Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Arab Pegon

Biasanya disebut pula Arab Pego atau Arab Jawi, yaitu tulisan dengan huruf Arab atau huruf hijaiyah tapi menggunakan bahasa Jawa. Di daerah lain disebut dengan Arab Melayu karena menggunakan Bahasa Melayu atau Indonesia; atau bahasa lokal lain yang ditulis dengan huruf Arab. 

Jika dilihat dari kejauhan, tulisan Arab Pegon seperti tulisan Arab pada biasa, namun kalau dicermati sebenarnya susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab. Orang Arab asli tidak akan bisa membaca tulisan ini.

Arab Pegon (Sumber Gambar : Nu Online)
Arab Pegon (Sumber Gambar : Nu Online)

Arab Pegon

Huruf konsonan dalam tulisan Arab Pegon ini diwakili oleh huruf-huruf hijaiyah yang mirip bunyinya, seperti “m” dengan mim (Ù…). Sementara huruf vokalnya diwakili dengan huruf-huruf yang dalam tulisan Arab berfungsi untuk memanjangkan bacaan huruf, yakni alif (ا), wawu (Ùˆ) dan ya (ÙŠ). Alif untuk mengganti huruf “a”, wawu untuk huruf “u” dan “o”, serta ya’ untuk konsonan “I”. Untuk vokal e ditulis tanpa ada huruf bantu atau terkadang dipakai tanda khusus berupa garis bergelombang (~).  

Misalnya kata makan dituliskan dengan huruf mim, alif, kaf, alif dan nun menjadi ماكان dan kata belajar dengan hurub ba, lam, alif, jim, alif, dan ro’ بلاجار .

SMA Negeri 1 Slawi

Selain huruf yang sudah ada padanannya, untuk huruf yang tidak ada dalam abjad hijaiyyah seperti bunyi sengau “ng” atau dan huruf “c”, dipakai huruf tertentu dengan menambahkan titik tiga: Ng dengan ghoin (غ)titik tiga dan c dengan jim (ج) titik tiga.

Kalangan pesantren atau warga NU masih banyak menggunakan tulisan Arab Pego sebagai alat komunikasi tertulis. Arab pego ini diajarkan jauh lebih dulu dari pada sekolah formal Hindia Belanda, sehingga banyak orang tua yang tidak bisa membaca huruf latin atau buta huruf, namun bisa membaca tulisa Arab Pego.

SMA Negeri 1 Slawi

Dalam tradisi bahtsul masail di kalangan tarekat misalnya, pertanyaan dan jawaban tetap ditulis dengan huruf Arab Pego. Beberapa kitab karya ulama Nusantara yang berbahasa melayu atau jawa juga ditulis dengan huruf Arab Pegon. 

Tulisan Arab Pego, terutama dalam bahasa Jawa, biasa digunakan untuk ngabsahi atau memberikan makna kata-perkata dalam kitab kuning. Biasanya makna ini ditulis di sela-sela baris.

Pada masa lalu, Arab Melayu atau Jawi ini digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa pendidikan. Beberapa karya sastra seperti Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis dengan aksara Arab Melayu atau Jawi ini.

Demikian juga dengan karya-karya keagamaan seperti karya-karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari  di Banjarmasin atau karya-karya Kiai Shaleh Darat di Semarang, Jawa Tengah. Surat-surat raja Nusantara, stempel kerajaan,  dan mata uang pun ditulis dalam aksara Arab Melayu/Jawi ini.

Sejak tahun 1920an, Pemerintah kolonial secara pelan mulai menggantikan penggunaan aksara Arab Melayu atau Pego ini dan menggantikannya dengan aksara latin. Dalam beberapa decade, aksara Arab Melayu perlahan menghilang dari komunikasi tertulis secara resmi, baik di pemerintahan, pendidikan maupun media. 

Kini Arab Pego ini hanya dipakai di kalangan terbatas pesantren, baik di Jawa maupun di belahan Nusantara lainnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Sholawat, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 12 Februari 2018

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi

Semula saya mengira, wayang wolak-walik adalah karena cerita yang ditampilkan menggambarkan suasana ‘wolak-waliking’ zaman. Sempat pula saya menduga mungkin yang dimaksud wayang wolak-walik adalah selama pertunjukan, wayang-wayang akan sering dibuat berloncat-loncatan, sehingga bagian kepala wayang akan diletakkan di bawah, dan sesekali kakinya berada di atas.

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Wolak-walik, Satu Layar Dua Dalang

Namun, dua perkiraan itu keliru. Dinamakan wayang wolak-walik ternyata adalah karena satu kelir—layar sebagai media tempat wayang dipertunjukkan—dipakai oleh dua dalang.

Soal pencahayaan, pada kedua bagian layar itu tetap terkena cahaya lampu menyesuaikan bagian layar yang mana yang sedang dijadikan area berkisah.

SMA Negeri 1 Slawi

Selain keunikan tadi, karena dimainkan dua dalang secara bergantian, mereka pun membawakan cerita yang seakan-akan berbeda, namun sebenarnya berhubungan.

SMA Negeri 1 Slawi

Pun soal cerita dan para tokoh. Bila pada pertunjukan wayang purwa membawakan kisah Ramayana dan Mahabarata, wayang wolak-walik tidak ada tokoh baku yang ditampilkan. Tokoh bisa lebih kekinian, menyesuaikan kondisi atau tren saat ini.

Pada peringatan harlah NU di Gedung PBNU, akhir Januari lalu, misalnya, Dalang Azis dan Dalang Jumali, membawakan cerita seorang anak kecil yang di kampungnya terkena banjir. Anak kecil itu lalu meminta pertolongan kepada kiai.

Tetapi yang ada saat itu bukanlah kiai. Anak itu tidak mau menerima pertolongan orang lain. Sampai sang anak mengalami kesusahan dan tenggelam terbawa arus banjir. Padahal orang lain yang menolong itu, datang atas permintaan sang kiai.

Cerita tersebut membawa makna bahwa cara Tuhan untuk menolong sangat banyak. Kita dituntut berhati-hati untuk dapat menemukan kekuatan ilahi. Cerita juga menyimpan pelajaran bahwa keyakinan harus kita jaga, jangan mudah tergoyahkan. Apa yang menjadi tujuan harus kita pegang.

Lik Jum dan Ki Azis menampilkan cerita itu dengan gaya yang cair. Sesekali mereka memasukkan ungkapan ‘Om tolelot om’, ‘update status Facebook’, dan ‘buka pesan WathsApp’.

Kedua dalang memang membebaskan cerita, tidak ada aturan baku seperti misalnya dalam wayang purwa. Namun begitu, ada hal-hal yang pantas untuk direnungkan dari ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan.

Karenanya, dalam menyiapkan cerita kedua dalang menyesuaikan dengan momentum atau karakteristik tempat dan pihak yang mementaskan. Termasuk pada malam itu, kedua dalang membawakan semangat Islam Nusantara.

Musik pada pertunjukan wayang wolak-walik, juga berbeda dengan wayang purwa. Gola, pemain musik yang malam itu mengiringi kedua dalang, menerapkan konsep musik harus sama dengan isi cerita.

Ilustrasi musik, menurut Gola, berangkat dari logika bukan untuk ‘membagus-baguskan’, namun agar selaras dengan cerita. Bebunyian yang terbatas, membawa kondisi dan suasana jiwa yang diperankan wayang. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Quote, Pemurnian Aqidah SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

Pontianak, SMA Negeri 1 Slawi. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Kalimantan Barat menggembleng para kadernya melalui Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) II di Pondok Pesantren Darul Faizin, jalan Danau Sentarum Kota Pontianak, Kalbar, 12-15 Juni 2014. Para peserta didorong untuk setia membela tanah airnya.

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

"Dengan pengkaderan ini akan muncul kader-kader militan yang siap menjaga keutuhan NKRI dan Islam Ahlussunah wal Jamaah, sebagai Islam rahmatan lil alamin," terang Ketua PW GP Ansor Kalbar M Nurdin, Senin (16/6).

Menurutnya, PKL merupakan kegiatan wajib bagi pengurus PW GP Ansor, sebagai proses pengkaderan di tingkat wilayah. Subro, Sekretaris PW GP Ansor Kalbar, mengatakan, ada 33 orang peserta yang dibaiat untuk tetap setia kepada NKRI.

SMA Negeri 1 Slawi

Subro menambahkan, ke-33 peserta tersebut berasal dari pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Kalbar, dan utusan dari beberapa Pimpinan Cabang GP Ansor, antara lain Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan PKL ini mendapat sambutan positif dari pengasuh Pesantren Darul Faizin, Ust. Rudhy Abdullah Faiz. Ia berharap, dengan program ini hubungan antara GP Ansor dan pondok pesantren terus berlanjut dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya generasi mudanya.

Ungkapan serupa disampaikan Faisal Attamimi, instruktur PKL. Ia menekankan pentingnya kaderisasi bagi anggota GP Ansor di seluruh Indonesia.

"Ini juga menjadi syarat bagi sahabat-sahabat untuk menjadi pengurus GP Ansor dan mendapatkan pengesahan dari pimpinan pusat. Kalau ada pengurus belum ikut kaderisasi maka SK kepengurusannya tidak akan dikeluarkan," pesan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kepada para peserta PKL. (Yadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 29 Januari 2018

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak?

Solo, SMA Negeri 1 Slawi

Sore itu, suasana di kompleks Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta terlihat seperti biasa, usai menyelesaikan jadwal belajar sekolah diniyah, para santri bergegas ke tempat yang mereka tuju untuk mengikuti kegiatan ekstakurikuler.

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Jurnalistik di Serambi Masjid, Mengapa Tidak?

Tak terkecuali dua santri, Wildan Aji Gumilang dan Abdul Rouf, dengan masih mengenakan sarung dan peci keduanya bergegas untuk pergi ke serambi masjid pondok. Tiba di lokasi, keduanya langsung bergabung bersama santri yang lain untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikurikuler jurnalistik dan sastra.

Setelah mendapat pengarahan dari sang pembimbing, buku yang mereka bawa mulai dibuka untuk berlatih menulis. Macam-macam tulisan yang mereka buat, ada puisi, berita, dan lain-lain. Posisi menulis pun dibebaskan, ada yang sembari tengkurap, duduk, bersandar pada tiang dan sebagainya.

Wildan, Rouf dan beberapa santri kelas 7 dan 8 SMP Al-Muayyad lainnya mengikuti kegiatan pelatihan tulis menulis ini kurang lebih sudah sekitar setengah tahun yang lalu. Kegiatan ini diadakan setiap Selasa, pukul 4 hingga 5 sore.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan jurnalistik termasuk salah satu ekstra pilihan yang mesti yang diikuti para santri. Selain itu ada pramuka, public speaking, sablon, kaligrafi, PBB, qiro’ah, dan rebana.

Kenalkan melalui sastra

Miftahul Abrori, sang pembimbing ekstrakurikuler jurnalistik, mengungkapkan dalam pelatihan ini para santri selain belajar jurnalistik, juga menggali kemampuan mereka di bidang sastra.

“Tadinya pihak sekolah hanya memberi pengarahan kepada saya untuk mengajar jurnalistik, namun saya mengusulkan untuk menyisipkan sastra pada ekstrakurikuler ini, dan pihak sekolah setuju,” papar Miftah, saat ditemui SMA Negeri 1 Slawi, belum lama ini (1/4).

Materi sastra diberikan Miftah kepada siswa sebagai perangsang untuk menulis. Menurutnya, pelajaram jurnalistik dirasa agak berat dicerna para siswa. “Materi jurnalistik yang saya sampaikan ternyata berat bagi mereka. Saya ingat, bahwa saya mengawali menulis dari menulis puisi, lalu cerpen, berita dan sedikit artikel,” tutur dia.

SMA Negeri 1 Slawi

Kegiatan ini ternyata juga mendapat sambutan yang baik dari para siswa. Pada awal pendaftaran, ada 80 santri yang memilih ekstra ini. “Meskipun sekarang, yang bertahan aktif hanya 40-an anak, tapi ini sudah lumayan,” ujar alumni UNU Surakarta itu.

Sampai setengah tahun ini, hasil dari pelatihan jurnalistik di Pesantren Al-Muayyad mulai terlihat. Para santri yang didorong untuk produktif membuat puisi dan cerpen, beberapa karya mereka bahkan bisa termuat di koran lokal.

Ditambahkan Miftah, selain mengikuti kegiatan ekstra jurnalistik, untuk mengasah potensi tulis menulis lainnya di pesantren yang pernah diasuh KH Umar Abdul Mannan tersebut, juga disediakan sebuah media, yakni Majalah Serambi Al-Muayyad. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam, Cerita SMA Negeri 1 Slawi

Selasa, 23 Januari 2018

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang kerap disapa Kang Said mendukung sepenuhnya usulan seorang anggota DPR RI kepada Menkominfo beberapa hari lalu untuk menutup situs jejaring sosial Islam yang bersifat provokatif.

Namun Kang Said memberikan catatan bahwa penutupan website itu harus hati-hati. Website Islam yang berisi dakwah dan penyiaran syiar Islam, tidak masuk dalam daftar penutupan.

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif

?

“Artinya website itu, saya kira, harus dipilah-pilah. Kalau isi website itu merusak akidah, merusak perilaku yang cenderung kepada kekerasan, saya setuju website itu ditutup,” kata Kang Said kepada SMA Negeri 1 Slawi di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (29/7) sore.

SMA Negeri 1 Slawi

Terlebih lagi kalau isi website Islam itu cenderung berisi caci maki seperti mazhab Wahabi, lanjut Kang Said, saya sangat setuju penutupan website demikian. Karena, isinya memprovokasi, menghasut, meresahkan, dan membakar umat Islam.

Selain website yang bersifat provokasi, Kang Said juga mendukung penutupan website yang memengaruhi kuat kerusakan perilaku pengunjungnya seperti website porno.

SMA Negeri 1 Slawi

Sementara Rais Syuriyah PBNU KH Mashdar F Masudi menginginkan penutupan semua website yang bersifat provokatif.

“Seharusnya pemerintah tidak hanya menutup website Islam yang provokatif, tetapi semua website provokatif, yang memecah belah, menciptakan permusuhan di tengah masyarakat. Apapun yang provokatif itu tidak boleh,” tegas KH Mashdar kepada SMA Negeri 1 Slawi usai diskusi ‘Menggugat Empat Pilar’ di Kantor PBNU, Jumat (2/8) sore.

“Nahdliyin sendiri harus mewaspadai website Islam seperti arrahmah, voa islam, hidayatullah, nahi munkar, dan sejumlah website Islam lain yang tidak membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,” tegas Pemred Situs Resmi PBNU SMA Negeri 1 Slawi Syafi Alielha beberapa hari lalu.

Penulis Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Doa, Makam SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941

Depok, SMA Negeri 1 Slawi. Seandainya ada rekor Muri untuk anggota terlama NU, mungkin KH Muchit Muzadi atau akrab dipanggil Mbah Muchit menjadi pemenangnya karena ia telah menjadi anggota NU sejak tahun 1941. Bukan hanya anak-anak muda NU, para pengurus senior NU pun banyak yang belum lahir waktu itu.

Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941

Santri KH Hasyim Asy’ari ini menuturkan, ber-NU zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Kala itu, Muchit muda yang masih nyantri di pesantren Tebuireng ini harus mengajukan diri menjadi anggota kepada pengurus Kring NU atau pengurus Ranting NU agar diterima menjadi anggota. 

Tak semuanya bisa langsung diterima karena pengajuan tersebut harus diproses ditingkat Pengurus Besar NU. Baru pada empat bulan kemudian dinyatakan diterima sebagai anggota NU Kring Tebuireng. Tahap selanjutnya adalah membayar biaya pendaftaran sebesar 25 sen. Saat itu harga gula per kilo 10 sen, sehingga jika dikonversi pada nilai sekarang, biaya pendaftaran sekitar 30 ribuan. Lalu, tiap bulan anggota harus membayar ianah syahriyah atau iuran bulanan sebesar 20 sen atau sekitar 20 ribu rupiah. Ia juga mendapat kartu anggota yang ditandatangani oleh KH Wahab Hasbullah.

SMA Negeri 1 Slawi

Tak hanya itu, anggota memiliki kewajiban untuk ikut dapat pertemuan lailatul ijtima atau pertemuan bulanan, yang sering dipelesetkan dengan night club, karena artinya adalah adalah pertemuan malam.

SMA Negeri 1 Slawi

“Jadi untuk menjadi anggota NU itu sulit dan setelah menjadi anggota lebih sulit lagi,” katanya dalam forum halal bihalal dan sesarehan NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).  

Muchit yang Desember mendatang berusia 90 tahun ini menjelaskan, keinginannya untuk menjadi NU adalah untuk mengabdi dan berbuat sesuatu untuk NU.

“Saya paling takut kalau dipecat dari NU,” katanya dengan nada suara yang masih sangat jelas. 

Pengurus Kring, katanya, selalu memiliki catatan kewajiban dan keadaan para anggotanya. Karena skupnya masih kecil, maka antara anggota dan pengurusnya semuanya saling kenal. 

Dalam perjalanan menuju Jakarta, pramugari sampai terheran-heran, “Ada urusan apa sampai kakek-kakek yang sudah sepuh masih menyempatkan diri pergi ke Jakarta.” Baginya, NU adalah segalanya, tubuhnya yang sudah renta tidak menghalangi untuk mengikuti kegiatan NU.

Apa yang disampaikan oleh Kakak dari mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi ini bisa menjadi pelajaran, hal-hal baik NU zaman awal yang bisa digali kembali. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Makam SMA Negeri 1 Slawi

Senin, 08 Januari 2018

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Tarim merupakan nama suatu daerah terpencil di Hadhramaut, Yaman. Di sini aktivitas keilmuan dan kerohaniannya lebih terasa dibanding kota lainnya di Yaman. Tarim juga memiliki nuansa Ramadhan yang khas yang diwariskan secara turun-menurun. Suasana semacam inilah yang tidak ditemukan di daerah Yaman lainnya.

Antusiasme masyarakat Tarim dalam menyambut bulan Ramadhan sangat tinggi. Hal itu terlihat dari ramainya masjid-masjid pada siang hingga malam hari. Mereka menghidupkan bulan Ramadhan dengan Al-Qur’an, dzikir, shalawat, dan ziarah.

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Pelaksaan shalat tarawih di Tarim tidak hanya dilaksanakan dalam satu waktu serentak, namun bergantian secara estafet sejak pukul 19.30 hingga pukul 03.00 di beberapa masjid yang berbeda.

Yang unik dari suasana Ramadhan di Tarim, setelah melaksanakan shalat tarawih dan witir para jamaah tidak langsung pulang, tetapi mereka tetap duduk untuk bersama-sama melantunkan pujian kepada Rasulullah secara bersahutan dengan nada khas Tarim. Pujian ini disebut "Qashidah Fazzaziyah dan Witriyah". Vokalis pemilik suara merdu menambah rasa syahdu malam itu.

SMA Negeri 1 Slawi

Selama pembacaan qasidah terlihat beberapa orang tua yang mengabdikan diri kepada masjid berkeliling membawa bukhur (sejenis kemenyan), dan juga tampak orang orang berbaris memberikan minuman air dingin dan kopi khas Yaman. Sesekali di hari-hari tertentu juga diberikan air mawar asli untuk pewangi badan juga halawah (manisan) dan kaak (kue khas Tarim).

SMA Negeri 1 Slawi

Kemudian dilanjutkan pembacaan "Qawafi", yaitu lantunan syair yang berisi nasihat dan pengingat yang dibaca sesuai abjad huruf hijaiyah setiap harinya satu judul huruf hingga akhir bulan Ramadhan. Lalu diakhiri doa khusus di bulan Ramadhan yang ditulis Al Habib Umar bin Saqqof Asshofi. Biasanya ritual ini berlangsung selama 40 menitan.

Setelah usai orang-orang pun bersegera keluar dari masjid untuk pindah ke masjid lainnya mengerjakan shalat tarawih berikutnya dengan tata cara yang sama hingga akhir Ramadhan. Maka tidak diherankan jika di sini setiap orang dalam semalam bisa sampai melaksanakan tarawih hingga 100 rakaat. Ini bagi memiliki semangat yang tinggi. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Salim Assyatiri, misalnya, meskipun keduanya berusia senja sanggup menunaikan shalat 60 rakaat dalam semalamnya.

Menjelang sahur, biasanya ada dua anak muda yang satu orang menabuh "thosah" (sejenis gendang) yang satunya lagi melantunkan dzikir dengan lantang berjalan di jalanan dan gang-gang membangunkan ibu-ibu untuk menyiapkan santap sahur.

Khatmul Quran Ramadhan di Tarim disebut Khatmu Rubu sebab khataman ini dilaksanakan setiap 4 empat hari sekali. Di antara masjid yang melaksanakan Khatmur Rubu adalah Masjid Al Muhdlar, Masjid Baalawi, Masjid Saqqaf, Masjid Wael. selain itu, banyak juga masjid yang melakasnakan "Khotmu Sitt" yaitu khataman setiap 6 hari sekali.

Panasnya cuaca Ramadhan membuat masjid-masjid memasang puluhan AC khusus daerah padang pasir dan puluhan kipas angin. Infrastruktur penunjang disediakan untuk member kenyamanan para jamaah yang sedang sibuk beribadah. Kamar mandi pun disiapkan bagi yang ingin berendam mendinginkan badan di kolam mandi yang disebut "Jabiyah".

Antusiasme ini tidak hanya di malam hari bahkan saat Shalat Dluha, Dhuhur dan Ashar juga ramai dengan aktivitas membaca Al-Qur’an, dzikir, dan pengajian- pengajian majelis taklim yang membacakan kitab-kitab Salafus Shalih. Biasanya setiap selesai majelis taklim para hadirin membaca surat Yasin bersama. Dan di akhiri dengan "Qashidah Fardiyah", kaisdah nasihat yang dibaca oleh satu orang.

Biasanya setelah Ashar pada Jumat pertama bulan Ramadhan seluruh masyarakat dan santri mancanegara yang berada di Tarim melaksanakan ziarah ke makam para sahabat dan waliyullah di makam "Zambal" dipimpin oleh mufti Tarim dan para ulama Tarim, hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Kemudian peziarah bergegas ke masjid untuk berbuka dengan takjil yang telah disediakan dan dilanjutkan Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin, barulah setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing.

Pada hari ke-9 diadakan majelis di kediaman Al Imam Haddad dan kediaman keluarga Al Hamid. Perkumpulan ini lazim disebut "Tsamratu Tasi." Acara itu diisi dengan bermacam-macam kasidah nasihat.

Pada hari ke-19 diadakan majelis di kediaman Khalifatussalaf Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabuddin. Acara ini berisi ceramah agama dan nasihat lalu kasidah pujian tentang bulan Ramadhan sambil menikmati secangkir kopi khas Tarim.

Ada hal menarik juga di kalangan masyarak desa Tarim. Nuansa Islami di sini sangat terasa bahkan tidak hanya di dalam masjid melainkan di luar juga. Biasanya sejak tanggal 11 sebelas Ramadhan hingga 29 Ramadhan sambil berharap datangnya lailatul qadar masyarakat Tarim saling bertukar undangan dengan tetangga dan kerabat untuk bersantap hidangan buka puasa dalam rangka khataman masjid yang ada di sekitar rumahnya.

Sementara anak-anak kecil laki laki maupun perempuan saling berkunjung ke rumah teman bermain mereka saling bergantian menyanyikan lagu-lagu anak yang diwariskan para ulama pendahulunya dan lagu-lagu tersebut disebut dengan "Khotamy". Kegembiraan anak-anak itu kemudian bertambah dengan banyaknya hadiah yang diberikan pada mereka oleh tuan rumah, tentunya setelah lagu itu usai dilantunkan.

Sementara khataman akbar Al-Qur’an di masjid dipimpin oleh para ulama. Doa yang dibaca adalah doa khatmul qur’an susunan Imam Ali Zainal Abidin. Saat doa dirapalkan, air dan kopi dibagikan. Setelah selesai, dilanjutkan doa susunan Imam Abil Hirbah. Selanjutnya anak-anak kecil yang turut hadir diberikan kesempatan membaca doa "Birrul Walidain" untuk orang tua mereka secara bergantian. Dilanjutkan pembacaan khutbah "Qoff" dan khutbah milik salah satu dari Habib Idrus bin Umar Al Habsyi, Al Habib Hasan bin Sholih Al Bahr, Habib Abu Bakr bin Abdurrohman bin Syihab.

Ketika Ramadhan memasuki hari ke-21 maka masyarakat, santri, dan mahasiswa berduyun-duyun hadir ke masjid-masjid yang diistimewakan di Tarim. Keistimewaan masjid tidak ditinjau dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kealiman dan kewalian yang membangun masjidnya meskipun hampir semua masjid di sini terbuat dari tanah liat. Berikut di antara masjid-masjid istimewa tersebut.

Tanggal 21 Ramadhan di Masjid Syeh Abdurrohman Assaqqof dan Masjid Abi Bakr Assakron. Tanggal 23 Ramadhan di Masjid Al Awwabin milik Imam Haddad. Tanggal 25 Ramadhan Syeh Ali bin Abi Bakr Assakron. Tanggal 27 Ramadhan di Masjid Baalawi yang dibangun oleh Syeh Kholi Qosam abad ke-5. Tanggal 29 Ramadhan di masjid fenomenal dengan menara tertinggi yang terbuat dari tanah liat milik Syeikh Umar Muhdlor dan Masjid Al-Fath milik Imam Abdulloh bin Alwi al-Haddad.

Menurut pengamatan saya, suasana religius Ramadhan di Tarim yang diwariskan turun-menurun menggabungkan beberapa konsep mahabbah (cinta), yaitu cinta kepada Allah dengan amalan shalat dan puasa, cinta kepada kitab Allah dengan memperbanyak tadarus dan khataman, cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak shalawat, cinta kepada syiar Allah dengan memperbanyak majelis taklim dan daurah (pesantren Ramadhan) bahkan peserta daurah ada yang datang dari Amerika, Australia, Inggris, Malaysia, China, dan lain-lain.

Ini merupakan Ramadhan kedua yang saya alami di Tarim, sementara Ramadhan pertama saya di kota Mukalla Yaman. Meskipun di Mukalla juga banyak syiar-syiar Ramadhan namun religiusme Tarim tidak ada tandingannya. Mungkin salah satu faktornya adalah banyaknya wali-wali Allah dan para ulama sufi yang dijumpai di Tarim. Sebuah nuansa kerohaniahan yang murni mendekatkan diri kepada Allah.

Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Universitas Imam Syafii Yaman. Ditulis di Tarim, 7 Ramadhan 1437 H.

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Ahlussunnah, Makam, Tegal SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock