sekolah hanya memberi pengarahan kepada saya untuk mengajar jurnalistik, namun saya mengusulkan untuk menyisipkan sastra pada ekstrakurikuler ini, dan pihak sekolah setuju,” papar Miftah, saat ditemui SMA Negeri 1 Slawi, belum lama ini (1/4).

Materi sastra diberikan Miftah kepada siswa sebagai perangsang untuk menulis. Menurutnya, pelajaram jurnalistik dirasa agak berat dicerna para siswa. “Materi jurnalistik yang saya sampaikan ternyata berat bagi mereka. Saya ingat, bahwa saya mengawali menulis dari menulis puisi, lalu cerpen, berita dan sedikit artikel,” tutur dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan ini ternyata juga mendapat sambutan yang baik dari para siswa. Pada awal pendaftaran, ada 80 santri yang memilih ekstra ini. “Meskipun sekarang, yang bertahan aktif hanya 40-an anak, tapi ini sudah lumayan,” ujar alumni UNU Surakarta itu.

Sampai setengah tahun ini, hasil dari pelatihan jurnalistik di Pesantren Al-Muayyad mulai terlihat. Para santri yang didorong untuk produktif membuat puisi dan cerpen, beberapa karya mereka bahkan bisa termuat di koran lokal.

Ditambahkan Miftah, selain mengikuti kegiatan ekstra jurnalistik, untuk mengasah potensi tulis menulis lainnya di pesantren yang pernah diasuh KH Umar Abdul Mannan tersebut, juga disediakan sebuah media, yakni Majalah Serambi Al-Muayyad. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar

Probolinggo, SMA Negeri 1 Slawi



Dalam rangka memberikan dukungan moral kepada calon jamaah haji (calhaj) Kabupaten Probolinggo ke Tanah Suci, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menggelar safari haji ke beberapa calon tamu Allah dan Rasulullah SAW yang akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini.

Rabu (12/7), safari haji ini dilaksanakan di 4 (empat) titik lokasi. Yakni, Maliya di Dusun Krajan Desa Matekan Kecamatan Besuk, Sosianto dan istrinya Ida Noerhayati di Dusun Desa Gunggungan Lor Kecamatan Pakuniran. Kemudian Anna Ratnawati di Dusun Krajan Desa Talkandang Kecamatan Kotaanyar. Serta A Fathoni Hidayat dan A Nurul Hidayati di Dusun Desa Kedungrejoso Kecamatan Kotaanyar.

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar

Safari haji ini diikuti oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengungkapkan bahwa kegiatan safari haji ini istiqomah dilakukan Pemkab Probolinggo sejak tahun 2003 silam. “Tujuannya adalah mendoakan calon tamu Allah dan Rasulullah sekaligus mempererat jalinan silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah,” katanya.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Tantri, kegiatan ini dimaksudkan untuk memperolah barokah Mekah dan Madinah dari para calon tamu Allah dan Rasulullah. Pasalnya calhaj ini memiliki magnet dan daya tarik yang luar biasa.

“Safari haji ini bertujuan sebagai dakwah dan jihad sekaligus syiar tentang haji. Karena banyak orang Islam yang rejekinya dilebihkan tetapi lupa kewajiban hajinya sampai meninggal dulu,” tegasnya.

Sementara Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin mengungkapkan bahwa setiap harta dijalankan untuk ibadah haji pasti mendapatkan pahala ibadah. Sehingga begitu dilebihkan hartanya segera daftarkan haji dan jangan bingung dengan lamanya antrian. Karena jika sudah mendapatkan undangan dari Allah maka antrian itu tidak berlaku. Sebab menjadi tamu Allah, kapanpun diundang terserah Allah SWT.?

SMA Negeri 1 Slawi

“Umroh itu sunnah sehingga setiap ibdah umroh tidak akan mampu menggugurkan kewajiban hajinya. Meskipun nantinya meninggal sebelum berangkat maka akan tetap dicatat sebagai ibadah haji. Karena setiap uang yang ditaruh di jalan Allah, nantinya akan dikalikan 700 kali kebaikan. Pasti kembali bentuknya dalam apapun terserah Allah,” tegasnya,” katanya.

Kepada para calon tamu Allah dan Rasulullah, Hasan meminta agar senantiasa diberi kelancaran selama menjalankan ibadah haji maka hendaknya menghormati kedua orang tua. Apabila sudah meninggal, datangi kuburannya dan doakan kedua orang tuanya. “Orang tua itu adalah pintu surga dari Allah SWT,” terangnya.

Hasan mengharapkan agar ibadah haji ini dilaksanakan dengan niat ikhlas lahir dan batin untuk mencari ridho dari Allah. Lakukan tahapan demi tahapan ibadah haji dengan baik. Bacalah doa yang sudah dihafal karena tidak ada bacaan wajib yang menggugurkan ibadah hajinya.?

“Mabrur bukan di Mekah dan Madinah, tapi setelah pulang ke kampung halaman. Bagaimana ibadahnya meningkat dari sebelum menunaikan haji. Perbanyak di masjid dan bukan di hotel. Semoga diberi sehat oleh Allah, berangkat dan pulang sehat dan menjadi haji mabrur. Jaga ibadah sholat lima waktu dengan baik,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

SMA Negeri 1 Slawi

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

SMA Negeri 1 Slawi

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Fragmen, Cerita, Santri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

Kabar Duka, Sekjen PBNU 1999-2004 H Muhyidin Arubusman Meninggal

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi?

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4). Ia meninggal pada usia 66 tahun.?

Muhyiddin Arubusman adalah tokoh NU dari Indonesia timur. Ia lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur 24 April1951. Masa mudanya ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pernah menjadi ketua umumnya pada periode 1981-1985.?

Kabar Duka, Sekjen PBNU 1999-2004 H Muhyidin Arubusman Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Sekjen PBNU 1999-2004 H Muhyidin Arubusman Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Sekjen PBNU 1999-2004 H Muhyidin Arubusman Meninggal

Ketua PBNU H. Robikin Emhas atas nama PBNU mengucapkan duka mendalam atas meninggalnya Muhyiddin Arubusman.?

“PBNU mengucapkan duka mendalam atas meninggalnya Pak Muhyiddin. Semoga beliau husnul khatimah, diampuni segala dosanya, serta mendapat tempat paling layak di sisi Allah. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerimanya,” katanya. (Abdullah Alawi)



SMA Negeri 1 Slawi



SMA Negeri 1 Slawi



? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaNu, Pondok Pesantren, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Batam, SMA Negeri 1 Slawi

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta pengusaha hiburan Batam menghormati Ramadhan dengan menutup usaha selama umat muslim menjalankan ibadah di bulan suci tersebut.

“Selama 11 bulan, pengusaha mendapat keuntungan, jadi tidak ada salahnya, jika satu bulan ini aktivitas hiburan libur," kata Kiai Ma’ruf di Batam, Jumat (24/8).

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Ia mengatakan pemerintah kota pun harus bijaksana mengambil keputusan buka-tutup usaha hiburan di Batam untuk menghindari konflik antara pengusaha dan organisasi masyarakat Islam.

Menurut Rais Syuriyah PBNU itu, pemerintah kota Batam terlambat memutuskan buka-tutup usaha hiburan Batam selama Ramadhan. "Seharusnya sekarang sudah ada komitmen buka-tutup itu," katanya.

Di tempat terpisah, Walikota Batam Ahmad Dahlan mengatakan hingga kini belum ada keputusan buka-tutup usaha hiburan. "Masih dalam pembahasan awal Dinas Pariwisata," katanya.

Ia mengatakan, sebelum ada keputusan baru, maka peraturan? buka-tutup usaha hiburan mengacu masih tetap pada SK Walikota Batam No 10 tahun 2006. SK yang diterbitkan menjelang Ramadhan tahun lalu itu menegaskan penutupan usaha hiburan 15 hari ditambah dua hari sebelum bulan puasa dengan formulasi 2-8-2-5, tutup dua hari sebelum puasa, delapan hari pertama bulan Ramadan, dua hari Nuzulul Quran dan lima hari terakhir bulan Ramadhan.

SMA Negeri 1 Slawi

Pengusaha tolak

Sebelumnya, pengusaha hiburan di Batam menolak usul Majelis Ulama Indonesia (MUI) menutup seluruh tempat hiburan malam selama Ramadhan untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah puasa.

SMA Negeri 1 Slawi

Penolakan tersebut disampaikan pengusaha hiburan Batam kepada Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Syamsul Bahrum saat pertemuan tertutup di Batam, Kamis.

"Kata para pengusaha, supaya para pekerja tetap bekerja, dan mereka bisa memperoleh keuntungan selama Ramadhan untuk membayar gaji berikut THR," kata Syamsul di Batam, Kamis.

Menurut Syamsul, pengusaha menginginkan hanya tutup tujuh hari menjelang, saat dan usai Ramadhan. "Mereka memberikan dua formulasi 2-1-1-3 dan 2-3-1-3," kata Samsul.

Formulasi 2-1-1-3 yaitu tutup dua hari sebelum Ramadhan, satu hari di awal Ramadhan, satu hari saat Nuzulul Quran, dan tiga hari terakhir Ramadhan.

Sedangkan formulasi 2-3-1-3 adalah tutup dua hari menjelang Ramadhan, tiga hari diawal Ramadhan, satu di Nuzulul Qur’an dan tiga hari terakhir Ramadhan. (ant/lik)



Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Cerita, Sejarah SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock