Jumat, 02 Februari 2018

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Solo, SMA Negeri 1 Slawi. Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) di Kota Solo mungkin tidak sebegitu populer dibandingkan dengan daerah yang menjadi basis pesantren. Di Kota Bengawan, usai menyelesaikan jenjang TPA/TPQ, anak pada umumnya kurang mendapat pendidikan Agama Islam secara intensif.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pendiri Madin Miftahul Ulum, untuk menyelenggarakan pendidikan Agama di daerah pinggiran Bengawan Solo. “Di sini anak dewasa cenderung gengsi untuk mengikuti pendidikan agama, maka dari itu nama TPA, yang identik dengan anak-anak, diubah menjadi madrasah diniyah,” terang Durrotun Nasihin, Kepala Madin Miftahul Ulum, Jumat (28/6) Siang.

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Pada tahun 2004, Nasihin bersama para temannya yang ditugaskan dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, membantu berdirinya Miftahul Ulum yang diasuh Ustaz Munaji Jazuli itu. “Sebelumnya sudah ada Masyitah dan TPA yang didirikan NU tahun sekitar 1994, namun belum ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” lanjutnya.

SMA Negeri 1 Slawi

Dari awal mula dua kelas, madrasah ini terus berkembang. Sampai saat ini siswa Madin yang terletak di Semanggi Pasar Kliwon Solo ini jumlah santrinya mencapai 140-an, dengan jenjang 8 kelas mulai dari tingkat TPA (2 tahun) kemudian Madin (6 tahun). “Kita sudah meluluskan dua kali angkatan,” Kata pemuda asal Madura tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi dan prestasi juga telah dihasilkan. Tambahan pelajaran seperti les Bahasa Inggris dan komputer diadakan. Bahkan, program tersebut pernah menarik minat siswa SMA MTA Solo, yang letaknya memang sangat berdekatan.

SMA Negeri 1 Slawi

“Siswa mereka banyak yang ikut program kami, sekitar 50 peserta. Namun ketika didengar, kami menanamkan ideologi Ahlussunah, pimpinan MTA terus melarang,” ungkap Nasihin.

Sedangkan prestasi yang pernah diraih diantaranya lomba tingkat kota seperti kaligrafi, pidato, Al-Quran, dan baca kitab.

Kini, pada momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, Madin Miftahul Ulum semakin mantap untuk menatap masa depan. Cita-cita luhur para pendirinya untuk memperjuangkan Islam semakin kuat. Dari awalnya hanya dua kelas, Miftahul Ulum sekarang telah membuka dua cabang yakni di Mojosongo (Solo) dan Sukoharjo.

“Para alumninya juga bersemangat untuk terus mencari ilmu agama. “Sudah banyak yang meneruskan ke pesantren, itu aset (kaum Aswaja) ke depan,” pungkasnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

SMA Negeri 1 Slawi Kajian, AlaSantri SMA Negeri 1 Slawi

SMA Negeri 1 Slawi. Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan di SMA Negeri 1 Slawi ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs SMA Negeri 1 Slawi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik SMA Negeri 1 Slawi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan SMA Negeri 1 Slawi dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock