Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Mantan wakil presiden RI Try Sutrisno mengingatkan para pelaku politik negeri ini untuk kembali kepada sistem yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Keberhasilan dalam menata sistem politik tidak bisa diukur dengan standar sistem yang ada di negara lain.

“Kita harus punya sistem sendiri, baik fisik maupun non fisik; bahkan tidak perlu mencontoh karena kita punya Pancasila,” katanya dalam diskusi bertajuk “Amandemen UUD 45 dalam Dimensi Sosial, Ekonomi Politik” di kantor PBNU, Kamis (19/7).</p> Dikatakannya, praktek komunisme di Indonesia terbukti tidak bisa bertahan dalam suasana kebatinan banga Indonesia. Alih-alih memperbaiki tata kenegaraan Indonesia, faham asing itu justru mengganggu stabilitas negara.

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tri Sutrisno: Kita Punya Sistem Politik Sendiri

”Kita tidak belajar dari masa lalu. Sistem liberal pun pada akhirnya bertemu dengan komunis, sama-sama mempertanyakan keberadaan Tuhan,” katanya.

Sejak berakhirnya Orde Baru dan dimulainya era reformasi, tatanan politik Indonesia cenderung mengarah kepada sistem politik yang liberal. Itu pun dengan model yang sangat bebas dan terbuka dari intervensi asing.

”Pada umumnya negara-negara maju tidak sebebas di Indonesia. Di sini partai politik terlalu bebas. Pemerintahan menjadi tidak efektif,” katanya.

Sementara amandemen UUD 1945, kata Try, cenderung acuh terhadap aspek pertahanan dan keamanan. Padahal ancaman pertahanan dan keamanan datang dari berbagai lini kehidupan berbangsa, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri.

SMA Negeri 1 Slawi

”Sekarang aspek pertahanan dan keamanan tidak seperti yang dibanggakan dulu. Narkotika bisa bebas beredar. Ada terorisme, gerakan sparatis dan lain-lainnya yang mengancam NKRI dan UUD 45,” katanya.(nam)

SMA Negeri 1 Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Anti Hoax, Nahdlatul Ulama, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) meraih juara kedua organisasi kepemudaan (OKP) terbaik tingkat nasional 2013. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memilihnya atas dasar kemandirian OKP.

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raih Juara Kedua OKP Terbaik 2013

“Ketika Kemenpora membuka pendaftaran lomba OKP, kita memasukkan segala berkas yang disyaratkan,” kata Sekretaris Umum PP IPPNU Wildatus Sururoh kepada SMA Negeri 1 Slawi di studio Radio NU, Gedung PBNU lantai tujuh, Jakarta Pusat, Kamis (24/10) petang.

Setelah persyaratan dinilai lolos, pihak Kemenpora kemudian mengadakan sidak langsung ke kantor Sekretariat PP IPPNU di Gedung PBNU lantai enam. Saat sidak di sekretariat, mereka mewawancarai kita, sambung Wilda.

SMA Negeri 1 Slawi

Beberapa waktu berselang, Kemenpora mengundang PP IPPNU untuk mempresentasikan program unggulannya, lanjut Wilda. Presentasi ini merupakan tahap terakhir. Untuk bisa juara, OKP harus melewati tiga tahapan.

SMA Negeri 1 Slawi

Kalau tidak lolos di satu tahap, peserta yang terdiri banyak OKP tidak bisa naik ke tahap berikutnya. Demikian seterusnya hingga tahap terakhir.

Dalam presentasi di kantor Kemenpora, IPPNU mengunggulkan program antiradikalisme, antikekerasan pelajar, dan antinarkoba. IPPNU mengikuti perlombaan OKP kelas pelajar. Selain kelas pelajar, Kemenpora juga membuka perlombaan OKP kelas mahasiswa dan pemuda.

Meskipun baru tahun ini mengikuti perlombaan itu, IPPNU sudah meraih juara kedua. Tetapi, kejuaraan ini menjadi pelajaran buat IPPNU agar terus membenahi diri, tegas Wilda. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Pesantren, AlaSantri, Berita SMA Negeri 1 Slawi

Rabu, 14 Februari 2018

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kendal, SMA Negeri 1 Slawi

Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan workshop sistem manajemen pesantren (Simapes). Pelatihan Peningkatan mutu ini bertempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong. Hadir tim Simapes sebagai trainer pada acara ini.?

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholihin mengenang ketika masih di pesantren selalu ingat dengan 3 T+S+M yaitu tahu, tempe, terong ditambah sambel dan mendoan. Namun, substansi itu bukan yang ingin dijelaskan, tetapi pesantren menjadi lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh merawat tradisi dan budaya masyarakat.?

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

"Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Sholihin, Kamis (28/1/2016).?

Bisa dilihat, alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.?

Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. "Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat)," tambah Sholihin. Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.?

SMA Negeri 1 Slawi

Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren pelatihan ini menjadi penting. Simapes akan mempermudah untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren. Tim Simapes ini terbentuk dari unsur Kanwil Kemenag Jateng, RMINU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kyai, Quote, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Subang, SMA Negeri 1 Slawi. Grup Qasidah “Band Kepret” dari Pesantren Al-Karimiyyah turut berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Pembukaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecatamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, di gedung Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Huda, Ahad (10/3) kemarin.

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Salah satu keunikan dari Grup Qasidah yang digawangi oleh Nashori, Cecep, Ino, Epul, Wisnu, Gofur, Irfan, Radi, Yadi dan Sopyan tersebut ketika tampil di hadapan sedikitnya 78 orang peserta dan 30 orang panitia adalah berhasil membawakan beberapa lagu shalawat dengan beberapa arransemen dan para penabuh yang mengiringinya pun dapat menyesuaikan dengan arransemen yang dibawakan oleh Nashori, sang vokalis.

Selain itu, keunikan lainnya adalah dalam Grup Qasidah ini pun terdapat beberapa alat musik yang tidak biasanya hadir dalam Grup Qasidah “Band Kepret”, karena selain alat musik konvensional dari “band kepret”, juga dilengkapi dengan tam-tam, kotek, symbal dan drum tenor.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Nashori, kolaborasi alat musik tersebut merupakan hasil karyanya sendiri, naluri dan imajinasi musiknya berhasil membuat inovasi suara dalam “band kepret” apalagi kemampuan musiknya selalu dilatih dalam seminggu paling tidak 2 kali.

“Jadwal latihan kita seminggu dua kali, hari jum`at sore dan minggu sore,” ujarnya

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut mahasiswa STAI Riyadlul Jannah ini, dibandingkan dengan marawis dan hadroh, qasidah dihitung lebih mudah dalam melakukan inovasi.

“Menurut saya, untuk membuat kreasi dan inovasi musik lebih gampang qasidah daripada marawis dan hadrah,” ungkapnya

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Pengurus MWCNU Patokbeusi, PC IPNU Subang, Sekretaris Kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat tersebut grup qasidah Al-karimiyyah cukup menghibur hadirin dan hadirin pun terlihat khusu dalam mendengarkan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan oleh mereka.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Warta, PonPes SMA Negeri 1 Slawi

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU

Surabaya, SMA Negeri 1 Slawi

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung Gerakan Sertifikat Tanah Wakaf Sejuta Nahdliyin yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Dalam hal ini PWNU Jatim bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional RI dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Gubenur Jawa Timur Soekarwo menilai, sertifikat merupakan masalah yang serius karena terkait dengan kepastian hukum, baik tanah milik organisasi maupun yayaan. Langkah PWNU Jatim dinilai sangat bagus. ?

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubenur Jatim Dukung Gerakan Sertifikat Tanah NU

"Program ini merupakan langkah awal dan baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Kalau di Jatim ini berhasil, otomatis langkah ini akan dijadikan contoh untuk program sertifikat tanah wakaf milik NU yang ada di provinsi lain," tegas Gubenur yang disapa Pakde Karwo ini.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurutnya, program ini juga akan memberikan nilai tambah bagi pemilik tanah karena member kepastian hukum bagi tanah yang mereka miliki.

Selanjutnya pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu menambahkan, peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang Sejuta Nahdliyin juga sangat bagus. Ia bangga Jatim menjadi proyek percontohan pengembangan ekonomi syariah.

SMA Negeri 1 Slawi

“Salah satunya adalah sekarang ini, yaitu wakaf uang sejuta Nahdliyin, kemudian sertifikat untuk tanah wakaf. Terus yang terkahir adalah bagaimana kemudian uang itu harus diputar untuk dikembangkan secara sariat Islam,” ujarnya. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Internasional, Lomba SMA Negeri 1 Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar

Jakarta, SMA Negeri 1 Slawi. Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang menegaskan jika Nahdlatul Ulama (NU), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Serbaguna (Banser) NU adalah sebagai ujung tombak 4 Pilar (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Bahkan NU sudah mempeloporinya sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agutus 1945.

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Merupakan Ujung Tombak Empat Pilar

"Jadi, saya sebagai pimpinan MPR RI tidak ragu lagi dengan sepak terjang dan perjuangan NU dan organisasinya dalam memperjuangkan 4 Pilar. Apalagi NU sebagai organisasi Islam terbesar, maka sangat efektif jika perjuangan 4 Pilar MPR RI itu bergandengan dengan NU, GP Ansor dan Banser di seluruh Indonesia," tegas Oesman Sapta dalam acara Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) Angkatan Ke-2 GP Ansor-Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mengabdi kepada Agama, Bangsa dan Negara di Ciracas, Jakarta Timur, pada Kamis (19/2).

Hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid, Sekjen M. Aqil Irham, Kabag Humas MPR RI Yana Indrawan dan lain-lain. Acara ini berlangsung sampai Senin (23/2). Sebagai pembicara antara lain Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Menhan RI Tedjo Edhy Purdijatno, dan lain-lain.

SMA Negeri 1 Slawi

Menurut Oesman Sapta, dengan cara yang sederhana, tanpa kemewahan melainkan tradisional, justru sosialisasi 4 Pilar MPR RI tersebut jauh lebih efektif disbanding dengan gaya-gaya modern. "Jadi, ini gaya kampung, yang hadir di kota. Tanpa mewah-mewah di hotel dan sebagainya," ujarnya.

Justru, anggota DPD RI asal Kalimantan Barat itu merasa prihatin dengan perkembangan masyarakat saat ini akibat pengaruh budaya Barat, sehingga banyak melupakan 4 Pilar. "Kita boleh apa saja, tapi hatinya tetap nasionalisme Indonesia. Sebab, bagaimana bisa memabngun bangsa ini jika nasionalisme kita sudah runtuh?" tanya Oesman.

SMA Negeri 1 Slawi

Karena itu kata Oesman Sapta, sebagai keluarga besar NU dirinya merasa bertanggungjawab untuk terus menyosialisasikan 4 Pilar MPR RI itu. "Bayangkan saya hanya ditelepon oleh Nusron Wahid, tapi saya datang. Ini tidak lain karena saya merasa terpanggil untuk memperjuangkan 4 Pilar itu bersama keluarga besar NU ini," tambahnya.

Melalui sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini, Oesman Sapta bertekad membangkitkan rakyat Indonesia untuk kembali kepada jati diri bangsa yang kuta dengan kearifan lokal, gotong-royong, sederhana, menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan sebagainya.

"Jangan sampai pengaruh Barat dan liberalism itu menjadikan kita lupa sebagai bangsa. Apalagi diperparah dengan kepentingan asing dalam merumuskan kebijakan Negara. Lalu, mau menjadi apa bangsa ini? Maka ke depan sosialisasi ini harus disesuaikan dengan trend anak-anak zaman sekarang. Bukan lagi seperti era dulu yang penuh indoktrinasi. Misalnya melalui komik atau film kartun I love Indonesia dll," ungkapnya.

Selain itu, sosialisasi 4 Pilar itu dengan komitmen dan tekad untuk mengentaskan kebodohan, kemiskinan, menegakkan keadilan, mengurangi ketidakamanan dan ketidaknyamanan, dan ketertinggalan lainnya. ? ? ?

Dengan demikian dia berharap, NU, Ansor dan Banser menjadi agen perubahan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Di mana GP Ansor tidak pernah absen dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini. Bahkan Muktamar NU ke-27 di Situbdondo Jawa Timur pada tahun 1984 telah menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas berbangsa dan bernegara dan NKRI sebagai bentuk Negara sebagai harga mati dan final.

Mengapa? Karena PBNU itu sama dengan 4 Pilar, yaitu PBNU singkatan dari (Pancasila, Bhinneka Tunggal IKa, NKRI dan UUD NRI 1945). "Untuk itu NU dan kita semua dalam berbangsa dan bernegara itu harus memikirkan kepentingan bangsa dan negara serta kesehteraan rakyat," pungkasnya. (ahmad munif/mukaf niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi AlaSantri, Ulama SMA Negeri 1 Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) di Kota Solo mungkin tidak sebegitu populer dibandingkan dengan daerah yang menjadi basis pesantren. Di Kota Bengawan, usai menyelesaikan jenjang TPA/TPQ, anak pada umumnya kurang mendapat pendidikan Agama Islam secara intensif.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pendiri Madin Miftahul Ulum, untuk menyelenggarakan pendidikan Agama di daerah pinggiran Bengawan Solo. “Di sini anak dewasa cenderung gengsi untuk mengikuti pendidikan agama, maka dari itu nama TPA, yang identik dengan anak-anak, diubah menjadi madrasah diniyah,” terang Durrotun Nasihin, Kepala Madin Miftahul Ulum, Jumat (28/6) Siang.

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Pada tahun 2004, Nasihin bersama para temannya yang ditugaskan dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, membantu berdirinya Miftahul Ulum yang diasuh Ustaz Munaji Jazuli itu. “Sebelumnya sudah ada Masyitah dan TPA yang didirikan NU tahun sekitar 1994, namun belum ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari awal mula dua kelas, madrasah ini terus berkembang. Sampai saat ini siswa Madin yang terletak di Semanggi Pasar Kliwon Solo ini jumlah santrinya mencapai 140-an, dengan jenjang 8 kelas mulai dari tingkat TPA (2 tahun) kemudian Madin (6 tahun). “Kita sudah meluluskan dua kali angkatan,” Kata pemuda asal Madura tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi dan prestasi juga telah dihasilkan. Tambahan pelajaran seperti les Bahasa Inggris dan komputer diadakan. Bahkan, program tersebut pernah menarik minat siswa SMA MTA Solo, yang letaknya memang sangat berdekatan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Siswa mereka banyak yang ikut program kami, sekitar 50 peserta. Namun ketika didengar, kami menanamkan ideologi Ahlussunah, pimpinan MTA terus melarang,” ungkap Nasihin.

Sedangkan prestasi yang pernah diraih diantaranya lomba tingkat kota seperti kaligrafi, pidato, Al-Quran, dan baca kitab.

Kini, pada momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, Madin Miftahul Ulum semakin mantap untuk menatap masa depan. Cita-cita luhur para pendirinya untuk memperjuangkan Islam semakin kuat. Dari awalnya hanya dua kelas, Miftahul Ulum sekarang telah membuka dua cabang yakni di Mojosongo (Solo) dan Sukoharjo.

“Para alumninya juga bersemangat untuk terus mencari ilmu agama. “Sudah banyak yang meneruskan ke pesantren, itu aset (kaum Aswaja) ke depan,” pungkasnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock